Cerita Pengkhianatan: Ia Temukan Ini di Mobil Suami yang Bilang Lembur, Semua Langsung Runtuh
Babak 1 — Senyum Pahit di Depan Kaca Mobil
Pradipta meraih gagang pintu mobilnya, tangannya sedikit gemetar. Bukan karena dingin—udara malam Jakarta justru terasa lengket dan panas, seperti biasa. Tapi karena rasa tidak nyaman yang merayap di perutnya sejak sore tadi. Suaminya, Wibisono, yang seharusnya pulang telat karena ‘proyek mendadak’ di kantor, justru membalas pesannya dengan emoji jempol. Padahal biasanya, kalau lembur beneran, ponselnya mati atau sinyalnya hilang timbul.
Ia tahu ini bukan caranya. Sebagai seorang auditor di sebuah firma hukum besar, Pradipta terbiasa dengan data, fakta, dan bukti. Tapi untuk urusan rumah tangga, terutama soal kepercayaan, ia selalu merasa kikuk. Terlalu gampang percaya, itu cacatnya. Ia selalu berharap yang terbaik dari orang-orang terdekatnya, termasuk Wibisono, suaminya selama tujuh tahun. Perkawinan mereka tidak pernah mulus, tapi selalu berhasil dilewati dengan tawa dan saling menguatkan. Sampai kapan?
Ia melirik ponselnya. Belum ada balasan dari Wibisono tentang permintaan kopi instan yang diantarnya. Padahal jarak kantor suaminya dan kafe tempatnya kini duduk tak lebih dari sepuluh menit naik GoCar. Keinginan untuk datang langsung, membawakan bekal makan malam yang ia masak sendiri, terasa seperti godaan yang terlalu kuat untuk diabaikan. Setidaknya, itu alasan yang ia berikan pada dirinya sendiri.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Wibisono. ‘Maaf, Sayang. Lupa bilang. Ternyata meetingnya dadakan banget, pindah ke Kemang. Udah telat nih.’
Pradipta mendengus pelan. Kemang? Jauh dari kantornya di bilangan Sudirman. Dan ‘meeting dadakan’? Alasan klasik. Tangannya reflek membuka aplikasi peta, sekadar mengecek kemacetan ke arah sana. Tapi matanya tertuju pada ikon notifikasi di bagian atas layar ponselnya yang lain—ponsel Wibisono. Ia menitipkannya pada Pradipta pagi tadi karena baterai ponselnya habis. ‘Tolong jagain ya, Nduk. Penting banget ini kalau ada telepon.’
Ada notifikasi dari aplikasi bank. Sebuah transaksi baru saja terjadi. Lumayan besar. Alamatnya? Bukan di Kemang. Tapi di sebuah minimarket di daerah Senen. Jauh sekali dari Kemang. Jauh sekali dari kantornya. Jantung Pradipta mulai berdetak lebih cepat. Rasa tidak nyaman yang tadi merayap kini berubah menjadi rasa dingin yang menjalar.
Babak 2 — Benda Asing di Kantong Jok Mobil
Pradipta memutuskan untuk tidak menunggu lagi. Ia mengunci mobilnya, lalu berjalan cepat menuju mobil Wibisono yang terparkir agak jauh di ujung jalan, di samping sebuah kedai kopi yang ramai. Tangannya masih sedikit gemetar saat ia memegang kunci mobil suaminya. Ia membuka pintu, aroma khas mobil Wibisono—campuran parfum maskulin dan bau kulit jok—menyambutnya. Tapi ada yang berbeda kali ini. Aroma lain, samar tapi terasa mengganggu.
Ia menyalakan mesinnya, memutar AC ke suhu paling dingin. Lampu interior mobil menyala, menerangi setiap sudut. Ia mulai dari dasbor, memeriksa apa saja yang tidak pada tempatnya. Tidak ada. Semuanya rapi, seperti biasa. Kaca spion tengah sedikit miring, seperti baru saja dilihat Wibisono sebelum ia turun.
Kemudian matanya tertuju pada kantong jok di belakang kursi penumpang. Ada sesuatu yang mencuat di sana. Kertas kecil berwarna putih, terlipat rapi. Bukan struk parkir. Bukan catatan belanja bulanan. Warnanya terlalu bersih. Jantungnya berdebar lebih kencang. Tangannya meraih kertas itu, membukanya perlahan.
Isinya bukan tulisan. Tapi gambar. Gambar bunga tulip kecil yang digambar dengan pensil warna merah muda. Di bawahnya, tertulis ‘Untuk Wibisono’. Dan sebuah inisial. ‘A’.
Pradipta menatap gambar itu, tatapannya kosong. Inisial ‘A’? Siapa ‘A’? Wibisono tidak pernah punya teman dekat bernama A. Setidaknya, tidak ada yang Pradipta kenal. Ia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang, siap untuk jatuh. Tapi ia harus tahu. Ia harus memastikan. Dengan tangan yang semakin dingin, ia memasukkan kembali gambar itu ke dalam kantong jok, lalu mulai mencari lebih dalam.
Babak 3 — Bayangan Masa Lalu di Tengah Kebingungan
Ia membuka laci dasbor. Berbagai macam dokumen, bon-bon lama, dan beberapa kacamata hitam Wibisono tersimpan di sana. Tidak ada yang mencurigakan. Ia beralih ke konsol tengah. Dompet Wibisono, beberapa koin receh, dan selembar tisu. Kosong. Sampai matanya menangkap sesuatu di bawah tempat tisu itu.
Sebuah kartu nama. Dulu ia pernah melihat kartu nama ini. Tapi sudah lama sekali. Kartu nama dari sebuah agensi kreatif indie di daerah Tebet. Wibisono pernah bekerja di sana sebentar sebelum pindah ke perusahaan sekarang. Tapi kenapa ada di sini? Di mobilnya? Dan kenapa kartu ini diselipkan begitu saja, seolah disembunyikan?
Ia membalik kartu nama itu. Di baliknya, tertulis dengan spidol hitam, ‘Besok, jam 3 sore, di kedai Kopi Tuku cabang Duren Tiga’. Ada nomor telepon yang menyertainya. Nomor yang tidak tersimpan di kontak Wibisono. Pradipta membuka ponselnya, mencari nomor yang tadi tercatat di notifikasi transaksi bank.
Benar. Nomor yang sama. Jantungnya berdetak semakin cepat. Ia teringat kembali pada gambar bunga tulip di kantong jok. Inisial ‘A’. Agensi kreatif di Tebet. Duren Tiga. Semuanya seperti tersusun dalam sebuah puzzle yang mengerikan.
Ia ingat, beberapa bulan lalu, Wibisono sering menerima telepon dari nomor tak dikenal. Kadang ia akan menjauh saat menerima telepon itu, atau menjawabnya dengan suara berbisik. Saat ditanya, Wibisono hanya menjawab itu urusan ‘proyek lama’ atau ‘klien yang bandel’. Pradipta selalu percaya. Selalu. Kebiasaan terlalu mudah percaya itu kini terasa seperti pisau yang menusuknya dari belakang.
Ia membuka aplikasi Gojek di ponselnya. Mengetikkan tujuan ‘Kedai Kopi Tuku, Duren Tiga’. Waktu tempuh tertera di layar. Sekitar 45 menit. Masih ada waktu sebelum jam 3 sore. Ia harus pergi. Ia harus melihat sendiri. Rasa mual menjalari perutnya, tapi tekadnya untuk mencari kebenaran sudah bulat.
Babak 4 — Pertemuan Tak Terduga di Sudut Kafe
Pradipta duduk di sudut kafe Tuku yang tidak terlalu ramai. Ia memesan es teh jumbo, lalu memain-mainkan sedotan di dalam gelas. Matanya terus tertuju pada pintu masuk, berpura-pura membaca pesan di ponselnya. Detik demi detik terasa seperti merangkak.
Lalu ia melihatnya. Sosok yang sama seperti di kartu nama. Seorang wanita muda, mungkin seusianya, dengan rambut sebahu yang sedikit bergelombang. Ia tampak sedikit cemas, matanya menyapu seluruh ruangan. Ia berhenti sejenak saat melihat ke arah Pradipta, namun kemudian mengalihkan pandangannya dengan cepat.
Wanita itu berjalan ke arah barista, memesan kopi, lalu mencari tempat duduk. Dan ia memilih meja yang tak jauh dari meja Pradipta. Ia duduk, mengeluarkan buku sketsa dan pensil. Tangannya mulai menari di atas kertas.
Pradipta menarik napas dalam-dalam. Ini saatnya. Ia berdiri, berjalan pelan mendekati meja wanita itu. ‘Permisi,’ sapanya dengan suara yang ia usahakan terdengar tenang. Wanita itu mendongak, matanya sedikit melebar karena terkejut.
‘Maaf mengganggu. Kamu… kamu ‘A’, kan?’ Pradipta bertanya, menunjuk ke arah tulisan di kartu nama yang ia pegang.
Wanita itu mengangguk pelan, wajahnya terlihat semakin pucat. ‘Iya. Kenapa?’
‘Aku Pradipta. Istri Wibisono.’ Pradipta mengatakannya dengan lugas, tanpa emosi yang terlihat. Ia menunggu reaksi wanita itu. Wanita itu hanya diam, menunduk menatap buku sketsanya, jemarinya mencengkeram pensil erat-erat.
‘Saya tidak tahu apa yang terjadi,’ suara wanita itu berbisik, hampir tak terdengar. ‘Tapi Wibisono bilang dia akan putus denganmu.’
Kata-kata itu seperti sambaran petir. Pradipta terdiam. Putus? Wibisono bilang akan putus dengannya? Tapi kapan? Kenapa ia tidak pernah tahu?
‘Dia bilang,’ wanita itu melanjutkan, suaranya bergetar, ‘dia bilang kamu akan marah kalau tahu dia akan memintaku membuatkan ini untuknya.’ Ia menunjuk pada gambar bunga tulip yang ia pegang di tangannya. ‘Dia bilang ini hadiah untuk ulang tahunmu, dibuat oleh desainer favoritmu. Dia bilang dia tidak mau kamu tahu dia memesannya dariku, takut kamu berpikiran macam-macam.’
Pradipta menatap gambar bunga tulip itu, lalu ke wanita di depannya. Kebingungan bercampur rasa ngeri menyeruak dalam dadanya. Ini bukan perselingkuhan. Ini jauh lebih buruk. Wibisono membohonginya. Memutarbalikkan fakta. Menggunakan ‘A’ untuk membuat hadiah ulang tahun yang ia klaim sendiri?
Babak 5 — Ketidakpastian Es Teh Jumbo
Wajah Pradipta terasa dingin. Ia tidak yakin apakah itu karena AC kafe yang terlalu kuat atau karena kenyataan yang baru saja menghantamnya. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menatap wanita di depannya, lalu ke buku sketsa yang menampilkan serangkaian gambar bunga yang indah, beberapa di antaranya sudah ditandai dengan inisial ‘P’.
Wanita itu menatapnya, matanya berkaca-kaca. ‘Saya minta maaf. Saya hanya mengikuti instruksi.’
Pradipta hanya bisa mengangguk lemah. Ia mengambil kembali kartu nama dan gambar bunga tulip itu. ‘Terima kasih,’ ucapnya lirih, suaranya serak. Ia berbalik, meninggalkan kafe itu tanpa menghabiskan es teh jumbonya.
Di dalam mobil Wibisono, ia kembali duduk di kursi pengemudi. Ia menatap setir, lalu ke kantong jok di belakangnya. Gambar bunga tulip itu terasa seperti beban berat di tangannya. Ulang tahunnya masih tiga bulan lagi. Wibisono merencanakan ini? Atau ia hanya mencari alasan lain untuk berbohong?
Ia membuka ponselnya lagi. Membuka obrolan dengan Wibisono. Pesan terakhir masih disana: ‘Meetingnya dadakan banget, pindah ke Kemang. Udah telat nih.’ Ia menatap kalimat itu, lalu ke gambar bunga tulip. Kebohongan demi kebohongan. Ia tidak tahu apa yang harus ia percayai lagi. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Pradipta menyalakan mesin mobil. Ia tidak tahu harus pulang ke rumah, atau pergi ke suatu tempat lain. Pikirannya kosong. Satu hal yang pasti, Wibisono bukan lagi pria yang ia kenal. Dan ia tidak tahu lagi harus bagaimana.
