Suaminya Bilang Lembur, Tapi Struk Transaksi Dompet Digital Ini Bikin Kalani Hancur Seketika
Babak 1 — Secangkir Kopi Pahit Pagi
Kalani menuang air panas ke bubuk kopi instan, gerakannya otomatis seiring jam waker digital di sudut dapur yang menunjukkan pukul 06:03 WIB. Ia tidak punya selera untuk sarapan berat. Cukup secangkir kopi hitam pekat, tanpa gula, yang pahitnya bisa sedikit mengimbangi rasa pahit yang mulai merayapi lidahnya sejak semalam. Suaminya, Wibisono, sudah berangkat lebih dulu ke kantor. Katanya ada rapat mendadak, harus lebih pagi dari biasanya. Biasanya sih, Wibisono pamit sekitar jam setengah tujuh, masih ada waktu untuk kecupan singkat di kening dan obrolan ringan soal rencana akhir pekan. Tapi pagi ini, hanya keheningan yang menyambut Kalani saat ia membuka pintu kamar tidur yang dingin.
Ia tahu Wibisono pasti lelah. Proyek di kantornya sedang ambisius-ambisiusnya. Sering pulang larut, kadang malah harus menginap di hotel dekat proyek karena pekerjaan yang tak kunjung usai. Kalani selalu berusaha memahami. Ia akan menyiapkan makan malam hangat jika Wibisono pulang terlalu malam, atau sekadar mengirimkan pesan semangat di sela-sela kesibukan suaminya. Kehidupan rumah tangga mereka, walau tanpa anak di tahun kelima pernikahan ini, terasa solid. Setidaknya, itu yang Kalani yakini. Ia adalah tipe istri yang cenderung menghindari konflik, selalu mencoba melihat sisi baik dari setiap masalah. Mungkin itu ‘cacat kecil’ yang membuatnya begitu sulit untuk menyuarakan kekhawatirannya secara gamblang. Lebih baik diam, berharap semua akan baik-baik saja.
Ia menyeruput kopinya perlahan, membiarkan rasa pahitnya menjalar, mencoba menenangkan gelisah yang muncul entah dari mana. Matanya menyapu seisi dapur yang rapi, seperti yang selalu ia jaga. Gelas-gelas kosong di pengering, piring bersih yang tersusun rapi, konter yang bebas dari remah makanan. Semuanya sempurna. Terlalu sempurna, bahkan. Perasaan itu, seperti gatal di bawah kulit yang tak bisa digaruk, semakin kuat. Ia bangkit, meraih ponselnya yang tergeletak di meja makan. Tidak ada notifikasi penting. Hanya grup chat ‘Keluarga Kalani & Wibisono’ yang berisi percakapan basa-basi dan beberapa foto lucu keponakannya yang masih bayi. Ia membuka galeri, men scrolling foto-foto pernikahan mereka. Tawa Wibisono yang lebar saat ijab kabul, senyum Kalani yang sedikit canggung namun bahagia. Semuanya terasa begitu nyata, begitu kokoh. Lalu, kenapa ada rasa ragu yang begitu menusuk?
Sebuah ide terlintas di benaknya. Mungkin jika ia mengecek dompet digital Wibisono, ia bisa melihat jadwal pengeluaran suaminya. Bukan karena tidak percaya, tapi lebih ke ingin tahu. Ingin tahu apakah ada pengeluaran tidak terduga yang bisa jadi sumber stres Wibisono. Ia membuka aplikasi DANA di ponselnya, lalu masuk ke riwayat transaksi Wibisono yang sudah terhubung dengan akunnya. Biasanya, ia hanya melihat riwayat transfer uang bulanan untuk kebutuhan rumah tangga atau sekadar mengisi saldo. Tapi kali ini, ia sengaja menggulir lebih jauh ke bawah. Tanggal transaksi ditampilkan dengan jelas, diikuti nominal dan nama merchant. Ada pembayaran GoFood untuk makan siang, pembelian pulsa, pembayaran tagihan listrik via PLN Mobile. Semua normal.
Hingga matanya terhenti pada satu baris transaksi. Tanggalnya kemarin malam. Pukul 22:17 WIB. Sebuah nama merchant yang sama sekali tidak ia kenali muncul di layar: ‘Bunga Kencana Florist’. Aneh. Wibisono tidak pernah membeli bunga. Kalani pun tidak pernah meminta dibelikan bunga secara mendadak. Terakhir kali Wibisono memberinya bunga adalah saat ulang tahun pernikahan mereka tahun lalu, dan itu adalah rangkaian mawar merah yang ia pesan khusus melalui aplikasi. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ia mencoba mengingat, apakah kemarin Wibisono sempat menyebutkan akan membeli sesuatu? Tidak ada.
Babak 2 — Jejak Digital yang Dingin
Kalani menutup aplikasi DANA, lalu membuka aplikasi pesan singkat yang sama. Ia mencari kontak ‘Wibisono Suami’. Terakhir mereka bertukar pesan adalah kemarin sore, soal Wibisono yang akan makan malam di luar bersama rekan kerja. Kalani membalas singkat, ‘Oke, hati-hati ya’. Tidak ada celah kecurigaan di sana. Lalu, siapa yang mengirim bunga itu? Dan kenapa menggunakan akun Wibisono?
Ia mengabaikan rasa dingin yang mulai menjalar di ujung jarinya, mencoba bersikap logis. Mungkin saja Wibisono membelikan bunga untuk ibunya? Tapi ibunya Wibisono tinggal di luar kota, dan biasanya jika Wibisono ingin mengirimkan sesuatu, ia akan mengabari Kalani agar disiapkan sebagai kejutan. Atau mungkin, ini pesanan kejutan untuk Kalani sendiri? Tapi kenapa tidak ada pemberitahuan dari Wibisono sama sekali? Dan nama ‘Bunga Kencana Florist’ terasa begitu umum, tidak spesifik. Terlalu generik untuk sebuah kejutan spesial.
Kalani terus menggulir riwayat transaksi DANA. Ia mencari transaksi lain yang mencurigakan. Ada beberapa transaksi kecil untuk ojek online, pembelian paket data, bahkan pembayaran parkir di sebuah pusat perbelanjaan di daerah Senayan yang tidak pernah ia kunjungi bersama Wibisono akhir-akhir ini. ‘Senayan City’, nama merchant parkirnya. Wibisono bilang ia tidak ke Senayan. Kemarin malam ia bilang makan malam dengan rekan kerja di sebuah restoran daerah Kemang. Restoran di Kemang tentu saja tidak ada hubungannya dengan parkir di Senayan City. Pikiran Kalani mulai berputar liar, seperti roda yang tersangkut di lumpur dan terus berputar tanpa arah.
Ia membuka aplikasi peta di ponselnya, mencari ‘Bunga Kencana Florist’. Muncul beberapa lokasi, sebagian besar di luar Jakarta. Ada satu yang berlokasi di daerah Cilandak, tapi sepertinya itu adalah toko bunga kecil, bukan florist besar yang bisa mengirimkan pesanan mewah. Kalani merasa pergelangan tangannya mulai sedikit gemetar. Ia meraih gelas kopi yang sudah dingin, tapi kemudian meletakkannya kembali tanpa sempat menyesapnya. Ini bukan seperti dirinya. Ia tidak pernah mencampuri urusan keuangan Wibisono terlalu dalam, percayanya ia dapatkan dari percakapan-percakapan kecil, dari rutinitas harian yang terlihat jujur. Ia tidak pernah merasa perlu untuk mengintai atau mencari tahu.
Namun, jejak digital ini terlalu nyata untuk diabaikan. Transaksi itu adalah bukti. Bukti bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Sesuatu yang terjadi di belakang punggungnya. Rasa mual perlahan naik ke tenggorokannya. Ia merasa seperti sedang tenggelam, ditarik ke dasar laut yang gelap dan dingin oleh beban kesangsian. Ia tahu, ia harus mencari tahu lebih lanjut. Rasa ingin tahu itu kini mengalahkan rasa takutnya. Ia harus melihat siapa pemilik nomor telepon yang terhubung dengan akun ‘Bunga Kencana Florist’ itu. Atau setidaknya, ia harus mencari tahu lokasi persis toko bunga itu, mungkin saja ada petunjuk lain di sana.
Babak 3 — Kenangan dan Kebohongan
Kalani memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba memutar kembali waktu ke kemarin malam. Wibisono pulang sedikit lebih larut dari biasanya, sekitar pukul 20:00 WIB. Ia tampak lelah, rambutnya sedikit berantakan, tapi senyumnya masih sama hangatnya. ‘Maaf ya, Sayang, agak telat. Tadi ada diskusi yang seru sama tim,’ katanya sambil mengecup kening Kalani. Ia bahkan sempat meminta maaf karena tidak bisa menemani Kalani makan malam bersama. Kalani hanya mengangguk, menyiapkan teh hangat untuknya. Saat itu, tidak ada tanda-tanda mencurigakan sama sekali. Wibisono terlihat seperti pria yang baru saja selesai bekerja keras, bukan pria yang baru saja melakukan sesuatu yang tersembunyi.
Sekarang, kebohongan itu terasa begitu nyata, begitu menusuk. Pernyataannya tentang rapat mendadak pagi ini pun mulai terasa meragukan. Mungkinkah ia sengaja berangkat lebih pagi untuk menutupi jejaknya? Atau untuk bertemu dengan seseorang? Kalani merasa otaknya berputar terlalu cepat, mencoba menyusun kepingan puzzle yang entah mengapa terasa asing baginya. Ia membuka kembali galeri foto di ponselnya, mencari foto-foto terbaru Wibisono. Apakah ada perubahan pada ekspresinya? Tatapan matanya? Ia membandingkan foto-foto lama dengan foto terbaru. Semuanya tampak sama. Wibisono yang ia kenal. Tapi, apakah ia benar-benar mengenalnya?
Ia membuka kembali aplikasi DANA. Kali ini, fokusnya bukan pada nama merchant, tapi pada detail transaksi. Ia melihat nomor referensi transaksi. Ada kemungkinan ia bisa menggunakan nomor ini untuk melacak lebih lanjut, meskipun ia tahu itu akan sulit tanpa bantuan pihak berwenang. Namun, setidaknya ia bisa mencoba mencari informasi di internet. ‘Cara melacak nomor referensi transaksi DANA’, ia mengetikkan kata kunci itu di browser. Hasilnya tidak banyak membantu, kebanyakan adalah panduan umum tentang cara penggunaan DANA. Tapi, di salah satu forum, ada seseorang yang menyebutkan bahwa nomor referensi transaksi terkadang bisa dikaitkan dengan ID pelanggan atau ID transaksi dari merchant tertentu.
Kalani kemudian mencari ‘Bunga Kencana Florist’ di media sosial. Ia menemukan beberapa akun, tapi mayoritas adalah toko bunga kecil yang tidak memiliki sistem transaksi digital yang canggih. Ia mencoba mencari nomor telepon yang tertera di salah satu akun, lalu melakukan pencarian terbalik. Hasilnya nihil. Ia merasa frustrasi. Seolah-olah jejak digital ini sengaja dibuat samar. Namun, di tengah keputusasaannya, ia teringat sesuatu. Terakhir kali mereka membeli bunga, Wibisono sempat menyimpan nomor toko bunga langganannya di kontak ponselnya. Kalani mencoba mencari kontak tersebut, namun ia juga tidak menemukan nama ‘Bunga Kencana Florist’.
Ia duduk terdiam di kursi dapur, tatapannya kosong. Di luar, suara mobil lewat sesekali terdengar, tapi bagi Kalani, dunia seolah berhenti berputar. Ia merasa seperti seorang detektif amatir yang mencoba memecahkan kasus rumit dengan petunjuk yang minim. Kenangan tentang Wibisono yang selalu jujur, yang selalu terbuka padanya, kini beradu dengan bukti konkret di layar ponselnya. Ada jurang yang menganga di antara kedua hal itu, dan Kalani tidak tahu bagaimana cara menjembataninya. Ia hanya tahu, ia tidak bisa mengabaikan ini lagi.
Babak 4 — Wajah yang Tak Dikenali
Dalam keputusasaan, Kalani memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia membuka aplikasi GoCar, memesan mobil untuk mengantarnya ke alamat toko bunga yang paling mungkin, yaitu yang berlokasi di Cilandak. Ia mengatakan kepada sopir bahwa ia perlu mengunjungi sebuah toko bunga untuk mengambil pesanan. Setidaknya, itu alasan yang bisa ia berikan tanpa menimbulkan kecurigaan lebih lanjut. Perjalanan itu terasa sangat panjang. Setiap kilometer yang ditempuh mobil seolah menarik Kalani semakin dalam ke dalam pusaran ketidakpastian. Ia terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk, mencoba menepisnya, namun pikiran itu terus berputar.
Sesampainya di Cilandak, Kalani menemukan sebuah toko bunga kecil yang tidak begitu ramai. Beberapa rangkaian bunga tersusun rapi di etalase. Ia masuk ke dalam toko, disambut oleh seorang wanita paruh baya yang ramah. ‘Selamat pagi, Mba. Ada yang bisa dibantu?’ tanya wanita itu sambil tersenyum. Kalani mencoba menahan getaran di suaranya. ‘Pagi, Bu. Saya… saya mau tanya, apakah kemarin malam ada pesanan bunga atas nama Wibisono?’ Kalani menyebutkan nama suaminya dengan hati-hati.
Wajah wanita itu berubah sedikit bingung. Ia memutar komputer kecil di mejanya, mengetikkan sesuatu. ‘Atas nama Wibisono ya, Mba? Sebentar saya cek… Oh iya, ada transaksi kemarin malam, tapi bukan atas nama Wibisono, Mba. Atas nama…’ Wanita itu mengerutkan kening, membaca layar. ‘…atas nama Rengganis?’ Kalani terdiam. Rengganis? Siapa Rengganis? Nama itu sama sekali tidak familiar baginya.
‘Rengganis? Apakah… apakah ada nomor telepon yang tertera?’ tanya Kalani, suaranya sedikit lebih tajam dari yang ia inginkan. Wanita itu kembali melihat layar komputernya. ‘Ada, Mba. Nomornya… 0812 xxxx xxxx.’ Kalani buru-buru mengeluarkan ponselnya, mencatat nomor itu. Ia merasa tenggorokannya tercekat. Nomor itu bukan nomor Wibisono. Tapi transaksi itu terdeteksi di dompet digital Wibisono.
‘Dan… apakah Ibu ingat, siapa yang mengambil pesanan itu kemarin malam?’ tanya Kalani lagi, matanya membelalak penuh harap. Wanita itu berpikir sejenak, lalu menggeleng. ‘Jam segitu biasanya sudah sepi, Mba. Tapi kalau tidak salah, yang mengambil itu bukan Ibu Rengganis langsung. Tapi… seorang wanita muda. Cantik. Pakai baju merah marun. Dia datangnya agak larut, saya agak ingat karena dia buru-buru sekali,’ ujar wanita itu, matanya memandang Kalani dengan sedikit rasa ingin tahu.
Wanita muda. Baju merah marun. Rengganis. Kalani merasa seolah seluruh dunia berputar di sekelilingnya. Bukan lagi tentang kecurigaan, tapi kepastian. Kepastian yang jauh lebih mengerikan dari sekadar dugaan. Ia berterima kasih pada penjaga toko bunga itu dengan terbata-bata, lalu segera keluar. Di dalam mobil GoCar yang menunggu, Kalani menatap layar ponselnya. Ia kembali membuka aplikasi DANA, lalu membuka profil Wibisono. Ia melihat ada fitur ‘Tambahkan Teman’. Ia ragu sejenak, lalu mengetikkan nama ‘Rengganis’ di kolom pencarian. Muncul beberapa akun. Salah satunya, dengan foto profil seorang wanita muda tersenyum cerah, mengenakan blus merah marun.
Babak 5 — Apa yang Hilang di Antara Kita?
Kalani memandangi foto profil Rengganis di layar ponselnya. Senyum wanita itu begitu lepas, begitu percaya diri. Ia tidak bisa lagi menyangkal apa pun. Transaksi bunga itu, pembayaran parkir di Senayan City yang seolah tak terhubung, nama Rengganis yang muncul di toko bunga, dan akhirnya, profil wanita itu di aplikasi DANA. Semuanya membentuk gambaran yang mengerikan. Kalani merasa seolah berdiri di tepi jurang yang dalam, tanpa ada pegangan.
Ia memesan GoCar kembali ke rumah. Perjalanan itu terasa jauh lebih sunyi daripada perjalanan sebelumnya. Pikiran Kalani berkecamuk. Ia mencoba mengingat kembali setiap detail interaksi dengan Wibisono selama beberapa bulan terakhir. Adakah sesuatu yang aneh? Perubahan kebiasaan? Telepon yang sering ia jawab di luar ruangan? Kalani sadar, ia terlalu nyaman dengan rutinitas dan kepercayaan yang ia bangun, sampai-sampai ia menutup mata terhadap kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja sudah ada di depan matanya.
Saat mobil berhenti di depan rumahnya, Kalani merasa seperti baru saja kembali dari dunia lain. Ia membayar sopir dengan uang tunai, lalu masuk ke dalam rumah yang terasa begitu asing. Ia berjalan ke kamar tidur, tempat Wibisono masih tertidur pulas. Kalani duduk di tepi ranjang, menatap wajah suaminya. Wajah yang ia cintai, wajah yang ia percaya. Tapi kini, bayangan Rengganis dan senyumnya terus menghantui pandangannya. Rasa sakit itu semakin dalam, bukan lagi pahit seperti kopi, tapi seperti luka menganga yang perih.
Ia tidak tahu harus bagaimana. Menghadapi Wibisono sekarang terasa mustahil. Ia tidak punya cukup keberanian untuk melontarkan tuduhan, namun juga tidak sanggup untuk terus berpura-pura. Ia meraih ponselnya lagi, lalu membuka chat dengan Rengganis yang baru saja ia tambahkan. Jari-jarinya gemetar di atas keyboard. Apa yang harus ia katakan? ‘Siapa kamu dan kenapa kamu menerima bunga dari suamiku?’ atau ‘Tolong lepaskan suamiku.’ Pilihan-pilihan itu terasa begitu pahit, begitu menyakitkan. Ia merasa begitu lemah, begitu terkhianati.
Kalani bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke lemari pakaian Wibisono, tangannya meraba-raba mencari sesuatu. Bukan pakaian, tapi sesuatu yang mungkin disembunyikan Wibisono. Ia membuka laci kecil di sudut lemari, tempat Wibisono biasa menyimpan dompet cadangan atau kunci-kunci lama. Tangannya menyentuh sebuah buku catatan kecil bersampul coklat yang terlihat asing. Dengan hati-hati, ia membukanya. Halaman pertama tertulis ‘Untuk R’. Dan di bawahnya, sebuah puisi cinta yang manis, ditulis dengan tinta hitam rapi. Di bawah puisi itu, ada tanggalnya: kemarin malam. Kalani menutup buku itu perlahan, air mata mulai membasahi pipinya. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi. Keheningan rumah itu kini terasa begitu mencekam, begitu penuh dengan rahasia yang tak terucap.
