Cerita Pengkhianatan: Dompet Suami Ternyata Menyimpan Kunci Kehancuran Rumah Tanggaku
Babak 1 — Sepucuk Kertas Usang di Dompet
Gendis menunduk, jemarinya sibuk merapikan tumpukan struk kasir di meja ruang makan. Sore itu Jakarta terasa lengket, gerah yang konstan membuat AC di apartemen harus bekerja ekstra keras. Suaminya, Wibisono, baru saja pulang dari kantor. Aroma kopi dan parfum maskulin yang familiar masih menguar di udara, tanda bahwa ia baru saja berganti pakaian. Ia biasanya akan langsung menuju kamar untuk mengganti kemeja kerjanya dengan kaos santai, namun kali ini, Wibisono justru meminta Gendis mengambilkan dompet kulitnya yang tertinggal di sofa ruang tamu. ‘Kayaknya ada kartu nama penting deh di situ, Nis,’ ucapnya seraya menepuk-nepuk pundak Gendis, sebuah gestur yang selalu membuat Gendis merasa aman, merasa dicintai. ‘Ambilin ya, lagi butuh banget nih.’
Gendis bangkit, menuju sofa empuk berwarna abu-abu yang sering jadi tempat Wibisono melepas lelah. Ia merogoh saku celana panjang kantor suaminya yang terlipat rapi di sandaran sofa. Jemarinya meraba-raba, mencari kantung dompet yang terasa sedikit menggembung. Tiba-tiba, sebuah benda kecil, terasa seperti kertas yang dilipat rapat, menyangkut di jari manisnya. Bukan kartu nama. Bentuknya persegi, agak tebal, dan terasa sedikit kaku. Rasa penasaran menggelitiknya. Ia menarik benda itu keluar, membuka lipatannya perlahan.
Bukan kartu nama. Juga bukan catatan penting. Itu adalah selembar foto. Bukan foto dirinya, bukan foto keluarga. Foto seorang wanita muda, tersenyum tipis, latar belakangnya seperti sebuah kafe dengan pencahayaan temaram. Seketika, tawa kecil Gendis yang biasanya renyah, berubah menjadi tawa tertahan yang aneh. Siapa wanita ini? Wajahnya bukan familiar, tapi ada sesuatu yang terasa… dekat? Matanya membesar, berusaha mengenali detail di foto itu. Terlalu buram. Jantungnya mulai berdebar lebih cepat, bukan karena debaran cinta, tapi debaran kecemasan yang merayap.
‘Ketemu, Mas?’ suara Wibisono dari ambang pintu kamar, memecah lamunan Gendis. Ia refleks memasukkan foto itu kembali ke dalam lipatan kertas, lalu merogoh saku yang sama lagi, mengeluarkan dompet kulit hitam legam yang sudah sedikit usang namun terawat baik. Ia menyerahkannya pada Wibisono.
‘Ini, Mas. Tadi saya nggak sengaja nemu ini di kantong,’ Gendis mencoba bersikap santai, tangannya sedikit gemetar saat menyerahkan dompet itu. Ia berusaha keras mengendalikan ekspresi wajahnya. Jangan sampai Wibisono curiga. Ia bahkan tak sadar dirinya telah menggigit bibir bawahnya sendiri. Itu kebiasaan lamanya saat merasa cemas. Kebiasaan yang sudah lama ia tinggalkan, kini kembali muncul tanpa ia sadari. Wibisono hanya melirik sekilas, mengambil foto itu, melipatnya kembali dengan rapi, dan memasukkannya ke dalam salah satu sekat dompetnya. ‘Oh iya, ini. Kebetulan nemu. Makasih ya, Nis.’ Ia lalu bergegas masuk ke kamar.
Gendis berdiri terpaku di tempatnya, tangannya masih terasa dingin. Kopi yang baru saja ia tuang tadi, kini tergeletak di meja, uapnya perlahan menghilang bersama kehangatan sore yang mulai memudar. Ia menatap punggung suaminya yang menjauh, lalu menoleh ke arah dompet kulit yang kini ada di genggaman Wibisono. Di dalamnya, tersembunyi sesuatu. Sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya.
Babak 2 — Jejak Digital yang Tersembunyi
Malam itu, Gendis tak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, bayangan senyum tipis wanita di foto itu kembali muncul. Siapa dia? Kenapa Wibisono menyimpan fotonya di dompet? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti di kepalanya, menciptakan pusaran kecemasan yang semakin dalam. Ia melirik suaminya yang tertidur pulas di sebelahnya. Napas Wibisono teratur, tenang. Seolah tak ada beban. Seolah tak ada rahasia yang ia simpan.
Gendis bangkit perlahan, takut membangunkan Wibisono. Ia keluar kamar, menuju ruang kerja Wibisono yang jarang terpakai. Gelap. Ia menyalakan lampu meja, membiarkan cahaya temaram menerangi ruangan. Otaknya bekerja cepat. Ia harus mencari tahu. Tapi bagaimana? Ia tak punya bukti apa-apa selain foto itu, yang kini sudah ia simpan kembali di dalam dompetnya sendiri, terselip di antara kartu-kartu identitasnya. Ia tak mungkin langsung bertanya pada Wibisono. Ia tahu suaminya akan berkelit, akan menenangkan, dan mungkin akan membuatnya merasa bersalah karena curiga.
Tiba-tiba, matanya tertuju pada laptop Wibisono yang tergeletak di meja, layarnya mati. Sebuah ide terlintas. Mungkin ada jejak digital di sana. Dengan tangan gemetar, ia menyalakan laptop itu. Wibisono tidak pernah mengunci laptopnya. Ia selalu percaya pada Gendis. Kepercayaan itu kini terasa seperti beban. Ia membuka browser, mencoba mengingat-ingat aplikasi apa saja yang sering Wibisono gunakan untuk berkomunikasi. WhatsApp Web? Telegram? Instagram?
Ia mencoba membuka Instagram terlebih dahulu. Setelah beberapa kali mencoba kata sandi yang biasa Wibisono pakai, akhirnya akun suaminya terbuka. Jantungnya berdebar kencang. Ia scroll feed, story, semuanya terlihat normal. Foto-foto kantor, foto acara keluarga, foto liburan mereka berdua. Tapi ia mencari sesuatu yang lebih dalam. Ia membuka pesan pribadi. Pula-pulangan tangannya kian terasa dingin.
Tiba-tiba, sebuah nama menarik perhatiannya. Nama yang tak pernah ia dengar sebelumnya. Nama yang diketik dalam format yang aneh, bukan nama asli. Tanda centang dua abu-abu muncul, menandakan pesan telah dibaca. Gendis membuka percakapan itu. Isinya… menyakitkan. Bukan kata-kata cinta yang vulgar, tapi percakapan yang intim, penuh perhatian, dan menyimpan kedekatan yang tak pernah ia rasakan dari suaminya belakangan ini. Ada tanggal dan waktu yang tertera. Sebagian besar terjadi di jam-jam ketika Wibisono bilang ia sedang lembur atau sedang rapat penting.
Ia scroll ke bawah, semakin dalam, semakin banyak percakapan yang terungkap. Ada foto yang sama, wanita yang sama, tapi kali ini lebih jelas. Wanita itu sedang memegang sebuah mug kopi, latar belakangnya adalah sebuah kedai kopi yang familiar di daerah Kemang. Gendis pernah diajak Wibisono ke sana sekali, tapi tidak pernah lagi. Di salah satu percakapan, Wibisono mengirim pesan, ‘Sayang, aku kangen banget. Kapan kita bisa ketemu lagi? Aku janji ini yang terakhir.’ Balasan dari wanita itu hanya berupa sebuah stiker hati berwarna merah.
Gendis menutup laptop itu dengan gerakan cepat, seolah takut ketahuan. Tangannya masih gemetar hebat. Rasa mual naik ke perutnya. Ia merasakan kebingungan yang luar biasa, bercampur dengan rasa sakit yang menusuk. Ini bukan perselingkuhan biasa. Ini adalah kebohongan yang terencana, yang dijalani Wibisono di belakangnya, di bawah kedok kesibukan kantor. Sepucuk foto usang di dompet ternyata hanyalah pintu gerbang menuju sebuah jurang yang lebih dalam.
Babak 3 — Kenangan yang Berubah Warna
Keesokan paginya, Gendis berusaha keras untuk bersikap normal. Sarapan bersama Wibisono terasa seperti pertunjukan sandiwara. Ia tersenyum, menjawab pertanyaan suaminya dengan nada ceria, bahkan menawarkan diri untuk membawakan bekal makan siang. Namun di dalam hatinya, ada jurang yang menganga. Setiap gestur mesra Wibisono, setiap kata perhatian yang terucap, kini terasa hampa, bahkan menjijikkan.
‘Kamu kok diem aja, Nis? Nggak enak badannya?’ tanya Wibisono saat mereka sedang menyantap nasi uduk di meja makan. Suara perhatian itu kini terdengar ironis di telinga Gendis. Ia menggeleng cepat. ‘Nggak kok, Mas. Cuma lagi mikirin kerjaan dikit.’ Bohong. Ia tak memikirkan kerjaan sama sekali. Pikirannya dipenuhi oleh wajah wanita itu, oleh percakapan di Instagram.
Sepulang Wibisono ke kantor, Gendis langsung membuka laptop suaminya lagi. Ia tak bisa berhenti. Ia harus mengumpulkan lebih banyak bukti. Ia membuka lagi percakapan di Instagram, kali ini ia scroll jauh ke atas, mencari percakapan terlama. Tanggalnya… sudah berbulan-bulan yang lalu. Sejak kapan? Ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali ia dan Wibisono benar-benar bicara dari hati ke hati. Sejak kapan perhatian Wibisono mulai terbagi?
Ia teringat sebuah momen tiga bulan lalu. Wibisono pulang terlambat, dengan alasan ada proyek mendadak di luar kota. Ia membawakan Gendis sekotak seblak dari kedai langganan mereka di daerah Senen. Gendis senang bukan kepalang. Ia pikir itu tanda Wibisono masih peduli. Tapi kini, ia menyadari. Alasan Wibisono pulang terlambat itu, mungkin bukan alasan yang sebenarnya.
‘Kamu yakin nggak apa-apa, Nis?’ Wibisono pernah bertanya padanya dua bulan lalu, saat Gendis terlihat murung. Gendis hanya mengangguk, enggan bercerita. Ia tak ingin suaminya tahu bahwa ia merasa kesepian di tengah pernikahan mereka. Ia tak ingin membebani Wibisono. Kini ia menyesal. Seandainya ia berani bicara, mungkin ia tak akan harus merasakan sakit ini.
Ia membuka aplikasi Gojek di ponselnya. Ia mencari nama kedai kopi di Kemang yang sempat ia lihat di percakapan Instagram. Namanya ‘Kopi Senja’. Ia membuka daftar menu, foto-foto kafe itu terpampang di sana. Sangat mirip dengan yang ada di foto yang ia temukan. ‘Ya Tuhan,’ bisiknya lirih. Ia memesan satu Es Teh Jumbo, meskipun ia tidak haus. Hanya untuk merasakan sensasi memesan dari aplikasi yang sama, dari tempat yang mungkin pernah menjadi saksi bisu perselingkuhan suaminya.
Ia membuka galeri foto di laptop Wibisono. Ia mencari foto-foto yang mungkin berhubungan. Dan ia menemukannya. Beberapa foto Wibisono bersama wanita itu. Bukan foto mesra, tapi foto candid. Mereka sedang tertawa bersama di sebuah acara kantor. Di foto lain, Wibisono sedang memberikannya sekuntum bunga mawar merah. Wanita itu tersenyum lebar, terlihat sangat bahagia. Gendis menatap foto itu lama. Hatinya perih. Ia sadar, ini bukan hanya sekadar nafsu sesaat. Ini adalah hubungan yang sudah berjalan jauh.
Babak 4 — Konfrontasi di Kopi Senja
Setelah memikirkan matang-matang, Gendis memutuskan ia harus menghadapi Wibisono. Namun, ia tidak ingin melakukannya di rumah. Ia ingin melakukannya di tempat yang netral, di tempat yang mungkin punya arti bagi mereka berdua. Ia teringat sebuah kafe kecil yang dulu sering ia kunjungi bersama Wibisono di awal pacaran mereka, sebelum rumah tangga mereka dipenuhi kesibukan dan kebohongan. Kafe itu bukan Kopi Senja, tapi tempat itu punya kenangan manis.
Pesan WhatsApp terkirim. ‘Mas, bisa ketemu nanti sore? Di kafe lama kita di Dago. Aku mau ngobrol sebentar.’ Jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya saat menunggu balasan. Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, balasan itu datang. ‘Oke, Nis. Jam 4 ya.’
Sore itu, Gendis tiba lebih dulu. Ia duduk di sudut ruangan, memesan secangkir kopi hangat yang tak tersentuh. Aroma kopi dan musik jazz yang mengalun lembut terasa kontras dengan badai di dalam dirinya. Ia melihat Wibisono masuk, mengenakan kemeja rapi seperti biasa. Wajahnya tampak lelah, tapi senyum tetap tersungging di bibirnya.
‘Nis? Kok tumben ngajak ketemu di sini?’ Wibisono duduk di hadapannya, menarik kursi. Matanya bertanya-tanya, tapi Gendis tak bisa membaca apa yang sebenarnya ia pikirkan. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam.
‘Mas,’ Gendis memulai, suaranya sedikit bergetar. ‘Aku tahu semuanya.’ Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa persiapan. Wibisono terdiam. Senyum di wajahnya perlahan memudar. Ia mengerutkan kening, tampak bingung, tapi Gendis bisa melihat ada kilat ketakutan di matanya.
‘Tahu apa, Nis?’ tanyanya, suaranya kini sedikit menegang. Gendis mengeluarkan ponselnya, membuka galeri foto, dan menunjukkan foto Wibisono bersama wanita itu. Wajahnya pucat. Gendis tak perlu bertanya lagi. Wajah Wibisono sudah menjawab semuanya.
‘Mas… selama ini… aku pikir aku salah. Aku pikir aku terlalu curiga. Tapi ternyata… kamu memang…’ Gendis tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia menunduk, tak sanggup menatap suaminya.
Wibisono terdiam sejenak. Ia meraih tangan Gendis, tapi Gendis menariknya. ‘Jangan sentuh aku!’ ucapnya tegas. Wibisono menatapnya, ekspresinya campur aduk. Ada penyesalan, ada rasa bersalah, tapi juga… ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tak bisa Gendis artikan. ‘Nis, aku bisa jelasin…’
‘Jelasin apa, Mas? Kamu udah ngasih aku struk belanja bareng dia, kamu udah ngasih aku foto kalian, kamu udah ngasih aku semua bukti yang aku butuhkan. Penjelasan apa lagi yang kamu punya?’ Gendis mengangkat wajahnya, menatap Wibisono langsung. Di matanya kini bukan hanya kesedihan, tapi juga kemarahan yang tertahan. Wibisono tampak salah tingkah. Ia menunduk, lalu menatap ke arah jendela, seolah mencari jawaban di luar sana.
‘Aku… aku nggak nyangka kamu bakal tahu,’ suara Wibisono lirih. ‘Aku pikir… aku bisa jaga semuanya.’ Ia tertawa kecil, tawa yang hampa, yang membuat Gendis semakin merinding. Tawa orang yang terjebak dalam kebohongannya sendiri.
Babak 5 — Bayangan di Ambang Pintu
Gendis meninggalkan kafe itu dengan perasaan hampa. Ia tak memedulikan Wibisono yang masih duduk terpaku di kursinya, terdiam membeku. Ia berjalan keluar, menyusuri trotoar Dago yang ramai, namun ia merasa begitu sendirian. Langit senja mulai berubah warna menjadi jingga keunguan, tapi keindahannya tak bisa menembus kegelapan di hatinya. Kepalanya terasa ringan, pikirannya kosong. Semua yang ia yakini tentang rumah tangganya, tentang Wibisono, telah runtuh berkeping-keping.
Ia sampai di apartemen. Pintu terbuka. Wibisono ternyata sudah pulang lebih dulu. Ia berdiri di ambang pintu kamar tidur, tampak tidak yakin untuk masuk. Gendis melewatinya begitu saja, tanpa kata, menuju kamar mandi. Ia mengunci pintu, lalu bersandar di sana, memejamkan mata. Ia tak ingin menangis lagi. Ia sudah terlalu banyak menangis akhir-akhir ini.
Ponselnya berdering. Sebuah nomor tak dikenal. Gendis ragu untuk mengangkatnya. Tapi ada dorongan aneh yang membuatnya akhirnya menekan tombol hijau. ‘Halo?’ ucapnya lemah.
‘Halo… apa ini benar dengan Ibu Gendis?’ Suara di seberang terdengar ragu, agak serak. ‘Saya… saya Ibu dari wanita yang… yang sering bersama Bapak Wibisono.’
Gendis terdiam. Jantungnya kembali berdebar kencang, tapi kali ini dengan rasa ingin tahu yang dingin. Ibu dari wanita itu? Maksudnya… ibu dari selingkuhannya Wibisono?
‘Ibu… Ibu tahu dari mana nomor saya?’ tanya Gendis, suaranya tercekat.
‘Anak saya… dia tidak bahagia, Bu. Dia bilang dia mau mengakhiri semuanya. Dia bilang… dia tidak kuat lagi. Dia memberikan nomor Ibu padaku. Dia bilang… kalau ada apa-apa… Ibu harus tahu.’ Suara di seberang mulai terdengar parau, menahan tangis. ‘Saya… saya cuma mau bilang… anak saya… dia juga korban, Bu. Kami sama-sama punya cerita yang menyakitkan.’
Gendis mencengkeram ponselnya erat-erat. Korban? Sama-sama punya cerita menyakitkan? Kata-kata itu menggema di telinganya. Ia membuka pintu kamar mandi perlahan, melongok ke arah ruang tamu. Wibisono masih berdiri di sana, memunggungi Gendis, menatap kosong ke luar jendela. Punggungnya terlihat begitu rapuh. Ia teringat senyum Wibisono tadi sore, senyum yang dipaksakan, senyum yang penuh kebingungan.
Ponsel di tangannya terasa berat. Siapa sebenarnya yang menjadi korban di sini? Siapa yang harus disalahkan? Dan apa arti kalimat ibu wanita itu? Apakah ada sesuatu yang lebih rumit dari sekadar perselingkuhan biasa? Gendis menatap Wibisono, lalu kembali menatap ponselnya. Ia merasa seperti berdiri di persimpangan jalan, di mana setiap pilihan akan membawanya ke arah yang tak terduga. Cerita ini belum berakhir. Misteri baru saja dimulai.
