Kisah Ayahku: Dompet Ketinggalan Bukan Alasan Ia Tak Pulang, Tapi Kenapa Ada Dompet Lain?

Kisah Ayahku: Dompet Ketinggalan Bukan Alasan Ia Tak Pulang, Tapi Kenapa Ada Dompet Lain?

CERITA PENDEK

Kisah Ayahku: Dompet Ketinggalan Bukan Alasan Ia Tak Pulang, Tapi Kenapa Ada Dompet Lain?

Babak 1 — Ketinggalan Sang Ayah

“Nanti Papa pulang telat ya, Sayang. Ada rapat mendadak sampai malam.” Suara Ayah terdengar sedikit serak di ujung telepon. Aku melirik jam dinding di ruang tengah. Pukul setengah lima sore. Rapat mendadak di hari Jumat sore? Aneh, tapi ya sudahlah. Ayah memang sering dipanggil bosnya kalau ada urusan mendesak.

“Oke, Yah. Hati-hati di jalan. Nanti aku siapkan makan malam ya?” jawabku sambil membalik-balik halaman majalah. Ayah selalu bilang dia tak suka aku repot menyiapkan makanan malam kalau ia lembur. Tapi aku tetap ingin melakukannya.

“Nggak usah repot-repot. Papa nanti mampir makan di luar aja sama tim. Kamu makan aja duluan. Nggak apa-apa, ya?” Nada suaranya terdengar sedikit tergesa. Ada keheningan sejenak, lalu ia menutup telepon tanpa menunggu jawabanku. Ah, Ayah. Kebiasaan buruknya menelepon sambil lalu. Terkadang aku ingin sekali mengatakannya langsung, tapi selalu urung.

Aku menutup majalah. Ibu sudah pergi ke rumah sahabatnya sejak pagi, katanya ada arisan. Jadi, malam ini aku akan makan sendirian. Aku memutuskan untuk memesan martabak keju lewat aplikasi GoFood. Lumayan, bisa untuk sarapan besok kalau tidak habis.

Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam. Lampu jalanan mulai menyala terang, memantulkan bias oranye di jendela kamarku. Aku masih duduk di sofa, dengan sesekali menghela napas panjang. Seharusnya Ayah sudah tiba di rumah sekitar jam tujuh, sesuai janji walau ia bilang makan di luar. Tapi kemudian ia menelepon lagi, meminta maaf karena rapatnya molor dan ia akan pulang lebih larut lagi. Sungguh merepotkan.

Aku bangkit dari sofa, berjalan ke dapur untuk mencuci piring bekas makan malamku. Sambil menyalakan keran air, aku memikirkan kegiatan Ayah. Ia selalu terlihat sibuk, jarang sekali waktu berkualitasnya bersama kami. Terutama denganku, sejak Ibu sering keluar rumah.

Pukul sepuluh malam. Aku sudah bersiap untuk tidur. Tiba-tiba terdengar suara mobil masuk garasi. Ayah pulang. Aku segera turun dari kamar untuk menyambutnya.

“Ayah!” seruku saat melihat Ayah melangkah masuk, sedikit terhuyung. Jaketnya sedikit kusut.

“Sayang, sudah tidur?” tanyanya sambil mencoba tersenyum. Tapi senyumnya terlihat lelah dan sedikit… canggung?

“Belum, Yah. Kok lama sekali?” Aku mendekat, membantunya melepaskan jaket. Di tangannya menggenggam erat sebuah tas kerja kulit hitam.

“Tadi ada masalah teknis di proyek. Agak alot pembahasannya. Kamu sendiri sudah makan?” Ia menatapku sekilas, lalu mengalihkan pandangan ke arah lantai.

“Sudah, Yah. Tadi pesan martabak. Ayah mau aku siapkan makan malam?”

“Tidak, Sayang. Papa sudah makan. Malah, sepertinya Papa lupa bawa dompet. Aduh, bagaimana ini?” Ia menepuk-nepuk saku celananya, lalu saku jaketnya dengan gerakan panik. Raut wajahnya berubah cemas.

“Ya sudah, Yah. Pakai uangku dulu. Sebentar aku ambilkan,” kataku sambil beranjak kembali ke kamar. Kepalaku mulai terasa sedikit pusing membayangkan Ayah kebingungan.

Babak 2 — Dompet di Sofa

“Ini, Yah. Cukup kan? Tapi nanti minta aku transfer ya, kalau Ayah sudah di kamar.” Aku menyerahkan beberapa lembar uang lima puluh ribu rupiah pada Ayah.

Ayah menerimanya dengan tatapan sedikit malu. “Terima kasih banyak, Sayang. Kamu memang anak yang baik. Nanti Papa transfer pakai DANA ya. Aduh, maaf ya merepotkan.” Ia mengusap kepalaku, lalu berjalan menuju sofa di ruang tengah.

“Sudah, Yah. Nggak apa-apa. Aku ke kamar dulu ya. Ayah kalau mau minum ambil saja di kulkas. Ada air mineral dingin.” Aku tersenyum tulus.

“Iya, Sayang. Terima kasih.” Ia duduk di sofa, menghela napas panjang. Aku melambai padanya sebelum menaiki tangga menuju kamarku. Suara pintu kamar tertutup pelan di belakangku.

Aku membuka laptop, berniat membaca novel sebentar sebelum tidur. Namun, pandanganku tertuju pada tas kerja Ayah yang tergeletak di lantai dekat pintu kamar. Ia lupa mengambilnya.

Sedikit rasa penasaran menggelitik. Ayah bilang ia lupa membawa dompet, tapi tas kerjanya ada di sini? Mungkinkah dompetnya ada di dalam tas? Aku melangkah pelan ke arah pintu kamar, lalu membungkuk mengambil tas kerja kulit itu. Terasa sedikit berat.

Aku ragu sejenak. Ini privasi Ayah. Tapi rasa khawatirkku lebih besar. Bagaimana jika ia benar-benar tidak punya uang sama sekali untuk membayarnya? Aku memutuskan untuk membuka resleting utamanya dengan hati-hati.

Di dalam tas, terdapat beberapa map kertas, sebuah botol minum, dan charger laptop. Tidak ada dompet. Aku mulai merasa lega, mungkin Ayah hanya lupa menaruhnya di saku jaket saja. Lalu mataku menangkap sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.

Sebuah dompet berwarna merah marun, terlipat rapi di sudut dalam tas. Bukan dompet Ayah yang biasanya, yang berwarna hitam klasik. Dompet ini terasa asing. Terbuat dari kulit lembut dengan gantungan kunci kecil berbentuk hati berwarna emas.

Tanganku gemetar saat meraih dompet itu. Jantungku berdebar kencang. Ini pasti milik orang lain. Tapi bagaimana bisa ada di tas Ayah? Di tengah rapat mendadak di hari Jumat?

Aku membukanya dengan jemari yang terasa kaku. Di dalamnya, ada beberapa kartu kredit, kartu nama dengan tulisan nama yang tidak kukenal, dan selembar foto.

Foto itu menampilkan Ayahku, tersenyum lebar, merangkul seorang wanita yang… bukan Ibuku. Wanita itu terlihat lebih muda, dengan rambut sebahu yang ditata bergelombang. Mereka berdua sedang berdiri di depan sebuah kafe dengan tulisan ‘Kopi Senja’ di sudut foto. Tanda itu semakin mempertegas keanehan malam ini.

Udara di kamarku terasa menipis. Aku mencengkeram dompet itu erat-erat, merasakan tekstur kulitnya yang halus di antara jemariku yang dingin. Dunia terasa berputar. Rapat mendadak. Lupa bawa dompet. Tas kerja tidak dibawa tapi dompet orang lain ada di dalamnya. Semua itu membentuk sebuah gambaran yang mengerikan di benakku.

Babak 3 — Kopi Senja dan Jejak Digital

Aku terduduk di tepi kasur, dompet merah marun itu masih tergenggam erat. Pandanganku kosong menatap dinding kamarku. ‘Kopi Senja’. Di mana itu? Apakah di Jakarta? Atau kota lain? Ayah tidak pernah cerita soal kafe itu.

Perlahan, aku menyandarkan punggung ke dinding, menarik lutut ke dada. Pikiran berputar liar. Aku mencoba mengingat setiap detail interaksi kami malam ini. Suara serak Ayah di telepon, alasannya makan di luar, kepulangannya yang larut, kebingungannya mencari dompet.

Semua terasa begitu nyata, tapi sekarang, dompet merah marun ini membuktikan kebalikannya. Ini bukan sekadar lupa bawa dompet. Ini adalah kebohongan yang terstruktur.

Aku meraih ponselku di meja nakas. Jari-jariku masih sedikit gemetar saat membuka aplikasi Google Maps. ‘Kopi Senja’. Hasilnya muncul beragam, tapi ada satu yang lokasinya tertera di daerah Kemang. Itu tidak terlalu jauh dari sini. Apakah itu kafe yang dimaksud?

Aku mencoba mencari nama di kartu nama yang ada di dompet. ‘Dewi Lestari – Konsultan Pemasaran’. Tidak ada nomor telepon, hanya alamat email. Aku mengetik email itu di kolom pencarian Gmail. Tidak ada hasil yang cocok. Sepertinya email itu sudah lama tidak aktif, atau mungkin itu milik kantornya dan bukan pribadi.

Kemudian, aku teringat sesuatu. Ayah sering sekali menggunakan aplikasi chatting untuk komunikasi pekerjaan. Mungkin saja ada jejak di sana. Aku membuka aplikasi chatting kami. Percakapan dengan Ayah dipenuhi obrolan rutin, permintaan transfer uang, atau sekadar kabar keluarga.

Aku mulai mencari percakapan yang berhubungan dengan hari ini. Pesannya tentang rapat mendadak tadi sore. Lalu aku melihat sebuah pesan dari Ayah yang dikirim sekitar jam sembilan malam. Pesannya singkat: “Sayang, Papa lupa bawa dompet. Nanti transfer ya. Terima kasih.”

Aku menggeser layarnya ke atas, mencari pesan-pesan sebelumnya. Sekitar jam enam sore tadi, ada pesan dari Ayah: “Tadi bareng tim makan di Restoran Padang Sederhana. Enak banget. Kamu harus coba.”

Restoran Padang Sederhana? Bukan Kopi Senja? Ini semakin membingungkan. Apakah Ayah berbohong tentang di mana ia makan malam?

Aku membuka aplikasi GoFood, tempatku memesan martabak tadi. Aku melihat riwayat pesanan. Ada martabak keju yang aku pesan pukul delapan malam. Tapi di bawahnya, ada pesanan lain yang menggunakan akunku, dipesan pukul setengah tujuh malam. Pesanan itu untuk sebuah tempat bernama ‘Kopi Senja, Kemang’ dengan item pesanan ‘Americano’ dan ‘Brownies Coklat’. Nama penerimanya adalah ‘Dewi L’.

Jantungku berdegup lebih kencang. Pesanan yang aku buat tadi sore tapi aku tidak ingat pernah memesannya? Dan nama penerimanya sama dengan nama di kartu nama itu? Ini bukan kebetulan. Ini adalah bukti.

Aku mencoba menghubungi nomor yang tertera di kartu nama Dewi Lestari. Berdering tanpa henti. Tidak ada jawaban. Aku lalu mencoba mencari nama Dewi Lestari di media sosial. Ditemukan beberapa akun, tapi tidak ada yang terlihat cocok. Sampai akhirnya, aku menemukan satu profil Instagram dengan username yang sangat mirip dengan nama di kartu nama, lengkap dengan foto profil yang sama persis dengan wanita di foto dompet itu.

Akun itu menampilkan foto-foto dirinya di berbagai tempat. Kafe-kafe kekinian, taman kota, bahkan foto di depan sebuah gedung perkantoran di bilangan Sudirman. Sebagian besar foto itu diambil pada siang hari, tapi ada beberapa foto yang diambil di malam hari. Di salah satu foto itu, ia berpose di sebuah kafe yang sama persis dengan yang ada di foto dompet. ‘Kopi Senja’ tertulis jelas di dinding kafe itu.

Aku melihat tanggal foto itu diunggah. Dua minggu yang lalu. Di bawah foto itu, ada komentar dari Ayah: “Cantiknya kopi senja ini, seperti senyummu.”

Babak 4 — Konfrontasi di Bawah Lampu Garasi

Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Tangan yang memegang ponsel terasa dingin. Aku harus menghadapinya. Sekarang.

Aku turun dari kamar, membawa dompet merah marun itu bersamaku. Ayah masih duduk di sofa, kepalanya tertunduk, memainkan ponselnya. Lampu di ruang tengah sudah ku matikan, hanya diterangi remang-remang dari lampu garasi yang tembus pandang.

Aku berjalan pelan menghampirinya. Suara langkah kakiku di lantai keramik terdengar begitu nyaring di keheningan malam.

“Yah?” panggilku dengan suara yang sedikit bergetar.

Ayah mendongak, terkejut melihatku. Ia buru-buru memasukkan ponselnya ke saku celana.

“Kenapa belum tidur, Sayang? Papa kira sudah di kamar.” Ia berusaha tersenyum, tapi matanya terlihat gelisah.

Aku tidak menjawab. Aku meletakkan dompet merah marun itu tepat di meja di depan Ayah. Suara tepukan pelan dompet di atas kayu terdengar jelas.

Wajah Ayah seketika pucat. Ia menatap dompet itu, lalu menatapku, matanya membulat. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.

“Ini… ini apa, Yah?” tanyaku, berusaha menjaga nada suaraku agar tetap tenang, meskipun di dalam diriku badai sedang bergemuruh. Aku sengaja membiarkan keheningan menggantung.

Ayah tergagap. “Itu… itu bukan punya Papa, Sayang. Mungkin… mungkin punya orang lain yang tertinggal?” Ia mencoba memberi penjelasan, tapi suaranya terdengar ragu.

Aku menggeleng pelan. “Bukan, Yah. Dompet ini ada di dalam tas kerja Ayah. Di dalam tas kerja yang Ayah bilang tidak dibawa pulang karena mau makan di luar sampai malam. Tas kerja yang Ayah bilang tidak perlu aku ambilkan apa-apa.”

Mata Ayah semakin melebar. Ia menunduk, tidak sanggup menatap mataku.

“Dan soal lupa bawa dompet… ini juga bohong kan, Yah? Ayah bukannya lupa bawa dompet. Ayah memang tidak punya dompet sendiri saat itu. Karena… dompet ini yang Ayah bawa.” Aku melanjutkan, suaraku semakin lirih.

Ayah terdiam. Tubuhnya terlihat lemas. Ia memijat pelipisnya, pandangannya tertuju pada dompet merah marun itu.

“Lalu foto ini…” Aku mengeluarkan foto dari dompet. Foto Ayah dengan wanita lain di depan kafe ‘Kopi Senja’. “Ini siapa, Yah?”

Ayah terdiam cukup lama. Akhirnya, ia mendongak. Matanya berkaca-kaca. “Dia… teman lama, Sayang.”

“Teman lama? Tapi kenapa Ayah bilang tadi di pesan chatting, habis makan di Restoran Padang Sederhana? Kenapa pesanan atas nama ‘Dewi L’ di akunku itu, Yah?” aku mendesak. Pertanyaan-pertanyaan itu seolah keluar begitu saja dari bibirku, tanpa bisa ku kendalikan.

Ayah menarik napas panjang. “Papa… Papa memang bertemu dia tadi. Tapi bukan untuk makan malam. Papa hanya… mengantarnya.”

“Mengantarnya? Mengantar ke mana, Yah? Kenapa harus sembunyi-sembunyi? Kenapa bohong soal rapat? Soal dompet?” Aku mulai kehilangan kendali. Nada suaraku meninggi.

Ayah akhirnya menunduk lagi. “Dia sedang ada masalah. Membutuhkan bantuan Papa. Dan Papa… tidak bisa menolaknya.”

“Bantuan? Bantuan macam apa yang membutuhkan dompet orang lain tertinggal di tas kerja Ayah? Bantuan yang membutuhkan foto mesra di kafe itu?” Aku melempar dompet itu kembali ke meja. Suaranya berdentum keras.

Ayah terkesiap. Ia menatapku, lalu pandangannya beralih ke foto yang tergeletak di meja.

Babak 5 — Kebohongan yang Terus Berlanjut

“Sayang, dengarkan Papa…” Ayah memulai, suaranya bergetar.

“Jangan panggil aku Sayang!” potongku tajam. Aku tidak bisa lagi menerima panggilan itu darinya. Rasanya seperti tusukan.

Ayah terdiam, terlihat terluka oleh respons dingin itu. “Foto itu… itu memang diambil beberapa minggu lalu. Tapi itu tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Lalu seperti apa, Yah?” Aku mendengus. “Seperti apa gambarannya?”

“Dia memang sedang kesulitan. Keuangan dan… masalah pribadi. Dia menghubungi Papa minta tolong. Papa membantunya sebisa Papa. Termasuk mengantarnya ke tempat yang ia tuju hari ini.” Ayah menjelaskan dengan nada yang lebih tenang, seolah mencoba merangkai sebuah kebenaran dari serpihan kebohongan.

“Dan dompet ini?” aku menunjuk dompet merah marun itu. “Bagaimana bisa ada di tas Ayah?”

“Tadi… tadi siang dia bertemu Papa di kantor. Dia meminjam dompet Papa sebentar karena harus membeli sesuatu. Lalu… dia lupa mengembalikannya. Saat ia sadar, ia langsung memberikannya pada Papa saat kami bertemu sore tadi. Papa memasukkannya ke tas karena… karena tidak ingin kamu melihatnya.” Ayah akhirnya mengakui sebagian dari kebenaran.

“Tidak ingin aku melihatnya? Kenapa? Karena itu bukan dompet Ibu? Karena itu dompet selingkuhan Ayah, kan?” Nada suaraku naik lagi. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata.

Ayah menggeleng cepat. “Bukan, Sayang. Bukan seperti itu. Dia hanya… teman. Teman yang sangat Papa pedulikan.”

“Teman yang sangat kamu pedulikan sampai rela berbohong pada keluargamu sendiri? Sampai rela membuat ibuku merasa terabaikan? Sampai rela membuat aku memesan makanan lewat akunku untuk dirinya?” Suaraku pecah. Air mata akhirnya tumpah membasahi pipi.

Ayah terdiam. Ia terlihat bingung harus berkata apa. “Papa… Papa akan selesaikan ini. Papa janji.”

“Janji? Janji Ayah selalu sama. Dulu janji akan lebih sering pulang, tapi malah semakin sibuk. Dulu janji akan selalu jujur, tapi kenyataannya seperti ini. Ayah pikir aku akan percaya lagi?” Aku menyeka air mata dengan punggung tangan, berusaha menahan isak tangis.

Ayah mencoba meraih tanganku, tapi aku menariknya mundur. “Aku tidak percaya lagi, Yah. Aku tidak bisa.”

Aku berbalik, hendak naik ke kamar. “Dompet itu kembalikan pada pemiliknya. Dan… katakan padanya, rumah ini bukan tempat singgah untuknya.”

Aku terus berjalan menaiki tangga, meninggalkan Ayah dalam keheningan malam, ditemani dompet merah marun yang kini terasa seperti bom waktu di atas meja. Di kamarku, aku duduk di tepi kasur, memeluk lutut. Pikiranku kosong. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Apakah ini akhir dari segalanya? Atau hanya awal dari kebohongan yang lebih besar?

Malam itu terasa begitu panjang. Aku menunggu. Menunggu Ayah datang ke kamarku, atau menunggu sebuah kejelasan. Tapi yang datang hanyalah keheningan yang mencekam, dan suara tangis Ibu yang terdengar samar dari kamar sebelah, walau Ibu bilang ia tidur di rumah sahabatnya.