Kisah Ibu Muda Ini Berubah Seketika Saat Menemukan Secarik Kertas di Kantong Jaket Suaminya yang Tak Pernah Dipakai
Babak 1 — Senyum di Balik Lelah
Nindya mematikan kompor dengan gerakan yang sudah seperti gerakan refleks. Aroma tumisan ayam kecap masih menguar lembut di dapur mungil mereka. Pukul tujuh malam, waktu yang pas untuk menyajikan makan malam bagi suaminya, Jatmiko, yang biasanya pulang kerja tepat waktu. Lampu meja di ruang tamu sudah ia nyalakan, menciptakan bias hangat di sudut ruangan. Di atasnya, beberapa foto pernikahan mereka terpajang rapi, senyum Jatmiko yang lebar di hari itu masih terasa begitu nyata.
Ia menghela napas panjang, sedikit lega ketika melihat Jatmiko baru saja memarkir motornya di depan pagar. Suara helm yang dilepas dan langkah kaki yang familiar memasuki rumah membuat Nindya bergegas menyambut di pintu. Namun, sambutannya sedikit tertahan. Jatmiko terlihat lebih lelah dari biasanya. Jaket bomber biru dongker kesayangannya terlihat agak kusut, sesuatu yang jarang terjadi. Ia bahkan tidak menyempatkan diri mencium pipi Nindya seperti biasa, hanya bergumam singkat, ‘Capek banget, Ndy. Mandi dulu ya.’
Nindya hanya mengangguk, sedikit bingung tapi tidak berani bertanya lebih jauh. Ia tahu Jatmiko akhir-akhir ini punya banyak tekanan di kantor. Proyek besar yang harus dikejar, kata bosnya. Nindya berusaha menjadi istri yang pengertian. Ia menyiapkan air hangat di kamar mandi dan meletakkan handuk bersih di punggung pintu. Sambil menunggu, ia merapikan ruang tamu. Jaket bomber Jatmiko yang tergeletak begitu saja di sofa, ia ambil untuk digantung di belakang pintu kamar. Kebiasaan kecil Nindya adalah memeriksa saku pakaian suaminya, bukan karena curiga, tapi sekadar memastikan tidak ada barang berharga yang tertinggal atau kotoran yang menempel.
Biasanya, hanya dompet, kunci, atau kadang struk parkir. Tapi kali ini, jemarinya merasakan sesuatu yang aneh di saku bagian dalam jaket. Bukan dompet yang tipis, bukan pula kartu. Bentuknya seperti kertas kecil yang terlipat rapi. Nindya menariknya keluar. Secarik kertas putih, terlipat halus menjadi beberapa bagian. Ada tulisan tangan di sana, dengan spidol hitam. Terlalu kecil untuk dibaca dari kejauhan, tapi cukup jelas di bawah cahaya lampu meja. Jantung Nindya mulai berdetak lebih cepat. Ini bukan struk. Bukan juga catatan utang atau janji temu.
Ia membukanya perlahan, tangannya terasa sedikit gemetar. Ada tiga baris tulisan tangan, meliuk-liuk dengan gaya yang sama sekali tidak ia kenali. Jatmiko tidak pernah menulis seperti ini. Bukan tulisan rapi yang terkesan tergesa-gesa, bukan pula coretan asal. Ini… berbeda. Ia mengernyitkan dahi, berusaha membaca setiap huruf. Di bawah lampu, tulisan itu terasa begitu personal, begitu intim. Dan itu, yang paling membuatnya gelisah, bukan untuknya.
Babak 2 — Goresan Kertas
Nindya berdiri mematung di depan sofa, kertas kecil itu masih tergenggam erat di tangannya. Perutnya terasa mual, seolah baru saja menelan bongkahan es. Ia berulang kali membaca kalimat di kertas itu, seperti mencoba menemukan kesalahan tafsir, mencari makna lain yang lebih sederhana. ‘Temu kangen di kafe Senja, ya? Jam 7-an. Aku tunggu, sayang.’ Tiga kalimat pendek, tapi dampaknya terasa menghancurkan seluruh fondasi rumah tangga yang ia bangun selama lima tahun terakhir. Kafe Senja. Jatmiko pernah mengajaknya ke sana sekali, saat mereka masih pacaran. Kafe itu punya pemandangan kota yang indah di malam hari.
Sayang. Kata itu menggantung di udara, menampar Nindya tanpa suara. Jatmiko tidak pernah memanggilnya ‘sayang’ sejak mereka menikah. Ia lebih sering memanggil ‘Ndy’, atau ‘Say’, yang terdengar lebih santai dan tidak terlalu intim. Panggilan ‘sayang’ itu terasa asing, terlalu mesra untuk diucapkan kepada dirinya, namun justru begitu pas untuk tulisan di kertas ini. Tangannya yang memegang kertas mulai berkeringat. Ia menatap jaket bomber yang tergeletak di sofa, seolah benda itu adalah sumber dari segala kebohongan.
Ia teringat saat Jatmiko pulang tadi. Wajahnya lelah, tapi matanya… apa ia melihat kilatan cemas di sana? Atau ia hanya terlalu merespons semua ini? Pikiran Nindya berputar liar. Ia mencoba mengingat percakapan terakhir mereka. Jatmiko bilang akan lembur sampai malam. ‘Ada deadline, Ndy. Penting banget.’ Begitu katanya. Tapi sekarang, kertas ini ada di sakunya. Kertas yang sepertinya ditulis sebelum ia pulang kerja. Jelas bukan untuk dirinya. Dan jam tujuh, waktu yang tertera di kertas itu, adalah jam makan malam mereka. Waktu saat Jatmiko seharusnya sudah di rumah, menyantap nasi uduk buatan istrinya.
Nindya menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata. Ia melirik jam dinding. Pukul 19:15. Jatmiko pasti sedang di kamar mandi. Kesempatan. Ia buru-buru memasukkan kertas itu kembali ke saku jaket. Lalu ia menyalakan ponselnya. Layar terkunci. Jari-jarinya menari lincah di atas keyboard, mencari aplikasi peta. Kafe Senja. Di mana itu? Ia mengetikkan nama kafe itu. Muncul beberapa hasil. Salah satunya berjarak sekitar lima kilometer dari rumah mereka. Cukup dekat. Terlalu dekat.
Ia membuka aplikasi chat-nya. Nama Jatmiko paling atas. Terakhir aktif satu jam yang lalu. Nindya mengetik, menghapus, mengetik lagi. ‘Mas, udah selesai lembur?’ Ia menatap tulisan itu, lalu menghapusnya. Terlalu jelas. Terlalu menuduh. Ia mengganti pesannya menjadi, ‘Mas, aku tadi bersihin jaketmu, nemu kertas kecil di saku. Ada tulisan. Punya siapa ya?’ Ia menahan napas, menunggu balasan. Hanya ada centang satu. Belum dibaca. Keheningan kamar mandi terasa begitu menyesakkan.
Babak 3 — Jejak Digital dan Kenangan Pudar
Pesan itu belum juga dibaca. Jantung Nindya berdebar tak karuan. Ia mengambil ponsel Jatmiko yang tergeletak di meja. Layar tidak terkunci. Sebuah kebiasaan yang selalu ia ingatkan pada Jatmiko agar tidak dilakukan, tapi suaminya selalu beralasan ‘tidak ada yang perlu disembunyikan’. Sekarang, kebiasaan itu terasa seperti sebuah undangan yang mengerikan. Ia membuka aplikasi chat Jatmiko. Percakapan terakhir adalah dengan bosnya, membahas soal proyek. Semuanya terlihat normal. Sampai ia menggulir ke bawah.
Ada nama ‘Reswari’ di urutan teratas kontak. Nindya tidak pernah mendengar nama itu. Ia membuka percakapan mereka. Terakhir bertukar pesan tiga hari lalu. Isinya singkat, padat, dan sangat… profesional? ‘Besok presentasi jam 9 pagi, jangan lupa siapkan data dari divisi kita.’ ‘Baik, Mas. Siap.’ ‘Terima kasih banyak, Res.’ Nindya merasa sedikit lega. Mungkin Reswari adalah rekan kerja Jatmiko. Tapi mengapa Jatmiko menyimpan nomornya teratas?
Ia kembali ke percakapan dengan kertas itu. Tangannya kini lebih mantap saat menggenggam ponsel Jatmiko. Ia membuka galeri foto. Ratusan foto pekerjaan, foto keluarga, foto liburan. Tidak ada yang mencurigakan. Sampai ia melihat folder bernama ‘Pribadi’. Ia membukanya. Isinya foto-foto yang lebih intim. Dan di sana, di deretan foto-foto itu, ada sebuah foto selfie Jatmiko dengan seorang wanita. Wanita berambut panjang sebahu, tersenyum manis. Nindya tidak mengenali wajahnya. Tapi di bawah foto itu, ada keterangan tanggal: dua minggu yang lalu. Dan sebuah caption singkat: ‘Jejak langkah kita, sayang.’
‘Sayang’. Kata itu lagi. Jantung Nindya serasa berhenti berdetak. Ia membandingkan wajah wanita di foto itu dengan tulisan tangan di kertas yang ia temukan tadi. Sifat tulisan itu, sentuhan mesra yang tersembunyi di balik huruf-hurufnya, kini terasa semakin nyata. Ia ingat saat Jatmiko bilang akan menemui klien di luar kota seminggu yang lalu. ‘Ada klien dari Surabaya, Ndy. Harus ketemu langsung,’ katanya.
Nindya mencoba mencari nama ‘Reswari’ di media sosial. Ia menggunakan nama lengkapnya yang ia temukan di profil LinkedIn Jatmiko. Ketemu. Akunnya privat. Tapi ada satu foto profil yang terlihat jelas. Wanita yang sama dengan yang ada di galeri ponsel Jatmiko. Nindya merasa seperti tersedak. Ia kembali melihat foto selfie mereka di galeri Jatmiko. Jatmiko tersenyum lebar, sementara wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu Jatmiko. Senyum manisnya kini terasa seperti seringai.
Babak 4 — Pertemuan Tak Terduga
Nindya duduk di kursi ruang tamu, tatapannya kosong. Jatmiko keluar dari kamar mandi, sudah berganti kaus dan celana pendek. Ia tampak lebih segar. ‘Loh, kok kamu belum makan, Ndy?’ tanyanya, suaranya sedikit serak. Nindya menoleh. Wajahnya tanpa ekspresi. ‘Aku tadi ngirim pesan, Mas. Punya kamu kok belum dibaca?’
Jatmiko mengerutkan dahi, mengambil ponselnya yang tergeletak di meja. Ia melihat notifikasi pesan dari Nindya. Ia membacanya. Ekspresinya berubah seketika. Sedikit terkejut, lalu sedikit gelisah. Ia mencari kertas yang Nindya maksud. ‘Oh, ini?’ katanya, suaranya terdengar agak dibuat-buat. ‘Ini… ini tadi aku dapat dari… dari teman.’ Nindya mengangkat sebelah alisnya. ‘Teman? Teman yang mana, Mas? Teman yang mana yang nulis pesan kayak gini ke kamu?’
Jatmiko tampak salah tingkah. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. ‘Ya itu, teman… dari kantor. Dia minta tolong beliin sesuatu. Terus dia kasih ini… buat pengingat,’ katanya terbata-bata. Nindya tertawa kecil, tawa yang terdengar kering dan getir. ‘Pengingat? Pengingat apa, Mas? Pengingat janji ketemu di Kafe Senja jam tujuh malem? Oh, kebetulan banget ya, Mas. Jam tujuh malem itu jam makan malemku juga. Dan kebetulan banget, aku nemu kertasnya di jaket yang kamu bilang buat lembur.’
Wajah Jatmiko memucat. Ia menatap Nindya, lalu menatap jaket bomber biru dongker yang tergeletak di sofa. ‘Ndy, aku bisa jelasin…’ ‘Jelasin apa, Mas?’ potong Nindya, suaranya mulai bergetar. ‘Jelasin kalau kamu bohongin aku soal lembur? Jelasin kalau kamu punya ‘sayang’ lain di luar sana? Jelasin foto kamu sama dia di galeri HP kamu? Jelasin semua ini, Mas!’ Air mata Nindya akhirnya tumpah ruhi. Ia menatap Jatmiko, menunggu pembelaan. Tapi Jatmiko hanya berdiri diam, wajahnya kaku, tidak bisa berkata apa-apa. Ia terlihat seperti tertangkap basah.
Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Keras. Menusuk keheningan yang mencekam. Siapa yang datang jam segini? Nindya dan Jatmiko saling pandang. Jatmiko tampak semakin panik. ‘Siapa ya?’ gumamnya. Nindya, dengan sisa tenaga yang ia punya, berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu. Di ambang pintu, berdiri seorang wanita. Rambutnya panjang sebahu, mengenakan dress selutut. Wajahnya sedikit pucat, matanya sembab. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak makanan kecil. Ia adalah wanita yang sama persis dengan yang ada di foto di galeri ponsel Jatmiko. Wanita itu menatap Nindya, lalu tatapannya beralih ke belakang Nindya, ke arah Jatmiko yang berdiri mematung di dekat sofa.
Babak 5 — Senja yang Tak Kunjung Usai
Wanita di ambang pintu itu terdiam. Matanya bertemu pandang dengan Nindya, lalu beralih ke Jatmiko. Ada kebingungan, ada rasa bersalah yang terpancar dari sorot matanya. Nindya hanya bisa berdiri, membiarkan pintu terbuka lebar. Jatmiko melangkah maju, wajahnya semakin pucat pasi. ‘Reswari?’ desisnya, suaranya terdengar bergetar. Wanita itu, Reswari, mengangguk pelan. Matanya masih tertuju pada Jatmiko, lalu melirik Nindya yang kini hanya bisa menatap nanar.
‘Mas… kenapa ada dia di sini?’ tanya Nindya, suaranya pelan tapi penuh luka. Reswari menggelengkan kepala. ‘Saya… saya cuma mau mengantar makan malam. Tadi Mas Jatmiko bilang dia tidak sempat makan. Saya khawatir dia sakit.’ Suaranya lembut, tapi kata-katanya seperti cambuk bagi Nindya. Khawatir. Mengantar makan malam. Jatmiko bilang tidak sempat makan. Tapi Nindya sudah menyiapkan makan malam. Dan Jatmiko bilang akan lembur. Semua kebohongan yang terangkai rapi, kini runtuh di depan mata.
Reswari terlihat tidak nyaman. Ia tidak berani menatap Nindya secara langsung. Ia hanya menunduk, memainkan kotak makanan di tangannya. ‘Saya… saya pamit dulu,’ katanya, suaranya pelan, hampir tak terdengar. Ia berbalik, hendak pergi. Namun, langkahnya terhenti ketika Nindya memanggil, ‘Tunggu.’ Nindya menatap Reswari. Ada sedikit rasa iba di balik amarahnya. Wanita ini, terlihat begitu tertekan. Mungkin ia juga korban? Atau ia pelaku utama? Nindya tidak tahu.
‘Kenapa kamu datang ke sini?’ tanya Nindya lagi, kali ini lebih tenang. Reswari menatap lantai. ‘Saya… saya hanya ingin memastikan Mas Jatmiko baik-baik saja.’ ‘Memastikan?’ Nindya mengulang. ‘Setelah semua ini? Setelah kamu dan dia… kamu pikir itu benar?’ Reswari akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca. ‘Saya… saya tidak tahu harus bagaimana. Ini semua terjadi begitu saja.’ Kalimat itu, ‘terjadi begitu saja’, terdengar begitu klise, namun entah mengapa, dari bibir Reswari, terasa begitu menyakitkan.
Jatmiko hanya berdiri diam, seperti patung. Ia tidak membela Nindya, tidak juga membela Reswari. Ia seperti terperangkap dalam dua dunia yang berbeda, tidak bisa memilih satu pun. Nindya menatap suaminya, lalu ke arah Reswari yang kini mulai terisak pelan. Rumah tangga yang ia kira kokoh, kini terasa seperti pasir yang runtuh diterpa ombak. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah ia akan berjuang mempertahankan pernikahannya, atau memilih jalan lain? Reswari masih berdiri di sana, basah kuyup oleh air mata yang tak bisa ia bendung lagi. Dan Jatmiko, suaminya, hanya mampu menatap lantai, seolah kehilangan kata-kata. Keheningan kembali menyelimuti, lebih berat dari sebelumnya.
