Cerpen: Suaminya Bilang Lembur, Tapi Struk Ini Bikin Semua Runtuh
Babak 1 — Gema yang Hilang di Ujung Telepon
Ratih mematikan sambungan telepon dengan gantung. Kata ‘bentar lagi aku pulang’ yang diucapkan suaminya, Bayu, beberapa menit lalu, terdengar seperti gema kosong di telinganya. Ia menatap pantulan dirinya di layar ponsel yang gelap. Rambutnya yang diikat asal bergantungan di pundak. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya tetap memancarkan sedikit harapan yang selalu ia sematkan di setiap akhir hari kerja. Bayu bilang akan lembur lagi, tapi ada nada asing di suara itu, sesuatu yang membuat perut Ratih mulas. Bukan pertama kali Bayu lembur sampai larut malam. Pekerjaan di firma hukum memang menuntut. Namun, kali ini berbeda. Ada jeda yang terlalu lama sebelum Bayu menjawab ‘iya’ saat Ratih bertanya kapan ia akan pulang.
Ratih menghela napas, lalu mengambil tas selempangnya. Ia harus segera beranjak sebelum jalanan makin padat. Setiap menit yang dihabiskan di kantor setelah jam kerja adalah kesempatan untuk mengumpulkan lebih banyak jam. Ia ingin segera pulang, menyiapkan makan malam sederhana untuk mereka berdua. Nasi goreng dengan telur ceplok adalah menu andalannya akhir-akhir ini. Mudah, cepat, dan Bayu suka. Ia bahkan sudah menyiapkan sebotol air mineral dingin untuk suaminya. Rutinitas kecil yang memberinya rasa aman dan kontrol di tengah ketidakpastian pekerjaan Bayu.
Ia berjalan menyusuri koridor kantor yang mulai lengang. Hanya suara ketikan keyboard beberapa rekan yang masih bertahan dan deru AC yang konstan. Ratih memasukkan ponsel ke dalam saku, sedikit bergidik membayangkan macetnya jalanan dari pusat kota menuju pinggiran tempat mereka tinggal. Ia berharap Bayu benar-benar akan langsung pulang begitu pekerjaannya selesai. Ia rindu suara tawa Bayu yang kadang pecah karena leluconnya sendiri, atau sekadar momen ketika mereka berdua duduk berdampingan menonton serial di Netflix tanpa saling bicara. Momen-momen damai itu terasa semakin langka.
Sesampainya di parkiran, Ratih menggerutu pelan. “Yah, kok nggak ada ojol ya? Nggak ada takol lagi,” gumamnya sambil melihat deretan motor yang mulai kosong. Ia memang sudah terbiasa memesan transportasi online jika harus pulang larut. Tapi malam ini, sinyal ponselnya terasa lemah. Berkali-kali ia mencoba memesan GoCar, namun aplikasi selalu menampilkan pesan ‘tidak ada armada tersedia’. “Sial,” umpatnya lagi, kali ini sedikit lebih keras. Ia berjalan menuju mobilnya, berharap setidaknya perjalanan pulang akan lebih tenang.
Saat ia membuka pintu mobil, sebuah benda kecil jatuh dari saku jaket Bayu yang ia pinjam tempo hari. Ratih mengerutkan dahi. Jaket itu seharusnya sudah ia kembalikan kemarin. Ternyata masih tersimpan di jok belakang. Ia membungkuk untuk memungutnya, ketika matanya menangkap sesuatu yang aneh tergeletak di lantai mobil bagian penumpang. Benda itu seperti… struk.
Babak 2 — Kertas Kecil yang Merobek Segalanya
Tangan Ratih sedikit gemetar saat meraih benda itu. Struk berwarna putih pudar, sebagian lipatannya sudah kusut, menandakan sudah terlipat dan tersimpan entah berapa lama. Awalnya ia mengira itu struk parkir atau struk pembelian air mineral di minimarket. Tapi saat matanya membaca barisan angka dan nama toko yang tertera, jantungnya serasa berhenti berdetak. “Supermarket Sehat Bahagia…,” Ratih membaca tanpa suara. Toko itu. Toko langganan Bayu. Bayu sering mampir ke sana sepulang kerja untuk membeli camilan atau kebutuhan rumah tangga.
Namun, tanggal yang tertera di struk itu membuat Ratih terdiam. Tiga hari yang lalu. Jauh sebelum Bayu mengabarkan akan lembur malam ini. Apa yang membuat Bayu membeli sesuatu di sana tiga hari lalu? Bukankah dia bilang akan langsung pulang dari kantor dan makan malam di rumah? Ratih mencoba mengingat-ingat. Ya, tiga hari lalu. Hari itu Bayu pulang agak sore, mengatakan ingin mampir ke supermarket sebentar. Ia bilang hanya membeli beberapa botol air dan keripik kentang favorit Ratih. Ratih bahkan sempat berterima kasih.
Tangannya membuka lipatan struk itu lebih lebar. Daftar belanjaannya tertera jelas: satu kilogram beras, minyak goreng ukuran sedang, telur ayam sepuluh butir, dan… satu pak pembalut wanita merek ‘Fluffy Soft’ ukuran *night use*. Mata Ratih terpaku pada item terakhir. Pembalut. Ratih tidak menggunakan merek itu. Ia lebih suka merek lain yang ia pakai bertahun-tahun. Dan yang paling penting, ia tidak sedang datang bulan tiga hari lalu. Kalender di ponselnya terkonfirmasi. Siklusnya masih jauh. Jauh sekali.
Ratih menutup mulutnya dengan satu tangan, berusaha menahan napas yang tercekat. Sekelebat ingatan muncul. Bayu pernah pulang terlambat tiga hari lalu, dengan alasan terjebak macet parah sepulang dari supermarket. Ia terlihat sedikit gelisah saat itu, lebih banyak diam daripada biasanya. Ratih mengira Bayu hanya lelah, tidak menyadari ada kebohongan yang tersimpan di balik kelelahannya.
Ia lalu menoleh ke arah saku jaket Bayu yang tadi terjatuh. Ia merogohnya pelan. Di dalamnya, ia menemukan beberapa koin recehan, sebuah *earphone* yang sedikit kusut, dan… sebuah kartu nama. Kartu nama yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Tertulis nama ‘Kartika Sari’ dengan jabatan ‘Manajer Pemasaran’ di sebuah perusahaan properti di kawasan selatan Jakarta. Di bawahnya tertera nomor telepon dan alamat email.
Babak 3 — Jejak Digital yang Tak Terhapuskan
Ratih keluar dari mobilnya, meninggalkan pintu yang sedikit terbuka. Ia berjalan terhuyung ke trotoar, pandangannya kosong. ‘Kartika Sari’. Nama itu tak pernah terucap dari bibir Bayu. Perusahaan properti. Ia teringat Bayu pernah mengeluhkan kliennya yang sering meminta pertemuan di luar jam kerja, terutama di akhir pekan atau malam hari. Tapi kliennya adalah perusahaan-perusahaan besar, bukan individu seperti yang tertera di kartu nama itu.
Dengan jari yang masih sedikit bergetar, Ratih membuka aplikasi perpesanan di ponselnya. Ia mulai mengetik nama ‘Kartika Sari’. Benaknya berputar, mencoba mengingat apakah nama itu pernah muncul di percakapan Bayu, atau di kontak teleponnya. Nihil. Tidak ada jejak sama sekali. Ia mencoba mencari nomor telepon yang tertera di kartu nama itu di daftar kontak ponselnya. Tidak ada. Ini aneh. Sungguh aneh.
Ratih kembali masuk ke mobilnya, mengambil struk belanjaan itu lagi. Ia berulang kali membolak-balikkannya, mencari sesuatu yang lain. Foto pembalut itu terpatri jelas di benaknya. Apa yang harus ia lakukan? Menghadapi Bayu sekarang? Dengan bukti sekecil ini? Ia tahu ini bukan bukti yang cukup kuat untuk sebuah tuduhan besar. Bisa saja ada penjelasan lain. Mungkin pembalut itu bukan untuk dirinya. Mungkin Bayu membelinya untuk teman kerja, atau… atau untuk wanita lain.
Ia teringat sebuah aplikasi dompet digital yang sering Bayu gunakan untuk transaksi. DANA. Ratih pernah melihat Bayu menggunakannya untuk membayar ini-itu. Dengan sedikit keraguan, Ratih membuka aplikasi DANA di ponselnya. Ia pernah tahu kata sandi Bayu karena dulu pernah dipakai untuk bertransaksi bersama. Ia harus memeriksa riwayat transaksinya. Jantungnya berdegup kencang. Ia merasa seperti pencuri, tapi dorongan untuk tahu lebih besar dari rasa bersalahnya.
Di bagian riwayat transaksi, Ratih menyaring berdasarkan tanggal. Tiga hari yang lalu. Ada beberapa transaksi tercatat. Pembayaran tagihan listrik melalui PLN Mobile, pembelian pulsa, dan… satu transaksi senilai Rp 75.500 ke ‘Toko Sehat Bahagia’. Nilai yang sama persis dengan total belanjaan di struk itu. Ia lalu membuka detail transaksi, dan di sana tertulis ‘Pembalut Fluffy Soft – Night Use’ di bagian deskripsi. Ratih merasa mual. Ada pilihan untuk melihat bukti pembayaran, berupa struk digital. Dan struk digital itu sama persis dengan struk fisik yang ada di tangannya.
Babak 4 — Pertemuan yang Tak Terduga
Ratih keluar dari mobilnya lagi, kali ini ia berjalan cepat ke arah minimarket di seberang kantor. Ia perlu menjernihkan pikiran. Ia membeli sebotol air mineral dan membukanya di depan pintu minimarket. Ia berdiri di sana, menatap lalu lintas yang ramai, otaknya mencoba memproses semua informasi yang baru saja ia dapatkan. Suaminya. Orang yang ia cintai, yang ia percayai sepenuh hati, ternyata menyimpan rahasia. Rahasia yang terbungkus dalam struk belanjaan dan sebuah kartu nama.
Tiba-tiba, ia mendengar suara yang familiar. “Mbak Ratih? Astaga, ngapain di sini sendirian?” Ratih menoleh. Di depannya berdiri seorang wanita muda, berpenampilan rapi dengan blus berwarna cerah dan celana bahan. Wajahnya sedikit terkejut, namun ada senyum kecil yang dipaksakan di bibirnya. Kartika Sari. Ratih langsung mengenalinya dari kartu nama yang ia temukan di mobil Bayu.
Ratih terpaku. Dunia seperti berhenti berputar. Wanita di depannya… ia tidak terlihat seperti orang yang bisa menjadi ‘selingkuhan’ suaminya. Kartika terlihat biasa saja, tidak glamor atau berlebihan. Justru terlihat… canggung. Ia memilin ujung bajunya, menghindari tatapan mata Ratih.
“Eh, Mbak… Mbak Kartika, kan?” Ratih berhasil mengeluarkan suaranya, meski terdengar serak. “Iya, Mbak. Saya… saya lagi mau mampir beli minum sebentar. Mbaknya sendiri?”
Kartika mengangguk, senyumnya semakin tipis. “Iya, Mbak. Saya baru saja selesai ketemu klien di gedung sebelah. Mau mampir cari kopi, tapi minimarket ini keburu tutup,” katanya sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Ia lalu terdiam, terlihat tidak nyaman.
Ratih memberanikan diri. Ia mengeluarkan kartu nama dari tasnya. “Ini… punya Mas Bayu, kan? Saya Ratih, istrinya.” Ia menyerahkan kartu nama itu kepada Kartika. Wajah Kartika seketika memucat. Matanya sedikit membelalak, lalu ia menunduk dalam-dalam. Tangannya meraih kartu nama itu dengan gemetar.
“Mbak… saya bisa jelaskan,” ucap Kartika lirih, suaranya bergetar. “Tapi… tapi bukan seperti yang Mbak pikirkan. Sungguh.” Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia terlihat seperti orang yang sama-sama terperangkap dalam situasi sulit, bukan seorang penggoda.
Babak 5 — Garis Tipis Antara Kebenaran dan Kebohongan
Ratih menatap Kartika yang kini mulai terisak pelan. Ia tidak bisa berkata-kata. Kartika terlihat begitu putus asa, begitu… terjebak. Ini bukan adegan pertarungan wanita perebut suami yang sering ia lihat di sinetron. Ini lebih mencekam. Ketidaknyamanan Kartika, rasa bersalah yang terpancar jelas dari matanya, membuat Ratih ragu akan tuduhannya sendiri. Apakah ia salah menilai Bayu? Atau ini hanya sandiwara Kartika?
“Saya… saya tidak pernah berniat buruk, Mbak Ratih. Saya hanya… saya terpaksa,” lanjut Kartika, suaranya tertahan isakan. “Mas Bayu… dia yang meminta saya untuk tidak memberi tahu Mbak. Katanya… katanya ini demi kebaikan Mbak juga.”
Ratih merasa kepalanya berputar. Demi kebaikan? Kebaikan apa yang didapat dari kebohongan? Ia menatap Kartika, mencoba mencari celah kebenaran di balik air mata wanita itu. “Maksudnya apa? Kebaikan apa yang Mas Bayu bicarakan?” tanya Ratih, suaranya dingin namun sarat kepedihan.
Kartika menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. “Kemarin saya dapat kabar buruk, Mbak. Perusahaan properti tempat saya bekerja, tempat Mas Bayu juga… dia sedang dalam masalah besar. Sangat besar. Ada kasus korupsi yang melibatkan banyak pihak, termasuk Mas Bayu. Saya… saya salah satu saksi kunci yang diminta bekerja sama dengan pihak berwajib. Tapi, saya juga ditekan oleh pihak lain. Mas Bayu… dia meminta saya memalsukan beberapa dokumen agar kasusnya tidak semakin besar dan menyeret nama baiknya. Dia bilang, kalau sampai kasus ini terbongkar, karirnya akan hancur, dan… dan Mbak Ratih akan ikut menanggung malu. Dia menyuruh saya membeli beberapa barang kebutuhan pribadi, dengan struk atas nama Mas Bayu, agar terlihat seperti ia membeli sendiri. Untuk… untuk mengaburkan jejak.”
Ratih terdiam. Kata-kata Kartika seperti badai yang menghantamnya bertubi-tubi. Korupsi? Pemalsuan dokumen? Jejak yang dikaburkan? Semua yang ia pikir tentang Bayu kini terbalik. Suaminya yang ia anggap hanya bekerja keras lembur, ternyata terlibat dalam kasus hukum yang serius. Dan pembalut itu… itu hanya bagian dari skenario untuk menutupi jejak.
“Mas Bayu… dia bilang, dia akan segera membereskan semuanya. Dia hanya butuh waktu. Dia sangat… sangat mencintai Mbak Ratih. Dia tidak ingin Mbak terluka karena masalah ini. Dia bilang, ini satu-satunya cara agar Mbak tetap aman dan tidak tahu apa-apa.” Kartika menatap Ratih dengan penuh harap, seolah memohon pengertian. Tapi di mata Ratih, yang ada hanya kehampaan dan kebingungan yang luar biasa.
Ratih menatap Kartika, lalu menatap jalanan di depannya. Suaminya terlibat kasus hukum. Istrinya dibohongi demi ‘kebaikan’. Suaminya akan segera pulang, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang, tanpa tahu harus melompat atau mundur. Kebenaran itu menyakitkan, namun kebohongan pun sama sakitnya. Pertanyaan terbesarnya kini adalah, apakah ia harus percaya pada apa yang diucapkan Kartika, atau pada struk yang ia pegang?
