Cerpen Ibu Rumah Tangga: Hilangnya Cincin Kawin Bikin Suami Ngamuk, Ternyata Ini yang Ditemukan di Laci Rahasia
Babak 1 — Permata yang Hilang dari Jari Manis
Gendis menatap kosong ke arah jari manis tangan kanannya. Kosong. Hanya ada bekas samar, seolah ada yang pernah hinggap di sana, tapi kini lenyap tak berbekas. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, iramanya seperti genderang perang yang ditabuh tanpa henti. Ia sudah mencarinya. Mencari sampai ke sudut-sudut terkecil apartemen mungil yang mereka sebut rumah di bilangan Tebet. Mulai dari tumpukan majalah langganan di meja ruang tamu, bawah bantal sofa yang sudah sedikit mengempes, hingga ke dalam toples kerupuk di dapur yang sering ia buka paksa saat rindu camilan neneknya.
Semuanya sia-sia. Cincin kawin pemberian Ayah untuk pernikahan mereka, peninggalan berharga yang selalu ia genggam erat sebagai simbol janji suci, kini lenyap. Gendis mencoba mengingat kembali kapan terakhir kali ia memakainya. Semalam? Pagi ini saat membuatkan Naufal, putra semata wayangnya, sarapan nasi uduk dengan telur balado kesukaannya? Ingatan itu buram, terpecah belah oleh rutinitas pagi yang selalu padat.
Naufal, bocah berusia tujuh tahun yang energinya tak pernah habis, baru saja berlari menghambur ke pelukan Gendis, membawa gambar dinosaurus yang ia buat di sekolah. ‘Mama, lihat! Ini T-Rexku!’ serunya bangga, tangannya yang mungil masih belepotan sisa krayon merah. Gendis memaksakan senyum, memeluk erat putranya. Tapi pikirannya terus berkelana, tertuju pada cincin emas putih yang kini entah di mana. Bagaimana ia akan menjelaskan ini pada Damar, suaminya? Damar sangat menghargai cincin itu. Ia selalu berkata, cincin itu bukan sekadar perhiasan, melainkan penanda bahwa ada seorang perempuan tangguh yang menanti kepulangannya di rumah.
“Mama, kok diem aja?” tanya Naufal polos, matanya mengerjap menatap wajah Gendis yang mungkin terlihat sedikit tegang. Gendis menggeleng, berusaha menepis kegelisahan yang mulai merayap. “Nggak apa-apa, Sayang. Mama cuma mikirin sesuatu,” jawabnya, sambil mengusap rambut Naufal yang sedikit lepek. Ia berjanji pada diri sendiri, ia akan menemukannya. Apapun yang terjadi. Ini bukan hanya soal cincin. Ini soal janji. Soal kepercayaan. Soal apa yang membuat Damar meminangnya dulu.
Babak 2 — Tatapan Dingin Sang Suami
Suara pintu depan yang terbuka sedikit menggema di keheningan apartemen. Gendis segera beranjak dari sofa, merapikan sedikit daster bermotif bunga-bunga yang dikenakannya. Damar pulang tepat waktu, seperti biasa. Sikapnya yang teratur dan disiplin adalah salah satu hal yang dulu membuat Gendis jatuh cinta. Ia akan selalu menelepon jika ada keterlambatan, memesan Gocar terlebih dahulu agar tidak kemalaman di jalan sepulang dari kantornya di bilangan Sudirman.
“Sayang, aku pulang,” sapa Damar, suaranya terdengar lelah namun tetap lembut. Ia melemparkan tas kerjanya ke atas meja, senyum tipis tersungging di bibirnya saat melihat Gendis berdiri di ambang pintu dapur. “Naufal udah tidur?” tanyanya, melangkah mendekat untuk mengecup kening istrinya.
Gendis mengangguk, mencoba mengatur napasnya agar terdengar biasa saja. Jari tangannya yang masih kosong terasa dingin. “Udah, Mas. Tadi minta dibacain dongeng soal dinosaurus sampai ketiduran.” Ia membiarkan Damar melingkarkan lengannya di pinggangnya, menariknya mendekat. Kehangatan tubuh suaminya seharusnya memberinya rasa aman, tapi hari ini, rasa cemas itu justru semakin besar.
“Kamu kok kayak gelisah gitu, Ndis?” tanya Damar, tatapannya kini tertuju pada wajah Gendis. Matanya yang tajam seolah bisa menembus segala kepura-puraan. Gendis menelan ludah. Ini saatnya. Ia menarik diri perlahan dari pelukan Damar, lalu menunjukkan jari manis tangannya yang kosong.
“Mas… cincinnya… hilang,” ucapnya lirih, suaranya bergetar. Ia tidak berani menatap langsung ke mata Damar. Ia tahu, ini akan menjadi masalah besar. Gendis bisa merasakan tatapan Damar berubah. Kelembutan di matanya perlahan memudar, digantikan oleh sesuatu yang dingin, sesuatu yang mengeras. Damar menarik tangannya, menatap jari Gendis dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada sedikit keterkejutan, tapi lebih banyak kekecewaan yang terpancar.
“Hilang? Gimana bisa hilang, Ndis? Itu kan— Itu bukan sembarang cincin,” suara Damar terdengar datar, tanpa nada emosi yang biasanya ia tunjukkan saat berbicara dengannya. Gendis hanya bisa menggeleng, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Aku nggak tahu, Mas. Aku udah cari ke mana-mana. Nggak ada.”
Damar menghela napas panjang, kali ini bukan keluhan lelah biasa. Ada nada frustrasi yang jelas terdengar. “Kamu yakin udah cari dengan benar? Nggak jatuh pas lagi nyuci piring? Atau waktu kamu keluar beli seblak tadi pagi?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja, seolah menyiratkan kecurigaan. Gendis tersentak. Damar tidak pernah menuduhnya ceroboh seperti ini. Dulu, Damar selalu membelanya, selalu percaya penuh pada kehati-hatian istrinya. Gendis merasa ada dinding tak kasat mata yang mulai terbentuk di antara mereka.
Babak 3 — Jejak Digital dan Kenangan yang Terkubur
Malam semakin larut, namun Gendis tak bisa memejamkan mata. Damar sudah tertidur pulas di sebelahnya, napasnya teratur, seolah tak ada beban di pundaknya. Tapi bagi Gendis, beban itu terasa semakin berat. Ia bangkit perlahan, tak ingin membangunkan suaminya. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas. Tangannya yang gemetar membuka aplikasi Tokopedia, mencari riwayat pembelian barang-barang rumah tangga yang ia pesan beberapa minggu lalu. Mungkin saja, saat ia sibuk membongkar kotak-kotak paket itu, cincinnya tersangkut atau terlepas tanpa ia sadari.
Namun nihil. Riwayat pembeliannya hanya menampilkan aneka keperluan rumah tangga, mulai dari deterjen, bumbu dapur, hingga mainan Naufal. Gendis menghela napas. Ia lalu membuka aplikasi GoFood, scroll daftar warung langganannya. Ada warung nasi uduk langganan Naufal, warung seblak langganan dirinya dan para tetangga, serta penjual mie ayam gerobak di ujung jalan. Tak ada petunjuk sama sekali. Ia bahkan mencoba mengingat kembali setiap detail perjalanannya, setiap interaksi singkat di luar apartemen.
Tiba-tiba, sebuah kilas balik muncul di benaknya. Dua minggu lalu, saat ia sedang berdebat kecil dengan Damar perihal rencana liburan keluarga ke Bali yang tertunda karena urusan kantor Damar. Damar terlihat kesal, lebih dari biasanya. Ia ingat betul, malam itu Damar sedikit kasar saat memegang tangannya, dan Gendis merasa tangannya terkilir sedikit. Apakah mungkin cincin itu terlepas saat itu? Tapi ia ingat jelas, ia masih memakai cincin itu saat mereka bertengkar di depan televisi.
Gendis mulai ragu. Apa yang sebenarnya terjadi? Jika bukan karena kecerobohannya, lalu bagaimana cincin itu bisa hilang? Ia teringat hari ketika Damar mengajaknya ke sebuah toko perhiasan di Grand Indonesia. Damar ingin mengganti cincin kawinnya yang sedikit usang dengan yang baru, namun Gendis menolak. Ia bersikeras mempertahankan cincin lama itu, mengatakan bahwa nilai sentimentalnya jauh lebih berharga daripada kemewahan emas baru. Damar saat itu terlihat lega, tapi juga sedikit bingung.
“Kenapa sih, Ndis? Cincin Mas kan udah agak longgar, tapi punya kamu masih bagus,” kata Damar waktu itu, sambil tersenyum lembut. Gendis hanya menjawab, “Ini udah cukup, Mas. Ini yang terpenting.” Kini, Gendis bertanya-tanya. Apakah Damar sebenarnya ingin mengganti cincinnya karena ada sesuatu yang ia sembunyikan? Pikiran itu terasa begitu aneh, begitu gelap, namun entah mengapa terus berputar di benaknya. Ia merasa seperti sedang menyelami lautan kecurigaan yang dalam, dan ia tidak tahu di mana dasarnya.
Babak 4 — Laci Rahasia dan Surat yang Tak Terduga
Pagi itu terasa berbeda. Gendis merasa ada yang mengganjal di hatinya, bahkan sebelum matahari terbit sepenuhnya. Ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ia mulai memeriksa barang-barang Damar. Bukan dengan niat menggeledah, tapi lebih kepada mencari petunjuk, mencari penjelasan atas perubahan sikap suaminya semalam. Damar sangat menjaga privasinya, dan Gendis selalu menghargai itu. Namun kali ini, rasa penasaran dan sedikit ketakutan mengalahkannya.
Ia mulai dari lemari pakaian Damar. Semua tertata rapi, kemeja, celana bahan, hingga tumpukan kaos. Tidak ada yang aneh. Lalu ia beralih ke meja kerja Damar. Ada tumpukan dokumen pekerjaan, beberapa buku, dan sebuah bingkai foto dirinya bersama Damar dan Naufal. Di sudut meja, ada laci kecil yang selalu terkunci rapat. Damar pernah berkata bahwa itu berisi dokumen penting kantor yang tidak boleh dilihat siapapun. Gendis tidak pernah mencoba membukanya.
Namun kali ini, Gendis merasa ada dorongan kuat untuk melihat ke dalam laci itu. Ia mencari-cari kunci laci di sekitar meja. Akhirnya, ia menemukannya terselip di antara tumpukan kertas. Kunci itu kecil, terbuat dari logam yang sudah sedikit berkarat. Jantungnya berdegup kencang saat ia memasukkan kunci itu ke dalam lubang laci. Dengan sedikit gerakan berputar, laci itu terbuka.
Di dalamnya, tersusun rapi beberapa barang. Bukan dokumen kantor seperti yang ia duga. Ada beberapa foto lawas yang menampilkan Damar di masa kuliah, terlihat jauh lebih muda dan kurus. Lalu ada sebuah kartu nama dengan tulisan ‘Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan’. Dan di bawahnya, terbungkus amplop coklat polos, sebuah surat. Gendis ragu sejenak, namun rasa ingin tahunya mengalahkan segalanya. Ia membuka amplop itu perlahan.
Isinya adalah sepucuk surat tulisan tangan. Bukan tulisan Damar. Gendis mengerutkan kening saat membaca baris pertama. ‘Untuk Damar, suaminya Gendis yang tercinta.’ Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia terus membaca. Surat itu bercerita tentang penyesalan, tentang kesalahan masa lalu yang tak terduga. Ternyata, bertahun-tahun lalu, sebelum Gendis mengenalnya, Damar pernah terlibat masalah hukum yang cukup serius. Surat itu ditulis oleh seorang wanita, yang ternyata adalah kekasih Damar saat itu, yang kini harus mendekam di penjara karena kasus penipuan yang melibatkan mereka berdua.
Dalam surat itu, wanita tersebut mengakui bahwa ia menyimpan sebagian uang haram yang mereka dapatkan. Uang itu ia simpan dalam bentuk emas batangan kecil dan beberapa perhiasan, termasuk cincin yang kini hilang dari jari Gendis. Ia menitipkan cincin itu pada Damar, meminta Damar menyimpannya agar suatu saat ia bisa menebusnya kembali saat keluar dari penjara. Damar tidak pernah menceritakan ini pada Gendis. Ia takut Gendis akan menjauhinya jika mengetahui masa lalunya yang kelam. Cincin itu adalah ‘titipan’ dari masa lalu Damar yang ia simpan sendiri. Dan kini, entah bagaimana, cincin itu hilang dari simpanannya.
Babak 5 — Konsekuensi yang Tak Terbayangkan
Gendis terduduk lemas di lantai, surat itu tergeletak begitu saja di pangkuannya. Dunia yang ia kenal selama ini terasa runtuh seketika. Bukan hanya soal cincin yang hilang, tapi soal kebohongan besar yang selama ini ia jalani. Damar, suaminya, pria yang ia cintai dan percayai sepenuhnya, menyimpan rahasia sebesar ini. Rahasia yang ia kubur dalam-dalam, bahkan dari dirinya.
Ia teringat kembali tatapan dingin Damar semalam. Itu bukan kemarahan karena cincin hilang, tapi kemarahan karena penyesalan yang mendalam. Penyesalan karena ia tidak becus menjaga titipan berharga dari masa lalu yang kelam. Penyesalan karena kebohongannya kini terancam terbongkar oleh hilangnya cincin itu.
Suara langkah kaki Damar terdengar mendekat. Gendis tidak beranjak. Ia hanya menatap pintu laci yang terbuka, surat itu masih di tangannya. Damar masuk ke dalam kamar, dan terdiam saat melihat Gendis. Tatapannya tertuju pada surat dan cincin yang tergeletak di lantai.
“Ndis…” Suara Damar terdengar tercekat, penuh penyesalan. Gendis mendongak, matanya memerah, namun ia tidak menangis. Ia menatap Damar lekat-lekat, mencari kebenaran di balik sorot matanya yang kini terlihat rapuh. “Jadi selama ini… Mas nggak pernah cerita soal ini?” suaranya terdengar datar, namun menyimpan kepedihan yang dalam. Damar hanya bisa menunduk, tak sanggup menatap wajah Gendis. Ia mengangguk perlahan.
“Aku… aku takut kamu pergi,” bisiknya lirih. “Aku takut kamu nggak akan bisa terima aku kalau kamu tahu masa laluku yang sekelam itu.” Gendis tertawa kecil, tawa getir yang memecah keheningan. “Jadi, kamu memilih bohongi aku selama ini?” tanyanya, suaranya sedikit meninggi. “Kamu lebih takut aku pergi daripada nggak jujur sama aku?”
Damar akhirnya mengangkat wajahnya, air mata mulai membasahi pipinya. “Ndis, aku nggak bermaksud begitu. Aku cuma… aku terlalu mencintaimu. Aku nggak mau kehilangan kamu. Cincin itu… itu cuma simbol. Yang penting kan kamu di sini, sama aku, sama Naufal.” Gendis memejamkan mata, mencoba mencerna semua ini. Simbol? Tapi simbol kebohongan? Ia merasa begitu lelah. Ia tidak tahu harus berkata apa. Hubungan mereka kini berada di persimpangan jalan yang paling krusial. Apakah cinta yang selama ini mereka bangun cukup kuat untuk menahan badai kebenaran yang baru saja terkuak? Atau akankah kebohongan ini menjadi retakan terakhir yang menghancurkan segalanya? Gendis hanya bisa menatap suaminya, ragu dan terluka, tanpa tahu apa langkah selanjutnya.
