Cerita Pengkhianatan: Bukti Rekening Bank yang Ditemukan di Saku Jaket Mantan Ini Bikin Hati Hancur Berkeping

Cerita Pengkhianatan: Bukti Rekening Bank yang Ditemukan di Saku Jaket Mantan Ini Bikin Hati Hancur Berkeping

CERITA PENDEK

Cerita Pengkhianatan: Bukti Rekening Bank yang Ditemukan di Saku Jaket Mantan Ini Bikin Hati Hancur Berkeping

Babak 1 — Senja di Kemang dan Jaket yang Tertinggal

Senja di Kemang selalu punya pesona tersendiri bagi Jatmiko. Lampu-lampu jalanan mulai menyala, menciptakan siluet jingga keemasan di antara gedung-gedung tinggi. Malam itu, ia baru saja selesai menikmati seporsi nasi goreng gila di sebuah warung legendaris di kawasan itu, memesannya lewat aplikasi GoFood seperti biasa. Jatmiko melirik jam tangannya, 19.17 WIB. Masih ada waktu sebelum ia harus kembali ke kosnya. Angin malam berembus, sedikit dingin, mengingatkannya untuk menarik jaket bomber hitam yang ia kenakan lebih rapat.

Ia memutar-mutar kunci motornya, memikirkannya. Bukan, bukan soal nasi gorengnya yang super pedas atau macetnya jalanan yang mulai merayap. Pikirannya tertuju pada Rengganis. Mantannya. Hubungan mereka baru saja berakhir sebulan lalu, dipicu oleh perdebatan tak berujung yang Jatmiko sendiri pun sudah lupa detailnya. Ia hanya ingat perasaannya yang hampa, seperti kekosongan yang ditinggalkan es teh jumbo yang baru saja tandas. Rengganis, dengan segala keunikannya, dengan cara bicaranya yang kadang melantur tapi selalu berhasil membuatnya tersenyum, kini hanya tinggal kenangan yang kadang masih terlintas di benak.

“Eh, Mas Jatmiko?” Sebuah suara memanggil dari arah belakang. Jatmiko menoleh. Ternyata, itu Sarah, teman sekos Rengganis yang kebetulan juga sedang nongkrong di kafe seberang. Wajahnya tampak agak pucat.

“Eh, Mbak Sarah. Iya, Mbak. Kok sendirian?” Jatmiko berusaha tersenyum, meski sedikit terkejut. Ia sudah lama tidak bertemu Sarah sejak putus dengan Rengganis. Kabarnya, Sarah baru saja keluar dari rumah sakit setelah menjalani operasi minor.

“Iya, Mas. Kebetulan aja. Ini lagi nunggu jemputan. Mas mau kemana?” Sarah menatap Jatmiko sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah jalanan yang ramai.

“Pulang, Mbak. Sudah malam,” jawab Jatmiko singkat. Ia merasa sedikit canggung. Interaksi dengannya selalu berkaitan dengan Rengganis. “Kalau gitu, saya duluan ya, Mbak.”

Sarah hanya mengangguk pelan. Jatmiko pun bergegas naik ke motornya. Saat ia hendak menyalakan mesin, ia merasa ada sesuatu yang aneh pada jaketnya. Saku sebelah kiri terasa lebih menggembung dari biasanya. Ia merogohnya. Tangan Jatmiko menyentuh sesuatu yang terasa seperti… dompet? Aneh. Ia tidak pernah menyimpan dompet di saku jaket bombernya. Dompet selalu aman di saku celana.

Dengan sedikit rasa ingin tahu yang bercampur kebingungan, Jatmiko menarik keluar benda tersebut. Bukan dompet. Tapi sebuah buku rekening tabungan BCA. Jantung Jatmiko berdetak sedikit lebih kencang. Sejak kapan ia punya buku rekening baru? Ia yakin ini bukan miliknya. Ukurannya sedikit berbeda, sampulnya terasa lebih tebal dan… ada sedikit noda di sudutnya, seperti bekas tumpahan kopi. Ia membuka halaman pertama. Nama di sana… bukan Jatmiko. Nama yang terpampang jelas adalah ‘Rengganis Citra’. Dan di bawahnya, tertera nomor rekening yang juga bukan nomor rekeningnya. Ternyata, ini jaket Rengganis yang ia pakai kemarin saat mereka bertemu terakhir kali, dan ia lupa mengembalikannya.

Babak 2 — Catatan Kecil yang Menggali Lubang

Jatmiko memarkir motornya di depan kos, tapi ia tidak langsung naik. Kakinya terasa berat melangkah. Jaket bomber hitam itu masih melekat di badannya, terasa seperti membawa beban yang tak kasat mata. Buku rekening BCA yang tergeletak di tangannya kini terasa seperti bom waktu. Ia kembali membukanya, jari-jarinya sedikit gemetar. Transaksi terakhir tercetak tebal, tanggalnya kemarin. Tapi bukan itu yang membuat Jatmiko terdiam membeku. Ada catatan kecil yang terselip di antara halaman-halaman buku rekening itu, ditulis dengan pulpen hitam, sangat rapi, persis seperti tulisan tangan Rengganis.

“Transfer B.R. Rp 5.000.000,- (DP Sewa Apartemen)

Transfer B.R. Rp 10.000.000,- (Cicilan Mobil Jazz)

Transfer B.R. Rp 7.000.000,- (Biaya Nikah?”

Jatmiko membaca ulang kalimat terakhir itu. Berkali-kali. “Biaya Nikah?”. Otaknya seperti korslet. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena senang, tapi karena gelombang aneh yang menyapu dadanya. Ia menatap buku rekening itu lagi, mencoba mencerna apa yang tertulis. Siapa B.R.? Dan biaya nikah? Bersama siapa? Jelas bukan dengannya, hubungan mereka sudah berakhir.

Ia mencoba bersikap logis. Mungkin B.R. itu adalah inisial seseorang yang baru dikenalnya, teman kerjanya, atau seseorang yang sedang ia bantu. Tapi transaksi yang begitu besar? Dana sebesar itu untuk biaya nikah? Dan kenapa harus disembunyikan? Rengganis selalu terbuka padanya, setidaknya itulah yang Jatmiko pikirkan selama ini. Ia membuka ponselnya, membuka galeri. Foto-foto mereka berdua, tertawa bahagia. Foto Rengganis saat merayakan ulang tahunnya tahun lalu, ia memberinya hadiah sebuah jam tangan elegan dari Tokopedia. Semuanya terasa seperti kebohongan besar sekarang.

Ia membuka aplikasi DANA, melihat riwayat transaksinya sendiri. Terakhir ia mengirim uang pada Rengganis adalah saat mereka masih bersama, untuk membantu Rengganis membeli tiket konser. Kini, yang ia lihat hanyalah deretan transaksi untuk keperluan sehari-hari: isi pulsa, bayar tagihan PLN Mobile, beli paket data internet. Tidak ada yang mencurigakan pada rekeningnya. Semuanya normal. Tapi buku rekening ini… catatan ini… mereka berteriak kencang di dalam keheningan malam kosnya yang pengap.

Jatmiko duduk termangu di tepi kasurnya. Ia merasa seperti terjebak dalam adegan film yang tidak pernah ia inginkan. Ia teringat percakapan terakhir mereka. Rengganis menangis, mengatakan bahwa ia tidak sanggup lagi. Jatmiko mengira itu hanya drama biasa dari seorang wanita yang sedang patah hati. Ia tidak pernah berpikir bahwa ada misteri lain yang tersembunyi di balik air mata itu. Ia membalik buku rekening itu lagi, mencari petunjuk. Di halaman belakang, ada sedikit coretan yang hampir terhapus. Tiga huruf: ‘B.R.’.

Babak 3 — Jejak Digital dan Kenangan yang Retak

Keesokan paginya, Jatmiko memutuskan untuk tidak masuk kerja. Pikirannya terlalu kusut. Ia hanya bisa memandangi buku rekening dan catatan kecil itu. Siapa B.R.? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia mencoba mengingat setiap detail percakapan terakhirnya dengan Rengganis. Ada sesuatu yang janggal, tapi ia tidak bisa menangkapnya. Rengganis sering menyebut nama seorang rekan kerjanya di kantor, namanya… Bimo. Tapi apakah Bimo yang dimaksud? Jatmiko tak pernah merasa Bimo memiliki hubungan lebih dari sekadar rekan kerja. Rengganis selalu bilang Bimo adalah tipe ‘mas-mas kantoran’ yang membosankan.

Jatmiko mulai melakukan apa yang paling ia kuasai: menganalisis. Ia membuka ponselnya, membuka aplikasi perpesanan, mencari percakapan terakhirnya dengan Rengganis. Sebagian besar adalah perdebatan. Namun, ada beberapa pesan yang dikirim beberapa minggu sebelum mereka putus. Rengganis bertanya banyak hal tentang finansial, tentang investasi, tentang cara menabung yang efektif. Jatmiko menganggap itu sebagai tanda bahwa Rengganis ingin memperbaiki hubungan mereka, ingin menjadi lebih dewasa dalam mengelola keuangan bersama di masa depan. Ternyata, ia salah besar. Atau setidaknya, ia hanya melihat sebagian kecil dari kebenaran.

Ia membuka akun Instagram Rengganis. Terakhir Rengganis mengunggah foto dua minggu lalu, foto pemandangan pantai. Tidak ada yang aneh. Tapi Jatmiko ingat, Rengganis pernah sekali menyebutkan tentang temannya yang akan pindah ke luar negeri dan ia harus membantunya persiapan. Apakah ‘persiapan’ itu melibatkan dana sebesar itu? Jatmiko mulai merasa mual. Ia teringat sepupunya, yang juga seorang pengacara, pernah bercerita tentang kliennya yang berdalih ‘membantu teman’ padahal sebenarnya sedang menyiapkan mahar.

Jatmiko membuka kembali catatan kecil itu. “DP Apartemen”. Rengganis pernah bercerita bahwa ia sedang menabung untuk membeli apartemen kecil di daerah Jakarta Selatan, dekat dengan kantornya. Tapi ia selalu bilang, ia masih butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkannya. Dan sekarang, ada transfer DP sebesar lima juta rupiah. “Cicilan Mobil Jazz”. Rengganis pernah mengeluhkan betapa mahalnya cicilan mobil. Jatmiko berpikir, mungkin ia sedang membantu Rengganis melunasi hutang mobilnya yang terperangkap dalam sistem cicilan bunga tinggi. Tapi, “Biaya Nikah”? Ini yang paling menghancurkan.

Ia mencoba mengingat lagi, apakah Rengganis pernah menyebut nama ‘Bimo’ dengan nada yang berbeda? Jatmiko ingat, Rengganis pernah bercerita tentang Bimo yang sedang kesulitan keuangannya karena ibunya sakit parah. Rengganis sering membantunya, membelikan makanan, bahkan memberinya pinjaman kecil. Tapi ini? Ini bukan lagi pinjaman kecil. Ini adalah investasi besar untuk masa depan. Masa depan Rengganis, tapi bukan bersamanya.

Jatmiko merasa seperti detektif amatir di film-film noir. Ia menyalakan laptopnya, membuka kembali akun e-mail Rengganis yang ia ketahui passwordnya saat mereka masih bersama (sebuah kebiasaan buruk yang sekarang terbayar lunas dengan rasa sakit). Ia mencari jejak ‘Bimo’. Ada beberapa email yang bertukar file, undangan rapat, tapi tidak ada yang mencurigakan. Sampai ia melihat folder ‘Private’. Ia ragu, tapi rasa penasarannya mengalahkan rasa bersalahnya. Ia membuka folder itu. Ada beberapa foto. Foto Rengganis bersama seorang pria, berdua saja, di beberapa tempat romantis. Dan di salah satu foto, pria itu… mirip sekali dengan Bimo. Tangan pria itu merangkul Rengganis, dan Rengganis tersenyum bahagia. Senyum yang sama seperti saat ia tersenyum padanya.

Babak 4 — Konfrontasi yang Paling Hening

Jatmiko tidak bisa tidur. Ia duduk di depan laptopnya, memandangi foto Rengganis dan Bimo yang tertera di layar. Perasaan sakit itu kini berubah menjadi amarah yang dingin. Ia merasa dikhianati. Bukan hanya oleh Rengganis, tapi oleh seluruh kenangan indah yang mereka ukir bersama. Ia merasa seperti boneka yang dimainkan, diberi janji-janji palsu dan cinta semu. Ia teringat percakapan dengan Sarah tempo hari. Wajah Sarah yang pucat… apakah ia tahu sesuatu? Jatmiko memutuskan untuk menghubunginya lagi.

Ia menghubungi Sarah melalui pesan teks, menanyakan kabarnya dan sedikit basa-basi. Setelah beberapa pesan singkat, Jatmiko memberanikan diri bertanya, “Mbak, aku mau tanya sesuatu yang mungkin agak sensitif. Mbak Sarah tahu nggak soal… Rengganis sama Bimo?”

Beberapa menit kemudian, balasan datang. Singkat saja. “Jatmiko, aku nggak berani ngomong langsung waktu itu. Tapi Rengganis udah lama sama Bimo. Malah, mereka udah persiapan nikah bulan depan.”

Jatmiko membaca pesan itu berulang kali. Persiapan nikah bulan depan. Bukan hanya sekadar persiapan. Tapi sudah tahap akhir. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tapi ia menahannya. Ia tidak akan menangis di hadapan orang lain. Ia merasa perlu menghadapi Rengganis.

Esok harinya, Jatmiko pergi ke kantor Rengganis. Ia tidak memberitahu Rengganis sebelumnya. Ia hanya berdiri di lobi, menunggu. Setelah hampir satu jam, Rengganis keluar dari lift, berjalan tergesa-gesa menuju pintu keluar. Ia tampak lelah. Saat ia melihat Jatmiko berdiri di sana, wajahnya memucat.

“Jatmiko? Kamu ngapain di sini?” suaranya terdengar sedikit bergetar.

“Aku mau bicara sama kamu, Nis,” Jatmiko berkata dengan tenang, suaranya datar, namun tegas. Ia mengeluarkan buku rekening dan catatan kecil itu dari dalam tasnya, meletakkannya di atas meja lobi yang kosong.

Rengganis menatap benda-benda itu, lalu menatap Jatmiko. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Suasana menjadi hening. Hanya suara deru pendingin ruangan yang terdengar. Beberapa karyawan lain yang keluar masuk lobi melirik mereka dengan penasaran, namun buru-buru memalingkan muka.

“Aku tahu semuanya, Nis,” lanjut Jatmiko, suaranya sedikit tercekat. “Aku tahu soal Bimo. Soal apartemen. Soal cicilan mobil. Dan soal biaya nikah.” Kata-kata terakhir itu keluar dengan nada yang begitu dingin, menusuk ke dalam hati Rengganis yang sudah terluka.

Rengganis hanya bisa menunduk. Air matanya mulai mengalir deras membasahi pipinya. Ia berusaha membuka mulut, ingin menjelaskan, ingin meminta maaf, tapi tidak ada kata yang keluar. Ia seperti tertelan oleh rasa bersalah dan penyesalan. Jatmiko melihat bahu Rengganis bergetar hebat. Ia tidak melihat kemarahan di mata Rengganis, hanya kepedihan yang mendalam. Ironisnya, di tengah rasa sakitnya, Jatmiko merasa sedikit iba melihat Rengganis yang begitu hancur. Ia teringat semua tawa mereka, semua rencana masa depan yang pernah mereka bangun bersama. Kini, semua itu hanyalah puing-puing.

“Kenapa, Nis?” Jatmiko bertanya lagi, suaranya kini terdengar lirih. “Kenapa kamu melakukan ini padaku?”

Rengganis mengangkat kepalanya perlahan. Matanya memerah, namun tatapannya tetap tertunduk. Ia hanya bisa menggelengkan kepala pelan, seolah tidak sanggup menjawab pertanyaan itu. Keheningan kembali menyelimuti mereka, lebih berat dari sebelumnya. Jatmiko merasa tidak ada lagi yang perlu dikatakan. Ia hanya berdiri di sana, memandangi wanita yang pernah ia cintai, kini terbungkus dalam penyesalan dan rahasia.

Babak 5 — Jejak yang Hilang di Tengah Hujan

Hujan mulai turun dengan derasnya. Jatmiko berbalik badan, meninggalkan Rengganis yang masih berdiri mematung di lobi. Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang. Ia hanya ingin segera keluar dari tempat itu, keluar dari situasi yang terasa semakin menyesakkan. Ia menyalakan motornya, membiarkan air hujan membasahi wajahnya. Rasa sakit di dadanya terasa begitu nyata, seperti luka menganga yang tidak bisa ditutup.

Dalam perjalanan pulang, pikirannya terus berputar. Ia teringat kembali percakapannya dengan Sarah. Sarah mengatakan bahwa Rengganis sudah lama bersama Bimo. Lama? Berapa lama? Dan mengapa Rengganis tidak pernah sekalipun memberitahunya? Ia merasa seperti orang asing dalam hubungan yang ia pikir begitu ia pahami. Ia mencoba mengingat apakah ada tanda-tanda yang ia lewatkan. Mungkin saat Rengganis tiba-tiba berubah menjadi lebih tertutup, atau saat ia sering menolak ajakan Jatmiko untuk bertemu karena ‘sibuk’.

Jatmiko sampai di kosnya, memarkir motornya di tempat biasa. Ia masuk ke kamarnya, membanting pintu, dan duduk di tepi kasur. Ia memandangi buku rekening itu lagi, catatan kecil itu, dan foto Rengganis bersama Bimo yang masih terbuka di laptopnya. Ia merasa lelah, sangat lelah. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Apakah ia harus marah? Memaki? Atau diam saja menerima kenyataan yang pahit ini? Ia merasa dunianya jungkir balik dalam semalam.

Ia membuka ponselnya lagi, membuka kembali percakapan dengan Rengganis dari beberapa bulan lalu. Ada begitu banyak pesan berisi rencana masa depan, impian yang mereka bangun bersama. Kini, semua itu terasa seperti ilusi belaka. Ia teringat bagaimana ia pernah berjanji akan selalu ada untuk Rengganis, bagaimana ia berjanji akan melindunginya. Ternyata, yang perlu ia lindungi bukanlah Rengganis dari dunia luar, melainkan dirinya sendiri dari Rengganis.

Jatmiko mengambil jaket bomber hitam itu dari kursinya. Ia merogoh sakunya lagi, hanya untuk memastikan. Kosong. Jaket itu terasa ringan sekarang, tanpa beban. Tapi hatinya terasa begitu berat. Ia merasa ditinggalkan, dipermainkan, dan dikhianati. Ia tidak tahu apakah ia akan bisa memaafkan Rengganis, atau bahkan memaafkan dirinya sendiri karena telah begitu naif.

Ia membuka aplikasi GoPay, melihat saldo yang tersisa. Cukup untuk makan beberapa hari. Ia menatap layar ponselnya, ada begitu banyak aplikasi di sana: Tokopedia, Shopee, PLN Mobile, GoFood. Semua aplikasi yang mewarnai kehidupan digitalnya. Tapi kini, semua itu terasa hambar. Seperti hidupnya yang terasa kosong.

Malam semakin larut. Hujan di luar sana masih belum reda. Jatmiko berbaring di kasurnya, memeluk lututnya. Ia menatap langit-langit kamar yang gelap. Ia bertanya-tanya, apakah Rengganis akan merasa menyesal? Apakah ia akan datang kepadanya untuk meminta maaf? Atau apakah ia akan melanjutkan hidupnya dengan Bimo, melupakan Jatmiko begitu saja? Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban. Seperti hubungan mereka yang berakhir tanpa kepastian. Jatmiko menutup matanya, membiarkan kegelapan malam menelannya. Tapi ia tahu, bayangan Rengganis dan Bimo akan terus menghantuinya, setidaknya untuk waktu yang sangat lama.