Cerita Pengkhianatan: Dompet Suami Bongkar Rahasia Malam Kelam yang Tak Terduga

Cerita Pengkhianatan: Dompet Suami Bongkar Rahasia Malam Kelam yang Tak Terduga

CERITA PENDEK

Cerita Pengkhianatan: Dompet Suami Bongkar Rahasia Malam Kelam yang Tak Terduga

Babak 1 — Sisa Malam yang Bikin Merinding

Nindya menghela napas panjang, aroma kopi hitam yang baru diseduhnya sedikit meredakan debaran di dada. Pagi itu terasa berbeda. Bukan hanya karena sinar matahari yang enggan menembus tirai tebal kamarnya, tapi lebih karena keanehan yang merayap sejak semalam. Suaminya, Pradipta, pulang terlambat lagi. Alasannya selalu sama: lembur mendadak di kantor firma hukum tempatnya bekerja. Namun, kali ini ada yang terasa janggal. Ada tatapan kosong di mata Pradipta saat ia pamit masuk kamar, ada kegelisahan yang terselip di balik senyum lelahnya yang biasa.

Biasanya, sepulang kerja, Pradipta akan langsung mencari Nindya, sekadar bertanya bagaimana harinya, atau mengeluh tentang pekerjaan. Tapi semalam, ia hanya bergumam, ‘Aku capek banget, Sayang,’ lalu menghilang di balik pintu kamar mandi. Nindya tak ambil pusing. Ia sudah terbiasa dengan kesibukan Pradipta, sudah belajar memahami bahwa kadang pekerjaan menyita seluruh waktu dan energi suaminya. Tapi ada bagian kecil dari dirinya yang terusik. Sesuatu yang terasa seperti bisikan halus, mengingatkannya pada detail-detail kecil yang mulai ia abaikan.

Ia bangkit dari kursi dapur, gelas kopi masih utuh di tangannya. Matanya menyapu seisi ruangan, mencari sesuatu yang mungkin luput dari perhatiannya semalam. Tidak ada. Semuanya tertata rapi seperti biasa. Rumah minimalis mereka di kawasan Cinere ini selalu menjadi tempat perlindungannya, saksi bisu awal mula hubungan mereka. Setiap sudutnya menyimpan cerita, setiap perabotan adalah kenangan. Termasuk dompet kulit hitam yang tergeletak begitu saja di meja makan. Dompet Pradipta. Bukankah seharusnya sudah ia masukkan ke saku celananya sebelum tidur?

Nindya mengerutkan kening. Pradipta tipe orang yang sangat rapi soal barang-barangnya. Dompet, kunci, ponsel, selalu berada di tempatnya. Dompet ini tergeletak begitu saja, seolah lupa diambil. Ada rasa tidak nyaman yang mulai menjalar di perutnya. Ia berjalan mendekat, tangannya terulur ragu-ragu. Menyelipkan dompet itu kembali ke saku celana Pradipta yang tergantung di belakang pintu kamar adalah pilihan yang lebih aman. Tapi tangannya berhenti, terpaku pada permukaan kulit dompet yang sedikit menggembung.

Jantungnya berdetak lebih cepat. Ini bukan kebiasaan Nindya. Ia percaya pada suaminya, selalu. Tapi dorongan aneh yang entah datang dari mana membuatnya penasaran. Ia membuka dompet itu, bukan untuk mencari tahu isi rahasianya, melainkan untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Mungkin ada kartu identitas yang terlipat aneh, atau kartu ATM yang tergeser posisinya. Ia hanya ingin memastikan.

Babak 2 — Jejak yang Tak Semestinya Ada

Tangannya sedikit gemetar saat membuka kompartemen kartu. Semua kartu ATM, kartu kredit, kartu nama rekan kerja Pradipta, tertata rapi. Tidak ada yang aneh. Nindya tersenyum pada dirinya sendiri, merasa bodoh karena kecurigaan yang tidak berdasar. Mungkin Pradipta hanya terlalu lelah hingga lupa menaruh dompetnya di tempat biasa. Ia hampir saja menutup kembali dompet itu ketika jemarinya tanpa sengaja menyentuh sebuah lipatan kecil di kompartemen uang tunai. Sebuah struk parkir yang terlipat sangat rapi, berbeda dari cara Pradipta biasa melipat struk kusut.

Struk itu, yang tadinya terlihat seperti sobekan kertas biasa, kini menarik perhatian Nindya. Warnanya sudah sedikit pudar, terlipat presisi menjadi bentuk persegi kecil. Kebiasaan siapa ini? Pradipta? Setahu Nindya, Pradipta tak pernah serapi itu dalam melipat struk. Ia biasanya melemparnya begitu saja ke tempat sampah atau menumpuknya di laci meja kerja.

Dengan napas tertahan, Nindya membuka lipatan struk itu. Tangannya terasa dingin. Matanya memindai tulisan di kertas tipis itu. Bukan struk parkir biasa. Ini adalah struk dari sebuah minimarket di daerah yang cukup jauh dari rumah mereka, sebuah area yang jarang mereka kunjungi. Tanggal dan jamnya adalah kemarin malam, sekitar pukul 10. Pukul 10 malam. Pradipta bilang ia masih di kantor, masih sibuk menyelesaikan berkas.

Ada daftar barang yang tertera di sana. Sebagian besar adalah barang-barang kebutuhan rumah tangga yang biasa dibeli Nindya: susu formula anak mereka, beberapa jenis camilan kesukaan si kecil, pembersih lantai. Namun, di bagian paling bawah, ada dua item yang membuat Nindya berhenti bernapas. Dua kotak kondom. Dan sebuah botol minuman beralkohol jenis tertentu yang tidak pernah Pradipta minum.

Dunia Nindya seolah berhenti berputar. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba meyakinkan diri bahwa ia salah baca. Mungkin ini struk lama? Tapi tanggal dan jamnya begitu jelas tertera. Bukan hanya itu, ada juga nominal transaksi yang cukup besar, jauh melebihi belanjaan kebutuhan bulanan mereka. Perutnya terasa mual. Ia memegang struk itu erat-erat, seolah benda itu adalah bukti dari kebenaran yang paling menyakitkan.

Babak 3 — Ingatan yang Terlupakan dan Jaringan yang Terbuka

Nindya duduk terdiam di kursi dapur, struk itu tergeletak di depannya seperti sebuah tuduhan. Otaknya berputar cepat, mencoba menghubungkan titik-titik yang terasa sangat jauh. Pradipta pulang terlambat. Ia mengatakan lembur. Ia terlihat gelisah. Dan sekarang, struk ini. Minimarket itu, di daerah pinggiran kota yang jarang mereka lewati. Kenapa Pradipta ke sana? Dan untuk apa membeli barang-barang seperti itu?

Ia membuka aplikasi Gojek di ponselnya, tanpa sadar jarinya menari di layar. Ia membuka riwayat pesanannya. Nasi uduk untuk sarapan, es teh jumbo untuk sore hari. Semua aktivitas normal. Kemudian, ia membuka riwayat pesanan mobil. Terakhir kali menggunakan GoCar adalah tiga minggu lalu, saat ia mengantar ibunya ke stasiun kereta. Ia membuka riwayat pesanan Pradipta. Kosong. Pradipta lebih sering memesan Gocar ketika ia merasa tidak enak badan atau ketika harus menghadiri acara penting di luar kota sendirian.

Kemudian pandangannya tertuju pada aplikasi pesan instan yang terpasang di ponselnya. Ia membuka kontak Pradipta. ‘Adi’. Panggilan sayang yang biasa ia gunakan. Ia scroll percakapan mereka. Rencana akhir pekan, keluhan soal anak, percakapan ringan sehari-hari. Tidak ada yang aneh. Ia kembali membuka kontak-kontak lain. Teman-teman kantor Pradipta, beberapa nama wanita yang ia kenal dari acara kantor. Namanya tersimpan sebagai ‘Nindy Ibu Gala’. Gala adalah nama putra mereka yang berusia lima tahun.

Tiba-tiba, matanya tertuju pada satu nama kontak yang tersimpan aneh: ‘RS’. Hanya inisial. Pradipta tak pernah menyebutkan ada rekan kerja bernama ‘RS’. Nindya bertanya sekali tentang ini beberapa bulan lalu, namun Pradipta hanya menjawab singkat, ‘Oh, itu teman lama.’ Jawaban yang singkat, tapi dulu Nindya menerimanya begitu saja.

Dengan tangan bergetar, Nindya membuka percakapan dengan kontak ‘RS’. Terakhir kali mereka bertukar pesan adalah seminggu yang lalu. Isinya hanya permintaan maaf dari Pradipta tentang keterlambatannya menghadiri rapat daring. Tapi kemudian, ia scroll lebih ke atas. Ada percakapan dari dua bulan lalu. Tanggalnya persis saat Nindya sedang menjalani perawatan pasca operasi usus buntu. Pradipta berdalih harus menjaga Nindya di rumah sakit, namun di percakapan itu, Pradipta dan ‘RS’ merencanakan pertemuan.

‘Bertemu jam 9 ya, RS. Di tempat biasa. Jangan sampai telat lagi.’ tulis Pradipta. Dan balasan dari ‘RS’ adalah, ‘Siap, Sayang. Pastikan kamu sudah bersiap.’ Nindya merasa seperti ditimpa batu. ‘Tempat biasa’? ‘Bersiap’? Jantungnya berdegup kencang. Ia teringat minimarket itu. Lokasinya memang tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempat Nindya dirawat dulu. Tapi, apakah ‘RS’ itu ada hubungannya dengan struk yang ada di tangannya?

Ia mencoba mencari ‘RS’ di media sosial, namun tidak menemukan nama atau foto profil yang mencurigakan. Semua akunnya terkunci atau tidak aktif. Kepanikan mulai melandanya. Ia mulai membuka galeri foto di ponsel Pradipta, mencari sesuatu yang bisa membantunya. Di antara foto-foto Gala dan foto-foto kantor, ia menemukan sebuah folder tersembunyi. Nama foldernya hanya satu huruf: ‘K’. Jantungnya berdebar semakin kencang.

Babak 4 — Pengakuan yang Terucap dan Hati yang Retak

Nindya membuka folder ‘K’ itu. Isi folder itu membuat tangannya terkulai lemas. Foto-foto Pradipta bersama seorang wanita. Bukan foto candid atau foto bersama teman-teman kantor. Ini foto mesra. Mereka berpelukan di dalam mobil, berciuman di depan sebuah gedung apartemen yang Nindya tidak kenali, dan beberapa foto candid di sebuah kafe yang pencahayaannya redup, wanita itu menyandarkan kepala di bahu Pradipta dengan senyum lebar. Di salah satu foto, wanita itu mengenakan dress bunga-bunga yang sama dengan yang Nindya kenakan kemarin saat makan malam keluarga.

Wanita di foto itu. Nindya mencoba mengingat-ingat. Apakah ia pernah melihatnya? Di mana? Tiba-tiba, sebuah ingatan samar muncul. Beberapa minggu lalu, saat ia menghadiri acara arisan ibu-ibu di komplek perumahan mereka, ada seorang wanita baru yang datang bersama istrinya salah satu tetangga. Namanya… namanya….

‘Rengga,’ Nindya menggumamkan nama itu, ‘Rengga Safitri.’ Terdengar familiar. Dan wanita di foto itu memang memiliki paras yang mirip dengan Rengga. Rambut hitam panjang tergerai, mata sedikit sipit khas orang Indonesia, dan senyum yang… membuat dada Nindya terasa sesak.

Ia membuka kembali percakapan dengan kontak ‘RS’. Nama kontak itu kini terasa begitu ironis. ‘RS’. Rengga Safitri? Ia scroll lagi ke atas, mencari bukti lebih kuat. Di bagian paling bawah percakapan, ada sebuah foto yang terkirim. Foto secangkir kopi latte dengan tulisan ‘Good morning, Sayang!’ di atasnya. Foto yang sangat mirip dengan kopi yang biasa ia pesan di kafe dekat apartemen Rengga, kafe yang sering ia lewati sepulang kerja.

Tiba-tiba, terdengar suara pintu depan terbuka. Pradipta pulang. Nindya tidak bersembunyi. Ia duduk tegak di kursi dapur, struk dan beberapa foto dari folder ‘K’ tergeletak di atas meja. Wajahnya pucat pasi, namun matanya menatap lurus ke arah pintu. Ia ingin melihat bagaimana Pradipta akan bereaksi.

Pradipta melangkah masuk, senyumnya langsung memudar melihat Nindya duduk tegak di meja makan dengan ekspresi dingin. Ia melihat struk itu, lalu matanya terarah pada foto-foto yang berserakan. Wajahnya berubah pucat. Ia tampak kaget, namun tidak sepenuhnya heran. Ada sedikit… penyesalan?

“Nindya…” suara Pradipta tercekat. Ia berjalan perlahan mendekati meja makan, matanya tidak berani menatap Nindya. Ia tahu ia tertangkap. “Kamu… kamu melihatnya?”

Nindya hanya mengangguk pelan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Kenapa, Adi? Kenapa kamu melakukan ini?” suaranya bergetar hebat. Ia tidak menangis sejadi-jadinya, hanya menahan tangis agar suaranya tetap terkontrol.

Pradipta mengusap wajahnya kasar. “Aku… aku minta maaf, Nindya. Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku sangat menyesal.” Ia menjatuhkan diri di kursi yang berhadapan dengan Nindya. “Ini… ini bukan yang kamu pikirkan sepenuhnya.”

“Bukan yang kamu pikirkan sepenuhnya?” ulang Nindya, suaranya kini terdengar lebih tajam. “Jadi, kamu mengakui? Siapa Rengga itu? Dan kenapa ada di dompetmu, di ponselmu?”

Pradipta menunduk, menatap ujung sepatunya. “Rengga… dia hanya… teman. Teman kerja lama. Kami bertemu lagi beberapa bulan lalu. Dan soal struk itu… itu hanya… kesalahan.” Ia terlihat seperti orang yang terpojok, namun juga seperti orang yang ingin mencari jalan keluar dari situasi ini. Ia tidak menyalahkan Nindya, tidak berteriak, hanya terlihat putus asa.

Babak 5 — Bayangan di Cermin dan Pertanyaan Tanpa Jawaban

Nindya menatap suaminya yang tertunduk lesu. Kata-katanya seperti racun yang perlahan merusak segalanya yang pernah ia percayai. Teman kerja lama? Kesalahan? Dinding rumah mereka yang dulu terasa kokoh, kini retak di beberapa bagian, tak bisa lagi menampung beban kebohongan yang terungkap.

“Kesalahan?” suara Nindya sedikit meninggi. Ia tidak bisa menahan tangisnya lagi. Air mata mengalir deras, membasahi pipinya. “Kesalahan itu membeli kondom dan alkohol? Kesalahan itu berfoto mesra dengan wanita lain saat aku sedang sakit? Kesalahan itu merencanakan pertemuan saat anak kita butuh ayahnya?”

Pradipta mendongak, matanya merah. “Nindya, dengarkan aku…”

“Tidak!” potong Nindya, suaranya serak. Ia berdiri dari kursinya, meraih tumpukan foto dan struk itu. “Aku tidak mau mendengar apa pun lagi. Aku butuh waktu untuk berpikir.” Ia bergegas menuju kamar mereka, meninggalkan Pradipta sendirian di meja makan yang penuh dengan bukti pengkhianatan.

Di dalam kamar, Nindya menutup pintu rapat-rapat. Ia bersandar di pintu, membiarkan tubuhnya merosot ke lantai. Ia menatap sekeliling kamarnya. Foto pernikahan mereka terpajang rapi di nakas. Senyum mereka di foto itu terasa begitu asing sekarang. Nindya mengambil foto itu, memandangi wajah Pradipta yang tampan, wajahnya yang penuh janji. Janji yang kini terasa seperti debu yang tertiup angin.

Ia bangkit dan berjalan menuju cermin besar di lemari pakaian. Ia menatap pantulan dirinya. Wajahnya sembab, matanya merah. Ia melihat seorang wanita yang hancur. Tapi di balik kesedihan itu, ia melihat sesuatu yang lain. Sebuah kekuatan yang baru tumbuh. Kelelahan yang mendalam, tapi juga ketegasan yang muncul perlahan. Ia menatap dalam bayangan dirinya di cermin, mencoba mencari jawaban. Apakah ini akhir dari segalanya? Ataukah, ini awal dari sesuatu yang baru?

Ia mengambil ponselnya, membuka kembali percakapan dengan kontak ‘RS’. Ia mengetik pesan baru. Bukan pesan kemarahan, bukan pesan tuduhan. Hanya sebuah pertanyaan sederhana yang menggantung di udara, tak terkirim. ‘Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan suamiku?’ Ia menghapus pesan itu. Lalu mengetik pesan lain, ke nomor yang tidak terdaftar. Sebuah nomor baru yang ia dapatkan dari salah satu foto di folder ‘K’, tertulis di belakang kartu nama wanita itu, yang entah bagaimana bisa terselip di tas Pradipta.

‘Saya Nindya. Istri Pradipta.’ Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan. ‘Bisakah kita bertemu? Saya perlu tahu segalanya.’ Ia mengirimkan pesan itu, tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dunia yang ia kenal telah runtuh, dan di reruntuhannya, Nindya harus membangun kembali hidupnya, satu per satu, mencari kebenaran yang tersembunyi di balik semua kebohongan.