Kisah Rumah Tangga: Ia Temukan Nota Kecil di Dompet Suami, Ternyata Pengakuan Dosa Paling Menyakitkan

Kisah Rumah Tangga: Ia Temukan Nota Kecil di Dompet Suami, Ternyata Pengakuan Dosa Paling Menyakitkan

CERITA PENDEK

Kisah Rumah Tangga: Ia Temukan Nota Kecil di Dompet Suami, Ternyata Pengakuan Dosa Paling Menyakitkan

Babak 1 — Aroma Kopi Pagi yang Mulai Pudar

Nindya meremas sudut daster batiknya, menatap kosong pada adonan martabak mini yang mulai mengeras di teflon. Aroma mentega yang seharusnya menggugah selera, kini terasa hambar di penciumannya. Pagi itu, seperti pagi-pagi lainnya selama seminggu terakhir, suaminya, Pradipta, sudah berangkat lebih dulu. Selalu pamit dengan ciuman singkat di kening, selalu berucap ‘hati-hati di jalan’, selalu terburu-buru meninggalkan apartemen sempit mereka di bilangan Cilandak.

Sudah dua tahun mereka menikah. Dua tahun yang terasa seperti perjalanan singkat menaiki komidi putar; kadang mendebarkan, kadang membosankan, namun selalu ada harapan untuk putaran berikutnya yang lebih seru. Tapi belakangan, putaran itu terasa makin datar. Pradipta semakin sering lembur, semakin sering ada urusan mendadak yang membuatnya pulang larut malam. Nindya, yang terbiasa bangun pagi dan menyiapkan sarapan, kini hanya menemukan jejak kopi instan yang tersisa di cangkir Pradipta. Ia mencoba memaklumi. Pangkat Pradipta di perusahaan software itu memang sedang merangkak naik, tuntutan pekerjaan pasti makin berat. Cuma, kadang, matanya menangkap sesuatu yang janggal. Senyum Pradipta yang dulu lebar dan tulus, kini terasa sedikit dipaksakan. Ada getar halus di suaranya saat ia bicara soal pekerjaan yang kadang tak Nindya pahami.

“Pasti capek ya, Mas?” Nindya mencoba menyelami percakapan yang bahkan belum dimulai. Suaminya baru saja keluar dari kamar mandi, masih mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Pagi itu, ia tidak berpamitan buru-buru. Ada jeda aneh di antara mereka.

“Hmm,” Pradipta bergumam, matanya fokus pada pantulan dirinya di cermin nakas. Ia mengoleskan pomade ke rambutnya, gerakan yang selalu Nindya suka, maskulin dan penuh percaya diri. Tapi hari ini, gerakan itu terasa asing.

“Mas… kemarin aku lihat ada saldo masuk di DANA kamu, lumayan besar. Buat apa, ya?” Nindya memberanikan diri bertanya, mencoba terdengar santai. Ia tahu seharusnya ia tidak mengintip dompet digital suaminya, tapi rasa ingin tahu itu menggerogoti. Semalam, saat Pradipta terlelap, layar ponselnya yang menyala menampilkan notifikasi transfer masuk yang mencurigakan.

Pradipta berhenti menggarap rambutnya. Tangannya melayang sesaat di udara. “Oh, itu? Bonus proyek, Sayang. Kemarin diproses cepat.” Ia berucap tanpa menoleh. Nadanya datar, terlalu datar untuk sebuah kabar baik.

“Oh gitu….” Nindya menghela napas pelan. Ia tahu, itu bohong. Bonus proyek tidak akan pernah masuk via DANA, apalagi dengan deskripsi yang tidak jelas. Tapi ia memilih diam. Ia benci memulai pertengkaran di pagi hari. Cacat kecilnya yang paling kentara adalah menghindari konflik. Lebih baik menelan rasa curiga daripada harus beradu argumen yang ujungnya membuat suasana rumah mereka makin dingin.

“Aku berangkat dulu ya. Ada rapat penting,” Pradipta mengusap kepala Nindya sekilas, lalu menyambar tas kerjanya. Pintu apartemen tertutup meninggalkan Nindya dalam keheningan yang memekakkan telinga. Ia menatap piring martabak mini yang sudah dingin. Aroma mentega itu benar-benar menghilang, digantikan oleh bau anyir kecurigaan yang mulai merayap.

Babak 2 — Nota Kecil, Dunia Runtuh

Sore itu, Nindya memutuskan untuk membersihkan apartemen. Ia merasa sedikit bersalah karena terus saja mencurigai Pradipta. Mungkin ia memang terlalu berlebihan. Mungkin Pradipta memang benar-benar sibuk dengan pekerjaannya. Ia membereskan meja kerja Pradipta yang berantakan, menata tumpukan kertas yang sebagian besar adalah laporan proyek. Saat ia hendak memasukkan beberapa struk belanja yang berserakan ke dalam kotak amal yang disiapkan untuk amal, tangannya terhenti.

Sebuah nota kecil, terlipat rapi, terselip di antara kartu-kartu ATM dan SIM di dompet kulit Pradipta yang tergeletak terbuka di laci meja. Nota itu bukan struk parkir atau struk minimarket biasa. Kertasnya agak tebal, seperti kertas catatan pribadi. Dengan jari yang sedikit gemetar, Nindya membukanya.

Tulisannya halus, tidak seperti tulisan Pradipta yang cenderung miring dan besar. Kalimatnya singkat, tapi seperti petir yang menyambar langsung ke ulu hatinya.

“Untuk kamu yang selalu menemaniku melewati malam-malam panjang dan sunyi. Terima kasih. – R.”

R. Siapa R? Malam-malam panjang dan sunyi? Nindya merasa seperti ada yang mencekik lehernya. Ia mencengkeram nota itu erat-erat, buku-buku jarinya memutih. Ia mencoba mengingat-ingat. Pradipta pernah bercerita tentang rekan kerjanya yang bernama Regina, tapi Regina kan sudah pindah ke luar kota setahun lalu. Itu tidak mungkin.

Nafas Nindya tertahan. Ia membuka kembali dompet Pradipta, menatap setiap kartu yang ada di sana. Kartu nama perusahaan, kartu kredit, kartu debit, kartu anggota gym yang sudah lama tidak dipakai. Semuanya terasa normal. Tapi nota kecil itu… nota itu adalah sebuah anomali. Sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana. Sesuatu yang begitu personal, namun ditulis oleh tangan yang asing.

Ia duduk terdiam di kursi kerja Pradipta. Pandangannya terpaku pada deretan aplikasi di layar ponsel Pradipta yang tergeletak di meja. Gojek, Tokopedia, Shopee, PLN Mobile, DANA. Aplikasi yang biasa mereka gunakan. Namun kini, setiap ikon itu terasa seperti pengkhianat. Ia ingin menangis, tapi air matanya seolah membeku. Ia ingin berteriak, tapi suaranya hilang tertelan rasa dingin yang merayapi tubuhnya. Ia hanya duduk di sana, memegang nota kecil itu, dunianya yang selama ini terasa stabil, kini runtuh berkeping-keping.

Babak 3 — Jejak Sang ‘R’

Malam itu, Pradipta pulang seperti biasa, sedikit larut. Ia terlihat lelah, namun senyumnya masih sama, dipaksakan. Nindya berusaha bersikap normal. Ia menyiapkan makan malam, nasi goreng sederhana dengan telur mata sapi kesukaan Pradipta. Saat mereka makan, Nindya terus saja mengamati suaminya. Setiap gerak-geriknya, setiap kata yang terucap. Ia mencoba mencari celah, celah kebohongan, celah pengkhianatan.

“Bagaimana rapatnya, Mas?” tanyanya, suaranya berusaha dibuat ringan.

“Lancar, Sayang. Ada beberapa kendala teknis tapi sudah teratasi,” jawab Pradipta, menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.

Nindya mengangguk pelan. Kendala teknis. Itu kata yang sering diucapkan Pradipta belakangan ini. Ia jadi teringat nota kecil itu. ‘Malam-malam panjang dan sunyi’. Kapan Pradipta merasa sunyi? Bukankah ia selalu punya Nindya? Ia jadi teringat percakapannya dengan Pradipta seminggu lalu, saat suaminya tiba-tiba mengajaknya makan malam di sebuah restoran Padang di bilangan Senen, tempat yang bahkan bukan favorit mereka. Saat itu, Nindya merasa ada yang aneh. Pradipta lebih banyak diam, matanya sesekali melirik ke arah ponselnya yang tergeletak di meja. Nindya mengira Pradipta hanya sedang banyak pikiran.

“Mas,” Nindya memulai lagi, kali ini nadanya sedikit lebih serius. “Kamu tahu kan, kalau ada masalah, cerita saja sama aku. Aku siap dengarkan.”

Pradipta meletakkan sendoknya. Ia menatap Nindya, matanya tampak bingung. “Masalah apa, Sayang? Aku baik-baik saja kok.”

Nindya ragu. Haruskah ia menunjukkan nota itu? Haruskah ia langsung menuduh? Tidak, itu bukan gaya Nindya. Ia memilih mengalihkan topik. Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi Tokopedia.

“Oh iya, Mas, kemarin aku lihat kamu pesan sesuatu di Tokopedia. ‘Buket Bunga Mawar Merah’. Buat siapa?” tanyanya, berusaha keras agar suaranya tetap terkontrol. Jantungnya berdebar kencang.

Pradipta terdiam. Ekspresinya berubah. Kebingungan itu terganti sesuatu yang lain, sesuatu yang sulit dibaca. Ia menunduk, lalu kembali menatap Nindya. “Oh, itu… itu buat klien, Sayang. Kan sebentar lagi ada ulang tahun perusahaan. Sekadar ucapan terima kasih.”

Jawaban yang sama-sama tidak masuk akal. Klien mana yang diberi buket bunga mawar merah seperti itu? Ulang tahun perusahaan biasanya dikasih bingkisan, bukan bunga pribadi. Nindya hanya bisa membalas dengan senyum tipis. Ia tahu ia sedang dibohongi. Tapi ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia mulai merasa lelah. Ia membuka galeri foto di ponselnya, mencari foto-foto lama mereka. Foto pernikahan, foto liburan pertama mereka ke Bandung, foto saat mereka pertama kali pindah ke apartemen ini. Semuanya terasa seperti nostalgia dari kehidupan orang lain.

Babak 4 — Bukan Mawar Merah Biasa

Keesokan harinya, Nindya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Ia membuka aplikasi Gojek, memesan GoCar menuju alamat yang ia dapat dari riwayat pesanan Tokopedia Pradipta. Alamat itu ternyata sebuah toko bunga di daerah Kemang. Ia harus tahu.

Sesampainya di toko bunga yang ramai itu, Nindya merasa sangat canggung. Ia berdiri di depan meja kasir, memegang ponselnya yang menampilkan detail pesanan Pradipta. Bunga mawar merah. Kodenya ‘RM-01’ di struk digital itu.

“Maaf, Mbak,” Nindya memulai dengan suara pelan, berusaha tidak menarik perhatian. “Saya mau tanya soal pesanan atas nama Pradipta, kemarin.”

Penjaga toko yang ramah itu tersenyum. “Oh, Pak Pradipta ya? Yang pesan buket mawar merah ukuran medium itu?”

Nindya mengangguk, menahan napas.

“Iya, benar. Beliau pesan itu untuk dikirimkan ke sebuah alamat di Jakarta Selatan. Tapi… kok sepertinya beliau ambil sendiri ya kemarin sore? Kami sempat ragu mau dikirimkan atau tidak, karena beliau bilang mau diambil langsung.” Si penjaga toko terlihat sedikit bingung.

Diambil langsung? Tapi Pradipta bilang untuk klien? Hati Nindya mencelos. Ia meminta struk digitalnya ditampilkan kembali. “Maaf, di struknya ada nama penerima?” tanyanya lagi.

Penjaga toko itu mengernyit, lalu memeriksa sistem komputer. “Sebentar ya… Oh, ada. Untuk pengiriman… namanya Raras.”

Raras. Bukan Regina. Raras. Nindya seperti mendengar gema dari nota kecil itu. ‘R’. Dan ‘Raras’ adalah sebuah nama yang mulai terukir di benaknya, sebuah nama yang terasa begitu dekat dengan kepedihan.

Nindya berterima kasih dengan suara tercekat, lalu keluar dari toko bunga itu. Kakinya terasa lemas. Ia tak bisa mengendalikan emosinya lagi. Ia berjalan tanpa tujuan, melewati keramaian Kemang. Ia melihat sepasang kekasih berjalan bergandengan tangan, tertawa lepas. Ia melihat keluarga kecil yang sedang asyik makan siang. Semua pemandangan itu terasa menusuk. Ia teringat kembali pada Pradipta, pada malam-malam yang dihabiskan ‘lembur’, pada ‘kendala teknis’ yang selalu jadi alasan. Ia tak pernah menyangka, nota kecil di dompet itu akan membuka tabir kebenaran yang begitu menyakitkan. Bukan hanya tentang perselingkuhan, tapi tentang seseorang yang bernama Raras, yang Nindya sadari kini, adalah nama adik Pradipta yang meninggal tiga tahun lalu karena sakit.

Babak 5 — Hening Setelah Badai

Nindya kembali ke apartemen. Sunyi. Keheningan yang sama seperti pagi tadi, tapi kali ini terasa lebih berat, lebih menusuk. Ia duduk di sofa, memegang nota kecil itu lagi. ‘Untuk kamu yang selalu menemaniku melewati malam-malam panjang dan sunyi. Terima kasih. – R.’

Nindya menyadari kesalahannya. ‘R’ bukanlah inisial selingkuhan, melainkan Raras. ‘Malam-malam panjang dan sunyi’ itu bukanlah momen mesra dengan wanita lain, melainkan saat-saat Pradipta merindukan adiknya, merindukan kebersamaan yang hilang. Bukti transfer DANA, buket mawar merah, semua itu bukan bukti perselingkuhan, melainkan upaya Pradipta untuk mencari kebahagiaan yang hilang, untuk mengenang adiknya yang tak sempat ia temani hingga akhir hayatnya.

Ia membuka kembali galeri ponselnya, mencari foto-foto Raras. Pradipta jarang bercerita tentang adiknya, hanya sesekali menyebutkan betapa ia menyayangi Raras. Ia ingat, dulu Pradipta pernah bilang ingin sekali bisa menemani Raras saat Raras sakit, tapi pekerjaan membuatnya terhalang. Nindya merasa hancur. Ia telah salah menuduh, salah mengartikan setiap gerak Pradipta.

Pintu apartemen terbuka. Pradipta pulang. Ia terlihat lebih lesu dari biasanya. Nindya menatapnya, hatinya campur aduk antara rasa bersalah, lega, dan penyesalan. Ia ingin segera memeluk suaminya, meminta maaf, dan menjelaskan bahwa ia salah paham.

Namun, saat Pradipta melangkah masuk, Nindya melihat sesuatu di tangannya. Bukan kunci, bukan tas kerja. Melainkan sebuah kotak kecil berwarna biru dongker, yang sangat familiar. Kotak itu adalah tempat Nindya menyimpan nota kecil yang ia temukan di dompet Pradipta. Dan di tangan Pradipta, ada sehelai kertas kusut yang Nindya kenali sebagai nota yang sama.

“Sayang…” suara Pradipta terdengar serak. Matanya berkaca-kaca. “Kamu… kamu tahu?”

Nindya terdiam. Tangannya yang memegang nota kecil itu mulai gemetar hebat. Di mata Pradipta, ia melihat sesuatu yang tidak ia lihat sebelumnya. Bukan kelelahan karena pekerjaan, bukan kerinduan pada adiknya. Tapi ketakutan. Ketakutan yang sama besarnya dengan ketakutan yang kini ia rasakan. Nindya menatap nota di tangannya, lalu menatap nota di tangan Pradipta. Ada perbedaan tipis dalam lipatan kertasnya. Dan tulisan di nota milik Pradipta… sedikit berbeda. Bukan hanya ‘R’, tapi nama lengkapnya tertera di sana.