Suaminya Bilang Lembur, Tapi Ini yang Ia Temukan di Tas Kerjanya Bikin Hatinya Remuk

Suaminya Bilang Lembur, Tapi Ini yang Ia Temukan di Tas Kerjanya Bikin Hatinya Remuk

CERITA PENDEK

Suaminya Bilang Lembur, Tapi Ini yang Ia Temukan di Tas Kerjanya Bikin Hatinya Remuk

Babak 1 — Harum Kopi yang Mulai Asing

Gendis menunduk, tangannya yang sedikit gemetar meraih gagang cangkir porselen bergambar bunga melati. Aroma kopi tubruk yang biasanya jadi ritual paginya kini terasa berbeda. Lebih pahit, lebih getir. Di sampingnya, nampan sarapan sudah dingin. Suaminya, Pradipta, yang biasanya bangun paling pagi demi menemaninya, hari ini sudah tidak ada.

‘Dia bilang ada rapat mendadak,’ gumam Gendis pada dirinya sendiri, kalimat yang diucapkannya tadi pagi saat Pradipta berpamitan dengan tergesa-gesa. Wajahnya pucat pasi, tatapannya tidak fokus. Gendis sudah hafal betul raut wajah itu. Rapat mendadak itu seringkali datang bersamaan dengan ‘lembur yang tidak terduga’.

Biasanya, Gendis akan membalasnya dengan senyum sabar, lalu membawakan bekal makan siang ke kantor Pradipta di bilangan Sudirman. Tapi pagi ini, ada yang terasa janggal. Saat membereskan meja di dekat pintu masuk, pandangannya tertuju pada tas kerja Pradipta yang tergeletak begitu saja. Ia tak pernah melihat tas itu diletakkan sembarangan. Pradipta sangat rapi soal barang-barangnya. Tas itu seperti dilempar, bukan diletakkan.

Sebuah dorongan aneh, yang bukan berasal dari keingintahuannya, tapi lebih seperti naluri yang berteriak waspada, membuat Gendis mendekat. Ia mengamati tas kulit berwarna cokelat tua itu. Ada sedikit bulu halus yang menempel di salah satu sudutnya. Bukan bulu hewan peliharaan mereka, Kiko, si kucing persia yang lebih banyak menghabiskan waktu di sofa ruang tengah. Bulu itu lebih panjang, warnanya keemasan.

Jantung Gendis mulai berdegup lebih kencang. Ia ingat, beberapa hari lalu, Pradipta pulang dengan parfum yang berbeda. Bukan parfum kesukaannya, bukan pula parfum yang biasa dipakai rekan kerjanya. Wanginya manis, seperti bunga yang baru mekar. Ia sempat bertanya, Pradipta hanya menjawab ‘dikasih teman kantor.’ Jawaban yang sangat Dipsa—begitu Gendis memanggil suaminya—seperti biasanya, datar dan cenderung menghindar.

Ia berjongkok, tangannya ragu-ragu menyentuh permukaan tas. Di salah satu resletingnya, tersangkut sehelai rambut panjang berwarna hitam legam. Bukan rambutnya yang sebahu dan berwarna cokelat gelap. Rambut itu terlihat halus, berkilau sehat. Gendis menelan ludah. Otaknya mulai memutar ulang semua kejadian beberapa minggu terakhir. Seringnya Pradipta pulang larut malam, alasannya selalu sama: lembur. Ponselnya yang selalu dalam mode senyap, tatapannya yang sering kosong saat mereka sedang bersama. Ia merasa seperti penonton di film yang tokoh utamanya adalah dirinya sendiri, tapi ia tak tahu alur ceritanya.

Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. ‘Jangan berpikiran buruk, Gendis,’ bisiknya lagi. Tapi suara di dalam kepalanya jauh lebih keras. Suara itu membisikkan keraguan, menaburkan benih kecurigaan yang mulai tumbuh subur di tanah hatinya yang mulai retak.

Babak 2 — Temuan yang Menikam Hati

Gendis kembali duduk di kursi makan. Kopi di cangkirnya sudah dingin, tapi ia belum juga meminumnya. Jemarinya yang masih sedikit gemetar mencoba membuka aplikasi DANA di ponselnya. Ia teringat, semalam ia melihat Pradipta sibuk membuka aplikasi dompet digital itu sebelum tidur. Ada sesuatu yang ia hapus dengan cepat.

Ia membuka riwayat transaksi. Mata Gendis terpaku pada sebuah transaksi yang baru saja terjadi beberapa jam lalu, sekitar pukul 02.17 dini hari. Terdapat detail transaksi pembayaran untuk ‘Antar Makanan Instan’. Nama tokonya terdengar asing: ‘Kedai Senja’. Yang membuat Gendis mengerutkan dahi adalah jumlahnya: Rp 178.500. Jumlah yang cukup besar untuk sekadar ‘makanan instan’.

Ia scroll lebih ke bawah, mencari detail penerima. Tertera nama: ‘Kirana’. Gendis mencoba mengingat-ingat. Apakah ada rekan kerja Pradipta yang bernama Kirana? Setahunya, nama-nama rekan kerja Pradipta yang sering ia dengar adalah Bima, Surya, dan Fajar. Tidak ada Kirana.

Sebuah kalimat yang pernah diucapkan temannya, Sekar, terngiang di benaknya. ‘Kalau curiga, jangan ditahan. Nanti meledak sendiri.’ Sekar memang belum pernah mengalami hal seperti ini, tapi ia adalah salah satu orang yang paling realistis yang Gendis kenal.

Dengan tangan yang semakin mantap, Gendis membuka aplikasi GoFood. Ia mengetikkan nama ‘Kedai Senja’ di kolom pencarian. Muncul beberapa hasil, namun tidak ada yang persis sama. Ia mencoba memasukkan kata kunci ‘Senja’ saja. Muncul sebuah kafe di daerah Kemang bernama ‘Senja di Tepi Kota’. Lokasinya cukup jauh dari kantor Pradipta, bahkan dari rumah mereka.

Gendis penasaran. Ia membuka profil ‘Senja di Tepi Kota’. Tampilan aplikasinya menampilkan foto-foto makanan dan suasana kafe yang estetik. Di bagian informasi kontak, tertera nomor telepon dan alamat media sosial kafe tersebut. Gendis memutuskan untuk membuka Instagram kafe itu.

Jantungnya berdetak semakin kencang saat melihat feed Instagram ‘Senja di Tepi Kota’. Ada banyak foto pasangan yang sedang menikmati suasana kafe. Di salah satu foto yang diunggah dua minggu lalu, terlihat siluet sepasang kekasih yang sedang duduk di sudut kafe. Latar belakangnya adalah pemandangan kota di malam hari. Tangan sang pria terlihat menggenggam tangan sang wanita. Dan di tangan wanita itu, Gendis bisa melihat jelas, sebuah cincin perak dengan batu kecil yang berkilauan.

Ia mencari foto-foto lain. Di foto yang lain lagi, ia melihat foto close-up sebuah meja. Ada dua gelas kopi dan sepiring kue red velvet. Dan di samping gelas pria, tergeletak sebuah gantungan kunci berbentuk burung hantu. Gendis seketika ingat. Pradipta baru saja membeli gantungan kunci serupa dua minggu lalu. Ia bilang itu koleksi terbarunya. Ia bahkan menempelkannya di tas kerjanya.

Gendis merasa dunia berputar. Tangannya meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Ia ingin menelepon Pradipta, tapi tak tahu harus berkata apa. Mulutnya terasa kering. Ia hanya bisa menatap layar ponselnya, menimbang-nimbang antara kebenaran yang menyakitkan dan kebohongan yang menenangkan.

Babak 3 — Jejak Digital yang Tak Terhapus

‘Ini harus ada buktinya,’ tekad Gendis menguat. Ia sadar, menebak-nebak tidak akan membantunya. Ia butuh kepastian, betapapun pahitnya kepastian itu.

Ia membuka laptopnya, memesan es teh jumbo dari aplikasi pesan antar makanan online, berharap kafein dan gula bisa memberinya sedikit kekuatan. Sambil menunggu, ia membuka kembali aplikasi DANA. Ia ingin memastikan detail transaksi itu. Ia menemukan opsi untuk melihat ‘Detail Pesanan’ dan mengkliknya.

Tampilan detail pesanan itu memecah keheningan apartemen mereka. Di sana tertera daftar makanan yang dipesan: ‘Nasi Goreng Seafood Spesial’, ‘Ayam Bakar Madu’, ‘Kopi Latte Dingin’, dan ‘Red Velvet Cake’. Benar saja, pesanan itu bukan untuk dirinya. Dan yang paling mengejutkan, ada catatan tambahan dari pemesan: ‘Tolong hiasin kuenya ya, untuk Kirana.’

Gendis terdiam. Ia melihat daftar itu berulang kali, seolah tak percaya. Nasi goreng seafood, makanan favorit Pradipta. Ayam bakar madu, makanan yang pernah mereka pesan bersama saat merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga. Dan kue red velvet, yang ia lihat di foto Instagram kafe itu.

Ia teringat percakapannya dengan Pradipta seminggu yang lalu. Saat itu Pradipta pulang lebih malam dari biasanya. Gendis bertanya apa makan malamnya. Pradipta hanya bilang ia sudah makan di kantor. Gendis tak curiga sama sekali.

‘Jadi, selama ini…,’ Gendis tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia mencoba menahannya, tapi satu tetes jatuh, membasahi pipinya. Lalu satu lagi, dan lagi. Ia memejamkan mata, mencoba mengendalikan emosinya.

Ia membuka kembali akun Instagram ‘Senja di Tepi Kota’. Kali ini, ia lebih teliti mengamati foto-foto yang diunggah. Ia menemukan foto lain yang diambil dari sudut yang berbeda, memperlihatkan meja yang sama dengan pesanan kue red velvet. Kali ini, terlihat jelas siluet dua orang yang duduk berhadapan. Salah satunya adalah Pradipta. Gendis bisa mengenali jaket kulit yang sering dipakai suaminya itu.

Ia lalu mencari nama ‘Kirana’ di kolom pencarian Instagram. Muncul beberapa akun. Salah satunya bernama ‘Kirana Wijaya’. Akun itu terkunci, namun foto profilnya terlihat jelas. Seorang wanita muda dengan senyum manis, rambut panjang tergerai, mengenakan kalung berinisial ‘K’.

Gendis ragu sejenak, lalu ia mencoba mengirimkan permintaan pertemanan ke akun tersebut. Sambil menunggu, ia membuka aplikasi GoCar. Ia melihat riwayat perjalanannya. Ada satu perjalanan yang baru saja ia hapus. Perjalanan itu menuju alamat ‘Senja di Tepi Kota’ di Kemang. Waktu keberangkatan: 2 minggu lalu, pukul 20.30. Waktu kedatangan: 2 minggu lalu, pukul 21.00.

Semua potongan puzzle mulai menyatu. Jantung Gendis berdegup kencang. Ia merasa seperti sedang berlari di lintasan yang sama, tapi arahnya berlawanan.

Babak 4 — Konfrontasi yang Tak Terhindarkan

Gendis mematikan laptopnya. Ia merasa lelah, tapi pikirannya terus berpacu. Ia memutuskan untuk tidak menunggu persetujuan dari Kirana. Ia harus mencari tahu lebih banyak. Ia membuka aplikasi Tokopedia, mencari ‘kalung inisial K’. Ia menemukan banyak model yang mirip dengan yang dilihatnya di foto profil Kirana.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Gendis ragu mengangkatnya. Namun, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Ia menjawab panggilan itu.

“Halo?” suara Gendis bergetar.

“Gendis?” Suara di seberang terdengar hati-hati. Itu suara wanita.

“Ya, ini Gendis. Anda siapa?”

“Saya… saya Kirana.”

Gendis terkesiap. Ia tidak menyangka Kirana akan menghubunginya duluan. “Oh, Kirana. Ada apa?” tanyanya, berusaha menahan emosi.

“Saya tahu… Anda tahu tentang saya dan Dipsa,” ujar Kirana lirih. Gendis bisa mendengar suara tangis tertahan di ujung telepon.

“Jadi, memang benar?” Gendis bertanya, suaranya perlahan meninggi.

“Saya minta maaf, Gendis. Saya tidak bermaksud merusak rumah tangga Anda. Dipsa bilang dia… dia akan meninggalkan Anda.”

‘Meninggalkan aku?’ Gendis tertawa getir. Air mata mulai mengalir lagi.

“Dia bilang dia mencintaimu,” lanjut Kirana.

“Dia bilang begitu?” Gendis menghela napas. “Tapi semalam, dia pesan nasi goreng seafood dan kue red velvet untukmu, Kirana. Dia pesan itu jam 2 pagi. Untukmu.”

Terdengar keheningan panjang di seberang telepon. Kirana menangis semakin kencang. “Dia… dia tidak pernah bilang kalau dia masih bersama istrinya,” isaknya.

“Jadi, kamu tidak tahu?” Gendis bertanya lagi, nadanya mulai melembut. Ia melihat Kiko yang sedang bermain di sudut ruangan, lalu kembali menatap foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding.

“Saya pikir… saya pikir dia akan benar-benar meninggalkan istrinya. Dia bilang dia tidak bahagia. Dia bilang hanya dengan saya dia merasa hidup.”

“Dia juga bilang padaku, Kirana. Dia bilang hanya aku yang bisa membuatnya bahagia.” Gendis tersenyum sedih.

“Jadi… kita sama-sama ditipu?” Kirana bertanya, suaranya tercekat oleh tangis.

Gendis tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap kosong ke depan. Di satu sisi, ia merasa lega karena ada orang lain yang mengalami hal serupa. Namun di sisi lain, ia merasa semakin terpuruk. Pradipta telah membohongi mereka berdua.

Babak 5 — Antara Kehancuran dan Harapan Baru

Percakapan dengan Kirana berakhir tanpa kata-kata yang jelas. Keduanya hanya bisa saling menguatkan dalam keputusasaan yang sama. Gendis menutup teleponnya, lalu menatap tas kerja Pradipta yang masih tergeletak di dekat pintu. Tas itu kini terasa seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Ia bangkit, berjalan menuju kamar tidur. Ia membuka lemari pakaian Pradipta. Ia mencari-cari sesuatu yang janggal. Dan di salah satu saku jaket yang sering dipakai Pradipta, ia menemukan sebuah struk parkir dari sebuah pusat perbelanjaan di pinggir kota yang jarang sekali mereka kunjungi. Tanggal struk itu adalah tiga hari yang lalu. Waktu parkir tertera pukul 23.45. Pradipta bilang ia sedang rapat sampai larut malam di kantor.

Gendis kembali ke ruang tamu. Ia mengambil tas kerja Pradipta. Tangannya bergetar lagi saat ia membuka resleting utama tas itu. Ia mengaduk-aduk isinya. Ada laptop, beberapa berkas, botol minum, dan dompet. Ia membuka dompet Pradipta. Kartu identitas, beberapa kartu ATM, dan uang tunai. Semuanya normal. Tapi ada satu kartu yang terselip di slot foto. Kartu member sebuah salon kecantikan mewah di kawasan Senayan.

Gendis membalik kartu itu. Di bagian belakang, tertulis sebuah nama: ‘Kirana’. Dan di bawah nama itu, tertera sebuah tanggal janji temu untuk perawatan spa yang dijadwalkan minggu depan. Gendis memejamkan mata. Ternyata Pradipta tidak hanya membohongi Kirana, tapi juga dirinya.

Ia merasakan sesuatu yang keras di dasar tas. Ia mengeluarkannya. Sebuah kotak kecil berwarna hitam. Jantungnya berdebar lebih kencang. Ia membuka kotak itu. Di dalamnya, tergeletak sebuah cincin berlian kecil yang berkilauan indah.

Gendis menatap cincin itu. Ini bukan cincin yang ia impikan, bukan cincin yang pernah mereka bicarakan. Ini adalah cincin yang sangat berbeda. Tangannya meraih ponselnya. Ia membuka galeri foto. Ada foto pernikahan mereka, foto wisuda Pradipta, foto Kiko saat masih kecil. Ia melihat foto saat Pradipta melamarnya dulu. Cincin yang diberikan Pradipta dulu jauh lebih sederhana, tapi memiliki makna yang tak terhingga.

Ia kembali menatap cincin berlian di tangannya. Apakah ini untuk Kirana? Atau… untuk siapa?

Pintu apartemen terbuka. Pradipta masuk, wajahnya terlihat lelah. Ia terkejut melihat Gendis duduk di lantai dengan tas kerjanya terbuka di depannya, dan cincin berlian di tangannya.

“Gendis? Kamu… kamu ngapain di sini?” tanya Pradipta, suaranya terdengar panik.

Gendis hanya menatapnya. Air mata kembali membasahi pipinya. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Dalam tatapan Pradipta, Gendis melihat kebohongan yang semakin dalam, dan kehancuran yang tak terlukiskan.