Kisah Nyata: Suaminya Sering Pulang Malam, Tapi Dompet Ini Ungkap Kenyataan yang Menyakitkan

Kisah Nyata: Suaminya Sering Pulang Malam, Tapi Dompet Ini Ungkap Kenyataan yang Menyakitkan

CERITA PENDEK

Kisah Nyata: Suaminya Sering Pulang Malam, Tapi Dompet Ini Ungkap Kenyataan yang Menyakitkan

Babak 1 — Malam yang Terasa Tak Berujung

Senja merayap di luar jendela apartemen mereka di bilangan Kemang. Cahaya oranye pucat memantul di permukaan gelas es teh jumbo yang setengah kosong di tangan Laksmi. Ia mengaduknya pelan, gerakan yang sama berulang kali, seperti sedang menata ulang pikiran yang kusut. Pukul delapan malam. Sudah lewat batas toleransi ‘lembur biasa’ suaminya, Ardi. Biasanya, paling telat jam setengah delapan, Ardi sudah mengirim pesan singkat, entah itu foto macet jalanan atau sekadar ‘OTW, Sayang’.

Tapi malam ini, tidak ada kabar. Ponselnya tergeletak di meja kopi, layar gelap, tanpa notifikasi yang berarti. Laksmi menarik napas panjang, aroma kopi dari kedai di lantai bawah menusuk hidungnya. Ia mencoba meyakinkan diri. Mungkin Ardi ada rapat mendadak. Mungkin saja ada proyek baru yang menuntut perhatian lebih. Itu Ardi, suaminya yang ambisius, yang seringkali memprioritaskan pekerjaan di atas segalanya. Ia tahu itu. Ia selalu tahu itu.

Laksmi bangkit dari sofa, berjalan menuju jendela. Di bawah sana, lampu-lampu mobil mulai berkelip seperti kunang-kunang di hutan beton. Ada sedikit rasa cemas yang menggelitik, tapi ia berusaha mengabaikannya. Ia tipe orang yang menghindari konflik, yang memilih diam daripada menuntut penjelasan. Mengakui rasa khawatir sama saja dengan membuka luka lama yang ia kubur dalam-dalam: keraguan akan komitmen Ardi yang terkadang terasa mengawang.

Ia meraih ponselnya, membuka aplikasi Tokopedia. Sudah waktunya membeli sabun cuci muka lagi. Lalu, tak sengaja matanya tertuju pada galeri foto. Ada foto Ardi saat mereka pertama kali menikah, tersenyum lebar dengan mata berbinar. Ada juga foto liburan mereka tahun lalu ke Bali, tawa lepas yang terekam abadi. Laksmi tersenyum tipis melihatnya. Ia membandingkan senyum di foto itu dengan raut wajah Ardi belakangan ini. Ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang tak bisa ia jelaskan, tapi bisa ia rasakan.

“Mungkin aku terlalu banyak berpikir,” gumamnya sendiri. Ia kemudian berjalan ke dapur, memeriksa apakah ada camilan yang bisa ia siapkan jika Ardi akhirnya pulang. Seperangkat peralatan makan bersih tertata rapi. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Ia benci perasaan ini. Perasaan bahwa ia sedang membangun narasi sendiri untuk menutupi kemungkinan terburuk.

Babak 2 — Dompet yang Berbicara

Pukul sembilan malam. Pintu apartemen berderit pelan, disusul suara langkah kaki yang familiar. Laksmi segera beranjak dari dapur, menahan diri untuk tidak langsung bertanya mengapa Ardi pulang terlambat. Ia hanya berdiri di ruang tengah, bersiap memberi sambutan yang biasa saja.

“Aku pulang,” suara Ardi terdengar lelah, sedikit serak. Ia melangkah masuk, melemparkan tas kerjanya ke sofa tanpa menyentuh Laksmi. Matanya terlihat sayu, sedikit merah. Laksmi memesan es kopi susu via GoFood tadi, ia ingin menawarkan Ardi, tapi urung melakukannya. Suasana terasa janggal, dingin. Ia hanya mengangguk pelan.

“Makanannya sudah siap kalau kamu mau. Atau mau aku hangatkan lagi?” tanyanya lembut, berusaha memecah keheningan yang menyesakkan.

Ardi menggeleng. “Tidak usah. Aku sudah makan tadi.”

Laksmi terdiam. ‘Sudah makan tadi?’ Tapi ia bilang tidak perlu makan karena lembur. Ia mencoba menarik napas dalam. Ia lihat Ardi berjalan menuju kamar, melewati Laksmi begitu saja. Tubuhnya terasa lemas. Ada dorongan kuat untuk memanggil Ardi, untuk menuntut penjelasan, tapi kakinya seolah terpaku di tempat.

Ardi membuka pintu kamar, lalu Laksmi mendengar suara pintu ditutup. Sunyi. Laksmi kembali ke sofa, tatapannya tertuju pada tas kerja Ardi yang tergeletak begitu saja. Tangannya gemetar saat ia meraih tas itu. Ia tidak bermaksud menggeledah, sungguh. Ia hanya ingin membereskan. Ia membuka resleting utama, mengeluarkan laptop, beberapa dokumen, dan… sebuah dompet kulit berwarna coklat tua.

Dompet itu bukan miliknya. Ardi punya dompet hitam yang selalu ia bawa. Dompet ini terlihat berbeda, lebih ramping. Rasa penasaran yang bercampur dengan perasaan tidak enak mulai merayapi Laksmi. Tangannya terulur, membuka dompet itu. Di dalamnya ada beberapa lembar uang tunai, kartu identitas, dan sebuah kartu nama.

Ia membalik kartu nama itu. Tertulis nama: ‘Sarah Adiwangsa’. Di bawahnya, ada nomor telepon dan alamat email. Laksmi merasa dunia berputar. Sarah? Siapa Sarah? Ardi tidak pernah menyebut nama ini sebelumnya. Jantungnya berdebar kencang di dada. Ia mencoba meyakinkan diri, ini pasti hanya kolega Ardi, mungkin klien baru. Tapi ada sesuatu di kartu itu, cara penempatannya yang begitu rapi di dalam dompet Ardi, yang membuatnya meragukan teorinya sendiri.

Babak 3 — Serpihan Kenangan dan Aplikasi Ternama

Laksmi menjatuhkan dompet itu kembali ke dalam tas. Tubuhnya terasa dingin, namun keringat mulai membasahi pelipisnya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan gejolak dalam dirinya. Kata ‘Sarah Adiwangsa’ terus berputar di kepalanya, seperti kaset rusak. Ia teringat obrolan Ardi dengan temannya beberapa minggu lalu, samar-samar terdengar tentang ‘proyek besar’ yang melibatkan ‘investor baru’. Mungkinkah Sarah ini investor tersebut?

Namun, mengapa nama Sarah ada di dompet suaminya? Mengapa Ardi tidak pernah menceritakannya? Laksmi bangkit, berjalan menuju kamar mandi, membasuh wajahnya. Air dingin terasa membantu menenangkan kulitnya yang panas. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat, matanya cekung. Ia terlihat seperti orang asing.

Ia kembali ke ruang tengah, tangannya terasa gatal ingin membuka ponsel Ardi. Tapi ia menahannya. Itu bukan caranya. Ia mengambil ponselnya sendiri, membuka aplikasi pesan. Ia mengetik nama Ardi, lalu menghapus. Mengetik ‘Sarah Adiwangsa’, lalu menghapus. Ia merasa seperti detektif amatir yang kikuk, terjebak dalam labirin kecurigaan.

Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Beberapa hari lalu, Ardi memintanya untuk mengunduh aplikasi DANA ke ponselnya. Katanya, ada transfer dana dari kantor yang harus segera diproses. Laksmi membuka aplikasi DANA di ponselnya, lalu mencari riwayat transaksi. Tangannya gemetar saat menggulir ke bawah. Ia mencari transaksi yang mencurigakan, transaksi yang bisa memberinya petunjuk.

Di sana, ada beberapa transaksi yang tidak biasa. Pembayaran untuk sebuah restoran mewah di daerah Menteng, yang harganya jauh di atas rata-rata makan malam mereka. Ada juga pembelian bunga dalam jumlah besar di toko bunga ternama di bilangan Pondok Indah. Dan yang paling membuat darahnya mendidih, ada transaksi pembelian dua tiket bioskop di XXI Grand Indonesia, tanggal yang sama dengan hari ini.

Semua transaksi itu, anehnya, tercatat dengan nama ‘Sarah’. Laksmi menutup matanya. Serpihan-serpihan informasi mulai menyatu, membentuk gambaran yang mengerikan. Kenangan saat Ardi seringkali pulang larut malam dengan alasan lembur, senyumnya yang terasa hambar belakangan ini, semua mulai terasa seperti kebohongan yang terstruktur.

Ia membuka kembali galeri fotonya. Ada foto Ardi saat ia tersenyum bangga memegang sertifikat penghargaan dari kantor. Foto itu diambil saat ulang tahunnya dua tahun lalu. Ia ingat betapa bahagianya Ardi saat itu, betapa yakinnya ia pada masa depan mereka. Sekarang, keyakinan itu mulai retak, hancur berkeping-keping oleh sebuah dompet coklat dan serangkaian transaksi digital.

Babak 4 — Kebenaran yang Terlambat

Laksmi tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia bangkit, berjalan menuju pintu kamar Ardi. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia membuka pintu kamar dengan gerakan yang lebih tegas dari biasanya.

Ardi sedang duduk di tepi ranjang, menunduk. Ia tampak lelah, tapi bukan kelelahan fisik. Itu adalah kelelahan jiwa. Ia mengenakan kemeja yang sama seperti saat ia pulang tadi, tapi kerahnya sudah terbuka. Laksmi berdiri di ambang pintu, tatapannya tertuju pada Ardi.

“Ardi,” panggilnya, suaranya bergetar.

Ardi mendongak, matanya terkejut melihat Laksmi berdiri di sana dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Laksmi? Kamu kenapa?” tanyanya, nadanya terdengar cemas.

Laksmi tidak menjawab. Ia hanya berjalan mendekat, lalu menjatuhkan dompet kulit coklat itu ke lantai di antara mereka. Ardi menatap dompet itu, lalu beralih menatap Laksmi. Wajahnya memucat.

“Ini… ini punya siapa?” tanya Laksmi, matanya nanar. Ia tidak ingin mendengar alasan atau penjelasan palsu lagi. Ia ingin kebenaran.

Ardi terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menunduk, menarik napas dalam-dalam, seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk sebuah pengakuan yang berat. Laksmi menunggu. Setiap detik terasa seperti siksaan.

“Aku… aku bisa jelaskan,” suara Ardi serak. Ia akhirnya mengangkat wajahnya, tatapannya bertemu dengan Laksmi. Di matanya, Laksmi melihat campuran rasa bersalah, malu, dan… penyesalan.

“Dia… dia adalah klien baru. Namanya Sarah Adiwangsa,” Ardi memulai, suaranya pelan. “Kami bekerja sama untuk proyek besar. Dompet itu… itu tidak sengaja tertinggal di mobilku setelah kami meeting di kantor tadi siang.”

Laksmi menggeleng perlahan. “Kalau begitu, kenapa ada tiket bioskop atas nama Sarah? Kenapa ada pembayaran makan malam mewah? Kenapa ada transaksi bunga?” tanyanya, suaranya mulai meninggi.

Wajah Ardi semakin pucat. Ia menelan ludah. “Itu…” Ia terdiam lagi, mencoba mencari kata-kata yang tepat. Laksmi melihatnya. Ia melihat perjuangan Ardi untuk menyusun kebohongan baru, atau mungkin, kebenaran yang terdistorsi.

“Dia… dia punya masalah pribadi. Suaminya baru saja meninggal. Aku hanya mencoba membantunya melewati masa sulit. Aku mengantarnya nonton, mentraktirnya makan malam… semua itu hanya… empati, Laksmi. Aku bersumpah.”

Laksmi tertawa. Tawa yang terdengar getir, tanpa ada nada kebahagiaan sama sekali. Ia menatap Ardi dengan pandangan yang dingin. “Empati? Ardi, kamu membohongiku. Kamu pulang terlambat, bilang lembur, padahal kamu bersama wanita lain. Kamu menyebut itu empati?”

Ardi ingin membantah, ingin menyangkal, tapi bibirnya terkatup rapat. Ia tahu, sekeras apapun ia mencoba membela diri, kata-katanya sudah tidak memiliki kekuatan lagi di mata Laksmi.

Babak 5 — Jejak yang Tak Bisa Dihapus

Laksmi berbalik, berjalan keluar dari kamar Ardi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Suara Ardi memanggil namanya terdengar samar di belakangnya, tapi ia tidak menoleh. Ia berjalan ke arah pintu apartemen, rasa perih yang luar biasa membakar dadanya. Semua janji, semua tawa, semua rencana masa depan yang mereka bangun bersama, kini terasa seperti ilusi yang rapuh.

Ia membuka pintu apartemen dan melangkah keluar ke lorong yang remang-remang. Udara malam yang dingin menerpa wajahnya. Ia tidak tahu harus pergi kemana, tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ponselnya bergetar di genggamannya. Notifikasi dari aplikasi chat muncul di layar. Nama pengirimnya: ‘Sarah Adiwangsa’.

Laksmi membeku. Ia tidak pernah menyimpan nomor Sarah, tapi entah bagaimana Sarah menyimpan nomornya. Ia membuka pesan itu dengan tangan yang gemetar.

Pesan pertama berbunyi: ‘Terima kasih untuk malam ini, Ardi. Kamu memang pria yang berbeda dari yang lain.’

Laksmi terbatuk, air mata kembali mengalir deras. Pesan kedua datang menyusul. Kali ini, dari nomor yang berbeda, tertera nama kontak ‘Papa’. Pesan itu ditujukan untuk Ardi, tapi entah mengapa muncul di ponsel Laksmi.

‘Di, Papa perlu bantuanmu. Sarah benar-benar mengacaukan segalanya. Investasinya berantakan. Kamu harus membantunya membereskan ini. Papa tidak mau ada masalah lagi.’

Laksmi terkesiap. ‘Papa’? Klien baru? ‘Investasi berantakan’? Jantungnya berdetak lebih kencang. Ini bukan sekadar perselingkuhan sederhana. Ini jauh lebih rumit. Ada ‘investasi’ yang terlibat, ada ‘Papa’ yang meminta bantuan Ardi, dan ada Sarah yang tampaknya memiliki hubungan yang lebih dalam dari sekadar rekan kerja. Semua ini, terungkap dari sebuah dompet yang tertinggal.

Ia menyandarkan punggungnya pada dinding lorong yang dingin, ponsel masih tergenggam erat di tangannya. Dunia yang ia kenal selama ini, dunia yang ia bangun bersama Ardi, kini terasa runtuh. Ia tidak tahu apa yang harus ia percayai lagi. Apakah Ardi berbohong tentang Sarah? Atau apakah Sarah memiliki agenda tersembunyi? Dan ‘Papa’ itu siapa? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya, tanpa ada jawaban yang jelas. Lorong apartemen yang tadinya terasa sunyi, kini terasa mencekam, dipenuhi oleh kebohongan yang tak terucap dan rahasia yang tersembunyi di balik transaksi digital dan sebuah dompet kulit sederhana.