Suaminya Bilang Lembur, Tapi Ini yang Ia Temukan Bikin Semua Runtuh

Suaminya Bilang Lembur, Tapi Ini yang Ia Temukan Bikin Semua Runtuh

CERITA PENDEK

Suaminya Bilang Lembur, Tapi Ini yang Ia Temukan Bikin Semua Runtuh

Babak 1 — Alibi Sang Suami

Mas Satrio selalu bilang ia lebih suka pulang sore. Alasannya? ‘Biarpun nambah kerjaan dikit, tapi Jakarta macetnya minta ampun, Ndy. Mending pulang cepet, di rumah kan ada kamu,’ katanya sambil mencium keningku. Kalimat itu selalu terucap dengan nada yang sama, nyaris tanpa cela, setiap kali ia bersiap berangkat kerja. Aku, Gendis Reswari, selalu menanggapinya dengan senyum dan sejumput rasa bangga. Suami yang setia, yang memprioritaskan keluarga di atas pekerjaan. Sebuah fantasi indah yang kupegang teguh selama lima tahun pernikahan kami.

Pagi itu, ia berpamitan seperti biasa. Wajahnya sedikit berbeda. Ada kerutan tipis di sudut matanya yang tidak pernah kukenal. Entah karena kurang tidur atau memang ada yang mengganggunya. Tapi aku tak berani bertanya. Cacat kecilku adalah aku terlalu takut menciptakan konflik. Sekecil apa pun itu. Lebih baik diam, membiarkan badai berlalu sendiri. Satrio mengecup puncak kepalaku, aroma kopi dan *maskulin cologne*-nya menyeruak di hidungku. ‘Ada rapat penting sampai malam, Sayang. Nanti aku kabari kalau sudah mau jalan pulang.’ Kalimat itu, kalimat yang sama persis, namun entah mengapa terasa berbeda di telingaku pagi ini.

Aku mengantarnya sampai pintu. Melihat punggungnya yang tegap menjauh dari pandangan, aku kembali masuk ke dalam rumah. Suara pintu depan tertutup perlahan terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur. Tak ada firasat buruk yang jelas, hanya rasa gelisah yang tipis, seperti debu yang menempel di permukaan barang-barang di rumah ini. Semalam kami bahkan tidak bertengkar. Obrolan kami hanya seputar siapa yang akan mengambil cucian bersih dan apakah stok mie instan masih ada.

Rutinitas pagiku berlanjut. Menyiapkan sarapan untuk diri sendiri—ia selalu sarapan di kantor—lalu membersihkan dapur. Mengecek notifikasi di ponselku, membalas pesan grup arisan RT. Suara notifikasi Tokopedia terdengar nyaring. Aku teringat aku harus memesan sabun cuci piring yang sudah habis. Setelah itu, aku menyalakan laptop untuk mulai bekerja. Aku seorang desainer grafis lepas, jadi jam kerjaku fleksibel. Ini yang kusukai dari pekerjaan ini. Bisa menemani Satrio kapan pun ia butuh.

Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Satrio belum mengirim pesan apa pun. Biasa saja, rapat pasti padat. Tapi kali ini, gelisah itu kembali merayap. Ia bilang akan mengabari kalau mau pulang. Ini baru pagi. Mungkin ia benar-benar sibuk. Aku mencoba mengalihkan perhatian dengan membuka kembali aplikasi designku. Tapi jemariku terus saja bergerak ke arah ponsel. Aku tahu ini konyol. Ia tidak pernah tidak menepati janji.

Namun, entah mengapa, aku merasa ada yang berbeda hari ini. Ada kejanggalan yang tak bisa kujelaskan. Seperti melodi yang fals di tengah lagu yang indah. Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Mungkin aku hanya terlalu banyak menonton drama di Netflix semalam. Yap, itu pasti. Aku menatap layar laptop, mencoba fokus pada *template* brosur yang harus kuselesaikan. Tapi bayangan wajah Satrio, kerutan di sudut matanya, terus saja mengganggu.


Babak 2 — Bukti yang Tak Terduga

Siang berganti sore. Perutku mulai keroncongan, tapi aku tak selera makan. Pesan dari Satrio tak kunjung datang. Jam enam sore, ketika langit mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, aku memutuskan untuk memesan makanan. Nasi uduk dari warung langganan kami, yang biasa kami santap bersama jika Satrio pulang cepat. Kali ini, aku memesannya lewat GoFood, tak ingin repot memasak untuk diri sendiri.

Saat menunggu kurir datang, aku memutuskan untuk membereskan sedikit kekacauan di meja kerja Satrio. Ia selalu punya kebiasaan menumpuk kertas-kertas penting—atau yang ia anggap penting—di sana. Kadang terselip bon parkir atau struk belanjaan yang lupa ia buang. Sambil memilah, tanganku tak sengaja menyentuh sebuah amplop coklat yang sedikit menonjol di bawah tumpukan kertas. Amplop itu terlihat berbeda dari surat-surat lain yang biasa datang.

Aku menariknya keluar. Amplop itu tidak tertulis nama siapa pun, hanya sebuah alamat kantor Satrio. Tapi yang membuatku mengerutkan dahi adalah cara amplop itu tertutup. Terlihat direkatkan dengan selotip bening, bukan dilem yang biasanya ada di bagian belakang amplop. Dan yang lebih aneh, di salah satu sudut amplop, ada bekas lipatan kecil yang seolah sengaja dibuat. Seperti penanda.

Jantungku mulai berdegup lebih kencang. Bukan karena takut, tapi lebih ke arah rasa ingin tahu yang bercampur sedikit kecemasan. Tanganku gemetar saat mencoba membuka selotip itu. Aku biasanya takkan pernah melakukan ini, tapi ada dorongan kuat yang membuatku tak bisa berhenti. Saat selotip itu terlepas, aku menarik napas panjang. Di dalam amplop itu, bukan surat, melainkan sebuah kartu. Bukan kartu ATM, bukan kartu nama. Sebuah kartu identitas. Kartu tanda pengenal karyawan sebuah hotel bintang lima di pusat kota.

Namanya tertera jelas di sana: ‘Riana Putri’. Foto wanita itu terpasang di pojok kanan. Cantik. Rambutnya hitam panjang tergerai, matanya tajam menatap lurus ke kamera. Di bagian bawah kartu tertulis jabatannya: ‘Manager Event Organizer’. Aku menatap kartu itu, lalu menatap kursi kerja Satrio yang kosong. Tanganku terasa dingin. Aku memejat pelipisku. Ini pasti hanya kesalahan. Mungkin Satrio menemukan kartu ini dan menyimpannya untuk diserahkan ke bagian Lost & Found kantornya.

Tapi, mengapa diselipkan di amplop seperti ini? Dan amplop itu… seolah-olah sengaja disembunyikan. Aku membuka laci meja Satrio, mencari-cari sesuatu yang bisa menjelaskan. Mataku tertuju pada sebuah buku agenda kecil berwarna hitam. Aku ingat Satrio selalu membawanya ke mana pun. Aku membukanya. Halaman demi halaman berlalu. Jadwal harian, nomor telepon penting, catatan-catatan kecil. Sampai aku sampai pada tanggal hari ini. Di bawah kolom pukul tujuh malam, tertulis sebuah nama dengan tinta biru yang berbeda:

‘Riana – Dinner & Review’.

Nasi uduk pesananku tiba, namun aku tak bergeming. Aroma gurihnya tak mampu mengalihkan perhatianku dari kartu identitas di tanganku.


Babak 3 — Ingatan yang Menyayat

Aku duduk di sofa ruang tamu, lampu kamar hotel yang tergeletak di meja kopi menyala redup. Kartu Riana Putri masih kugenggam erat, ujung jariku terasa dingin. Tadi aku berbohong pada diriku sendiri. Ini bukan kesalahan. Ini bukan kartu yang ditemukan Satrio. Ada sesuatu yang jelas-jelas disembunyikan dariku. ‘Dinner & Review’, sebuah kode yang terkesan biasa, namun konteks penemuannya sungguh mencurigakan. Amplop yang direkatkan selotip, lekukan di sudutnya, seolah-olah ada cerita di balik semua itu.

Aku ingat percakapan kami beberapa minggu lalu. Satrio pulang telat dengan alasan lembur. Aku tidak curiga sama sekali. Kami bahkan memesan martabak manis untuk makan malam. Ia terlihat lelah, tapi tetap tersenyum dan memelukku sebelum tidur. ‘Maaf ya, Sayang, hari ini banyak kerjaan,’ katanya. Aku hanya mengangguk dan membalas pelukannya. ‘Nggak apa-apa, yang penting kamu baik-baik saja.’ Sungguh ironis. Di balik senyum dan pelukan itu, ia mungkin sudah merencanakan ‘dinner & review’ dengan Riana.

Pikiranku berputar tak karuan. Aku mulai mengungkit kembali setiap momen, setiap kejanggalan kecil yang pernah terlewat. Saat Satrio pernah lupa memakai cincin kawinnya karena terburu-buru? Aku pikir itu kelelahan. Saat ia pernah menolak ajakanku nonton film bareng karena tiba-tiba ada urusan mendadak? Aku bilang tidak apa-apa, aku bisa menontonnya sendiri. Dulu, aku membanggakan dirinya sebagai pria yang pekerja keras. Sekarang, kata ‘pekerja keras’ itu terasa seperti tameng untuk menutupi sebuah kebohongan yang lebih besar.

Aku membuka aplikasi galeri di ponselku. Jemariku mencari-cari foto kami berdua. Ada foto saat kami pertama kali pindah ke apartemen ini, berdua tersenyum di depan TV baru. Ada foto saat liburan di Bali, tertawa lepas di tepi pantai. Foto-foto itu kini terasa seperti pisau yang mengiris hati. Aku membandingkannya dengan ekspresi Satrio pagi tadi. Ada sesuatu yang hilang. Kejujuran? Kehangatan? Aku tidak tahu. Tapi yang pasti, senyumannya pagi ini terasa hampa.

Aku perlu memastikan. Aku membuka browser, mengetikkan nama hotel yang tertera di kartu identitas itu. Matahari sudah hampir terbenam, tapi aku tak peduli. Aku scroll ke bagian ‘Kontak’ dan mencari nomor telepon resepsionis. Tanganku gemetar saat menekan tombol *dial*. Aku menarik napas dalam-dalam. ‘Halo, selamat malam. Saya Gendis Reswari, istri dari Bapak Satrio. Apakah Bapak Satrio ada di hotel Anda malam ini?’ suaraku bergetar.

Hening sejenak di ujung sana. Lalu terdengar suara wanita menjawab, nadanya datar dan profesional. ‘Mohon maaf, Ibu. Kami tidak bisa memberikan informasi mengenai tamu kami tanpa izin yang bersangkutan.’

Aku menutup telepon. Rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhku. Jawaban itu sudah cukup. Bukan konfirmasi langsung, tapi cukup untuk membuat imajinasiku berlari liar. Aku menatap amplop coklat di meja. Ada rasa penyesalan merayap. Mengapa aku harus membukanya? Seandainya aku tidak menemukan amplop itu, mungkin aku masih hidup dalam kebahagiaan semu.


Babak 4 — Tatapan Dingin di Lobi

Aku memutuskan untuk pergi ke sana. Ke hotel itu. Aku tak tahu apa yang akan kulakukan, tapi aku tak bisa diam saja. Aku menyambar jaket dan kunci mobil. Memanggil GoCar bukan pilihan. Aku ingin mengendarai mobilku sendiri, agar jika ada apa-apa, aku bisa langsung pergi. Perjalanan ke pusat kota terasa begitu panjang, setiap lampu merah seperti siksaan. Aku terus memutar otak, mencoba mencari penjelasan lain. Mungkin saja aku salah menafsirkan. Mungkin Satrio memang ada urusan di sana, bukan dengannya.

Sesampainya di lobi hotel, suasana mewah dan gemerlap terasa begitu asing. Lampu kristal menjuntai di langit-langit, suara dentingan gelas dan tawa samar terdengar dari bar di sudut ruangan. Aku berjalan ke arah resepsionis, mencoba menahan rasa gugup yang luar biasa. ‘Saya Gendis Reswari. Suami saya, Satrio, seharusnya ada di sini untuk sebuah acara. Apakah Anda bisa memberitahu saya di ruangan mana?’ Aku berusaha keras menjaga suaraku agar tidak bergetar.

Resepsionis wanita yang sama dari telepon tadi menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa kasihan, atau mungkin rasa bersalah? Ia membuka komputer dan mengetik sesuatu. ‘Mohon tunggu sebentar, Ibu.’ Ia lalu menoleh padaku. ‘Bapak Satrio terdaftar dalam sebuah acara di ruang Emerald. Lantai dua.’

Ruang Emerald. Aku menuju lift, jemariku menekan tombol lantai dua. Pintu lift terbuka perlahan, memperlihatkan sebuah ruangan yang cukup besar. Beberapa meja bundar tertata rapi, dengan taplak meja putih bersih. Di salah satu sudut, ada panggung kecil. Beberapa orang duduk mengobrol, tampak seperti rekan kerja atau klien. Aku menyusuri dinding, mataku mencari-cari wajah Satrio. Aku melihatnya.

Dia duduk di salah satu meja, bukan sendiri. Duduk di sebelahnya adalah wanita dari kartu identitas itu. Riana Putri. Mereka tertawa. Satrio membungkuk sedikit, seolah sedang berbisik di telinga Riana. Tanganku terkepal. Aku merasa mual. Aku melangkah mendekat, menarik kursi di meja yang sama, agak berjauhan dari mereka.

Satrio menoleh, pandangannya bertemu denganku. Senyum yang tadinya lebar di wajahnya langsung menghilang. Matanya membelalak, penuh keterkejutan yang tak terhingga. Ia terlihat seperti melihat hantu. Riana pun menoleh, matanya yang tajam menatapku dengan sorot yang tak kukenali. Bukan terkejut, bukan takut. Sesuatu yang lebih dingin, seperti tatapan menilai.

Aku menatap Satrio lekat-lekat. Ada ribuan pertanyaan yang ingin kulontarkan. Tapi yang keluar dari bibirku hanya satu kalimat, diucapkan dengan nada datar yang membuatku sendiri terkejut. ‘Kamu bilang ada rapat penting sampai malam, Mas?’ Suaraku terdengar seperti berasal dari dunia lain. Satrio hanya terdiam, wajahnya pucat pasi. Riana, di sebelahnya, justru tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya.

Aku bangkit dari kursiku. Tak ingin mendengar penjelasan apa pun. Tak ingin melihat mereka lagi. Aku berjalan keluar dari ruangan itu, meninggalkan mereka dalam keheningan yang canggung. Suara dentingan gelas di lobi kini terdengar begitu mengganggu. Aku meraih kunci mobil yang tadi kutinggalkan di laci meja Satrio. Entah mengapa, aku mengambil amplop coklat dan kartu itu dari sakuku, lalu kulempar ke tempat sampah terdekat. Aku tidak butuh bukti lagi.


Babak 5 — Pagi Tanpa Janji

Aku mengendarai mobilku tanpa tujuan. Malam semakin larut, jalanan mulai sepi. Aku tidak menangis. Tidak marah. Hanya kosong. Seperti ada bagian dari diriku yang ikut tertinggal di ruangan Emerald itu. Tubuhku terasa berat, pikiranku seperti terputus-putus. Aku berhenti di pinggir jalan, di sebuah taman kota yang remang-remang. Mengunci pintu mobil, dan hanya duduk di sana, menatap ke depan tanpa melihat apa-apa.

Aku memikirkan kembali semua yang terjadi. Aku ingat kalimat Satrio, ‘Mending pulang cepet, di rumah kan ada kamu.’ Dulu, kalimat itu adalah bukti cintanya. Sekarang, itu hanyalah pengingat yang kejam. Kebohongan demi kebohongan, dibangun di atas fondasi rumah tangga yang kukira kokoh. Aku bahkan tidak tahu sudah berapa lama ini terjadi. Apakah Riana adalah orang pertama? Atau hanya orang yang paling terlihat?

Aku mengeluarkan ponselku. Layar menyala menampilkan foto profil kami berdua. Senyumku di foto itu terasa begitu asing. Aku ingin menghapusnya, tapi jemariku tak bisa bergerak. Aku membuka aplikasi perpesanan, mencari nama Satrio. Pesan terakhir darinya adalah, ‘Aku sayang kamu’. Entah kapan pesan itu dikirim, rasanya sudah begitu lama. Aku ingin membalasnya, tapi apa yang harus kukatakan? ‘Aku juga sayang kamu’, sementara hatiku hancur berkeping-keping?

Aku melihat jam di ponselku. Pukul tiga pagi. Sebentar lagi pagi. Pagi tanpa janji. Pagi di mana aku harus memutuskan apa yang harus kulakukan selanjutnya. Apakah aku harus menghadapi Satrio? Memintanya menjelaskan? Atau pergi saja, tanpa suara, tanpa keributan? Aku tidak tahu. Aku tidak punya energi lagi untuk berpikir.

Aku memutuskan untuk kembali ke apartemen. Satrio pasti akan pulang nanti. Entah jam berapa. Aku harus siap menghadapinya. Aku tidak tahu bagaimana reaksi yang harus kutunjukkan. Apakah aku harus berpura-pura tidak tahu apa-apa? Atau menunjukkan kartu yang seharusnya sudah kubuang? Aku tidak punya jawaban. Aku hanya tahu, pagi ini akan menjadi pagi yang sangat berbeda.

Saat aku melangkah masuk ke apartemen yang sunyi, aku melihat sebuah catatan kecil tergeletak di atas meja dapur. Bukan dari Satrio. Tapi dari diriku sendiri, yang kutulis tadi pagi sebelum ia berangkat. ‘Jangan lupa pesan sabun cuci piring!’ Aku tersenyum miris. Betapa polosnya aku pagi ini. Betapa bodohnya aku mempercayai setiap kata yang keluar dari mulutnya. Aku mengambil catatan itu, meremasnya kuat-kuat di tangan. Lalu kulempar ke tempat sampah, bersama dengan sampah-sampah lain yang terasa begitu menyesakkan.

Aku tidak yakin apa yang akan terjadi esok hari. Yang pasti, aku tidak bisa lagi hidup dalam kebohongan. Aku harus mencari tahu. Aku harus kuat. Setidaknya, aku harus mencoba.