Cerita Pengkhianatan: Suami Pulang Telat Katanya Lembur, Tapi Pulpen Ini Ungkap Segalanya
Babak 1 — Aroma Asing di Pulpen Sang Suami
Nindya sedang menyeduh kopi tubruk ketika pintu depan berdenting terbuka. Suara langkah kakinya yang terburu-buru terdengar berat di lantai keramik, ciri khas sepatu pantofel Pradipta yang sudah usang di bagian tumitnya. Ia tidak mendongak dari balik punggung kulkas yang terbuka, hanya menggerakkan tangannya untuk mengambil gula batu. ‘Lembur lagi, Mas?’ tanyanya datar, suaranya sedikit tertelan oleh dengungan pendingin ruangan.
“Iya, Mbak. Deadline proyek besar. Nggak bisa ditinggal,” sahut Pradipta, suaranya terdengar lelah dari ambang pintu ruang kerja. Ia meletakkan tas kerjanya di sofa ruang tamu dengan sedikit hentakan, lalu terdengar bunyi tumpukan kertas jatuh. Nindya menutup pintu kulkas, mengambil cangkir kopinya yang baru saja selesai diseduh, dan melangkah pelan menuju ruang kerja suaminya. Ia membenci sikap defensif ini. Seolah ia sedang menuduh, padahal hanya bertanya.
“Bapak kok belum mandi? Mau Nyonya siapkan air panas?” suara Mbok Dar, asisten rumah tangga mereka, terdengar dari dapur. Ia baru saja selesai mencuci piring makan malam yang sebenarnya tidak mereka sentuh.
“Sebentar, Mbok. Mas Pradipta mau kerja dulu,” jawab Nindya, masih berdiri di ambang pintu ruang kerja suaminya. Pradipta duduk di kursi kebesarannya, jemarinya sudah bergerak lincah di atas keyboard laptop. Nindya hanya memandanginya beberapa detik, merasakan ada yang janggal. Bukan hanya karena Pradipta pulang lebih dari jam 10 malam lagi untuk ketiga kalinya dalam seminggu. Ada sesuatu yang lain.
“Aku buatkan teh hangat ya, Mas? Biar ngantuknya hilang,” tawarnya. Pradipta menggeleng tanpa menoleh. “Nggak usah, Ndy. Aku mau fokus aja.” Ia memijat pelipisnya.
Nindya menghela napas. “Baiklah. Kalau butuh apa-apa panggil aku saja. Aku di kamar.” Ia berbalik, melangkah menjauh. Di tengah lorong, ia berhenti sejenak. Terlalu larut. Tidak seharusnya ia mulai curiga seperti ini. Pradipta selalu terbuka. Selalu jujur. Namun, bisikan keraguan itu mulai merayap dalam benaknya, seperti embun yang perlahan membasahi dedaunan di pagi hari. Suaminya itu, belakangan ini, terasa seperti orang asing yang menumpang hidup di rumahnya sendiri. Selalu ada alasan. Selalu ada pekerjaan yang menumpuk. Ia hanya ingin tahu, apakah pekerjaan itu memang benar-benar menumpuk, atau ada tumpukan lain yang disembunyikan?
Babak 2 — Keguanaan Objek Tak Terduga
Esok paginya, suasana rumah terasa dingin, meski matahari sudah bersinar terik. Pradipta sudah berangkat kerja sebelum Nindya bangun. ‘Tumben, Mas berangkat sepagi ini?’ batinnya heran. Ia merapikan tempat tidur, menarik selimut yang terlepas sebagian. Ada satu benda yang tertinggal di bawah bantal Pradipta. Sebuah pulpen. Bukan pulpen sembarangan.
Nindya mengenal pulpen itu. Itu adalah pulpen kesayangan Pradipta. Dulu, waktu mereka baru menikah, Pradipta sangat protektif terhadap pulpen berwarna biru metalik dengan ujung emas itu. Katanya, pulpen itu adalah hadiah dari mentornya saat ia masih kuliah, simbol semangat belajar. Tapi Pradipta tidak pernah membawanya ke kantor. Ia punya banyak pulpen lain, yang lebih praktis. Kenapa pulpen itu ada di kamar tidur, di bawah bantal?
Tangannya terulur, ragu. Ujung jarinya menyentuh permukaan logam pulpen yang dingin. Ia membaliknya. Ada ukiran nama ‘Pradipta’ dengan huruf kapital yang rapi. Tidak ada yang aneh. Ia mencoba membukanya. Biasa saja, ujungnya bisa diputar. Tiba-tiba, sebuah ide gila melintas di benaknya. Bagaimana kalau ia membukanya? Ada sesuatu yang aneh dengan pulpen ini. Ia belum pernah melihatnya sebegitu dekat sebelumnya.
Nindya menjatuhkan diri di tepi ranjang. Jantungnya berdegup kencang. Ia memutar pulpen itu lebih keras. Ada bagian yang bisa dilepas. Bukan hanya untuk mengisi ulang tinta. Ada ruang tersembunyi di dalamnya. Matanya membelalak saat ia melihat sesuatu terselip di dalam tabung pulpen itu. Bukan gulungan kertas kecil biasa. Ini lebih seperti… kartu. Kartu kecil yang terlipat rapi.
Tangannya sedikit gemetar saat ia menarik kartu itu keluar. Warnanya putih gading, agak kaku. Saat ia membukanya, ada sebuah nama tertulis di sana. Bukan namanya. Bukan nama siapapun yang ia kenal. Dan di sebelahnya, ada sebuah nomor. Nomor yang terasa familiar, seperti nomor meja di sebuah kafe atau nomor antrian di sebuah loket. Nindya terdiam. Otaknya berputar. Pulpen ini. Kenapa pulpen ini ada di sini? Dan kartu apa ini?
Babak 3 — Jejak di Jagat Maya
Sepanjang pagi itu, Nindya tidak bisa fokus. Kopi yang ia minum terasa pahit, nasi uduk yang ia pesan via GoFood nyaris tidak tersentuh. Setiap kali ia mencoba mengingat percakapan terakhir dengan Pradipta, ia selalu berhenti pada ekspresi lelah suaminya, atau jawaban singkatnya yang dingin. “Deadline proyek besar.” Kata itu terus berulang di kepalanya seperti kaset rusak. Tapi pulpen itu. Kartu itu. Itu tidak ada hubungannya dengan proyek.
Ia membuka aplikasi pesan di ponselnya. Mencari nama Pradipta. Biasanya, mereka saling berkirim pesan hal-hal sepele, semacam ‘jangan lupa makan’ atau ‘bagaimana rapatnya’. Tapi kini, ia melihat semua percakapan mereka yang terasa dangkal. Tidak ada apa-apa yang mencurigakan. Ia beralih ke media sosial Pradipta. Hanya foto-foto lama, foto wisuda, foto bersama teman-temannya saat kuliah dulu. Semuanya normal. Terlalu normal.
Nindya akhirnya memutuskan untuk melakukan apa yang sangat ia hindari: melacak Pradipta. Ia membuka aplikasi peta di ponselnya, lalu membuka aplikasi ojek online yang sering mereka gunakan. ‘History,’ katanya pada diri sendiri. Mungkin Pradipta pernah memesan sesuatu, atau pergi ke suatu tempat yang tidak ia ceritakan. Ia melihat daftar riwayat perjalanan Pradipta. Sebagian besar ke kantor, beberapa ke rumah orang tua Pradipta di daerah Tangerang. Dan ada satu entri yang membuatnya terdiam.
Tanggal kemarin. Pukul 22:30. Sebuah pesanan ojek online ke sebuah alamat di daerah Senopati. Nindya mengerutkan kening. Senopati? Pradipta tidak pernah bilang akan ke Senopati. Ia selalu mengeluh macet kalau harus ke arah sana. Ia mencoba mengingat-ingat. Apakah Pradipta pernah menyebut Senopati dalam pembicaraan mereka akhir-akhir ini? Tidak ada. Sama sekali.
Jantungnya berdebar semakin kencang. Ia melihat nama pengemudi ojek online itu. Dan ia teringat kartu di dalam pulpen Pradipta. Kartu itu memiliki sebuah nomor. Ia membuka aplikasi chat lagi, mencari nomor baru yang mungkin belum pernah ia simpan. Ia mengetik pesan dengan tangan gemetar, “Maaf, ini dengan pengemudi GoCar yang tadi malam mengantar Bapak Pradipta ke Senopati?” Ia menunggu. Tiga menit terasa seperti tiga jam. Lalu, balasan itu datang. Pendek. Padat. “Betul, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?”
Babak 4 — Kebenaran yang Dingin
Nindya membalas pesan itu dengan pertanyaan yang lebih detail. ‘Bisa tolong jelaskan tujuan Bapak Pradipta semalam? Dan apakah Bapak Pradipta bersama dengan seseorang?’ Ia mencoba terdengar tenang, meski tubuhnya bergetar hebat. Ia bisa merasakan keringat dingin membasahi punggungnya.
Balasan itu datang lebih cepat dari yang ia duga. “Oh, Bapak Pradipta. Beliau pesennya ke alamat kafe itu, Mbak. Yang ada musik live-nya di dekat persimpangan.” Pengemudi itu melanjutkan, “Semalam beliau sama Mbak siapa ya… rambutnya sebahu, suka senyum. Nggak kenal saya, Mbak. Cuma antar aja.”
Kafe itu. Nindya tahu kafe itu. Pradipta pernah mengajaknya ke sana sekali, beberapa bulan lalu. Suasananya romantis, dengan live music yang syahdu. Tapi diajak ke sana? Sendirian? Dengan perempuan lain? Siapa perempuan itu? Tiba-tiba, ia teringat lagi kartu yang ia temukan. Nama dan nomor di kartu itu. Ia mengambil kartu itu lagi dari saku bajunya.
Ia menatap nama itu. “Laksmi.” Dan nomor itu… nomor meja di kafe itu? Ia mencoba mencocokkan nomor tersebut dengan nomor meja yang ada di daftar menu kafe yang ia simpan di ponselnya dari kunjungan terakhir mereka. Cocok. Sangat cocok. Itu adalah nomor meja di pojok yang paling tersembunyi. Tempat yang paling romantis. Dan pulpen itu. Pulpen yang sangat protektif ia simpan. Ternyata, ia membawanya ke sana. Untuk apa? Mungkin untuk menulis sesuatu? Atau…
Nindya merasa dunianya berputar. Pradipta pulang larut malam, bukan karena lembur pekerjaan. Ia pergi ke Senopati, ke kafe yang romantis itu, bersama seorang perempuan bernama Laksmi. Dan pulpen kesayangannya, yang selalu ia simpan di rumah, ia bawa pergi untuk momen spesial itu. Ia membuka kembali percakapan dengan Pradipta di aplikasi pesan. ‘Lembur lagi, Mas?’ ia bertanya. Pradipta membalas, ‘Iya, Mbak. Deadline proyek besar.’ Nindya hanya membaca balasan itu. Ia tidak membalasnya. Ia hanya menatap kosong ke arah layar ponselnya. Semua kebohongan itu, semua alasan itu, kini terangkai menjadi sebuah cerita yang mengerikan.
Babak 5 — Sunyi yang Merayap
Nindya duduk di tepi ranjang, memegang pulpen itu erat-erat. Permukaan logamnya terasa dingin di telapak tangannya. Ia membayangkan Pradipta duduk di kafe itu, membuka pulpennya, mengambil kartu itu. Untuk siapa? Untuk Laksmi? Apa yang tertulis di kartu itu? Pesan cinta? Janji manis? Ia tidak tahu. Dan ia tidak yakin ia ingin tahu.
Ia melihat jam di nakas. Pukul 11 siang. Pradipta pasti sudah kembali ke kantor sekarang. Atau mungkin ia masih di luar? Mungkin ia tidak akan pulang hari ini? Nindya mencoba menelepon suaminya, tapi panggilannya tidak diangkat. Sama seperti biasanya jika Pradipta sedang ‘sibuk’ atau ‘menyetir’ atau alasan-alasan klise lainnya.
Ia bangkit dari ranjang, berjalan ke lemari pakaian Pradipta. Ia membukanya perlahan. Bau parfum maskulin yang khas tercium. Ia menyentuh kemeja-kemeja yang tergantung rapi. Semuanya terlihat normal. Semuanya seperti biasa. Tapi di sudut lemari, di antara tumpukan kaos kaki, ia melihat sesuatu yang mencolok. Sebuah kotak kecil berwarna merah marun.
Ia mengambil kotak itu. Kertas kado yang melapisinya sudah sedikit terkelupas di beberapa sisi. Ia tidak ingat pernah melihat kotak ini sebelumnya. Tangan Nindya semakin gemetar saat ia membuka tutupnya. Di dalamnya, terbungkus beludru hitam, tersimpan sebuah cincin. Cincin emas putih dengan sebuah batu berlian kecil yang berkilauan redup di bawah cahaya lampu kamar. Dan di bawah cincin itu, ada sebuah kartu ucapan. Dengan tulisan tangan yang sama seperti di kartu yang ia temukan di pulpen Pradipta.
Ia membuka kartu itu. “Untuk Laksmi. Semoga kita bisa lebih bahagia di masa depan. – P.” Nindya menjatuhkan diri kembali ke ranjang. Jantungnya terasa seperti diremas. P. Itu Pradipta. Ini bukan sekadar perselingkuhan biasa. Ini adalah rencana. Sebuah rencana untuk masa depan. Dan ia, Nindya, hanyalah penghalang sementara. Ia memandang pulpen di tangannya. Benda itu terasa begitu berat. Benda itu adalah saksi bisu. Tapi apa yang bisa ia lakukan dengan benda itu? Ia hanya bisa terdiam. Merasakan dingin merayap dari ujung jari kakinya hingga ke ubun-ubun. Ia tahu, rumah tangganya tidak akan pernah sama lagi. Tapi bagaimana ia akan menghadapinya? Ia tidak tahu. Malam tadi Pradipta pulang telat karena ‘lembur’. Tapi malam ini? Besok? Apa lagi yang akan ia temukan?
