Struk Belanja Ini Ungkap Perselingkuhan Suami di Depan Mata: Kisah Nyata yang Membuat Semua Runtuh

Struk Belanja Ini Ungkap Perselingkuhan Suami di Depan Mata: Kisah Nyata yang Membuat Semua Runtuh

CERITA PENDEK

Struk Belanja Ini Ungkap Perselingkuhan Suami di Depan Mata: Kisah Nyata yang Membuat Semua Runtuh

Babak 1 — Aroma Kopi dan Kebohongan yang Terbungkus

Senin pagi itu dimulai sama seperti Senin pagi lainnya. Aroma kopi Gayo yang pekat menggantung di udara dapur apartemen kecil mereka di kawasan Tebet. Nindya, dengan kaus rumah yang sedikit kebesaran dan rambut dikuncir asal-asalan, mengaduk kopi hitam tanpa gula kesukaannya. Matanya masih terasa berat, sisa kurang tidur karena semalam suaminya, Raga, baru pulang hampir tengah malam. Katanya, ada presentasi penting yang harus disiapkan.

“Mas Raga mana, Mbak?” tanya Bi Inah, asisten rumah tangga yang sudah dua tahun bekerja untuk mereka, sambil menyapu lantai ruang tengah.

“Masih tidur, Bi. Semalam pulang telat banget. Kasihan.” Nindya menjawab sambil tersenyum tipis. Senyum yang menyimpan sedikit rasa lelah, sedikit rasa bersalah karena tak bisa menemani suaminya yang terlihat begitu sibuk belakangan ini. Ia mencoba menepis pikiran negatif. Raga adalah pria yang baik, pekerja keras, dan selalu pulang padanya. Ia hanya perlu sedikit bersabar.

Raga akhirnya muncul dari kamar, dengan wajah sedikit pucat dan kantung mata yang semakin jelas. Ia memeluk Nindya erat dari belakang, mengecup puncak kepalanya. “Pagi, Sayang. Maaf semalam ganggu tidurmu.”

“Nggak apa-apa, Mas. Udah sana mandi. Nanti aku bikinin sarapan bubur ayam kesukaan Mas ya?” Nindya membalas pelukan itu, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa keintimannya dengan Raga belum goyah. Ia suka merasa menjadi sumber kekuatan bagi suaminya.

Raga mengangguk, senyumnya terlihat sedikit dipaksakan. “Kamu emang yang terbaik. Nanti aku sarapan di kantor aja ya? Ada meeting mendadak sama klien dari Surabaya.”

Nindya sedikit mengerutkan kening. “Surabaya? Bukannya kemarin Mas bilang kliennya dari Bandung?”

“Oh iya, lupa. Kliennya pindah jadwal, mendadak harus ke Jakarta. Maklum lah, bisnis.” Raga mengusap pipi Nindya, lalu bergegas ke kamar mandi. Nindya hanya bisa menghela napas. Perubahan jadwal mendadak memang biasa dalam dunia Raga yang penuh dengan dinamika korporat. Ia hanya berharap Raga tidak terlalu memforsir diri.

Sepanjang pagi itu, Nindya mencoba menyibukkan diri. Ia membalas beberapa email terkait pekerjaannya sebagai desainer grafis lepas, lalu membuka aplikasi Tokopedia untuk memesan kebutuhan pokok yang mulai menipis. Sesekali ia membuka Instagram, melihat unggahan teman-temannya yang sedang liburan atau baru saja merayakan ulang tahun pernikahan. Ia tersenyum miris, mencoba melupakan keraguannya terhadap Raga. Mungkin ia hanya terlalu banyak berpikir.

Sekitar pukul sepuluh pagi, Bi Inah mengetuk pintu kamar. “Mbak, ini ada titipan dari Mas Raga. Katanya tadi pagi sebelum berangkat ada yang ketinggalan di laci meja kerja.”

Nindya menghampiri meja kerja Raga yang rapi, kecuali laci bagian paling atas yang sedikit terbuka. Di atasnya tergeletak sebuah amplop coklat tipis. Ia mengambilnya. Amplop itu terasa ringan. Ia mengenali amplop yang biasa digunakan Raga untuk menyimpan kwitansi atau nota penting. Kenapa Raga menitipkan ini pada Bi Inah? Bukankah lebih mudah jika ia mengambilnya sendiri sebelum pergi?

Rasa penasaran bercampur sedikit rasa tidak enak merayap di perutnya. Jari-jemarinya bergerak membuka segel amplop itu dengan hati-hati. Ia tidak pernah menggeledah barang Raga, tapi kali ini ada dorongan aneh yang tak bisa ia tolak. Di dalamnya, terlipat rapi, ada sebuah struk belanja minimarket.

Babak 2 — Struk Dari Masa Lalu yang Menghantui

Tangannya bergetar saat membuka lipatan struk itu. Nomor transaksi, tanggal, dan jam tertera jelas di bagian atas. Tanggalnya: kemarin sore. Jamnya: sekitar pukul empat sore. Itu adalah waktu ketika Raga bilang ia masih di kantor, sedang rapat dengan klien dari Bandung. Nindya mengerutkan kening lagi. Di struk itu tertera pembelian beberapa item yang sama sekali tidak ia kenal.

“Aqua botol 600ml, 2…” gumamnya pelan. Mereka jarang membeli air mineral botolan, lebih sering mengisi ulang botol minum mereka di rumah. Lalu tertera juga… “Panda Roti Manis Cokelat, 1.” Roti manis? Raga tidak suka roti manis. Ia lebih suka roti tawar atau roti gandum untuk olesan selai.

Matanya melirik ke bawah, ke bagian total belanja. Angka yang tertera tidak terlalu besar, hanya sekitar Rp 85.000. Tapi bukan nominalnya yang membuat Nindya merasa dingin merayapi tulang punggungnya. Ada item lain yang tertera di sana: “Kiss Gel Lubricant Kemasan Sachet, 2.”

Dunia Nindya seolah berhenti berputar. Udara di dapur terasa semakin tipis. Ia mencengkeram struk itu erat-erat, buku-buku jarinya memutih. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Roti manis cokelat? Aqua botol? Dan… pelumas? Semuanya terasa begitu asing, begitu tidak mungkin. Ini pasti salah.

Ia membuka aplikasi Shopee di ponselnya, seolah mencari jawaban di dunia maya. Jari-jarinya menari di atas layar, mengetikkan kata kunci yang sama. Muncul berbagai macam produk pelumas dengan berbagai merek dan ukuran. Ia menahan napas, membandingkan gambar-gambar produk di layar dengan nama di struk itu. Semakin ia mencari, semakin tenggorokannya tercekat.

“Tidak mungkin… tidak mungkin…” bisiknya berulang kali. Ia menatap sekeliling dapur, mencoba mencari pegangan, mencoba mencari logika. Bi Inah sudah selesai menyapu dan kini sedang membereskan tumpukan majalah di meja tamu. Ia tampak sibuk, sama sekali tidak menyadari badai yang sedang menerjang Nindya.

Nindya kembali menatap struk itu. Di bagian bawah, tertera nama minimarket dan alamatnya: “Indomaret, Jalan Cempaka Putih Raya No. 12B.” Cempaka Putih? Itu bukan area yang biasa mereka lewati. Raga bekerja di area Sudirman, dan rumah mereka di Tebet. Jauh sekali dari Cempaka Putih.

Ia ingat pagi tadi Raga bilang ada meeting dengan klien dari Surabaya. Lalu kemarin sore, Raga bilang ia lembur. Rapat mendadak yang pindah jadwal. Semuanya mulai terasa seperti rangkaian kebohongan yang tersusun rapi. Roti manis cokelat yang dibeli Raga, yang sama sekali tidak ia sukai, seperti sebuah penanda, sebuah bukti tak terbantahkan.

Napasnya tersengal. Ia meletakkan struk itu kembali ke dalam amplop. Tangannya masih gemetar. Ia tidak tahu harus merasa apa. Marah? Sakit hati? Atau hanya kebingungan yang luar biasa?

Babak 3 — Jejak Digital dan Kenangan Pahit

Nindya berjalan pelan ke kamar. Ia duduk di tepi ranjang, menatap bingkai foto pernikahannya dengan Raga yang terpajang di nakas. Senyum mereka terlihat begitu bahagia, begitu tulus. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa seperti orang bodoh, telah menipu diri sendiri dengan keyakinan buta.

Ia membuka aplikasi Gojek di ponselnya. Mencari riwayat perjalanan Raga. Seharusnya Raga berada di kantor kemarin sore. Ia menggulir daftar riwayat perjalanan, mencoba mengingat detail pembicaraan mereka. Raga memang sempat bilang ingin membeli kopi di minimarket dekat kantor sebelum kembali ke ruang rapat.

Jemarinya mengklik ikon ‘Riwayat Perjalanan’. Tanggal kemarin sore. Ia mencari-cari nama sopir yang mengantarkan Raga. Tiba-tiba matanya terpaku pada satu nama pengemudi dan tujuan yang tertera. Bukan kantor Raga. Bukan bahkan area perkantoran manapun. Nama pengemudi itu tertera dengan jelas: “Bapak Jatmiko.” Dan tujuannya? “Jalan Cempaka Putih Raya No. 12B.”

Jantungnya berdebar lebih kencang. Jarak antara kantor Raga di Sudirman dan Cempaka Putih Raya cukup jauh. Mengapa Raga memesan GoCar ke sana, lalu membeli barang-barang aneh di minimarket itu?

Ia kembali membuka aplikasi Tokopedia. Mencari nomor telepon toko bunga yang pernah ia pesan dulu untuk ulang tahun Raga. Ia perlu bicara dengan seseorang, butuh konfirmasi.

“Halo, selamat siang. Dengan toko Bunga Kirana?” suara Nindya bergetar saat menelepon.

“Iya, benar. Dengan Kirana Florist. Ada yang bisa kami bantu?” suara di seberang terdengar ramah.

“Saya… saya mau menanyakan soal pesanan atas nama Raga… sekitar bulan lalu. Pesanan bunga untuk istri tercinta…” Nindya menggigit bibir bawahnya.

“Oh, pesanan Bapak Raga ya? Betul, Bu. Beliau memesan buket bunga mawar merah dengan tambahan baby’s breath dan kartu ucapan. Beliau sangat romantis ya…” jawaban dari seberang membuat Nindya semakin sesak.

“Kartu ucapannya… isinya apa ya?” Nindya memberanikan diri bertanya.

Terdengar jeda singkat di ujung telepon. “Sebentar Bu, saya cek dulu catatan kami. Oh ini dia. Isinya… ‘Untuk bidadariku di hati, semoga selalu bahagia. Cinta Raga selalu.’ Begitu, Bu.”

Nindya memejamkan mata. Bidadariku di hati. Bukan dirinya. Itu adalah kata-kata yang ditujukan untuk wanita lain. Raga berbohong padanya. Kebohongan demi kebohongan. Struk belanja itu, riwayat perjalanan GoCar itu, ucapan romantis untuk wanita lain itu… semuanya menguatkan satu kebenaran yang menyakitkan.

Ia teringat sebuah kejadian beberapa bulan lalu. Raga pernah pulang telat dengan alasan ada acara kantor yang sangat penting. Saat itu, ponselnya tertinggal di meja makan. Nindya membukanya untuk melihat apakah ada pesan penting yang perlu ia sampaikan. Di sana, ia melihat notifikasi dari aplikasi DANA. Ada transaksi yang cukup besar, dikirimkan ke seseorang bernama ‘Reswari’. Nindya bertanya pada Raga, dan Raga hanya menjawab kalau itu untuk keperluan bisnis, mentransfer dana ke rekan kerja.

Sekarang, melihat kembali struk belanja yang berisi pelumas dan roti manis, nama ‘Reswari’ tiba-tiba muncul di benaknya seperti kilat. Apakah ini semua berkaitan? Apakah Raga selama ini…?

Babak 4 — Konfrontasi Tanpa Suara

Sekitar pukul dua siang, Raga pulang ke apartemen. Wajahnya terlihat lebih segar, seolah energi kembali terisi. Ia tersenyum lebar saat melihat Nindya duduk di sofa ruang tengah, memegang struk belanja itu dengan kedua tangan.

“Sayang, kok belum makan siang? Aku bawain seblak spesial dari langganan kita nih,” ucap Raga riang, meletakkan bungkusan seblak di meja.

Nindya tidak menjawab. Ia hanya menatap Raga, matanya kosong. Struk belanja itu masih tergenggam erat di tangannya.

Raga mengernyitkan dahi melihat ekspresi Nindya. “Kenapa, Yang? Kok pucat? Ada masalah?” Ia mendekat, mencoba meraih tangan Nindya.

Nindya menarik tangannya menjauh. Suara serak keluar dari bibirnya. “Ini… apa, Mas?” Ia meletakkan struk itu di atas meja, tepat di samping bungkusan seblak. Tangannya gemetar hebat.

Raga mengikuti arah pandang Nindya, melihat struk yang tergeletak di meja. Ekspresinya berubah seketika. Senyum riangnya menghilang, digantikan raut wajah yang sulit diartikan. Terkejut? Panik? Bersalah? Ia menunduk, menatap struk itu seolah melihat hantu.

“Aku… aku dapat ini tadi pagi. Dari laci meja kerjamu. Dikasih Bi Inah. Dia bilang kamu yang titip.” Suara Nindya pecah. “Aqua, roti manis, dan… pelumas? Di Cempaka Putih Raya? Kemarin sore? Jam empat sore? Bukannya kamu lagi rapat sama klien dari Bandung?”

Raga terdiam. Ia tidak membantah. Ia tidak mencari alasan. Matanya bergerak gelisah, menghindari tatapan Nindya. Ia menunduk, memijat pelipisnya. Keheningan menyelimuti ruangan, hanya terdengar deru AC yang samar dan suara detak jam dinding yang semakin menusuk.

“Siapa Reswari, Mas?” tanya Nindya lagi, suaranya pelan tapi penuh kekuatan. “Aku lihat transaksi DANA-mu tempo hari. Dan sekarang… ini.”

Raga mengangkat kepalanya perlahan. Matanya kini menatap Nindya, tapi pandangannya kosong, seolah melihat menembus Nindya. Ada kesedihan yang mendalam di sana, bercampur dengan penyesalan yang tak terucapkan. Ia membuka mulutnya, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tak ada suara yang keluar. Hanya desahan tertahan yang terdengar seperti erangan.

Nindya merasakan bahu Raga merosot. Ia seperti melihat Raga yang berbeda. Bukan Raga yang ia kenal, tapi Raga yang rapuh dan penuh luka. Namun, kenyataan pahit itu tetap ada. Kebohongan itu nyata.

Tiba-tiba, ponsel Raga berdering. Notifikasi masuk dari aplikasi pesan. Nindya, tanpa sadar, melirik layar ponsel Raga yang tergeletak di meja. Nama yang tertera di notifikasi itu membuatnya tercekat. ‘Reswari’. Dan isi pesannya… tiga kata yang singkat namun menghancurkan.

‘Sayang, aku kangen.’

Nindya tak sanggup lagi. Ia berdiri perlahan, tangannya kembali gemetar. Ia menatap Raga yang masih tertunduk, lalu beralih ke struk belanja yang menjadi saksi bisu pengkhianatan itu. Ia tidak berteriak, tidak menangis histeris. Hanya ada kekosongan yang dalam di matanya.

Babak 5 — Hening di Ujung Badai

Nindya melangkah keluar dari apartemen itu tanpa banyak bicara. Raga tidak mencegahnya. Ia hanya terdiam membatu di sofa, memandangi struk belanja yang kini tergeletak tak berdaya di meja. Aroma seblak yang tadinya menggoda kini terasa memuakkan.

Ia berjalan menyusuri koridor panjang apartemen, menuju lift. Setiap langkah terasa berat, seperti menyeret beban dunia. Ia tidak tahu ke mana tujuannya. Pulang ke rumah orang tuanya di Klaten? Atau mencari penginapan murah di pinggir kota?

Di dalam lift, ia menekan tombol lantai dasar. Pantulan dirinya di dinding kaca lift terlihat asing. Wajahnya pucat, matanya bengkak. Ia menghela napas panjang, mencoba menahan air mata agar tidak tumpah lagi. Ia sudah terlalu banyak menangis hari ini. Baginya, ini bukan hanya tentang perselingkuhan. Ini tentang hilangnya kepercayaan, tentang mimpi yang hancur, tentang masa depan yang tiba-tiba menjadi kabur.

Sesampainya di lobi, ia melangkah keluar menuju keramaian Jakarta. Suara klakson, deru kendaraan, dan percakapan orang-orang terdengar seperti bising yang tak berarti. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari ketenangan di tengah hiruk pikuk. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Akankah ia mencoba memperbaiki rumah tangganya? Atau akan ia akhiri semuanya di sini?

Ia berhenti sejenak di depan sebuah kedai kopi kecil. Di dalamnya, seorang wanita muda sedang asyik menatap layar laptopnya, sesekali tersenyum sendiri. Nindya memandangi wanita itu sejenak. Ia teringat dirinya sendiri beberapa tahun lalu, penuh semangat dan impian. Kapan impian itu mulai pudar? Kapan ia mulai kehilangan dirinya sendiri?

Tiba-tiba, sebuah ide muncul di benaknya. Bukan ide tentang Raga, bukan ide tentang pengkhianatan. Tapi ide tentang dirinya sendiri. Tentang kekuatan yang mungkin masih tersisa di dalam dirinya. Ia memejamkan mata sejenak, lalu menarik napas dalam. Kali ini, napasnya terasa lebih lega. Ia tahu ia harus kuat. Ia tahu ia harus menemukan jalannya sendiri.

Ia mengeluarkan ponselnya dari tas. Layarnya menyala, menampilkan foto Raga yang sedang tersenyum. Dengan jari yang sedikit gemetar, ia membuka galeri foto. Ia mencari foto-foto lamanya, foto-foto sebelum ia bertemu Raga, foto-foto masa mudanya yang penuh tawa dan keceriaan. Ia menemukan sebuah foto dirinya saat wisuda, memegang ijazah dengan bangga. Senyumnya saat itu begitu lebar, begitu penuh harapan.

Nindya menyimpan foto itu sebagai wallpaper ponselnya. Ia menatapnya lama, seolah mencari kekuatan dari pantulan dirinya di masa lalu. Kemudian, ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Ia memutar tubuhnya, dan melangkah pergi, menghilang di antara kerumunan orang. Ia tidak tahu ke mana langkah itu akan membawanya, tapi untuk pertama kalinya hari ini, ia merasa sedikit lebih ringan. Perjalanan panjang baru saja dimulai.