Kisah Rumah Tangga: Ia Tak Pernah Sadar ‘Hadiah’ Ini Ternyata Membawa Petaka

Kisah Rumah Tangga: Ia Tak Pernah Sadar 'Hadiah' Ini Ternyata Membawa Petaka

CERITA PENDEK

Kisah Rumah Tangga: Ia Tak Pernah Sadar ‘Hadiah’ Ini Ternyata Membawa Petaka

Babak 1 — Kado Pernikahan yang Tak Pernah Terbuka

Nindya mengelus lembut permukaan kotak kayu yang masih terbungkus rapi. Kado pernikahan dari sepupu jauhnya di Surabaya itu sudah hampir setahun menghuni sudut lemari pakaiannya, tak pernah tersentuh. Bukan karena tidak suka, tapi lebih karena rasanya terlalu ‘istimewa’ untuk dibuka sembarangan. Kotak itu didesain dengan ukiran motif batik yang rumit, dan permukaannya dilapisi kain beludru gelap yang membuatnya terasa hangat di tangan. Suaminya, Bayu, kadang menyenggolnya saat mencari baju, lalu berkata, “Buang saja, Ndy. Kan sudah setahun.” Tapi Nindya selalu menggeleng. ‘Ada kenangan di sini, Mas. Ini dari keluarga,’ jawabnya setiap kali, lirih.

Ia selalu menyukai detail. Cara Bayu melipat seragam kerjanya dengan presisi sempurna di setiap pagi sebelum berangkat ke kantor notaris tempatnya bekerja. Cara Bayu menyisakan seporsi kecil rendang kesukaannya di mangkuk, seolah takut Nindya kehabisan. Kebiasaan-kebiasaan kecil itulah yang dulu membuatnya jatuh cinta. ‘Kamu itu teliti sekali, Mas,’ pernah ia puji, disambut senyum Bayu yang terasa begitu tulus. Nindya, dengan kebiasaannya mencatat semua pengeluaran bulanan dalam buku bergaris tiga yang ia beli di Togamas, merasa menemukan resonansi pada ketelitian Bayu.

Hari ini berbeda. Ada rasa gatal yang tak tertahankan di ujung jari, dorongan untuk segera melihat isi kotak kayu itu. Mungkin karena Bayu sedang dinas luar kota ke Malang selama tiga hari, rumah terasa begitu sepi, menyisakan ruang untuk pikiran-pikiran yang biasanya tertutupi kesibukan.

Ia meraih kotak itu dari dalam lemari. Debu halus yang menempel disingkirkannya dengan telapak tangan. Tutupnya terpasang rapat, dan Nindya harus sedikit mengerahkan tenaga untuk membukanya. Ada suara ‘klik’ pelan saat engsel kayu itu terlepas. Aroma kayu cendana bercampur wangi samar yang asing menyeruak. Bukan wangi parfum Bayu yang maskulin, atau wangi lavender dari pelembut pakaiannya. Ini… lebih manis, lebih lembut, seperti bunga melati di malam hari.

Di dalamnya, terhampar beberapa lembar foto lama, sebuah selendang sutra berwarna nila dengan motif bunga teratai yang halus, dan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit berwarna coklat tua. Foto-foto itu kebanyakan adalah foto-foto pernikahan mereka, beberapa candid yang diambil oleh sepupu yang mengirim kado. Ada juga foto Bayu sendiri, tersenyum lebar di depan gerbang sebuah vila di Puncak. Di bawah foto-foto itu, tergeletak sebuah jam tangan pria. Modelnya elegan, dengan tali kulit berwarna hitam dan dial perak yang berkilauan.

Nindya mengambil jam tangan itu. Beratnya pas di genggaman. Ia membaliknya, mencari tahu mereknya. Tidak ada logo apa pun, hanya ukiran halus di bagian belakang penutupnya. Ukiran yang sama persis dengan motif di kotak kayu itu. Jantungnya mulai berdetak sedikit lebih cepat. Wangi manis yang tadi tercium kini terasa lebih pekat, menempel di jemarinya.


Babak 2 — Aroma yang Salah di Jemari Suami

Nindya mendudukkan diri di tepi ranjang, masih menggenggam jam tangan itu. Wangi bunga melati itu… di mana ia pernah menciumnya? Di kantor? Di mal? Setiap sudut kota Jakarta memiliki aroma khasnya sendiri. Dari aroma kopi janji jiwa yang meruap di pagi hari, hingga wangi durian dari penjual kaki lima di malam hari. Tapi wangi ini, terasa begitu intim, begitu personal. Ini bukan wangi pasaran.

Ia membuka buku catatan kecil bersampul kulit itu. Halaman pertamanya kosong. Di halaman kedua, tertulis sebuah nama dengan tinta biru yang mulai memudar, disertai sebuah nomor telepon. Nama itu bukan namanya. Dan nomor telepon itu, bukan nomor telepon siapa pun yang ia kenal. Ia memeriksanya sekali lagi, memastikan tidak salah baca. Jantungnya kini berdebar lebih kencang, ritme yang kacau. Tangannya yang memegang buku mulai gemetar.

Ia membuka halaman-halaman berikutnya. Isinya adalah coretan-coretan singkat, daftar barang, rencana pertemuan, dan beberapa kalimat yang ditulis dengan gaya bahasa yang sangat berbeda dari cara Bayu menulis. Lebih… puitis? Lebih penuh perasaan? Kalimat seperti ‘Menunggu senja di tepi danau seperti dulu’ atau ‘Senyummu adalah obat penawarku’ membuat perut Nindya terasa mual. Siapa wanita ini? Dan mengapa suaminya menyimpan buku catatan ini, bersama jam tangan yang tercium wangi yang sama dengan wangi di buku catatan itu?

Nindya bangkit, berjalan menuju meja rias. Ia membandingkan jam tangan yang ia pegang dengan jam tangan Bayu yang tersimpan rapi di wadahnya. Jelas berbeda. Jam Bayu adalah jam digital dengan tali karet, lebih fungsional untuk kegiatan sehari-hari. Jam yang ini lebih… mewah. Lebih seperti hadiah untuk momen spesial.

Ia teringat. Beberapa minggu lalu, Bayu pulang agak larut dari kantor. Nindya mencium wangi yang sama di kerah kemeja suaminya. Saat itu ia hanya menganggap itu parfum rekan kerja, atau mungkin dari tamu kantor. Tapi kini, dengan bukti di tangannya, wangi itu terasa seperti tuduhan yang terucap tanpa suara.

Ia membuka aplikasi kontak di ponselnya. Jari-jarinya terpaku di layar. Siapa yang harus ia hubungi? Nomor yang tertera di buku catatan itu adalah satu-satunya petunjuk. Ia menelan ludah, lalu mulai mengetikkan nomor itu ke aplikasi pesan singkat. Terbuka sebuah profil dengan foto profil… seorang wanita dengan rambut sebahu, mengenakan kacamata dan tersenyum tipis. Di bawah namanya, tertulis sebuah kutipan: ‘Keindahan sejati adalah kesederhanaan.’

Nindya menutup matanya sejenak. Udara di kamarnya terasa begitu sesak. Wangi bunga melati itu kini terasa menyesakkan.


Babak 3 — Jejak Digital dan Kenangan yang Terbakar

Nindya memutuskan untuk tidak langsung menghubungi nomor itu. Ia harus yakin dulu. Ia mencoba mencari nama yang tertulis di buku catatan itu di media sosial. Jari-jarinya menari di atas keyboard laptopnya. Pencarian di Instagram, Facebook, bahkan LinkedIn. Tidak ada hasil yang cocok. Mungkin nama itu adalah nama samaran?

Ia kembali membuka foto-foto di dalam kotak. Di salah satu foto, Bayu berdiri di depan sebuah vila di Puncak. Nindya mencoba mengingat, apakah mereka pernah berlibur ke Puncak bersama? Tidak. Liburan mereka selalu ke pantai di selatan Jawa, atau sesekali ke Yogyakarta untuk mengunjungi keluarganya.

Ia melakukan pencarian gambar terbalik untuk foto Bayu di depan vila itu. Hasilnya muncul. Ternyata itu adalah sebuah vila pribadi yang disewakan di kawasan Gadog. Ada beberapa foto lain dari tempat yang sama, menampilkan kolam renang pribadi dan taman yang asri. Semuanya terasa asing.

Nindya teringat percakapan terakhirnya dengan Bayu sebelum ia berangkat dinas luar kota. Bayu menyebutkan akan ada meeting penting di kantor klien di bilangan Sudirman. Tapi foto ini… di Puncak. Kapan Bayu pergi ke Puncak?

Ia membuka aplikasi Gojek di ponselnya. Riwayat perjalanannya biasanya tersimpan rapi. Terakhir kali ia memesan GoCar adalah dua minggu lalu saat harus ke salon di daerah Senopati. Ia scroll ke bawah, mencari nama Bayu. Tidak ada. Bayu selalu menggunakan akun pribadinya.

Kemudian ia ingat, ada fitur di mana pengguna bisa melihat riwayat perjalanan yang menggunakan akun yang sama jika perangkat tersebut terhubung. Nindya pernah membantu Bayu mengatur akunnya di tabletnya dulu. Ia membuka tablet itu, masuk ke aplikasi Gojek dengan akun Bayu. Riwayat perjalanannya ditampilkan.

Dan di sana, tercantum sebuah perjalanan dari kantor Bayu ke sebuah alamat di Puncak, dua minggu lalu. Perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam. Nama yang tertera di detail pesanan adalah nama wanita itu. Dan jam yang tertera… persis di sore hari yang Nindya ingat Bayu pulang terlambat.

Di dalam kotak kayu itu, di bawah buku catatan, Nindya menemukan secarik kertas kecil yang terlipat rapi. Kertas itu berisi daftar belanjaan, dan di bawahnya tertulis dengan tinta yang sama: ‘Jangan lupa beli body lotion wangi melati itu lagi ya, Sayang. Habis.’

Nindya merasa dunia berputar. Bau melati itu kini bukan lagi sekadar wangi, melainkan racun yang merayapi setiap sudut otaknya. Kenangan tentang Bayu yang teliti, Bayu yang manis, Bayu yang selalu menyisakan rendang untuknya, kini terasa seperti fatamorgana. Terbakar habis dalam sekejap, meninggalkan abu kepahitan.


Babak 4 — Konfrontasi di Dapur Dingin

Bayu pulang dari Malang keesokan harinya. Nindya sudah menyiapkan makan malam seperti biasa. Nasi goreng kampung kesukaan Bayu, dilengkapi dengan telur mata sapi setengah matang yang sempurna. Tapi suasana di meja makan terasa berbeda. Nindya tidak banyak bicara, hanya menjawab pertanyaan Bayu dengan singkat. Wajahnya pucat, matanya terlihat cekung.

“Kamu kenapa, Ndy?” tanya Bayu, menyadari kejanggalan itu. “Sakit?”

Nindya meletakkan sendoknya dengan suara berdebam halus. Ia menatap suaminya lurus, tatapan yang belum pernah dilihat Bayu sebelumnya. Dingin, tajam, penuh luka.

“Tadi pagi aku bersih-bersih lemari,” Nindya memulai, suaranya tenang namun bergetar halus. “Aku menemukan kado pernikahan kita yang dari Tante Mirna.”

Bayu tersedak nasi gorengnya. Ia terbatuk-batuk, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya yang berubah pucat pasi. “Oh, itu. Kenapa? Mau dibuang?”

“Di dalamnya ada… barang-barang yang bukan milik kita, Mas,” lanjut Nindya. Ia mengeluarkan jam tangan itu dari balik saku blazernya. ‘Ini. Punya siapa?’”

Bayu terdiam. Matanya melirik jam tangan itu, lalu ke wajah Nindya. Ia terlihat seperti tikus yang terpojok. “Itu… itu salah masuk, Ndy. Mungkin waktu kurir mengantar, tertukar dengan paket lain.”

“Tertukar?” Nindya tertawa miris. “Dan parfum melati yang menempel di buku catatan ini juga tertukar? Perjalanan ke Puncak dua minggu lalu yang tidak pernah kamu ceritakan ke aku juga tertukar?”

Bayu menunduk. Tangannya mencengkeram garpu di piringnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Suara detik jam tangan Nindya yang tergantung di pergelangan tangannya terdengar seperti genderang perang di keheningan dapur.

“Siapa dia, Mas?” tanya Nindya, suaranya semakin pelan, nyaris berbisik. “Berapa lama?”

Bayu masih terdiam, menatap lantai keramik yang dingin. Terdengar suara isakan tertahan dari sudut ruangan. Nindya menoleh. Di ambang pintu dapur, berdiri wanita yang dilihatnya di profil aplikasi pesan singkat itu. Ternyata ia adalah rekan kerja Bayu, seseorang yang sering Nindya lihat sekilas di acara kantor, wanita yang selalu terlihat pendiam dan sopan.

Wanita itu menangis tanpa suara, matanya menatap Bayu dengan ekspresi yang sulit diartikan—campuran rasa bersalah, ketakutan, dan… mungkin sedikit kekecewaan. Ia tidak berkata apa-apa, hanya berdiri di sana, seperti patung yang retak.

Bayu mengangkat wajahnya. Matanya memohon. “Ndy, aku bisa jelaskan…”

“Tidak perlu,” potong Nindya dingin. “Semuanya sudah jelas.” Ia berdiri, meninggalkan piring nasi gorengnya yang setengah utuh. Wangi melati dari jam tangan di tangannya terasa begitu memuakkan.


Babak 5 — Pintu yang Terbuka Menuju Kekosongan

Nindya tidak pernah membuka pintu kamar tamu yang sempit itu lagi. Sejak wanita itu datang, memunguti jam tangan dan buku catatan itu dengan tangan gemetar, lalu menghilang lagi tanpa sepatah kata pun, Nindya merasa ada dinding tak terlihat yang memisahkannya dari Bayu. Suaminya yang dulu teliti dan penuh perhatian, kini terasa seperti orang asing. Setiap kali Bayu mencoba mendekat, Nindya merasa seperti mundur selangkah.

Ia kembali bekerja sebagai analis data di sebuah perusahaan startup. Pekerjaannya yang penuh angka dan logika terasa jauh lebih mudah dihadapi daripada emosi manusia yang rumit. Ia menghabiskan hari-harinya menatap layar monitor, memilah data, membuat laporan. Semakin banyak ia tenggelam dalam pekerjaan, semakin ia merasa kosong di dalam.

Bayu mencoba menebus kesalahannya. Ia sering pulang lebih awal, membawakan bunga kesukaan Nindya, mencoba mengajak bicara soal masa depan mereka. Tapi Nindya hanya mengangguk, tersenyum tipis, dan kembali ke dunianya sendiri. Suara Bayu terdengar seperti gema dari kejauhan, tidak lagi memiliki kekuatan untuk menyentuh hatinya.

Suatu sore, saat Nindya sedang asyik menganalisis data penjualan sebuah produk kosmetik lokal, ia menerima notifikasi dari aplikasi mobile banking-nya. Transfer dana masuk. Jumlahnya tidak sedikit. Nindya mengerutkan kening, memeriksa detailnya. Pengirimnya adalah Bayu. Di kolom keterangan, tertulis: ‘Untukmu. Semampu aku.’

Nindya mematikan laptopnya. Ia memandang ke luar jendela, ke arah langit Jakarta yang mulai memerah tertelan senja. Ia teringat wangi melati dari jam tangan itu. Ia teringat tatapan penuh penyesalan di mata wanita itu. Ia teringat keheningan yang menyelimuti rumah mereka setiap malam.

Ia membuka kembali kotak kayu pemberian Tante Mirna. Di dalamnya, selain foto-foto dan jam tangan yang kini tergeletak di meja nakas Bayu, ada sebuah surat. Surat itu terlipat rapi di bagian paling bawah, tersembunyi di balik lapisan beludru.

Nindya membuka surat itu. Tulisannya tangan yang rapi dan sedikit melengkung, berbeda dari tulisan Bayu. Itu tulisan wanita tadi. Surat itu bukan berisi permintaan maaf, bukan pula penjelasan. Isinya hanya beberapa baris tentang penyesalan, tentang kesalahan yang tidak bisa ditarik kembali, dan tentang harapan agar Nindya bisa menemukan kedamaian. Di akhir surat, tertulis sebuah nama yang sama dengan nama di buku catatan itu. Dan di bawahnya, ada sebuah kalimat terakhir yang membuat darah Nindya serasa membeku: ‘Terima kasih, Bayu, atas kenangan yang tak ternilai harganya.’

Nindya menutup kotak kayu itu perlahan. Suara ‘klik’ engselnya bergema di kesunyian apartemen. Ia memandang tumpukan laporan di mejanya, lalu ke arah pintu kamar tidur yang tertutup rapat. Apakah ia masih memiliki kekuatan untuk melanjutkan? Atau haruskah ia membiarkan semua ini berlalu, seperti wangi melati yang memudar ditelan angin malam?