Kisah Rumah Tangga: Dompet Suami yang Terbuka Diam-diam Mengungkap Kebohongan yang Menyakitkan

Kisah Rumah Tangga: Dompet Suami yang Terbuka Diam-diam Mengungkap Kebohongan yang Menyakitkan

CERITA PENDEK

Kisah Rumah Tangga: Dompet Suami yang Terbuka Diam-diam Mengungkap Kebohongan yang Menyakitkan

Babak 1 — Rintik Hujan di Jendela Dapur

Gendis menyapu remah-remah biskuit di lantai dapur dengan gerakan yang monoton. Jendela kaca di depannya buram oleh embun, membiaskan siluet pepohonan di luar menjadi sosok-sosok abstrak yang menari dalam kegelapan senja. Hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah yang menusuk hidung, bercampur dengan wangi samar kopi instan yang ia seduh tadi sore tapi tak sempat ia minum.

Ia menghela napas panjang, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya. Jam dinding menunjukkan pukul 18.37. Waktu yang tepat bagi Satriyo, suaminya, untuk pulang kerja. Biasanya, sekitar jam segini, ia sudah bisa mendengar deru motor Satriyo memarkir di halaman depan. Namun, malam ini, keheningan terasa lebih pekat dari biasanya, hanya diselingi oleh gemericik sisa air yang menetes dari talang.

Gendis mengusap lengannya yang merinding. Bukan karena dinginnya ruangan, tapi lebih karena rasa gelisah yang mulai merayap dari ujung jari kakinya. Sejak kemarin, ia merasa ada sesuatu yang janggal. Satriyo lebih sering diam, matanya menerawang jauh, dan jawaban atas pertanyaannya selalu singkat, terputus-putus. Ia mencoba meyakinkan diri sendiri. Mungkin hanya lelah. Mungkin hanya banyak pikiran di kantor.

Di atas meja makan, masih tergeletak dompet kulit coklat milik Satriyo. Sengaja tidak ia masukkan ke saku celana kerjanya semalam, katanya ingin membersihkan sedikit noda yang entah dari mana asalnya. Gendis tidak ambil pusing, ia terbiasa melihat barang-barang suaminya berserakan di beberapa sudut rumah. Itulah salah satu ‘cacat kecil’ Satriyo yang justru membuatnya terhibur; ia sangat pekerja keras sampai hal-hal detail seperti kerapian berantakan.

Gendis berjalan mendekat ke meja makan. Ia mengambil sebuah amplop yang tergeletak di samping dompet itu. Amplop putih polos, tanpa nama pengirim. Tertulis di sana alamat rumah mereka, menggunakan pulpen hitam biasa. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia menoleh ke arah dompet Satriyo yang sedikit terbuka. Tumpukan kartu identitas, kartu ATM, dan beberapa lembar uang kertas tersembunyi di dalamnya. Kebiasaan buruk Satriyo yang lain adalah jarang menutup dompetnya dengan rapat.

Perlahan, Gendis meraih dompet itu. Ia hanya berniat membereskannya, memasukannya ke dalam laci meja, agar tidak mengganggu pemandangan. Namun, saat tangannya menyentuh permukaan kulit yang sedikit usang itu, selembar kartu tambahan keluar dari sela-sela tumpukan kartu ATM. Sebuah kartu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Babak 2 — Kartu dengan Nama yang Tak Dikenal

Tangannya sedikit gemetar saat mengambil kartu itu. Plastiknya terasa dingin di ujung jari. Kartu berwarna ungu muda dengan desain minimalis. Di bagian depan, tertera nama ‘Kirana Wijaya’ dengan font sans-serif yang elegan. Di bawahnya, ada nomor anggota dan logo sebuah klub kebugaran premium yang Gendis tahu harganya selangit. Di belakang kartu, ada beberapa tulisan kecil tentang fasilitas dan jam operasional.

Gendis mengerutkan kening. Siapa Kirana Wijaya? Apakah itu klien baru Satriyo? Atau mungkin rekan kerjanya? Satriyo memang sering berurusan dengan banyak orang di perusahaan properti tempat ia bekerja. Tapi rasanya aneh. Kenapa kartu anggota gym ini ada di dompet suaminya? Dan kenapa ia tidak pernah mendengar nama Kirana Wijaya sebelumnya?

Ia mencoba mengingat-ingat. Satriyo memang beberapa kali menyebutkan akan pergi ke gym setelah jam kerja, tapi biasanya ia akan pulang dulu ke rumah, berganti pakaian, baru kemudian pergi. Itu pun kalau ada waktu luang. Belakangan ini, waktu luang Satriyo semakin menipis. Pulang selalu larut, bahkan kadang menginap di luar kota.

Sebuah pikiran buruk mulai terlintas di benak Gendis. Ia mencoba menepisnya kuat-kuat. Tidak, itu tidak mungkin. Satriyo tidak akan melakukan hal seperti itu. Mereka baru saja merayakan ulang tahun pernikahan ketiga bulan lalu. Hubungan mereka baik-baik saja. Hanya saja, komunikasi mereka memang sedikit berkurang karena kesibukan masing-masing.

Ia kembali melihat kartu itu. Di sudut bawah, ada stiker kecil berwarna emas dengan tanggal yang tertera: 27/10/2023. Itu adalah tanggal kemarin. Berarti kartu ini baru saja digunakan. Gendis menatap jam dinding lagi. Pukul 18.45. Satriyo seharusnya sudah di rumah sekarang.

Ia bangkit dari duduknya, berjalan menuju ruang tamu. Dompet Satriyo ia bawa serta. Tangannya kembali membuka dompet itu, kali ini lebih hati-hati. Ia mengeluarkan semua kartu di dalamnya. Kartu identitas Satriyo, beberapa kartu kredit, kartu debit dari bank yang berbeda-beda, kartu tol, kartu member sebuah restoran, kartu diskon toko buku. Dan di antara semuanya, terselip kartu lain yang juga berwarna ungu muda, terlipat rapi.

Kali ini, di kartu itu tertera nama yang berbeda: ‘Kirana Wijaya’. Tapi desainnya sama persis dengan kartu pertama. Gendis menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang. Kartu kedua ini terlipat rapi di dalam slot khusus kartu di dompet Satriyo. Ini bukan sesuatu yang tergeletak begitu saja seperti kartu pertama tadi. Ini disengaja.

Babak 3 — Jejak Digital di Kota Hujan

Gendis kembali ke dapur, duduk di kursi yang sama. Ia membuka aplikasi Gojek di ponselnya. Jari-jarinya terasa kaku saat mengetikkan nama ‘Kirana Wijaya’ di kolom pencarian teman. Tidak ada hasil. Ia mencoba mencari nama itu di Instagram. Muncul beberapa akun dengan nama yang mirip, tapi tidak ada satupun yang terasa cocok. Foto profilnya buram, atau akunnya privat.

Ia lalu membuka aplikasi DANA, memeriksa riwayat transaksi Satriyo yang pernah ia lihat sekilas. Tidak ada nama Kirana di sana. Namun, ia teringat kebiasaan Satriyo yang suka memesan makanan lewat GoFood. Terkadang, ia akan memesan makanan untuk dibawa pulang ketika Satriyo lembur di kantor.

Perlahan, Gendis membuka aplikasi GoFood di ponselnya. Ia memilih menu ‘Riwayat Pesanan’. Jari-jarinya menelusuri daftar panjang pesanan yang pernah dibuat Satriyo. Mie ayam jamur, nasi goreng spesial, seblak level 5, martabak manis keju coklat. Semuanya adalah pesanan yang biasa ia dan Satriyo bagi. Hingga matanya tertuju pada sebuah pesanan yang berbeda.

Tanggal 26 Oktober 2023, pukul 20.15. Alamat pengantaran: Apartemen Cendana Tower B, unit 1708. Nama penerima: Kirana. Restoran: ‘Kafe Senja’. Pesanan: Spaghetti Aglio Olio, Avocado Toast, dua Americano.

Apartemen Cendana. Gendis pernah mendengar nama itu. Salah satu apartemen mewah di bilangan Jakarta Selatan yang kabarnya memiliki fasilitas kolam renang indoor dan gym pribadi. Satriyo pernah bilang, kantornya kadang mengadakan meeting di sana, tapi ia jarang ikut karena lokasinya cukup jauh dari rumah mereka di pinggiran kota.

Ia mencoba mencari informasi tentang Kafe Senja. Ternyata itu adalah kafe yang berada di dalam kompleks apartemen tersebut. Ia melihat foto-foto di aplikasi. Suasananya terlihat romantis, dengan pencahayaan temaram dan dekorasi kayu. Gendis merasakan perutnya mual. Ini bukan sekadar pesanan makanan biasa. Pesanan untuk dua orang, dengan alamat apartemen mewah.

Ia lalu membuka aplikasi pesan singkat. Mencari kontak ‘Satriyo’. Ada beberapa percakapan tentang pekerjaan, tentang kebutuhan rumah tangga, tentang anak kucing yang mereka temukan di depan rumah. Gendis membuka galeri foto di ponselnya. Mencari foto-foto pernikahan mereka, foto liburan mereka ke Bandung tahun lalu. Semuanya terasa seperti fatamorgana.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Notifikasi dari aplikasi perbankan. Ada transaksi yang baru saja berhasil. Satriyo baru saja melakukan transfer. Jumlahnya cukup besar. Dan penerimanya… Gendis terkesiap. Nama penerimanya adalah Kirana Wijaya.

Babak 4 — Kebenaran yang Dingin

Gendis terdiam. Pandangannya kosong menatap layar ponsel. Uang itu ditransfer ke rekening yang sama dengan kartu anggota gym dan pesanan makanan yang ia temukan tadi. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena cemas, tapi karena sebuah kepastian yang dingin mulai merayap masuk. Ia merasa seperti tersedot ke dalam lubang hitam kehampaan.

Tepat pada saat itu, ia mendengar suara mobil memasuki halaman depan. Deru motor yang khas. Satriyo pulang.

Gendis segera menyimpan ponselnya ke saku celana. Ia merapikan meja makan, menyingkirkan dompet dan amplop putih itu ke sisi lain. Ia mencoba mengatur napasnya, mengendalikan gejolak emosi yang siap meledak kapan saja. Ia berjalan menuju pintu depan, senyum tipis yang dipaksakan terukir di bibirnya.

Pintu terbuka. Satriyo berdiri di sana, jas kerjanya sedikit basah oleh sisa gerimis. Wajahnya terlihat lelah, namun matanya menangkap tatapan Gendis.

“Sayang, aku pulang,” ucap Satriyo, suaranya serak. Ia mencoba tersenyum.

Gendis membalas senyum itu, meski terasa seperti retakan di kaca.

“Kamu dari mana saja?” tanya Gendis, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. Ia melangkah mundur, membiarkan Satriyo masuk.

“Lembur,” jawab Satriyo singkat. Ia meletakkan tas kerjanya di sofa ruang tamu. “Ada proyek baru yang harus segera diselesaikan. Maaf ya, bikin kamu nunggu.”

Gendis mengangguk pelan. Ia memperhatikan Satriyo yang berjalan menuju dapur, mengambil segelas air minum. Tangan Satriyo menyentuh dompetnya yang tergeletak di meja. Ia mengambil dompet itu, lalu memasukkannya ke saku belakang celananya.

“Kamu belum makan, kan? Aku tadi sempat pesen martabak, tapi kayaknya nggak sanggup ngabisin,” kata Gendis, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.

Satriyo menoleh, ekspresinya sedikit berubah. “Nggak usah, aku sudah makan di kantor tadi. Ada rapat makan malam. Sama… klien.” Ia berhenti sejenak, seolah ragu. “Sama Kirana.”

Gendis merasakan dunianya berputar. Ia tidak bisa bernapas. ‘Kirana’. Nama itu terucap begitu saja dari bibir suaminya, tanpa beban, tanpa keraguan. Ia melihat wajah Satriyo, mencari-cari kebohongan di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah kelelahan yang tulus.

“Oh,” hanya itu yang bisa keluar dari bibir Gendis. Suaranya tercekat. Ia berbalik, berjalan kembali ke arah jendela dapur. Ke arah hujan yang kini turun lebih deras, seolah ikut menangis bersamanya.

Babak 5 — Bayangan di Tengah Malam

Malam semakin larut. Satriyo sudah terlelap di kamar mereka. Gendis duduk di tepi ranjang, menatap punggung suaminya yang bergetar pelan saat bernapas. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya berpacu liar, memutar ulang setiap percakapan, setiap tatapan, setiap keheningan yang pernah mereka lewati.

Ia teringat saat Satriyo mendadak sibuk di akhir pekan. Alasan lembur yang semakin sering. Pulang larut tanpa penjelasan rinci. Kebiasaan membuka ponsel di kamar mandi, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.

Gendis bangkit perlahan dari tempat tidur agar tidak membangunkan Satriyo. Ia berjalan menuju ruang kerja Satriyo yang jarang ia masuki. Di sana, tergeletak laptop Satriyo yang masih menyala. Layarnya menampilkan sebuah spreadsheet dengan banyak angka yang tidak ia mengerti.

Ia mencoba membuka aplikasi perpesanan di laptop itu. Akunnya masih login. Gendis mulai mencari percakapan dengan nama ‘Kirana’. Ia menemukan banyak sekali chat history. Percakapan yang dimulai dari bulan Maret lalu. Awalnya hanya obrolan ringan seputar pekerjaan, lalu perlahan berubah menjadi lebih personal. Foto-foto selfie Kirana yang tersenyum, obrolan tentang film favorit, tentang kopi yang sama-sama mereka sukai. Bahkan ada beberapa rekaman suara pendek yang menunjukkan tawa Kirana yang riang.

Gendis menutup mulutnya, menahan isak tangis. Ia membuka folder foto. Di sana, tersimpan puluhan foto Kirana. Dalam berbagai pose, di berbagai tempat. Ada yang di kafe yang sama, ada yang di depan gedung apartemen mewah itu, ada juga yang terlihat seperti sedang berlibur di pantai. Dan di beberapa foto, ada Satriyo di sana, tersenyum.

Di folder lain, tersimpan sebuah video pendek. Rekaman dari kamera CCTV. Terlihat Satriyo dan Kirana sedang berjalan bergandengan tangan di sebuah koridor apartemen. Mereka tertawa, lalu Satriyo mencium kening Kirana sebelum mereka memasuki sebuah unit.

Gendis memejamkan mata. Ia tidak bisa melanjutkan. Ini sudah terlalu banyak. Ia menutup laptop Satriyo, menarik napas dalam-dalam. Kegelapan di ruangan itu terasa menyesakkan.

Ia kembali ke kamar tidur. Satriyo masih terlelap. Gendis tidak tahu harus melakukan apa. Menghadapinya? Bertahan dalam kebohongan ini? Atau pergi?

Ia meraih ponselnya yang tergeletak di nakas. Jari-jarinya bergerak tanpa sadar. Ia membuka kembali aplikasi perbankan. Uang transfer tadi masih tertera jelas. Gendis berdiri mematung di tengah kegelapan kamar, di samping pria yang ia cintai, di tengah-tengah rumah yang dulu terasa begitu hangat, kini dipenuhi oleh bayangan-bayangan tak terlihat.