Cerpen: Ini Isi Tas Anya yang Membuat Bayu Takut Pulang Malam

Cerpen: Ini Isi Tas Anya yang Membuat Bayu Takut Pulang Malam

CERITA PENDEK

Cerpen: Ini Isi Tas Anya yang Membuat Bayu Takut Pulang Malam

Babak 1 — Tas Beraroma Kopi Pagi

Bayu menghela napas panjang, meletakkan kunci mobil di meja dekat pintu. Jam digital di dinding menunjukkan pukul delapan malam. Masih terlalu sore untuk dianggap ‘pulang larut’, tapi ia tahu persis apa yang ada di balik pintu kamar mereka yang selalu tertutup rapat sejak Anya hamil besar.

Aroma kopi pagi yang samar selalu tercium dari arah kamar. Anehnya, kopi itu tidak pernah ia lihat diminum oleh Anya. Anya, istrinya yang tengah mengandung anak pertama mereka, kini lebih sering tertidur lelap di sofa ruang tengah, enggan bergerak jauh. Namun, aroma kopi itu selalu ada. Seperti jejak hantu yang tak terhapuskan dari kamarnya.

Ia berjalan perlahan, mencoba tidak menimbulkan suara. Pintu kamar terbuka sedikit, memperlihatkan siluet Anya yang tengah duduk di tepi kasur, membelakangi pintu. Layar ponselnya memancarkan cahaya redup ke wajahnya yang pucat.

“Anya?” panggil Bayu pelan.

Anya tersentak. Ponsel di tangannya jatuh ke atas selimut dengan bunyi ‘gedebuk’ pelan. Ia buru-buru membalikkan badan, berusaha tersenyum lebar yang terlihat sedikit kaku. “Eh, Mas Bayu. Sudah pulang? Kok nggak bilang?”

Bayu masuk ke kamar, tatapannya tertuju pada tas jinjing Anya yang tergeletak di lantai dekat kaki kasur. Tas itu, yang selalu dibawa Anya kemanapun, bahkan saat hanya ke minimarket depan komplek, mengeluarkan aroma kopi yang kali ini terasa lebih pekat.

“Iya, ini baru sampai. Kamu kenapa belum tidur?” Bayu mengabaikan pertanyaan Anya, matanya tak lepas dari tas itu. “Tumben belum tidur. Nggak ngantuk?”

Anya menarik selimut menutupi perutnya yang membuncit. “Sedikit nggak enak badan, Mas. Mual.” Ia memegang perutnya, gerakan yang sudah sangat sering ia lakukan belakangan ini.

Bayu mengangguk, tapi pandangannya masih tertuju pada tas jinjing itu. ‘Perasaan tadi pagi pas berangkat kerja, aku nggak cium bau kopi,’ pikirnya. Ia teringat percakapannya dengan rekan kerja Anya, Sari, beberapa hari lalu. Sari bilang Anya selalu semangat minum kopi sebelum mulai kerja. Tapi Anya tidak pernah minum kopi di rumah. Ia selalu bilang, kopi bikin asam lambungnya naik, apalagi sekarang.

Babak 2 — Struk yang Tertinggal

Beberapa hari berlalu, Bayu mencoba mengabaikan keanehannya. Mungkin Anya minum kopi di kantor. Mungkin dia hanya membayangkannya. Sampai suatu sore, saat membersihkan meja kerja Anya yang berantakan di kamar, tangannya menemukan secarik kertas kecil terselip di antara tumpukan kertas tugas kuliah Anya yang sudah lama tidak ia lihat.

Itu struk dari sebuah kafe. Kafe yang sangat terkenal di pusat kota, jauh dari rumah dan kampusnya. Struk itu terlipat rapi, hampir tidak terlihat. tertulis di sana: ‘Americano Grande x 2’, ‘Croissant Almond x 1’, dan totalnya lumayan untuk ukuran sekali minum kopi.

Tangannya mulai gemetar. Bukan karena syok, tapi lebih ke rasa dingin yang menjalar di punggungnya. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali Anya ke pusat kota. Anya bilang dia tidak suka keramaian, apalagi di tengah kehamilannya yang semakin rentan.

“Anya,” panggilnya lagi, suaranya sedikit serak. Ia berdiri di ambang pintu kamar, memegang struk itu dengan dua jari, seolah benda itu bisa mengotori tangannya.

Anya, yang sedang menata bunga plastik di meja nakas, menoleh. “Kenapa, Mas?”

Bayu menunjukkan struk itu. “Ini… ini punya siapa?” Ia berusaha terdengar santai, tapi nada suaranya terasa sedikit naik di akhir kalimat.

Anya melirik struk itu sekilas, lalu kembali menatap Bayu. Ekspresinya datar. “Oh, itu. Punya aku.”

“Kamu ke sini?” Bayu menunjuk ke arah struk dengan dagunya. “Kok nggak bilang?”

Anya meletakkan bunga plastik yang dipegangnya. “Iya, kemarin. Sama Sari. Habis ada acara seminar sebentar di dekat situ.” Ia mengatakannya dengan tenang, tapi Bayu bisa melihat ada sedikit keraguan di matanya.

“Seminar? Tapi kafe itu kan jauh dari gedung seminar yang kamu bilang kemarin.” Bayu mencoba menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya diam, pandangannya tertuju pada tas jinjing Anya yang kembali mengeluarkan aroma kopi samar dari balik pintu lemari.

Babak 3 — Jejak Digital yang Terabaikan

Malam itu, Bayu tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan struk itu. Dan aroma kopi. Dan senyum Anya yang terlalu dipaksakan. Ia membuka laptopnya, tangannya bergerak tanpa sadar mencari aplikasi Gojek.

Ia ingat, Anya sering memesan makanan atau kebutuhan sehari-hari lewat GoFood. Mungkin ada jejak di sana. Ia membuka riwayat pesanan Anya, yang entah kenapa belum ia hapus dari akunnya. Dulu, ia dan Anya sering memesan makanan bersama, berbagi akun karena dianggap lebih hemat. Sebuah kebiasaan yang kini terasa menyakitkan.

Jantungnya berdebar lebih kencang saat ia menggulir layar ke bawah. Ada beberapa pesanan makanan, seperti biasa. Nasi uduk langganan Anya, seblak yang dipesan sesekali saat ngidam, beberapa camilan untuk teman nonton film.

Lalu, ia melihatnya. Pesanan minuman dari kafe yang sama dengan struk yang ia temukan. Tanggalnya… dua hari sebelum ia menemukan struk itu. Dan bukan hanya satu pesanan, tapi dua kali.

“Americano Grande x 2.” Catatan pesanan itu tertera jelas. Ada juga pesanan croissant almond.

Bayu menatap layar laptop dengan pandangan kosong. Ini bukan hanya satu kali. Ini kebiasaan. Kebiasaan minum kopi yang Anya katakan tidak bisa ia lakukan karena kehamilannya.

Ia lalu teringat percakapannya dengan Sari di kantor Anya minggu lalu. Sari bercerita, Anya belakangan ini sering mengeluh mual di pagi hari, sampai tidak bisa mencium bau masakan rumah. Tapi ia tetap semangat berangkat kerja. Sari bilang, Anya selalu menyiapkan ‘sarapan spesial’ untuk dirinya sendiri di pagi hari, sesuatu yang memberinya energi.

Dan di pesan terakhir yang dikirim Anya ke grup keluarga beberapa jam lalu, Anya menulis: ‘Aku tadi pagi sarapan seblak, Mas. Lumayan enak buat mual.’

Bayu terdiam. Seblak. Bukan kopi.

Babak 4 — Kejutan yang Pahit

Keesokan paginya, Bayu bangun lebih pagi dari biasanya. Ia sengaja. Ia melihat Anya masih terlelap di sofa ruang tengah, selimut menutupi sebagian tubuhnya. Tas jinjing kesayangannya tergeletak di sebelahnya, sedikit terbuka. Dari sana, aroma kopi itu kembali menyeruak.

Dengan gerakan sangat hati-hati, Bayu mendekati tas itu. Ia membungkuk, menarik napas dalam, lalu mengintip ke dalam. Di sana, di antara dompet, botol minum, dan beberapa buku catatan, ia melihat sesuatu yang membuatnya membeku.

Bukan sekadar struk atau botol kopi. Tapi sebuah kotak obat yang tergeletak di dasar tas. Kotak obat yang… asing. Ia tidak pernah melihat obat-obatan ini di apotek rumah mereka.

Ia meraih kotak itu perlahan. Di sampingnya, tergeletak sebuah amplop kecil yang sudah terbuka. Bayu memberanikan diri membukanya. Di dalamnya, ada beberapa lembar kertas foto. Foto dirinya, sedang bersama klien di sebuah acara makan malam kantor seminggu lalu. Foto itu diambil dari kejauhan, tapi jelas terlihat.

Di balik foto itu, tertulis sebuah nomor telepon. Dan di bawahnya, sebuah kalimat singkat dengan tulisan tangan yang rapi: ‘Mas Bayu janji nggak akan ngerokok lagi setelah ini kan? Aku sayang kamu.’

Bayu menelan ludah. Ia melihat kembali ke arah Anya yang masih tertidur. Lalu ia membuka kotak obat itu. Di dalamnya ada beberapa pil berwarna putih dan beberapa strip obat lain yang tidak ia kenali. Di sisi kotak, ada label kecil yang samar-samar terbaca: ‘Obat Penghenti Merokok’.

Ia teringat percakapannya dengan Anya seminggu lalu. Anya bertanya, ‘Mas, kamu beneran nggak mau coba berhenti merokok? Kasihan nanti baby kalau Mas tetap ngerokok.’ Bayu hanya tertawa dan bilang, ‘Nanti ya, sayang. Masih banyak kerjaan.’

Dan aroma kopi itu? Ia ingat. Anya pernah bilang, kopi bisa menetralisir bau rokok yang menempel di pakaian.

Babak 5 — Antara Kebohongan dan Cinta

Bayu menutup kembali tas Anya perlahan. Ia membiarkan Anya tertidur. Ia berjalan ke arah meja makan, mengambil cangkir kosong yang tergeletak di sana. Cangkir itu masih memiliki sedikit sisa cairan hitam di dasarnya. Kopi.

Ia menatap ke arah kamar yang kini sunyi. Anya yang terbaring lemah di sofa, mungkin karena mual akibat obat yang ia minum diam-diam. Anya yang menyembunyikan kebiasaannya merokok, demi dirinya. Anya yang membelikan kopi untuk menetralisir bau rokoknya, agar ia tidak dimarahi.

Di saat yang sama, ia juga menyadari. Anya membohonginya. Anya berbohong tentang seminar di pusat kota, berbohong tentang minum kopi, berbohong tentang seblak di pagi hari. Dan ia… ia juga berbohong.

Ia teringat ekspresi Anya saat ia menunjukkan struk itu. Anya tidak kaget, hanya sedikit ragu. Itu bukan karena Anya takut ketahuan selingkuh. Itu karena Anya takut ketahuan kebiasaan buruknya sendiri, kebiasaan yang ia lakukan demi dia.

Bayu berdiri di sana, memegang cangkir kosong itu. Di satu sisi, ia merasa dikhianati oleh kebohongan Anya. Di sisi lain, ia merasa tertampar oleh pengorbanan Anya yang luar biasa.

Ia menoleh ke arah pintu kamar. Ia tidak bisa lagi menahan diri. Ia harus bicara. Tapi bagaimana ia akan memulai percakapan ini? Mengakui bahwa ia tahu Anya merokok? Atau mengakui bahwa ia juga baru saja akan mulai berhenti merokok, demi bayinya?

Perlahan, ia melangkah menuju kamar. Pintu kamar masih sedikit terbuka. Anya masih terlelap. Bayu melangkah masuk, menutup pintu perlahan di belakangnya. Suara decitan engsel pintu yang nyaris tak terdengar.

Ia duduk di tepi kasur, di samping Anya yang masih terlelap. Udara di kamar terasa dingin, meskipun matahari sudah mulai meninggi di luar.

‘Aroma kopi itu…’ pikirnya lagi. ‘Sejak kapan jadi begini menyakitkan?’