Cerpen: Suaminya Bilang Lembur, Tapi Kuitansi Kopi Ini Bongkar Segalanya

Cerpen: Suaminya Bilang Lembur, Tapi Kuitansi Kopi Ini Bongkar Segalanya

CERITA PENDEK

Cerpen: Suaminya Bilang Lembur, Tapi Kuitansi Kopi Ini Bongkar Segalanya

Babak 1 — Aroma Kopi yang Berubah

Nindya menyeduh kopi tubruk kesukaannya, aroma pekatnya memenuhi dapur mungil mereka di kompleks perumahan Rempoa. Pagi ini terasa sedikit berbeda. Biasanya, sebelum jam tujuh, Pradipta sudah berangkat kerja, meninggalkan aroma parfum maskulinnya yang khas. Namun, hari ini, jam di dinding menunjukkan pukul 07:30, dan suaminya masih berada di kamar. Nindya tidak mempermasalahkannya. Mungkin Pradipta begadang menyelesaikan pekerjaan, pikirnya sambil mengaduk gula di cangkirnya. Ia hanya berharap suaminya tidak lupa sarapan, walau ia tahu Pradipta seringkali melewatkannya jika sedang dikejar deadline.

“Mas, sarapan dulu,” panggil Nindya, suaranya sedikit teredam pintu kamar yang sedikit terbuka. Tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara napas yang agak berat dari dalam. Nindya menghela napas pelan. “Mas, aku keluar sebentar ya. Mau ke minimarket depan, beli pembalut. Nanti aku nitip sarapan buat Mas kalau ada yang enak di sana.” Ia mencoba lagi, kali ini lebih tegas. Pintu kamar Pradipta akhirnya terbuka perlahan. Wajah suaminya tampak sedikit pucat, matanya terlihat lelah, dan rambutnya sedikit berantakan. Pakaian yang dikenakannya pun bukan seragam kantor. “Oh, iya, Mbak. Nggak apa-apa. Aku juga mau siap-siap keluar,” jawab Pradipta dengan suara serak.

Nindya sedikit mengerutkan kening, tapi tidak berkomentar lebih jauh. Ia hanya mengangguk, meraih tas selempang kecilnya, dan melangkah keluar dari rumah. Udara pagi masih terasa sejuk di Rempoa, dihiasi suara kokok ayam dari tetangga dan deru motor yang mulai ramai. Ia berjalan santai menuju minimarket Indomaret yang hanya berjarak dua blok. Perjalanan singkat yang selalu menenangkannya, memberinya waktu untuk menata pikiran sebelum hari yang padat dimulai. Ia membeli pembalut, sebotol air mineral, dan kemudian matanya tertuju pada rak minuman dingin. Sebuah ide melintas di benaknya. Pradipta sering mengeluh lelah. Mungkin kopi kalengan yang dingin bisa sedikit membantu.

Ia mengambil dua kaleng kopi susu kesukaan Pradipta, lalu menuju kasir. Sambil menunggu antrean, matanya tak sengaja menangkap sebuah kuitansi yang tergeletak di meja dekat mesin kasir. Mungkin terjatuh dari pelanggan sebelumnya. Nindya cenderung tidak pedulian pada barang orang lain, tapi ada sesuatu yang membuatnya tertarik untuk mengambilnya. Mungkin rasa ingin tahu yang spontan, atau sekadar kebosanan. Kuitansi itu terlipat rapi. Ia membukanya tanpa niat khusus.

Babak 2 — Sisa Kertas yang Menjerit

Napas Nindya tertahan saat matanya memindai deretan tulisan di kuitansi yang sedikit kusut itu. Tangannya yang memegang kaleng kopi mulai sedikit gemetar. Ini bukan kuitansi belanjaan biasa. Tanggalnya memang hari ini, bahkan jamnya hanya selisih beberapa menit dari waktu Nindya berada di dalam minimarket yang sama. Namun, item yang tertera di sana sungguh tidak masuk akal. Kopi susu dua kaleng, seperti yang baru saja ia ambil. Tapi ada juga ‘Roti Sobek Keju’ dan yang paling mengganjal, tertera jelas ‘Kopi Latte Panas – 1x’ beserta harganya.

Pradipta tidak pernah memesan kopi latte panas. Ia anti kopi panas, selalu memilih yang dingin atau kopi tubruk hitam tanpa gula. Terlebih lagi, mereka belum pernah berkunjung ke minimarket ini untuk sarapan atau membeli roti sobek. Biasanya, mereka punya rutinitas sarapan sendiri di rumah, atau jika di luar, Pradipta akan memilih warung nasi uduk langganannya. Nindya melirik ke arah kasir, seorang pemuda berwajah datar yang sedang sibuk melayani pelanggan lain. Ia yakin itu minimarket yang sama. Jantungnya mulai berdegup lebih kencang. Ini pasti salah cetak, pikirnya berusaha menenangkan diri.

Ia memasukkan kuitansi itu ke dalam saku celananya, bersama dengan pembalut dan air mineral. Kaleng kopi yang ia pegang terasa dingin dan berat. Nindya membayar belanjaannya, berusaha menjaga ekspresi wajahnya tetap normal. Namun, di dalam hati, sebuah alarm mulai berbunyi nyaring. Perasaan tidak nyaman merayap perlahan. Ia keluar dari minimarket, bukan dengan langkah santai seperti tadi, tapi dengan terburu-buru. Kopi di tangannya kini terasa seperti beban. Ia berjalan kembali ke rumah, memutar ulang detail kuitansi itu di kepalanya.

Roti sobek keju. Pradipta tidak suka roti manis. Dan kopi latte panas? Itu adalah minuman yang sering ia lihat dipesan oleh wanita-wanita muda yang duduk manis di kafe-kafe kota. Nindya menarik napas dalam, mencoba mengusir bayangan-bayangan yang mulai terbentuk di benaknya. Mungkin ada pelanggan lain dengan nama yang sama? Atau mungkin ini hanya kesalahan sistem? Ia mencoba mencari rasionalitas, mencari penjelasan yang tidak melibatkan dugaan terburuk. Namun, kuitansi di sakunya terasa semakin panas, seperti bara api yang membakar dari dalam.

Babak 3 — Kilas Balik yang Menyakitkan

Setibanya di rumah, Nindya langsung menuju kamar. Pradipta masih di sana, kini duduk di tepi ranjang, mengenakan jaket. Ia tampak sedang memegang ponselnya, jari-jarinya mengetuk layar dengan cepat. “Sudah beli, Mbak?” tanyanya tanpa mengangkat kepala. Nindya hanya mengangguk. Ia meletakkan belanjaannya di meja rias, lalu mengeluarkan kaleng kopi. “Ini, Mas. Buat kamu.” Pradipta menoleh, mengambil satu kaleng dengan senyum tipis. “Makasih, ya. Maaf kalau tadi aku nggak bangun.” Nindya hanya tersenyum tipis, senyum yang terasa kaku. Ia lalu melangkah ke kamar mandi, bermaksud membersihkan diri. Namun, pikiran tentang kuitansi itu terus menghantuinya.

Ia mengeluarkan kuitansi itu lagi, membukanya di depan cermin. Ia membandingkan tulisan di kuitansi dengan tulisan tangan Pradipta di daftar belanjaan yang biasa ia tinggalkan di meja dapur. Pola tulisan tangannya sama, meski sedikit terburu-buru. Tapi ‘Kopi Latte Panas’ dan ‘Roti Sobek Keju’… itu jelas bukan pesanan Pradipta. Nindya teringat percakapan mereka beberapa minggu lalu. Pradipta tiba-tiba berkata ingin ikut seminar bisnis di daerah Senayan. “Tapi kok nggak bilang dari jauh-jauh hari, Mas? Biasanya kan kamu selalu kasih tahu kalau ada acara begitu,” tanya Nindya waktu itu. Pradipta hanya menjawab, “Ini mendadak, Mbak. Ada info dari rekan kerja.”

Nindya ingat ekspresi Pradipta saat itu. Ada sedikit kegelisahan di matanya, yang tidak biasa. Ia juga ingat pernah melihat Pradipta beberapa kali membalas pesan dengan cepat saat ia sedang berada di dekatnya, lalu buru-buru menutup layar ponselnya. Dulu ia menganggap itu hal biasa, bagian dari kesibukan kantor. Namun, kini, setelah melihat kuitansi ini, semua potongan puzzle mulai terasa cocok dengan cara yang mengerikan. Ia membuka aplikasi Gojek di ponselnya. Ia tidak pernah memesan makanan atau minuman via aplikasi, tapi Pradipta sering. Ia melihat riwayat pesanannya.

Ada pesanan kopi dari kafe langganan Pradipta di dekat kantor, bernama ‘Kopi Senja’. Tanggalnya cocok dengan hari Pradipta bilang ada seminar. Dan di daftar pesanannya, tertera jelas: 1x Kopi Latte Panas, 1x Roti Sobek Keju Coklat. Jantung Nindya serasa berhenti berdetak. Ia kemudian membuka percakapan WhatsApp dengan Pradipta. Ia scroll ke bawah, mencari nama seseorang. ‘Ayu’. Nama itu muncul beberapa kali dalam percakapan yang lebih lama, tapi belakangan ini hanya sesekali. Ada pesan singkat dari Pradipta: “Ayu, nanti aku jemput jam 7 ya. Di kafe biasa. Jangan lupa bawa catatannya.” Tanggalnya? Sama dengan kuitansi di tangannya.

Babak 4 — Tatapan yang Membekukan

Nindya merasa mual. Ia segera mematikan ponselnya, lalu membuka lemari pakaian Pradipta. Ia tidak berniat menggeledah, hanya mencari sesuatu yang mungkin terlewat. Di saku jaket yang dikenakan Pradipta tadi pagi, ia menemukan sesuatu. Bukan hanya kuitansi lain yang identik, tapi juga sebuah kartu nama. Tertulis nama ‘Ayu Wulandari’, dengan jabatan ‘Manajer Pemasaran’ dan nomor telepon kantornya. Di bagian bawah kartu nama, tertera logo sebuah perusahaan event organizer di bilangan Sudirman.

Ia keluar dari kamar, menatap Pradipta yang sedang menyesap kopi kalengannya, sama sekali tidak menyadari badai yang sedang melanda dunia Nindya. “Mas,” panggil Nindya, suaranya datar, tanpa emosi yang jelas. Pradipta menoleh, senyum kecilnya sedikit memudar melihat ekspresi istrinya. “Ya, Mbak?” Nindya berjalan mendekat, tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Ia berhenti tepat di depan suaminya. Ia tidak berteriak, tidak menangis. Ia hanya menatap lurus ke mata Pradipta. Tatapan itu dingin, menusuk, dan penuh tanya yang tidak perlu diucapkan.

“Siapa Ayu, Mas?” tanya Nindya, suaranya tenang namun menggetarkan. Pradipta tampak terkejut. Matanya melebar sesaat, lalu ia berusaha mengendalikan ekspresinya. Ia menunduk, menghindari tatapan Nindya. “Ayu itu… rekan kerja baru. Dari event organizer yang bantu acara kantor kemarin,” jawabnya terbata-bata. Nindya tersenyum sinis, senyum yang belum pernah ia tunjukkan pada Pradipta sebelumnya. Ia mengeluarkan kuitansi dari sakunya dan kartu nama dari jaket Pradipta. Ia meletakkannya di meja ruang tamu, tepat di depan Pradipta. “Rekan kerja? Yang sering dibelikan kopi latte panas dan roti sobek keju?”

Wajah Pradipta memucat. Ia menelan ludah, tampak sangat tidak nyaman. Ia mencoba meraih kuitansi itu, namun Nindya menariknya lebih dulu. “Jawab aku, Mas! Siapa Ayu sebenarnya?” Suara Nindya sedikit meninggi, namun masih terkendali. Pradipta menggeleng pelan, ia tidak mampu menatap mata istrinya. Ia duduk terdiam, seperti orang yang tertangkap basah dan tidak punya lagi alasan untuk berkelit. Keheningan di antara mereka terasa menyesakkan, lebih berat dari badai sekalipun. Di luar, suara klakson mobil terdengar sayup-sayup, suara kehidupan normal yang terasa begitu jauh dari realitas pahit yang sedang mereka hadapi.

Babak 5 — Pintu yang Terbuka Diam-diam

Nindya menatap Pradipta yang masih tertunduk, memegangi kepalanya. Ia melihat kartu nama dan kuitansi itu tergeletak di meja. Kopi kalengan yang diminum Pradipta kini terasa seperti racun di lidahnya. Ia tidak menangis, tidak berteriak lagi. Ia merasa kosong, seperti ada bagian dari dirinya yang telah hancur lebur menjadi debu halus. “Jadi… selama ini…” Suaranya parau, pertanyaan itu menggantung di udara, tidak terucap sepenuhnya. Pradipta akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya memerah, namun ia tidak mengeluarkan air mata. Ia hanya menatap Nindya dengan pandangan putus asa.

“Mbak… aku bisa jelasin…” bisiknya, suaranya serak. Nindya hanya menggeleng pelan. Penjelasan apa lagi yang ia butuhkan? Kuitansi itu, pesan di aplikasi, kartu nama. Semua sudah begitu gamblang. Ia berbalik, melangkah menuju pintu utama. Ia membuka kunci pintu itu, meraih tasnya yang tergeletak di kursi. “Aku mau keluar sebentar.” Pradipta bangkit, mencoba menahannya. “Mbak, jangan pergi… kita bicara baik-baik…” Nindya menepis tangan suaminya dengan lembut, namun tegas. “Nanti, Mas. Aku perlu udara.”

Ia melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya dengan sangat pelan, nyaris tanpa suara. Ia berjalan tanpa tujuan di trotoar Rempoa yang ramai, dikelilingi suara kehidupan kota yang tak peduli dengan kehancuran pribadinya. Ia tidak tahu harus ke mana, harus melakukan apa. Pikiran-pikiran berkecamuk. Perkawinan mereka yang sudah berjalan lima tahun, cinta yang ia kira begitu kuat, kini terasa rapuh seperti kaca. Ia berhenti di depan sebuah kedai es teh jumbo, memesan minuman tanpa sadar. Ia duduk di bangku taman kecil di seberang jalan, memandang lalu lintas yang padat.

Di tengah keramaian, Nindya mengeluarkan kembali kuitansi dan kartu nama itu. Ia memandangnya sejenak, lalu ia melipatnya dengan rapi, memasukkannya kembali ke dalam saku. Ia tidak membuangnya. Bukan karena ia ingin menyimpan bukti pengkhianatan, tapi karena ia merasa ini adalah awal dari sesuatu yang baru. Ia tidak tahu apa itu, tapi ia tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah kuitansi kopi yang polos itu membongkar segalanya. Ia menyesap es tehnya, merasakan dinginnya menjalar di tenggorokannya, sementara hatinya terasa semakin membeku.