Kisah Nyata Pengkhianatan: Dompet Suami Ternyata Bukan Cuma Berisi KTP dan Uang Tunai!
Babak 1 — Senyum Sang Penyelamat
Nindya menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan yang sedikit kasar. Aroma masakan terasi dan petai yang menggoda tercium memenuhi dapur apartemen mungil mereka di kawasan Tebet. Jam dinding menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Suaminya, Bayu, seharusnya sudah pulang dari kantornya di bilangan Sudirman. Panggilan video dengan ibunya di kampung tadi siang mengingatkan Nindya untuk menyiapkan makan malam yang sedikit istimewa. Ibu mertua, meskipun tak pernah tinggal serumah, selalu punya cara untuk membuat Nindya merasa diawasi.
“Sudah, Bu, Nindya masak tumis kangkung sama ayam goreng kesukaan Bapak,” suara Nindya terdengar riang di telepon, meski senyumnya terasa sedikit dipaksakan. Ia tahu ibunya hanya ingin memastikan ia tidak terlalu lelah mengurus Bayu sendirian. Maklum, Nindya adalah istri kedua Bayu. Istri pertama, Mbak Rengganis, sudah lama berpisah karena… yah, urusan yang tak ingin Nindya ungkit lagi.
Ia meletakkan sendok sayur berisi tumis kangkung ke piring saji. Kaca jendela dapur memantulkan bayangan Nindya: rambut sebahu yang diikat asal, celemek motif bunga yang sedikit bernoda, dan mata yang, jika dilihat lebih dekat, menyimpan sedikit kelelahan yang tak bisa sepenuhnya ia tutupi. Ia tak pernah pandai menyembunyikan perasaannya. Jika sedih, matanya akan berkaca-kaca. Jika marah, bibirnya akan mengerucut. Jika bahagia, senyumnya akan merekah lebar tanpa bisa ditahan. Sifat perfeksionis dalam hal pekerjaan membuatnya selalu teliti, namun dalam hal hati, ia seringkali terlalu terbuka.
“Oke, Bu, aku tutup dulu ya. Bentar lagi Bayu pulang soalnya,” pamit Nindya, melepas kerinduan yang sebentar terobati. Jantungnya berdesir setiap kali teringat Bayu. Pria itu, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, adalah dunianya. Bayu yang selalu memberinya semangat, Bayu yang membelikan es teh jumbo kesukaannya saat ia sedang murung, Bayu yang selalu mengatakan betapa beruntungnya ia memiliki Nindya. Ia tahu posisinya tidak mudah, namun Bayu selalu meyakinkannya. “Kamu beda, Ndya. Kamu yang bikin aku nyaman,” begitu katanya.
Nindya menghela napas lega, menyelesaikan hidangan terakhir: telur dadar gulung yang ia potong-potong apik. Ia meraih ponselnya, ingin mengirim pesan pada Bayu. ‘Sayang, udah di jalan? Aku masak ayam goreng lho!’ Tapi tangannya berhenti. Seharusnya Bayu sudah sampai. Apartemen mereka tak jauh dari kantor Bayu, paling lama setengah jam naik GoCar.
Ia melirik jam dinding lagi. Sudah hampir pukul tujuh lewat sepuluh menit. Nindya berjalan ke ruang tamu, duduk di sofa empuk yang baru saja ia rapikan. Ia mengambil remote TV, menyalakan acara berita yang sedang ramai dibicarakan. Tapi matanya tak fokus pada layar. Ia terus-menerus melirik pintu depan, berharap ada suara kunci diputar. Kebiasaan yang ia tanamkan pada dirinya sendiri: jangan terlalu khawatir. Bayu pasti punya alasan. Mungkin macet parah di Sudirman. Mungkin ada rapat mendadak yang tak bisa ia tinggalkan.
Ia membuka aplikasi Gojek di ponselnya, ragu antara memesan GoCar untuk menjemput Bayu atau malah membuat Bayu merasa tidak dipercaya. Akhirnya, ia menutup kembali aplikasi itu. Lebih baik menunggu. Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan memeriksa notifikasi di Instagram, melihat feed teman-temannya yang sebagian besar sudah berkeluarga dan punya anak. Tiba-tiba, sebuah notifikasi dari aplikasi dompet digital yang terpasang di ponsel Bayu—yang sesekali ia gunakan jika Bayu lupa membawa dompetnya—menarik perhatiannya. ‘Transaksi Baru: Rp 350.000’ tertulis di sana. Nindya mengerutkan kening. Bayu tidak pernah menghabiskan uang sebanyak itu untuk sekali transaksi, kecuali mungkin saat ia membeli barang elektronik. Tapi ini… jam segini? Dan ia tidak ingat Bayu mengeluh tentang barang rusak atau ada keperluan mendadak. Jantungnya mulai berdebar lebih cepat.
Babak 2 — Gema yang Mengusik
Rasa cemas mulai merayap perlahan. Nindya bangkit dari sofa, berjalan mondar-mandir di ruang tamu yang sempit. Ia mencoba menenangkan diri. ‘Mungkin Bayu beli sesuatu buat aku. Kejutan?’ Ia tersenyum kecil membayangkannya, namun senyum itu tak sampai ke matanya. Rp 350.000 terasa terlalu besar untuk sekadar kejutan kecil.
Ia kembali ke dapur, mencuci piring-piring kotor dengan gerakan yang lebih cepat dari biasanya. Air mengalir deras dari keran, menenggelamkan suara detak jantungnya yang semakin kencang. Ia meraih handuk kecil di dekat wastafel, mengeringkan tangannya, lalu tanpa sadar jemarinya meraih ponsel Bayu yang tergeletak di meja makan. Ia membukanya dengan sidik jari Bayu yang sudah tersimpan di ponsel itu—sebuah kebiasaan yang dulu ia lakukan agar bisa memesankan makanan untuk Bayu jika ia sedang sibuk.
Ia membuka aplikasi dompet digital itu lagi. Riwayat transaksinya terpampang jelas. Rp 350.000 itu muncul di daftar teratas. Lokasi transaksi: ‘Hotel Melati Anggrek, Pasar Baru’. Nindya membeku. Jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat. Hotel Melati? Pasar Baru? Itu bukan area kantor Bayu sama sekali. Itu bukan area yang pernah mereka datangi bersama.
Tangannya gemetar hebat. Ia scroll ke bawah, mencari transaksi lain. Ada beberapa transaksi lain yang tak kalah mencurigakan. Rp 150.000 di sebuah toko bunga di daerah Tanah Abang, Rp 200.000 di restoran cepat saji yang tak pernah mereka kunjungi, dan satu lagi yang paling membuatnya mual: Rp 500.000 di sebuah toko perhiasan di pusat perbelanjaan yang sama sekali asing baginya. Semuanya tercatat dalam rentang waktu seminggu terakhir.
Ia duduk lemas di kursi dapur. Bau terasi yang tadi menggoda kini terasa mual di lambungnya. Ponsel Bayu terasa berat di tangannya, seperti membawa beban dunia. Ia mencoba berpikir jernih. Mungkin Bayu punya teman kantor yang ia bantu. Mungkin ia lupa memberi tahu Nindya. Tapi alasan-alasan itu terdengar lemah, bahkan di telinganya sendiri. Hotel Melati Anggrek? Itu bukan tempat untuk ‘membantu teman’.
Nindya merasa seperti dunia berputar. Ia teringat perkataan ibunya: ‘Hati-hati sama si Rengganis, Ndya. Dia itu licik. Jangan sampai kamu ketipu lagi.’ Dulu ia selalu mengabaikan perkataan ibunya, menganggap itu kecemburuan atau ketidakpercayaan pada Bayu. Tapi sekarang… bisikan-bisikan itu kembali menghantuinya.
Ia memejamkan mata, mencoba menahan air mata yang sudah menggenang. Ia tak mau terlihat lemah di depan Bayu, meskipun Bayu belum pulang. Ia tak mau terlihat seperti wanita yang tidak percaya pada suaminya. Tapi bukti di layar ponsel itu terlalu nyata untuk diabaikan. Ia merasa perutnya bergejolak. Ingin muntah, tapi tak ada yang keluar.
Ia membuka galeri foto di ponsel Bayu, mencari sesuatu yang bisa menenangkan hatinya. Foto-foto mereka berdua, foto Bayu saat tersenyum, foto liburan mereka tahun lalu ke Puncak. Tapi setiap kali matanya menangkap foto Bayu, yang muncul di benaknya justru transaksi Rp 350.000 di Hotel Melati Anggrek. Ia menutup ponsel itu dengan kasar, membuatnya berbunyi nyaring. Ia menatap kosong ke luar jendela, di mana langit malam mulai gelap pekat, menyembunyikan segalanya.
Babak 3 — Jejak di Pasir Waktu
Pintu apartemen akhirnya terbuka. Bayu masuk dengan senyum lebar, seperti biasa. “Sayang, maaf ya telat. Tadi ada klien mendadak di kantor, baru selesai.” Ia mencium pipi Nindya sekilas, aroma parfum maskulinnya bercampur dengan aroma masakan yang sudah agak dingin.
Nindya hanya mengangguk. Senyumnya terasa kaku. Ia berusaha bersikap normal, menyiapkan piring dan nasi untuk Bayu. Bayu sendiri tampak santai, memuji masakan Nindya. “Wah, ayam goreng! Kesukaan aku banget ini. Makasih ya, Ndya. Kamu emang paling ngertiin aku.”
Nindya hanya menjawab dengan gumaman. Perutnya masih terasa tidak enak. Ia duduk di hadapan Bayu, pura-pura makan, namun suapannya terasa seperti pasir. Ia terus menerus melirik Bayu, mencari-cari perubahan, mencari tanda-tanda kebohongan. Tapi Bayu terlihat baik-baik saja. Ia bercerita tentang rapatnya, tentang masalah-masalah kantor, sesekali tertawa kecil.
“Oh iya, Ndya, lusa aku ada acara di Pasar Baru. Ada rekan lama mau ketemu. Sekalian aku mau mampir ke toko itu sebentar,” ujar Bayu santai sambil mengunyah nasi. Nindya tersentak. Pasar Baru? Toko itu? Jantungnya kembali berdebar lebih kencang. Ia mencoba menjaga nada suaranya agar tetap tenang.
“Oh ya? Toko apa, Mas?” tanyanya, berusaha terdengar acuh tak acuh. Ia menatap Bayu lekat-lekat, mencoba membaca ekspresinya. Tapi Bayu hanya tersenyum.
“Toko jam tangan. Dulu aku pernah beli jam bagus di sana. Kepikiran mau lihat-lihat lagi, siapa tahu ada yang cocok buat kamu. Buat hadiah ulang tahunmu, kan sebentar lagi.” Ia mengedipkan mata. Nindya memalingkan wajah. Hadiah ulang tahun? Ulang tahunnya masih tiga bulan lagi. Dan toko jam tangan? Ini bukan toko bunga atau restoran cepat saji. Ini lebih spesifik.
Malam itu, Nindya hampir tidak bisa tidur. Setiap kali matanya terpejam, bayangan transaksi di Hotel Melati Anggrek itu muncul lagi. Ia teringat flashback singkat: Bayu pernah bercerita tentang Rengganis, mantan istrinya, yang dulu sangat materialistis dan selalu meminta barang mewah. Apakah Bayu masih terbayang-bayang masa lalu? Atau… apakah ini berkaitan dengan Rengganis?
Pagi harinya, Nindya merasa harus melakukan sesuatu. Ia tidak bisa terus menerus hidup dalam kecurigaan dan ketakutan. Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi peta. Ia mengetik ‘Hotel Melati Anggrek, Pasar Baru’. Peta menunjukkan lokasinya cukup strategis, dekat dengan pusat perbelanjaan. Kemudian ia mencari ‘Toko Bunga Tanah Abang’ dan ‘Restoran Cepat Saji Terdekat Pasar Baru’. Semuanya terhubung. Ia merasa seperti detektif yang sedang mengumpulkan bukti.
Ia memesan GoCar untuk pergi ke Pasar Baru. Ia tidak mengatakan apa-apa pada Bayu. Bayu sudah berangkat kerja lebih dulu. Ia ingin melihat sendiri. Ia ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Perasaan manusiawi yang paling dalam, rasa ingin tahu yang didorong oleh luka yang menganga di hatinya, mendorongnya untuk bertindak. Ia tak peduli jika nanti ia akan kecewa atau terluka lebih dalam. Ia hanya ingin tahu.
Saat tiba di depan Hotel Melati Anggrek, Nindya merasa mual lagi. Bangunan itu tidak terlihat kumuh, namun juga tidak megah. Terlalu netral. Terlalu… biasa. Ia melihat sekitar, mencari toko bunga dan restoran cepat saji yang ia cari di peta. Keduanya ada di sekitar sana. Semakin yakinlah ia bahwa ini bukan kebetulan.
Babak 4 — Pengakuan Tanpa Kata
Nindya memberanikan diri masuk ke dalam Hotel Melati Anggrek. Aroma karbol bercampur dengan bau pengap yang khas. Resepsionis di meja depan menatapnya datar. “Permisi, Mbak. Mau cari siapa?”
“Saya… saya mencari seseorang yang mungkin pernah menginap di sini minggu lalu. Atas nama… uhm… Bayu Setya?” Nindya berusaha terdengar seolah-olah ia baru saja kehilangan barang di kamar hotel. Resepsionis itu mengetik sesuatu di komputernya.
“Mohon maaf, Mbak. Data tamu bersifat rahasia. Kecuali ada penyidik resmi dengan surat perintah.” Resepsionis itu tersenyum tipis, namun matanya dingin. Nindya merasa harapan terakhirnya pupus. Ia mencoba lagi, kali ini lebih halus.
“Begini, Mas. Suami saya mungkin… mungkin meninggalkan sesuatu di kamar. Saya hanya ingin memastikan saja. Koper atau dompet mungkin…” ucapnya, suaranya bergetar.
“Saya mengerti. Tapi tetap saja, data tamu tidak bisa kami berikan. Anda bisa coba tanya langsung ke suami Anda, Mbak.”
Nindya keluar dari hotel dengan langkah gontai. Ia merasa bodoh. Tentu saja mereka tidak akan memberinya informasi. Ia berjalan menuju toko jam tangan yang ada di dekat sana. Toko itu tampak mewah, dengan etalase kaca yang memajang jam-jam tangan mahal. Nindya merasa tidak pantas berada di sana. Ia melihat-lihat dari luar, berharap melihat sesuatu yang familiar.
Tiba-tiba, ia melihatnya. Seorang wanita sedang berdiri di depan salah satu etalase, memilih jam tangan. Wanita itu mengenakan pakaian rapi, rambutnya tertata apik. Nindya tertegun. Ia mengenal wanita itu. Rengganis.
Jantung Nindya berdebar kencang. Ia tak percaya apa yang ia lihat. Rengganis sedang bicara dengan seorang pramuniaga, dan di meja kasir, ia melihat Bayu sedang berdiri di sana, tersenyum sambil melihat Rengganis. Ia tidak salah lihat. Itu Bayu. Suaminya.
Nindya merasa kakinya lemas. Ia ingin berteriak, ingin berlari menghampiri mereka, tapi ia tak bisa bergerak. Ia hanya bisa berdiri membatu, menyaksikan pemandangan yang menghancurkan dunianya. Ia melihat Rengganis menerima sebuah kotak jam tangan dari pramuniaga, lalu ia melihat Bayu membelikan sesuatu untuk Rengganis lagi. Ini bukan hanya soal uang. Ini soal kebersamaan mereka.
Ia tak tahu berapa lama ia berdiri di sana. Saat Nindya akhirnya mengumpulkan keberanian untuk melangkah pergi, ia tak sengaja menabrak seseorang. “Aduh! Maaf, Mbak,” ujar suara yang terdengar asing namun canggung. Nindya mendongak. Ia melihat seorang wanita muda, usianya mungkin sebaya Rengganis, dengan wajah pucat dan mata sedikit merah. Ia memegang beberapa kantong belanjaan. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit diartikan—campuran malu, cemas, dan… rasa bersalah?
Wanita itu menunduk, menghindari tatapan Nindya. “Saya… saya benar-benar minta maaf,” katanya lirih, suaranya tercekat.
“Tidak apa-apa,” jawab Nindya, suaranya serak. Ia merasa semua orang di sekitarnya adalah aktor di sebuah drama yang mengerikan. Ia hanya ingin pulang. Ia bergegas pergi, meninggalkan toko jam tangan itu, meninggalkan Rengganis dan Bayu, meninggalkan wanita misterius itu.
Babak 5 — Celah di Dinding Kepercayaan
Nindya duduk di dalam taksi online yang ia panggil, membiarkan air mata mengalir tanpa tertahan. Ia tak lagi peduli pada penampilan atau apa pun. Ia melihat ponselnya lagi. Panggilan masuk dari Bayu. Ia mengabaikannya. Ia membuka kembali aplikasi dompet digital itu, kali ini ia tak lagi mencari transaksi. Ia hanya menatap layar kosong sejenak, lalu ia melihat kembali foto profil Bayu di aplikasi itu. Foto Bayu yang tersenyum lebar. Tapi senyum itu kini terasa asing, seperti topeng.
Ia sampai di apartemen. Masih sepi. Bayu belum pulang. Nindya berjalan ke kamar tidur, duduk di tepi kasur. Ia memegang erat amplop cokelat yang ia temukan terselip di bawah bantal sofa tadi pagi saat merapikan kamar. Ia tidak ingat kapan Bayu meletakkannya di sana. Amplop itu terasa sedikit tebal. Ia membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya ada beberapa lembar foto. Foto-foto Bayu dan Rengganis di berbagai tempat. Di kafe, di pantai, bahkan di sebuah restoran mewah. Semuanya terlihat mesra. Dan di bawah foto-foto itu, ada sebuah surat yang ditulis tangan oleh Rengganis.
Nindya membaca surat itu. Surat itu berisi permintaan maaf dan kenangan indah yang mereka pernah lalui. Rengganis menulis bahwa ia tidak akan pernah bisa melupakan Bayu, dan ia berharap Bayu bisa menemukan kebahagiaan. Nindya juga menemukan struk pembelian jam tangan yang sama dengan yang ia lihat di toko tadi. Ada juga struk sebuah toko perhiasan yang sama dengan yang tertera di riwayat transaksi.
Semuanya terangkai. Rengganis tidak berselingkuh dengan Bayu. Rengganis adalah masa lalu. Tapi… kenapa Bayu masih menyimpan semua ini? Kenapa ia masih menghabiskan uang untuk Rengganis? Dan siapa wanita muda yang ia tabrak di depan toko jam tangan itu? Kenapa wanita itu terlihat begitu ketakutan dan meminta maaf?
Tiba-tiba, Nindya teringat lagi. Wanita muda itu. Pakaiannya. Kantong belanjaannya. Dan wajahnya yang pucat. Apakah itu bukan kecelakaan? Apakah wanita itu… terlibat dalam sesuatu yang lebih besar? Apakah ada sesuatu yang Bayu tidak ceritakan sama sekali padanya?
Bayu pulang. Nindya duduk di ruang tamu, amplop cokelat dan isinya berserakan di meja. Wajah Bayu sedikit terkejut melihatnya. “Ndya? Kamu kenapa? Ada apa ini?” tanyanya, suaranya terdengar sedikit khawatir, tapi juga ada nada defensif yang samar.
Nindya menatap Bayu, matanya berkaca-kaca namun tegas. Ia tidak berteriak. Ia tidak menangis histeris. Ia hanya mengambil sebuah foto dari tumpukan itu, foto Bayu dan Rengganis di pantai. “Siapa dia, Mas?” tanyanya pelan, suaranya tenang namun dingin. Pertanyaan itu menggantung di udara, sebuah celah besar di dinding kepercayaan yang selama ini Nindya bangun.
