Kisah Ibu Rumah Tangga Ini Hancur Berkeping-keping Saat Menemukan Kertas Kertas Ini di Kantong Jaket Suaminya

Kisah Ibu Rumah Tangga Ini Hancur Berkeping-keping Saat Menemukan Kertas Kertas Ini di Kantong Jaket Suaminya

CERITA PENDEK

Kisah Ibu Rumah Tangga Ini Hancur Berkeping-keping Saat Menemukan Kertas Kertas Ini di Kantong Jaket Suaminya

Babak 1 — Aroma Kopi Pagi yang Berubah Asing

Nindya menuang kopi ke dalam cangkir kesayangannya, yang bergambar ilustrasi sederhana kucing memakai topi. Aroma khas biji kopi yang baru digiling seharusnya mengisi dapur mungilnya, menyambut pagi Jakarta yang masih malu-malu menampakkan diri. Namun pagi ini, ada sesuatu yang janggal. Bukan bau kopi itu sendiri, melainkan sesuatu yang bercampur dengannya, sesuatu yang asing namun samar-samar terasa familiar. Sejak suaminya, Baskara, punya kebiasaan pulang larut seminggu terakhir—dengan alasan lembur terus-menerus—ada banyak hal kecil yang terasa berubah. Nindya yang biasanya santai, kini jadi lebih mudah gelisah. Cuma perasaan, katanya pada diri sendiri. Ibu rumah tangga mana yang tidak khawatir melihat suaminya kelelahan dan stres?

Ia mengaduk kopi itu, matanya menyapu sudut-sudut dapur. Baskara masih tertidur pulas di kamar. Suara dengkurnya yang teratur menjadi satu-satunya penanda bahwa ia ada di rumah. Terakhir kali ia mendengar suara itu adalah dua malam lalu, saat Baskara pulang menjelang subuh. ‘Ada proyek mendadak, Mas. Mau bagaimana lagi,’ katanya sambil menguap lebar saat Nindya menyambutnya di pintu dengan segelas air. Nindya hanya mengangguk, berusaha menelan rasa tidak nyaman yang mulai merayap. Ia percaya Baskara. Mereka sudah delapan tahun menikah, berbagi suka duka dari kos-kosan sempit di Depok hingga rumah KPR di kawasan pinggiran Jakarta ini. Jati diri Baskara bukan orang yang suka berbohong.

Tangannya bergerak meraih toples gula, namun terhenti. Tatapannya terpaku pada jaket Baskara yang tergantung begitu saja di sandaran kursi makan. Jaket bomber abu-abu tua, favorit Baskara, yang biasanya selalu rapi digantung di belakang pintu. Kenapa diletakkan di situ? Seolah dilepas begitu saja sepulang dari suatu tempat. Nindya memandangnya sejenak, lalu menghela napas. Mungkin Baskara terlalu lelah.

Ia mengambil cangkir kopinya dan duduk di meja makan. Jari-jarinya menelusuri permukaan meja kayu yang sedikit tergores. Ingatannya melayang ke awal pernikahan mereka. Baskara pernah bilang, ia paling benci melihat Nindya bersedih. ‘Kalau ada apa-apa, cerita. Jangan dipendam sendiri,’ ucapnya dulu. Nindya tersenyum tipis. Kebiasaan perfeksionisnya memang sering membuat Baskara gemas, tapi pria itu selalu bilang ia mencintai Nindya apa adanya. Sekarang, kebiasaan itu seolah berubah menjadi radar yang terus-menerus mendeteksi hal-hal yang tidak beres.

Ponselnya berdering pelan. Pesan dari grup arisan ibu-ibu kompleks. Sekadar bertukar resep seblak pedas dan jadwal pertemuan selanjutnya. Nindya membalas seadanya, pikirannya masih tertuju pada jaket Baskara. Ia bangkit, berniat membereskan sarapan piring kotor. Tapi kakinya seolah tertahan, tertarik oleh sesuatu yang tak kasat mata. Ia melirik lagi ke arah jaket itu. Ada rasa penasaran yang mengalahkan rasa malasnya pagi ini.

Babak 2 — Kertas-Kertas yang Merusak Segalanya

Nindya berjalan pelan mendekati jaket bomber abu-abu itu. Tangannya terulur, ragu-ragu. Ia memegang bahan jaket yang terasa sedikit kasar. Di salah satu saku bagian dalam, ada sesuatu yang menonjol. Jantungnya berdebar lebih kencang. Ini bukan dompet Baskara, karena ia melihat dompet itu tergeletak di meja nakas. Ini bukan ponselnya, karena ponselnya berdering di meja makan.

Dengan gerakan hati-hati, seolah takut membangunkan raksasa, Nindya memasukkan tangannya ke dalam saku. Jemarinya meraba-raba benda yang terasa seperti kertas. Ia menariknya keluar. Bukan struk ATM. Bukan catatan nomor telepon. Bukan pula kartu nama. Melainkan beberapa lembar kertas, terlipat rapi.

Nindya memandangi kertas-kertas itu. Warnanya putih bersih, seolah baru saja dicetak. Di depannya, meja makan yang tadi terasa familiar kini terasa asing. Cangkir kopi yang dipegangnya bergetar ringan. Ia mencoba membuka lipatan kertas pertama. Tangannya terasa kaku. Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak, lalu membukanya lagi. Ia tidak mengerti kenapa ia merasa begitu cemas. Baskara tidak pernah menyembunyikan sesuatu darinya.

Lembaran pertama terbuka. Di sana, tertulis dengan huruf cetak yang jelas: ‘Rincian Pembayaran Kamar Hotel Emerald, Lantai 7, Kamar 702’. Nindya mengerutkan dahi. Hotel Emerald? Ia bahkan tidak tahu ada hotel itu di Jakarta. Di bawahnya, tertulis tanggal dan jam yang membuat darahnya berdesir pelan. Tanggal kemarin malam. Dan jam… jam dua belas malam.

Ia membuka lembaran kedua. Kali ini, ada beberapa baris tulisan tangan. ‘Untuk Kopi Pagi Nindy: Latte tanpa gula, ekstra busa. Jangan lupa bunga tulip di meja. ‘ Tangannya mulai gemetar hebat. Nindya menatap tulisan itu. Tulisan tangan Baskara. Sangat jelas ia mengenalinya. ‘Nindy’? Siapa Nindy? Nindya belum pernah dipanggil seperti itu oleh Baskara. Baskara selalu memanggilnya Nindya, atau kadang ‘Sayang’. Nama ‘Nindy’ terasa asing, seperti memanggil orang lain yang mirip dengannya.

Ia membuka lembaran ketiga. Kali ini, lebih banyak tulisan tangan. ‘Jam 10 malam: Jangan lupa beli martabak manis keju coklat buat dia. Dia suka banget kalau aku bawain itu. Bilang aja lagi pengen.’ Siapa ‘dia’? Kenapa harus dibelikan martabak? Dan ‘lagi pengen’? Ini bukan ucapan Baskara. Baskara tidak pernah menggunakan bahasa seperti ini. Ada rasa dingin yang menjalari tulang punggung Nindya. Ini bukan seperti Baskara yang ia kenal.

Ia memegang kertas-kertas itu, berusaha mencerna setiap kata. Jaket ini, kertas-kertas ini, tulisan tangan ini… semuanya terasa seperti mimpi buruk yang nyata. Ia duduk terdiam, cangkir kopinya kini terasa dingin di tangannya. Suara dengkuran Baskara dari kamar terdengar begitu jauh, seolah berasal dari dunia lain.

Babak 3 — Ingatan yang Terus Berputar

Nindya berdiri di dekat jendela dapur, memandangi jalanan yang mulai ramai. Beberapa tetangga mulai menyapu halaman rumah mereka atau sekadar mengobrol di depan pagar. Kehidupan normal. Tapi dunianya, yang tadinya sama normalnya, kini terasa seperti kaca yang retak. Kertas-kertas itu masih tergenggam erat di tangannya. Ia mencoba mencari penjelasan logis. Mungkin ini salah paham. Mungkin ini pekerjaan. Mungkin ada rekan kerja Baskara yang membuat kesalahan.

Ia membuka aplikasi pesan di ponselnya, membuka chat dengan Baskara. Percakapan terakhir mereka adalah tadi malam. Baskara mengirim pesan jam sebelas, ‘Masih di kantor, Sayang. Udah mau beres. Kamu tidur aja duluan.’ Tidak ada tanda-tanda aneh. Baskara selalu sopan, selalu manis dalam pesan teksnya. Ini yang membuatnya semakin bingung. Bagaimana bisa pria yang mengirim pesan seperti ini, juga meninggalkan catatan seperti ini?

Flashback singkat menghantam benaknya. Sore hari sebelum kejadian. Ia melihat Baskara terburu-buru memakai jaket itu. ‘Mau ke mana, Mas?’ tanyanya. Baskara hanya menjawab singkat, ‘Ada urusan sebentar, Nindy. Paling sebentar kok. Kamu di rumah aja ya.’ Nindya mengerutkan kening. ‘Ada urusan apa? Kenapa buru-buru?’ Baskara hanya tersenyum kecut, ‘Nanti aku cerita. Sekarang nggak bisa.’ Lalu ia mencium kening Nindya sekilas dan menghilang di balik pintu.

Nindya menelan ludah. ‘Nindy’? Baskara memanggilnya ‘Nindy’ saat itu. Bukan ‘Nindya’. Dan ia pergi ‘sebentar’ tepat pukul sepuluh malam, waktu yang sama dengan yang tertera di rincian pembayaran hotel. Ia ingat saat itu ia merasa sedikit kesal, tapi Baskara terlihat begitu tergesa-gesa, ia tidak ingin memperpanjang. Ia pikir Baskara memang punya masalah pekerjaan yang sangat mendesak. Ia bahkan sempat menyalakan televisi untuk menonton serial favoritnya, berharap Baskara cepat pulang.

Ia kembali melihat tulisan tangan di kertas kedua. ‘Untuk Kopi Pagi Nindy: Latte tanpa gula, ekstra busa. Jangan lupa bunga tulip di meja.’ Bunga tulip. Sejak kapan Baskara tahu ia suka tulip? Nindya ingat betul, beberapa minggu lalu saat mereka melewati toko bunga di dekat kantornya, ia sempat berhenti sejenak memandangi setangkai tulip merah. Baskara menarik tangannya, ‘Nggak usah, Sayang. Mahal.’ Dan ia melupakannya. Tapi kini, tulisan ini muncul. Seolah Baskara begitu peduli pada kesukaannya, sampai mencatatnya dalam sebuah kertas.

Tangannya merogoh tas tangan Baskara yang tergeletak di dekat pintu. Ia tahu ini salah, menggeledah barang pribadi suaminya. Tapi rasa ingin tahu dan kegelisahan ini sudah tidak tertahankan. Ia membuka-buka isi tas itu. Dompetnya, kunci mobil, charger ponsel, beberapa buku catatan kecil. Di bagian paling bawah, ia menemukan sesuatu yang lain. Dompet kartu identitas yang berbeda. Bukan dompet coklat kulit miliknya. Ini dompet hitam, tipis, berisi beberapa kartu. Ia mengeluarkannya. Kartu nama sebuah klinik kecantikan di daerah Kebayoran Baru. Dan di baliknya, kartu anggota perpustakaan daerah. Nindya mengerutkan dahi.

Ia teringat lagi. Seminggu lalu, saat ia meminta Baskara menjemputnya sepulang dari rumah temannya di Senopati. Baskara datang terlambat, dengan alasan ada rapat mendadak. Saat itu, Nindya melihat sekilas wajah Baskara terlihat sedikit lelah dan gugup. Ia mengabaikannya, pikirnya hanya kelelahan.

Babak 4 — Pertemuan yang Tak Terduga

Nindya memutuskan untuk pergi ke Hotel Emerald. Ia merasa harus melihat langsung. Ia naik GoCar, meminta sopir mengantarnya ke alamat yang ia temukan di kertas tadi. Perjalanan terasa begitu lama, setiap detik terasa seperti siksaan. Ia terus memutar ulang kejadian semalam, membandingkan semua detail yang janggal. Baskara yang tiba-tiba sibuk, memanggilnya ‘Nindy’, pesan samar, dan kini kertas-kertas ini.

Sesampainya di Hotel Emerald, Nindya sedikit terintimidasi oleh kemegahan lobi. Ia berjalan ke bagian resepsionis. ‘Saya Nindya. Saya mencari kamar 702. Apakah ada tamu atas nama Baskara?’ tanyanya dengan suara sedikit bergetar.

Resepsionis itu, seorang wanita muda berkacamata, tersenyum sopan. ‘Mohon maaf, Ibu. Kami tidak bisa memberikan informasi tamu tanpa otorisasi. Tapi jika Ibu adalah tamu yang sudah memesan, bisa kami bantu cek.’ Nindya menggeleng. ‘Saya istrinya.’

Wanita itu terlihat sedikit bingung, lalu kembali memeriksa layar komputernya. ‘Nomor kamar 702… terkonfirmasi sudah check-out pagi ini. Atas nama… tunggu sebentar.’ Ia mengetik sesuatu. Nindya menahan napas.

‘Atas nama… Ibu Nindy Pratiwi,’ ucap resepsionis itu lembut.

Dunia Nindya seolah berhenti berputar. Nindy Pratiwi. Nama itu begitu mirip dengannya, tapi bukan namanya. Ia merasakan kakinya lemas. Ia menyandarkan diri ke meja resepsionis. Baskara… membohonginya. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Dan ia bahkan menggunakan nama lain. Siapa Nindy Pratiwi ini?

Saat ia masih terdiam, mencoba memproses kenyataan pahit itu, tiba-tiba pintu lift di ujung lobi terbuka. Seorang wanita keluar dari sana. Wanita itu cantik, mengenakan blus berwarna pastel dan rok span selutut. Rambutnya ditata rapi. Ia terlihat sedang memegang sebuah map berwarna biru.

Nindya menatap wanita itu, dan wanita itu juga menatap Nindya. Mata mereka bertemu. Ada keterkejutan di mata wanita itu. Lalu ia melihat ke arah Nindya, lalu ke arah resepsionis, seolah mencoba memahami situasi ini.

Nindya mengenali wanita itu. Ia pernah melihatnya di foto-foto profil Instagram Baskara yang lama, sebelum Baskara menutup akunnya. Dulu, Baskara pernah berkata bahwa itu adalah teman lamanya dari kampusnya. Seorang rekan kerja.

Wanita itu terlihat pucat. Ia mencoba tersenyum, senyum yang kaku dan tidak sampai ke matanya. Ia terlihat tidak nyaman. ‘Eh… Ibu…,’ sapanya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. Ia memegang map di tangannya lebih erat, seolah itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya.

Nindya merasa mual. Baskara tidak hanya berbohong, tapi ia juga hidup dalam kebohongan yang rumit. Dan wanita di depannya ini… apakah ia bagian dari itu? Atau hanya korban lain?

Babak 5 — Pintu yang Tertutup

Nindya tidak berkata apa-apa lagi pada wanita itu. Ia berbalik, meninggalkan lobi hotel yang terasa semakin menyesakkan. Ia berjalan keluar, udara pagi Jakarta yang terasa dingin kini terasa menusuk kulitnya. Baskara, suaminya, orang yang ia cintai dan percayai, telah membangun sebuah istana kebohongan. Dan Nindy Pratiwi, siapa pun dia, telah menjadi bagian penting dari istana itu.

Ia berjalan tanpa tujuan di trotoar yang mulai ramai. Orang-orang berlalu lalang, sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Tidak ada yang tahu bahwa di dalam dirinya, dunia sedang runtuh. Ia merasa seperti penonton dalam sebuah film yang buruk, di mana ia adalah satu-satunya yang tidak tahu alur ceritanya sampai akhir.

Ia kembali ke rumah dengan perasaan hampa. Baskara sudah bangun, sedang duduk di meja makan sambil menyeruput kopi. Ia tampak seperti biasa, rapi dan tenang. Ia mendongak saat Nindya masuk.

‘Pagi, Sayang,’ sapanya riang, seolah tidak terjadi apa-apa. ‘Kamu dari mana?’

Nindya menatapnya. Wajah yang dulu begitu familiar, kini terasa seperti topeng. Ia memegang kertas-kertas itu di belakang punggungnya. Ia melihat baskara, lalu melirik ke arah jaket bomber abu-abu yang masih tergantung di kursi. Semuanya terasa begitu jelas sekarang. Rincian pembayaran hotel, nama ‘Nindy’, pesan tentang martabak, bunga tulip. Semuanya adalah potongan puzzle yang akhirnya terangkai.

‘Aku…,’ Nindya memulai, suaranya serak. Ia ragu untuk melanjutkan. Apakah ia harus meluapkan semua kemarahannya? Atau tetap tenang seperti yang selalu Baskara ajarkan?

Baskara mengerutkan dahi melihat ekspresi Nindya. ‘Kenapa? Kamu kenapa, Sayang? Sakit?’ tanyanya, nada suaranya berubah khawatir.

Nindya menarik napas dalam-dalam. Ia mengeluarkan kertas-kertas itu dari belakang punggungnya dan meletakkannya perlahan di atas meja, tepat di depan Baskara. Kertas-kertas yang tadinya terlipat rapi, kini terasa seperti bom waktu yang siap meledak.

Baskara menatap kertas-kertas itu, lalu menatap Nindya. Ekspresi wajahnya berubah. Senyumnya menghilang, digantikan oleh sesuatu yang tidak bisa dibaca Nindya. Kaget? Takut? Atau penyesalan?

Nindya menunggu. Ia menunggu Baskara menjelaskan. Ia menunggu pengakuan. Tapi Baskara hanya diam. Ia mengambil satu lembar kertas, memandangnya sebentar, lalu kembali meletakkannya di meja. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap Nindya dengan tatapan yang dalam, tatapan yang terasa kosong.

Keheningan di antara mereka semakin mencekam. Pintu kamar yang tertutup rapat kini terasa seperti dinding pemisah yang tak bisa ditembus. Nindya menatap suaminya, mencoba mencari secercah kejujuran di matanya. Tapi yang ia temukan hanya kebisuan yang menyakitkan.