Cerita Suami Pulang Malam: Dompet Tertinggal di Mobil Bikin Rahasia Terbongkar
Babak 1 — Keheningan Malam yang Terpecah
Pintu utama berdecit pelan, menyambut siluet tubuh Dirgantara yang tampak lelah. Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul sebelas malam lebih sepuluh menit. Cahaya temaram dari lampu meja kerja Rengganis hanya menerangi sebagian kecil ruangan, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding. Ia tidak menoleh. Sejak tadi, matanya terpaku pada layar laptop, namun pikirannya melayang entah ke mana. Bunyi derit kunci di lubang pintu hanya menjadi pengingat bahwa ia tak lagi sendirian di rumah itu.
“Mas, kok pulang telat?” Suara Rengganis terdengar datar, nyaris tanpa emosi. Ia tetap membalikkan halaman dokumen digital, jari-jarinya mengetuk-ngetuk perlahan di permukaan meja.
Dirgantara menghela napas panjang, suara yang sarat kelelahan. Ia melepas sepatu pantofelnya di dekat rak, lalu berjalan menuju meja dapur. “Iya, ada revisi dadakan dari Pak Bram. Tahu sendiri kan, kalau Pak Bram sudah minta, nggak bisa ditunda.” Ia membuka kulkas, meraih sebotol air mineral dingin. Suaranya serak, seperti biasa setelah seharian bekerja.
Rengganis mengangguk samar. “Sudah makan, Mas?”
“Belum. Nanti saja. Kamu sudah makan?” Dirgantara menutup pintu kulkas, tegukan panjang air dingin membasahi tenggorokannya yang kering. Ia berjalan mendekati Rengganis, mencondongkan tubuhnya sedikit untuk mengecup puncak kepala istrinya.
Rengganis sedikit menegang di kursinya. Ia mencoba menahan diri agar tidak mundur. Ciuman itu terasa asing, dingin. “Sudah. Tadi sambil ngerjain laporan.” Ia memutar kursinya perlahan, menghadap Dirgantara. Matanya berusaha menahan tatapan suaminya, mencari celah untuk tidak tenggelam dalam pandangannya yang seolah menyembunyikan sesuatu.
“Oh, baguslah kalau begitu. Aku ke kamar dulu, ya. Mandi sebentar.” Dirgantara beranjak, tangannya merogoh saku celana kerjanya. “Dompetku kayaknya ketinggalan di mobil. Nanti aku ambil sebentar.” Kalimat itu terucap begitu saja, tanpa beban, seolah itu adalah hal paling biasa di dunia.
Rengganis hanya bergumam. Saat Dirgantara berbelok menuju teras belakang, tangannya yang tadinya ingin memegang mouse, kini malah gemetar. Dompet ketinggalan di mobil? Malam-malam begini? Kebiasaan Dirgantara selalu meletakkan dompetnya di saku depan celana atau di tas kerjanya. Jarang sekali, bahkan mungkin tidak pernah, dompet itu tertinggal di mobil.
Babak 2 — Jejak yang Terbuka
Jantung Rengganis berdegup kencang. Rasa penasaran yang bercampur dengan firasat buruk mulai menggerogoti ketenangannya. Ia mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa itu hanyalah kebetulan. Mungkin Dirgantara terlalu lelah, atau terburu-buru. Tapi entah mengapa, nalurinya berteriak lain. Ia mematikan laptopnya, lalu bangkit dari kursi. Langkahnya tertatih menuju teras depan, tempat mobil hitam suaminya terparkir rapi di bawah sorot lampu jalan.
Angin malam berembus pelan, membawa aroma tanah basah sisa hujan sore tadi. Rengganis merapatkan jaket tipis yang dikenakannya. Ia melirik ke arah garasi, Dirgantara belum keluar. Ia memutuskan untuk mengambil kesempatan itu. Perlahan, ia membuka pintu mobil suaminya. Bau khas kulit mobil bercampur dengan wangi maskulin yang familiar, namun terasa ada yang berbeda malam ini. Ada aroma samar parfum wanita yang asing.
Ia menyalakan lampu kabin. Matanya menyapu seluruh bagian interior. Jok, dashboard, konsol tengah. Semuanya terlihat rapi, seperti biasa. Kemudian, pandangannya tertuju pada saku di belakang jok penumpang depan. Saku itu sedikit menggembung. Dengan tangan yang masih bergetar, Rengganis merogohnya. Bukan dompet. Melainkan sebuah kartu nama dengan desain yang elegan, berbeda dari kartu nama profesional yang biasa digunakan Dirgantara.
Tangannya gemetar hebat saat membalik kartu itu. Tertera nama, nomor telepon, dan sebuah alamat: ‘Amelia – Perencana Keuangan Pribadi’. Di bagian bawah, tertera logo sebuah perusahaan konsultan yang tidak pernah Rengganis dengar sebelumnya. Amelia. Siapa Amelia? Kenapa suaminya menyimpan kartu nama seorang perencana keuangan pribadi di saku belakang jok mobilnya, dan kenapa ada aroma parfum wanita asing tercium?
Ia kemudian melirik ke bawah, ke area lantai di samping jok penumpang. Ada sebuah struk parkir terlipat rapi, terlihat jelas tergeletak di sana. Ini aneh. Dirgantara selalu berusaha menjaga kebersihan mobilnya. StruK parkir ini tampak seperti sengaja ditinggalkan. Dengan napas tertahan, Rengganis mengambilnya. Tanggalnya adalah hari ini. Waktu keluar parkir pukul 20.47. Lokasinya di sebuah gedung perkantoran ternama di bilangan Sudirman. Gedung yang katanya baru saja menyelesaikan renovasi dan memiliki kafe-kafe mewah di dalamnya. Di hari yang sama, Dirgantara bilang ia lembur di kantornya sendiri.
Babak 3 — Ingatan yang Menipu
Pikiran Rengganis berputar kencang. 20.47. Jam itu sangat spesifik. Dirgantara bilang Pak Bram memintanya revisi dadakan. Tapi kantor Pak Bram jauh dari Sudirman, di daerah Kuningan. Mengapa Dirgantara parkir di Sudirman? Dan jika ia memang ada urusan pekerjaan, mengapa harus ada kartu nama perencana keuangan pribadi di sana? Dan parfum wanita itu? Semakin Rengganis memikirkannya, semakin banyak pertanyaan yang bermunculan, saling tumpang tindih, menciptakan pusaran kecurigaan yang mencekik.
Ia teringat beberapa minggu terakhir. Dirgantara memang sering pulang larut. Alasannya selalu sama: lembur, rapat mendadak, atau urusan klien yang tak terduga. Rengganis yang biasanya perhatian, kali ini hanya diam saja. Ia merasa suaminya semakin sibuk, semakin sulit dihubungi. Pesannya sering dibalas singkat, panggilannya tak jarang tak terjawab dengan alasan ‘sedang rapat’. Dulu, mereka akan menghabiskan malam bersama, menonton film, atau sekadar mengobrol di balkon sambil menyeruput teh hangat. Sekarang, Rengganis lebih sering menghabiskan malam sendirian, ditemani kesunyian.
Ia membuka aplikasi pesan di ponselnya. Mencari percakapan dengan Dirgantara. Terakhir kali mereka bertukar pesan cukup panjang adalah seminggu yang lalu, membahas rencana liburan keluarga yang entah mengapa kini terasa seperti mimpi yang jauh. Ia membuka galeri foto. Deretan foto pernikahan mereka, foto liburan di Bali, foto-foto sederhana saat akhir pekan. Wajah Dirgantara di foto-foto itu terlihat bahagia, penuh cinta. Tapi wajah Dirgantara yang ia lihat beberapa bulan terakhir terasa berbeda. Ada semacam beban, keraguan, atau mungkin… rasa bersalah?
Rengganis ingat betul saat Dirgantara pernah bercerita tentang Amelia saat makan malam di sebuah restoran Italia tiga bulan lalu. Dirgantara bilang ia akan bertemu dengan seorang ahli keuangan untuk membicarakan investasi masa depan mereka. “Namanya Amelia, Ran. Dia punya reputasi bagus. Katanya bisa bantu kita atur aset lebih baik lagi,” ucap Dirgantara saat itu, matanya berbinar optimis. Rengganis hanya tersenyum, ia percaya sepenuhnya pada suaminya. Kini, kartu nama Amelia itu tergeletak di tangannya, saksi bisu dari sebuah kebohongan yang terstruktur.
Ia kembali melihat struk parkir itu. Di bagian bawah, tertera nama kafe: ‘The Gilded Spoon’. Ia pernah melihat postingan kafe itu di Instagram, tempatnya sangat instagramable, sering dijadikan lokasi pemotretan. Mungkin Dirgantara hanya mampir sebentar setelah urusan pekerjaan? Tapi kenapa harus berbohong tentang lembur di kantornya sendiri? Dan aroma parfum itu? Rengganis merasa kepalanya berdenyut sakit. Ia memutuskan untuk duduk sebentar di teras, mencoba menenangkan diri.
Babak 4 — Konfrontasi yang Tak Diinginkan
Dirgantara keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di leher. Ia melihat Rengganis masih duduk di teras depan, di dekat mobil. Lampu kabin mobil masih menyala. Ada rasa aneh yang menjalar di hatinya. “Ran? Kamu kenapa di sini? Dingin lho,” tanyanya, suaranya sedikit ragu.
Rengganis tidak langsung menjawab. Ia bangkit perlahan, matanya menatap lurus ke arah Dirgantara. Tatapan itu dingin, tajam, tidak seperti Rengganis yang ia kenal. Di tangannya, ia menggenggam kartu nama dan struk parkir itu.
“Kamu bilang lembur di kantor Pak Bram, Mas,” ucap Rengganis, suaranya lirih namun tegas. “Tapi struk ini dari Sudirman, kafe The Gilded Spoon. Jamnya tadi jam delapan malam. Kamu di sana sama siapa, Mas?” Ia melangkah mendekat, memberikan kedua benda itu pada Dirgantara.
Dirgantara terdiam. Wajahnya pucat pasi. Ia melihat kartu nama di tangannya, lalu struk parkir. Matanya membelalak sejenak, lalu ia membuang muka, tidak sanggup menatap istrinya.
“Siapa Amelia, Mas?” tanya Rengganis lagi, suaranya mulai bergetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Kamu bilang dia perencana keuangan kita. Tapi kenapa ada di saku belakang jok mobilmu? Dan kenapa aku mencium bau parfumnya tadi?” Pertanyaan-pertanyaan itu keluar seperti rentetan peluru, menghantam pertahanan Dirgantara.
Dirgantara masih membeku. Ia menunduk, jari-jarinya meremas kartu nama dan struk itu begitu erat hingga kusut. Keheningan menyelimuti mereka, hanya dipecah oleh suara jangkrik di kejauhan. Rengganis melihat suaminya, pria yang ia cintai, yang ia percayai, kini berdiri di hadapannya dengan wajah penuh rasa bersalah yang tak terucap.
“Aku… aku bisa jelaskan, Ran,” ucap Dirgantara akhirnya, suaranya serak. Ia mencoba meraih tangan Rengganis, namun Rengganis menarik tangannya.
“Jelaskan apa, Mas? Jelaskan kenapa kamu bohong? Jelaskan siapa Amelia sebenarnya? Jelaskan kenapa mobilmu berbau parfum wanita lain?” Air mata Rengganis kini mengalir deras. Ia menatap suaminya dengan pandangan kecewa yang mendalam.
Dirgantara membuka mulutnya, namun kata-kata tak kunjung keluar. Ia tampak seperti orang yang baru saja tertangkap basah, terpojok, tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak menjawab pertanyaan Rengganis. Ia hanya berdiri di sana, mematung, dikalahkan oleh kebenaran yang terkuak dari sebuah dompet yang tertinggal di mobil.
Babak 5 — Retakan di Cermin Jiwa
Rengganis membalikkan badan, memunggungi Dirgantara. Ia menatap kegelapan malam, mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Ia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang, siap untuk jatuh. Pernikahan mereka, yang ia kira kokoh bagai karang, kini retak tak beraturan. Setiap kenangan indah yang pernah mereka ukir bersama kini terasa ternoda, kehilangan kilaunya.
“Jadi… selama ini aku hanya boneka, Mas?” Suara Rengganis terdengar bergetar hebat. “Semua rencana liburan, semua obrolan manis… semua bohong?” Ia memejamkan mata, berusaha menahan tangisannya agar tidak meledak lagi.
Dirgantara masih berdiri kaku, tidak bergerak. Ia seperti patung yang terpaku di tempat. Ia ingin mengatakan sesuatu, ingin meminta maaf, ingin menjelaskan. Tapi lidahnya kelu. Ia tahu, seberapa pun keras ia mencoba menjelaskan, kata-kata itu tidak akan pernah cukup untuk menambal luka yang sudah tercipta.
“Aku… aku tidak tahu harus mulai dari mana,” gumam Dirgantara, suaranya hampir tak terdengar. Ia merasa dunianya runtuh. Ia telah menghancurkan kepercayaan yang telah ia bangun bertahun-tahun dengan Rengganis. Ia menyesali setiap kebohongan, setiap pertemuan rahasia yang ia lakukan.
Rengganis tertawa kecil, tawa yang terdengar getir dan penuh kepedihan. “Memang tidak ada yang perlu dimulai, Mas. Semuanya sudah jelas. Kartu nama itu… dan struk itu… sudah bicara banyak.” Ia membuka matanya, membiarkan air mata yang tersisa mengalir di pipinya. Ia berbalik lagi, menatap Dirgantara dengan pandangan yang sulit diartikan. Bukan lagi amarah, bukan lagi kekecewaan murni. Ada semacam kesedihan yang mendalam, kelelahan yang luar biasa.
“Aku tidak butuh penjelasanmu lagi, Mas Dirgantara. Aku hanya butuh waktu. Waktu untuk berpikir. Waktu untuk mencerna semua ini.” Rengganis melangkah melewati Dirgantara, menuju kamar tidur mereka. Ia tidak peduli lagi dengan bau parfum asing atau struk parkir yang tertinggal. Ia hanya ingin menghilang, setidaknya untuk malam ini. Ia membuka pintu kamar dan masuk, menutupnya perlahan tanpa menguncinya.
Dirgantara hanya bisa mematung di teras depan, menatap pintu kamar yang tertutup itu. Di tangannya, kartu nama Amelia dan struk parkir The Gilded Spoon masih tergenggam erat, saksi bisu dari retakan yang baru saja terjadi dalam pernikahan mereka. Malam itu, keheningan yang tadinya terasa nyaman, kini berubah menjadi beban berat yang menyesakkan dada, menyimpan sejuta pertanyaan yang menggantung tanpa jawaban pasti.
