Kisah Nindya: Struk Parkir Itu Bukan Bukti Selingkuh, Tapi Pengkhianatan yang Jauh Lebih Dingin
Babak 1 — Senyum Retak di Pagi Jakarta
Senyum Nindya pagi itu terasa seperti cat tembok yang retak, ada celah di mana-mana tapi ia berusaha menambalnya dengan tumpukan tawa palsu dan secangkir kopi instan yang terlalu manis. Suaminya, Dirgantara, sudah rapi dengan kemeja biru dongker kesayangannya, siap berangkat ke kantornya di bilangan Sudirman. Aroma parfum maskulin yang khas, bercampur sedikit wangi maskara Nindya yang tak sengaja menempel di kerah kemejanya saat tadi pagi ia memeluknya erat, menjadi melodi pagi yang biasa. Tapi hari ini, ada nada sumbang yang tak bisa Nindya abaikan. Sesuatu di udara terasa berbeda, seperti langit mendung yang enggan meneteskan hujan tapi membuat semua terasa sesak.
“Mas, nanti malem jadi makan malam di luar? Aku udah pesen tempat di Restoran Bambu Apung, katanya view-nya bagus buat malem pertama kita—eh, maksudnya malem perayaan ulang tahun perusahaan Mas itu,” Nindya mencoba terdengar santai, sambil mengusap noda kecil di ujung sepatu Dirgantara dengan kain lap. Perayaan ulang tahun perusahaannya, itu alasan yang diberikan Dirgantara. Padahal biasanya, acara semacam itu Dirgantara tak pernah mau repot datang, apalagi jika harus makan malam formal. Tapi kali ini, berbeda. Dan perbedaan itu, justru yang membuat Nindya gelisah.
Dirgantara menghela napas panjang, gerakan halus yang nyaris tak terlihat, tapi Nindya yang sudah hapal setiap inci ekspresi suaminya, bisa merasakannya. “Nggak bisa, Ndy. Tadi pagi ada email mendadak, kayaknya harus lembur lagi. Kamu makan aja duluan nggak apa-apa, titip salam buat bos aku ya?” Ia berusaha tersenyum, tapi matanya yang biasanya hangat, kini seperti terhalang tirai tipis yang dingin. Ia mengecup kening Nindya sekilas, tanpa gairah yang biasa, lalu bergegas keluar. Suara pintu tertutup terdengar begitu tegas, seolah menjadi penutup dari sebuah percakapan yang bahkan belum dimulai.
Nindya berdiri termangu di ambang pintu, kopi di tangannya mulai mendingin. Restoran Bambu Apung, tempat yang ia pesan khusus, kini terasa seperti sebuah ejekan. Malam perayaan ulang tahun perusahaan, lembur mendadak, senyum yang tak sampai ke mata. Semua itu seperti kepingan puzzle yang Nindya punya, tapi ia tak tahu bagaimana menyusunnya menjadi sebuah gambaran utuh. Yang ia tahu, gambaran itu pasti tidak indah. Ia menghela napas, lalu memutuskan untuk mencuci piring kotor yang berserakan di wastafel. Aktivitas rutin ini biasanya menenangkan pikirannya, tapi hari ini, setiap gerakan terasa seperti mengulang kesedihan yang sama.
Ponselnya bergetar di meja dapur. Notifikasi dari aplikasi DANA. Ia membuka aplikasi itu, berharap ada pesan dari temannya yang mengajak belanja online untuk melupakan kesedihannya. Tapi, yang muncul adalah sebuah informasi transaksi. “Pembayaran Parkir: Rp15.000. Lokasi: Gedung Adhiguna, Lantai P2. Waktu: 19:00 WIB.” Nindya mengerutkan kening. Dirgantara bilang ia akan lembur di kantornya, di Sudirman. Gedung Adhiguna? Itu bukan kantor Dirgantara. Gedung Adhiguna terkenal sebagai pusat perkantoran sekaligus apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan, tapi bukan tempat Dirgantara bekerja. Ia menatap layar ponselnya, lalu ke arah pintu yang baru saja tertutup rapat. Perasaan gelisah yang tadi pagi ia tepis, kini mulai merayap naik, dingin dan mencekam.
Babak 2 — Kejanggalan di Balik Tagihan Digital
Napas Nindya tertahan di tenggorokan. Gedung Adhiguna. Itu bukan kantor suaminya. Nindya sudah pernah mengantarkan bekal untuk Dirgantara saat ia sakit beberapa bulan lalu, dan ia tahu persis di mana kantor suaminya. Bukan di Adhiguna. Ia membuka aplikasi pesan singkatnya, bergulir ke percakapan terakhir dengan Dirgantara. “Ok, Ndy. Aku berangkat ya.” Itu pesannya pagi tadi. Tidak ada percakapan lain setelah itu. Tidak ada mention soal lembur, tidak ada konfirmasi soal makan malam. Hanya itu.
Tangan Nindya mulai gemetar. Ia mencoba menepis pikiran buruk yang mulai menyeruak. Mungkin Dirgantara ada urusan mendadak lain. Mungkin ia lupa memberi tahu. Mungkin… mungkin ada penjelasan lain. Tapi logika itu seperti mencoba menahan tsunami dengan tangan kosong. Ia membuka kembali aplikasi DANA, kali ini ia menggeser layar ke bawah, mencari transaksi yang lebih lama. Ia ingat, Dirgantara sering menggunakan DANA untuk berbagai pembayaran, termasuk parkir. Dan benar saja, ada beberapa transaksi parkir lain dengan nominal yang mirip, namun lokasi yang berbeda-beda, dan waktu yang umumnya sore hari. Tapi transaksi yang barusan muncul ini, pukul 19:00 WIB, saat Dirgantara bilang ia akan lembur di kantornya. Dan lokasinya… Gedung Adhiguna.
Ia membuka Google Maps, mengetik ‘Gedung Adhiguna’. Muncul gambar gedung pencakar langit modern yang menjulang tinggi. Di bawahnya, ada beberapa ulasan dan foto. Salah satu foto yang diunggah pengguna menunjukkan area parkir yang luas dan bersih, lengkap dengan penanda lantai berwarna-warni. Nindya membandingkan foto itu dengan visual di kepalanya saat Dirgantara tadi pagi memeluknya. Ujung sepatu Dirgantara. Nindya yakin, itu bukan sepatu kerja yang biasa dipakai Dirgantara ke kantornya. Sepatu itu… sedikit berbeda. Lebih mengkilap, lebih… formal.
Jantungnya berdebar semakin kencang. Ia mencoba mengingat detail-detail kecil. Aroma parfum Dirgantara yang biasanya sedikit menusuk hidung, tadi pagi terasa lebih lembut. Pelukan yang terasa terburu-buru. Ucapan maaf yang terdengar hampa. Semua itu seperti serpihan kaca yang mulai menyatu membentuk sebuah gambar yang mengerikan. Ia mengambil tas tangannya, mengeluarkan dompetnya. Di dalamnya, ada kartu identitas Dirgantara yang sering ia simpan jika ia lupa membawa dompetnya. Ia menatap foto Dirgantara di kartu itu. Pria yang sama, senyum yang sama, tapi rasanya seperti menatap orang asing.
Nindya beranjak dari dapur, berjalan menuju kamar tidur mereka. Di atas nakas, tergeletak jam tangan Dirgantara. Jam tangan yang baru dibelinya setahun lalu, saat mereka merayakan ulang tahun pernikahan kelima. Nindya meraih jam tangan itu, membaliknya. Di bagian belakang, terukir sebuah inisial dan tanggal. Inisial yang bukan miliknya, dan tanggal yang bukan ulang tahun pernikahan mereka. ‘R&D – 17.08.2022’. Jantung Nindya terasa berhenti berdetak. Tanggal itu… tiga bulan sebelum ulang tahun pernikahan mereka.
Babak 3 — Jejak Digital di Kota Metropolitan
Seratus tujuh belas Agustus dua ribu dua puluh dua. Nindya mencoba mengingat hari itu. Dirgantara sedang dalam perjalanan dinas ke Surabaya. Ia ingat karena Dirgantara sempat mengiriminya foto, berdiri di depan Tugu Pahlawan dengan latar belakang langit biru cerah. Senyumnya lebar, seperti biasa. Siapa R? Siapa perempuan yang mengukir inisial dan tanggal itu di jam tangan suaminya? Pertanyaan itu berputar di kepala Nindya seperti kaset rusak, tanpa bisa menemukan jawaban yang melegakan.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah lemari pakaian Dirgantara. Sejak pagi, ia mencoba menjaga ketenangannya, mengandalkan logika bahwa mungkin ada kesalahpahaman. Tapi bukti-bukti kecil yang muncul semakin banyak, seperti semut yang mengerubungi gula. Jam tangan itu, struk parkir dari Gedung Adhiguna, dan sekarang… ia teringat percakapan Dirgantara dengan seseorang di telepon tadi siang. Dirgantara sempat menjauh dari Nindya, berbicara dengan suara pelan, hampir berbisik. Nindya tak mendengar jelas apa yang dibicarakan, hanya mendengar beberapa kata seperti ‘meeting’, ‘penting’, dan ‘jam enam’. Tapi nada suaranya… itu bukan nada suara Dirgantara saat berbicara soal pekerjaan.
Ia bangkit dan berjalan ke meja kerja Dirgantara. Komputer kantornya masih menyala, menampilkan layar login. Nindya tahu ini salah, tapi ia tak bisa menahan dorongan kuat di hatinya. Ia mencoba password yang biasa Dirgantara gunakan, kombinasi tanggal lahir mereka dan beberapa angka acak. Gagal. Ia mencoba lagi, kali ini password yang sedikit berbeda. Gagal lagi. Ia menghela napas, rasa putus asa mulai menjalarinya. Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah stiker kecil yang tertempel di sudut layar monitor. Stiker bergambar karakter kartun favorit Dirgantara, yang dulu pernah diberikan Nindya saat mereka pertama kali pacaran. Di belakang stiker itu, ia pernah melihat Dirgantara menyembunyikan sebuah memo kecil. Ia dengan hati-hati melepaskan stiker itu.
Di balik stiker, tertulis sebuah nomor telepon. Bukan nomor kantor, bukan nomor ponsel Dirgantara. Nindya menatap nomor itu lama, lalu membuka aplikasi kontak di ponselnya. Ia mencari nomor yang sama di daftar kontaknya. Tidak ada. Ini pasti nomor baru. Dengan tangan gemetar, ia mengetikkan nomor itu ke aplikasi pesan singkat, lalu mengetik, “Ini siapa?” Ia menunggu dengan napas tertahan. Beberapa menit berlalu, tidak ada balasan. Ia mulai berpikir ini mungkin hanya nomor lama yang sudah tidak terpakai. Sampai akhirnya, notifikasi muncul.
“Risa,” begitu balasan singkat yang muncul. Hanya satu kata. Siapa Risa? Nindya mencoba menelusuri nomor itu di media sosial. Ia memasukkan nomor tersebut ke kolom pencarian Instagram. Muncul beberapa akun. Satu akun menarik perhatiannya. Foto profilnya adalah seorang perempuan muda dengan senyum cerah, mengenakan seragam… pramugari. Nindya membuka profilnya. Foto-foto perjalanannya ke berbagai kota, foto-foto selfie dengan seragam, dan… sebuah foto yang membuat Nindya terkesiap. Foto dirinya bersama Dirgantara, di sebuah kafe yang sama seperti yang sering mereka datangi, tapi Dirgantara terlihat lebih muda, dan ia merangkul perempuan bernama Risa itu dengan mesra. Di bawah foto itu, tertulis tanggal: 17 Agustus 2022.
Nindya menutup matanya, menarik napas dalam. Rasanya seperti ia baru saja menemukan sebuah surat perjanjian yang ditulis dengan tinta tak terlihat selama bertahun-tahun. Bukan sekadar selingkuh. Ini adalah pengkhianatan yang terencana, berlapisan, dan berlangsung lama. Struk parkir Gedung Adhiguna itu bukan bukti perselingkuhan sesaat, melainkan pintu gerbang menuju sebuah kebenaran yang jauh lebih dingin dan menyakitkan.
Babak 4 — Pengakuan yang Terbungkus Kebohongan
Nindya masih duduk di tepi ranjang, ponsel di tangannya terasa seperti bongkahan es. Risa. Pramugari. Dan tanggal itu. 17 Agustus 2022. Hari itu, Dirgantara bilang ia sedang rapat penting yang sampai malam. Nindya ingat, ia sempat mengiriminya kue kering buatan tangan, yang ia antar sendiri ke kantor Dirgantara. Tapi ia tak pernah bertemu suaminya. Satpam di lobi bilang Dirgantara sedang di luar kota. Nindya mengira satpam itu salah, atau Dirgantara lupa memberitahunya. Ternyata, Dirgantara memang sedang ‘di luar kota’, tapi bukan untuk urusan dinas.
Ia bangkit dan berjalan ke ruang tamu. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Dirgantara belum pulang. Biasanya, ia akan mengabari jika akan terlambat, tapi malam ini, ponselnya mati total. Nindya menghela napas, mengambil tas tangannya, lalu keluar dari apartemen. Ia tidak tahu harus ke mana, tapi ia tidak bisa menunggu di sini saja. Ia menolak untuk menjadi istri yang duduk diam menunggu suaminya pulang, tak tahu apakah yang pulang adalah orang yang sama seperti saat ia berangkat pagi tadi.
Ia memutuskan untuk pergi ke Gedung Adhiguna. Ia harus melihat sendiri. Ia memesan GoCar, menyebutkan alamat Gedung Adhiguna. Sopir itu bertanya, “Masuk parkiran lantai berapa, Mbak?” Nindya terdiam sejenak. Lantai P2. Itu yang tertulis di struk DANA. “Lantai P2, Mas,” jawabnya singkat, suaranya nyaris tak terdengar.
Setibanya di Gedung Adhiguna, suasana malam terlihat megah dan dingin. Lampu-lampu kota berkilauan dari jendela-jendela tinggi gedung. Nindya masuk ke lobi yang luas dan bersih. Ia menuju lift parkir. Suasana di area parkir terasa sepi, hanya ada beberapa mobil terparkir rapi. Nindya berjalan perlahan menyusuri lorong, mencari lantai P2. Ia sampai di lantai yang dituju. Deretan mobil mewah terparkir di sana, tapi tak ada satu pun yang ia kenali sebagai milik Dirgantara. Ia berjalan lebih jauh, melihat plat nomor satu per satu. Sampai akhirnya, matanya tertuju pada sebuah mobil SUV hitam mengkilap, terparkir agak serong di slot yang lebih besar. Mobil itu… sangat mirip dengan mobil yang sering ia lihat di foto-foto profil Risa di Instagram.
Nindya mendekat dengan hati-hati. Ia melihat ke dalam mobil dari kaca yang agak gelap. Di kursi penumpang depan, ia melihat sebuah tas tangan berwarna merah marun, persis seperti tas yang sering dipakai Risa di foto-fotonya. Jantungnya kembali berdebar kencang. Ia berjalan ke sisi lain mobil, melihat ke arah kursi pengemudi. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Di kursi pengemudi, duduk Dirgantara. Bukan dengan pakaian kantornya, tapi dengan kemeja yang sedikit kusut, dan ia terlihat… sedang tertidur lelap. Di sampingnya, di kursi penumpang, tergeletak sebuah tiket pesawat. Tiket satu arah, Jakarta ke Singapura, dengan tanggal keberangkatan hari ini. Di tangan Dirgantara, tergenggam sebuah liontin kecil berbentuk hati, yang sangat mirip dengan liontin yang Nindya lihat di leher Risa dalam salah satu foto di Instagram.
Tiba-tiba, pintu di sisi penumpang terbuka. Sosok perempuan muncul dari balik mobil itu. Rambut hitam panjang tergerai, seragam pramugari yang rapi. Risa. Ia menatap Nindya, matanya terbelalak kaget. Dirgantara terbangun karena suara pintu yang terbuka. Ia melihat Nindya, lalu ke arah Risa, dan kemudian menatap Nindya dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan. Campuran antara rasa bersalah, panik, dan… penyesalan? Risa menunduk, tak berani menatap Nindya. “Aku… aku harus pergi,” ucap Risa lirih, suaranya bergetar. Ia berjalan cepat menjauhi mobil, dan menghilang di balik pilar parkir. Dirgantara hanya diam, tatapannya terpaku pada Nindya. Ia membuka mulutnya, seolah ingin bicara, tapi tak ada suara yang keluar. Hanya keheningan yang berat menyelimuti mereka berdua di tengah dinginnya parkiran malam itu.
Babak 5 — Pagi Tanpa Senyum
Nindya tidak ingat bagaimana ia keluar dari Gedung Adhiguna. Pikirannya kosong. Dirgantara masih duduk di mobil, diam membisu. Nindya tak berani mendekat. Ia hanya berdiri di luar, membiarkan angin malam yang dingin menerpa wajahnya, mencoba menghapus jejak air mata yang tak kunjung berhenti. Ia sempat mendengar Dirgantara memanggil namanya pelan, tapi ia tak menoleh. Ia tak tahu apa yang bisa dikatakan Dirgantara yang bisa memperbaiki apa yang sudah hancur. Ia tak tahu bagaimana menjelaskan kata ‘pengkhianatan’ yang rasanya jauh lebih kejam dari sekadar ‘perselingkuhan’.
Ia akhirnya memilih taksi online. “Pulang ke apartemen, Pak,” katanya lemah. Sepanjang perjalanan, ia hanya menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu kota yang dulu terasa romantis, kini terlihat menyakitkan. Ia teringat semua rencana mereka, semua janji yang terucap. Ia teringat bagaimana Dirgantara dulu memujanya, bagaimana tatapannya selalu penuh cinta. Kapan semua itu berubah? Kapan cintanya mulai berbelok arah ke Risa, pramugari dengan senyum secerah mentari?
Setibanya di apartemen, Nindya langsung masuk ke kamar. Ia tidak berganti pakaian, tidak membersihkan diri. Ia hanya merebahkan diri di kasur, memeluk guling erat-erat. Ia teringat struk parkir itu. Awalnya, ia mengira itu adalah bukti sederhana perselingkuhan. Tapi ternyata, itu hanyalah puncak gunung es dari sebuah kebohongan yang jauh lebih besar. Tiket pesawat itu… Dirgantara akan pergi. Ke Singapura. Bersama Risa? Atau sendiri? Nindya tidak tahu. Dan ia tidak peduli lagi.
Pagi datang tanpa permisi. Sinar matahari pagi mencoba menerobos celah gorden, namun tak mampu menghalau kegelapan yang menyelimuti Nindya. Ia merasa lelah luar biasa, namun matanya enggan terpejam. Ia bangun, berjalan ke kamar mandi. Ketika ia menatap bayangannya di cermin, ia melihat seorang perempuan asing. Matanya sembab, wajahnya pucat, tapi di balik semua itu, ada kekosongan yang mengerikan. Ia membasuh wajahnya, mencoba menyadarkan diri. Ia harus kuat. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi ia tahu satu hal: ia tidak bisa terus seperti ini.
Ia keluar dari kamar mandi, lalu berjalan ke lemari. Ia membuka pintu lemari Dirgantara, hanya untuk memastikan. Di sana, di antara kemeja-kemeja rapi dan jas, ia menemukan sebuah kotak kecil. Kotak yang ia kenal. Kotak tempat ia menyimpan berbagai macam perhiasan pemberian Dirgantara. Ia membukanya. Di dalamnya, selain cincin pernikahannya, ia melihat ada sebuah cincin lain. Cincin berlian yang lebih kecil, dengan ukiran inisial R. Nindya menutup kotak itu perlahan. Di luar jendela, suara klakson taksi online terdengar memanggil. Nindya menatap pintu apartemen. Entah siapa yang memanggil taksi itu. Dirgantara? Atau dirinya sendiri? Ia hanya berdiri di sana, ragu untuk melangkah. Pagi itu, senyum tak pernah terbit di wajahnya.
