Cerpen: Struk Parkir Ini Jadi Saksi Bisik Perselingkuhan Suaminya Saat Ia Sedang Berjuang Melawan Kanker
Babak 1 — Senyum yang Terlalu Dipaksa
Gendis mematikan laptopnya, tatapan matanya sedikit kabur oleh cahaya layar yang terlalu terang. Ruangan itu terasa dingin, padahal AC-nya sudah ia turunkan suhu paling tinggi pagi tadi. Tangannya gemetar saat meraih secangkir teh jahe hangat yang mulai dingin di atas meja. Ada rasa pahit yang bukan berasal dari tehnya, tapi dari setiap helaan napas yang ia coba kontrol. Di luar jendela kaca, Jakarta tampak sibuk seperti biasa, para pejalan kaki tergesa-gesa, klakson mobil memekakkan telinga. Tapi di dalam apartemen yang sempit ini, waktu seolah merayap lambat, masing-masing detiknya terasa seperti jarum jam yang menusuk pelan. Ia mencoba tersenyum pada pantulan dirinya di layar laptop yang gelap, tapi yang terlihat hanyalah garis-garis tipis kelelahan di sudut matanya. “Kamu kuat, Dis,” bisiknya pada diri sendiri, suaranya serak, nyaris tak terdengar. Hari ini adalah hari pertama dari siklus kemoterapi ketiganya. Sesuatu yang seharusnya menjadi fokus utamanya, namun pikirannya terus saja melayang pada hal-hal lain yang terasa lebih membebani. Bukan rasa sakit fisik yang ia takutkan, tapi rasa sakit yang jauh lebih menusuk, yang bisa datang dari arah yang tak terduga.
Sebuah notifikasi berbunyi dari ponselnya, layarnya menyala menampilkan pesan dari suaminya, Baskara. “Sayang, aku otw pulang. Ada meeting dadakan sampai sore. Makan malam nanti ya.” Gendis menarik napas panjang, lalu mengetik balasan singkat, “Oke, Mas. Hati-hati di jalan.” Ia tahu, Baskara jarang sekali pulang sebelum jam delapan malam di hari kerja. Terutama sejak proyek di Kemang itu mulai berjalan. Tapi Gendis mencoba tidak memikirkannya. Ia harus fokus pada kesembuhannya. Kanker payudara stadium awal ini, kata dokter, sangat mungkin disembuhkan jika ia kuat menjalani setiap prosesnya. Dan ia akan kuat. Demi dirinya sendiri, demi Baskara, demi semua harapan yang masih ia genggam erat.
Ia bangkit dari kursi, gerakan tubuhnya terasa kaku. Setiap gerakan kecil kini membutuhkan energi ekstra. Ia berjalan ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia harus terlihat baik-baik saja. Di depan Baskara, ia tak ingin terlihat lemah. Ia ingin Baskara melihatnya sebagai Gendis yang dulu, yang selalu ceria dan penuh semangat, bukan sebagai pasien yang rapuh. Ia memoleskan sedikit *cushion* untuk menutupi lingkaran hitam di bawah matanya, dan sedikit perona pipi untuk memberi rona sehat. Cermin itu memantulkan bayangan seorang wanita yang berusaha keras terlihat tegar, seorang istri yang sedang berjuang melawan dua musuh sekaligus: penyakit di tubuhnya, dan rasa gelisah yang mulai merayap di hatinya.
Jarum jam di dinding terus berputar. Pukul lima sore, lalu enam, lalu tujuh. Baskara belum juga pulang. Gendis sudah menyiapkan nasi uduk kesukaan mereka, lengkap dengan telur balado dan orek tempe. Semuanya tersusun rapi di meja makan. Ia sempat membuka aplikasi GoFood, melihat-lihat menu seblak langganannya, berharap ada sedikit selera yang muncul, tapi tak ada. Perutnya terasa mual setiap kali memikirkan makanan. Ia hanya bisa menyesap teh jahe, menatap pintu apartemen yang belum terbuka. Pukul delapan malam, ponselnya kembali berdering. Kali ini panggilan video dari Baskara. Gendis segera menyalakan lampu meja, merapikan rambutnya, lalu menjawab panggilan itu. Wajah Baskara muncul di layar, terlihat lelah tapi tersenyum. “Sayang, maaf banget. Meeting-nya baru aja selesai. Aku nggak jadi pulang malam ini. Ada keperluan mendadak di luar kota. Besok pagi baru aku sampai.” Gendis menelan ludah, rasa pahit itu kembali menyeruak. “Oh… oke, Mas. Nggak apa-apa. Nanti kabarin aja kalau udah sampai.” Ia berusaha menjaga suaranya agar tetap datar, agar Baskara tidak curiga. Baskara sempat terlihat ragu, tapi kemudian ia mengangguk lega. “Makasih ya, sayang. Kamu emang istri terbaik. Aku sayang kamu.” Panggilan video berakhir. Gendis menjatuhkan ponselnya ke meja. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya mengalir deras. Ia bukan lagi Gendis yang kuat. Ia hanyalah seorang wanita yang kesepian, berjuang sendirian.
Babak 2 — Jejak yang Tertinggal
Keesokan paginya, Gendis terbangun dengan kepala pening. Semalam ia menangis sampai tertidur di sofa, tanpa sadar memeluk bantal. Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah tirai terasa menyakitkan di matanya. Ia bangkit, masih dengan perasaan hampa. Baskara belum juga memberinya kabar kapan ia akan tiba. Ia memutuskan untuk membereskan apartemen, berharap kesibukan bisa mengalihkan pikirannya yang kalut. Saat ia sedang menyapu sudut ruangan dekat pintu masuk, kakinya tersandung sesuatu yang tergeletak di dekat keset. Benda itu terlipat dan sedikit kotor, seperti tertinggal begitu saja. Sebuah struk parkir. Awalnya Gendis ingin langsung membuangnya ke tempat sampah. Tapi ada sesuatu yang membuatnya ragu. Bentuk tulisan dan jenis kertasnya terasa familiar, tapi ia tak yakin mengapa. Ia memungutnya, lalu membukanya perlahan. Tangannya mulai terasa dingin.
Struk itu berasal dari sebuah pusat perbelanjaan di daerah selatan Jakarta, sebuah tempat yang jarang sekali ia kunjungi. Tanggalnya adalah kemarin sore, saat Baskara bilang ia ada meeting dadakan dan kemudian mendadak harus keluar kota. Di sana tertera jam masuk pukul 16.30 dan jam keluar pukul 19.45. Tiga jam lebih. Cukup lama untuk sebuah meeting. Tapi yang membuat jantung Gendis berdetak kencang adalah detail di bawahnya. Tertera nomor plat mobil Baskara, dan jumlah pembayaran yang lumayan besar untuk sekadar parkir. Gendis mengerutkan kening. Baskara memang punya mobil, tapi selama ini ia selalu mengantar Gendis dengan mobilnya sendiri atau menggunakan taksi online jika bepergian sendiri. Mengapa Baskara harus parkir mobil di sana? Dan dengan durasi selama itu?
Ia mencoba mengingat-ingat. Baskara pernah bercerita tentang teman kerjanya yang baru pindah ke apartemen di dekat pusat perbelanjaan itu. Tapi Baskara jarang sekali bertemu teman-temannya di luar jam kantor, apalagi sampai tiga jam. Gendis membolak-balik struk itu, matanya menyapu setiap detail tulisan. Ada beberapa item yang tertera di sana, bukan hanya biaya parkir. Harganya terbagi menjadi beberapa kode, seperti ‘P1’, ‘P2’, ‘A1’. Awalnya ia mengabaikan kode-kode itu, menganggapnya sebagai detail biasa. Tapi kemudian pandangannya tertuju pada sebuah catatan kecil di bagian bawah struk, tertera jelas di sana: “Beli voucher belanja Rp. 1.000.000” dan di bawahnya lagi, “Voucher diaktifkan di Kasir 3”. Gendis terdiam. Voucher belanja? Untuk apa? Suaminya tidak pernah membeli voucher belanja sebesar itu, apalagi dari pusat perbelanjaan yang tidak pernah ia datangi.
Tiba-tiba, ingatan samar muncul. Seminggu yang lalu, saat mereka makan malam di sebuah restoran di Gandaria, Baskara sempat menerima telepon. Ia terlihat sedikit gelisah, lalu berbisik-bisik di telepon, sesekali melihat ke arah luar restoran. Gendis tidak terlalu ambil pusing saat itu, ia mengira Baskara sedang membicarakan pekerjaan. Tapi kini, melihat struk ini, sesuatu terasa tidak beres. Gendis duduk di lantai, memeluk lututnya. Perasaan dingin menjalar ke seluruh tubuhnya, lebih dingin dari AC di ruangan itu. Ia mencoba menenangkan diri, berpikir positif. Mungkin saja Baskara sedang membeli kado kejutan untuknya? Tapi alasan itu terasa lemah, sangat lemah. Perasaan tidak nyaman yang ia rasakan belakangan ini, ditambah dengan kebohongan kecil Baskara semalam, semuanya mulai merangkai sebuah gambaran yang mengerikan di benaknya.
Babak 3 — Ingatan yang Memanggang
Gendis mengambil ponselnya. Jari-jarinya ragu untuk menekan nama Baskara di daftar kontak. Ia membuka aplikasi Google Maps, lalu mengetikkan nama pusat perbelanjaan yang tertera di struk itu. Ternyata lokasinya memang cukup jauh dari apartemen mereka di Jakarta Pusat. Sekitar satu jam perjalanan jika lalu lintas lancar. Ia melihat daftar toko yang ada di sana, mencoba mencari tahu apa saja yang bisa dibeli dengan voucher belanja sebesar satu juta rupiah. Ada banyak toko pakaian, aksesoris, bahkan beberapa toko kosmetik. Di sudut hatinya, sebuah harapan kecil masih tersisa. Mungkin saja Baskara membeli sesuatu untuk Gendis, sesuatu yang ia sukai. Tapi harapan itu segera pupus saat ia mengingat percakapan Baskara di telepon seminggu lalu, tatapan gelisahnya. Itu bukan tatapan orang yang akan memberi kejutan.
Ia teringat obrolan dengan beberapa teman di grup WhatsApp mereka beberapa waktu lalu. Ada yang membahas soal diskon besar-besaran di toko baju branded di pusat perbelanjaan itu. Ada juga yang bercerita tentang bagaimana wanita modern kini lebih suka membeli hadiah dalam bentuk voucher belanja agar penerimanya bisa memilih sendiri apa yang mereka inginkan. Gendis menarik napas dalam. Ia membandingkan nomor plat mobil Baskara di struk dengan nomor plat di STNK mobil yang tersimpan di laci meja. Cocok. Tidak ada keraguan lagi. Baskara memang berada di sana kemarin sore.
Flashback singkat tiba-tiba menghantam benaknya. Malam itu, saat ia menangis sendirian di sofa, ia teringat betapa Baskara semakin jarang menyentuhnya. Pelukan hangat, ciuman di kening, semuanya terasa seperti kenangan lama. Terakhir kali mereka melakukan itu adalah beberapa bulan lalu, sebelum Gendis didiagnosis kanker. Baskara bilang ia menjaga jarak karena khawatir akan kebersihan, tapi Gendis bisa merasakan ada sesuatu yang lain. Ada rasa canggung, rasa bersalah yang tersirat di matanya setiap kali menatap Gendis. Terkadang, Gendis merasa Baskara lebih terbebani dengan penyakitnya daripada dirinya sendiri. Apakah rasa terbebani itu yang membuatnya mencari kenyamanan di tempat lain?
Pikiran Gendis berputar semakin kencang. Ia teringat percakapan Baskara dengan ibunya melalui telepon seminggu lalu. Ibunya bertanya kapan Baskara akan membawa calon pendamping hidupnya untuk diperkenalkan. Baskara menjawab dengan ragu, mengatakan ia masih harus menyelesaikan beberapa urusan penting. Gendis yang mendengarnya saat itu hanya mengira ibunya sedang mendesak Baskara untuk segera menikah lagi setelah ibu Gendis meninggal dua tahun lalu, seperti kebanyakan orang tua di kampung halaman mereka. Tapi kini, dengan bukti struk parkir itu, makna pembicaraan itu terasa berbeda. Mungkinkah Baskara sudah memiliki orang lain? Mungkinkah ia sudah berencana untuk meninggalkan Gendis, dan voucher belanja itu adalah untuk wanita itu?
Gendis mulai merasakan mual yang lebih parah dari biasanya. Ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Setelah itu, ia kembali ke ruang tamu dengan langkah lemah. Ia menatap struk parkir di tangannya, benda kecil yang terasa seperti bom waktu yang baru saja meledak di kehidupannya. Ia harus mencari tahu. Ia tidak bisa membiarkan dirinya dihantui oleh kecurigaan. Ia harus tahu kebenarannya, seburuk apapun itu. Dengan sisa tenaganya, ia bangkit. Ia harus pergi ke pusat perbelanjaan itu sekarang juga. Ia harus melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
Babak 4 — Penemuan yang Membekukan
Dengan sisa tenaga yang ada, Gendis mengendarai mobilnya menuju pusat perbelanjaan yang tertera di struk. Perjalanan terasa seperti mimpi buruk yang panjang. Setiap lampu merah yang ia lewati terasa seperti siksaan. Di setiap tikungan jalan, ia memikirkan seribu kemungkinan terburuk. Bagaimana jika Baskara benar-benar berselingkuh? Bagaimana jika ia berniat meninggalkannya saat ia sedang berjuang melawan penyakit mematikan ini? Pikiran-pikiran itu terus berputar, membuat kepalanya semakin berat dan tubuhnya semakin lemas. Ia sampai di pusat perbelanjaan itu saat sore menjelang petang. Suasananya ramai, orang-orang berlalu lalang, tertawa, berbelanja. Kontras sekali dengan kehancuran yang Gendis rasakan di dalam hatinya.
Ia memarkir mobilnya di tempat parkir yang sama dengan nomor plat mobil Baskara. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia berjalan menuju area kasir yang tertera di struk: Kasir 3. Di sana, seorang kasir muda sedang melayani seorang pelanggan. Gendis memberanikan diri mendekat. “Permisi, Mbak,” ucapnya dengan suara bergetar. Kasir itu menoleh, dengan senyum profesional yang ramah. “Ya, Mbak? Ada yang bisa dibantu?” Gendis menyerahkan struk parkir yang sudah kusut itu. “Saya… saya ingin menanyakan tentang struk ini. Apakah ada informasi mengenai transaksi di sini?” Kasir itu mengambil struknya, matanya membaca detail di layar komputernya. “Sebentar ya, Mbak. Untuk data transaksi, kami hanya bisa memberikan informasi jika ada identitas pemiliknya, atau jika ada laporan kehilangan. Terkait voucher belanja ini…” Kasir itu jeda sebentar, lalu melanjutkan, “Ini adalah voucher belanja senilai satu juta rupiah yang dibeli kemarin sore, dan diaktifkan oleh pemegangnya di sini.”
Gendis menelan ludah. “Pemegangnya? Maksudnya siapa, Mbak?” tanya Gendis, suaranya semakin lemah. Kasir itu terlihat berpikir. “Hmm, sebentar. Saya cek di CCTV dulu ya, Mbak. Ini kan menyangkut privasi pelanggan juga.” Gendis menunggu dengan napas tertahan. Beberapa menit kemudian, kasir itu kembali dengan wajah sedikit ragu. “Begini, Mbak. Pemegang voucher yang mengaktifkannya kemarin sore… adalah seorang wanita. Dia datang sendiri, dan memakai masker. Tapi dari postur tubuh dan cara bicaranya… sepertinya bukan orang asing bagi kasir yang melayani. Kami tidak bisa menyebutkan identitasnya secara langsung, tapi… kalau Mbak mau tahu, wanita itu sempat membeli parfum dari toko kosmetik di sebelah sana, dan memilih hadiah bungkus kado yang paling mahal.”
Parfum? Kado termahal? Gendis merasa dunianya runtuh seketika. Jantungnya berdegup semakin kencang, nafasnya tersengal-sengal. Wanita itu datang sendiri, tapi kasir mengenalnya? Itu berarti wanita itu adalah langganan di sini, atau… wanita itu adalah seseorang yang Baskara kenal, seseorang yang sering Baskara temui di tempat ini. Gendis berbalik, melangkah cepat menuju toko kosmetik yang dimaksud. Ia mencari-cari parfum yang mungkin saja ia kenali aromanya. Ia tak tahu harus mencari apa, tapi ia merasa harus melakukan sesuatu. Tiba-tiba, ia melihat seorang wanita sedang berdiri di depan cermin, mematut dirinya. Wanita itu memakai masker, dan terlihat sedang menyemprotkan parfum ke pergelangan tangannya. Gendis terpaku.
Saat wanita itu berbalik sedikit untuk melihat hasil semprotannya, Gendis melihat sekilas profil wajahnya. Mata itu… cara bibirnya membentuk senyum tipis… Gendis mengenali mata itu. Mata itu sering ia lihat di foto-foto lama Baskara di akun media sosial pribadinya. Mata itu milik teman SMA Baskara yang pernah ia ceritakan sebagai ‘sahabat lama’ yang kebetulan baru kembali ke kota. Nama wanita itu… Sekarwangi. Gendis merasa lututnya lemas. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Ia hanya bisa menatap wanita itu, wanita yang kini tersenyum penuh kemenangan sambil memegang parfum mahal di tangannya. Di sisi lain, ia bisa membayangkan Baskara yang mengatakan ada urusan mendadak di luar kota, padahal ia sedang menghabiskan waktu di sini, dengan wanita ini.
Babak 5 — Keheningan yang Memekakkan
Gendis tidak berani mendekati Sekarwangi. Ia hanya bisa berdiri mematung di lorong toko kosmetik, menatap nanar pada wanita yang pernah ia anggap sebagai teman itu. Sekarwangi ternyata masih sangat cantik, penampilannya pun lebih terawat dari Gendis. Ia menyadari tatapan Gendis, dan senyumnya sedikit memudar. Ia menatap Gendis dari ujung kepala sampai ujung kaki, tatapan yang begitu dingin, begitu menilai. Gendis merasa seperti serangga kecil yang terinjak. Ia ingin bertanya, ingin menuntut penjelasan, tapi kata-kata itu tercekat di tenggorokannya. Baskara pernah berkata bahwa ia menjaga jarak karena takut mengganggu proses penyembuhan Gendis. Tapi kini Gendis sadar, Baskara tidak menjaga jarak karena takut mengganggu kesembuhannya. Baskara menjaga jarak karena ia sudah memiliki orang lain.
Sekarwangi perlahan melangkah mendekat ke arah Gendis. Ia berhenti tepat di depan Gendis, aroma parfumnya yang kuat menyeruak ke hidung Gendis. “Jadi ini kamu,” ucap Sekarwangi dengan nada datar, tanpa emosi. “Baskara pernah cerita soal kamu. Soal penyakitmu.” Kalimat itu seperti tamparan keras bagi Gendis. Ia hanya bisa menunduk, tidak sanggup menatap mata Sekarwangi. “Aku nggak tahu apa yang kamu mau,” bisik Gendis, suaranya nyaris tak terdengar. Sekarwangi terkekeh pelan, sebuah tawa yang tidak sampai ke matanya. “Kamu pikir aku nggak tahu apa yang kamu curigai? Baskara itu… kadang terlalu baik untuk menolak permintaan siapa pun. Termasuk permintaan tolong dariku untuk diantar pulang.” Gendis mendongak, matanya berkaca-kaca. “Diantar pulang? Tapi… struk parkir ini… voucher belanja ini…” Sekarwangi memotong ucapannya, tatapannya menajam. “Voucher itu? Oh, itu hanya tanda terima kasihku untuk Baskara. Dia membantuku menyelesaikan masalah kecil di apartemennya. Sederhana saja.”
“Masalah kecil?” Gendis mengulang, suaranya bergetar. “Masalah apa? Kenapa kamu harus bertemu di sini, dan menggunakan voucher belanja?” Sekarwangi mengangkat bahu santai. “Dia membantuku memperbaiki sesuatu di apartemenku. Dan aku memberikan voucher itu sebagai balasannya. Kami memang dekat, tapi tidak seperti yang kamu pikirkan. Setidaknya, belum.” Kata-kata terakhir itu diucapkan Sekarwangi dengan seringai tipis. Gendis merasa kepalanya berputar. Belum? Belum berarti ada kemungkinan di masa depan? Ia teringat Baskara yang semakin jarang pulang, yang selalu punya alasan untuk tidak menemaninya. Ia teringat tatapan gelisah Baskara saat menerima telepon itu. Ia teringat ibunya yang bertanya kapan ia akan memperkenalkan calon pendamping hidup.
“Kamu… kamu tahu aku sakit,” ucap Gendis lirih. “Kenapa kamu melakukan ini?” Sekarwangi tersenyum sinis. “Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya menerima bantuan dari teman lamaku. Kalau kamu merasa tersakiti, itu urusanmu. Baskara punya beban berat sekarang, mengurus anak istrinya yang sakit. Mungkin ia butuh sedikit hiburan.” Gendis tidak bisa menahan air matanya lagi. Kata-kata Sekarwangi menusuknya lebih dalam dari penyakitnya. Ia merasa dikhianati oleh suaminya sendiri, dan juga oleh seseorang yang ia anggap teman. Ia membalikkan badan, berjalan keluar dari toko itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Langkahnya terasa berat, seperti membawa beban seluruh dunia. Ia masuk ke mobilnya, menyalakan mesin, tapi tidak beranjak dari tempat parkir. Ia hanya duduk di sana, menatap kosong ke depan. Baskara bilang ia pergi keluar kota. Tapi di depannya, ada bukti nyata bahwa ia ada di sini, bersama wanita lain. Gendis meraih ponselnya, membuka galeri foto. Di sana tersimpan foto dirinya dan Baskara, tersenyum bahagia saat mereka pertama kali pindah ke apartemen ini. Foto itu kini terasa seperti kebohongan besar. Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Haruskah ia pulang dan menuntut penjelasan? Ataukah ia harus menerima kenyataan ini, bahwa saat ia berjuang untuk hidup, suaminya justru sedang membangun kehidupan lain?
