Cerita Pengkhianatan: Ia Kira Suaminya Bekerja Lembur, Tapi Struk Pembelian Ini Mengubah Segalanya

Cerita Pengkhianatan: Ia Kira Suaminya Bekerja Lembur, Tapi Struk Pembelian Ini Mengubah Segalanya

CERITA PENDEK

Cerita Pengkhianatan: Ia Kira Suaminya Bekerja Lembur, Tapi Struk Pembelian Ini Mengubah Segalanya

Babak 1 — Senja di Balik Rutinitas

Jam digital di dinding ruang tamu menunjukkan pukul 19:47. Cahaya senja yang temaram menembus jendela, menciptakan siluet panjang furnitur di lantai kayu. Nindya menghela napas, jemarinya bergerak memilah tumpukan cucian kering di keranjang. Aroma deterjen yang bercampur dengan sisa keringat hari itu seharusnya memberinya rasa lega karena tugas rumah tangga selesai. Namun, malam ini, ada kekosongan yang terasa lebih nyata daripada cucian yang harus dilipat.

“Mas Jatmiko belum pulang?” tanya Nindya pada dirinya sendiri, lebih sebagai kebiasaan daripada mencari jawaban. Suaminya, Jatmiko, seringkali pulang larut di minggu-minggu ini. Alasan lembur di kantor akuntan publik yang menuntut itu selalu saja terdengar masuk akal. Nindya berusaha memercayainya, seperti biasanya. Ia tidak suka menaruh curiga, apalagi pada Jatmiko. Pria itu adalah jangkar ketenangan dalam hidupnya yang kadang terasa bergejolak.

Ia meletakkan sisa cucian dan berjalan ke dapur, menyalakan kompor untuk menghangatkan nasi goreng sisa makan siang. Aroma bawang putih dan telur yang ditumis mulai memenuhi ruangan, sedikit mengusir kesunyian. Jari-jarinya tanpa sadar mengetuk-ngetuk permukaan meja granit. Kebiasaan kecil ini muncul saat pikirannya mulai berkelana, melayang ke hal-hal yang tidak seharusnya ia pikirkan. Seperti, mengapa malam ini terasa lebih dingin dari biasanya, padahal AC tidak menyala?

Ting! Suara notifikasi dari ponsel yang tergeletak di meja dapur memecah lamunan Nindya. Sebuah pesan dari grup arisan ibu-ibu kompleks. Ia membukanya sekilas, lalu menutupnya lagi. Bukan sesuatu yang mendesak. Ia kembali menatap wajan. Suara motor yang melintas di jalan depan rumah terdengar samar. Setiap suara kendaraan yang mendekat, ia selalu berharap itu adalah Jatmiko. Tapi setiap kali pula, harapan itu memudar bersamaan dengan suara yang menjauh.

Ia mengambil piring, memindahkan nasi goreng yang sudah hangat. Duduk di meja makan, ia menatap piring itu. Nasi goreng buatannya sendiri, dengan telur mata sapi yang sedikit gosong di pinggirnya. Rasanya hambar. Ia teringat, Jatmiko selalu menyukai nasi goreng buatannya. Katanya, ada rasa ‘rumah’ di setiap suapan. Tapi rumah ini terasa sepi malam ini. Ia mengeluarkan dompetnya dari tas selempang yang tergeletak di kursi sebelahnya. Niatnya hanya ingin mengambil uang kembalian yang ia simpan di salah satu sekat, barangkali bisa dibelikan cemilan untuk menemani malamnya. Tangannya meraih tumpukan kartu dan struk yang terselip rapi.


Babak 2 — Benang Kusut yang Terurai

Di antara kartu-kartu ATM dan kartu nama, sebuah struk berwarna putih pucat menarik perhatian Nindya. Struk kasir dari minimarket modern di dekat kantor Jatmiko. Tanggalnya, hari ini. Waktu pembeliannya, pukul 18:15. Nindya mengerutkan kening. Jatmiko bilang, ia masih di kantor sampai jam delapan malam. Berarti, ini bukan dia. Siapa yang mengambil struk ini? Mungkin jatuh dari tasnya? Ia memeriksanya dengan hati-hati, memastikan struk itu tidak ada sedikitpun bekas lipatan yang tidak wajar, seolah-olah sengaja diselipkan.

Tangannya mulai terasa dingin, meski ia sedang memegang piring nasi goreng. Jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Ia membuka sekat dompet yang lebih dalam, di mana ia biasa menyimpan struk-struk penting yang perlu diingat. Di sana, ia menemukan struk lain. Juga dari minimarket yang sama. Tanggalnya seminggu yang lalu. Waktu pembeliannya juga sore hari. Ada rasa tidak nyaman yang mulai merayap di perutnya.

Ia mengambil struk yang dibelinya hari ini dan membukanya lebar-lebar. Matanya memindai setiap baris tulisan. ‘Kopi Dingin’, ‘Cokelat Batangan’, dan ‘Tisu Basah’. Tidak ada yang mencurigakan. Tapi, ada sesuatu yang janggal. Di bagian bawah, tertera nama barang yang sedikit samar karena sebagian tulisan tertekuk. Ia berusaha meluruskannya. ‘Pembalut Wanita’.

Nindya terdiam. Pandangannya terpaku pada tulisan itu. Kepalanya terasa ringan, seolah darahnya surut seketika. Ia mengulang kata itu dalam hati. ‘Pembalut Wanita’. Ia belum pernah sekalipun membeli produk itu di minimarket tersebut. Jatmiko juga tidak mungkin membelinya. Untuk apa? Ia tidak punya saudara perempuan, tidak ada kerabat dekat yang tinggal di area itu. Lalu, siapa yang membeli itu? Dan mengapa struknya ada di dompet suaminya?

Tangannya yang memegang struk mulai gemetar. Nasi goreng di piringnya terasa semakin hambar. Ia mencoba mencari penjelasan logis. Mungkin saja, ini struk milik rekan kerja Jatmiko yang tertukar. Atau, mungkin Jatmiko menemukannya di lobi kantor dan menyimpannya tanpa sengaja. Tapi, instingnya menjerit. Sesuatu terasa sangat salah. Ia membuka kembali struk yang seminggu lalu. Di sana, tertera barang yang sama. ‘Pembalut Wanita’.


Babak 3 — Lorong Ingatan dan Rekaman Digital

Nindya menutup mata, mencoba menarik kembali memori dari seminggu lalu. Jatmiko pulang pukul sembilan malam, seperti biasa. Ia bilang, ada rapat mendadak dengan klien di luar kota yang harus diselesaikan. Nindya hanya mendengarkan, mengangguk, dan menyiapkan makan malam. Ia tidak ingat ada kejadian aneh. Tidak ada suara telepon yang mencurigakan, tidak ada pesan yang membuatnya curiga. Hanya rutinitas yang berjalan seperti biasa.

Ia membuka ponselnya, jari-jarinya bergerak cepat membuka aplikasi pesan. Ia mencari percakapan terakhir dengan Jatmiko. Semalam, mereka bertukar pesan singkat tentang kebutuhan rumah tangga. Pagi tadi, Jatmiko mengirimkan pesan ‘Selamat pagi, Sayang. Sampai jumpa nanti malam.’ Sederhana. Normal. Tidak ada yang perlu dipertanyakan.

Nindya menghela napas panjang. Mungkin ia terlalu berlebihan. Mungkin saja ini hanya kesalahpahaman. Ia menyimpan kembali struk-struk itu ke dalam dompet. Ia memutuskan untuk tidak membiarkan pikiran negatif menguasainya. Ia melanjutkan melipat cucian, berusaha mengalihkan perhatiannya. Namun, bayangan ‘Pembalut Wanita’ terus berkelebat di benaknya.

Ia lalu membuka aplikasi GoFood. Niatnya ingin memesan sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya, mungkin seblak kesukaannya yang pedasnya nendang. Saat layar aplikasi terbuka, ia melihat daftar riwayat pesanan. Pesanan terakhir adalah nasi goreng yang ia buat sendiri. Ia menggeser layar ke bawah, mencari pesanan yang dilakukan Jatmiko. Biasanya, Jatmiko sering memesan makan siang atau kopi dari kafe dekat kantornya. Ada satu pesanan atas nama Jatmiko, dua hari lalu. ‘Es Kopi Susu Gula Aren’ dan ‘Roti Bakar Cokelat Keju’. Tidak ada yang aneh.

Namun, saat ia menggulir lebih jauh, ia menemukan sesuatu yang lain. Sebuah pesanan atas nama Jatmiko, empat hari lalu. Jaraknya berdekatan dengan waktu pembelian struk kedua. Pesanan itu berisi ‘Cokelat Batangan’ dan ‘Tisu Basah’. Sama seperti yang tertera di struk hari ini. Tapi, yang membuatnya merinding adalah detail pesanan yang tersembunyi. Saat ia membuka detail pesanan, tertera tambahan barang: ‘Pembalut Wanita – Pemesanan Cepat Diam-diam’.

Nindya memejamkan mata lagi. ‘Pemesanan Cepat Diam-diam’. Frasa itu menghantamnya seperti pukulan telak. Ini bukan kebetulan. Ini bukan salah ambil. Ini adalah pesan yang sengaja ditinggalkan atau terselip. Jantungnya berdegup kencang, nafasnya tercekat di tenggorokan. Rasa mual mulai menyerangnya.


Babak 4 — Pertanyaan yang Tak Terucap

Pintu depan akhirnya berderit terbuka, disusul suara langkah kaki yang familiar memasuki apartemen. Nindya masih duduk di meja makan, menatap kosong pada piring nasi gorengnya yang sudah dingin. Ia tidak beranjak. Jatmiko masuk ke dapur, tersenyum lelah.

“Sayang, maaf ya pulang telat lagi. Tadi ada revisi mendadak dari klien,” katanya sambil meletakkan tas kerjanya di kursi. Aroma parfum kantornya bercampur dengan bau luar ruangan. Ia mendekat ke arah Nindya, ingin mencium pipinya.

Nindya sedikit menggeser wajahnya, gerakannya sangat halus sehingga Jatmiko mungkin tidak menyadarinya. “Tidak apa-apa, Mas. Aku sudah makan,” jawab Nindya, suaranya datar, tanpa emosi yang biasanya ia tunjukkan.

Jatmiko mengerutkan kening. “Kamu kenapa? Kok lemas? Sakit?” Tanyanya, nada suaranya berubah menjadi khawatir. Ia menyentuh dahi Nindya.

Nindya menepis tangan suaminya pelan. “Aku tidak sakit. Tapi aku menemukan sesuatu.” Ia menatap Jatmiko lurus, matanya berkaca-kaca namun tatapannya tajam. Di tangannya, ia masih memegang struk minimarket itu.

“Apa itu?” tanya Jatmiko, matanya melirik sekilas ke arah struk di tangan Nindya, lalu kembali menatap wajah istrinya. Ada sedikit keraguan di matanya, sesuatu yang Nindya belum pernah lihat sebelumnya.

“Ini,” Nindya menyerahkan struk itu kepada Jatmiko. “Temuanmu di dompetku. Atau di dompetmu? Aku sendiri sudah bingung.” Ia sengaja menekankan kata ‘dompetku’ untuk melihat reaksinya.

Jatmiko mengambil struk itu, matanya memindai isi struk dengan cepat. Wajahnya memucat. Ia mencoba tersenyum, namun senyum itu terlihat kaku dan dipaksakan. “Oh, ini. Ini pasti salah ambil, Sayang. Mungkin jatuh dari kantorku kemarin.”

“Salah ambil? Dan terselip rapi di dompetku?” Nindya tertawa kecil, tawa yang terdengar getir. “Dan yang seminggu lalu juga salah ambil? Kebetulan sekali ya, Mas. Seminggu sekali, pembalut wanita dari minimarket yang sama, dengan nama barang yang sama, muncul di dompet kita. Betul begitu?” Suaranya mulai bergetar.

Jatmiko terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Matanya menatap kosong ke arah struk di tangannya, seolah mencari jawaban di sana. Kepanikan mulai terlihat jelas di raut wajahnya. Ia membuka mulut untuk bicara, tapi tak ada suara yang keluar. Ia menunduk, tidak berani menatap mata Nindya.


Babak 5 — Langit yang Tak Lagi Sama

Keheningan membentang di antara mereka, lebih berat dari gumpalan awan mendung. Jatmiko masih memegang struk itu, jari-jarinya memutih. Nindya menunggunya bicara, setiap detik terasa seperti satu jam. Ia tidak menangis. Air matanya seolah sudah mengering, digantikan oleh rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

“Nindya…” suara Jatmiko terdengar serak, nyaris berbisik. “Ini… ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Oh ya?” Nindya membalas, nadanya datar. “Lalu, seperti apa? Jelaskan padaku, Mas. Jelaskan bagaimana ‘pemesanan cepat diam-diam’ dari minimarket itu bisa sampai ke dompetku, dan kenapa ada dua kali dalam seminggu terakhir. Jelaskan bagaimana kamu bisa tetap tenang pulang kerja jam sembilan malam, sementara kamu menghabiskan waktu membeli barang-barang ini di jam lima sore.”

Jatmiko menarik napas dalam. Bahunya merosot. Ia masih belum bisa menatap langsung ke mata Nindya. “Aku… aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang. Ini rumit.”

“Rumit?” Nindya berdiri. Ia merasa kakinya lemas, tapi ia memaksakan diri untuk berdiri tegak. “Bagiku, ini sangat sederhana, Mas. Ini adalah kebohongan. Ini adalah pengkhianatan. Bukan soal barangnya, tapi soal niat di baliknya. Soal kenapa kamu harus berbohong.”

Ia berjalan perlahan meninggalkan Jatmiko yang masih membeku di kursi dapur. Nindya menuju kamar tidur, tempat yang tadinya ia anggap sebagai ‘rumah’ baginya. Tapi kini, bahkan ruangan itu terasa asing. Ia membuka lemari pakaian Jatmiko. Ia tidak tahu apa yang ia cari. Ia hanya merasa perlu melakukan sesuatu, apapun itu, untuk mengisi kekosongan yang luar biasa besar ini.

Ia mengambil sebuah syal sutra yang biasa ia kenakan di acara formal. Ia memegangnya erat-erat. Ia teringat Jatmiko pernah membelikan syal ini untuknya di hari ulang tahun mereka yang kelima. Ia pernah bilang, syal ini mengingatkannya pada senyum Nindya. Sekarang, senyum itu terasa seperti sesuatu dari kehidupan lain.

Di luar, suara hujan mulai terdengar rintik-rintik. Senja yang tadinya temaram kini berganti gelap pekat. Nindya berdiri di tepi jendela, menatap keluar. Jatmiko masih duduk di dapur, masih memegang struk itu. Tidak ada teriakan, tidak ada tangisan hebat. Hanya kesunyian yang mencekam, lebih menyakitkan dari kata-kata apapun. Langit yang tadinya ia lihat dengan nyaman, kini terasa seperti kanvas kelabu yang tak berujung. Entah kapan ia akan kembali melihatnya dengan cara yang sama.