Cerita Rumah Tangga: Dompet Suami Tertinggal, Bukti Pengkhianatan Terbesar Malah Muncul dari Tas Kosmetik Istri

Cerita Rumah Tangga: Dompet Suami Tertinggal, Bukti Pengkhianatan Terbesar Malah Muncul dari Tas Kosmetik Istri

CERITA PENDEK

Cerita Rumah Tangga: Dompet Suami Tertinggal, Bukti Pengkhianatan Terbesar Malah Muncul dari Tas Kosmetik Istri

Babak 1 — Senyum Pahit Nindya di Pagi yang Sibuk

Suara dering ponsel di meja nakas menyentak Nindya dari tidurnya. Jam digital menunjukkan pukul 05.30 pagi. Terasa asing. Suaminya, Pradipta, biasanya sudah bangun lebih dulu, menyiapkan sarapan sederhana sebelum ia beranjak dari ranjang.

Dengan gerakan yang masih sedikit kaku karena semalam ia tidur dalam posisi canggung, Nindya meraih ponselnya. Layar menampilkan nama ‘Pradipta’. Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat. Biasanya, Pradipta mengirim pesan singkat jika ada perubahan jadwal mendadak, bukan menelepon sepagi ini.

“Halo?” jawab Nindya, suaranya masih serak. Ia menarik selimut hingga menutupi lehernya, merasa sedikit rentan.

“Pagi, Mbak Nindya. Maaf mengganggu sepagi ini,” suara lembut dari seberang telepon terasa asing. Bukan suara Pradipta. Nindya mengerutkan dahi.

“Ini siapa ya?” tanyanya, mulai merasakan gelombang kecemasan menjalari tubuhnya. Jari lainnya sudah otomatis membuka aplikasi pesan singkat, mencari nama suaminya, mencoba memastikan itu bukan sebuah lelucon.

“Saya Rini, Mbak. Dari rumah sakit tempat Pak Pradipta dirawat semalam. Ada barang beliau yang tertinggal di sini, di kamar perawatan. Katanya tadi pagi mau diambil sama Mbak.”

Perawatan? Semalam? Nindya terdiam. Pradipta tidak pernah bilang akan masuk rumah sakit. Tadi malam ia pulang larut, beralasan ada rapat mendadak yang tak bisa ditinggal. Nindya hanya mengangguk lemah, terlalu kaget untuk berkata-kata.

“Bisa Mbak ke sini sekarang? Kami sudah mau berganti sif,” lanjut Rini. Suara itu terdengar tergesa-gesa, namun tetap sopan.

“Iya, Mbak Rini. Saya… saya segera ke sana. Terima kasih infonya.” Nindya mematikan sambungan telepon. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar. Rapat mendadak? Semalam ia bahkan tidak melihat Pradipta pulang. Hanya ada aroma kopi yang belum sepenuhnya hilang dari udara kamar. Entah mengapa, pagi ini, kopi itu terasa pahit.

Ia beranjak dari tempat tidur, melangkah menuju lemari pakaian. Tangannya gemetar saat memilih blus polos berwarna biru laut. Pagi ini terasa seperti kemarin, namun dengan firasat yang berbeda, jauh lebih mencekam. Ia harus segera mengantar tas kerja Pradipta ke rumah sakit. Ia harus memastikan suaminya baik-baik saja. Di tengah kegundahannya, ia menyadari ada sesuatu yang kurang. Dompet Pradipta. Biasanya, dompet kulit coklat itu selalu terselip di saku celana kerjanya, atau tergeletak di meja dekat kunci mobil. Tapi pagi ini, nihil.

“Ke mana sih dompetnya?” gumam Nindya, mulai memeriksa area meja kerja Pradipta yang rapi. Ia teringat tas kerja suaminya yang tergeletak di sofa ruang tamu. Mungkin tertinggal di sana.

Saat ia meraih tas kerja Pradipta, sesuatu yang aneh menarik perhatiannya. Sebuah amplop kecil berwarna putih, terselip di antara buku agenda dan beberapa berkas. Amplop itu tidak berpenutup perekat, melainkan dilipat rapi. Di atasnya tertera sebuah nama yang ditulis dengan pulpen hitam, elegan dan sedikit miring: ‘Untuk Suamiku Tercinta’.

Jantung Nindya berdetak kencang. Surat cinta? Dari siapa? Siapa yang berani memberinya surat cinta untuk suaminya? Tangannya mulai terasa dingin saat meraih amplop itu. Ia ragu. Membukanya terasa seperti melanggar batas, tapi firasat buruk yang tadi pagi mulai berputar lebih kencang di kepalanya.

Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Mungkin ini hanya surat dari kolega, ucapan selamat atas pencapaian Pradipta. Namun, tulisan tangan itu terlalu personal. Dengan gerakan lambat, ia membuka lipatan amplop. Di dalamnya, bukan surat panjang, melainkan selembar kartu nama dan sebuah foto kecil yang terlipat.

Saat ia membuka lipatan foto itu, dunianya serasa berhenti berputar. Wajahnya memucat seketika. Foto itu menampilkan Pradipta, suaminya, sedang tersenyum bahagia. Di sebelahnya, seorang wanita asing berambut panjang sebahu, matanya berbinar menatap Pradipta. Mereka berdua terlihat begitu dekat, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Di kartu nama itu, tertera nama ‘Karin’ dan sebuah nomor telepon. Di bawahnya, tertulis jabatan yang membuat Nindya ingin menjerit: ‘Manajer Pemasaran’.

Wanita itu… manager pemasaran. Pradipta sering bercerita tentang tim pemasarannya yang dinamis. Apakah Karin salah satunya? Tatapan mata wanita itu pada Pradipta… Nindya mengenali tatapan itu. Tatapan yang dulu ia berikan pada Pradipta saat mereka pertama kali jatuh cinta.


Babak 2 — Tas Kosmetik yang Menjadi Saksi Bisu

Nindya merasa dunianya runtuh. Foto itu, kartu nama itu, semuanya terasa seperti mimpi buruk yang nyata. Ia duduk terpaku di sofa ruang tamu, foto itu masih tergenggam erat di tangannya yang dingin. Suara klakson mobil di luar jendela membuatnya tersentak.

“Mbak Nindya! Saya Rini, dari rumah sakit. Pak Pradipta sudah siap diantar pulang. Barang beliau yang tertinggal juga sudah saya bawa.” Suara Rini terdengar lagi, kali ini dari interkom.

Nindya mencoba mengatur napasnya. Ia tidak bisa menunjukkan kelemahan ini di depan suaminya. Ia meletakkan foto dan kartu nama itu kembali ke dalam amplop, lalu menyelipkannya ke dalam saku celana jinsnya, merasakan benda itu seperti bara api yang membakar kulitnya.

Ia keluar dari rumah, berpapasan dengan Rini yang sedang menggendong sebuah tas kerja. “Terima kasih banyak, Mbak Rini. Saya sangat terbantu,” ucap Nindya, berusaha tersenyum meski rasanya bibirnya kaku.

Pradipta terlihat sedikit pucat saat keluar dari mobil. Ia tersenyum pada Nindya, senyum yang tampak lelah. “Maaf ya, Sayang. Semalam tiba-tiba saja perutku sakit sekali. Dokter bilang radang usus buntu. Harus segera dioperasi.”

Nindya hanya mengangguk, mencoba menelan rasa pahit yang kembali naik ke tenggorokannya. Radang usus buntu? Tapi foto itu… tatapan wanita itu… “Kamu yakin cuma itu, Mas?” tanyanya, suaranya terdengar lebih serak dari yang ia inginkan.

Pradipta mengerutkan kening. “Maksudmu apa, Sayang? Kamu baik-baik saja? Kelihatan pucat.” Ia mencoba meraih tangan Nindya, tapi Nindya menarik tangannya perlahan.

“Nggak apa-apa. Mungkin aku kaget saja dengar kamu masuk rumah sakit. Ayo, masuk.” Nindya mengalihkan pembicaraan, membimbing Pradipta masuk ke dalam rumah. Ia berusaha keras menjaga ekspresinya tetap datar.

Setelah memastikan Pradipta berbaring nyaman di kamar, Nindya masuk ke kamar mandi. Ia menyandarkan tubuhnya ke pintu yang tertutup, memejamkan mata. Rasa sesak memenuhi dadanya. Ia perlu waktu. Ia perlu memahami apa yang terjadi.

Tangannya merogoh saku celana jinsnya, mengeluarkan amplop putih itu lagi. Ia menatap foto Pradipta dan Karin berulang kali. Kenapa? Kenapa suaminya melakukan ini padanya? Mereka sudah menikah lima tahun. Lima tahun yang ia kira penuh cinta dan kepercayaan. Lima tahun yang ia bangun dengan susah payah.

Nindya teringat percakapan semalam. Pradipta pulang larut, dengan alasan rapat. Ia bahkan tidak menatap mata Nindya saat sarapan pagi ini. Ia bilang sakit perut. Tapi foto itu adalah bukti yang tak terbantahkan.

Ia mengambil ponselnya, jarinya melayang di atas nama ‘Karin’. Haruskah ia menghubunginya? Menuntut penjelasan? Tapi ia tidak punya cukup bukti. Hanya foto yang bisa saja hasil editan, atau diambil dari konteks yang salah.

Nindya membuka aplikasi Gojek, berniat memesan kopi dari kafe favoritnya di Kemang. Tapi jemarinya justru mengetik nama ‘Karin’ di kolom pencarian kontak. Ia membatalkan niatnya. Perlu sesuatu yang lebih konkrit. Sesuatu yang tidak bisa dibantah.

Tiba-tiba, matanya menangkap bayangan di cermin kamar mandi. Di atas wastafel, tergeletak tas kosmetik Pradipta. Nindya tidak pernah menyentuh tas itu. Itu adalah tas kecil yang ia belikan sebagai hadiah ulang tahun Pradipta tahun lalu, tas yang biasanya ia gunakan untuk menyimpan perlengkapan pribadinya saat bepergian singkat.

‘Untuk Suamiku Tercinta’. Surat cinta itu. Jika surat itu ada di tas kerja Pradipta, lalu siapa yang menaruhnya di sana? Dan kenapa Pradipta membiarkannya?

Nindya bangkit, berjalan menuju wastafel. Ia menatap tas kosmetik Pradipta. Bentuknya ramping, terbuat dari kulit hitam mengkilap. Nindya tidak pernah tahu isinya. Ia membuka resletingnya perlahan. Di dalamnya, terdapat beberapa barang pribadi Pradipta: dompetnya, charger ponsel cadangan, dan beberapa vitamin. Semuanya tampak normal.

Namun, di sudut tas, tersembunyi di bawah lapisan kain, Nindya menemukan sesuatu yang tidak terduga. Sebuah tisu kecil. Ketika ia membukanya, ia menemukan bekas lipstik berwarna merah ceri. Warna lipstik yang sangat khas, warna yang ia tahu persis siapa pemiliknya. Warna lipstik yang sama seperti yang pernah ia lihat di bibir Karin saat pertemuan kantor beberapa bulan lalu. Lipstik itu bukan miliknya.


Babak 3 — Perjalanan Balik di Tengah Badai Pikiran

Napas Nindya tercekat. Lipstik merah ceri. Warna itu sangat familiar. Ia ingat jelas melihatnya di bibir Karin, wanita di foto itu, saat acara gathering perusahaan Pradipta bulan lalu. Waktu itu, Nindya mencoba mengabaikan perasaan tidak nyaman yang muncul melihat kedekatan Karin dan Pradipta. Ia meyakinkan diri bahwa itu hanyalah profesionalisme. Tapi bekas lipstik ini… ini bukti yang lebih kuat dari sekadar perasaan.

Nindya memungut tisu itu, jemarinya gemetar. Ia mencoba mengingat detail pertemuan itu. Karin terlihat sangat antusias, terus menerus berada di dekat Pradipta, menawarkan minum, tertawa lepas pada setiap lelucon suaminya. Nindya saat itu merasa seperti orang asing di tengah keramaian, mencoba tersenyum dan mengobrol dengan kolega Pradipta lainnya, sementara hatinya terasa dingin.

“Mas… jadi selama ini…” bisiknya pada diri sendiri. Ia merasa seperti sedang berjalan di atas es tipis. Setiap langkah yang ia ambil bisa membuatnya jatuh ke dalam jurang kehancuran.

Ia memutuskan untuk tidak langsung mengonfrontasi Pradipta. Suaminya baru saja keluar dari rumah sakit, ia sedang dalam masa pemulihan. Nindya merasa, jika ia menyerangnya sekarang, itu akan terlihat seperti Nindya yang jahat. Tapi, ia juga tidak bisa membiarkan ini begitu saja.

Ia kembali ke ruang tamu, duduk di hadapan Pradipta yang sedang membaca berita di tabletnya. Suasana terasa canggung. Nindya mencoba menyusun kata-kata.

“Mas,” panggil Nindya lembut. Pradipta mendongak, tatapannya datar. “Tadi pagi, aku nemu… nemu sesuatu di tas kerjamu.” Ia sengaja tidak menyebutkan foto atau amplopnya.

Pradipta tampak sedikit kaget. “Apa itu, Sayang?”

“Sebuah amplop. Isinya… foto Mas sama seorang wanita. Dan kartu nama.” Nindya menatap mata suaminya, mencari tanda-tanda penyesalan atau kebohongan. Tapi tatapan Pradipta tetap tenang, hampir seperti tidak terjadi apa-apa.

“Oh, itu…” Pradipta sedikit tersenyum, senyum yang Nindya tidak bisa artikan. “Itu dari Karin. Dia itu manajer pemasaran baru. Semalam dia antar aku ke rumah sakit. Katanya dia mau kasih aku semangat. Cuma teman kok, Sayang. Kamu jangan salah paham.”

Teman? Tapi foto itu… kedekatan mereka di foto itu… dan lipstik di tas kosmetik Pradipta? Nindya merasa otaknya berputar tak karuan. Penjelasan Pradipta terdengar begitu meyakinkan, namun hati Nindya menolak untuk percaya begitu saja. Terlalu banyak kejanggalan.

“Oh, begitu…” Nindya menjawab, suaranya pelan. Ia tidak ingin memperpanjang perdebatan saat ini. Ia perlu bukti yang lebih kuat, bukti yang tidak bisa dibantah oleh Pradipta.

Sore harinya, Nindya pamit pada Pradipta untuk pergi ke supermarket membeli bahan makanan. Ia sebenarnya berniat pergi ke kantor Pradipta, atau mencari informasi tentang Karin. Tapi, ia ingin memastikanPradipta tidak curiga.

Di perjalanan, Nindya mengarahkan mobilnya ke daerah pusat bisnis Jakarta. Ia tahu dari kartu nama itu, kantor Pradipta berada di salah satu gedung pencakar langit di bilangan Sudirman. Ia memarkir mobilnya beberapa blok dari gedung itu, lalu berjalan kaki.

Ia berdiri di seberang gedung, mengamati lalu lalang karyawan. Jantungnya berdebar kencang. Ia tidak tahu harus mulai dari mana. Ia melihat jam tangannya. Pukul 16.00. Jam pulang kerja. Ia melihat keluar masuk orang dari gedung itu, mencari wajah yang mirip dengan wanita di foto.

Tiba-tiba, ia melihatnya. Seorang wanita berambut sebahu, mengenakan blus berwarna krem, keluar dari lobi gedung. Nindya yakin, itu Karin. Wanita itu berjalan cepat, tampaknya sedang terburu-buru. Nindya mencoba mengikutinya, menjaga jarak agar tidak terlihat.

Karin masuk ke sebuah kafe yang ramai, kafe dengan logo bintang berwarna hijau. Nindya mengikutinya dari belakang, mencari tempat duduk yang agak tersembunyi. Ia memesan es teh jumbo, lalu mengamati Karin dari kejauhan. Karin sedang berbicara di telepon, suaranya terdengar pelan, tapi Nindya bisa melihat raut wajahnya yang serius.

“Iya, Pak… Saya sudah siapkan laporannya… Beliau bilang besok pagi… Oh, tentang itu… Saya rasa aman… Tidak ada yang mencurigai…” Kata-kata Karin terdengar samar-samar di telinga Nindya. Aman? Mencurigai? Laporan apa?

Saat Karin selesai menelepon, ia meraih tas tangannya. Nindya memperhatikan dengan seksama. Tas tangan Karin tampak mirip dengan tas kosmetik yang ia berikan pada Pradipta. Jantung Nindya berdetak lebih cepat. Apakah itu tas yang sama? Nindya memesan kopi lagi, lalu diam-diam mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto diam-diam dari Karin yang sedang memegang tasnya. Ia perlu perbandingan.


Babak 4 — Konfrontasi Tanpa Suara

Nindya kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk. Ia memegang erat ponselnya, foto Karin yang sedang memegang tas tangan itu tersimpan rapi di galerinya. Perasaan tidak tenang semakin mencekiknya. Ia melihat Pradipta masih berbaring di kamar, matanya terpejam. Tapi Nindya tahu, suaminya itu tidak benar-benar tidur. Ia bisa merasakannya.

Ia masuk ke kamar mandi, menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya lelah, matanya sembab karena menahan tangis. Tapi ia tidak akan menangis. Belum. Ia perlu menuntut kebenaran.

Ia keluar dari kamar mandi, lalu berjalan ke arah Pradipta. Ia duduk di tepi ranjang, perlahan membelai rambut suaminya. Pradipta membuka matanya perlahan, menatap Nindya. Ada sedikit keterkejutan di matanya melihat Nindya begitu dekat dengannya.

“Mas,” ucap Nindya pelan. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan foto Karin yang sedang memegang tas tangan.

“Ini… ini tas yang aku berikan ke Mas, kan?” tanyanya, suaranya sedikit bergetar. “Terus… di dompet Mas… aku juga menemukan… lipstik merah ceri.”

Pradipta terdiam. Ia menatap Nindya, lalu menatap layar ponselnya. Wajahnya perlahan memucat. Keheningan di kamar itu terasa begitu menyesakkan. Suara detak jam dinding terdengar begitu keras.

“Kamu… kamu menemukan itu?” suara Pradipta terdengar lemah. Ia mencoba bangkit, namun Nindya menahannya.

“Jawab aku, Mas. Siapa Karin sebenarnya?” desak Nindya, menahan air matanya agar tidak jatuh.

Pradipta menunduk, tidak berani menatap mata istrinya. “Karin… dia itu… sebenarnya…” Ia berhenti sejenak, seperti sedang mencari kata-kata yang tepat. “Dia itu… yang selama ini aku temui saat bilang lembur.”

Kata-kata itu menghantam Nindya seperti palu godam. Jadi, selama ini, semua lembur, semua rapat mendadak, semua alasan yang diberikan Pradipta adalah kebohongan. Ia tidak sedang bekerja keras untuk masa depan mereka, ia sedang menghabiskan waktunya dengan wanita lain.

“Jadi… yang kamu bilang sakit perut semalam… itu sebenarnya…?” Nindya tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

Pradipta mengangguk pelan. “Aku… aku tidak bisa bohong lagi.” Ia akhirnya mengangkat wajahnya, tatapannya penuh penyesalan. “Semalam, aku memang ke rumah sakit. Tapi bukan karena sakit perut. Aku… aku bertengkar dengan Karin. Dia mengancam akan membongkar semuanya. Aku panik. Aku bilang ke dia, aku akan akhiri semuanya kalau dia terus mengancamku. Aku tidak mau kamu terluka. Makanya aku ke rumah sakit. Tapi aku tidak bilang padamu karena… karena aku malu.”

Nindya merasakan dunianya berputar. Pertengkaran? Ancaman? Membongkar apa? “Membongkar apa, Mas? Apa yang sebenarnya terjadi?”

Pradipta menarik napas dalam. “Aku… aku punya hutang, Nindya. Sangat besar. Hutang ke rentenir. Karin… dia menawarkan bantuan. Dia punya akses ke dana gelap perusahaan. Aku mengambilnya. Tapi sekarang aku tidak bisa membayarnya. Dan Karin… dia ternyata punya niat lain. Dia ingin semua yang aku punya. Termasuk… kamu.”

Nindya terdiam. Hutang? Dana gelap? Niat Karin? Semuanya begitu membingungkan, begitu mengerikan. Ia merasa seperti sedang terjebak dalam sebuah adegan film thriller.

“Tapi kenapa… kenapa aku yang menemukan bukti itu di tas kosmetikku? Dan surat cinta itu… di tas kerjamu?” tanya Nindya, mencoba mengurai benang kusut ini.

Pradipta menelan ludah. “Semalam… setelah pertengkaran kami… aku ingin memberikanmu sesuatu sebagai tanda maaf, untuk meyakinkanmu bahwa aku masih mencintaimu. Aku menulis surat itu. Dan aku memasukkannya ke dalam tas kerjaku bersama foto kami berdua. Aku juga memasukkan lipstik milik Karin ke dalam tas kosmetikku, berharap kamu tidak akan pernah menemukannya. Aku ingin menghancurkannya. Tapi aku tidak tahu… bagaimana kamu bisa menemukannya.”

Nindya merasa jantungnya berhenti berdetak. Semuanya berbalik tak terduga. Surat cinta itu… itu ditulis untuknya? Tapi mengapa di tas kerja Pradipta? Dan lipstik itu… ia sengaja menaruhnya di sana? Kebohongan itu berlapis-lapis, semakin dalam dan semakin rumit.


Babak 5 — Bayangan Masa Depan yang Tak Pasti

Nindya menatap Pradipta, matanya berkaca-kaca. Ia tidak tahu harus merasakan apa. Marah? Kecewa? Bingung? Semuanya bercampur aduk menjadi satu. Pradipta tidak hanya berselingkuh, tetapi ia juga terlibat hutang besar dan berurusan dengan orang yang berbahaya. Dan ia telah berbohong padanya selama ini, menggunakan Nindya sebagai tameng untuk menutupi perbuatannya.

“Jadi… semua ini… adalah rencana Karin?” tanya Nindya lirih. “Dia ingin menghancurkan kita?”

Pradipta mengangguk lemah. “Aku rasa… dia ingin menguasai perusahaan. Dan aku… aku hanya pion baginya. Dia punya bukti-bukti keuangan yang bisa menjebloskan aku ke penjara, Nindya. Aku takut.” Suaranya bergetar.

Nindya menjauh dari Pradipta, bangkit dan berjalan menuju jendela. Ia melihat ke luar, ke arah jalanan yang ramai. Kehidupan di luar sana terus berjalan normal, tidak menyadari badai yang sedang melanda rumah tangganya. Es teh jumbo yang tadi ia beli di kafe itu masih berdiri manis di atas meja ruang tamu, kini sudah mencair dan terasa hambar.

Ia memikirkan ancaman Karin. Membongkar apa? Hutang itu? Atau sesuatu yang lebih pribadi? Nindya merasa seperti berdiri di tepi jurang, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah Pradipta akan dipenjara? Apakah rumah tangga mereka akan benar-benar hancur?

“Aku… aku tidak tahu harus bagaimana, Mas,” ucap Nindya, suaranya hampir tidak terdengar. Ia merasa lelah. Lelah dengan kebohongan, lelah dengan pengkhianatan, lelah dengan ketakutan.

Pradipta mencoba meraih tangannya lagi, kali ini Nindya tidak menepisnya. Ia membiarkan tangan suaminya menggenggamnya, merasakan kehangatan yang terasa asing. “Nindya, tolong… bantu aku. Aku akan serahkan semuanya pada polisi. Aku akan bicara jujur. Tapi aku mohon… jangan tinggalkan aku.”

Nindya menarik tangannya perlahan. Ia tidak bisa memberikan jawaban sekarang. Ia perlu waktu. Waktu untuk memproses semua informasi ini, waktu untuk memikirkan masa depannya. Apakah ia bisa memaafkan Pradipta? Apakah ia bisa mempercayainya lagi? Dan apa yang akan dilakukan Karin selanjutnya?

Ia teringat pada nomor telepon di kartu nama Karin. Ia teringat pada tumpukan berkas yang disebut Karin dalam percakapannya. Apakah ada cara untuk melawan Karin? Menyelamatkan Pradipta dan dirinya sendiri?

Nindya melirik kembali ke arah Pradipta. Wajah suaminya dipenuhi keputusasaan. Ia tahu, keputusan ada di tangannya. Menerima Pradipta kembali dan menghadapi bahaya bersama, atau meninggalkannya dan memulai hidup baru yang entah akan seaman apa. Ia tidak punya jawaban pasti.

Ia meraih tas tangannya, lalu mengambil kunci mobil. “Aku… aku perlu udara segar,” katanya, suaranya datar. Ia tidak melihat ke arah Pradipta saat ia melangkah keluar dari rumah. Langkah kakinya terasa berat, seolah setiap jejak yang ia tinggalkan adalah beban yang harus ia pikul. Masa depan rumah tangganya, seperti kabut tebal yang menyelimuti jalanan Jakarta sore itu, terasa begitu tidak pasti dan gelap.