Cerita Pengkhianatan: Ia Kira Itu Hanya Cemburu Biasa, Sampai Menemukan Struk Belanja Online di Tas Suami
Babak 1 — Sore yang Meragu
Suami Mbak Reswari, Satriyo, adalah tipe lelaki yang sangat teratur. Jam kerjanya selalu sama, bahkan ia sering mengeluh tentang betapa membosankannya rutinitas yang begitu kaku. Pukul 17:00, ia akan menelepon Reswari, ‘Sayang, aku otw pulang.’ Pukul 17:45, ia sudah duduk di meja makan, siap menyantap nasi uduk pesanan Reswari dari warung Bu Ami di sudut jalan.
Tapi sore ini, pukul 17:30, telepon itu belum berdering. Reswari yang sedang sibuk menyetrika seragam sekolah anak mereka, sesekali melirik jam di dinding dapur. Bukan hal luar biasa jika Satriyo terlambat sedikit, mungkin ada rapat mendadak atau macet parah di jalan tol dalam kota. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Seminggu terakhir ini, Satriyo jadi lebih sering pulang larut, dengan alasan yang selalu sama: lembur.
‘Lembur lagi?’ gumam Reswari sambil menyemprotkan air pada kerah kemeja Satriyo. Ia bukan tipe istri yang dramatis, bukan pula yang selalu curiga tanpa alasan. Ia percaya pada suaminya, selalu. Tapi rasa lelah menghadapi pertanyaan anaknya yang penasaran, ‘Ayah kok pulang-pulang udah malem terus, Bu?’, mulai menggerogoti rasa percayanya.
Pukul 18:00, Satriyo akhirnya masuk rumah. Wajahnya tampak lelah, tapi ada rona sedikit berbeda di pipinya. Bukan rona kelelahan biasa, tapi lebih seperti… baru saja keluar dari tempat yang menyenangkan. Ia mencium sekilas pipi Reswari, senyumnya sedikit dipaksakan.
‘Maaf ya, Sayang. Tadi ada kendala di sistem, harus diatasi sampai beres,’ katanya, sambil meletakkan tas kerjanya di sofa ruang tamu. Suaranya terdengar datar, tidak seperti biasanya yang selalu ceria ketika menceritakan detail pekerjaannya yang rumit.
Reswari hanya mengangguk. Ia sudah terbiasa. ‘Ya sudah, mandi sana. Nanti keburu makan malam anak-anak.’ Ia memperhatikannya dari sudut mata, saat Satriyo beranjak menuju kamar. Ada hal kecil yang menggelitik pikirannya. Kaus dalam yang dikenakan Satriyo, sedikit terlihat dari kerah kemejanya, berwarna… pink pucat. Setahunya, Satriyo hanya punya kaus dalam berwarna putih dan abu-abu.
Ini bukan tuduhan. Ini hanya… sebuah observasi kecil yang terasa aneh. Seperti ada warna yang salah dalam lukisan yang biasa ia lihat setiap hari. Ia mencoba mengabaikannya, menyibukkan diri dengan merapikan meja makan. Tapi bayangan kaus pink pucat itu terus berputar di benaknya, mengganggu ketenangan sore yang seharusnya ia habiskan dengan suaminya.
Babak 2 — Kepingan yang Tak Cocok
Malam itu, setelah anak-anak terlelap, Reswari membereskan ruang tamu. Ia mengambil tas kerja Satriyo yang tergeletak di sofa, bermaksud menaruhnya di kamar. Saat mengangkatnya, sebuah benda kecil terjatuh dari saku samping tas. Sebuah struk belanja. Reswari membeku sejenak. Satriyo memang sering membawa struk, tapi biasanya struk parkir atau kopi dari kafe dekat kantor.
Tangan Reswari sedikit gemetar saat mengambilnya. Struk itu bukan dari kafe. Bukan pula dari toko buku langganan mereka. Tertulis jelas nama toko: ‘Chandra Toko Kecantikan & Aksesoris’. Tanggalnya adalah hari ini. Ada beberapa item di sana: ‘Lip Tint Velvet Matte – Rosewood’, ‘Eyebrow Pencil – Dark Brown’, dan satu item lagi yang namanya… asing baginya, ‘Shimmering Body Lotion – Vanilla Bean’.
Reswari mengerutkan kening. Satriyo membeli kosmetik? Sejak kapan? Ia membukanya lebar-lebar, mencoba mencari penjelasan logis. Mungkin ini pesanan untuk temannya? Atau untuknya? Tapi kenapa tidak diberikan langsung? Kenapa diselipkan di saku tasnya begitu saja, seperti… barang pribadi?
Ia mengingat kembali rona di pipi Satriyo tadi sore. Kaus pink pucat itu. Awalnya ia berpikir mungkin itu hanya ilusi optik, tapi kini, dengan bukti struk ini, benaknya mulai berputar liar. Ia mencoba menenangkan diri. Mungkin ada penjelasan sederhana. Mungkin Satriyo hanya disuruh membelikan sesuatu untuk ibunya yang sedang berkunjung.
Tapi ibunya Satriyo jarang memakai lip tint, dan lotion beraroma vanilla juga bukan kesukaannya. Reswari menghela napas panjang, mencoba mengusir pikiran-pikiran buruk yang mulai merayap. Ia memeriksa dompet Satriyo yang tergeletak di atas meja. Uangnya masih utuh. Kartu ATM-nya juga ada. Jadi, ini dibayar tunai.
Ia memegang struk itu erat-erat. Kertasnya terasa dingin di telapak tangannya. Ada rasa geli yang tidak nyaman menjalar di perutnya. Ini bukan rasa cemburu yang membabi buta, ini adalah rasa… gelisah yang teramat sangat. Kepingan-kepingan kecil dari hari ini terasa tidak cocok, seperti puzzle yang bagiannya tertukar.
Ia kembali mengingat percakapan Satriyo sore tadi. Tentang kendala sistem. Tentang lembur. Semua alasan yang terdengar masuk akal, tapi kini terasa seperti kebohongan yang diselubungi kepura-puraan.
Babak 3 — Jejak Digital dan Kenangan yang Berubah
Keesokan paginya, sebelum Satriyo berangkat kerja, Reswari diam-diam membuka laptop suaminya yang tergeletak di meja kerja di sudut kamar. Ia bukan seorang peretas, tapi ia tahu kata sandi laptop Satriyo. Ia membuka riwayat peramban. Tangan masih sedikit gemetar, tapi kali ini lebih mantap. Ia mencari situs ‘Chandra Toko Kecantikan & Aksesoris’.
Situs itu ada. Dan benar saja, item-item yang tertera di struk itu tersedia di sana. Ada foto-foto produk yang jelas. Lip tint berwarna ‘Rosewood’ itu, ternyata adalah warna merah muda keunguan yang cukup mencolok. Dan ‘Shimmering Body Lotion – Vanilla Bean’ itu… deskripsinya menyebutkan bahwa lotion itu memberikan kilau halus pada kulit, dengan aroma manis yang tahan lama.
Reswari menelan ludah. Ia bukan pengguna produk kosmetik sembarangan. Ia tahu tekstur, aroma, dan daya tahan. Dan semua deskripsi itu… sangat tidak mungkin dibeli oleh Satriyo hanya untuk dirinya sendiri. Atau bahkan untuk ibunya.
Ia lalu membuka aplikasi chat di laptop Satriyo. Terakhir dibuka adalah percakapan dengan seseorang bernama ‘Kirana’. Reswari terdiam. Nama itu… terdengar familiar. Ia ingat, dulu ada juniornya di kampus yang bernama Kirana. Tapi mana mungkin?
Ia membuka chat itu. Terakhir kali mereka bertukar pesan adalah tiga hari lalu. Isinya… biasa saja. ‘Besok jadi ketemu jam berapa?’ – ‘Jam 2 di kafe Dago.’ – ‘Oke, sampai ketemu.’ Tidak ada yang mencurigakan. Tapi kemudian, Reswari menggulir ke atas. Ada pesan dari seminggu lalu.
‘Syg, makasih ya kemarin. Sukaaa banget sama lotionnya. Wanginya nagih. Kapan2 aku minta lagi ya’ – dikirim oleh ‘Kirana’.
‘Syg, kamu baik2 aja kan? Kok tumben gak bales?’ – pesan lain, sehari kemudian.
Reswari merasa dunia berputar. ‘Syg’? Siapa yang Satriyo panggil ‘Syg’ selain dirinya? Ia membuka profil Kirana. Foto profilnya adalah foto candid seorang wanita muda yang tersenyum lebar, rambutnya hitam tergerai indah. Cantik. Sangat cantik. Tapi bukan wajah yang pernah Reswari lihat sebelumnya.
Ia teringat. Dulu, saat mereka masih pacaran, Satriyo pernah bercerita tentang seorang juniornya yang sangat mengaguminya. Ia selalu menepisnya, menyebutnya hanya kekaguman biasa. Ia selalu bilang, ‘Cuma aku yang kamu sayang, kan?’ Dan Satriyo selalu meyakinkannya. ‘Cuma kamu, Res. Selamanya.’ Kata-kata itu kini terasa seperti racun yang meresap perlahan ke dalam hatinya.
Babak 4 — Konfrontasi Canggung di Sore yang Sama
Sore itu, Reswari sudah menyiapkan rencana. Ia tidak akan menuduh. Ia akan bertanya, dengan tenang. Ia sengaja memakai dress selutut yang jarang ia kenakan, merias diri sedikit lebih dari biasanya. Ia ingin terlihat kuat, tidak rapuh. Ia ingin Satriyo melihatnya bukan sebagai istri yang terpuruk, tapi sebagai wanita yang punya harga diri.
Saat Satriyo pulang, ia menyambutnya dengan senyum yang sedikit kaku. ‘Mas, aku ada yang mau ditanya,’ katanya, suaranya lebih stabil dari yang ia duga.
Satriyo mengernyitkan dahi, meletakkan tasnya di meja. ‘Tanya apa, Sayang?’
Reswari menarik napas dalam. Ia mengeluarkan struk dari saku celananya. ‘Ini. Mas beli ini kapan? Kenapa gak bilang aku?’
Satriyo mengambil struk itu, matanya memicing. Ia tampak sedikit terkejut, lalu ia tertawa kecil, sebuah tawa yang tidak sampai ke matanya. ‘Oh, ini? Ini aku disuruh Mbak Laksmi, tetangga kita. Dia titip beli buat adiknya yang mau wisuda. Tapi kok… Mbak Laksmi nggak ngasih uang ya?’ Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Reswari merasa darahnya mendidih. Mbak Laksmi? Tetangga sebelah? Tapi ia yakin, ia mengenal Mbak Laksmi dengan baik. Dan Mbak Laksmi tidak akan pernah memesan produk seperti ini. Ia juga tidak pernah memanggil Satriyo dengan sebutan ‘Mas’ dalam urusan seperti ini.
‘Mas,’ potong Reswari, suaranya kini terdengar lebih tegas. ‘Aku lihat chat Mas di laptop. Siapa Kirana?’
Wajah Satriyo pucat seketika. Senyumnya lenyap. Ia tampak seperti orang yang tertangkap basah. Ia memalingkan wajahnya, menatap kosong ke arah jendela. Keheningan menyelimuti ruangan. Suara detak jam dinding terasa sangat keras.
Kemudian, ia berucap, suaranya pelan, hampir seperti bisikan. ‘Itu… itu teman lama, Res. Dari zaman dulu.’ Ia enggan menatap mata Reswari. Bahunya merosot, terlihat jelas ia sedang sangat tidak nyaman.
‘Teman lama yang Mas panggil ‘Syg’? Teman lama yang Mas belikan lip tint dan body lotion?’ tanya Reswari, suaranya bergetar. Ia tidak bisa menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
Satriyo hanya menggeleng pelan. Ia masih enggan berucap. Terlihat jelas ia ingin mengakhiri percakapan ini, ingin melarikan diri dari kenyataan yang sudah terbentang di depan matanya.
Babak 5 — Senja yang Tak Pernah Usai
Satriyo tidak pernah mengakui secara langsung. Ia hanya diam. Berdiri kaku di tengah ruang keluarga, matanya menatap lantai, bibirnya terkunci rapat. Reswari menunggunya bicara, tapi yang keluar hanyalah keheningan yang memekakkan telinga. Ia mencoba bertanya lagi, ‘Jadi… ini benar, Mas?’ Tapi Satriyo hanya menarik napas panjang, lalu berujar lirih, ‘Aku capek, Res. Aku butuh istirahat.’
Kata-kata itu, ‘aku capek’, keluar dari mulut Satriyo bukan sebagai pengakuan, tapi sebagai sebuah penolakan halus. Penolakan untuk mengakui kesalahannya, penolakan untuk menghadapi konsekuensi perbuatannya. Reswari merasa seperti ditampar. Bukti di depan mata, pengakuan tersirat lewat diamnya, tapi suaminya memilih lari.
Ia menatap suaminya yang kini beranjak menuju kamar, meninggalkan Reswari sendirian di ruang tamu yang kini terasa begitu dingin. Hujan di luar mulai turun rintik-rintik, menambah kesan muram sore itu. Anak-anak mereka sedang asyik bermain di kamar, tidak menyadari bahwa benteng rumah tangga mereka baru saja retak, bahkan mungkin hancur.
Reswari duduk di sofa. Struk belanja itu masih di tangannya. Ia memeganginya erat-erat, merasakan tekstur kertasnya yang sedikit kasar. Ini bukan hanya struk belanja, ini adalah bukti nyata dari pengkhianatan yang ia rasakan. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Memaksa Satriyo mengakui? Itu mungkin hanya akan membuatnya semakin tertutup.
Atau diam saja? Terus hidup dalam kebohongan yang ia tahu kebenarannya? Ia membayangkan wajah Kirana, wajah yang ia lihat di foto profil itu. Cantik, muda, dan mungkin… penuh gairah yang tidak bisa ia berikan pada Satriyo lagi. Pikiran itu menusuknya dalam.
Ia melirik ke arah pintu kamar. Satriyo tidak menguncinya. Ia tahu, suaminya mungkin akan menghabiskan malamnya di sana, dalam kesendiriannya sendiri. Sementara Reswari, ia masih duduk di ruang tamu, menatap kosong ke luar jendela. Senja mulai merayap, mewarnai langit dengan gradasi oranye dan ungu yang indah. Tapi keindahan itu terasa hampa. Seperti hatinya yang kini berlubang.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah ia akan pergi? Apakah ia akan mencoba memperbaiki semuanya? Atau apakah ia akan memilih jalan lain? Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban. Yang ia tahu pasti, sore itu adalah senja yang tidak akan pernah ia lupakan. Senja di mana dunianya yang selama ini ia kira kokoh, ternyata rapuh tak berdaya.
