Cerpen: Ditemukan KTP Asing di Laci Meja Kerja Suami, Ini Pengkhianatan Terbesar yang Terjadi
Babak 1 ā Laci Meja yang Terkunci Tak Terduga
Nindya menyeka keningnya yang berembun, jemarinya yang halus terasa lengket di bawah terik matahari sore Jakarta. Dari kaca jendela ruang kerjanya, ia bisa melihat lalu lintas yang padat di Jalan Gatot Subroto, deru klakson yang bersahutan menjadi musik latar yang tak pernah berhenti. Ia baru saja selesai membubuhkan tanda tangan di puluhan dokumen penting yang menumpuk. Biasanya, setelah seharian berkutat dengan angka dan laporan, Nindya akan segera bergegas pulang. Tapi hari ini, ada sesuatu yang mengusiknya. Sebuah rasa ingin tahu yang tertahan sejak pagi tadi, ketika ia tak sengaja melihat suami tercintanya, Pradipta, buru-buru menutup laci meja kerjanya yang memang jarang sekali ia kunci. Pradipta yang biasanya sangat terbuka, bahkan soal email kantor atau jadwal rapatnya, kini terlihat gelisah saat ia berpapasan dengannya di lorong apartemen pagi tadi. Hal kecil ini, ditambah dengan beberapa kejanggalan kecil yang ia rasakan akhir-akhir iniāPradipta yang mulai sering lembur tanpa alasan jelas, ponsel yang selalu dalam mode senyap dan tak pernah lepas dari genggamannyaāmembuat Nindya merasa ada sesuatu yang disembunyikan.
Kini, Pradipta sedang ada perjalanan dinas ke Surabaya. Apartemen mereka yang biasanya ramai dengan suara tawa dan obrolan ringan, terasa begitu sunyi. Sepi yang biasanya ia nikmati sebagai momen relaksasi, kini terasa mencekam. Nindya berjalan pelan ke arah meja kerja Pradipta, sebuah meja kayu jati tua yang dibelinya bertahun-tahun lalu, tak lekang oleh waktu. Ia mencoba menarik laci paling bawah, laci yang Pradipta selalu pastikan terkunci rapat. Benar saja, ia terasa terkunci. Jantungnya mulai berdebar lebih cepat. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. ‘Ini konyol, Nindya,’ bisiknya pada diri sendiri. ‘Pradipta suamimu, dia tidak mungkin menyembunyikan sesuatu yang buruk darimu.’ Ia berbalik, bermaksud mengambil segelas air dari dapur, tapi kakinya seperti terpaku. Sesuatu mendorongnya untuk mencoba lagi. Ia meraih sebuah klip kertas yang tergeletak di atas meja, meluruskannya perlahan, lalu memasukkannya ke lubang kunci laci.
Sedikit gerakan memutar, sebuah bunyi āklikā pelan terdengar. Laci itu terbuka. Napas Nindya tertahan. Ia ragu untuk melihat isinya. Tapi rasa penasaran yang menggunung mengalahkan rasa takutnya. Perlahan, ia membuka laci itu lebih lebar. Di dalamnya, tertata rapi tumpukan kertas, beberapa map, dan di sudut paling belakang, sebuah dompet kulit hitam yang tampak asing. Dompet yang jelas bukan miliknya, bukan pula dompet Pradipta yang ia kenal. Jemarinya yang bergetar meraih dompet itu. Ia membukanya. Di dalamnya, terselip beberapa kartu kredit, selembar uang pecahan seratus ribu, dan di sisi lain, sebuah kartu identitas yang membuat darah Nindya seketika membeku.
Babak 2 ā KTP yang Membuka Jurang
Di tangan Nindya tergenggam sebuah Kartu Tanda Penduduk (KTP) asing. Bukan KTP Indonesia. Foto wanita muda dengan rambut hitam sebahu terpasang di sana, tersenyum tipis ke arah kamera. Nama di kartu itu tertera: Anya Petrova. Alamatnya tertulis di sebuah distrik di Moskow, Rusia. Usianya masih sangat muda, baru 24 tahun. Jauh lebih muda dari Nindya, yang kini berusia 31 tahun. Seketika, semua ingatan tentang Pradiptaāsemua janji, semua tawa, semua malam yang mereka habiskan bersamaāterasa seperti ilusi. Nindya merasa perutnya bergejolak hebat. Ia ingin muntah, tapi rasanya seperti ada batu besar yang tersangkut di tenggorokannya. Ia mencoba menarik napas, mencoba untuk berpikir jernih. ‘Mungkin ini hanya barang tertukar,’ pikirnya, sebuah upaya putus asa untuk menyangkal kenyataan yang mulai menggerogotinya. Tapi ia tahu, Pradipta bukan tipe orang yang ceroboh seperti itu.
Ia mengingat kembali bagaimana Pradipta selalu terlihat terburu-buru saat membahas urusan bisnis dengan klien asingnya, bagaimana ia selalu berbicara dalam bahasa Inggris dengan aksen yang kadang terdengar seperti menutupi sesuatu. Ia ingat pernah bertanya pada Pradipta tentang seorang kolega asingnya yang sering ia ajak bicara melalui video call, dan Pradipta hanya menjawab singkat, ‘Hanya urusan pekerjaan, Sayang.’ Kata ‘Sayang’ itu kini terdengar hampa, sebuah bualan manis yang menutupi kepahitan yang tak terperi. Nindya menjatuhkan diri ke kursi kerja Pradipta, matanya terpaku pada KTP di tangannya. Ia membuka folder-folder lain di laci itu, berharap menemukan penjelasan, tapi yang ia temukan hanya dokumen bisnis yang rumit dan beberapa catatan kecil yang ditulis dengan tangan asing, bahasa Cyrillic yang sama sekali tidak ia mengerti.
Tangannya yang gemetar meraih ponselnya. Ia membuka aplikasi LINE, grup chat keluarga mereka. ‘Mama, Papa, Pradipta sudah di Surabaya?’ pesannya dikirim begitu saja. Tak lama, balasan dari ibunya masuk: ‘Pradipta batal ke Surabaya, Nak. Katanya ada urusan mendadak di Jakarta. Seharian ini dia tidak mengangkat telepon Mama.’ Jantung Nindya berdebar semakin kencang. Urusan mendadak di Jakarta? Saat ia sedang sendirian di apartemen? Rasanya seperti ada tangan tak terlihat yang mencengkeram lehernya, meremasnya hingga ia tak bisa bernapas. Ia melihat kembali KTP Anya Petrova. Di bagian belakang kartu itu, terselip sebuah foto kecil. Foto Nindya dan Pradipta saat mereka berbulan madu di Bali, tersenyum bahagia di depan pantai. Foto itu tampak sobek di salah satu sisinya, seperti pernah coba dibuang namun tak jadi.
Babak 3 ā Jejak Digital yang Tak Terduga
Kepanikan mulai merayap. Nindya tahu ia harus mencari tahu lebih banyak. Ia tahu Pradipta sering menggunakan laptop kantornya di apartemen, tapi ia tak pernah benar-benar tertarik untuk melihat isinya. Hari ini, segalanya berubah. Ia membuka laptop Pradipta yang tergeletak di meja. Layar login yang familiar, tapi kini terlihat mengancam. Ia mencoba kata sandi yang biasa Pradipta gunakan, kombinasi tanggal lahir mereka dan nama panggilan anak anjing mereka, Biscoff. Tidak berhasil. Ia mencoba kata sandi lain, ulang tahun ibunya. Juga salah. Rasa putus asa mulai membayang. Kemudian, ia teringat akan sebuah aplikasi kecil yang pernah ia lihat Pradipta gunakan, sebuah aplikasi manajemen kata sandi. Ia ingat sedikit petunjuk yang pernah Pradipta berikan secara tak sengaja: ‘Nama kota favorit kita, ditambah nomor piala pertama tim kesayanganmu.’ Nindya menutup matanya, memutar kembali ingatan. ‘Bandung… Persib juara ISL 2014…’ Ia mengetikkan ‘Bandung14’. Laptop terbuka.
Riuh rendah suara notifikasi pesan masuk dari aplikasi pesan instan yang tak ia kenali memenuhi ruangan. Ia membuka aplikasi itu. Puluhan percakapan, sebagian besar dalam bahasa Rusia, dipenuhi emoji hati merah dan pesan-pesan mesra. Ada juga percakapan dalam bahasa Inggris, yang ia yakini adalah dengan Anya Petrova. Pesan-pesan itu bercerita tentang rencana pertemuan, tentang kerinduan, tentang sebuah ‘hadiah’ yang akan diberikan Pradipta. Nindya memindai beberapa percakapan terakhir. Ada rencana Pradipta untuk bertemu Anya akhir pekan ini. Nindya merasa mual. Ia membuka galeri foto di laptop itu, berharap menemukan bukti yang lebih jelas. Dan ia menemukannya. Ratusan foto mesra Pradipta dengan Anya. Mereka berciuman di depan menara Eiffel, tertawa di kafe-kafe di pinggiran kota Moskow, berpelukan di sebuah kamar hotel yang mewah.
Ada pula foto-foto yang diambil di Indonesia. Di sebuah kafe di Kemang, di taman kota Senopati, bahkan di depan apartemen mereka. Foto-foto itu diambil diam-diam, membuat Nindya merasa seperti sedang diawasi oleh orang asing di rumahnya sendiri. Ia menemukan bukti transfer bank ke rekening atas nama Anya Petrova, nominalnya sangat besar. Dan yang paling menghancurkan, sebuah rekaman suara pendek. Suara Pradipta, tapi terdengar jauh lebih muda, mengucapkan, ‘Anya, aku mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku akan berusaha agar kita bisa bersama.’ Suara itu penuh gairah, penuh janji. Janji yang kini terasa seperti racun bagi Nindya. Ia memutar rekaman itu berulang kali, mencoba mencari celah, mencoba mencari penjelasan. Tapi yang ia dengar hanya kebohongan yang sempurna.
Babak 4 ā Konfrontasi Tak Terhindarkan
Pintu apartemen berbunyi āklikā. Nindya langsung berdiri dari kursi, hatinya berdebar kencang seperti genderang perang. Ia melirik ke jam dinding. Pukul tujuh malam. Pradipta pasti sudah pulang. Ia mematikan laptopnya, melipat KTP Anya Petrova dan menyimpannya kembali di dalam dompet, lalu memasukkan dompet itu ke dalam tas tangannya. Ia tidak ingin Pradipta melihatnya dan langsung curiga. Ia harus terlihat tenang. Ia menghampiri Pradipta yang baru saja meletakkan tas kerjanya di sofa. ‘Kamu sudah pulang, Mas?’ sapanya, berusaha agar suaranya tidak bergetar. Pradipta tersenyum, senyum yang biasanya menghangatkan hati Nindya, kini terasa seperti pisau dingin yang menusuk.
‘Ya, Sayang. Maaf baru pulang. Tadi ada urusan mendadak,’ jawab Pradipta, mencoba merangkul Nindya. Nindya menjauh sedikit. ‘Urusan mendadak di Jakarta? Bukannya kamu ke Surabaya?’ tanyanya, matanya menatap lurus ke mata Pradipta. Pradipta terdiam sejenak. Wajahnya pucat. ‘Itu… tadi ada perubahan rencana mendadak. Aku harus segera kembali ke Jakarta karena ada klien penting.’ Ia menghindari tatapan Nindya, sibuk merapikan kerah kemejanya. ‘Klien penting dari Rusia, ya?’ tanya Nindya pelan, suaranya kini penuh ketegangan. Pradipta menoleh, matanya melebar karena terkejut. Ia tampak seperti kelinci yang tertangkap lampu sorot.
‘Kamu tahu dari mana?’ bisiknya, suaranya serak. Nindya mengeluarkan dompet kulit hitam dari tasnya, lalu menarik KTP Anya Petrova. ‘Aku menemukannya di laci meja kerjamu. Bersama foto-foto kalian di Moskow. Dan rekaman suara di mana kamu bilang kamu mencintainya. Apa ini yang kamu sebut ‘urusan mendadak’, Pradipta?’ Air mata mulai menggenang di sudut mata Nindya, tapi ia berusaha keras untuk tidak menangis. Ia ingin melihat reaksi Pradipta, ingin melihat seberapa dalam kebohongan ini.
Babak 5 ā Retakan yang Tak Bisa Diperbaiki
Pradipta mematung. Wajahnya berubah pucat pasi. Ia tidak bisa berkata-kata. Mulutnya terbuka, mencoba membentuk kalimat, tapi tak ada suara yang keluar. Ia menatap Nindya, lalu beralih ke KTP di tangan wanita itu, seolah-olah benda itu adalah monster mengerikan yang bangkit dari masa lalu. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. ‘Nindya… aku bisa jelaskan,’ ucapnya akhirnya, suaranya parau. ‘Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.’ Nindya tertawa getir. Tawa yang pecah, penuh kepedihan. ‘Tidak seperti yang aku pikirkan? Lalu apa, Pradipta? Apa yang harus aku pikirkan? Bahwa Anya Petrova adalah rekan kerjamu yang spesial? Bahwa semua pesan mesra itu hanya basa-basi profesional?’ Ia melemparkan KTP itu ke lantai. Kartu itu berputar sejenak sebelum berhenti tepat di depan kaki Pradipta.
‘Dia… dia adalah masa laluku, Nindya. Sebelum kamu,’ ujar Pradipta pelan, suaranya nyaris tak terdengar. ‘Kami putus bertahun-tahun lalu. Aku tidak tahu bagaimana KTP itu bisa ada di sana. Mungkin… mungkin dia sengaja.’ Nindya menggelengkan kepala perlahan. ‘Masa lalu? Tapi di foto-foto itu, kalian terlihat sangat bahagia, Pradipta. Di Rusia, di Jakarta. Kau bahkan bilang kau mencintainya. Kapan semua ini terjadi? Saat aku sedang berjuang menghadapi kanker serviksku? Saat aku merawat ibuku yang sakit stroke? Saat kita berencana membangun keluarga?’ Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara, tak terjawab. Pradipta menunduk, tak sanggup menatap mata istrinya yang kini dipenuhi luka mendalam. Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Suara sirene ambulans terdengar sayup-sayup dari kejauhan, seolah meratapi nasib rumah tangga yang baru saja retak.
Nindya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan gejolak emosinya. Ia tahu, tak peduli apa penjelasan Pradipta, kepercayaan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun telah hancur berkeping-keping. Ia memandang suaminya yang berdiri tertunduk, sosok yang dulu ia cintai sepenuh hati, kini terasa asing. Ia melangkah mundur, menjauh dari pria itu, menjauh dari ruangan yang kini terasa penuh dusta. Keputusan telah diambil, meski belum terucap. Jalan pulang yang ia kira mulus dan aman, ternyata penuh ranjau. Dan ia baru saja menginjak salah satunya.
