Kisah Perawat Cantik: Dompet Tertukar Ternyata Membuka Aib Suami Yang Tak Terduga
Babak 1 — Kopi Pahit Pagi Ini
Nindya menyesap kopi hitamnya yang terasa getir, sama pahitnya dengan hari yang baru saja dimulai. Jam dinding di ruang makan masih menunjukkan pukul 06.15 pagi, tapi matahari sudah cukup terik menyelinap melalui celah tirai jendela. Aroma nasi uduk dari warung Bi Asih di ujung gang tercium samar, namun pagi ini bahkan itu tak mampu membangkitkan selera makannya. Ia meraih ponselnya, jemarinya menari di layar, membuka aplikasi GoJek. Pesanan GoCar untuk mengantarnya ke RS Pelita Harapan sudah terkonfirmasi. Suaminya, Pradipta, bilang dia akan berangkat lebih dulu pagi ini, ada rapat mendadak di kantornya di bilangan Sudirman. Janji yang ia pegang erat, seperti biasanya.
“Mas, aku berangkat duluan ya,” Nindya bergumam pada dirinya sendiri, meniru suara Pradipta yang mungkin sedang buru-buru merapikan dasinya. Pradipta selalu rapi, bahkan untuk hari Sabtu sekalipun. Perfeksionis. Itu salah satu hal yang dulu Nindya sukai darinya, membuat semua terasa teratur dan aman. Ia suka bagaimana Pradipta bisa menata tumpukan dokumen di meja kerjanya hingga presisi, atau cara dia membalas email dengan bahasa yang formal namun tetap hangat. Nindya, dengan segala kecerobohannya yang kadang tak sengaja menjatuhkan gelas atau lupa membalas pesan penting, merasa Pradipta adalah jangkar baginya. Tapi pagi ini, jangkar itu terasa bergoyang tak karuan.
Ia bangkit dari kursinya, melirik sekilas ke arah meja makan yang sudah bersih. Tadi malam, mereka bahkan sempat makan malam bersama, memesan seblak langganan mereka melalui GoFood. Pradipta bercerita tentang proyek barunya, Nindya mendengarkan sambil sesekali menyahut ceritanya tentang pasien yang menyebalkan di bangsal. Semuanya terasa normal. Begitu normalnya sampai membuat Nindya merasa aneh sekarang. Kehidupan mereka seperti lukisan cat air yang tenang, tapi lukisan itu tiba-tiba diberi cipratan warna hitam pekat.
Nindya menyambar tas selempangnya, memastikan kartu identitas, dompet, dan ponselnya aman. Ia berjalan keluar apartemen, melirik sekilas ke pintu apartemen sebelah. Kosong. Biasanya, pagi begini, Pak Jatmiko sudah sibuk menyiram tanaman anggreknya di balkon. Keheningan yang menyelimuti koridor apartemen terasa menekan. Ia melambaikan tangan pada petugas keamanan di pos jaga, kemudian berjalan menuju lobi tempat mobil GoCar sudah menunggunya. Udara pagi Jakarta sudah cukup hangat, sedikit lembap. Angin bertiup pelan, membawa debu jalanan dan wangi asing yang tak bisa ia identifikasi.
“Tujuan, Mbak?” tanya sopir GoCar begitu Nindya menutup pintu. “RS Pelita Harapan, Pak. Lewat tol saja kalau lebih cepat,” jawab Nindya sambil memasang sabuk pengaman. Ia mengeluarkan ponselnya lagi, bukan untuk mengecek rute, tapi untuk kembali membuka galeri foto. Di sana ada foto dirinya dan Pradipta saat liburan ke Bali tahun lalu. Keduanya tersenyum lebar, matahari senja memeluk wajah mereka. Foto itu terasa begitu jauh sekarang, seperti mimpi yang tak mungkin kembali.
Ia mencoba menenangkan dirinya. Mungkin ini hanya firasat buruknya saja. Mungkin Pradipta benar-benar rapat. Mungkin semuanya akan baik-baik saja. Tapi suara hatinya yang paling dalam berbisik, mengingatkannya pada kebiasaan Pradipta yang selalu ia anggap ‘kecil’ dan ‘tidak penting’. Kebiasaan yang kini terasa seperti serpihan kaca di kerongkongannya.
Babak 2 — Gema dari Minimarket
Hari itu seharusnya menjadi hari biasa yang melelahkan namun memuaskan. Shift malam di unit gawat darurat rumah sakit selalu menyisakan rasa lelah yang menumpuk, tapi juga kepuasan melihat pasien berhasil melewati masa kritis. Nindya baru saja menyelesaikan serah terima shiftnya, wajahnya terasa pegal karena terlalu banyak tersenyum paksa pada pasien dan keluarganya. Ia berjalan menuju kantin rumah sakit untuk membeli sekotak susu UHT, persediaan energinya sudah menipis.
“Sudah selesai shift, Mbak Nindya?” sapa Mbak Reswari, penjaga kantin yang selalu ramah. Nindya hanya mengangguk, tangannya meraih kotak susu di rak pendingin. “Seperti biasa, Mbak. Kalau nanti mau jajan lagi, bisa dibayar pakai DANA saja,” tambah Mbak Reswari, mengingat Nindya sering lupa membawa uang tunai. Nindya tersenyum tipis. Ya, itu salah satu ‘cacat kecilnya’ yang lain: mudah lupa membawa dompet fisik.
Setelah membayar via QRIS di aplikasi DANA, Nindya keluar dari kantin dan bergegas menuju parkiran motor. Ia masih punya urusan di luar rumah sakit, mengambil obat untuk ibunya yang sedang sakit di Depok. Ia ingat semalam Pradipta sempat meminta tolong dibelikan beberapa makanan ringan di minimarket dekat apartemen mereka. ‘Sekalian saja, kan, aku mau ambil obat,’ pikirnya.
Ia memarkir motornya di depan minimarket Indomaret yang selalu ramai, bahkan di siang hari bolong sekalipun. Udara cukup gerah, dan ia memutuskan untuk tidak menyalakan AC di motornya. Ia masuk ke dalam minimarket, mencari beberapa bungkus keripik kentang kesukaan Pradipta dan beberapa cokelat batang. Sambil menunggu kasir menghitung total belanjaannya, Nindya tanpa sadar merogoh tasnya. Tiba-tiba, jemarinya merasakan sesuatu yang asing. Bukan dompet tipis berisi KTP dan kartu-kartu penting miliknya. Ini terasa lebih tebal, dan materialnya berbeda. Berbahan kulit yang sedikit usang, dengan jahitan yang… berbeda.
Jantungnya berdebar sedikit lebih kencang. Ia menariknya keluar. Sebuah dompet. Dompet pria. Warnanya hitam, tidak terlalu besar, tapi cukup tebal. Dia yakin seratus persen, ini bukan dompet Pradipta. Dompet Pradipta terbuat dari kulit hitam mengkilap, lebih ramping, dan selalu tertata rapi. Dompet ini terlihat… lusuh. Ada beberapa kartu nama terselip di salah satu sekatnya, dan tumpukan uang tunai yang lumayan banyak.
“Mbak, totalnya Rp75.000,” suara kasir membuyarkan lamunannya. Nindya menatap dompet asing itu, lalu menatap kasir. “Eh, Mbak, ini sepertinya bukan dompet saya. Tadi waktu ambil barang, saya masukkan ke tas,” ucapnya, suaranya sedikit bergetar.
Kasir itu memicingkan mata, melihat dompet di tangan Nindya. “Oh, itu dompet Bapak yang tadi beli kopi sama roti bakar. Dia tadi buru-buru banget, kayaknya ketinggalan. Nanti coba Mbak panggil saja, kalau dia sudah keluar,” kata kasir itu santai. Nindya menoleh ke arah pintu kaca minimarket. Tidak ada siapa-siapa. Ia kembali menatap dompet itu. Ada rasa penasaran yang diam-diam menyusup. Bukan rasa ingin tahu yang jahat, tapi lebih pada kebingungan yang menuntut jawaban. Siapa pemilik dompet ini? Dan bagaimana bisa ada di tasnya?
Ia memutuskan untuk membayarnya dulu, agar tidak membebani kasir. Sambil menunggu, ia membuka salah satu sekat dompet itu, berharap menemukan identitas pemiliknya. KTP? SIM? Nama? Tertera sebuah nama: ‘Bimo Satriyo’. Di bawahnya, tertulis alamat di bilangan Kebayoran Baru. Bukan alamat Pradipta.
Babak 3 — Jejak Digital Sang Suami
Nindya keluar dari minimarket dengan langkah sedikit gamang. Dompet kulit hitam itu kini tersimpan aman di dalam tasnya, terbungkus plastik kresek bekas belanjaan. Ia sudah mengatakannya pada kasir, ia akan mencari pemiliknya. Tapi kakinya justru melangkah ke arah parkiran motor, bukan mencari ‘Bimo Satriyo’. Ia merasa ada yang tidak beres. Kenapa dompet ini ada di tasnya? Seolah-olah… sengaja ditinggalkan?
Ia menyalakan motornya, memutar tuas gas perlahan, lalu membiarkannya meraung kecil. Ia menuju apotek di Depok. Sepanjang jalan, pikirannya berputar tak karuan. Ia teringat kemarin malam. Pradipta pamit ke kamar mandi setelah mereka selesai makan seblak. Saat itu, Nindya sedang asyik membalas pesan dari teman kuliahnya di grup WhatsApp angkatan. Pradipta kembali, lalu langsung pamit untuk tidur lebih dulu karena merasa agak tidak enak badan. Tapi tidak ada tanda-tanda Pradipta sakit semalam. Ia terlihat baik-baik saja. Malah, ia terlihat… gelisah?
Di apotek, Nindya menunggu antrean untuk menebus resep obat ibunya. Jemarinya kembali merogoh tas. Kali ini, bukan untuk mencari dompet asing itu, tapi untuk mencari ponselnya. Ia membuka aplikasi GoJek lagi, kali ini bukan untuk memesan transportasi, tapi untuk mengecek riwayat perjalanan. Ia teringat, tadi pagi ia memesan GoCar. Sang pengemudi bernama ‘Teguh Wibisono’. Alamat penjemputan di apartemennya, tujuan ke RS Pelita Harapan. Semuanya normal. Tapi kemudian, ada satu lagi. Pesanan lain yang ia lakukan semalam, setelah Pradipta naik ke kamar.
Pukul 22.47, ia memesan GoCar. Kali ini, tujuan ke sebuah alamat di daerah Cilandak. Namanya pun berbeda, ‘Bowo Laksmana’. Ia ingat malam itu ia merasa sedikit tidak enak badan, dan ingin membeli obat sakit kepala. Ia bahkan tidak ingat pernah pergi ke Cilandak semalam. Ia scroll lebih jauh. Lalu ia melihatnya. Pesanan di aplikasi GoFood. Pukul 23.15, ia memesan mie ayam dari sebuah kedai di dekat apartemennya. Nama pengantar: ‘Gilang Dirgantara’. Nindya mengerutkan kening. Mengapa ia memesan mie ayam? Ia tidak ingat pernah memesan itu.
Jantungnya kembali berdebar tak karuan. Ia teringat Pradipta pernah mengatakan, kadang ia menggunakan akun Nindya untuk memesan makanan saat ponselnya tertinggal di mobil. Tapi Pradipta selalu memberitahunya. Dan Pradipta tidak mungkin memesan mie ayam tengah malam seperti itu. Ia adalah orang yang sangat menjaga pola makannya.
Sambil menunggu obat ibunya siap, Nindya membuka aplikasi Tokopedia di ponselnya. Ia suka berbelanja online, mencari-cari diskon dan voucher. Ia teringat semalam Pradipta sempat meminta tolong untuk memesan beberapa produk elektronik. Tapi Nindya tidak ingat pernah melakukan transaksi itu. Ia mengecek daftar pesanan di akunnya. Di sana, ada satu pesanan baru, sebuah speaker bluetooth, yang dikirimkan ke alamat kantor Pradipta. Tanggal pemesanan: tadi malam, pukul 22.55. Nama penerima: Pradipta Adiwangsa.
Sebuah gelombang dingin menjalar di punggungnya. Nama ‘Bimo Satriyo’. Nama ‘Teguh Wibisono’. Nama ‘Bowo Laksmana’. Nama ‘Gilang Dirgantara’. Ia melihat tumpukan kartu nama di dompet kulit hitam itu lagi. Ada kartu nama dengan nama ‘Bimo Satriyo’, nomor teleponnya. Ada kartu nama lain dengan nama ‘Teguh Wibisono’, dengan nomor telepon yang berbeda. Dan ada satu lagi, sebuah kartu nama yang sangat ia kenal. Kartu nama itu bertuliskan ‘Pradipta Adiwangsa & Rekan – Konsultan Bisnis’. Tapi di sana tertera nomor telepon yang berbeda dengan nomor Pradipta yang ia hafal. Nomor yang persis sama dengan nomor di kartu nama ‘Bowo Laksmana’ dan ‘Gilang Dirgantara’. Semuanya mengarah pada satu kesimpulan yang mengerikan.
Babak 4 — Kebohongan di Balik Kerapian
Nindya memesan taksi online lagi dari apotek. Kali ini, tujuannya bukan RS Pelita Harapan, bukan rumah ibunya. Tujuannya adalah alamat di Kebayoran Baru yang tertera di kartu nama ‘Bimo Satriyo’. Tangannya gemetar saat memegang ponsel, jemarinya sesekali mengusap layar untuk menenangkan diri. Ia tak tahu apa yang akan ia temukan di sana. Tapi ia harus tahu. Kebingungan yang sedari tadi menyelimutinya kini bertransformasi menjadi ketakutan yang dingin.
Taksi online membawanya ke sebuah gang yang cukup lebar di Kebayoran Baru. Rumah nomor 17. Sebuah rumah minimalis modern, catnya putih bersih, dengan pagar hitam yang menjulang tinggi. Tampak seperti rumah idaman. Tidak ada tanda-tanda kegaduhan, tidak ada kelebatan aktivitas mencurigakan. Semuanya terlihat begitu tenang, begitu… normal. Nindya menarik napas dalam-dalam. Ia tak punya rencana pasti. Ia hanya ingin melihat.
Ia turun dari taksi, membayar sang pengemudi, lalu berjalan ragu menuju pagar rumah itu. Ia menekan bel pintu. Hening. Ia menekannya lagi. Terdengar suara langkah kaki dari dalam. Pintu terbuka sedikit, menampakkan celah yang cukup untuk melihat seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi, mengenakan daster batik, menatapnya dengan tatapan bertanya.
“Ya, cari siapa, Mbak?” tanya wanita itu, suaranya terdengar sedikit lelah. Nindya merasa tenggorokannya tercekat. “Maaf, Bu. Saya… saya mencari Bapak Bimo Satriyo. Apakah beliau ada di rumah?” tanyanya, berusaha menjaga suaranya agar stabil.
Wanita itu memandang Nindya dari atas ke bawah, raut wajahnya berubah menjadi curiga. “Bimo? Siapa ya? Saya ibunya. Dia tidak punya teman perempuan yang datang ke rumah tanpa janji seperti ini. Kamu dari mana?” tanyanya, nadanya mulai sedikit meninggi.
Nindya merasa dunia seakan runtuh. Bimo Satriyo? Ibunya? Lalu siapa pria yang memiliki kartu nama Pradipta dengan nama lain di dompet itu? Ia teringat kembali akan tumpukan kartu nama dan nomor telepon yang sama. Pradipta… kenapa ia harus punya begitu banyak identitas palsu? Dan kenapa semuanya terhubung?
Saat Nindya masih berusaha mencari kata-kata yang tepat, pintu rumah itu kembali terbuka. Seorang pria keluar dari dalam, mengenakan kaus oblong berwarna abu-abu. Wajahnya tampak familiar. Sangat familiar. Ia mengenakan celana pendek berwarna senada. Pria itu menatap Nindya, ekspresinya berubah dari bingung menjadi… panik? Ia terdiam, matanya membelalak tak percaya. Nindya juga terdiam, napasnya tertahan di dada. Pria itu adalah… Pradipta.
“Nindya? Kamu… kamu ngapain di sini?” tanya Pradipta, suaranya bergetar. Ibu Bimo Satriyo menatap Pradipta, lalu Nindya, lalu kembali ke Pradipta. ‘Pradipta? Siapa Bimo? Siapa perempuan ini?’ ekspresi di wajahnya jelas menunjukkan kebingungan dan kecurigaan. Nindya hanya bisa menatap Pradipta, matanya mulai berkaca-kaca. Dompet itu. Kartu nama. Nomor telepon. Semuanya terangkai menjadi sebuah gambaran mengerikan tentang kebohongan yang dibangun Pradipta selama ini. Kerapiannya, kesempurnaannya, semuanya hanyalah fasad.
“Mas… kamu… siapa Bimo Satriyo?” tanya Nindya, suaranya nyaris tak terdengar. Pradipta menelan ludah, matanya beralih dari Nindya ke ibunya yang mulai menatapnya dengan tatapan penuh selidik. Ia jelas terjebak. Senyum kaku terukir di wajahnya, senyum yang tidak sampai ke matanya. ‘Ini bukan seperti yang kamu pikirkan, Nindya,’ kalimat itu menggantung di udara, basi dan tidak meyakinkan.
Babak 5 — Retak yang Tak Terlihat
Ibu Bimo Satriyo akhirnya mengerti. Atau setidaknya, ia mulai menyusun kepingan puzzle yang disodorkan kepadanya. Matanya menatap Pradipta dengan tajam, sebuah campuran kekecewaan dan kemarahan yang tenang mulai terlihat di wajahnya. ‘Jadi kamu punya perempuan lain? Di belakang saya?’ tanyanya dengan nada datar yang lebih mengerikan dari teriakan histeris. Pradipta hanya bisa menunduk, tak mampu menjawab.
Nindya merasa seolah-olah ia berdiri di tepi jurang. Semua yang ia yakini, semua yang ia bangun bersama Pradipta, kini runtuh berantakan di depan matanya. Ia ingat setiap detail kecil kebohongan itu terkuak. Struk belanjaan di mobil Pradipta yang selalu ia abaikan. Pesan-pesan singkat yang muncul di layar ponsel Pradipta saat ia tertidur. Alasan-alasan lembur yang selalu terdengar masuk akal. Semua itu kini terasa seperti tusukan belati yang menusuk jantungnya berulang kali.
“Kenapa, Mas?” Nindya akhirnya menemukan suaranya lagi, kali ini sedikit lebih kuat, meski masih bergetar. “Kenapa kamu harus melakukan ini semua? Kenapa harus punya banyak… identitas? Untuk apa?” Pertanyaannya menggantung di udara, tak terjawab. Pradipta hanya menggelengkan kepala, matanya terlihat kosong. Ia memang seorang konsultan bisnis, ahli dalam negosiasi dan strategi. Tapi di hadapan kebenaran yang pahit ini, ia tak punya trik lagi.
Ibu Bimo menatap Nindya dengan tatapan penuh simpati. “Nak, kamu… kamu istri sahnya?” tanyanya lembut. Nindya hanya mengangguk pelan, tak bisa berkata-kata. Wanita itu menghela napas panjang. ‘Saya sudah menduga ada yang tidak beres dengan anak saya. Dia selalu punya banyak… koneksi. Tapi saya tidak pernah menyangka sejauh ini.’ katanya lirih. ‘Dia bilang ini hanya bisnis, permainan kartu nama untuk klien.’
Permainan bisnis? Nindya tersenyum miris. Permainan apa yang membutuhkan dompet berisi uang tunai bertebal, kartu nama yang berbeda-beda, dan pertemuan larut malam di Cilandak? Ia menatap Pradipta, mencoba mencari celah kebenaran di matanya, tapi yang ia temukan hanyalah kehampaan. Ia merasa tertipu, bukan hanya oleh Pradipta, tapi oleh dirinya sendiri. Ia terlalu percaya. Terlalu naif.
Nindya berbalik, berjalan menjauhi rumah itu. Ia tak ingin mendengar penjelasan lebih lanjut. Tak ingin melihat wajah Pradipta lagi saat ini. Ia hanya ingin menghilang. Ia berjalan di sepanjang trotoar yang teduh, mencoba mengatur napasnya yang tercekat. Ia menatap ponselnya yang masih menyala di genggamannya. Aplikasi GoFood masih terbuka. Di sana terpampang foto mie ayam kesukaannya, yang semalam ia pesan tanpa sadar. Pesanan dari akunnya, diantar oleh ‘Gilang Dirgantara’, yang ia tahu kini adalah Pradipta.
Ia menghentikan langkahnya. Ia sadar, ini bukan akhir dari segalanya. Ini baru permulaan dari kehancuran. Ia memegang dompet kulit hitam itu erat-erat di dalam tasnya. Dompet yang membawanya pada kenyataan pahit ini. Retak dalam rumah tangganya bukanlah retakan yang terlihat jelas di permukaan, melainkan retakan yang merambat di bawah fondasi, tak terlihat, namun mematikan. Ia melanjutkan langkahnya, tak tahu ke mana ia akan pergi, hanya tahu bahwa jalan pulang, mungkin, sudah tidak ada lagi.
