Kisah Viral: Dompet Suami Hilang, Isinya Bikin Sang Istri Nangis Darah di Depan Kasir Minimarket

Kisah Viral: Dompet Suami Hilang, Isinya Bikin Sang Istri Nangis Darah di Depan Kasir Minimarket

CERITA PENDEK

Kisah Viral: Dompet Suami Hilang, Isinya Bikin Sang Istri Nangis Darah di Depan Kasir Minimarket

Babak 1 — Skenario Mundur

Pagi itu, Jatmiko berdiri di depan mesin ATM dengan gerakan kaku, jarinya ragu menyentuh layar. Panik yang sedari tadi coba ia tepis kini mulai menjalar seperti sengatan listrik di sekujur tubuhnya. Dompet coklat yang selalu terselip di saku belakang celananya—sebuah kebiasaan yang sudah ia lakukan selama belasan tahun—hilang. Raib. Tanpa jejak. Ia menelan ludah, mencoba mengingat kapan terakhir kali ia menggunakannya. Tadi malam? Saat membayar bensin? Atau saat membeli seblak kemasan di minimarket dekat rumah?

Napas Jatmiko mulai memburu. Ia meraih ponselnya, membuka aplikasi GoPay, lalu layar itu menampilkan saldo yang jauh dari kata nyaman untuk memenuhi semua tagihan bulanan. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Bagaimana mungkin dompet itu bisa hilang? Padahal tadi malam ia yakin sekali masih memegangnya.

Ia mulai berjalan, langkahnya bergegas menuju kantornya di bilangan Sudirman. Setiap detik terasa seperti siksaan. Pikirannya melayang ke segala arah. Apakah dompet itu jatuh di jalan? Dicopet? Atau… ia enggan melanjutkan pikiran itu.

Sesampainya di lobi gedung, ia mencoba menelepon ibunya. “Bu, Jatmiko kemarin pegang dompet warna coklat nggak ya? Yang ada foto kita pas nikah di dalamnya?” suaranya terdengar sedikit bergetar.

“Nggak ada, Mik. Kamu kan selalu simpan sendiri. Sudah cari baik-baik?” jawab ibunya, terdengar sedikit khawatir.

“Sudah, Bu. Sepertinya tertinggal di mobil tadi malam. Nanti saya cari lagi,” Jatmiko berbohong. Ia tidak mungkin mengaku bahwa ia mulai curiga pada hal yang paling ia takutkan.

Babak 2 — Jejak Digital yang Menyakitkan

Sepanjang perjalanan menuju ruang kerjanya, Jatmiko terus membolak-balikkan isi tas laptopnya, berharap ada keajaiban yang membuatnya menemukan dompet itu. Tapi nihil. Ia duduk di kursinya, tatapannya kosong tertuju pada layar monitor.

Ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang paling ia takuti. Ia membuka aplikasi e-commerce di ponselnya, lalu masuk ke riwayat transaksi. Seharusnya tidak ada yang aneh. Ia sering membeli kebutuhan rumah tangga atau perlengkapan kantor di sana. Tapi malam tadi, ada satu transaksi yang menarik perhatiannya: sebuah pesanan paket berisi lingerie model Eropa berwarna hitam, dikirim ke alamat yang bukan alamat rumahnya.

Jantung Jatmiko berdebar tak karuan. Ia menggeser layar ke bawah, melihat alamat pengiriman. Ternyata alamat sebuah apartemen di daerah Jakarta Selatan yang jarang ia kunjungi. Tangannya mulai gemetar hebat saat menyadari sesuatu yang lebih mengerikan.

Ia membuka aplikasi perpesanan, mencari nama ‘Arumi’. Nama kekasih gelapnya yang sudah ia coba lupakan. Jari-jarinya mengetik pesan singkat, “Rum, kamu di apartemen kan?”

Beberapa menit kemudian, balasan datang. “Iya, Mas. Kenapa?”

Jatmiko merasa seolah seluruh udara di ruangan itu disedot habis. Ia memandang jam di sudut layar komputernya. Pukul 09:17 WIB. Jelas sekali Arumi tidak mungkin sendirian di apartemen itu sepanjang malam jika ia sendiri baru saja ‘kehilangan’ dompetnya.

Babak 3 — Serpihan Kebenaran di Toko Kelontong

Dengan sisa keberanian yang ia miliki, Jatmiko memutuskan untuk langsung menuju apartemen Arumi. Ia mengabari kantor bahwa ia akan mengambil cuti mendadak karena urusan keluarga yang mendesak. Ia yakin, apapun yang ia temukan di sana akan lebih buruk dari sekadar kehilangan dompet.

Ia memesan GoCar dari ponselnya. Dalam perjalanan, pikirannya terus berputar. Kenapa Arumi memesan lingerie? Siapa yang akan memakainya? Dan yang terpenting, kemana perginya dompetnya? Apakah ia terjatuh saat ia keluar dari apartemen Arumi tadi malam? Atau justru ia sengaja meninggalkannya di sana?

Saat tiba di apartemen, Jatmiko langsung menuju unit Arumi. Ia mengetuk pintu, sedikit ragu. Pintu terbuka. Di sana, berdiri Arumi dengan piyama sutra berwarna senada dengan lingere yang ia pesan. Di belakangnya, ia melihat sesosok pria asing—berbeda dari dirinya—sedang menikmati secangkir kopi paginya.

“Mas Jatmiko? Ngapain ke sini?” tanya Arumi, nadanya terdengar heran namun sedikit gugup. Matanya melirik ke belakangnya, ke arah pria yang kini menatap Jatmiko dengan tatapan datar.

“Dompetku hilang, Rum. Kamu lihat?” Jatmiko berusaha menahan emosi. Ia melirik ke dalam apartemen, mencari tanda-tanda keberadaan dompetnya. Tapi tidak ada.

Arumi hanya menggelengkan kepala, matanya mulai berkaca-kaca. Pria di belakangnya berdiri, merangkul bahu Arumi. “Ada masalah apa ya?” tanyanya dengan nada dingin.

Jatmiko merasa seperti dihantam palu godam. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya berbalik, meninggalkan apartemen itu dengan perasaan hancur.

Babak 4 — Pengakuan yang Tak Terucap

Jatmiko kembali melarikan diri. Kali ini, ia tidak tahu harus ke mana. Ia mengendarai mobilnya tanpa arah, matanya tergenang air mata. Ia teringat semua momen indah bersama istrinya, Nindya. Tawa mereka, pelukan mereka, janji setia yang pernah mereka ucapkan. Semuanya terasa begitu jauh sekarang.

Ia memutuskan untuk singgah ke minimarket tempat ia terakhir membeli seblak. Siapa tahu kasirnya melihat sesuatu. Ia masuk, matanya menyapu seisi ruangan. Ia menuju kasir, tempat ia kemarin malam bertransaksi.

“Permisi, Mbak,” sapa Jatmiko pada kasir yang sedang melayani pembeli lain. Ia menunggu giliran.

“Ya, Mas?” sahut kasir itu, seorang wanita muda berkerudung.

“Kemarin malam, sekitar jam 10, apa ada yang menemukan dompet coklat di sini? Ketinggalan di dekat kasir mungkin,” Jatmiko bertanya, penuh harap.

Kasir itu tampak berpikir sejenak. “Oh, sebentar ya Mas.” Ia beranjak ke belakang konter, lalu kembali dengan sebuah dompet coklat di tangannya. “Ini punya Mas bukan?”

Jatmiko terdiam. Itu dompetnya. Ia meraihnya dengan tangan gemetar. Ia segera membuka dompet itu, memeriksa isinya. Kartu-kartu identitasnya masih ada. Uang tunainya… sebagian hilang. Tapi yang membuatnya terkejut adalah selembar foto yang terselip di salah satu sekat.

Itu foto Nindya, istrinya, sedang tersenyum bahagia. Di belakang foto itu, tertulis sebuah pesan dengan tulisan tangan Nindya: “Untuk Jatmiko, suamiku tersayang. Aku tahu kamu menyimpan foto ini di dompetmu. Aku harap kamu selalu ingat aku. Aku mencintaimu.”

Tiba-tiba, ingatan Jatmiko kembali. Semalam, sebelum ia pergi ke apartemen Arumi, Nindya memberinya dompet itu sebagai kejutan ulang tahun yang sudah terlewat. Ia lupa mengembalikannya ke tempat semula. Ia menyimpannya di saku belakang. Dompet itu tidak pernah hilang. Ia hanya lupa.

Babak 5 — Luka yang Tak Terlihat

Jatmiko berdiri terpaku di depan kasir minimarket. Air mata mengalir deras di pipinya, membasahi foto Nindya. Ia mengingat semua kebohongannya, semua malam yang ia habiskan bersama Arumi, semua janji yang ia ingkari. Ia telah mengkhianati Nindya dengan cara yang paling keji.

Dompet itu bukan bukti pengkhianatan dari Nindya, melainkan bukti dari pengkhianatan Jatmiko sendiri. Ia telah membangun benteng kebohongan di atas pondasi cinta Nindya yang tulus.

Ia menatap kasir itu, yang kini memandangnya dengan tatapan prihatin. “Masnya nggak apa-apa?” tanyanya lembut.

Jatmiko hanya bisa menggelengkan kepala. Ia tak mampu berkata apa-apa. Ia telah kehilangan segalanya. Cinta Nindya, kepercayaan dirinya, dan harga dirinya. Ia telah menjadi pria yang ia paling benci.

Ia keluar dari minimarket itu, memegang dompet coklat itu erat-erat. Ia melihat mobilnya terparkir di depan. Ia membuka pintu, tapi ragu untuk masuk. Kemana ia harus pergi sekarang? Apa yang harus ia katakan pada Nindya? Ia sadar, luka yang ia ciptakan jauh lebih dalam dari sekadar kehilangan dompet. Luka itu menganga, tak tersembuhkan, dan ia sendiri yang telah menggoreskannya.

Langit sore mulai menggelap, membawa serta kebisuan yang memekakkan telinga. Jatmiko tetap berdiri di sana, terombang-ambing dalam lautan penyesalan, tanpa tahu bagaimana ia bisa keluar dari badai yang ia ciptakan sendiri.