Cerita Perselingkuhan: Struk Belanja Dapur Ini Jadi Bukti Suaminya Bohong
Babak 1 — Lupa Beli Gula Tapi Beli Roti Sobek
Pagi itu, matahari masih malu-malu mengintip dari balik tirai jendela dapur yang dilapisi motif bunga-bunga pudar. Nindya mengaduk bubur ayam instan di atas kompor, matanya sedikit berkunang-kunang karena kurang tidur. Semalam suaminya, Wibisono, baru pulang hampir tengah malam. Katanya ada rapat mendadak yang sangat penting, sampai harus memesan makan malam di kantor.
“Masih pagi kok muka ditekuk gitu, Mbak?” tegur Mbok Dar, asisten rumah tangga mereka yang sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun, sambil membawakan sepiring kerupuk udang yang renyah.
“Nggak apa-apa, Mbok. Cuma nggak enak badan aja sedikit,” jawab Nindya sambil tersenyum tipis. Senyum yang terasa seperti menahan tangis. Sudah beberapa bulan ini ia merasa ada yang berbeda. Wibisono sering sekali lembur, sering sekali bepergian keluar kota dengan alasan pekerjaan, dan ponselnya selalu dalam mode senyap.
Ia mencoba tidak memikirkannya. Mungkin memang pekerjaannya yang sedang menumpuk. Wibisono adalah seorang manajer di sebuah perusahaan properti besar di Jakarta, dan proyek-proyeknya sedang gencar-gencarnya.
Setelah bubur ayamnya siap, Nindya mengambil secangkir kopi instan dan duduk di meja makan. Ia membuka aplikasi GoFood di ponselnya, berniat memesan roti sobek kesukaan Wibisono untuk sarapan mereka nanti. Biasa, jika Wibisono pulang pagi, ia suka menyantap roti sobek dengan selai cokelat. Nindya ingin memberikan kejutan kecil, meski ia sendiri sedang dilanda kelelahan batin.
Saat jari-jarinya menari di layar ponsel, perhatiannya tertuju pada sebuah notifikasi yang tergeletak di sudut meja dapur. Struk belanja supermarket. Struk yang tidak ia kenali.
Biasanya, Wibisono akan memberikan struk belanja pada Mbok Dar untuk dicatat di buku pengeluaran bulanan. Tapi struk ini tergeletak begitu saja, seolah sengaja ditinggalkan.
Nindya meraihnya. Kertasnya sedikit kusut, namun tulisan tanggal dan jamnya masih jelas terbaca: kemarin malam, pukul 22:47. Itu artinya, setelah Wibisono bilang rapatnya selesai dan ia pamit pulang.
Ia mulai membaca daftar barang yang tertera. Telur, susu, beras, minyak goreng, sabun cuci piring… Kebutuhan pokok yang biasa mereka beli. Tapi kemudian matanya terpaku pada satu baris di bawahnya.
“Roti Sobek Cokelat – 1 pcs.”
Jantung Nindya berdetak lebih cepat. Ia memesan roti sobek pagi ini, dan kini ia melihat di struk ini, Wibisono juga membelinya semalam. Keanehan kecil yang terasa seperti lubang menganga di perutnya.
“Mbok Dar, semalam Mas Wibi pulang jam berapa?” tanyanya, mencoba menjaga suaranya agar tetap tenang.
“Wah, Mbak, Mas Wibi itu pulang pas Mbak Nindya sudah terlelap. Saya dengar suara pintu terbuka saja, terus langsung sepi lagi. Kayaknya sih habis jam sebelas malam,” jawab Mbok Dar sambil menyapu lantai teras.
Habis jam sebelas. Struk belanja jam 22:47. Roti sobek yang dibeli semalam. Nindya menggenggam struk itu erat-erat. Tangannya mulai gemetar. Ada sesuatu yang sangat tidak beres.
Babak 2 — Kebingungan yang Membisu
Nindya tidak ingat kapan terakhir kali ia merasa segelisah ini. Struk belanjaan itu kini tergeletak di tangannya, menjadi pusat dunia kecilnya yang sedang berputar tak karuan. Ia kembali membaca baris demi baris, mencari anomali lain, mencari penjelasan logis yang mungkin terlewatkan olehnya.
“Roti Sobek Cokelat – 1 pcs,” ia membacanya lagi, kali ini dengan suara lirih. Mengapa Wibisono membeli roti ini? Bukankah ia selalu memesan roti ini lewat aplikasi GoFood setiap pagi untuk sarapan mereka? Dan mengapa semalam ia tidak menyapanya sama sekali saat pulang?
Ia ingat semalam, saat mendengar suara pintu terbuka, ia sempat mengintip dari balik pintu kamar. Memang benar, sosok Wibisono masuk dengan langkah terburu-buru, langsung menuju kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Nindya mengira suaminya lelah luar biasa.
“Mungkin dia beli untuk stok?” pikir Nindya, berusaha keras mencari alasan yang masuk akal. Tapi kenapa hanya satu buah? Dan kenapa tidak dimasukkan ke dalam kantong belanjaan yang sama dengan kebutuhan pokok lainnya? Struk ini hanya berisi beberapa item kebutuhan pokok dan satu roti sobek. Sangat aneh.
Perasaan tidak enak mulai merayap, dingin dan mencekam. Ia teringat percakapannya dengan Wibisono seminggu lalu. Saat itu, mereka sedang makan malam, dan Wibisono tiba-tiba bertanya tentang adiknya yang tinggal di Bandung, “Dek Arini sudah punya pacar belum ya, Ndy?”
Nindya hanya menjawab sekenanya, “Entahlah, Mas. Memangnya kenapa?” Wibisono hanya mengedikkan bahu.
Sekarang, pertanyaan itu kembali muncul di benaknya. Mengapa Wibisono tiba-tiba menanyakan adiknya?
Ia memutar ulang kembali kejadian semalam. Wibisono pulang larut. Rapat mendadak. Dan sekarang, struk belanja dengan roti sobek cokelat. Nindya mengambil ponselnya, membuka aplikasi GoFood. Ia mencari riwayat pesanannya. Ada pesanan roti sobek pagi ini. Tapi pesanan sebelumnya? Nihil.
Kemudian, dengan tangan yang masih bergetar, ia membuka aplikasi pesan antar makanan lain, mencoba mencari apakah Wibisono sempat memesan sesuatu semalam. Ia membuka aplikasi GrabFood, ShopeeFood, bahkan layanan pesan antar dari supermarket tempat struk itu berasal.
Dan di sana, di riwayat pesanan ShopeeFood miliknya, ada satu pesanan dari “Toko Kue Bahagia” yang dipesan kemarin malam pukul 22:15.
“Satu Kotak Roti Sobek Cokelat – Rp 35.000.”
Nindya terkesiap. Pesanan itu dipesan hanya 30 menit sebelum Wibisono melakukan pembelian di supermarket. Dan toko “Toko Kue Bahagia” itu tidak pernah ia dengar sebelumnya.
Ia menatap struk di tangannya lagi. Roti sobek yang dibeli semalam. Roti sobek yang dipesan lewat aplikasi.
“Mas Wibisono… kamu beli roti itu buat siapa?” bisiknya pada udara kosong. Perutnya terasa mual. Bukan karena tidak enak badan, tapi karena ada sesuatu yang busuk tercium dari kebohongan yang mulai terkuak.
Babak 3 — Ingatan yang Berkhianat
Dapur yang biasanya menjadi tempat Nindya menemukan ketenangan kini terasa seperti ruang interogasi. Ia duduk di kursi yang sama, namun pikirannya melayang jauh. Ingatan tentang momen-momen manis bersama Wibisono kini terasa seperti pisau yang tersembunyi di balik keindahan itu.
Ia ingat saat pertama kali Wibisono mengajaknya ke sebuah kafe kecil di daerah Cikini. Saat itu, Wibisono dengan gugup menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna biru muda. “Ini, Ndy. Aku bukan orang yang pandai merangkai kata, tapi aku harap kamu mau menerima ini,” ucap Wibisono, wajahnya sedikit memerah.
Di dalam kotak itu ada sebuah liontin berbentuk hati kecil, sederhana namun elegan. Nindya suka sekali. Ia selalu memakai kalung itu di acara-acara penting.
Sekarang, kalung itu tergeletak di laci meja riasnya. Sudah lama tidak ia pakai. Sejak kapan? Sejak Wibisono mulai sering pulang malam dan ponselnya selalu disita.
Nindya mengambil ponselnya lagi. Ia membuka galeri foto. Menelusuri foto-foto lama. Foto mereka berdua saat liburan di Bali, foto saat wisuda Wibisono, foto saat ia pertama kali memasak rendang untuk Wibisono dan ia memujinya luar biasa. Foto-foto yang seharusnya menjadi penguat, kini justru terasa perih.
Ia membuka aplikasi chat dengan Wibisono. Percakapan terakhir mereka adalah permintaan maaf Wibisono karena harus lembur lagi dua hari lalu. Nindya membalas dengan singkat, “Oke.” Ia lelah harus selalu mengerti.
Kemudian, sebuah ingatan lain muncul. Beberapa minggu lalu. Saat ia sedang beres-beres lemari pakaian Wibisono. Ia menemukan sebuah struk belanja lama yang terselip di saku celana kerja. Struk dari sebuah toko pakaian di Grand Indonesia. Ada sebuah blus berwarna krem yang harganya cukup lumayan. Nindya yakin ia tidak pernah melihat Wibisono membelikan baju untuknya.
Saat itu, ia memilih untuk mengabaikannya. Mungkin Wibisono membeli untuk ibunya, atau saudarinya. Ia tidak ingin menuduh tanpa bukti.
Dan kini, struk belanja semalam. Roti sobek. Dua kali pembelian.
Nindya merasa seperti detektif amatir yang sedang memecahkan kasus rumit. Ia membuka kembali aplikasi ShopeeFood. Ia melihat detail pesanan roti sobek. “Toko Kue Bahagia” – alamatnya tertera di sana, sebuah toko kue yang berlokasi di daerah Tebet. Tidak terlalu jauh dari kantor Wibisono, namun juga tidak searah dengan jalan pulang ke rumah mereka di Bintaro.
Perutnya kembali terasa melilit. Ia merasa seperti sedang bermain dalam sebuah drama yang naskahnya ditulis oleh orang lain, dan ia adalah pemeran utama yang dibodohi.
“Mas Wibisono… kalau kamu memang punya wanita lain, kenapa kamu tidak jujur saja?” bisiknya lagi. Suaranya tercekat. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia mencoba menahannya, tidak ingin terlihat lemah di depan Mbok Dar.
Ia teringat pesannya di aplikasi GoFood pagi ini. Roti sobek cokelat. Ia memesannya karena ingin membuat Wibisono senang. Tapi sekarang, ia tahu, Wibisono sudah memiliki roti sobek semalam. Dipesan dari toko lain.
Siapa yang makan roti sobek itu? Dan mengapa Wibisono masih membelinya lagi pagi ini, jika memang benar ia membelinya semalam?
Atau… jangan-jangan, pembelian semalam bukanlah untuknya?
Babak 4 — Pertemuan yang Tak Terduga
Pagi itu, Nindya memutuskan untuk tidak memesan sarapan. Ia hanya meminum kopi hitam pahit yang ia buat sendiri, tanpa gula. Pahitnya terasa pas dengan rasa yang menggerogoti hatinya. Ia harus tahu kebenarannya. Ia tidak bisa lagi hidup dalam ketidakpastian.
Setelah Mbok Dar berangkat ke pasar, Nindya mengambil kunci mobilnya. Ia memutuskan untuk pergi ke Tebet, ke alamat “Toko Kue Bahagia” yang tertera di aplikasi ShopeeFood.
Perjalanan menuju Tebet terasa sangat panjang. Lampu merah yang tak kunjung hijau, kemacetan yang seolah tak ada habisnya. Setiap menit terasa seperti siksaan. Pikirannya berputar pada skenario terburuk.
Sesampainya di alamat yang dituju, Nindya menemukan sebuah ruko kecil yang tidak mencolok. Toko kue itu ternyata tidak terlalu besar, namun terkesan bersih dan tertata rapi. Ada beberapa kue tart dan roti yang terpajang di etalase. Nindya menarik napas dalam-dalam sebelum mendorong pintu kaca.
Sebuah lonceng kecil berbunyi saat pintu terbuka. Nindya melangkah masuk. Aroma manis tercium samar-samar.
“Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?” Suara seorang wanita terdengar lembut dari balik meja kasir.
Nindya menoleh. Matanya terpaku pada sosok wanita yang berdiri di sana. Wanita itu mengenakan celemek, rambutnya dikepang rapi. Wajahnya familier.
“Permisi,” kata Nindya, suaranya bergetar. “Apa… apa Mbak kenal dengan Bapak Wibisono?”
Wanita itu sedikit terkejut. Ia menatap Nindya dengan pandangan bertanya. “Pak Wibisono? Maksud Anda suami Mbak Arini?”
Arini. Nama itu seperti petir menyambar Nindya. Arini adalah adik Wibisono. Kenapa wanita ini menyebut Wibisono sebagai suami Mbak Arini?
“Maaf. Mbak… Mbak ini siapa ya?” tanya Nindya, berusaha menahan gejolak di dadanya.
Wanita itu tampak bingung sesaat, lalu ia tersenyum tipis, senyum yang terlihat getir. “Saya Laksmi. Saya yang… membuat roti itu. Pak Wibisono sering memesannya untuk istrinya, Mbak Arini. Kemarin malam beliau memang pesan satu kotak lagi, karena Mbak Arini sedang sakit dan ingin makan roti itu.”
Nindya terdiam. Otaknya seperti berhenti bekerja. Istrinya, Mbak Arini? Wibisono dan Arini? Bukankah Arini adiknya?
“Mbak Arini… adiknya Mas Wibisono?” tanya Nindya lagi, lebih pada dirinya sendiri.
Laksmi menggeleng pelan. “Bukan, Mbak. Mbak Arini itu… Mbak Arini itu istri sah Pak Wibisono. Mereka sudah menikah tiga tahun lalu. Tapi… sepertinya mereka menyembunyikannya dari keluarga besar. Terutama dari orang tua Pak Wibisono. Saya sebenarnya… saya adalah sepupu Mbak Arini.”
Dunia Nindya runtuh seketika. Tiga tahun menikah dengan Wibisono, ia tidak pernah tahu kalau suaminya ternyata sudah memiliki istri lain, bahkan seorang istri yang ia kira adalah adiknya sendiri. Struk belanjaan itu. Roti sobek itu. Bukan untuknya. Selama ini, semua perhatian, semua perhatian yang ia kira ditujukan padanya, ternyata adalah perhatian suaminya untuk wanita lain yang bahkan ia kenal sebagai adiknya.
Air mata yang sedari tadi ditahannya kini mengalir deras. Ia ingin berteriak, ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah isak tangis tertahan.
“Jadi… jadi selama ini…” Nindya tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia hanya bisa menatap Laksmi dengan mata berkaca-kaca.
Laksmi menunduk, terlihat tidak nyaman. “Saya… saya minta maaf, Mbak. Saya tidak tahu harus bagaimana. Seharusnya saya tidak bicara begini. Tapi melihat Mbak… saya tidak tega.”
Di tengah keheningan yang mencekam, Nindya teringat kembali pada pertanyaan Wibisono beberapa minggu lalu. “Dek Arini sudah punya pacar belum ya, Ndy?” Pertanyaan itu kini terasa begitu menyakitkan.
Babak 5 — Senja di Kota Kembar
Nindya tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di mobilnya. Ia hanya ingat merasakan kakinya lemas, lalu ia menemukan dirinya duduk di kursi pengemudi, air mata membasahi pipinya tanpa henti. Wajahnya kini terlihat bengkak dan merah padam. Ia tidak berani kembali ke rumah. Ia juga tidak tahu harus ke mana.
Akhirnya, tanpa tujuan yang jelas, ia mengemudikan mobilnya ke arah Senayan. Ia hanya ingin menjauh. Menjauh dari rumah yang selama ini ia anggap sebagai surga kecilnya, yang ternyata adalah penjara yang penuh kebohongan. Menjauh dari sosok Wibisono yang selama ini ia cintai, yang ternyata adalah monster berwajah malaikat.
Ia memarkir mobilnya di sebuah area parkir kosong di dekat taman. Matahari senja mulai tenggelam, mewarnai langit dengan gradasi jingga dan ungu yang indah. Sebuah pemandangan yang biasanya ia nikmati bersama Wibisono, tapi kini terasa seperti ejekan yang menyakitkan.
Nindya mengeluarkan ponselnya. Tangannya gemetar saat ia membuka kembali chat dengan Wibisono. Kali ini, ia tidak mencari kata-kata manis atau janji-janji palsu. Ia mencari sesuatu yang lain. Ia mencari kontak yang ia tahu pasti akan memberinya jawaban. Kontak Adiknya, Arini.
Ia ragu sejenak. Menghubungi Arini berarti mengkonfirmasi segalanya. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia butuh penjelasan dari mulut Arini sendiri.
Setelah beberapa kali dering, suara Arini terdengar di seberang telepon. “Halo, Ndy? Ada apa? Kok nelpon?” Suara Arini terdengar riang, seperti biasa.
Nindya menarik napas dalam-dalam. “Arin… ini aku, Ndy.”
“Iya, aku tahu. Kenapa, Ndy? Kayaknya lagi nangis?” Suara Arini berubah khawatir.
“Arin… kamu… kamu sudah menikah?” tanya Nindya, suaranya serak.
Keheningan terjadi di ujung sana. Keheningan yang terasa lebih panjang dari seribu tahun.
“Ndy… kamu tahu dari mana?” suara Arini terdengar pelan, penuh keputusasaan.
“Toko Kue Bahagia… Mas Wibisono…” Nindya tidak sanggup melanjutkan. Tangisnya kembali pecah.
“Ndy… aku… aku minta maaf. Aku… aku terjebak. Wibisono bilang dia mencintaiku. Dia bilang dia akan menceraikanmu. Tapi… dia tidak pernah melakukannya.” Suara Arini terdengar bergetar. “Kami… kami menikah diam-diam setahun lalu. Dia bilang dia melakukan ini karena desakan orang tuanya untuk segera menikahimu, tapi ternyata… dia tidak pernah serius denganmu sejak awal.”
Setahun lalu. Nindya ingat, sekitar setahun lalu, ia dan Wibisono sempat bertengkar hebat karena Wibisono lupa ulang tahun pernikahannya. Ia pikir suaminya hanya ceroboh. Ternyata, suaminya punya alasan lain untuk melupakan hari spesial mereka.
“Jadi… semua ini… kebohongan?” bisik Nindya.
“Aku… aku tidak tahu harus bilang apa, Ndy. Aku sangat menyesal,” Arini terdengar seperti menangis di ujung telepon.
Nindya menutup teleponnya. Ia menatap langit senja yang semakin gelap. Ada rasa kosong yang luar biasa di dalam dirinya. Perasaan dikhianati oleh orang yang paling ia cinta, dan oleh orang yang ia anggap adiknya sendiri. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Kembali ke rumah? Menghadapi Wibisono? Atau pergi saja selamanya?
Mobil-mobil lain masih berlalu lalang di sekitarnya, sibuk dengan urusan masing-masing. Nindya hanya duduk terdiam, menatap jalanan yang mulai diterangi lampu-lampu kota. Hidupnya yang utuh kini terasa terpecah belah menjadi dua, seperti kaca yang retak, tak mungkin bisa utuh kembali. Ia hanya bisa bertanya-tanya, apakah ada tempat di dunia ini yang aman dari kebohongan?
