Cerita Pengkhianatan: Ditemukan di Balik Struk Pembelian Skincare, Pengakuan Suami yang Membuatnya Terpaku
Babak 1 — Kebiasaan yang Terlalu Sempurna
Jatmiko tak pernah benar-benar mengerti definisi ‘sempurna’ sampai ia melihat Nindya merapikan meja makan setiap pagi. Bukan sekadar menata piring dan gelas, tapi Nindya punya ritus tersendiri. Gelas air minum harus sejajar sempurna dengan pinggiran taplak meja. Sendok dan garpu harus menunjuk tepat ke arah tengah piring, bukan sedikit miring. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar menyengat kulit, ritual itu sudah selesai. Jatmiko selalu terpaku melihatnya, semacam kekaguman yang bercampur rasa bersalah yang tak ia tahu sumbernya.
Pagi ini pun sama. Nindya, dengan daster batik motif parang usangnya yang sedikit luntur, bergerak efisien di dapur sempit mereka. Asap mengepul dari panci nasi goreng di atas kompor, memenuhi aroma bawang putih yang ditumis Jatmiko. Aroma yang sudah menjadi simfoni pagi di rumah kontrakan mereka di pinggir kota ini. Jatmiko sesekali melirik istrinya. Rambutnya yang panjang ikal diikat asal, sesekali berantakan saat ia menyibakkan ke belakang telinga. Kulitnya yang sawo matang selalu terlihat sedikit kusam di pagi hari, tapi itu tidak mengurangi kecantikannya di mata Jatmiko. Jauh dari kata sempurna, tapi Nindya adalah dunianya. Dunianya yang ia bangun sendiri, batu bata demi batu batu bata, melalui keringat dan… kebohongan.
“Mas, jangan lupa nanti sore mau diambil ‘kan? Kata Mbak Rengganis, stoknya nggak banyak lagi,” suara Nindya memecah keheningan, namun matanya tetap fokus pada nasi goreng yang diaduknya. Ia tak menoleh, seolah sudah hafal setiap gerakan Jatmiko di belakangnya.
Jatmiko meneguk kopi paginya yang pekat, rasa pahitnya menjalar di lidah. ‘Stoknya nggak banyak lagi’. Kalimat itu terdengar begitu familiar. Setiap kali Nindya memesan produk-produk skincare dari salah satu merek lokal yang sedang naik daun itu, kalimat yang sama selalu ia dengar dari customer service-nya, dari sang ownernya, Rengganis. Dan setiap kali, Nindya selalu buru-buru ingin memesan, takut kehabisan.
“Iya, Sayang. Nanti pulang kantor Mas ambil langsung ke sana. Tapi, kamu yakin mau beli sebanyak ini lagi? Kita baru saja beli bulan lalu,” Jatmiko berusaha terdengar santai, meski perutnya mulai terasa sedikit mual. Skenario ini sudah ia jalani berkali-kali. Permintaan Nindya, persetujuannya, pengambilan barang, lalu malam harinya, ia akan menggunakan ‘kemasan yang baru’ itu untuk melapisi ‘sesuatu’ yang lain. Sesuatu yang ia beli dari dompet yang berbeda, dari rekening yang tak pernah Nindya lihat.
Nindya akhirnya menoleh, senyum tipis tersungging di bibirnya. “Kan kamu tahu sendiri, Mas. Kalau habis, susah nyarinya. Apalagi yang varian ‘Whitening Glow’ itu, katanya cepet banget ludesnya. Mbak Rengganis bilang, harus PO dulu kalau kehabisan. Nggak mau kan aku nunggu lama?” Ia kembali sibuk dengan masakannya. Jatmiko bisa merasakan tatapan Nindya yang meneliti punggungnya. Ia tahu, Nindya tidak bodoh. Tapi entah kenapa, Nindya selalu membiarkannya. Entah karena terpaksa, atau memang karena… dia tak ingin tahu?
Jatmiko menghela napas. ‘Dia tak ingin tahu’. Itu kesimpulan yang paling nyaman baginya. Membiarkan Nindya hidup dalam ilusi ‘istri sempurna’ yang suaminya bekerja keras di kantor hingga larut malam, sementara ia sendiri menyembunyikan kenyataan pahit bahwa ia menghabiskan sebagian besar gajinya untuk wanita lain. Wanita yang bahkan tidak ia cintai, tapi lebih… mudah. Lebih mudah daripada merajut kembali benang kusut rumah tangganya dengan Nindya. Lebih mudah daripada menghadapi tatapan Nindya yang akan bertanya ‘kenapa Mas lembur lagi?’ setiap malam.
Babak 2 — Kejutan di Balik Kantong Kertas
Pulang kantor selalu menjadi bagian tersulit dari hari Jatmiko. Bukan karena lelahnya pekerjaan, tapi karena harus berakting seolah ia baru saja pulang dari rutinitas kantor yang melelahkan. Malam ini, ia sengaja memesan GoFood untuk makan malam mereka, agar punya alasan tambahan untuk tidak langsung pulang ke rumah. Ia ingin menunda momen pengambilan ‘paket’ dari Rengganis. Semakin ditunda, semakin ia merasa sedikit lebih tenang. Tapi ‘sedikit lebih tenang’ itu justru membuatnya semakin gelisah.
“Mas Jatmiko? Wah, pas banget. Tadi Mbak Rengganis baru saja titip,” suara riang seorang perempuan menyambutnya begitu ia melangkah masuk ke area parkir minimarket tempatnya biasa bertemu Rengganis. Perempuan itu, petugas minimarket bernama Laras, tersenyum lebar sambil mengangkat sebuah kantong kertas berwarna cokelat polos.
Jatmiko berusaha tersenyum. Kantong itu terlihat terlalu besar untuk sekadar sebuah krim wajah atau serum. Ada rasa tidak nyaman menjalar di punggungnya. “Oh, iya, Laras. Makasih ya. Mbak Rengganisnya ada?” tanyanya, berharap Rengganis masih di sana agar ia bisa menyerahkan kantong itu begitu saja.
“Sudah pulang dari tadi, Mas. Katanya buru-buru. Ini dititip pesan buat Mas ambil, sekalian kalau nanti Mas ke sini,” Laras menyerahkan kantong itu. Jatmiko menerimanya, beratnya terasa pas di tangannya. Ia bisa merasakan benda-benda di dalamnya, tersegel rapi dalam balutan plastik bubble wrap.
Ia memasukkan kantong itu ke dalam tas kerjanya, lalu segera bergegas keluar. Ia tahu ia harus segera mengantarnya pulang. Nindya pasti sudah menunggu. Nindya selalu menunggu. Menunggu kedatangannya, menunggu ia membawakan ‘sesuatu’ untuknya. Ironisnya, Nindya tidak tahu bahwa ‘sesuatu’ yang ia bawa pulang setiap kali bukanlah barang dari Rengganis yang ia beli atas suruhan Nindya. Bukan.
Sesampainya di rumah, Nindya sedang duduk di ruang tamu yang sempit, membaca buku. Ia mengangkat wajahnya saat mendengar Jatmiko masuk. Senyumnya masih sama, lembut dan sedikit lelah. “Sudah pulang, Mas? Aku tadi sudah makan, nggak apa-apa kan? Tadi Mbak Rengganis WA, katanya barangnya sudah dititip di minimarket dekat sini. Kamu sudah ambil?” Tanyanya, matanya berbinar penuh harap. Harapan yang Jatmiko tahu tidak akan pernah terpenuhi. Harapan yang dibangun di atas kebohongan Jatmiko.
Jatmiko terdiam sejenak. Ia melirik kantong kertas cokelat yang ia letakkan di meja kecil dekat pintu. “Iya, sudah. Ini.” Ia mencoba terdengar biasa saja, meletakkan tas kerjanya. “Kamu langsung buka saja kalau mau.”
Nindya bangkit, kakinya melangkah ringan menuju meja. Ia mengambil kantong itu, senyumnya semakin lebar. “Asiiiik! Aku suka banget varian ‘Whitening Glow’ yang ini. Cocok di kulitku. Mbak Rengganis emang paling tahu kebutuhan aku.” Ia mengeluarkan isinya, membongkar satu per satu. Serum, krim malam, krim siang, lalu… sebuah struk belanja. Struk yang sedikit terlipat dan nyaris tersembunyi di dasar kantong. Mata Nindya mengerjap, seolah baru menyadari keberadaannya. Ia memungutnya, membuka lipatannya dengan hati-hati.
Awalnya Jatmiko tak terlalu peduli. Itu hanya struk belanja. Tapi kemudian, ia melihat Nindya terdiam. Senyum di wajahnya memudar, digantikan oleh ekspresi kaget yang perlahan berubah menjadi… sesuatu yang tak bisa ia baca. Tangan Nindya mulai gemetar. Ia memegang struk itu seperti benda berbahaya. Jatmiko merasa ada yang salah. Sangat salah. Ia menahan napas, menatap istrinya yang kini membeku di tempat.
Babak 3 — Alur Waktu yang Berbalik
Perlahan tapi pasti, Nindya menunduk. Buku yang tadinya ia pegang jatuh ke lantai tanpa suara. Jatmiko bisa melihat punggung Nindya menegang. Ia tak berani bergerak, seolah satu gerakan saja bisa memecah momen hening yang mencekam ini. Ia hanya bisa menatap Nindya, menatapstruk belanja di tangan istrinya yang kini mulai kusut karena genggaman yang terlalu erat.
Apa yang ada di struk itu? Jatmiko mencoba mengingat. Biasanya, struk belanja Rengganis selalu berisi daftar produk skincare yang sama, dengan total harga yang selalu di bawah satu juta rupiah. Tapi Nindya sekarang bereaksi seperti baru saja melihat hantu. Tatapannya kosong, terarah pada tulisan-tulisan di kertas tipis itu.
“Nindya? Kamu kenapa?” Jatmiko akhirnya memberanikan diri bertanya, suaranya terdengar serak. Ia melangkah mendekat, tapi Nindya justru mundur selangkah, menjauh darinya. Tangannya masih gemetar hebat.
“Ini… ini apa, Mas?” Suara Nindya bergetar, lebih pelan dari biasanya. Ia menyodorkan struk itu ke arah Jatmiko, tapi tidak dengan gerakan kasar. Lebih seperti menawarkan bukti.
Jatmiko mengernyit, mengambil struk itu. Ia melihat daftar belanja di sana. Bukan produk skincare. Bukan pula barang-barang kebutuhan rumah tangga. Ada… ‘Pakaian Dalam Wanita – Bra Lace Hitam – Rp 250.000’, ‘Celana Dalam Seamless – Rp 150.000’, ‘Parfum Pria – Noir Intense – Rp 750.000’… dan banyak lagi. Totalnya hampir dua juta rupiah. Jauh dari harga paket skincare Nindya yang biasanya hanya berkisar lima ratus ribu. Jantung Jatmiko berdegup kencang. Ini bukan struk dari Rengganis. Ini struk dari toko pakaian dalam wanita yang baru buka di pusat perbelanjaan, tempat ia sering membelikan ‘hadiah’ untuk wanita lain itu.
Ingatannya berputar. Flashback singkat terlintas. Beberapa minggu lalu, saat Nindya memintanya untuk mengambil paket dari Rengganis. Ia ingat ia sebenarnya sudah mengambil paket itu, tapi entah kenapa, ia merasa ada yang kurang. Ia lalu mampir ke toko itu, membeli beberapa barang. Ia ingat ia menyembunyikan struk belanja toko itu di dompetnya, berencana membuangnya nanti. Tapi ia lupa. Dan entah bagaimana, struk itu berakhir di kantong belanjaan Rengganis, lalu jatuh ke tangan Nindya. Bagaimana bisa?
“Ini… ini bukan… ini salah ambil, Nindya. Pasti Laras salah kasih. Tadi Mbak Rengganis juga buru-buru. Mungkin dia titip struk yang salah,” Jatmiko mencoba mencari alasan, namun suaranya sendiri terdengar tidak meyakinkan.
Nindya hanya terdiam. Matanya menatap Jatmiko lekat, tatapan yang begitu dalam hingga Jatmiko merasa jiwanya terkelupas. Ada kekecewaan yang begitu besar di sana, tapi juga sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih tenang. “Salah ambil?” ulang Nindya, suaranya nyaris berbisik. “Jadi… selama ini, yang selalu kamu ambilkan untukku dari Mbak Rengganis itu… bukan barang dari Mbak Rengganis, kan, Mas?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Pertanyaan yang selama ini Jatmiko hindari dengan segala cara. Pertanyaan yang menjadi akar dari semua kebohongannya. Jatmiko menelan ludah. Ia melihat ke arah Nindya, lalu ke arah struk di tangannya, lalu kembali ke arah Nindya. Ia tahu, ia tidak bisa lagi berlari.
Babak 4 — Kebenaran yang Menyakitkan
Jatmiko merasa seluruh dunia berputar. Udara di ruangan sempit itu terasa semakin menyesakkan. Ia melihat Nindya berdiri di sana, dengan struk belanja yang kini tergenggam erat di tangan kirinya. Wajahnya pucat pasi, namun tatapannya tetap fokus pada Jatmiko. Seolah ia sudah siap mendengar apapun, seolah ia sudah tahu jawabannya sebelum bertanya.
“Nindya, aku…” Jatmiko memulai, tapi kata-katanya tersangkut di tenggorokan. Ia melihat Nindya menghela napas panjang, lalu ia melakukan sesuatu yang membuat Jatmiko semakin terkejut. Nindya tersenyum.
Senyum itu bukan senyum bahagia. Bukan pula senyum sinis. Itu adalah senyum pasrah. Senyum yang menyiratkan penerimaan atas kenyataan yang paling pahit. “Aku tahu, Mas,” katanya pelan, suaranya datar. “Sejak dulu aku tahu.”
Jatmiko terperangah. “Kamu… kamu tahu?”
Nindya mengangguk. “Aku tahu kamu selalu lembur. Aku tahu kamu selalu dapat uang tambahan dari mana. Aku tahu kamu menghabiskan banyak uang untuk… wanita lain. Mbak Rengganis itu hanya kedokmu, kan? Kamu menyuruhku memesan skincare darinya agar kamu bisa punya alasan untuk mengambil paketnya, tapi sebenarnya kamu menggunakan uang itu untuk membeli barang-barang… seperti yang ada di struk ini.” Ia mengangkat struk itu sekilas, lalu menjatuhkannya ke lantai. “Aku hanya berpura-pura tidak tahu, Mas. Aku… aku tidak ingin melihatmu pergi. Aku takut sendirian.”
Air mata mulai menggenang di sudut mata Nindya, tapi ia berusaha menahannya. Ia menarik napas dalam-dalam. “Tapi semakin kamu berbohong, semakin jauh kamu pergi. Semakin aku merasa tidak berharga. Dan hari ini… hari ini aku sadar, aku tidak bisa lagi hidup dalam kebohongan ini.” Ia menatap Jatmiko dengan tatapan yang kini dipenuhi kesedihan yang mendalam. “Struk ini… ini bukan hanya struk belanja. Ini adalah bukti bahwa kamu tidak pernah benar-benar menghargaiku. Bahwa semua pengorbananku… tidak ada artinya bagimu.”
Jatmiko merasa lututnya lemas. Ia ingin bersujud, memohon maaf. Tapi ia tahu, kata-kata maaf saja tidak akan cukup. Ia melihat Nindya berbalik, melangkah menuju kamarnya. Ia mendengar suara pintu ditutup pelan. Jatmiko hanya berdiri di sana, terdiam, memandangi struk belanja yang tergeletak di lantai. Struk yang membongkar semua kebohongannya, dan akhirnya, membuka mata Nindya. Mata yang selama ini ia buta-butakan.
Ia merasa seperti penjahat. Penjahat yang baru saja menghancurkan dunia istrinya, dunia yang ia bangun sendiri dengan kebohongan. Ia sadar, ia tidak pernah benar-benar ‘sempurna’ seperti Nindya. Ia hanyalah pria biasa yang pengecut, yang takut kehilangan, namun justru kehilangan segalanya karena ketakutannya itu.
Babak 5 — Pagi yang Berbeda
Jatmiko tidak tidur semalam. Ia duduk di sofa ruang tamu, memandangi pintu kamar Nindya yang tertutup rapat. Ia hanya bisa membayangkan apa yang sedang Nindya rasakan di dalam sana. Rasa bersalah menghantamnya bertubi-tubi. Ia ingin mengetuk pintu, memohon untuk berbicara, tapi ia tahu Nindya tidak akan mau. Tidak malam ini.
Pagi datang. Matahari terbit seperti biasa, namun terasa berbeda. Jatmiko bangun dari sofa, badannya terasa kaku. Ia melangkah ke dapur, mencoba membuat kopi. Namun, pemandangan di meja makan membuatnya tertegun. Meja itu… bersih. Sangat bersih. Gelas air minum sejajar sempurna dengan pinggiran taplak meja. Sendok dan garpu menunjuk tepat ke arah tengah piring.
Nindya sudah melakukan ritual paginya. Seolah tidak ada yang terjadi semalam. Jatmiko menelan ludah, merasa tenggorokannya tercekat. Ia melihat Nindya berdiri di dekat jendela, membelakanginya. Ia mengenakan daster batik motif yang sama seperti kemarin, namun kali ini ia terlihat lebih… rapuh. Punggungnya sedikit membungkuk, seolah menanggung beban yang tak terlihat.
“Nindya…” panggil Jatmiko, suaranya sangat pelan. Nindya tidak bergeming.
Jatmiko memberanikan diri melangkah lebih dekat. “Aku minta maaf…” ucapnya lagi, kali ini sedikit lebih tegas. “Aku… aku sangat menyesal.”
Nindya akhirnya berbalik. Matanya terlihat sembab, namun tatapannya kini lebih tenang dari semalam. Ada sorot kelelahan yang mendalam, namun juga semacam resolusi baru. “Mas, aku tidak butuh permintaan maafmu lagi,” katanya, suaranya sedikit bergetar. “Aku hanya butuh kejelasan. Aku tidak bisa lagi hidup seperti ini. Kita tidak bisa lagi hidup seperti ini.”
Ia meraih kantong belanjaan Rengganis yang masih tergeletak di meja. Ia menarik keluar salah satu serum. “Aku akan teruskan apa yang aku mulai. Aku akan gunakan ini. Aku akan merawat diriku sendiri. Tapi… aku tidak akan lagi menunggu Mas. Aku… aku harus pergi.”
Jatmiko terkesiap. “Pergi? Kamu mau pergi ke mana?” panik mulai merayapinya.
Nindya menatapnya lekat. “Aku tidak tahu. Tapi aku tahu, aku harus menemukan diriku yang sebenarnya. Bukan diriku yang berpura-pura tidak tahu, bukan diriku yang hidup dalam kebohonganmu.” Ia tersenyum tipis, senyum yang kali ini terlihat tulus, meski sedih. “Terima kasih, Mas. Untuk segalanya. Dan untuk… struk itu.”
Ia mengambil tas kecilnya, lalu melangkah keluar dari dapur, menuju pintu depan. Jatmiko hanya bisa berdiri membeku, menyaksikan pintu itu tertutup di belakang Nindya. Meninggalkannya sendirian di rumah kontrakan yang kini terasa begitu kosong. Ia menatap meja makan yang rapi, sisa-sisa ritual sempurna Nindya. Dan di sampingnya, tergeletak struk belanja yang mengubah segalanya. Struk itu bukan hanya bukti pengkhianatan, tapi juga awal dari sebuah kebebasan. Kebebasan yang ia tidak pernah tahu akan datang.
