Cerita Rumah Tangga: Ternyata Ini Alasan Suaminya Selalu Pulang Pagi, Bikin Syok Seketika

Cerita Rumah Tangga: Ternyata Ini Alasan Suaminya Selalu Pulang Pagi, Bikin Syok Seketika

CERITA PENDEK

Cerita Rumah Tangga: Ternyata Ini Alasan Suaminya Selalu Pulang Pagi, Bikin Syok Seketika

Babak 1 — Aroma Kopi Pagi yang Terbakar

Nindya menghela napas panjang, aroma kopi yang biasanya menenangkannya pagi ini terasa pahit. Botol air minumnya yang kosong ia biarkan tergeletak begitu saja di meja makan, tak ada keinginan untuk mengisinya. Jam dinding di ruang keluarga menunjukkan pukul 06.05 WIB. Masih terlalu pagi untuk hiruk pikuk Jakarta, tapi sudah cukup larut untuk suaminya, Pradipta, pulang ke rumah. Ia menatap tumpukan pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini—laporan bulanan, presentasi klien, dan membalas email yang tak ada habisnya. Sebagai seorang auditor di salah satu firma ternama, kesibukannya tak kalah dengan Pradipta yang selalu mengaku lembur di divisi IT. Namun, berbeda dengan suaminya, Nindya selalu berusaha pulang tepat waktu, atau paling tidak, memberi kabar jika ada perubahan jadwal mendadak. Perbedaannya terasa mencolok.

Pintu depan berderit pelan. Nindya tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Langkah kaki yang terlalu familiar, suara kunci yang berputar seribu kali lebih lambat dari biasanya. Pradipta. Ia tidak menyahut ketika suaminya menyapanya, hanya mengangguk sekilas tanpa mengangkat kepala dari layar laptopnya yang baru saja ia buka. Ia mendengarnya bergumam ‘Masuk angin?’ sebelum akhirnya suara langkah kaki itu menjauh menuju kamar. Nindya memejamkan mata sejenak. Rasa dingin mulai merayap di dadanya, bukan karena angin pagi, tapi karena kebiasaan baru suaminya ini. Selama dua bulan terakhir, Pradipta selalu pulang di jam-jam seperti ini, sedikit setelah subuh, dengan alasan yang sama: ‘lembur yang tak terduga’. Dulu, ia akan disambut dengan pelukan hangat, bukan keheningan dingin seperti ini. Nindya tidak mau lagi berpikir yang tidak-tidak. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Pradipta hanya sedang tertekan pekerjaan, itu saja.

Ia mengusap matanya, mencoba mengusir rasa lelah yang bukan hanya fisik. Saat ia hendak menutup laptop, sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya. Pesan dari aplikasi perbankan. ‘Transaksi berhasil: Rp 450.000. Toko Bunga Anggrek’. Nindya mengerutkan kening. Toko bunga? Terakhir kali ia menerima bunga dari Pradipta adalah saat ulang tahun mereka yang kelima. Sekarang, ulang tahun pernikahan mereka yang ketujuh tinggal dua bulan lagi. Ia mengabaikannya. Mungkin Pradipta salah transfer, atau ia memesan untuk seseorang. Ia memutar kursi rodanya—ops, bukan, ia tidak memakai kursi roda. Itu hanya kebiasaan lama yang masih sering muncul di benaknya saat ia merasa lelah. Kakinya baik-baik saja. Hanya saja, hatinya yang terasa pincang belakangan ini.

Ia beranjak dari kursi, berniat membuat sarapan sederhana. Nasi goreng sisa semalam, mungkin. Saat ia membuka kulkas, matanya menangkap sesuatu yang terselip di antara botol-botol minuman dan sisa lauk. Sebuah struk parkir. Struk parkir? Nindya mengambilnya. Tanggal tertera di sana adalah kemarin, sore hari. Struk ini bukan milik suaminya. Pradipta jarang membawa mobil sendiri, biasanya ia menggunakan GoCar. Kalaupun terpaksa parkir, biasanya ia akan meminta sang satpam untuk mencatat nomor platnya, bukan struk fisik. Tanggal dan waktu yang tertera—pukul 17.30—bertepatan saat Nindya masih berada di kantor. Lokasi parkir tertera: ‘Apartemen Senopati Residence’. Nindya semakin bingung. Pradipta tidak punya teman atau keluarga yang tinggal di sana. Ia mulai merasakan kembali hawa dingin yang sama seperti tadi pagi.

Ia lalu teringat percakapannya dengan ibunya dua hari lalu via telepon. ‘Gimana kabar Dita, Nak? Denger-denger dia udah pindah ke apartemen baru ya?’ Nindya hanya menjawab sekenanya, ‘Oh, iya Bu. Dita—adik ipar, kan? Mungkin.’ Dita, adik Pradipta, memang baru saja pindah apartemen. Tapi setahunya, Dita pindah ke apartemen di daerah Tebet, bukan Senopati. Entah mengapa, struk parkir itu terasa seperti bom waktu di tangannya. Ia melipatnya berulang kali, lalu membukanya lagi. Ada keraguan yang mulai menggerogoti rasa percayanya, sesuatu yang selama ini ia junjung tinggi dalam rumah tangga mereka.

Babak 2 — Struk Parkir di Antara Ketidakpercayaan

Nindya meletakkan struk parkir itu di atas meja dapur, di samping botol air minumnya yang kini sudah terisi penuh. Ia mencoba kembali fokus pada laptopnya, mencoba menenggelamkan diri dalam angka-angka dan grafik yang membosankan. Tapi pikirannya terus berputar. Apartemen Senopati Residence. Pukul 17.30. Jelas bukan tempat yang akan dikunjungi Pradipta setelah jam kerja, kecuali jika ada janji penting. Dan Pradipta tidak pernah menyebutkan adanya janji di Senopati.

Ia membuka aplikasi Gojek di ponselnya, jemarinya bergerak ragu sebelum akhirnya ia mengetik ‘Senopati Residence’ di kolom pencarian. Hasilnya keluar: ada beberapa restoran dan kafe di sana, dan yang terpenting, ada fasilitas parkir. Nindya kembali membuka galeri fotonya. Ia mulai menyortir foto-foto lama, mencari foto-foto Pradipta. Ia menemukan foto saat mereka liburan di Bali dua tahun lalu, Pradipta tersenyum lebar di depan patung Dewa Ruci. Ada juga foto saat mereka merayakan ulang tahun pernikahan yang kelima di sebuah restoran Italia di Kemang. Senyumnya selalu sama, lepas dan tulus. Tapi kini, melihat foto-foto itu, ada rasa yang berbeda.

Nindya mengambil napas dalam-dalam. Ia mencoba menenangkan diri. Mungkin saja Pradipta ada keperluan mendesak. Mungkin saja ia menjemput Dita, tapi salah alamat apartemen. Pikiran-pikiran itu terasa seperti bisikan yang mencoba menenangkannya, namun di sisi lain, ada suara lain yang lebih keras, yang terus berteriak tentang ketidakberesan. Tangannya mulai sedikit gemetar saat ia membuka aplikasi Shopee. Ia teringat notifikasi transaksi toko bunga tadi pagi. ‘Toko Bunga Anggrek’. Ia mengetik nama itu di kolom pencarian Shopee. Muncul beberapa toko online dengan nama serupa. Ia mengkliknya satu per satu, melihat katalog mereka.

Kemudian ia menemukannya. Foto buket mawar merah muda dengan detail pita satin putih. Deskripsi produknya bertuliskan ‘Mawar Merah Muda Romantis’. Ada sebuah pilihan untuk menuliskan pesan. Dan di bawahnya, ada kutipan yang tertulis: ‘Untuk Nindy, semoga kamu selalu bahagia. – D.’ Nindya merasa seperti tersambar petir. Nindy. Itu panggilan kesayangannya waktu mereka masih pacaran. Dan D? Siapa D? Nindya belum pernah mendengar Pradipta punya teman atau kolega dekat bernama D. Selama ini, teman-teman dekat Pradipta ia kenal semua: Jatmiko, Tegar, Satriyo. Semua berinisial J, T, S. Bukan D.

Ia mencoba mencari nama ‘D’ di daftar kontak suaminya. Tapi nama itu tidak muncul. Ia lalu teringat lagi pada struk parkir tadi pagi. Apartemen Senopati Residence. Ia membuka kembali internet, kali ini ia mencari ‘Apartemen Senopati Residence kontak’. Ditemukan sebuah nomor telepon layanan pelanggan. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Nindya menekan nomor itu.

Babak 3 — Jejak Digital yang Membekas

Suara operator yang ramah terdengar dari sambungan telepon. “Apartemen Senopati Residence, ada yang bisa kami bantu?” Nindya berusaha mengontrol suaranya agar terdengar tenang. “Halo, selamat pagi. Saya ingin menanyakan informasi mengenai unit apartemen. Apakah ada unit yang baru saja disewa atau dibeli oleh seorang pria bernama Pradipta?” Ia mencoba terdengar seperti calon penyewa yang ingin memastikan ketersediaan unit. Hening sejenak di ujung sana. Nindya menahan napasnya. Ia merasa seperti pencuri, mengorek informasi tentang suaminya sendiri.

“Mohon tunggu sebentar, Ibu. Saya cek data kami.” Suara ketikan keyboard terdengar samar. Nindya mulai membayangkan wajah Pradipta. Wajah yang selama ini ia percayai sepenuhnya. Wajah yang kini terasa asing. Ia teringat kenangan mereka saat pertama kali pacaran. Mereka sering menghabiskan waktu di kedai kopi kecil dekat kampus, saling bertukar cerita tentang mimpi dan masa depan. Pradipta pernah berjanji akan selalu jujur padanya, bahwa apapun yang terjadi, mereka akan menghadapinya bersama. Janji itu terasa menusuk kalbunya sekarang.

“Mohon maaf Ibu, berdasarkan data kami, tidak ada penyewa atau pembeli unit apartemen dengan nama Pradipta dalam tiga bulan terakhir,” jawab operator itu akhirnya. Nindya mematung. ‘Tidak ada’. Kata itu menggema di telinganya. Ia mengucapkan terima kasih dengan nada datar, lalu segera mengakhiri panggilan. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, matanya terpejam. Jadi, struk parkir itu palsu? Atau Pradipta menggunakan identitas palsu? Jika bukan untuk dirinya, untuk siapa? Dan kenapa ia menyembunyikannya?

Ia memutuskan untuk memeriksa kembali ponsel Pradipta. Suaminya itu memang agak ceroboh dengan ponselnya. Terkadang, ia lupa mengunci layar. Nindya tahu ini salah, tapi rasa penasaran dan kecemasannya sudah mengalahkan rasa bersalahnya. Saat Pradipta masih terlelap di kamar, Nindya menyelinap masuk ke kamar mereka. Ia mengambil ponsel Pradipta yang tergeletak di nakas. Jantungnya berdebar kencang. Ia mencoba membuka kunci layar. Pola biasa yang Pradipta gunakan adalah bentuk hati, tapi hari ini, pola itu tidak berfungsi. Nindya panik sesaat. Apakah Pradipta mengganti pola kuncinya?

Dengan rasa putus asa, ia mencoba mengingat kembali detail-detail kecil dari Pradipta. Tanggal lahir mereka. Tanggal pernikahan mereka. Hingga akhirnya, ia mencoba pola yang ia buat saat mereka pertama kali membeli ponsel itu untuk Pradipta, pola yang dulu ia banggakan sebagai ‘pola cinta kita’. Dan berhasil. Layar ponsel itu terbuka. Nindya menarik napas lega bercampur gelisah. Ia langsung menuju aplikasi ‘Pesan’ atau SMS. Ia mulai mencari pesan-pesan mencurigakan. Ia menemukan beberapa pesan dari nomor tak dikenal yang hanya berisi ‘Oke’ atau ‘Sampai nanti.’ yang dibalas Pradipta dengan singkat. Namun, ada satu percakapan yang membuatnya terpaku.

Babak 4 — Pengakuan yang Terlambat

Percakapan itu dimulai tiga bulan lalu, bersamaan dengan awal mula kebiasaan aneh Pradipta. Pesan-pesan itu bukan hanya berisi janji pertemuan, tapi juga percakapan yang sangat intim. ‘Kangen banget, Dipta. Kapan kita bisa ketemu lagi? Aku udah nggak tahan.’ tulis si pengirim. Nindya membaca balasan Pradipta, ‘Sabar ya, Sayang. Akhir bulan ini aku usahain.’ ‘Sayang?’ Kata itu menghantam Nindya seperti palu godam. Ia merasa seluruh dunia berputar. Ia melanjutkan membaca, semakin dalam semakin dalam, semakin ia terpuruk. Pesan-pesan itu bercerita tentang rencana liburan, tentang hadiah ulang tahun, tentang kerinduan yang begitu dalam. Dan yang paling menyakitkan, di salah satu pesan, tertera nama kontak ‘Nindyku tersayang’. Namun, isi pesannya sama sekali tidak mencerminkan rasa sayang itu. Yang ada hanya pesan-pesan singkat yang tidak berarti, dan sesekali balasan yang terdengar terpaksa.

Di bawah deretan pesan yang memilukan itu, Nindya menemukan sebuah foto. Foto Pradipta sedang tersenyum. Di sampingnya, berdiri seorang wanita muda dengan senyum ceria, memegang buket bunga mawar merah muda yang sama persis dengan yang ia lihat di Shopee tadi pagi. Wanita itu mengenakan dress selutut berwarna biru muda. Nindya terpaku. Ia seperti melihat dirinya sendiri beberapa tahun lalu, saat ia masih penuh semangat dan percaya diri.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Pradipta berdiri di sana, matanya sedikit terbelalak melihat Nindya memegang ponselnya. Wajahnya pucat pasi. “Nindya? Kamu—ngapain pegang ponselku?” suaranya terdengar serak, penuh ketegangan. Nindya mengangkat wajahnya perlahan, matanya berkaca-kaca. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya memegang ponsel itu, menunjukkannya pada Pradipta. Jari telunjuknya gemetar saat ia mengarahkan layar ke suaminya.

Pradipta berjalan mendekat, pandangannya tertuju pada layar ponsel yang digenggam Nindya. Wajahnya semakin memucat. Ia mencoba meraih ponsel itu, namun Nindya menariknya mundur. “Siapa dia, Prad?” tanya Nindya, suaranya bergetar. Pradipta menggelengkan kepala, tidak sanggup menjawab. Air mata mulai mengalir di pipi Nindya. Ia merasa dunianya runtuh seketika. Selama ini, ia selalu berpikir ia adalah wanita paling beruntung di dunia karena memiliki Pradipta. Tapi ternyata, kepercayaan itu telah ia berikan pada orang yang salah.

“Dia… dia adalah orang yang harusnya aku temani membeli bunga kemarin sore,” ujar Pradipta lirih, suaranya tercekat. “Dia itu… Dita. Adikku.” Nindya menatap suaminya tak percaya. “Dita? Adikmu? Tapi… kenapa pesannya seperti itu? Kenapa dia bilang ‘Sayang’? Kenapa dia memelukmu seperti itu?” Air mata Pradipta akhirnya mengalir deras. “Dita… dia punya masalah. Sangat serius. Dia terjerat hutang pinjol ilegal. Kami tidak punya pilihan lain. Aku harus membantunya. Dia bilang dia mau bunuh diri kalau tidak ada yang menolongnya. Aku berjanji padanya, akan menjaga rahasianya. Toko bunga itu… itu pesanan dia untuk merayakan… merayakan keberhasilannya melunasi hutang-hutangnya sedikit demi sedikit. Aku hanya membantunya memilih. Struk parkir itu… aku menemani dia memilih apartemen baru yang lebih aman agar dia terhindar dari penagih hutang.”

Babak 5 — Antara Keadilan dan Pengkhianatan

Nindya menatap suaminya dengan pandangan kosong. Kata-kata Pradipta bagai badai yang menerjang pertahanannya. Adik iparnya, Dita, yang selama ini ia kenal sebagai gadis periang dan sedikit manja, ternyata menyimpan masalah yang begitu besar. Dan Pradipta, suaminya, yang selalu ia curigai, ternyata sedang berjuang dalam diam, mencoba melindungi keluarganya. Namun, di balik kelegaan yang mulai menyusup, ada luka yang menganga. ‘Nindyku tersayang’. ‘Sayang’. ‘Kangen banget’. Kata-kata itu bukan ditujukan untuk dirinya. Pengkhianatan emosional, seolah menjadi hantu yang menghantui hubungan mereka.

“Jadi… semua ini hanya… kesalahpahaman?” Nindya bertanya pelan, suaranya terdengar rapuh. Pradipta mengangguk cepat, air mata masih mengalir di wajahnya. “Ya, Nindya. Semua ini salahku. Aku ceroboh. Aku tidak seharusnya membuatmu curiga seperti ini. Aku seharusnya bicara padamu. Tapi aku takut. Aku takut kamu tidak akan mengerti, atau malah semakin marah.” Ia terisak pelan. “Aku hanya ingin melindungi Dita. Aku tidak mau masalah ini sampai ke telinga keluargaku yang lain, apalagi orang tuaku. Dan aku juga tidak mau kamu terbebani.”

Nindya memejamkan mata. Ia mencoba memahami posisi suaminya. Di satu sisi, ia adalah seorang kakak yang bertanggung jawab, berusaha menolong adiknya dari jerat hutang yang mengerikan. Di sisi lain, ia telah mengkhianati kepercayaan istrinya sendiri, menciptakan jurang keraguan yang begitu dalam. Ia memikirkan kembali semua kebiasaan aneh Pradipta belakangan ini. Pulang pagi, kelelahan yang teramat sangat, dan keheningan yang menyelimuti rumah mereka. Semua itu adalah beban yang ditanggung Pradipta sendirian.

“Tapi, Prad,” Nindya memulai lagi, suaranya lebih mantap, “kenapa kamu tidak pernah cerita padaku? Kita kan pasangan. Kita seharusnya saling berbagi. Bukan menyembunyikan.” Ia merasa sedikit lega melihat Pradipta sekarang, tapi rasa sakit akibat ketidakjujuran itu masih membekas. Pradipta mendekat, mencoba memegang tangan Nindya. “Maafkan aku, Nindya. Aku tahu aku salah. Aku janji tidak akan ada lagi rahasia di antara kita. Kita akan hadapi ini bersama. Aku akan mulai mengurus masalah Dita dengan lebih terstruktur, dan aku akan memastikan kamu selalu tahu apa yang terjadi.”

Nindya menarik tangannya perlahan. Ia menatap suaminya. Di mata Pradipta, ia melihat ketulusan yang campur aduk dengan keputusasaan. Apakah ia bisa kembali percaya pada pria ini? Apakah luka ini bisa sembuh? Ia melihatstruk parkir yang masih tergeletak di meja. Benda kecil yang telah membongkar seluruh kebohongan, namun sekaligus membuka jalan bagi kejujuran yang baru. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah rumah tangga mereka bisa kembali utuh, atau justru ini adalah awal dari kehancuran? Jawaban itu masih menggantung, tak pasti, seperti kabut pagi yang belum terurai.