Cerita Rumah Tangga: Suaminya Tak Pernah Pulang Sebelum Jam 11 Malam, Tapi Ini yang Ditemukan di Tas Kerjanya

Cerita Rumah Tangga: Suaminya Tak Pernah Pulang Sebelum Jam 11 Malam, Tapi Ini yang Ditemukan di Tas Kerjanya

CERITA PENDEK

Cerita Rumah Tangga: Suaminya Tak Pernah Pulang Sebelum Jam 11 Malam, Tapi Ini yang Ditemukan di Tas Kerjanya

Babak 1 — Rutinitas Yang Terasa Aneh

Rengganis menghela napas panjang, matanya tertuju pada jam dinding digital di dapur. Pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit malam. Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat, bukan karena lelah menyiapkan makan malam kedua yang tak tersentuh, tapi lebih pada antisipasi. Ia tahu, sebentar lagi pintu depan akan berderit pelan, dan langkah kaki suaminya, Jatmiko, akan terdengar di ambang pintu. Selalu begitu. Hampir setiap malam. Sejak empat bulan terakhir, Jatmiko punya kebiasaan baru: pulang larut. Alasan klasiknya selalu sama, ‘ada proyek mendesak, Mas.’ Tapi proyek yang tak pernah selesai itu membuat Rengganis merasa ada yang janggal.

Ia membersihkan meja makan yang sudah dingin, piring nasi goreng dan tumis kangkung masih utuh. Dulu, Jatmiko adalah tipe suami yang akan langsung menghampirinya setelah melepas jas, menanyakan bagaimana harinya, lalu baru duduk untuk makan. Perubahan itu datang perlahan, seperti cat yang mengelupas dari dinding tua. Awalnya hanya pulang setengah jam lebih larut, lalu satu jam, hingga kini menetap di kisaran jam sebelas malam. Rengganis mencoba untuk tidak curiga, mencoba meyakinkan diri bahwa ini adalah tekanan pekerjaan semata. Bukankah banyak suami yang mengalami hal serupa? Ia ingat tetangganya, Bu Widi, yang sering mengeluh suaminya jarang di rumah karena tuntutan bisnis.

Namun, ada sesuatu yang berbeda. Jatmiko menjadi lebih pendiam, tatapannya sering menerawang jauh. Telepon genggamnya tak pernah lepas dari genggaman, dan setiap kali Rengganis mencoba bertanya tentang pekerjaannya, jawabannya selalu singkat, ‘biasa saja, Nganis.’ Kata ‘biasa saja’ itu entah mengapa terdengar sangat tidak biasa di telinga Rengganis. Ia bahkan pernah mencoba menemaninya lembur di kantor, namun Jatmiko dengan halus menolak, beralasan ‘ini urusan internal, lebih baik kamu istirahat di rumah.’ Penolakan itu terasa seperti tembok yang perlahan dibangun di antara mereka.

Malam ini, Rengganis memutuskan untuk tidak lagi menunggu di ruang tamu. Ia memilih duduk di kursi pantry, membiarkan matanya mengawasi pintu dapur yang langsung terhubung ke garasi. Suara mobil Jatmiko terdengar, lebih pelan dari biasanya. Ia mematikan lampu ruang tengah, hanya menyisakan temaram dari lampu taman. Jatmiko masuk melalui pintu samping, tampak lelah. Ia tidak menyapa Rengganis yang duduk di kegelapan, langsung menuju kamar untuk berganti pakaian. Rengganis tak bisa menahan rasa ingin tahunya. Ia bangkit, mengikuti langkah Jatmiko hingga ke depan pintu kamar mandi. Jatmiko meletakkan tas kerjanya di kursi dekat lemari, lalu masuk ke kamar mandi tanpa menyadari kehadiran Rengganis yang kini berdiri tepat di belakangnya.

Babak 2 — Amplop Coklat Yang Terlalu Rapi

Perlahan, Rengganis melangkah mendekat ke tas kerja Jatmiko yang tergeletak begitu saja. Bukan barang yang biasa ia lakukan. Ia selalu menghargai privasi suaminya, meski hati kecilnya berteriak gelisah. Tapi malam ini, rasa gelisah itu mengalahkan segalanya. Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh permukaan kulit tas yang sedikit usang itu. Ia membuka resleting utama, sekilas melihat tumpukan dokumen dan beberapa alat tulis. Semuanya tampak normal, seperti biasa. Namun, matanya menangkap sesuatu yang ganjil di salah satu kompartemen kecil di bagian depan tas.

Sebuah amplop coklat. Bukan sembarang amplop. Amplop itu terlipat sangat rapi, tertutup sempurna tanpa sedikit pun kerutan. Jatmiko biasanya membuka amplop dengan sedikit paksa, kadang sampai merobek sedikit tepinya jika terburu-buru. Tapi amplop ini terlihat seperti baru saja disegel. Ada tulisan tangan di sana, tapi agak samar tertutup oleh pantulan cahaya lampu dapur yang redup. Rengganis ragu sejenak. Membuka surat yang bukan ditujukan untuknya adalah pelanggaran privasi. Namun, bayangan Jatmiko yang semakin menjauh, semakin tertutup, semakin dingin, mendorong tangannya untuk bergerak.

Ia menarik amplop itu keluar. Ujung jarinya terasa dingin saat menyentuh kertasnya. Dengan hati-hati, ia membalik amplop itu. Tidak ada nama pengirim. Hanya ada tulisan tangan yang sama, sedikit tertekuk di bagian kiri atas. Rengganis mencoba menguraikannya. ‘Untuk Jatmiko. Rahasia kita.’ Ia terkesiap. ‘Rahasia kita?’ Jantungnya berdebar kencang, seperti genderang perang yang ditabuh di dalam dada. Ia melihat ke arah pintu kamar mandi. Suara air mengalir terdengar sayup-sayup. Jatmiko sedang mandi. Ini adalah kesempatannya.

Dengan jemari yang semakin gemetar, Rengganis membuka segel amplop itu. Ia menarik keluar selembar kertas. Kertas itu bukan kertas surat biasa. Terasa sedikit lebih tebal, dengan cetakan yang jelas. Foto. Foto dirinya, Rengganis, sedang tertawa lepas di sebuah kafe beberapa bulan lalu, diambil dari jarak yang cukup jauh, namun sangat jelas. Di belakang foto itu, ada tulisan tangan yang sama: ‘Senyumnya masih sama. Tapi hatinya… sudah bukan milikku lagi.’ Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Rengganis. Ia belum mengerti sepenuhnya, tapi rasa dingin mulai merayapi tulang punggungnya.

Babak 3 — Selembar Struk Yang Terlalu Jelas

Rengganis memejamkan mata sejenak, mencoba meredakan rasa pening yang tiba-tiba menyerangnya. Ia kembali memasukkan foto dan amplop itu ke dalam tas kerja Jatmiko, lalu menutup resletingnya dengan hati-hati. Ia membersihkan sisa-sisa keringat dingin di dahinya, lalu beranjak ke kamar. Jatmiko sudah selesai mandi dan sedang memakai piyama. Ia tersenyum sekilas pada Rengganis, senyum yang tampak asing baginya malam itu. ‘Sudah tidur, Nganis?’ tanyanya, suaranya terdengar lelah.

‘Belum, Mas,’ jawab Rengganis, berusaha terdengar normal. Ia naik ke tempat tidur, duduk di samping Jatmiko yang mulai berbaring. Perutnya terasa mual. Ia ingin bertanya tentang amplop itu, tapi otaknya seperti korslet. Ia tak yakin bagaimana cara memulainya tanpa membuat Jatmiko defensif. Ia memutuskan untuk mengamati Jatmiko lebih dulu. Suaminya itu memegang ponselnya, seolah-olah ada dunia di sana yang jauh lebih menarik daripada dirinya.

Paginya, Rengganis bangun lebih awal dari Jatmiko. Ia membuatkan kopi kesukaan suaminya, lalu dengan sengaja meletakkan tas kerja Jatmiko di meja dapur, seolah-olah ia sedang merapikannya. Ia tak bisa melupakan amplop coklat itu. Saat Jatmiko keluar dari kamar, ia langsung menuju tasnya, mengambil ponsel dan dompetnya. Namun, sebelum beranjak keluar rumah, ia merogoh tasnya lagi, mengeluarkan sebuah struk kecil dari kasir minimarket. Struk itu terlihat seperti struk belanja biasa, namun ada detail yang membuat mata Rengganis terbelalak.

Bukan karena barang yang dibeli. Tapi pada bagian paling bawah struk, ada sebuah pesan singkat yang ditulis tangan oleh kasir: ‘Terima kasih sudah menitipkan kunci. Semoga berhasil.’ Kunci? Kunci apa? Rengganis melihat Jatmiko memasukkan struk itu kembali ke dalam tasnya, lalu bergegas pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Pesan itu jelas ditujukan untuk Jatmiko. Dan kata ‘kunci’ itu… mungkinkah itu kunci sebuah tempat? Sebuah tempat yang selama ini ia tidak tahu?

Rengganis merasa seperti sedang tersesat dalam labirin. Ia membuka aplikasi peta di ponselnya, mengetikkan alamat kantor Jatmiko, lalu mencoba mencari minimarket terdekat dari sana. Ia membandingkan nomor telepon di struk dengan daftar kontak di ponselnya, berharap menemukan petunjuk. Ia bahkan mencoba mengingat-ingat kembali percakapannya dengan Jatmiko beberapa bulan lalu, mencari celah di mana mungkin suaminya pernah menyebutkan sesuatu yang mencurigakan. Semua terasa kabur, seperti bayangan yang terus menghindarinya. Ia meraih ponselnya, membuka aplikasi pesan singkat, scroll nama-nama kontak suaminya. Ia berhenti pada satu nama: ‘Aruna’. Tidak ada nomor telepon tertera, hanya nama itu. Siapakah Aruna?

Babak 4 — Pengakuan Yang Datang Terlambat

Pikiran Rengganis berputar tak karuan sepanjang hari. Setiap kali ia mencoba fokus pada pekerjaannya sebagai desainer grafis lepas, bayangan amplop coklat dan struk minimarket itu terus menghantuinya. Ia bahkan menyempatkan diri mampir ke minimarket yang tertera di struk saat jam makan siang. Ia bertanya pada kasir, dengan alasan yang dibuat-buat bahwa ia pernah tertinggal barang. Kasir yang berbeda dari kemarin hanya mengangkat bahu, tidak ingat sama sekali.

Saat sore menjelang, Jatmiko mengirimkan pesan singkat: ‘Nganis, aku agak malam lagi hari ini. Ada urusan mendadak.’ Rengganis mendengus. ‘Urusan mendadak’ yang selalu datang di waktu yang paling tidak tepat. Ia tidak membalas pesan itu. Ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia membuka aplikasi transportasi online, memesan GoCar, dan mengarahkannya ke alamat yang tertera di bawah nama ‘Aruna’ di kontak Jatmiko. Alamat itu ternyata sebuah apartemen mewah di kawasan pusat kota.

Dengan jantung berdebar kencang, Rengganis tiba di lobi apartemen tersebut. Ia melihat sekeliling, mencari tahu apakah ada tanda-tanda Jatmiko di sana. Ia melihat seorang wanita sedang duduk di sofa lobi, tampak menunggu seseorang. Wanita itu mengenakan pakaian kasual namun elegan, rambutnya tergerai indah. Ada aura keakraban yang aneh dari wanita itu, meskipun Rengganis yakin belum pernah bertemu dengannya.

Rengganis memberanikan diri mendekat. ‘Permisi, Mbak,’ katanya pelan. Wanita itu menoleh, matanya sedikit terkejut, lalu berubah menjadi ekspresi yang sulit dibaca. ‘Ya?’ jawabnya lembut. ‘Apakah Mbak Aruna?’ tanya Rengganis, suaranya bergetar. Wanita itu mengangguk. ‘Saya… saya Rengganis. Istri Jatmiko.’ Seketika, wajah Aruna memucat. Ia tampak tidak nyaman, menunduk, memilin ujung bajunya.

‘Saya melihat nama Mbak di ponsel suami saya,’ lanjut Rengganis, suaranya mulai pecah. ‘Dan saya… saya menemukan ini.’ Rengganis mengeluarkan amplop coklat dan struk minimarket dari tasnya. Aruna menatap benda-benda itu dengan pandangan nanar. ‘Jatmiko bilang… dia akan jujur padamu,’ bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. ‘Dia bilang dia akan mengurus semuanya.’ Rengganis menatap Aruna, lalu menatap ke arah luar jendela, ke arah gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi. ‘Mengurus apa, Mbak? Dan apa maksud pesan ini?’ Rengganis mengangkat struk minimarket itu, matanya berkaca-kaca. Aruna menarik napas dalam. ‘Dia… dia sudah bertunangan dengan saya selama setahun ini, Mbak. Kami berencana menikah bulan depan. Kunci yang dia titipkan di minimarket itu adalah kunci apartemen kami.’ Kata-kata itu seperti palu godam yang menghantam kepala Rengganis. Seluruh dunianya runtuh seketika.

Babak 5 — Jeda Di Antara Dua Dunia

Wajah Rengganis memucat pasi mendengar pengakuan Aruna. Kata-kata ‘bertunangan’ dan ‘menikah bulan depan’ terdengar seperti gema di telinganya. Ia teringat semua malam Jatmiko pulang larut, semua alasan ‘proyek mendesak’, semua tatapan kosongnya. Semuanya kini terasa begitu jelas, begitu kejam. Ia merasakan dunia berputar, lantai apartemen terasa bergoyang di bawah kakinya. Aruna, yang melihat Rengganis hampir jatuh, segera meraih lengannya, namun Rengganis menarik diri.

Ia tidak ingin disentuh. Ia tidak ingin merasakan kehangatan dari wanita yang merebut suaminya. Ia hanya ingin berdiri di sana, di lobi yang dingin ini, dan membiarkan kehancurannya merayapi setiap sel tubuhnya. ‘Jadi… selama ini,’ Rengganis memulai, suaranya serak, ‘semua yang ia lakukan, semua yang ia katakan padaku… itu semua bohong?’ Aruna menunduk lagi. ‘Dia… dia terjebak, Mbak. Antara aku dan kamu. Dia bilang dia tidak tahu bagaimana mengakhirinya. Dia hanya bilang dia butuh waktu.’ Rengganis tertawa getir. Waktu? Waktu untuk apa? Untuk menyiapkan pernikahan keduanya? Waktu untuk semakin pandai berdusta?

Ia melihat Jatmiko sedang berjalan keluar dari salah satu lift di ujung lobi, mengenakan jasnya, wajahnya tampak lelah namun sedikit lega. Ia melihat Aruna tersentak, lalu cepat-cepat menunduk. Jatmiko melihat Rengganis berdiri di sana, dan ekspresinya berubah seketika. Terkejut, bersalah, dan panik. Ketiga emosi itu bercampur aduk di wajahnya, menciptakan sebuah topeng yang tak bisa ia sembunyikan lagi.

‘Nganis…’ panggil Jatmiko, suaranya tercekat. Rengganis tidak menjawab. Ia hanya menatap suaminya, tatapan yang dingin dan kosong. Semua cinta, semua kepercayaan, semua kenangan indah yang pernah ada, kini terasa seperti debu yang tertiup angin. Ia berbalik, melangkah keluar dari apartemen itu, meninggalkan Jatmiko dan Aruna dalam keheningan yang mencekam di lobi. Ia berjalan entah ke mana, langkahnya terasa berat, setiap helaan napas terasa seperti siksaan. Ia tahu, hidupnya baru saja terbelah dua. Belum ada keputusan yang diambil, belum ada akhir yang pasti. Hanya ada jeda panjang, kesakitan yang membekas, dan pertanyaan yang menggantung tanpa jawaban: ke mana ia akan pergi sekarang?