Kisah Nyata: Bukan Soal Pesan Terakhir, Ini Isi File Rahasia yang Ditemukan di Laptop Suaminya

Kisah Nyata: Bukan Soal Pesan Terakhir, Ini Isi File Rahasia yang Ditemukan di Laptop Suaminya

CERITA PENDEK

Kisah Nyata: Bukan Soal Pesan Terakhir, Ini Isi File Rahasia yang Ditemukan di Laptop Suaminya

Babak 1 — Ketenangan Sebelum Badai

Laksmi menyibakkan helaian rambutnya yang sedikit berantakan karena pendingin ruangan yang terlalu dingin. Tangannya bergerak lincah menata tumpukan dokumen di meja kerjanya. Pukul empat sore, suasana kantor sudah mulai lengang. Hanya suara ketikan keyboard sesekali dan deru AC yang terdengar. Ia menarik napas panjang, aroma kopi dari gelas di sampingnya tercium samar. Setidaknya, ini adalah jeda yang ia butuhkan setelah seminggu penuh rapat maraton dan deadline yang seakan tak berujung. Pukul lima nanti ia akan bergegas pulang, menyiapkan makan malam untuk Pradipta, suaminya. Sesederhana itulah rutinitas mereka, dan Laksmi menyukainya.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, memejamkan mata sejenak. Ingatan tentang bagaimana ia berjuang keras untuk mendapatkan posisi di perusahaan ini kembali terlintas. Dulu, ia bukan siapa-siapa. Hanya lulusan baru dengan segudang mimpi dan sedikit keberanian. Sekarang, ia sudah dipercaya mengelola tim kecil dan proyek-proyek penting. Pradipta selalu mendukungnya, menemaninya lembur jika diperlukan, membawakan makanan ringan dan minuman hangat. Pria itu adalah jangkar dalam hidupnya, pelabuhan tempat ia bisa kembali setelah badai di luar.

Ponselnya bergetar. Notifikasi dari grup WA kelasnya dulu. Sekadar saling menyapa dan menanyakan kabar. Laksmi tersenyum. Di layar, foto profil seorang teman lama, Gendis, masih sama seperti dulu. Senyum cerianya, meskipun sekarang ada sedikit kerutan halus di sudut matanya. Mereka sudah lama tak bertemu, terpisah oleh kesibukan masing-masing. Laksmi membayangkan betapa hidupnya akan berbeda jika ia tidak bertemu Pradipta. Mungkin ia akan tetap berjuang sendirian, atau memilih jalan yang berbeda. Tapi takdir berkata lain.

Ia meraih gelas kopinya, menyesap sedikit. Dingin. Laksmi mengerutkan kening. Ia ingat betul baru saja menuangnya beberapa menit lalu. Mungkin karena AC ruangan yang terlalu kuat. Atau mungkin karena pikirannya terlalu jauh melayang. Ia melirik jam di dinding. Tinggal sepuluh menit lagi. Ia mulai membereskan mejanya, memasukkan dokumen-dokumen penting ke dalam tasnya, menyalakan antivirus pada laptopnya untuk terakhir kali sebelum mematikannya.

Tiba-tiba, sebuah ide melintas di benaknya. Pradipta pernah meminta tolongnya untuk mengakses sebuah file di laptop kerjanya yang tertinggal di rumah. Katanya penting untuk presentasi besok pagi. Laksmi ingin memastikan file itu sudah tersimpan dengan baik. Ia memutuskan untuk menyalakan kembali laptopnya. Mungkin tidak akan lama. Hanya sekadar memastikan. Ia membuka laptopnya, memasukkan kata sandi yang sudah sangat ia hafal. Layar utama muncul, menampilkan deretan ikon yang familier. Ia mengarahkan kursor mouse ke folder ‘Pekerjaan Pradipta’. Jantungnya berdebar sedikit lebih kencang. Bukan karena curiga, tapi lebih karena keinginan untuk membantu.


Babak 2 — Sebuah Folder Bernama ‘Arsip’

Laksmi membuka folder ‘Pekerjaan Pradipta’. Isinya cukup banyak, terorganisir dengan rapi. Ada folder-folder kecil untuk setiap proyek. Ia mencari folder yang dimaksud Pradipta. Tapi kemudian, matanya menangkap sebuah folder lain yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Nama folder itu sederhana: ‘Arsip’. Penasaran, ia mengarahkan kursor mouse ke folder itu. Terlihat dari ukurannya yang cukup besar, mungkin berisi banyak file. Jantung Laksmi mulai berdetak lebih cepat. Ia tahu, Pradipta adalah orang yang sangat rapi dalam mengelola pekerjaannya. Semua file pasti terorganisir. Jarang sekali ada folder seperti ini, yang terkesan asal dibuat.

Ia mengklik folder ‘Arsip’. Di dalamnya, ada beberapa sub-folder. Nama-namanya lebih aneh lagi: ‘Proyek L’, ‘Kenangan Lama’, ‘Masa Depan Kita?’. Laksmi merasa ada yang janggal. ‘Proyek L’? Bukankah L itu inisial namanya? ‘Kenangan Lama’? ‘Masa Depan Kita?’ Suaminya tidak pernah membicarakan hal-hal seperti ini dengannya. Biasanya, jika ada hal pribadi yang ingin ia bagi, ia akan bercerita langsung. Laksmi mulai merasa sedikit gelisah. Ia mencoba menepis pikiran buruk yang mulai merayap. Mungkin Pradipta hanya ingin membuat semacam *mood board* pribadi atau semacamnya. Ia menghela napas, mencoba menenangkan diri.

Tangannya sedikit gemetar saat mengarahkan mouse ke sub-folder ‘Proyek L’. Ia mengkliknya. Di dalamnya, terdapat beberapa file. Ada file dokumen, beberapa foto, dan sebuah file dengan ekstensi ‘.encrypted’. Laksmi mengerutkan kening lagi. Pradipta bukan tipe orang yang suka menggunakan enkripsi untuk file pribadinya, apalagi yang berkaitan dengannya. Ia mencoba membuka file dokumennya. Isinya adalah rentetan tanggal dan beberapa kalimat singkat yang terdengar seperti catatan harian. ’20 Januari: L membatalkan janji makan malam. Terlalu lelah. Aku mengerti.’ ’10 Maret: Akhirnya bisa bertemu L lagi setelah sekian lama. Rasanya seperti mimpi.’

Setiap kalimat terasa menusuk. Ini bukan tentang rutinitas mereka yang sederhana. Ini seperti… pengamatan. Pengamatan terhadap hidupnya. Laksmi merasakan tenggorokannya tercekat. Ia mencoba membuka file foto. Isinya adalah foto-foto dirinya, diambil dari berbagai sudut, dalam berbagai kesempatan. Saat sedang bekerja, saat sedang tertidur di sofa, bahkan saat ia sedang tertawa bersama teman-temannya di kafe. Foto-foto itu terasa familiar, tapi juga asing. Diambil secara diam-diam. Laksmi merasakan mual menyeruak. Ia menutup mata sejenak, berusaha menarik napas dalam-dalam. Ini tidak mungkin. Ini bukan Pradipta yang ia kenal.

Ia beralih ke file ‘.encrypted’. Tentu saja, ia tidak bisa membukanya tanpa kata sandi. Laksmi mencoba menebak-nebak, tapi tidak ada satupun yang berhasil. Ia merasa pusing. Ruangan yang tadinya terasa nyaman, kini terasa menyesakkan. Ia berdiri dari kursi, berjalan mondar-mandir di depan meja. Ia mencoba berpikir jernih. Pradipta sedang tidak ada. Ia pergi tiga minggu lalu. Meninggalkan surat, meminta maaf, dan mengatakan ia mencintai Laksmi. Surat yang sama yang dibaca Laksmi berulang kali sampai kertasnya lecek. Surat yang ia yakini sebagai pesan terakhir dari suaminya sebelum ia menghilang entah ke mana. Tapi file-file ini… apa artinya?


Babak 3 — Kilas Balik dan Teka-teki

Tiga minggu lalu. Hari itu seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai. Laksmi terbangun di pagi hari, Pradipta sudah tidak ada di sampingnya. Pukul delapan pagi, ia belum juga pulang dari rumah orang tuanya yang katanya harus ia urus karena ibunya sakit. Laksmi mulai cemas. Ia mencoba menelepon suaminya, tapi ponselnya mati. Pesan WhatsApp tak terbalas. Ia menghubungi kantornya, namun mereka mengatakan Pradipta tidak masuk kerja hari itu. Hingga siang, sore, malam, tidak ada kabar. Laksmi menangis histeris. Ia mendatangi rumah orang tua Pradipta, tapi mereka mengatakan Pradipta pamit untuk mengurus sesuatu di luar kota.

Di malam yang sama, sebuah amplop coklat tergeletak di depan pintu apartemennya. Tanpa nama pengirim, hanya namanya tertulis jelas. Jantungnya berdebar tak karuan saat membukanya. Di dalamnya, sebuah surat tulisan tangan Pradipta. Kata-kata permintaan maaf, penyesalan, dan cinta yang mendalam. Ia bilang ia harus pergi, ia tidak sanggup lagi. Ia memohon Laksmi untuk melupakannya. Ia mencintai Laksmi, tapi ia tidak bisa terus bersama Laksmi. ‘Ini yang terbaik untuk kita,’ begitu tulisnya. Dan setelah itu, sunyi. Tidak ada lagi kabar, tidak ada jejak. Laksmi merasa dunianya runtuh seketika. Polisi tidak bisa berbuat banyak karena tidak ada unsur pidana. Ia hanya bisa menunggu dan berharap.

Sekarang, melihat file-file di laptop suaminya, semua terasa seperti teka-teki yang tak berujung. ‘Masa Depan Kita?’ Apakah ini berarti Pradipta tidak benar-benar pergi? Atau ini adalah persiapan sebelum ia benar-benar menghilang? Laksmi teringat akan sebuah percakapan beberapa bulan lalu. Pradipta pernah bertanya padanya, ‘Kalau suatu saat aku harus pergi, apa yang akan kamu lakukan, Mil?’ Mil adalah panggilan sayang Pradipta untuknya. Laksmi tertawa saat itu, menganggap suaminya bercanda. Ia menjawab, ‘Ya nggak akan pergi lah, Mas. Siapa juga yang mau pergi?’ Sekarang kalimat itu terngiang kembali, terasa menusuk.

Ia membuka lagi sub-folder ‘Kenangan Lama’. Isinya adalah foto-foto Pradipta bersama wanita lain. Wanita yang tidak pernah Laksmi kenal. Di berbagai tempat, seperti sedang berlibur atau menikmati makan malam romantis. Laksmi menatap nanar. Siapa wanita ini? Dan mengapa Pradipta menyimpan foto-foto ini? Ia mencoba mengingat-ingat, apakah Pradipta pernah curhat tentang masalah di kantor, atau tentang teman-teman lamanya. Tapi tidak pernah ada sesuatu yang mencurigakan. Pradipta selalu terbuka padanya, setidaknya itu yang Laksmi pikirkan.

Laksmi membuka aplikasi *chat* di ponselnya, mencari kontak Pradipta. Ia melihat riwayat percakapan mereka. Semua terlihat normal. Hanya obrolan sehari-hari, rencana akhir pekan, atau sekadar menanyakan kabar. Tidak ada kode, tidak ada percakapan rahasia. Ia bahkan mengecek akun media sosial Pradipta, tapi akunnya sudah lama tidak aktif. Laksmi merasa semakin bingung. Apa yang sebenarnya disembunyikan Pradipta darinya? Dan mengapa ia harus menyimpan semua ini di laptop kerjanya, yang seharusnya bersih dari urusan pribadi?


Babak 4 — Kejutan di Balik Enkripsi

Laksmi duduk terdiam, menatap layar laptop yang masih menyala. Pikirannya berkecamuk. Ia mencoba kembali membuka file ‘.encrypted’ di dalam folder ‘Proyek L’. Kali ini, ia punya ide. Pradipta pernah bercerita tentang sebuah sandi yang ia gunakan saat kuliah, sebuah sandi yang terinspirasi dari sebuah buku fiksi ilmiah favoritnya. Sandi itu sangat unik, menggabungkan beberapa huruf dari judul buku dan angka dari tahun terbitnya. Laksmi mengingat-ingat judul buku itu. ‘Chronos Paradox’. Dan buku itu terbit pada tahun 2015. Ia mencoba kombinasi ‘CP2015’. Gagal.

Ia mencoba lagi, ‘Chronos2015’. Gagal. Tiba-tiba, sebuah ide lain melintas. Pradipta pernah bilang bahwa sandi itu juga terinspirasi dari sesuatu yang sangat personal bagi mereka berdua. Laksmi berpikir keras. Apa yang paling personal bagi mereka? Tanggal pernikahan? Ulang tahun? Ia mencoba kombinasi tanggal pernikahannya, 17082021. Gagal. Ia mencoba ulang tahunnya, 2304. Gagal. Ia mencoba ulang tahun Pradipta, 1211. Gagal.

Laksmi menarik napas panjang. Ia merasa putus asa. Mungkin ia tidak akan pernah tahu apa isi file itu. Ia ingin menutup laptopnya, lalu pergi. Tapi dorongan rasa ingin tahu yang kuat menahannya. Ia teringat kembali pada foto-foto dirinya di folder ‘Proyek L’. Foto-foto yang diambil diam-diam. Dan foto-foto Pradipta dengan wanita lain di folder ‘Kenangan Lama’. Ia merasa sedikit marah. Marah pada suaminya yang menghilang, marah pada rahasia yang ia simpan, marah pada dirinya sendiri yang begitu mudah percaya.

Kemudian, sebuah kalimat dari surat Pradipta terngiang. ‘Ini yang terbaik untuk kita.’ Terus menerus diulang. ‘Terbaik untuk kita?’ Laksmi memandang layar. ‘Proyek L’. ‘Kenangan Lama’. ‘Masa Depan Kita?’. Dan file ‘.encrypted’. Ia memejamkan mata. L. Laksmi. Apa yang paling ia sukai? Ia menyukai laut. Dan Pradipta tahu itu. Pradipta juga tahu ia menyukai sebuah tempat di tepi pantai dekat rumah orang tuanya, tempat mereka pertama kali bertemu secara tidak sengaja. Pantai itu selalu memiliki ombak yang besar, dan Pradipta selalu bilang ombak itu seperti perasaannya yang tak terduga.

Pantai itu punya nama. Sebuah nama yang jarang dipakai. ‘Pantai Senja’. Laksmi mencoba kombinasi ‘Senja2015’. Gagal. Ia frustrasi. Ia hampir saja membanting laptopnya saat sebuah nama tiba-tiba muncul di benaknya. Nama panggilannya saat kecil. Hanya Pradipta yang tahu. ‘Bulan’. Ia mencoba ‘Bulan2015’. ‘Akses Ditolak’. Frustrasi melanda. Ia sudah hampir menyerah. Ia menatap foto dirinya di layar, senyumnya terlihat polos. Tiba-tiba, sebuah ide yang sangat gila muncul. Pradipta pernah bercerita, saat ia mulai jatuh cinta pada Laksmi, ia sering menggambar sebuah simbol sederhana. Simbol itu adalah gabungan huruf L, yang diubah menjadi seperti akar pohon yang bercabang.

Laksmi teringat. Simbol itu sering ia lihat di buku sketsa Pradipta. L yang bercabang. Ia mencoba mencari di keyboard, mencari kombinasi yang menyerupai simbol itu. Angka yang terlintas adalah angka 7, karena bentuknya yang mirip. Ia mencoba ‘L72015’. ‘Akses Ditolak’. Laksmi menghela napas. Tepat saat ia hendak menutup laptop, matanya tertuju pada sebuah file kecil di desktop, tersembunyi di balik ikon aplikasi lain. File itu bernama ‘Note_Pradipta.txt’. Ia membukanya. Isinya bukan teks biasa, melainkan sebuah rangkaian angka yang tampak acak. Ia mencoba memasukkan angka-angka itu ke dalam kata sandi file terenkripsi. Gagal. Gagal. Gagal. Sampai percobaan terakhir, ia memasukkan ‘P-L-715’. Akses Diterima. Layar berubah menjadi dokumen teks yang panjang. Laksmi mulai membaca.


Babak 5 — Kebenaran yang Mengejutkan

‘Mil, jika kamu membaca ini, berarti aku sudah tiada. Atau aku sudah benar-benar pergi jauh,’ tulis Pradipta. Laksmi menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang. ‘Aku tahu ini akan menyakitimu. Tapi percayalah, aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak bersalah dalam kasus ini, Mil. Tapi aku dijebak. Aku tahu siapa yang menjebakku. Dia adalah Pak Wibisono, CEO kita. Dia bersekongkol dengan pihak lain untuk menjatuhkanku dan mengambil alih proyek besar yang sedang aku kerjakan. Proyek yang akan mengubah segalanya untuk perusahaan kita, dan untuk masa depan kita.’

Laksmi membaca dengan napas tertahan. Pradipta menjelaskan bahwa ia menemukan bukti penggelapan dana dan manipulasi data yang dilakukan Wibisono. Ia mencoba mengumpulkan bukti, tetapi Wibisono menyadari gerak-geriknya. Ia kemudian memfitnah Pradipta dengan kasus korupsi yang tidak pernah ia lakukan. Bukti-bukti yang disiapkan Wibisono begitu meyakinkan, membuat Pradipta terpojok. ‘Aku tidak bisa melawan mereka sendirian, Mil. Mereka punya segalanya. Kekuasaan, uang, dan pengaruh. Aku tahu, kalau aku terus bertahan, kamu akan ikut terseret. Aku tidak mau itu terjadi. Aku ingin kamu aman. Itu sebabnya aku memilih pergi. Aku harus bersembunyi untuk sementara waktu, sampai aku bisa membuktikan semuanya. Aku meninggalkanmu surat itu agar kamu tidak mencariku terlalu jauh, dan agar kamu berpikir aku sudah tiada. Tapi aku meninggalkan ini, file ini, agar kamu tahu kebenarannya, dan agar kamu bisa membantuku jika kamu mau.’

Pradipta menjelaskan bagaimana ia mendapatkan bukti asli yang memberatkan Wibisono. Bukti yang ia simpan di file terenkripsi ini. Ia juga menjelaskan tentang foto-foto wanita lain. Ternyata, wanita itu adalah anak buah Wibisono yang ditugaskan untuk mengawasi dan mendekati Pradipta. ‘Aku menyimpan fotonya karena aku tahu dia berbahaya. Dan foto-foto kamu… itu hanya caraku menyimpan kenangan tentangmu saat aku terpaksa jauh. Aku melakukannya diam-diam karena aku tidak mau kamu curiga.’ Laksmi terdiam. Air mata mengalir deras di pipinya. Bukan air mata kesedihan karena ditinggalkan, tapi air mata kelegaan dan rasa bersalah. Ia telah salah paham pada suaminya.

Pradipta melanjutkan, ‘Aku tahu ini sangat berat untukmu. Tapi aku memohon, jangan beritahu siapa pun dulu. Cari pengacara terpercaya. Berikan dia file ini. Aku percaya padamu, Mil. Aku tahu kamu wanita yang kuat dan cerdas. Aku mencintaimu lebih dari apapun. Aku akan kembali, secepatnya. Tunggu aku.’ Laksmi mematikan laptopnya. Ia menatap keluar jendela. Langit sudah mulai gelap. Pikirannya dipenuhi berbagai macam emosi. Marah, sedih, lega, dan tekad yang kuat. Ia tidak akan membiarkan suaminya berjuang sendirian. Ia akan membuktikan bahwa Pradipta tidak bersalah. Ia akan membuktikan bahwa Wibisono adalah penjahat sebenarnya. Ia mengambil ponselnya, membuka kontak pengacara langganan keluarga.

Ponselnya berdering, memanggil nama pengacara itu. Laksmi menarik napas dalam. Jalan di depannya masih panjang dan penuh bahaya. Tapi ia tidak takut lagi. Ia punya bukti. Ia punya alasan. Dan ia punya cinta Pradipta yang memberinya kekuatan. Ia menunggu. Menunggu Pradipta kembali. Kali ini, ia tidak akan membiarkan siapapun memisahkan mereka. Kebenaran, sekuat apapun itu, harus diungkap.