Cerita Rumah Tangga: Dompet Suami Ternyata Berisi Bukti Tak Terduga, Bikin Semua Runtuh
Babak 1 — Ketinggalan di Antara Kemacetan Senen
Hening. Gendis menahan napas, bibirnya sedikit terbuka menatap layar ponsel yang menampilkan deretan aplikasi transportasi daring. Pukul tujuh malam. Lampu jalan mulai menyala satu-satu di sepanjang jalan Senen Raya yang tersendat parah. Rencananya, ia hanya akan singgah sebentar di rumah ibunya di bilangan Cikini untuk mengambil resep jamu warisan, lalu kembali menjemput Arya, suaminya, di kantornya yang berjarak tak sampai sepuluh menit dari sana. Tapi jalanan Jakarta, selalu punya caranya sendiri untuk mempermainkan waktu.
“Ya ampun, Macetnya ampun-ampunan, Mbak Gendis,” suara sopir GoCar yang baru saja ia pesan terdengar dari kursi depan. Gendis hanya mengangguk, matanya masih terpaku pada layar. Pesan WA dari Arya muncul. ‘Sayang, aku lupa bawa dompet. Kayaknya jatuh deh pas mau bayar parkir tadi. Ada di dashboard mobil ya?’
Jatuh? Arya dikenal sangat rapi. Semua barangnya selalu di tempat. Dompet, kuncinya, ponselnya, tak pernah ia biarkan tergeletak sembarangan. Gendis mengerutkan kening. Tapi ia tak sempat membalas. Arya mengirim pesan lagi, ‘Nggak apa-apa, aku minta tolong Pak Joko antar pulang kok. Kamu hati-hati ya di jalan.’ Pesan itu diakhiri dengan emoji hati yang biasa.
Gendis menyandarkan punggungnya, memejamkan mata sejenak. Ia bisa merasakan denyut di pelipisnya. Beban pikiran mulai menumpuk. Selain urusan jamu ibunya yang lumayan rumit, ia juga harus menyiapkan presentasi penting untuk rapat besok pagi. Ia ingat, beberapa hari lalu Arya mengeluh soal pekerjaan yang makin menumpuk, sering lembur sampai larut. Ia tahu Arya punya proyek baru yang lumayan besar, dan pastinya menguras tenaga dan pikiran.
“Neng, ini udah deket kok rumah ibunya,” sopir GoCar itu kembali bersuara. Gendis membuka mata, tersenyum tipis. Ia mengapresiasi kesigapan sopir itu, tapi rasa cemasnya tak kunjung hilang. Ia melirik tas tangannya, tempat dompet miliknya berada. Sedikit lebih tebal dari biasanya karena ada uang tunai dari ibunya yang ia bawa pulang. Tiba-tiba, sebuah ide melintas. Mungkin saja Arya benar-benar lupa menaruh dompetnya di dashboard, dan tertinggal di mobil tadi?
Saat mobil GoCar berhenti tepat di depan pagar rumah ibunya yang bercat putih, Gendis memutuskan. Ia akan cek bagasi mobil yang tadi dikendarai suaminya. Ia punya kunci cadangan mobil Arya yang ia simpan di dompetnya. Siapa tahu dompet itu terselip di suatu tempat yang tidak disadari Arya. Ia harus memeriksanya, memastikan suaminya tidak kerepotan.
Babak 2 — Keterkejutan yang Disimpan Rapat
Lampu teras rumah ibunya memang sedikit redup, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di dinding. Gendis turun dari mobil GoCar, memberikan lembaran rupiah pada sopir itu. ‘Terima kasih banyak,’ ucapnya tulus. Ia menunggu mobil itu menjauh, lalu berjalan cepat menuju gerbang. Jantungnya berdebar agak kencang. Bukan karena takut gelap, tapi lebih pada rasa keingintahuan yang bercampur sedikit gelisah.
Ia mengeluarkan kunci mobil cadangan dari dompetnya. Dengan gerakan yang sedikit kaku, ia membuka kunci pintu depan mobil Arya. Pintu berderit pelan. Bau parfum maskulin yang khas Arya langsung menyambutnya. Ia melirik jok kursi depan. Kosong. Tak ada dompet di sana. Ia meraba bagian bawah jok, mencoba mencari celah yang mungkin tersembunyi. Nihil.
Lalu matanya tertuju pada konsol tengah. Di sana, terselip sebuah buku catatan kecil berwarna hitam. Arya memang sering mencatat ide-ide proyek di sana. Tapi ada yang janggal. Di samping buku itu, tergeletak sebuah benda yang Gendis kenali sebagai gantungan kunci mobil. Gantungan kunci yang sama persis dengan yang ia berikan untuk Arya saat ulang tahun mereka yang kelima. Gantungan kunci berbentuk miniatur batik Parang yang ia pesan langsung dari pengrajin di Yogyakarta.
Ia meraih gantungan kunci itu. Berat. Rasanya ada sesuatu di dalamnya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, Gendis mencoba membuka engselnya. Terbuka. Dan di dalamnya, terselip sebuah kartu kecil berwarna putih bersih. Kartu nama. Tapi bukan nama yang ia kenal. Ia membalik kartu itu, melihat ke bagian belakang. Di sana, tertulis sebuah nomor ponsel dan sebuah nama.
Nama itu, dan nomor ponsel itu, tidak pernah terucap sepatah kata pun dari bibir Arya. Gendis menatap kartu itu lama, berusaha memproses apa yang dilihatnya. Ia mencoba mengingat-ingat, apakah Arya pernah menyebut nama itu di depannya, atau bahkan dalam obrolan santai dengan teman-temannya. Tidak ada. Sama sekali tidak ada.
Tiba-tiba, ingatan tentang Arya yang sering pulang larut malam, dengan alasan lembur yang tak terhitung jumlahnya, berkelebat di benaknya. Gendis menyatukan titik-titik itu dalam pikirannya. Lembaran-lembaran struk belanja yang ia temukan di kantong celana Arya minggu lalu, yang isinya bukan kebutuhan rumah tangga. Foto-foto candid Arya yang ia lihat sekilas di galeri ponsel suaminya, yang ia kira diambil bersama teman-teman kantornya.
Semua ini terasa seperti teka-teki yang disusun tanpa pola. Gendis memasukkan kembali kartu nama itu ke dalam gantungan kunci, lalu menutupnya dengan rapat. Tangannya tak lagi gemetar, namun terasa dingin. Ia mengunci kembali mobil Arya, lalu masuk ke dalam rumah ibunya. Ia menyapa ibunya dengan senyum yang ia paksakan, tapi di dalam hatinya, badai sedang bergemuruh.
Babak 3 — Kenangan yang Berkhianat
Di dapur ibunya yang hangat dengan aroma rempah kering, Gendis berusaha bersikap normal. Ia membongkar kantong-kantong jamu yang diserahkan ibunya, memasukkannya ke dalam tas belanja. “Ini resepnya, Ndis. Nanti kalau mau bikin lagi, tanya Ibu dulu ya. Jangan sampai salah takaran,” pesan ibunya sambil menyeduh teh panas.
Gendis mengangguk patuh, namun pikirannya melayang jauh. Ia ingat, tiga bulan lalu, saat mereka liburan akhir tahun di villa keluarga Arya di Puncak. Malam itu, Arya tampak gelisah. Ia terus menerus memeriksa ponselnya di bawah selimut. Gendis bertanya ada apa, dan Arya hanya menjawab, ‘Ada klien yang nelpon, Ndis. Penting banget.’ Ia bahkan sempat beranjak dari kasur, keluar balkon untuk mengangkat telepon, dengan alasan sinyal di dalam kamar buruk.
‘Kenapa sih Mas Arya jadi sering banget terima telepon malam-malam?’ ia pernah bertanya pada sahabatnya, Laksmi, lewat sambungan telepon saat itu. Laksmi tertawa. ‘Mungkin proyeknya besar kali, Ndis. Seneng dong suamimu makin sukses.’ Gendis mengangguk, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Sekarang, semua kejanggalan itu menumpuk seperti gunung sampah. Ia teringat lagi dompet Arya yang ‘hilang’ itu. Arya bilang jatuh pas bayar parkir. Tapi bukankah kartu-kartu penting seperti KTP, SIM, dan kartu ATM biasanya selalu ia simpan di tempat khusus? Kenapa bisa ‘jatuh’ begitu saja?
Gendis meraih ponselnya, membuka aplikasi pesan. Ia mencari nama Arya. Deretan percakapan mereka terpampang di sana. Percakapan tentang menu makan malam, tentang anak-anak tetangga, tentang film yang akan ditonton akhir pekan. Semuanya tampak normal. Terlalu normal. Seperti sebuah panggung sandiwara yang dipentaskan dengan sempurna.
Ia kemudian membuka aplikasi *e-wallet* miliknya. Saldo DANA-nya masih lumayan, sisa dari pembayaran belanja online kemarin. Ia mencoba memikirkan, apakah ada transaksi aneh di rekening Arya? Tapi ia tak punya akses ke rekening suaminya. Arya selalu bilang, ‘Kita kan sama-sama punya rekening masing-masing, Ndis. Biar adil.’ Adil. Kata yang dulu terasa manis, kini terasa pahit di lidahnya.
Ia teringat lagi dompet yang tertinggal di mobil. Gantungan kunci batik Parang itu. Arya bilang dompetnya jatuh. Tapi kenapa ia menemukan gantungan kuncinya, yang seharusnya tersimpan rapi di dompet itu, tergeletak di konsol tengah mobil? Seolah-olah Arya sengaja meletakkannya di sana, bersama kartu nama yang tak dikenal itu.
Gendis menutup matanya. Ia membayangkan wajah Arya. Wajah suaminya yang ia cintai, yang selalu ia banggakan. Apakah semua yang ia tahu tentang Arya adalah kebohongan? Ia merasa seperti tertipu. Ia merasa seperti orang asing di rumah tangganya sendiri. Perasaan itu, lebih menyakitkan dari sekadar rasa marah.
Babak 4 — Konfrontasi yang Tak Terucap
Mobil GoCar yang ditumpangi Gendis kini melaju perlahan di jalanan yang mulai lengang menuju rumah mereka di bilangan Tangerang Selatan. Malam semakin larut, namun Gendis belum mengantuk. Matanya terus awas menatap jalanan, pikirannya berpacu lebih cepat dari mobil itu sendiri. Ia masih memegang erat gantungan kunci berisi kartu nama di tangannya, menggenggamnya hingga buku-buku jarinya memutih.
Di dalam mobil, ia hanya diam. Sopir GoCar pun tak berusaha mengajaknya bicara, seolah mengerti bahwa penumpangnya sedang tenggelam dalam dunianya sendiri. Gendis merasa aneh. Seharusnya ia merasa marah, berteriak, menangis histeris. Tapi yang ia rasakan hanyalah kekosongan yang dingin. Seperti ada sesuatu yang vital dalam dirinya telah hilang.
Sesampainya di depan rumah, ia membayar ongkosnya dan segera masuk. Lampu ruang tamu masih menyala redup. Ia bisa mendengar suara televisi dari kamar mereka. Arya pasti sudah pulang. Gendis menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia melangkah menuju kamar.
Pintu kamar sedikit terbuka. Arya duduk di tepi ranjang, punggungnya menghadap pintu. Ia mengenakan piyama, tampak lelah. Ia sedang melihat ke arah jendela yang gelap. Gendis berdiri di ambang pintu, tangannya terkepal erat. Kartu nama itu terasa semakin panas di genggamannya.
“Mas,” panggil Gendis. Suaranya terdengar datar, tanpa emosi.
Arya tersentak, menoleh. Senyum lelah terukir di bibirnya. “Eh, Sayang. Sudah pulang? Tadi Pak Joko udah anterin kok. Aku kira kamu mampir lama di rumah Ibu.”
Gendis tidak menjawab. Ia hanya berjalan perlahan mendekati Arya, lalu duduk di sampingnya. Ia tidak meletakkan tasnya. Ia memegang gantungan kunci itu di depan wajah Arya.
“Ini… punya Mas Arya, kan?” Gendis bertanya, nadanya masih terkontrol. Ia membuka gantungan kunci itu, memperlihatkan kartu nama di dalamnya.
Arya terdiam. Senyumnya perlahan memudar. Matanya memandang kartu nama itu, lalu beralih menatap Gendis. Wajahnya pucat pasi. Ia seperti tertangkap basah.
“Ini… ini dari klien, Ndis. Dia ketinggalan pas aku anterin dia ke mobil tadi siang,” Arya mencoba menjelaskan, suaranya sedikit bergetar. Ia berusaha meraih gantungan kunci itu, namun Gendis menarik tangannya.
“Klien? Klien siapa, Mas? Namanya… ‘Mawar’?” Gendis bertanya lagi, kali ini nada suaranya mulai sedikit meninggi. Ia melihat tatapan Arya berubah menjadi panik. Ia tahu, Arya berbohong.
Arya menelan ludah. Ia terlihat bingung harus berkata apa. Ia membuka mulutnya, tapi tak ada suara yang keluar. Ia hanya menatap Gendis dengan tatapan memohon. Seolah meminta Gendis untuk tidak memperpanjang masalah ini.
Gendis merasakan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Tapi ia tetap menahannya. Ia tidak ingin menangis di depan Arya. Ia ingin Arya melihatnya kuat. Ia ingin Arya tahu, ia bukan perempuan bodoh yang bisa dibohongi begitu saja.
Babak 5 — Retakan yang Terus Melebar
Hening kembali menyelimuti kamar. Suara televisi dari ruang keluarga terdengar samar, seperti gema dari dunia lain. Arya masih duduk membeku di samping Gendis, tatapannya tertuju pada lantai dingin. Gendis juga terdiam, jantungnya berdegup kencang, namun pikirannya terasa kosong. Kartu nama itu masih ada di tangannya, bukti nyata dari sebuah kebohongan yang terstruktur rapi.
Ia melihat Arya perlahan menjatuhkan kepalanya ke telapak tangannya. Bahunya bergetar pelan. Gendis tahu, ia tidak menangis. Itu hanya reaksi tubuh saat rasa bersalah menghantam. Arya tidak pernah benar-benar menangis di depannya, bahkan saat ibunya meninggal dua tahun lalu.
“Kenapa, Mas?” Gendis akhirnya bertanya, suaranya serak. Pertanyaan itu lebih ditujukan pada dirinya sendiri daripada pada Arya. Ia ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang membuat Arya melakukan ini.
Arya mengangkat wajahnya. Matanya merah, namun ia tetap tidak menangis. “Ndis… aku bisa jelasin.”
“Jelasin apa? Soal ‘Mawar’ ini? Atau soal lembur yang nggak pernah selesai? Soal telepon-telepon malam yang nggak pernah kamu ceritain isinya?” Gendis menatap Arya lekat, mencari celah kebenaran di mata suaminya. Tapi yang ia temukan hanyalah ketidakberdayaan.
“Ini… rumit, Ndis.” Arya memejamkan mata sejenak, seolah mengumpulkan kekuatan. “Aku… aku terjebak. Dari awal aku nggak pernah berniat kayak gini.”
Gendis merasa sedikit lega mendengar pengakuan itu. Setidaknya, Arya tidak sepenuhnya mengingkari. Tapi kalimat selanjutnya membuat harapan itu kembali pupus. “Aku cuman butuh… pelarian. Sebentar aja. Buat ngilangin stres kerjaan.”
Pelarian? Gendis tertawa getir. Ia menatap suaminya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia tidak tahu harus marah, sedih, atau justru merasa kasihan pada dirinya sendiri. Ia tahu, rumah tangga mereka kini retak. Retakan kecil yang mungkin awalnya tidak terlihat, tapi kini telah membesar, menganga lebar.
“Pelarian?” Gendis mengulang kata itu, seolah mencicipi rasanya di lidah. “Mas Arya pikir, aku ini apa? Patung yang diem aja di rumah? Nggak ngerasain apa-apa?” Ia bangkit dari duduknya, berjalan menuju lemari pakaian mereka. Ia membuka pintu lemari, lalu mengambil sebuah koper kecil di rak paling atas. Ia meletakkan koper itu di tengah ruangan.
“Aku nggak tahu harus ngomong apa lagi, Mas,” Gendis berkata pelan, suaranya kini terdengar lebih tenang, namun dingin. “Mungkin… kita butuh waktu masing-masing untuk berpikir. Kamu sama… Mawar kamu. Aku… aku coba cari cara buat nggak nangis di depan Ibu besok.” Ia melirik Arya sekilas, lalu kembali menatap koper kosong itu. “Selamat malam, Mas Arya.”
Gendis keluar dari kamar, meninggalkan Arya dalam keheningan. Ia tidak menangis. Ia hanya merasa kosong. Kosong seperti koper yang baru saja ia ambil. Retakan itu kini semakin lebar, menganga tanpa bisa ditutup kembali. Ia berjalan menuju ruang tamu, mematikan televisi, lalu duduk di sofa. Di tangannya masih tergenggam gantungan kunci batik Parang itu. Ia memandanginya tanpa berkedip, seolah mencari jawaban di dalam ukiran batik yang rumit.
