Wanita Ini Menemukan Bukti ‘Lembur’ Suaminya di Balik Kipas Angin Rusak: Kisah Rumah Tangga yang Terkuak

Wanita Ini Menemukan Bukti 'Lembur' Suaminya di Balik Kipas Angin Rusak: Kisah Rumah Tangga yang Terkuak

CERITA PENDEK

Wanita Ini Menemukan Bukti ‘Lembur’ Suaminya di Balik Kipas Angin Rusak: Kisah Rumah Tangga yang Terkuak

Babak 1 — Kipas Angin Berdebu di Sudut Ruang

Nindya mematikan keran dapur, mengeringkan tangannya pada celemek bermotif bunga matahari yang sudah sedikit pudar. Suaminya, Jatmiko, sudah dua malam berturut-turut mengabarkan akan pulang larut karena ‘proyek genting’ di kantor. Nindya, yang memegang prinsip ‘diam adalah emas’ dalam urusan rumah tangga, hanya mengangguk setiap kali Jatmiko pamit sambil mencium keningnya terburu-buru. Ia terbiasa dengan kesendirian di malam hari. Pukul sembilan malam adalah jam tidurnya, biasanya ditemani tumpukan buku resep atau sesekali menelusuri akun-akun dekorasi rumah di Instagram.

Malam ini, berbeda. Gawai Jatmiko tertinggal di meja samping televisi. Nindya sebenarnya enggan menyentuh barang pribadi suaminya, namun getarannya yang sesekali terdengar dari meja ruang tamu terasa mengganggu. Ia bangkit, meraih ponsel itu dengan hati-hati. Bukan dari Jatmiko pesan yang masuk, melainkan notifikasi dari aplikasi pesan grup keluarga besar. Nindya tersenyum tipis, membayangkan kesibukan suaminya di kantor yang mungkin membuatnya lupa membawa ponsel sepenting itu. Ia meletakkan ponsel itu kembali di tempatnya, berniat memberikannya saat Jatmiko pulang nanti.

Lalu, ia teringat sesuatu. Kipas angin di kamar mandi itu, yang sejak seminggu lalu berputar lambat tak karuan, seperti enggan menghasilkan angin sama sekali. Jatmiko berjanji akan memperbaikinya kemarin, tapi entah mengapa terlupakan. Nindya menghela napas. Ia sudah terlalu lelah untuk memikirkan hal-hal kecil. Tapi, entah dorongan dari mana, ia merasa perlu melakukan sesuatu agar malam ini terasa lebih produktif. Memperbaiki kipas angin itu, barangkali? Setidaknya, ia bisa mandi dengan udara yang lebih segar.

Ia melangkah ke kamar mandi, membawa obeng set kecil yang tersimpan di laci dapur. Kipas angin model lama itu memang tampak berdebu, serat-serat kain tua menempel di bilahnya. Nindya membuka penutupnya dengan hati-hati. Ia membungkuk, fokus pada sekrup yang perlu dilonggarkan. Saat tangannya menyentuh bagian dalam penutup kipas, sesuatu yang aneh menarik perhatiannya. Di antara bilah-bilah kipas yang terdiam, terselip sesuatu. Bukan debu, bukan pula sarang laba-laba. Sesuatu yang berwarna putih, terlipat rapi, tampak asing di sana.

Babak 2 — Lipatan Kertas yang Menarik Hati

Tangannya sedikit gemetar saat meraih benda asing itu. Selembar kertas putih, terlipat empat presisi, hampir seperti dokumen penting. Nindya menariknya keluar. Debu berjatuhan, namun lipatan kertas itu tetap utuh. Ia membalik benda itu, mencari tanda tangan, nomor seri, atau apapun yang bisa memberi petunjuk. Kosong. Hanya kertas polos berwarna putih, terlipat dengan rapi menggunakan teknik lipat yang tidak biasa ia lihat pada surat atau struk belanja.

Jantung Nindya mulai berdetak lebih cepat. Ini bukan surat cinta dari teman sekantor Jatmiko, bukan pula catatan belanjaan yang tertinggal. Siapa yang akan melipat kertas seperti ini dan menyembunyikannya di dalam kipas angin rusak? Rasanya… terlalu sengaja. Ia teringat Jatmiko sering membawakan oleh-oleh makanan ringan atau minuman dingin dari minimarket setelah lembur. Kadang, ia lupa membuang struknya. Tapi ini jelas bukan struk. Ukurannya terlalu besar, dan teknik lipatannya terlalu rapi untuk sekadar sampah.

Nindya duduk di lantai kamar mandi yang dingin, memegang lipatan kertas itu di tangannya. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Mungkin ini hanya… sesuatu yang jatuh dari saku Jatmiko secara tidak sengaja saat ia mencoba memperbaiki kipas kemarin dan ia lupa mengeluarkannya. Ya, itu pasti. Tapi mengapa Jatmiko tidak pernah mengatakan apapun soal ini? Dan mengapa harus diselipkan di kipas yang rusak itu?

Ia membuka lipatan kertas itu perlahan. Bukan surat. Bukan pula struk. Itu adalah selembar kertas HVS polos yang sepertinya baru saja dicetak. Di bagian paling atas, tercetak sebuah nama. Nama wanita yang asing di telinganya. Di bawah nama itu, ada beberapa baris tulisan tangan yang rapi, menggunakan pulpen hitam. Nindya menelan ludah, merasakan tenggorokannya tercekat. Ia belum pernah melihat tulisan seperti ini sebelumnya. Bukan tulisan ibunya, bukan pula tulisan teman-teman dekatnya. Lalu, ia mulai membaca kalimat pertama yang tertulis di sana.

Babak 3 — Jejak Digital dan Ingatan yang Pudar

Kalimat itu begitu sederhana: ‘Sayang, aku kangen sekali.’ Nindya terdiam. Sayang? Siapa yang memanggil Jatmiko ‘sayang’ selain dirinya? Ia melanjutkan membaca. Tulisan tangan itu, meski rapi, terlihat agak terburu-buru, seperti ditulis dalam ketergesaan. Tertulis tentang pertemuan singkat di sebuah kafe di daerah Senopati, tentang obrolan ringan yang berakhir lebih intim dari yang seharusnya, dan… sebuah tanggal. Tanggal tiga hari yang lalu. Nindya berusaha mengingat. Tiga hari lalu Jatmiko bilang akan ada rapat dadakan sampai malam.

Dalam kebingungan yang mulai berubah menjadi kecemasan, Nindya meraih ponsel Jatmiko yang masih tergeletak di ruang tamu. Ia mencoba membuka kunci layar, beruntung Jatmiko sering menggunakan kode sederhana yang mudah ditebak Nindya: tanggal lahirnya sendiri. Terbuka. Ia membuka aplikasi pesan, berharap menemukan percakapan dengan nama yang tertulis di kertas itu. Tidak ada.

Panik mulai menjalari dirinya. Ia membuka aplikasi galeri. Foto-foto liburan mereka, foto kucing peliharaan tetangga yang sering ia kirim ke Jatmiko, foto-foto makanan yang mereka coba. Lalu, matanya tertuju pada sebuah folder bernama ‘Lain-lain’. Ia membukanya. Terdapat beberapa foto. Foto-foto pemandangan, foto-foto dirinya yang sedang tertidur, dan di urutan terakhir… sebuah foto selfie. Jatmiko tersenyum lebar, dan di sampingnya, seorang wanita dengan rambut sebahu dan senyum yang… terlihat familiar namun tidak bisa ia tempatkan. Wanita itu memegang gelas kopi yang sama seperti yang ia lihat di foto kafe di kertas tadi. Jantung Nindya berdebar kencang. Benarkah apa yang ia pikirkan? Kapan foto ini diambil?

Ia kembali membuka kertas itu, kali ini dengan mata lebih awas. Terdapat sedikit bekas tinta dari pulpen yang sama di bagian bawah kertas, seolah-olah ada tulisan lain yang coba dihapus. Nindya memejamkan mata, mencoba menarik kembali ingatan tentang malam tiga hari lalu. Jatmiko memang pulang larut. Ia bilang sangat lelah, langsung mandi, lalu tertidur pulas. Nindya tidak memikirkannya saat itu. Namun kini, ingatan itu terasa seperti sebuah… kebohongan yang terstruktur. Jatmiko tidak memperbaiki kipas itu. Dia pasti menyembunyikannya di sana sebelum atau sesudah pertemuannya dengan wanita itu. Mengapa?

Babak 4 — Pertemuan yang Tak Terduga di Kafe

Besoknya, Nindya merasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Setiap senyum Jatmiko terasa palsu, setiap sentuhannya terasa dingin. Ia mengambil cuti dari pekerjaan paruh waktunya di toko buku online, beralasan flu ringan. Di dalam mobil sewaan yang ia pinjam dari adiknya, Nindya mengemudikan mobilnya menuju Senopati. Ia harus melihat kafe itu. Kafe yang tertulis di kertas misterius itu. Nama kafenya: ‘Senja di Kopi’. Ia pernah mendengar tentang kafe ini dari seorang teman, katanya tempatnya nyaman untuk bekerja atau sekadar bersantai.

Ia tiba pukul dua siang. Kafenya memang ramai, namun tidak penuh sesak. Aroma kopi panggang menyapa indra penciumannya. Nindya duduk di sudut yang agak tersembunyi, memesan segelas es teh jumbo, dan mulai mengamati setiap pengunjung yang datang. Ia mengeluarkan ponsel Jatmiko lagi, membuka galeri, dan melihat foto wanita itu. Jantungnya berdetak tak karuan setiap kali pintu kafe terbuka.

Sekitar setengah jam kemudian, pintu kafe terbuka lagi. Seorang wanita masuk. Rambut sebahu, senyum… senyum yang sama seperti di foto. Jantung Nindya serasa berhenti berdetak. Wanita itu tampak mencari meja. Lalu, matanya bertemu pandang dengan Nindya. Raut wajah wanita itu berubah dari bingung menjadi terkejut, lalu sedikit panik. Ia terlihat seperti baru saja melihat hantu.

Wanita itu ragu sejenak, lalu dengan langkah yang agak kaku, ia mendekati meja Nindya. Ia tidak duduk, hanya berdiri di sana, jemarinya meremas tali tas selempangnya. “Mbak Nindya?” suaranya bergetar halus. Nindya hanya menatapnya lekat, tidak bersuara. Ia melihat ada noda kecil di kerah blus putih wanita itu, persis di tempat Nindya melihat Jatmiko meletakkan dagunya di foto selfie mereka. “Jatmiko… dia cerita tentang Mbak,” lanjut wanita itu, matanya kini menunduk, tidak berani menatap mata Nindya.

“Dia bilang… dia bilang dia akan memberitahu Mbak soal ini,” suara wanita itu semakin lirih, hampir tidak terdengar. “Aku… aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau ini akan jadi seperti ini. Kami hanya…” wanita itu terdiam, menelan ludah dengan susah payah. Ia menatap Nindya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Dia bilang… dia bilang dia tidak bahagia. Tapi aku melihatnya… dia juga sering bicara soal Mbak di depan kami. Dia terlihat… bingung.”

Babak 5 — Pilihan di Antara Kebenaran dan Kebiasaan

Nindya merasakan kepalanya berputar. Bingung? Apa maksudnya bingung? Ia hanya menatap wanita di depannya, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari bibirnya. Wanita itu akhirnya duduk perlahan di kursi kosong di depan Nindya, menunduk dalam. “Kertas itu… aku yang menulisnya. Kami… kami sering bertemu di sini. Jatmiko bilang dia akan mengurus semuanya. Dia bilang akan bicara pada Mbak. Tapi sepertinya… dia tidak pernah melakukannya.”

Wanita itu mengeluarkan ponselnya, lalu membuka sebuah aplikasi pesan. Ia menunjukkan sebuah percakapan dengan Jatmiko. Tertulis jelas di sana, Jatmiko meminta wanita itu untuk ‘menunggu sebentar lagi’, bahwa ia ‘sedang mempersiapkan segalanya’. Ada juga percakapan di mana Jatmiko berjanji akan segera ‘mengambil keputusan’. Nindya merasa perutnya mual. Keputusan apa? Mengambil keputusan untuk menghancurkan rumah tangganya sendiri?

“Dia bilang… dia mencintai Mbak,” bisik wanita itu, tangannya terlipat di atas meja. “Tapi… dia juga bilang ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang ia temukan bersamaku.” Nindya menarik napas dalam-dalam. Ia melihat keluar jendela kafe. Senja mulai turun, mewarnai langit dengan gradasi jingga dan ungu. Jatmiko berbohong. Ia tidak lembur. Ia tidak memperbaiki kipas angin. Ia menyembunyikan bukti pertemuannya dengan wanita lain di sana, mungkin sebagai cara untuk memastikan bahwa Nindya tidak akan pernah menemukannya. Tapi takdir berkata lain.

Wanita itu menatap Nindya lagi, matanya kini penuh keputusasaan. “Aku juga terjebak di sini, Mbak. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Jatmiko bilang… dia tidak bisa hidup tanpamu, tapi dia juga tidak bisa lepas dariku.” Nindya merasa pandangannya mengabur. Ia ingin berteriak, ingin menangis, ingin membanting semua yang ada di depannya. Tapi yang keluar hanyalah helaan napas panjang yang berat. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kembali ke rumah, menuntut penjelasan dari Jatmiko? Atau… ? Di tangannya, masih tergenggam erat selembar kertas bertuliskan ‘Sayang, aku kangen sekali.’.