Kisah Laksmi: Suaminya Bilang Kerja Bakti, Tapi Bukti Ini Bikin Semua Runtuh Seketika
Babak 1 — Senyum yang Bersembunyi di Balik Cemas
Laksmi merapikan kerah kemeja suaminya, Satriyo, untuk kesekian kali. Tangannya sedikit bergetar, sebuah kebiasaan yang mulai sering ia tunjukkan sejak tiga bulan terakhir. Ia menelan ludah, berusaha keras memantulkan senyum terbaiknya ke wajah suaminya yang sedang sibuk mengikat tali sepatu. Aroma kopi pagi masih menguar di udara dapur minimalis mereka yang biasanya begitu menenangkan, namun hari ini terasa menyesakkan.
“Kamu yakin mau ikut gotong royong di komplek, Mas?” tanyanya, suaranya sedikit tercekat di tenggorokan. Ia sebenarnya sudah tahu jawabannya, tapi entah kenapa, ia butuh konfirmasi itu lagi. Pengulangan adalah salah satu cara baginya untuk menahan diri dari panik yang kian merongrong.
Satriyo mendongak, senyumnya tulus, atau setidaknya begitulah yang Laksmi ingin percayai. “Iya, Sayang. Kan ketua RT bilang semua warga wajib hadir. Sekalian silaturahmi, kan. Lagian, ini kan acara penting. Kamu di rumah saja ya, istirahat. Jangan lupa minum vitaminnya.” Ia mengacak rambut Laksmi pelan sebelum bangkit. “Aku pergi dulu.”
Laksmi hanya mengangguk, terpaku melihat punggung suaminya menghilang di balik pintu. Dapur yang tadinya ramai kini terasa begitu sunyi. Ia menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya yang tak beraturan. Kebiasaan Satriyo pulang telat atau bahkan menginap di luar rumah dengan alasan lembur atau dinas sudah sering terjadi. Namun, beberapa minggu terakhir, ada yang berbeda. Ada sesuatu yang terasa sangat janggal.
Ia menghela napas panjang. “Semoga aku yang terlalu banyak pikiran,” bisiknya pada diri sendiri. Ia beranjak ke meja makan, bersiap menghabiskan sarapannya yang sudah dingin. Nasi uduk dari warung tenda di ujung jalan, biasanya menjadi penyelamat paginya yang sibuk, hari ini terasa seperti pasir di mulut. Ia memakannya sedikit demi sedikit, lebih karena kewajiban daripada rasa lapar.
Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah notifikasi dari grup WhatsApp keluarganya. Ia membukanya sekilas. Obrolan ringan tentang rencana liburan keluarga besar. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Setidaknya, ada satu hal di dunianya yang masih terasa normal dan hangat. Ia lalu membuka aplikasi Tokopedia, berniat mencari hadiah kecil untuk adiknya. Jari-jarinya menari di atas layar, mencari barang yang tepat. Ia ingin mengalihkan pikirannya dari bayangan-bayangan buruk yang mulai merayap masuk.
Saat sedang asyik membandingkan beberapa produk, pandangannya tak sengaja tertuju pada sebuah benda kecil yang tergeletak di sudut meja dapur. Sebuah gantungan kunci. Gantungan kunci yang anehnya terasa asing. Terbuat dari kulit imitasi berwarna cokelat tua, dengan ukiran berbentuk siluet gunung yang tidak pernah Laksmi lihat sebelumnya. Benda itu sama sekali tidak familiar. Satriyo tidak punya gantungan kunci seperti itu. Ia sendiri juga tidak pernah membelinya. Tapi entah kenapa, ia merasa yakin bahwa benda itu adalah milik Satriyo. Ada secuil rasa gelisah yang tiba-tiba merayap di balik dadanya. Ia meraihnya pelan, membolak-balikkannya di telapak tangannya.
“Ini… dari mana?” gumamnya, suara lirihnya hampir tak terdengar. Perasaan tidak enak itu semakin kuat, seperti ada aliran listrik dingin yang merambat dari ujung jari hingga ke jantungnya. Ia melirik lagi ke arah pintu, berharap suaminya belum benar-benar pergi jauh.
Babak 2 — Jejak di Ujung Jari
Laksmi memutar gantungan kunci itu berulang kali di antara jemarinya. Kulit imitasi yang terasa sedikit kasar di bawah sentuhan kukunya, ukiran siluet gunung yang… aneh. Tidak ada merek, tidak ada inisial, tidak ada petunjuk sama sekali. Ia merasa seperti sedang memegang sebuah teka-teki yang seharusnya tidak ia pecahkan. Tapi rasa penasaran dan rasa takut yang bercampur aduk membuatnya tak bisa berhenti.
Ia bangkit, berjalan perlahan ke arah kamar tidur mereka. Matanya menyapu setiap sudut ruangan, seolah mencari sesuatu. Lemari pakaian Satriyo yang biasanya rapi, kini terlihat sedikit berantakan. Laksmi tahu suaminya punya kebiasaan suka menyimpan barang-barang kecil yang menurutnya ‘penting’ di saku celana atau jasnya. Ia membuka laci nakas, tempat Satriyo biasanya meletakkan koin receh dan kunci cadangan. Kosong. Ia menggeser laci itu, berharap ada sesuatu yang jatuh ke lantai. Tidak ada.
Kepalanya mulai berdenyut. Ia mencoba mengingat-ingat. Sejak kapan gantungan kunci itu ada di sana? Kapan terakhir kali ia membersihkan area meja dapur secara mendalam? Tiga bulan. Ya, sejak tiga bulan lalu. Semenjak Satriyo mulai sering ‘lembur’ dan ada ‘proyek mendadak’. Laksmi menutup mata sejenak, mencoba memutar kembali rekaman kejadian-kejadian itu dalam benaknya. Ia selalu berusaha positif, selalu percaya pada kata-kata suaminya. Tapi kini, sebuah keraguan mulai merayap, dingin dan mencekam.
Ia membuka ponselnya lagi, bukan untuk membuka Tokopedia, melainkan galeri foto. Mengamati foto-foto Satriyo. Foto liburan mereka tahun lalu di Dieng, yang terkenal dengan pemandangan gunungnya. Tapi gunung di gantungan kunci itu berbeda. Lebih sederhana, lebih abstrak. Ia lalu membuka aplikasi Gojek. Mengecek riwayat perjalanan Satriyo. Terakhir kali Satriyo menggunakan GoCar adalah dua minggu lalu, saat ia ‘mengantar klien makan malam’ di daerah Senopati. Tadi pagi Satriyo berangkat jalan kaki untuk gotong royong di komplek, ia yakin itu benar.
Perlahan, dengan tangan yang mulai gemetar, ia membuka kembali aplikasi Tokopedia. Kali ini bukan untuk mencari hadiah, melainkan untuk melakukan pencarian terbalik. Ia mengetikkan kata kunci yang muncul di benaknya: ‘gantungan kunci gunung’. Ribuan hasil bermunculan. Ia menelusuri satu per satu, membandingkan ukiran dan bentuknya. Ada yang mirip, ada yang jauh berbeda. Jantungnya berdebar semakin kencang setiap kali ia tidak menemukan kecocokan.
Lalu, matanya tertuju pada sebuah foto produk. Gantungan kunci kulit imitasi cokelat tua, dengan ukiran siluet gunung yang identik. Deskripsi produknya sederhana: ‘Gantungan Kunci Gunung Papandayan’. Papandayan? Laksmi belum pernah mendengar nama itu. Ia menggeser layar ponselnya, melihat foto-foto detail produk. Di salah satu foto, terlihat penjualnya sedang memegang gantungan kunci tersebut, menunjukkan ukirannya. Tangan yang memegang gantungan kunci itu… kuku-kukunya terawat, namun ada bekas cat kuku warna senada dengan lipstik yang sering dipakai salah satu rekan kerja Satriyo di kantor. Nindya. Nama itu melintas begitu saja di benaknya, tanpa ia sadari.
Seketika, napas Laksmi tertahan. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Ia merasakan kepalanya berputar. Ia mencengkeram pinggiran meja dapur untuk menahan diri agar tidak jatuh. Ini bukan kebetulan. Ini tidak mungkin hanya imajinasinya. Ditemukan di meja dapur mereka pagi ini, identik dengan yang dijual di Tokopedia, dengan nama Gunung Papandayan. Dan tiba-tiba, ia teringat. Tiga bulan lalu, Satriyo pernah bilang ia mendapat proyek besar di luar kota, terkait pendakian gunung. Saat itu ia hanya menganggapnya sebagai cerita biasa.
Babak 3 — Retakan Kenangan
Laksmi merasa seperti baru saja tertimpa batu besar. Tangannya kembali gemetar hebat. Ia menjauhkan ponselnya dari pandangan, seolah benda itu bisa membakar kulitnya. Gunung Papandayan. Ia langsung membuka aplikasi pencarian di ponselnya. Informasi tentang gunung itu mulai bermunculan. Lokasinya di Garut, Jawa Barat. Tempat wisata alam yang populer untuk pendakian. Ia membaca detailnya, foto-foto pendakian, cerita-cerita para pendaki. Semuanya terasa asing, jauh dari kehidupannya yang serba teratur di Jakarta.
Tiba-tiba, sebuah ingatan melintas di benaknya. Sekitar tiga bulan lalu. Satriyo pulang membawa oleh-oleh untuknya. Sebuah syal rajut berwarna biru langit, khas oleh-oleh dari daerah pegunungan. Saat itu Satriyo beralasan ia membeli dari seorang pedagang kaki lima saat perjalanan dinas ke Bandung. Laksmi menyukainya, syal itu memang terasa hangat dan unik. Ia sering memakainya, bahkan kemarin ia baru saja mencucinya. Ia berlari ke kamar tidur, membuka lemari pakaiannya, dan merogoh bagian paling belakang. Ia menarik syal itu keluar.
Saat ia merapikannya, tangannya menyentuh sesuatu yang terselip di lipatan syal. Sebuah tiket bus malam. Tanggalnya tepat tiga bulan lalu. Rute: Jakarta – Garut. Nama penumpang: S. Wibisono. Nama suaminya. Dan di bawahnya, sebuah amplop kecil berwarna putih. Jantung Laksmi berdegup kencang. Ia membukanya perlahan.
Di dalamnya, ada selembar foto. Foto Satriyo sedang tersenyum lebar, berdiri di puncak gunung yang tertutup kabut tipis. Di sampingnya, seorang wanita muda dengan senyum yang sangat cerah. Wanita itu… ia mengenali wajahnya. Nindya. Rekan kerja Satriyo yang sering ia lihat sekilas di foto-foto acara kantor yang diunggah Satriyo di media sosialnya. Nindya mengenakan jaket gunung, dan di tangannya… Laksmi menarik napas. Di tangan Nindya, melingkar syal rajut berwarna biru langit yang sama persis dengan syal yang sedang ia pegang. Gantungan kunci gunung itu… mungkin ia dapatkan dari pendakian itu. Puncak gunung itu….
Laksmi menjatuhkan diri ke lantai kamar. Syal itu terlepas dari genggamannya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Semuanya terasa begitu nyata. Alasan lembur, dinas luar kota yang mendadak, perjalanan ke Bandung. Semua adalah kebohongan yang tertata rapi. Ia merasakan tubuhnya menggigil. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan isakan.
Ia teringat percakapannya dengan Satriyo tempo hari. Saat Satriyo dengan santai bertanya tentang kemajuan pembangunan rumah baru mereka. “Aku harap rumah ini nanti lebih nyaman ya, Mbak Laksmi. Biar kamu betah di sini sendirian nanti kalau aku harus sering pergi keluar kota,” ucap Satriyo kala itu sambil tertawa ringan. Tawa yang kini terdengar begitu mengerikan di telinganya. Ia membuka kembali aplikasi DANA di ponselnya, mencari histori transaksi Satriyo. Ada pengeluaran yang cukup besar tiga bulan lalu, untuk ‘tiket transportasi’.
Dunia Laksmi seakan runtuh. Ia yang selama ini hidup dalam kepatuhan, kepercayaan, dan kesetiaan, kini dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak terduga. Ia mengusap air matanya kasar. Tubuhnya terasa lemas, namun pikirannya mulai bekerja cepat. Ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak bisa terus-menerus hidup dalam kebohongan ini. Ia menatap gantungan kunci yang tergeletak di lantai. Benda kecil itu ternyata menyimpan begitu banyak luka.
Babak 4 — Konfrontasi yang Tertunda
Laksmi bangkit perlahan, menyeka sisa air mata di pipinya. Wajahnya pucat pasi, namun matanya kini memancarkan tekad yang dingin. Ia tidak akan menangis lagi. Ia akan mencari kebenaran. Ia membuka aplikasi GoCar kembali, kali ini mencari riwayat perjalanan Satriyo di tiga bulan terakhir. Ia menyusuri daftar perjalanan, membandingkan tanggal dan waktu dengan momen-momen ketika Satriyo mengatakan ia akan ‘lembur’ atau ‘dinas’.
Ada beberapa perjalanan yang rutenya menuju sebuah gedung perkantoran di kawasan Sudirman. Gedung yang sama tempat Nindya bekerja. Terakhir kali, dua minggu lalu. Satriyo memesan GoCar pada pukul tujuh malam, dan baru kembali ke rumah pada pukul satu dini hari. Alasan Satriyo saat itu adalah ‘menemani klien dari luar kota makan malam hingga larut malam’. Laksmi juga ingat, Satriyo sempat mengeluh soal pembayaran klien yang tertunda, sehingga ia harus menalangi sendiri.
Sebuah ide terlintas di benak Laksmi. Ia segera membuka aplikasi email di ponselnya. Ia mencari email Satriyo. Ia tahu kata sandi email suaminya, mereka saling berbagi informasi penting, termasuk ini. Ia menemukan beberapa email yang dikirim oleh Nindya. Subjek emailnya beragam, tapi sebagian besar berisi laporan dan progres pekerjaan. Namun, ada satu email yang dikirim seminggu yang lalu, dengan subjek ‘S.W. – Pembayaran & Proyek Akhir’. Laksmi membukanya dengan hati-hati.
Isi email tersebut berisi detail pembayaran yang harus diselesaikan klien Satriyo. Ada juga lampiran berupa PDF. Laksmi mengunduh lampiran itu. Ternyata, itu adalah sebuah faktur pembayaran. Rinciannya cukup detail: biaya konsultasi, biaya perjalanan dinas, biaya akomodasi. Dan di bagian rincian biaya perjalanan dinas, tertera jelas: ‘Tiket Bus Malam Jakarta-Garut PP’, ‘Penginapan di Villa Papandayan’, dan biaya-biaya lain yang berhubungan dengan kegiatan di daerah Garut. Total biaya yang cukup signifikan.
Di bagian bawah faktur, ada catatan dari Nindya: ‘Mohon segera diselesaikan pembayarannya, Mas Satriyo. Kami tidak bisa terus menerus menalangi biaya perjalananmu untuk proyek ini. Ini demi kebaikan bersama agar klien kita puas.’ Laksmi merasa darahnya mendidih.
Ia lalu membuka satu email lagi dari Nindya, yang dikirim beberapa hari sebelum email faktur. Subjeknya: ‘Foto-foto dari Papandayan’. Laksmi membuka lampirannya. Foto-foto itu sama persis dengan yang ia temukan di amplop tadi pagi. Satriyo dan Nindya di puncak gunung, di depan villa, tertawa bersama. Di salah satu foto, Satriyo tampak memeluk Nindya dari belakang. Dan di tangan Nindya, ia melihat… ia melihat gantungan kunci gunung yang sama. Tertulis di pojok foto: ‘Kenangan Papandayan – 3 Bulan Lalu’.
Di luar jendela, Laksmi mendengar suara klakson mobil yang baru saja tiba. Satriyo sudah pulang. Ia mendengar langkah kaki suaminya mendekat. Laksmi tidak berlari menyambutnya. Ia hanya duduk diam di kursi ruang tamu, dengan ponsel yang masih menyala di tangannya. Layar ponsel itu menampilkan foto Satriyo dan Nindya yang sedang berpelukan di depan villa. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena marah yang sudah terkumpul.
Satriyo masuk ke dalam rumah, wajahnya sedikit lelah namun tersenyum. “Sayang, aku pulang. Maaf ya, tadi agak lama. Ternyata gotong royongnya seru juga,” ujarnya sambil meletakkan tasnya di sofa. Ia lalu berjalan mendekati Laksmi. Senyumnya perlahan memudar saat melihat ekspresi wajah istrinya.
“Laksmi? Kamu kenapa?” tanya Satriyo, nada suaranya berubah sedikit waspada. Ia melihat ponsel di tangan Laksmi. Matanya sedikit melebar. Ia mencoba meraih ponsel itu, tapi Laksmi menariknya menjauh.
“Ini… apa, Mas?” Laksmi bertanya, suaranya datar namun tajam. Ia menatap lurus ke mata suaminya, mencari jawaban. Satriyo terdiam, tampak gelagapan. Ia tidak bisa berkata apa-apa.
Babak 5 — Bayangan di Antara Dua Dunia
Satriyo terdiam membeku. Wajahnya memucat pasi melihat foto yang terpampang jelas di layar ponsel Laksmi. Ia melirik ke arah meja dapur, tempat gantungan kunci kulit itu seharusnya berada. Tapi gantungan kunci itu sudah tidak ada. Laksmi pasti sudah membuangnya atau menyimpannya.
“Laksmi… aku bisa jelaskan,” Satriyo akhirnya bersuara, nadanya tercekat. Ia mencoba meraih tangan Laksmi, namun Laksmi menarik tangannya.
“Jelaskan apa, Mas?” Laksmi bertanya lagi, suaranya tetap tenang namun penuh ketegangan. “Jelaskan kenapa ada foto kamu berpelukan sama Nindya di puncak gunung? Jelaskan kenapa ada tiket bus ke Garut di syal yang kamu kasih ke aku? Jelaskan kenapa kamu bohong soal lembur terus?”
Satriyo menunduk. Ia tidak bisa menatap mata Laksmi. “Itu… itu bukan seperti yang kamu pikirkan, Sayang. Itu hanya… sebuah kecelakaan.”
“Kecelakaan?” Laksmi tertawa sinis, sebuah tawa yang kering dan menyakitkan. “Kecelakaan apa, Mas? Kecelakaan yang terjadi berulang kali selama tiga bulan terakhir? Kecelakaan yang meninggalkan jejak berupa gantungan kunci di meja dapurku pagi ini?”
Satriyo menghela napas panjang, ia memejamkan mata sejenak. “Saat itu aku memang ada proyek ke Garut, berhubungan dengan survei lokasi untuk klien. Nindya kebetulan ikut dalam tim yang sama. Kami memang sempat mendaki sebentar, itu hanya untuk rekreasi. Foto itu… itu hanya momen iseng.” Ia membuka matanya, menatap Laksmi dengan tatapan memohon. “Aku berjanji, tidak ada apa-apa di antara kami. Semuanya sudah selesai.”
“Selesai?” Laksmi mengulang kata itu, nadanya penuh keraguan. Ia teringat email dari Nindya yang berisi tagihan dan keluhan soal menalangi biaya. “Kalau sudah selesai, kenapa Nindya masih menagih kamu? Kenapa dia masih mengirimkan foto-foto itu ke kamu? Kamu pikir aku bodoh, Mas?”
Satriyo tampak putus asa. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia tahu ia sudah membuat kesalahan besar. Kebohongannya, ketidakjujurannya, telah menciptakan jurang pemisah antara dirinya dan Laksmi.
“Aku… aku minta maaf, Laksmi. Aku tahu aku salah. Aku khilaf. Tapi aku cinta kamu. Aku tidak pernah berniat menyakiti kamu.” Suaranya bergetar. Air mata mulai menggenang di matanya.
Laksmi menatap suaminya. Ia melihat penyesalan di matanya, namun ia juga melihat kebohongan yang masih tersisa. Ia tidak bisa langsung percaya. Luka yang ia rasakan terlalu dalam. Ia merasa seperti berdiri di tepi jurang, di antara dua dunia: dunia yang ia kenal, dan dunia yang penuh misteri dan pengkhianatan.
“Aku tidak tahu harus percaya kamu atau tidak, Mas,” Laksmi berbisik. Ia merasa lelah. Ia butuh waktu. “Aku butuh waktu untuk berpikir.” Ia bangkit dari duduknya, melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan Satriyo yang masih berdiri mematung di tengah ruang tamu. Ia keluar rumah, menuju taman komplek yang tadi pagi digunakan untuk gotong royong. Udara sore yang sejuk terasa sedikit melegakan, namun hatinya masih terasa dingin dan hampa. Ia duduk di bangku taman, menatap hamparan rumput hijau, memikirkan masa depan rumah tangganya yang kini di ambang kehancuran.
Di kejauhan, ia melihat sosok wanita lain yang juga sedang duduk sendirian di bangku taman yang berbeda, memandang ke arah yang sama. Wanita itu tampak gelisah, sesekali melirik jam tangannya. Laksmi tidak yakin, tapi sekilas ia merasa seperti mengenali siluet wanita itu. Mungkin… mungkin Nindya?
