Kisah Ibu Muda: Bukannya Terlambat Jemput Anak, Ia Malah Temukan Ini di Tas Suami

Kisah Ibu Muda: Bukannya Terlambat Jemput Anak, Ia Malah Temukan Ini di Tas Suami

CERITA PENDEK

Kisah Ibu Muda: Bukannya Terlambat Jemput Anak, Ia Malah Temukan Ini di Tas Suami

Babak 1 — Senyum yang Menipis di Gerbang Sekolah

Nindya memarkirkan motor matic-nya dengan sedikit kasar. Bunyi ‘ngiiik’ yang familier itu terdengar lebih nyaring dari biasanya, memecah keheningan sore di depan gerbang SD Pelita Harapan. Ia terlambat seperempat jam. Terlambat menyadari bahwa waktu adalah musuh paling licik bagi seorang ibu yang harus mengejar jadwal jemputan anak. Pikirannya sudah berputar, membayangkan wajah cemberut putranya, Damar, yang pasti menunggunya di ruang tunggu guru, matanya sembab karena terlalu lama menunggu.

Ia mengenakan daster batik motif parang klasik, sedikit lusuh di beberapa bagian, bukti nyata bahwa ia adalah ibu rumah tangga sejati yang lebih sering bergulat dengan cucian dan tumpukan PR daripada berurusan dengan cermin. Di tangannya tergenggam ponsel yang layarnya retak di satu sudut, peninggalan Damar yang pernah tak sengaja menjatuhkannya saat belajar bersepeda roda dua. Ia buru-buru menyalakan ponsel itu lagi, membuka aplikasi WhatsApp, ingin mengirim pesan singkat meminta maaf pada Pak Bambang, wali kelas Damar. Namun, jemarinya berhenti bergerak ketika notifikasi dari aplikasi mobile banking muncul.

‘Transaksi Rp 750.000 berhasil,’ bunyi notifikasi itu. Nindya mengerutkan kening. Uang sebanyak itu? Sejak kapan ia punya tagihan sebesar itu? Ia mencoba mengingat-ingat pengeluaran terakhirnya. Terakhir kali ia belanja bulanan di Indomaret, totalnya bahkan tidak sampai lima ratus ribu. Ia baru saja menyelesaikan tagihan listrik dan air kemarin melalui PLN Mobile, tidak mungkin ada tagihan susulan sebesar ini. Ia pun meraih tas selempang kanvasnya, berharap menemukan dompetnya yang mungkin berisi catatan pengeluaran atau struk yang bisa menjadi petunjuk.

Isinya hanya dompet tipis berisi KTP, kartu BPJS, dan beberapa lembar uang tunai pecahan sepuluh ribu. Tidak ada struk dari mana pun. Rasa gelisah mulai merayapi dadanya. Perasaan tidak enak itu seperti sisa hujan yang masih menetes di genteng rumah, pelan tapi pasti.

“Bu Nindya?” Suara halus seorang guru memanggil dari ambang pintu ruang tunggu. Nindya mendongak, senyumnya berusaha meyakinkan meski hatinya sudah berdebar tak keruan. “Damar sudah diantar pulang sama Pak… Pak Tio, Bu.”

Pak Tio? Siapa Pak Tio? Suaminya, Aris, belum pernah menyebutkan ada teman bernama Tio yang akan menjemput Damar. Aris baru saja pulang dari perjalanan dinas di Surabaya dua hari lalu. Nindya mematung sejenak. Pak Tio… bukankah itu nama rekan kerja Aris yang sering ia dengar Aris ceritakan? Rekan yang katanya… sangat akrab dengannya.

Babak 2 — Ketakutan yang Bersembunyi di Balik Ketenangan

Nindya mengantar Damar sampai ke depan pintu rumahnya, berusaha bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Ia membantu Damar meletakkan tas sekolahnya di atas meja ruang tamu yang masih berantakan bekas sarapan tadi pagi. Aroma nasi uduk yang belum habis semalam masih tercium samar. “Damar nanti langsung kerjakan PR ya, Nak. Nanti Mama bantu kalau ada yang susah,” ucap Nindya, suaranya terdengar normal, meskipun di dalam hatinya ada kegelisahan yang membuncah seperti ombak yang siap menghantam karang.

Damar mengangguk patuh. Matanya yang bulat memandang ibunya penuh tanya. Ia merasakan ada sesuatu yang berbeda pada Nindya hari ini. Biasanya ibunya akan langsung mengomeli Damar karena terlambat bangun, tapi kali ini Nindya hanya tersenyum, senyum yang Nindya sendiri sadari terasa sangat kaku dan dipaksakan. Setelah memastikan Damar masuk ke kamarnya, Nindya segera mengunci pintu rumah. Ia melangkah cepat menuju kamar utama, tempat suaminya, Aris, masih terlelap pulas setelah perjalanan panjangnya.

Aris tertidur dengan posisi tengkurap, selimut tebal menutupi sebagian besar tubuhnya. Nindya menatap wajah lelap suaminya. Belum ada tanda-tanda kebohongan di sana, tapi Nindya tahu, kadang kebohongan justru tersimpan rapi di balik ketenangan. Tangannya terulur, menyentuh punggung Aris yang kokoh. Hangat. Nindya menarik tangannya kembali. Ia lalu duduk di tepi ranjang, menatap sekeliling kamar. Tas kerja Aris tergeletak begitu saja di kursi dekat lemari. Tas kulit berwarna cokelat tua, usang namun terawat. Tas yang sering ia lihat Aris bawa setiap hari, tas yang menyimpan begitu banyak rahasia bisnisnya.

Nindya menarik napas dalam-dalam. Ia tidak berniat menggeledah barang suaminya. Itu adalah prinsip yang selalu ia pegang teguh. Namun, notifikasi mobile banking tadi pagi terus terngiang. Rp 750.000. Untuk apa? Dan siapa Pak Tio yang menjemput Damar? Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ia bangkit, berjalan menuju tas kulit itu. Tangannya gemetar saat meraih resletingnya. Ia menariknya perlahan, mencoba membuka tas itu tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Samar-samar, ia bisa mendengar suara Aris mendengkur pelan dari balik selimut.

Di dalam tas itu, tumpukan dokumen bisnis berserakan. Kartu nama, catatan rapat, semuanya tampak biasa saja. Nindya terus menggali, mencari sesuatu yang bisa menjelaskan kebingungannya. Jari telunjuknya menyentuh sesuatu yang terasa berbeda di bagian bawah tas. Sebuah amplop kecil berwarna putih, tidak bertuliskan apa pun. Kelihatannya seperti amplop surat biasa, tapi ukurannya lebih kecil dan terasa sedikit tebal. Rasa penasaran Nindya semakin memuncak. Ia meraih amplop itu, lalu menariknya keluar dari tas.

Saat ia membalik amplop itu, matanya tertuju pada sesuatu yang tertulis di sudutnya, dengan tulisan tangan yang tidak ia kenal, namun terasa begitu familier dalam keakrabannya. “Untuk Tio, Kado Kecil Buat Sahabat.”

Babak 3 — Ingatan yang Terkubur dan Chat Tak Terbalas

Nindya duduk di kursi makan, amplop putih itu kini tergeletak di depannya. Tangannya yang memegang secangkir teh hangat terasa dingin. Ia masih belum berani membukanya. ‘Untuk Tio, Kado Kecil Buat Sahabat.’ Ucapan itu terus terngiang di kepalanya. Aris, Tio, dan ‘kado kecil’. Perasaan mual menjalari perutnya. Nindya mencoba memutar ulang percakapannya dengan Aris kemarin malam sebelum suaminya berangkat tidur lebih awal karena lelah. Aris hanya bilang, “Sayang, aku ngantuk banget. Nanti kalau ada apa-apa, telepon saja ya.” Nindya hanya menjawab singkat, sibuk membongkar belanjaan dari Tokopedia yang baru saja datang.

Ia teringat masa-masa awal pernikahan mereka. Aris dan Tio memang sangat dekat. Mereka sering bermain futsal bersama di akhir pekan, bahkan pernah satu tim saat turnamen antar-kantor. Tio adalah tipe pria yang humoris, sedikit urakan, namun selalu ada saat Aris membutuhkan. Nindya sendiri juga cukup akrab dengan Tio. Tapi, ‘kado kecil’? Apa maksudnya? Sejak kapan Aris mulai memberi ‘kado’ pada sahabatnya?

Ponselnya berdering. Nama Aris tertera di layar. Jantung Nindya berdegup kencang. Ia ragu untuk menjawab. Setelah tiga kali dering, ia memberanikan diri. “Ya, Mas?” Suaranya sedikit serak. “Sayang, kok tadi Pak Bambang telepon? Katanya Damar kamu telat jemput?” Suara Aris terdengar normal, bahkan sedikit khawatir.

Nindya berusaha menahan suaranya agar tidak bergetar. “Iya, Mas. Tadi di jalan ada sedikit masalah. Tapi Damar sudah diantar pulang sama Pak Tio, kok. Aman.” Ia menekankan kata ‘Pak Tio’, ingin melihat reaksi Aris. Hening sejenak di ujung telepon. “Oh, Tio? Baguslah. Kamu hati-hati ya di rumah,” jawab Aris datar. Tidak ada nada terkejut, tidak ada nada curiga. Semuanya tampak normal. Terlalu normal.

Nindya merasa sedikit lega, namun juga semakin curiga. Kenapa Aris tidak menanyakan siapa Pak Tio yang dimaksud? Bukankah itu nama yang sama dengan yang tertera di amplop? Ia lalu teringat sesuatu. Aris sering sekali mengirimkan foto-foto kesehariannya saat perjalanan dinas ke grup chat keluarga, atau kadang ke grup teman-teman kantornya. Ia pun membuka aplikasi LINE, mencari grup ‘Keluarga Aris’ dan grup ‘Tim Proyek Surabaya’. Ia scroll ke bawah, mencari foto-foto Aris selama di Surabaya. Di sana ia menemukan banyak foto Aris bersama rekan-rekan kerjanya, termasuk Tio. Di salah satu foto, Aris dan Tio tampak sedang makan malam di sebuah restoran seafood yang ramai. Mereka tertawa lepas.

Namun, ada satu foto yang menarik perhatian Nindya. Foto itu diunggah Aris pada pukul 11 malam, tepat sebelum ia tidur. Foto itu menampilkan punggung tangan Aris yang sedang memegang sebuah kartu. Kartu itu terlihat seperti kartu kredit, tapi warnanya ungu metalik yang unik. Di bawah foto itu, Aris menulis caption singkat: ‘Sebuah tanda terima kasih untukmu, Bro. Semoga cocok.’ Di bawahnya, ada komentar dari Tio: ‘Siap, Mas! Terima kasih banyak!’

Kartu itu. Warna ungu metalik. Mirip dengan warna yang tertera di notifikasi mobile banking-nya. Nindya lalu membuka aplikasi mobile banking-nya lagi. Ia membuka riwayat transaksi. Transaksi terakhir adalah tanggal hari ini, jam 7 pagi, sejumlah Rp 750.000. Nama merchant-nya sangat jelas tertera: ‘Lavender Beauty Salon & Spa’.

Babak 4 — Pengakuan yang Terucap di Tengah Ruang Tamu

Nindya menutup aplikasi mobile banking-nya dengan tangan gemetar. Lavender Beauty Salon & Spa. Ia belum pernah ke salon itu. Ia selalu pergi ke salon langganannya di bilangan Tebet, tempat ia sudah menjadi pelanggan setia selama bertahun-tahun. Apalagi Rp 750.000? Itu bukan harga perawatan biasa. Itu adalah harga untuk paket spa premium, atau mungkin perawatan rambut yang sangat mahal.

Ia mendongak, melihat jam dinding di ruang tamu. Pukul dua siang. Aris pasti akan segera bangun. Nindya merasa ia tidak bisa menahan ini lagi. Ketakutan dan kebingungan yang bercampur aduk ini terlalu berat untuk dipikul sendirian. Ia berjalan perlahan menuju kamar utama, tempat Aris masih tertidur. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi wajah suaminya. Wajah yang dulu ia cintai, wajah yang dulu ia percayai sepenuhnya.

Nindya menarik napas dalam. “Mas,” panggilnya pelan. Aris menggeliat, lalu membuka matanya perlahan. “Hm? Kenapa, Sayang?” tanyanya serak, masih setengah terlelap. “Mas, aku mau tanya sesuatu,” ucap Nindya, suaranya tegas namun penuh keraguan. Aris duduk, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. “Tanya apa?”

Nindya mengambil amplop putih dari meja rias. “Ini… ini punya Mas, kan? ‘Untuk Tio, Kado Kecil Buat Sahabat’?” Ia menyodorkan amplop itu pada Aris. Aris mengerutkan kening, menatap amplop itu seolah baru pertama kali melihatnya. “Kapan aku nulis ini?” tanyanya, nada suaranya mulai terdengar bingung.

“Tadi pagi, di tas kerja Mas,” jawab Nindya. “Terus… ini kenapa ada transaksi dari Lavender Beauty Salon & Spa sebesar tujuh ratus lima puluh ribu di rekening kita? Dan kenapa Damar diantar sama Pak Tio?” Nindya melempar bom itu sekaligus. Ia menatap Aris tajam, menunggu reaksi suaminya. Wajah Aris yang tadinya bingung kini berubah menjadi pucat pasi.

Ia terdiam, matanya menatap lurus ke depan, tidak berani menatap Nindya. Keheningan menggantung di antara mereka, lebih mencekam daripada badai yang siap menerjang. Aris membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Ia terlihat seperti orang yang tertangkap basah. “Mas… jawab aku,” desak Nindya, suaranya mulai bergetar.

Aris menelan ludah. Ia terlihat sangat tidak nyaman. “Itu… itu bukan untuk Tio, Ndya,” ucapnya pelan, suaranya nyaris berbisik. “Itu… itu untuk kamu.” Nindya terkesiap. “Untukku? Kenapa pakai nama Tio? Kenapa harus sembunyi-sembunyi? Dan kenapa kamu pergi ke salon itu pakai kartu yang kamu kasih ke Tio kemarin?”

Aris akhirnya memberanikan diri menatap Nindya. Matanya terlihat berkaca-kaca. “Aku… aku mau kasih kejutan, Ndya. Ulang tahun pernikahan kita sebentar lagi. Aku tahu kamu suka banget sama paket spa di Lavender itu, tapi harganya memang mahal. Aku dapat diskon khusus dari Tio, dia punya kenalan di sana. Makanya aku minta dia bantu pesankan dan bayar dulu, nanti aku ganti. Makanya aku tulis amplop itu buat dia, biar dia ingat itu kado buat kamu.”

Nindya terdiam. Kata-kata Aris terdengar masuk akal, logis. Tapi, kenapa rasanya tetap janggal? Kenapa ada rasa tidak percaya yang masih mengganjal di hatinya? Ia menatap Aris, lalu menatap amplop di tangannya. “Terus, soal Damar diantar Pak Tio?” tanyanya lagi, masih belum yakin sepenuhnya.

Aris menghela napas panjang. “Oh, itu. Tio kebetulan lewat depan sekolah Damar pas aku minta dia jemputin. Dia mau sekalian anterin Damar ke rumahku di Kemang. Aku kan lagi di Surabaya. Daripada Damar sendirian nunggu lama, jadi aku suruh Tio jemput aja. Biar sekalian dia kasih kunci ini ke kamu.” Aris lalu merogoh saku celana tidurnya, mengeluarkan sebuah kunci kecil berwarna perak.

Babak 5 — Kunci yang Membuka Luka Baru

Nindya meraih kunci itu. Kunci apa ini? Bukan kunci rumah, bukan kunci mobil. Kunci itu kecil, ramping, dan terasa dingin di tangannya. Ia memandangi kunci itu, lalu kembali menatap Aris. Wajah Aris masih terlihat sedikit pucat, namun ada semburat lega di matanya karena Nindya tampaknya mulai menerima penjelasannya. “Ini kunci apa, Mas?” tanya Nindya lembut, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Aris tersenyum tipis. “Itu kunci… locker, Sayang. Locker di tempat kerja Tio. Kemarin pas aku ke sana, aku minta dia simpanin sesuatu buat kamu. Barang yang spesial. Nanti kalau kamu sudah tenang, kamu ambil aja sendiri.” Aris tersenyum, mencoba meyakinkan Nindya. “Jadi, kamu percaya sama aku, kan?”

Nindya mengangguk pelan. Ia mencoba percaya. Ia ingin percaya. Kepercayaan adalah fondasi sebuah rumah tangga, dan ia tidak ingin meruntuhkannya hanya karena satu kesalahpahaman. Ia menyimpan kunci itu di saku daster batiknya. “Ya, Mas. Aku percaya,” jawabnya, berusaha tersenyum. Ia mengambil tas kerja Aris, lalu mulai merapikannya, memasukkan kembali dokumen-dokumen yang tadi sempat berantakan. Ia ingin segera melupakan kejadian pagi ini.

Namun, saat ia menutup resleting tas kerja Aris, tangannya menyentuh sesuatu yang keras di bagian depan tas, di dalam saku kecil yang biasa digunakan Aris untuk menyimpan dompet. Sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana. Ia ragu untuk menariknya keluar. Jantungnya kembali berdebar kencang. Perlahan, dengan gerakan yang sangat hati-hati, Nindya meraih benda itu. Ia menariknya keluar dari saku.

Benda itu adalah sebuah kartu nama. Bukan kartu nama Aris, bukan pula kartu nama Tio. Kartu nama itu berwarna merah muda pastel, dengan desain yang imut dan feminin. Di bagian depannya tertulis nama: ‘Kirana – Personal Assistant’. Dan di bawahnya, sebuah nomor telepon. Nindya membalik kartu itu. Di bagian belakang, tertulis dengan tinta hitam, sebuah catatan kecil:

‘Aris, sayang. Jangan lupa tanggal 20 ya. Aku tunggu kabarmu. K.’

Nindya terdiam membeku. Kirana. Nama itu tidak pernah ia dengar sebelumnya. ‘Aris, sayang.’ Kalimat itu menancap seperti belati di hatinya. Dan tanggal 20? Tanggal itu… adalah tanggal ulang tahun pernikahan mereka yang ke-7. Tadi Aris bilang ia ingin memberi kejutan, tapi kenapa ada kartu nama dengan tulisan mesra seperti ini? Kunci di sakunya terasa semakin berat. Ia menatap Aris, yang kini menatapnya dengan pandangan penuh harap, sama sekali tidak menyadari kartu nama yang ada di tangan istrinya.

Di luar jendela, awan mendung mulai menggelayut, seolah meramalkan badai yang akan datang menerjang ketenangan rumah tangga Nindya.