Kisah Rumah Tangga: Bukti Struk Ini Membuat Ibu Gendis Terjebak dalam Jerat Kebohongan Suaminya
Babak 1 — Serpihan Kebiasaan yang Terlupakan
Pagi itu, aroma kopi tubruk yang pekat memenuhi sudut dapur mungil Gendis. Ia mengaduknya perlahan, matanya menerawang pada pantulan wajahnya di permukaan cangkir yang sedikit keruh. Suaminya, Wijaya, sudah berangkat kerja sejak subuh. Seperti biasa, ia selalu meninggalkan secarik kertas berisi daftar belanjaan bulanan di meja makan. Gendis tersenyum kecil. Kebiasaan Wijaya yang perfeksionis memang kadang membuatnya gemas, namun di balik itu, ada rasa aman yang ia rasakan.
“Tolong belikan beras 5 kilo, teh celup, gula pasir satu kilo, jangan lupa sabun cuci piring rasa lemon. Oh ya, jangan lupa bayar cicilan motor sebelum tanggal 25 ya, Dis,” begitu bunyi tulisan tangan Wijaya yang rapi di secarik kertas yang kini sudah terselip di dompet Gendis. Sejak menikah lima tahun lalu, Gendis selalu mengagumi betapa teraturnya Wijaya dalam mengelola keuangan rumah tangga. Ia tak pernah perlu khawatir soal tagihan atau kebutuhan pokok. Semua terurus dengan baik, seolah Wijaya punya sistem tersendiri yang tak pernah gagal.
Gendis menyesap kopinya. Rasa pahit itu sedikit mereda ketika ia mengingat percakapan mereka semalam. Wijaya tampak sedikit gelisah, sering menggaruk tengkuknya yang membuat Gendis bertanya-tanya. Namun, setiap kali ditanya, Wijaya hanya menjawab bahwa ia sedang memikirkan strategi baru di kantornya. Gendis percaya saja. Suaminya adalah seorang manajer di sebuah perusahaan properti ternama di Jakarta Selatan, posisinya tentu saja menuntut banyak pemikiran dan tanggung jawab. Ia tak ingin menambah beban pikiran Wijaya dengan kekhawatiran yang tidak perlu.
“Besok pagi aku ada rapat penting di Kemang, Dis. Mungkin pulangnya agak sore. Kamu jangan tungguin ya, makan aja duluan,” ucap Wijaya semalam, suaranya sedikit serak. Gendis hanya mengangguk. Rapat di Kemang bukanlah hal baru. Wijaya seringkali harus bertemu klien di daerah sana. Tak ada yang aneh. Semuanya terasa normal, seperti hari-hari biasa lainnya. Tak ada firasat apapun yang menggayut di hatinya. Ia hanya merasa sedikit lega karena Wijaya akhirnya mau sedikit terbuka soal pekerjaannya, meski hanya sekilas.
Pagi itu, setelah merapikan dapur, Gendis bergegas menuju kamar. Ia perlu mempersiapkan tasnya untuk mengajar di sebuah sekolah dasar di kawasan pinggiran Jakarta. Pekerjaannya sebagai guru memang tidak memberikan gaji setinggi Wijaya, namun ia mencintai profesinya. Gendis selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi murid-muridnya. Ia mengambil buku-buku yang sudah ia siapkan semalam, lalu memeriksa kembali perlengkapan mengajarnya. Semua tertata rapi di dalam tas selempangnya yang berwarna cokelat muda. Gendis tidak suka terburu-buru, baginya kesiapan adalah kunci untuk menghadapi hari yang produktif. Ia selalu menyiapkan segalanya di malam sebelumnya, agar pagi harinya bisa berjalan lancar tanpa drama.
Selesai bersiap, Gendis meraih ponselnya yang tergeletak di nakas. Mengecek notifikasi sejenak, lalu menyimpannya kembali ke dalam tas. Ia tak ingin terdistraksi oleh media sosial saat bekerja. Gendis berjalan menuju pintu depan, menyampirkan tasnya di bahu. Ia melirik sekilas ke arah meja kerja Wijaya yang rapi. Semua tampak pada tempatnya. Tak ada yang mencurigakan. Ia mengunci pintu apartemennya, melangkah keluar dengan senyum optimis menyambut hari yang baru.
Babak 2 — Struk Parkir yang Mengusik Ketenangan
Sore itu, Gendis pulang ke apartemennya dengan sedikit lelah. Matahari sudah mulai condong ke barat, menebarkan semburat jingga di langit Jakarta. Ia baru saja menyelesaikan jam mengajarnya dan menyempatkan diri mampir ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan dapur yang tertera di daftar Wijaya. Kereta yang ia tumpangi terasa padat, seperti biasa di jam pulang kerja.
Sesampainya di apartemen, Gendis meletakkan kantong belanjaan di meja dapur. Ia mengambil dompetnya untuk mengeluarkan daftar belanjaan Wijaya, sekadar untuk mencocokkan apakah semua sudah terbeli. Saat menarik keluar kertas itu, selembar kertas lain yang terlipat rapi ikut terselip keluar. Kertas itu berwarna putih, tipis, dan terlihat seperti struk parkir. Gendis mengerutkan kening. Ia tidak ingat pernah mendapatkan struk parkir. Ia selalu memarkir motornya di area parkir apartemen yang bebas biaya. Kebiasaan Wijaya yang selalu membawa motornya ke kantor, bukan menggunakan kendaraan umum, membuatnya jarang sekali berurusan dengan struk parkir.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Gendis membuka lipatan struk itu. Ia membacanya perlahan. Tertulis tanggal dan jam yang sama dengan hari ini, namun jamnya lebih awal. Tiga jam sebelum ia pulang dari sekolah. Lokasinya tertera jelas: “Parkir Plaza Margo City”. Jantung Gendis berdebar lebih kencang. Plaza Margo City? Wijaya bilang ia ada rapat di Kemang. Kemang dan Margo City jelas berbeda arah dan jauh. Alis Gendis berkerut dalam. Mungkin Wijaya mampir sebentar sebelum rapat? Tapi kenapa tidak bilang?
Gendis membolak-balik struk itu. Tertera detail pembayaran parkir sebesar Rp 5.000. Sebuah nominal yang tidak besar, namun sangat berarti dalam konteks ini. Ia mencoba menenangkan diri. Mungkin Wijaya memang ada urusan di sana sebentar sebelum ke Kemang. Mungkin ada toko yang harus ia kunjungi, atau sekadar membeli sesuatu. Pikiran itu coba Gendis tanamkan dalam benaknya, mencoba menepis rasa janggal yang mulai merayap.
Namun, keraguan itu terus menggelitik. Wijaya sangat teliti. Jika ia mampir sebentar, ia pasti akan memberitahu Gendis. Terlebih lagi, Wijaya selalu mengabari jika ada perubahan rencana. Gendis mencoba membuka aplikasi peta di ponselnya. Ia membandingkan jarak antara Kemang dan Margo City. Ternyata cukup jauh, memakan waktu hampir satu jam jika lalu lintas normal. Perut Gendis terasa mual. Ia mencoba mengabaikan perasaan itu. Mungkin ia terlalu cemas.
Gendis mengambil gelas dan menuangkan air putih dingin. Ia meneguknya perlahan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang semakin cepat. Ia kembali memandang struk parkir itu. Tanggalnya hari ini. Waktunya beberapa jam lalu. Lokasinya di Margo City. Kenapa Wijaya tidak pernah sekalipun menyebutkan akan pergi ke Margo City hari ini? Ada sesuatu yang tidak beres. Perasaan janggal itu kini semakin kuat, menggerogoti ketenangan yang ia rasakan beberapa saat lalu.
Ia mencoba mengingat kembali percakapan semalam. Wijaya memang sempat tampak gelisah. Ia juga bilang akan pulang agak sore karena ada rapat di Kemang. Rapat itu kini terasa seperti sebuah alibi. Gendis merasa seperti tercekik. Ia duduk di kursi dapur, memegang struk parkir itu erat-erat. Kenyataan ini terasa seperti pukulan telak. Ketenangan yang ia rasakan pagi tadi kini telah lenyap, digantikan oleh gelombang kecemasan yang tak terduga. Ia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang, namun tak tahu harus melangkah ke mana.
Babak 3 — Jejak Digital dan Kenangan yang Terlupakan
Gendis memutuskan untuk melakukan sesuatu. Ia tidak bisa membiarkan rasa penasaran ini menggerogotinya. Ia bangkit dari duduknya, berjalan menuju kamar tidur. Ia membuka lemari pakaian Wijaya. Bukan untuk mencari bukti lain, hanya ingin melihat apakah ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Ia menyibakkan kemeja-kemeja Wijaya yang tertata rapi, lalu meraba-raba saku celana bahan yang tergantung. Tak ada apa pun. Semuanya tertata sempurna.
Ia kemudian beralih ke meja kerja Wijaya. Di sana, laptopnya tergeletak tertutup. Gendis ragu. Ia tahu Wijaya tidak suka ada yang sembarangan membuka barang pribadinya. Namun, struk itu terus terngiang di benaknya. Gendis teringat Wijaya pernah memberinya kata sandi laptopnya, “untuk urusan darurat.” Apakah ini sudah termasuk darurat? Ia memutuskan untuk mengambil risiko.
Jari-jari Gendis menari di atas keyboard. Ia memasukkan kata sandi yang diingatnya. Laptop Wijaya menyala, menampilkan layar desktop yang rapi. Gendis mulai mencari jejak. Browser history. Ia membuka tab incognito yang Wijaya sering gunakan. Mungkin ada jejak digital di sana? Ia melihat riwayat pencarian Wijaya beberapa hari terakhir. Kebanyakan tentang proyek kantor, laporan keuangan, dan sesekali berita olahraga. Tak ada yang mencurigakan.
Ia beralih ke folder ‘Dokumen’. Membuka folder ‘Proyek’ dan ‘Keuangan’. Semuanya tampak normal. Gendis merasa sedikit putus asa. Ia duduk di kursi Wijaya, memandang layar laptop. Tiba-tiba matanya menangkap sebuah folder kecil yang namanya hanya terdiri dari inisial aneh: “W&R”. Ia tidak pernah melihat folder itu sebelumnya. Rasa penasaran kembali memuncak. Ia mengkliknya.
Isinya membuat napas Gendis tercekat. Ada beberapa file foto dan dokumen. Ia membuka salah satunya. Sebuah foto. Dalam foto itu, Wijaya sedang tertawa lepas, merangkul seorang wanita yang tidak Gendis kenal. Wanita itu tersenyum manis, matanya menatap Wijaya. Di belakang mereka, terlihat latar belakang sebuah kafe yang cukup mewah. Gendis langsung mengenali kafe itu. Itu adalah salah satu kafe favoritnya yang sering ia kunjungi bersama teman-temannya di daerah Senayan. Jantungnya berdetak tak karuan. Ini bukan kantor. Ini bukan rapat.
Gendis membuka file dokumen lain. Judulnya aneh: “Perjanjian Kerjasama R.” Ia membacanya dengan saksama. Ternyata itu adalah dokumen perjanjian yang cukup rinci, berisi kesepakatan bisnis antara Wijaya dan seorang wanita bernama Ratna Sari. Isi perjanjian itu sangat pribadi, mencakup pembagian keuntungan dari sebuah investasi. Investasi apa? Gendis tidak tahu. Namun, yang jelas, Wijaya tidak pernah menceritakan hal ini padanya. Seolah ada dunia lain yang ia jalani, tersembunyi dari pandangan Gendis.
Gendis teringat obrolan mereka semalam. Wijaya yang gelisah. Wijaya yang bilang ada rapat penting di Kemang. Kemang. Bukankah Ratna Sari, wanita di foto itu, berinisial R? Dan kafe itu berada di Senayan, tak jauh dari Kemang. Gendis merasa seperti ditarik ke dalam pusaran kebohongan yang kompleks. Ia mulai merasa ngeri. Perasaan itu jauh lebih buruk daripada sekadar kecurigaan selingkuh. Ini adalah penipuan, pengkhianatan yang terencana. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Gendis kembali membuka riwayat browser Wijaya. Kali ini ia mencari nama ‘Ratna Sari’. Ada beberapa hasil pencarian. Ternyata Ratna Sari adalah seorang pengusaha muda yang cukup sukses. Mereka beberapa kali bertemu dalam acara networking bisnis. Pertemuan-pertemuan itu, yang mungkin dianggap Wijaya sebagai awal dari sebuah ‘peluang’, kini terasa seperti awal dari mimpi buruk bagi Gendis. Ia menutup laptopnya perlahan. Kepalanya terasa pening. Duniaku runtuh, pikirnya dalam hati.
Babak 4 — Konfrontasi Tak Terduga di Depan Pintu
Gendis memutuskan untuk segera bertindak. Ia tidak bisa menunggu Wijaya pulang dan berpura-pura semuanya baik-baik saja. Ia mengambil kunci mobilnya, lalu bergegas keluar dari apartemen. Ia melarikan diri, pikirnya. Melarikan diri dari kenyataan yang baru saja ia temukan. Ia mengendarai mobilnya tanpa tujuan jelas, hanya mengikuti instingnya.
Ia tiba-tiba teringat perkataan Wijaya semalam: “Aku mungkin pulang agak sore.” Anggap saja sore itu berarti jam 6 atau 7 malam. Gendis punya waktu beberapa jam. Ia memutuskan untuk pergi ke tempat yang paling membuatnya nyaman saat ini: rumah orang tuanya di kawasan Depok. Ia hanya ingin didengarkan, ingin ada seseorang yang memeluknya. Ia tak sanggup menghadapi ini sendirian.
Perjalanan ke Depok terasa begitu panjang. Setiap lampu merah yang ia lewati terasa seperti siksaan. Pikirannya terus berputar. Mengapa Wijaya melakukan ini? Mengapa ia berbohong? Bukankah mereka selalu terbuka satu sama lain? Gendis merasa seperti orang bodoh yang baru saja terbangun dari mimpi indah. Semua yang ia percayai selama ini ternyata palsu.
Setibanya di rumah orang tuanya, Gendis disambut hangat oleh ibunya. Ia memeluk ibunya erat, lalu menangis tanpa suara. Ibunya membawanya masuk, menyuruhnya duduk, dan menanyakan apa yang terjadi. Gendis menceritakan segalanya, dari struk parkir yang ia temukan hingga folder ‘W&R’ di laptop Wijaya. Ibunya mendengarkan dengan sabar, sesekali mengusap punggungnya.
“Sudah kamu coba hubungi Wijaya?” tanya ibunya lembut. Gendis menggeleng. “Aku tidak berani, Bu. Aku takut mendengar jawabannya.” Tiba-tiba, ponsel Gendis berdering. Nama Wijaya tertera di layar. Jantungnya kembali berdebar kencang. Ia ragu mengangkatnya. Ibunya memberinya tatapan mendorong. Dengan napas tertahan, Gendis menggeser tombol hijau.
“Dis? Kamu di mana? Kok tidak ada di rumah? Aku pulang, kok sepi?” Suara Wijaya terdengar cemas. Gendis terdiam sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam. “Aku… aku di rumah Ibu, Mas.” Ada jeda sejenak di ujung telepon. “Oh… kenapa mendadak ke sana? Ada masalah?” pertanyaan Wijaya terdengar hati-hati.
Gendis tidak bisa menahan emosinya lagi. “Mas Wijaya… aku menemukan struk parkir dari Margo City. Di laptopmu… aku menemukan folder ‘W&R’ dan foto kamu bersama wanita lain. Siapa dia, Mas? Kenapa Mas Wijaya berbohong padaku?” Suara Gendis bergetar, menahan tangis.
Di ujung telepon, keheningan menyelimuti. Gendis bisa mendengar suara napas Wijaya yang berat. “Dis… aku bisa jelaskan…” Suara Wijaya terdengar serak. Tepat saat itu, bel apartemen Gendis berbunyi. Gendis terkejut. Siapa yang datang? Ia belum pulang ke apartemen.
“Mas… sepertinya ada yang datang ke apartemenku,” Gendis berkata pelan. “Aku harus pergi sekarang.” Ia menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban Wijaya. Gendis merasakan firasat buruk yang semakin kuat. Ia buru-buru pamit pada ibunya dan berlari menuju mobilnya. Ia harus tahu siapa yang datang ke apartemennya.
Babak 5 — Pintu yang Terbuka, Kenyataan yang Membeku
Gendis mengendarai mobilnya kembali ke apartemen dengan kecepatan tinggi. Jantungnya berdebar kencang, seperti genderang yang ditabuh tanpa henti. Siapa yang datang ke apartemennya? Apakah Wijaya sudah tahu ia mengetahui semuanya? Atau mungkin… ini adalah wanita yang ada di foto itu?
Ia tiba di lobi apartemennya. Petugas keamanan menyapanya, namun Gendis hanya membalas dengan anggukan singkat. Ia naik lift dengan tergesa-gesa. Pikirannya kalut. Ia membayangkan skenario terburuk. Ia membayangkan dirinya berhadapan langsung dengan wanita itu, dengan Wijaya. Perasaan takut bercampur dengan amarah yang tertahan.
Sesampainya di depan pintu apartemennya, Gendis menarik napas dalam-dalam. Ia memegang gagang pintu, lalu memutarnya perlahan. Pintu itu terbuka. Suara engsel yang berderit memecah keheningan.
Gendis melangkah masuk. Apartemennya terasa sunyi. Gelap. Tidak ada siapa pun. Ia berjalan menuju ruang tamu. Lalu matanya tertuju pada sesuatu di atas meja kopi. Sebuah amplop coklat. Bukan sembarang amplop. Amplop itu terlihat sudah terbuka, dengan bekas goresan pisau yang rapi di tepiannya. Gendis ingat, Wijaya selalu membuka surat dengan pisau, bukan disobek begitu saja. Gendis mengambil amplop itu. Di dalamnya ada beberapa lembar kertas.
Ia membacanya. Itu adalah surat cerai. Ditulis tangan. Dengan bahasa yang formal namun menyakitkan. Gendis membaca nama dirinya dan nama Wijaya tertulis jelas di sana. Di bawahnya, ada tanda tangan Wijaya. Gendis menjatuhkan amplop itu. Kertas-kertasnya berhamburan di lantai. Matanya memandang kosong ke depan.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan di pintu. Gendis terlonjak kaget. Siapa lagi sekarang? Ia menatap pintu apartemennya. Ketukan itu semakin keras, disertai panggilan yang tak asing. “Gendis? Buka pintunya, Sayang. Aku perlu bicara.” Suara Wijaya.
Gendis hanya bisa terdiam. Tubuhnya terasa lemas. Ia menatap kertas-kertas surat cerai yang berserakan di lantai. Lalu ia menatap pintu yang terus diketuk. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa seperti terjebak dalam labirin tanpa ujung. Semua kebohongan, semua pengkhianatan, kini tersaji di depan matanya. Gendis hanya bisa duduk di lantai, membiarkan air mata mengalir tanpa henti. Pintu apartemennya terus bergetar seiring ketukan Wijaya yang semakin tak sabar. Di luar sana, suara adzan maghrib mulai terdengar, seolah mengiringi kehancuran rumah tangganya.
