Cerpen: Dompet Rp 50 Ribu yang Membongkar Skenario Paling Menyakitkan dalam Pernikahannya
Babak 1 — Senyum Pagi yang Penuh Lubang
Gendis menyeduh kopi, aroma pahitnya bercampur dengan wangi roti panggang yang mulai menghangus sedikit di sudut. Ia menarik napas, mencoba mengabaikan perasaan tidak enak yang mulai merayap di perutnya sejak semalam. Tadi malam, saat suaminya, Satriyo, pulang kerja—biasanya ia akan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tapi kemarin, ia beralasan ada berkas penting yang harus diselesaikan di ruang kerja. Gendis tidak curiga. Satriyo memang rajin. Sangat rajin, sampai terkadang ia lupa makan siang.
Wanita itu melirik jam dinding. Pukul 06:30. Satriyo belum juga keluar kamar. Biasanya, ia sudah rapi dan duduk manis di meja makan, menunggu sarapan yang disiapkan Gendis. Sedikit aneh. Jantungnya berdebar lebih kencang. Ia mencoba menenangkan diri. Mungkin Satriyo kelelahan. Ia lalu menyusun piring sarapan, sepiring nasi goreng sederhana dengan telur mata sapi ceplok, dan segelas teh hangat. Gendis selalu berusaha membuat sarapan yang sempurna untuk suaminya. Ia mencintai Satriyo lebih dari apapun di dunia ini. Setidaknya, itu yang ia yakini selama ini.
Gendis meletakkan piring itu di meja makan. Matanya tertuju pada dompet kulit coklat lusuh milik Satriyo yang tergeletak di atas meja kecil dekat pintu masuk. Dompet itu biasanya selalu ia simpan di saku celana atau diletakkan di laci ruang kerja. Kenapa ada di sini? Gendis tidak ingat Satriyo pernah meletakkannya di sana. Ia mengambil dompet itu. Terasa ringan. Ia membukanya, berniat mengembalikannya ke kamar. Mungkin Satriyo lupa membawanya. Namun, saat membukanya, Gendis terdiam. Di dalam kompartemen utama, hanya ada beberapa lembar uang kertas lima puluh ribuan, total mungkin seratus ribu rupiah. Tidak ada kartu identitas, tidak ada kartu ATM, bahkan kartu nama sekalipun. Hanya uang receh. Sangat tidak seperti Satriyo. Satriyo selalu membawa uang tunai yang cukup, dan kartu-kartu pentingnya. Jika ia tidak membawa dompet, ia pasti akan mencarinya dengan panik.
Perasaan tidak enak itu semakin kuat. Gendis menutup dompet itu perlahan. Ia memutuskan untuk masuk ke kamar. Suaminya masih terbaring di tempat tidur, matanya menatap langit-langit kamar yang dicat putih bersih. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Ia hanya mengenakan kaus oblong abu-abu dan celana pendek. Gendis tidak tega membangunkan. Ia berbalik, berniat kembali ke dapur. Namun, langkahnya terhenti saat melihat ponsel Satriyo tergeletak begitu saja di nakas. Sebuah notifikasi aplikasi pesan singkat muncul di layar yang redup. Judul percakapannya membuat napas Gendis tercekat.
Babak 2 — Kode Rahasia Rp 50 Ribu
‘Sayang, aku belum makan dari siang. Kamu udah makan?’ Tulisannya muncul perlahan di layar ponsel Satriyo. Jari Gendis gemetar saat meraih ponsel itu. Bukan niatnya mengintai, tapi entah mengapa ia merasa harus melihatnya. Sejak kapan Satriyo punya panggilan sayang seperti itu? ‘Sayang’? Bukan untuknya? Gendis membuka percakapan itu. Nama kontak yang tertera adalah ‘Cahaya’. Siapa Cahaya? Gendis tidak kenal.
‘Belum, belum sempet. Kamu di mana? Udah di jalan pulang? Aku kangen banget,’ balas Gendis, tangannya bergerak otomatis, seolah ada kekuatan yang mengendalikan. Ia merasa asing dengan apa yang sedang ia lakukan. Ini bukan dirinya. Tapi rasa penasaran yang getir, yang tertanam dari penemuan dompet tadi, membuatnya terus melangkah.
‘Aku lagi di Kemang. Ketemu bentar sama… hmm, klien.’ Gendis tahu Satriyo berbohong. Kemang biasanya ia pergi untuk bertemu teman-temannya, bukan klien. Satriyo seringkali mengeluh tentang beban pekerjaannya di kantor. Jam kerjanya seringkali molor. Ia selalu mengatakan itu demi perusahaan, demi masa depan mereka. Gendis selalu percaya. Ia bahkan sering memijat kaki suaminya saat ia pulang larut, berusaha menghibur dan memberinya semangat.
‘Kliennya ngabisin duit berapa? Kok dompet kamu isinya cepek doang?’ Gendis mengetik dengan cepat, kata-katanya keluar tanpa filter. Begitu kalimat itu terkirim, ia langsung menyesal. Kenapa ia menanyakan hal sekecil itu? Gendis merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Ponsel di tangannya bergetar. Balasan dari ‘Cahaya’ masuk.
‘Ya ampun, sayangku. Makasih ya buat uangnya. Aku udah di jalan pulang nih. Ini aku beliin kamu seblak favoritmu ya buat ganjel perut. Otw.’ Gendis membaca balasan itu, dan dunianya seakan berputar. Uang Rp 50 ribu? Seblak? Satriyo tidak pernah makan seblak. Ia membenci makanan pedas. Gendis melirik dompet lusuh di meja. Benar. Hanya ada uang lima puluh ribuan. Tidak ada seratus ribuan. Dan tidak ada pecahan lain. Dompet itu, hanya berisi cukup uang untuk membeli seblak dan mungkin sedikit kembalian. Gendis membeku di tempat. Ia merasa perutnya mual. Sensasi itu bukan karena kopi atau roti panggang yang sedikit gosong. Tapi sesuatu yang jauh lebih dalam, jauh lebih menyakitkan.
Babak 3 — Jejak di Antara Percakapan
Gendis membuka aplikasi GoFood di ponselnya. Ia mencari ‘seblak’. Ada begitu banyak pilihan. Ia tidak tahu seblak mana yang ‘favorit’ yang dimaksud. Ia scroll nama-nama toko, mencoba mengingat apakah Satriyo pernah menyebutkan nama toko seblak tertentu. Tidak ada. Gendis menghela napas panjang. Perasaannya semakin kalut. Ia lalu membuka aplikasi e-commerce, Tokopedia. Ia mencari riwayat pesanan Satriyo. Mungkin ada petunjuk di sana. Tapi yang ia temukan hanya pesanan-pesanan umum seperti baterai ponsel, buku, atau alat tulis.
Ia kembali ke percakapan dengan ‘Cahaya’. Ada satu pesan yang terkirim lebih awal, namun belum dibaca oleh Satriyo. Gendis menahan napas dan membukanya. Pesan itu berbunyi: ‘Mas, aku udah di depan apartemen. Kunci udah aku titipin satpam ya. Jangan lupa traktir aku lagi next time. Lumayan kan makan enak gara-gara kamu.’ Apartemen? Apartemen mana? Satriyo tidak pernah punya apartemen. Selama ini, mereka tinggal di rumah warisan orang tua Gendis di bilangan Cilandak.
Gendis ingat Satriyo kadang menerima telepon dari nomor tak dikenal saat ia sedang di rumah. Satriyo selalu menjauh jika menerima telepon itu, bahkan kadang pergi ke balkon atau teras belakang agar Gendis tidak mendengar. Dulu Gendis mengira itu urusan pekerjaan yang sangat rahasia. Tapi sekarang… Gendis membuka daftar panggilan Satriyo. Ada banyak panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. ‘0812XXXXXXXX’. Ia menyimpan nomor itu dan mencari informasi di Google. Tidak ada nama yang muncul, hanya beberapa postingan di forum jual beli barang bekas. Tidak ada petunjuk.
Gendis mulai panik. Ia membuka galeri foto Satriyo. Ia mencari foto-foto terbaru. Kebanyakan foto pekerjaan, foto kantor, atau foto bersama rekan-rekannya yang ia kenal. Tapi di folder ‘Lain-lain’, ia menemukan sesuatu yang membuatnya terpaku. Ada foto sebuah gedung apartemen modern. Di depannya berdiri Satriyo, tersenyum. Di sampingnya, seorang wanita muda berkerudung senada dengan ‘Cahaya’ yang ia bayangkan, sedang merangkul lengan Satriyo. Wanita itu membelakangi kamera, namun Gendis bisa melihat siluetnya. Di tangannya, ia memegang kantong kertas minimarket. Gendis tahu, itu pasti kantong untuk seblak.
Babak 4 — Pintu Coklat dan Kenyataan yang Menghantam
Jantung Gendis berdebar semakin kencang. Ia merasa seperti terlempar ke dalam jurang yang gelap. Foto itu. Gedung apartemen itu. Ia mencoba mengingat-ingat detail dari foto itu, gedung di belakang Satriyo. Ia merasa pernah melihatnya. Seketika, sebuah ingatan muncul. Beberapa minggu lalu, Satriyo beralasan ada rapat mendadak di daerah Senayan. Gendis melihat sekilas peta di ponsel Satriyo sebelum suaminya buru-buru menutupnya. Ada sebuah gedung apartemen yang ditandai. Gendis membuka aplikasi peta di ponselnya, mencari gedung apartemen yang sesuai dengan foto itu. Dan ia menemukannya. Lokasinya, persis seperti di foto.
Gendis merasa kakinya lemas. Ia harus pergi ke sana. Sekarang juga. Ia meraih kunci mobilnya yang tergantung di gantungan. Ia melihat dompet lusuh di meja. Tangannya meraih dompet itu lagi, lalu ia mengeluarkan semua isinya. Uang lima puluh ribuan itu, ia genggam erat. Ia merasa sangat marah, sangat sakit hati, namun juga merasa sangat kosong. Seperti ada bagian dari dirinya yang hilang.
Ia mengendarai mobilnya menuju apartemen tersebut. Perjalanan terasa sangat panjang. Setiap lampu merah terasa seperti siksaan. Gendis mencoba menahan tangisnya. Ia terus mengingatkan dirinya untuk tetap tenang. Ia harus melihat sendiri. Ia harus mendapatkan kepastian. Setidaknya, ia tidak ingin terus menerus menebak-nebak. Ia memarkir mobilnya di area parkir bawah tanah yang remang-remang. Ia menelan ludah, lalu keluar dari mobil. Ia mencari informasi nama penghuni apartemen dari satpam di lobi. Gendis tidak menyebutkan nama Satriyo. Ia hanya bertanya apakah ada wanita bernama ‘Cahaya’ yang tinggal di sana. Satpam itu mencari di daftarnya, lalu mengangguk. ‘Ada, Bu. Unit 708.’
Gendis naik lift menuju lantai tujuh. Saat pintu lift terbuka, ia melihat lorong yang sepi. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia berjalan menyusuri lorong, matanya mencari nomor unit. Unit 708. Pintu coklat yang kokoh. Gendis ragu sejenak. Haruskah ia mengetuk? Haruskah ia berteriak? Gendis menarik napas dalam-dalam, lalu memutar kenop pintu itu. Ternyata, tidak terkunci. Pintu itu terbuka perlahan, menampakkan sebuah ruangan yang rapi. Di ruang tamu, ia melihat seorang wanita muda sedang duduk sambil memeluk lututnya. Ia menangis tanpa suara. Di meja di depannya, tergeletak sebuah kantong kertas minimarket, dan sebuah kotak seblak yang belum dibuka.
Babak 5 — Suara Sunyi yang Memekakkan
Wanita muda itu mendongak saat mendengar suara pintu terbuka. Matanya yang sembap menatap Gendis dengan ketakutan. Ia segera berdiri, tangannya sedikit terangkat, seolah ingin menutupi sesuatu. Wajahnya pucat pasi. Gendis bisa merasakan aura ketidaknyamanan yang luar biasa dari wanita itu. Ia bukan tipe wanita jahat yang ia bayangkan, tapi ia terlihat seperti orang yang sangat menyesal dan terjebak.
“Siapa… siapa kamu?” tanya wanita itu, suaranya bergetar. Ia menatap Gendis dengan pandangan tidak fokus, seolah tidak percaya siapa yang ada di depannya. Gendis tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam, matanya menyapu seluruh ruangan. Ada foto Satriyo yang terpajang di bingkai kecil di atas meja konsol. Foto pernikahan mereka. Gendis merasa seperti diserang badai emosi. Sakit, marah, kecewa, tapi juga rasa kasihan yang aneh. Wanita ini terlihat sama menderitanya dengan dirinya.
“Dia… dia mana?” Gendis akhirnya bersuara, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Wanita itu menggelengkan kepala pelan, tangisnya mulai pecah. Ia menunduk, tidak berani menatap mata Gendis. “Mas… Mas Satriyo… dia barusan pergi. Bilang mau… mau kasih tahu kamu.” Jeda terjadi. Gendis merasa udara di sekitarnya menipis. “Dia bilang… dia bilang dia nggak bisa… nggak bisa terus begini.”
Gendis terdiam. Kata-kata itu menusuknya lebih dalam dari apapun. ‘Nggak bisa terus begini’. Begitu saja? Setelah semua yang ia berikan? Semua cintanya? Semua pengorbanannya? Gendis melihat uang lima puluh ribuan di genggamannya. Dompet lusuh itu. Seblak yang belum dibuka. Kantong kertas minimarket. Semuanya terasa begitu ironis dan menyakitkan. Wanita itu perlahan berjalan mendekat, ia meraih kotak seblak di meja. “Ini… ini dia beli buat kamu. Katanya… katanya biar kamu nggak marah.”
Gendis menatap kotak seblak itu. Seblak itu bukan untuknya. Seblak itu dibeli untuk menemani ‘Cahaya’, bukan dirinya. Gendis merasa tawa getir ingin keluar dari tenggorokannya. Ia berbalik, berjalan keluar dari unit apartemen itu, meninggalkan wanita itu dan kotak seblak yang tak pernah ia inginkan. Gendis kembali ke mobilnya, duduk di sana, memejamkan mata. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Tapi satu hal yang pasti, pernikahan yang ia kira sempurna itu, kini telah runtuh menjadi puing-puing. Dan semua itu dimulai dari sebuah dompet lusuh berisi lima puluh ribuan rupiah.
