Cerita Rumah Tangga: Suaminya Bilang Lembur, Tapi Struk Ini yang Bikin Pernikahannya Runtuh
Babak 1 — Senja di Dapur Cendana
Wangi seblak kering yang baru saja ia aduk di wajan sedikit menenangkan suasana hati Kalina. Bau udang rebon yang khas, bercampur dengan kencur dan cabai rawit, adalah aroma yang paling ia sukai di rumah ini. Aroma rumah. Tapi sore ini, aroma itu terasa hambar, seperti janji yang tak terpenuhi. Jari-jemarinya yang sedikit lengket oleh bumbu masih menari di atas kompor gas, membalik potongan ayam yang mulai kecoklatan. Matanya sesekali melirik ke arah pintu utama. Pukul tujuh malam. Masih belum ada tanda-tanda kehadiran Dirgantara, suaminya. ‘Lembur lagi,’ desahnya lirih, hampir tak terdengar di tengah desis minyak. Ia sudah terbiasa. Dirga memang sedang sibuk-sibuknya di kantor konsultan tempatnya bekerja, proyek besar katanya. Tapi entah kenapa, malam ini ada rasa ganjil yang merayap di perutnya. Perasaan yang sulit digambarkan. Seperti ada kerikil kecil yang terselip di balik senyum suaminya belakangan ini. Ia mencoba mengenyahkannya. Mungkin hanya lelah. Ia melanjutkan memasak, sesekali menyenandungkan lagu lawas yang diputar samar dari radio dapur.
Kalina adalah tipe istri yang perfeksionis dalam hal rumah tangga. Segala sesuatu harus tertata rapi, makanan harus disiapkan dengan cinta, dan rumah harus selalu wangi dan bersih. Ia percaya, kebahagiaan dalam rumah tangga dibangun dari detail-detail kecil. Mulai dari menyiapkan bekal makan siang Dirga dengan tulisan tangan penyemangat di secarik kertas kecil, hingga memastikan kaus kaki suaminya selalu terlipat rapi di laci. Tapi malam ini, rutinitas itu terasa seperti gerakan tanpa jiwa. Ia menyiapkan piring kedua, seolah Dirga akan segera duduk di hadapannya dan berbagi cerita tentang hari yang melelahkan. Seolah ia belum mendengar alasan ‘lembur’ itu berulang kali akhir-akhir ini. Ia berjalan ke ruang tengah, menyalakan televisi dengan remote yang tergeletak di meja kopi. Acara gosip yang biasanya ia abaikan, kini menjadi pengisi keheningan yang mencekam.
‘Jam segini belum pulang, Mas Dirga?’ suara pembawa acara bergema di ruangan. Kalina tersenyum kecut. Ia tahu pasti Dirga akan pulang larut. ‘Paling mentok jam sebelas,’ pikirnya. Tapi harapan untuk bisa makan malam berdua, obrolan ringan sebelum tidur, semua itu terasa seperti mimpi yang semakin menjauh. Ia kemudian beranjak ke kamarnya, mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas. Jemarinya bergerak lincah membuka aplikasi percakapan. Tumben Dirga tak mengirim pesan selamat malam. Ia membuka chat terakhir mereka. ‘Oke, Sayang. Sampai ketemu nanti.’ Pesan itu dikirim Dirga tadi sore. Hanya tiga kata. Sangat tidak seperti Dirga yang biasanya cerewet dan penuh perhatian.
Ada keraguan samar yang hinggap di benaknya. Ia membuka kembali daftar kontak Dirga. Jari telunjuknya melayang di atas nama ‘Dirga’. Tak ada niat untuk menelepon. Hanya ingin memastikan. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan gelombang kecemasan yang mulai menguar. Saat ia membuka mata, matanya tertuju pada sebuah objek kecil yang tergeletak di lantai dekat laci nakas. Benda itu bukan milik mereka. Kalina mengerutkan kening. Ia memungutnya. Sebuah struk parkir berwarna putih.
Babak 2 — Struk Parkir di Lantai Kamar
Jantung Kalina berdetak lebih cepat. Struk parkir itu tergeletak begitu saja, seolah jatuh dari saku celana Dirga. Tapi masalahnya, mereka tidak pernah parkir di area itu belakangan ini. Lokasi parkir yang tertera di struk itu adalah sebuah pusat perbelanjaan di pinggir kota, sebuah tempat yang jarang sekali mereka kunjungi. Terakhir kali mereka ke sana adalah saat ulang tahun pernikahan mereka yang pertama, tiga tahun lalu. ‘Aneh,’ gumamnya. Ia membolak-balik struk itu. Tertulis waktu ‘19:45’ dan tanggal hari ini. Dirga bilang dia lembur. Tapi kenapa ada struk parkir dari tempat yang jauh dari kantornya, dan jamnya pun masih sore? Tangannya mulai gemetar. Ia mencoba menenangkan diri. Mungkin Dirga mampir sebentar setelah kantor? Tapi untuk apa? Dan kenapa tidak bilang?
Ia beranjak ke lemari pakaian Dirga yang masih berantakan karena ia belum sempat merapikannya. Setiap laci, setiap sudut, ia periksa dengan teliti. Tidak ada yang aneh. Hanya tumpukan kemeja, celana panjang, dan beberapa aksesori kerja. Ia kembali duduk di tepi ranjang, struk parkir itu masih tergenggam erat di tangannya. Ia membuka aplikasi peta di ponselnya. Mencari alamat pusat perbelanjaan yang tertera di struk. Ternyata lokasinya memang lumayan jauh dari kantor Dirga. Bisa ditempuh sekitar empat puluh lima menit jika lalu lintas lancar. Tapi hari ini, jam tujuh malam, lalu lintas di Jakarta sudah pasti padat merayap. ‘Kalau memang lembur, bagaimana mungkin dia bisa sampai di sana jam segitu?’ pikirnya getir. Ia membuka kembali aplikasi pesan Dirga. Ia membaca lagi chat terakhir mereka. ‘Oke, Sayang. Sampai ketemu nanti.’ Ada nada kekecewaan yang samar dalam pesan itu. Seolah Dirga tahu ia akan pulang larut, dan sengaja memilih untuk tidak kembali ke rumah malam ini?
Ia kemudian teringat sebuah detail kecil yang sudah lama ia abaikan. Belakangan ini, Dirga sering sekali mengganti rutinitas pulang kerjanya. Dulu, ia selalu memilih rute yang biasa dilewati, yang paling cepat. Tapi beberapa minggu terakhir, ia sering memilih jalan memutar, dengan alasan ‘mencari suasana baru’ atau ‘menghindari macet’. Kalina yang terlalu percaya selalu mengiyakan. Ia tidak pernah curiga sedikit pun. Terlalu sibuk dengan urusan rumah tangga dan yakin bahwa suaminya mencintainya sepenuh hati. Kini, setiap momen itu seperti berputar kembali di kepalanya, membentuk sebuah gambaran yang mengerikan. Ia mencoba mengabaikan pikiran buruk itu. ‘Jangan prasangka buruk, Lina. Ini pasti ada penjelasan logisnya,’ bisiknya pada diri sendiri. Tapi hati kecilnya menjerit sekeras mungkin. Ia kembali menatap struk parkir itu. Tertera biaya parkir Rp 5.000. Sebuah jumlah yang sangat kecil, tapi terasa seperti bom waktu yang siap meledak.
Ia berdiri, membuang struk itu ke tempat sampah. Ia harus segera mandi dan bersiap tidur. Mungkin ia hanya terlalu lelah dan terbawa perasaan. Namun, setiap kali ia memejamkan mata, gambar struk parkir itu kembali muncul. Seolah menggodanya untuk menggali lebih dalam. Kalina akhirnya memutuskan. Ia tidak bisa tidur nyenyak malam ini jika tidak mencari tahu kebenarannya. Ia mengambil kembali struk parkir itu dari tempat sampah. Tangannya masih gemetar, tapi kali ini, ada tekad yang membara di matanya. Ia akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Babak 3 — Jejak Digital yang Mengejutkan
Kalina duduk di depan laptopnya, jarinya menari di atas keyboard. Ia membuka akun media sosial Dirga. Sebenarnya ia jarang sekali membuka akun suaminya. Baginya, Dirga bukan tipe orang yang suka memamerkan kehidupan pribadinya di dunia maya. Tapi malam ini, nalurinya mengatakan lain. Ia mencoba mencari tahu aktivitas Dirga di pusat perbelanjaan itu. Ia membuka fitur lokasi di salah satu unggahan Dirga tiga tahun lalu. Sebuah foto makan malam romantis di restoran Italia yang ada di pusat perbelanjaan itu. Lokasinya tercatat jelas.
Ia kemudian membuka aplikasi Gojek. Ia berpikir, mungkin Dirga menggunakan jasa ojek online untuk mengantarnya ke sana. Ia membuka riwayat pemesanan Dirga. Tidak ada. Ia beralih ke aplikasi Grab. Tetap nihil. Kalina mulai merasa putus asa. Ia lalu teringat satu aplikasi lain yang sering digunakan Dirga untuk memesan makanan. ‘Ah, coba saja,’ gumamnya sambil membuka aplikasi pesan antar makanan itu. Ia masuk ke akun Dirga. Matanya menyapu daftar riwayat pemesanan. Kebanyakan adalah pesanan makan siang atau makan malam di sekitar kantor. Namun, matanya tertuju pada satu pesanan dengan tanggal dan waktu yang sama persis dengan struk parkir itu. Pesanan itu adalah dua porsi nasi goreng spesial dari sebuah restoran di dalam pusat perbelanjaan tersebut.
‘Nasi goreng?’ bisiknya heran. Dirga tidak begitu suka nasi goreng. Ia lebih suka mi ayam atau sate. ‘Siapa yang memesan ini?’ pikirnya. Ia mengklik detail pesanan. Tertera nama penerima ‘Nadia’. Sebuah nama yang sama sekali tidak ia kenal. Jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba mengingat-ingat apakah Dirga pernah menyebut nama itu sebelumnya. Tidak pernah. Ia lalu membuka daftar kontak Dirga, mencari nama ‘Nadia’. Kosong. Kalina semakin yakin ada sesuatu yang tidak beres. Ia menutup aplikasi pesan antar makanan itu. Ia kemudian membuka aplikasi perbankan Dirga di ponselnya. Ia tahu ini salah, tapi ia tidak bisa menahan diri lagi. Ia melihat mutasi rekening Dirga untuk tanggal hari ini. Terlihat jelas ada transaksi sebesar Rp 95.000 di restoran yang sama dengan pesanan nasi goreng tadi.
‘Siapa Nadia ini?’ pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Kenangan tiga tahun lalu saat Dirga mengajaknya makan malam di restoran yang sama kini terasa seperti ejekan. Apakah ini hanya kebetulan semata? Atau Dirga sengaja memilih tempat itu karena kenangan mereka? Pikiran Kalina berkecamuk. Ia mencoba mencari tahu lebih lanjut tentang ‘Nadia’ di media sosial. Ia membuka Instagram dan Twitter Dirga. Tidak ada nama ‘Nadia’ yang muncul sebagai teman atau pengikut. Ia bahkan mencari nama ‘Nadia’ di Google, berharap menemukan sesuatu. Hasilnya nihil. Ia merasa seperti sedang bermain detektif dalam sebuah drama murahan. Tapi kebenaran terasa semakin dekat, dan semakin menyakitkan.
Babak 4 — Percakapan Dingin di Telepon
Pukul sebelas malam. Dirga akhirnya pulang. Ia masuk ke kamar dengan langkah gontai, wajahnya terlihat lelah. Ia melempar tas kerjanya ke lantai dan langsung menuju kamar mandi tanpa banyak bicara. Kalina memperhatikannya dari balik selimut. Ia tidak berani menatap mata suaminya. Perasaan campur aduk antara marah, kecewa, dan takut melandanya. Ia memutuskan untuk menunggu Dirga selesai mandi. Saat Dirga keluar dari kamar mandi, handuk melilit pinggangnya, Kalina memberanikan diri.
“Mas,” panggilnya lirih. Dirga menoleh, ekspresinya datar. “Sudah pulang?” tanyanya, seolah tak tahu Kalina sudah menunggunya sejak sore. “Iya,” jawab Kalina singkat. Ia menarik napas dalam-dalam. “Tadi siang, aku menemukan ini,” ia meraih struk parkir yang tadi ia ambil lagi dari tempat sampah, meletakkannya di atas nakas. Dirga mengerutkan kening, mengambil struk itu dan membacanya sekilas. “Ini apa?” tanyanya dingin. Kalina mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. “Ini struk parkir dari pusat perbelanjaan di Cilandak. Jamnya jam tujuh malam. Mas bilang lembur. Tapi kok ada di sini?”
Dirga terdiam sejenak. Raut wajahnya berubah menjadi sedikit gelisah. “Oh, itu…” ia mulai bicara, tapi kemudian terhenti. “Aku mampir sebentar mengambil barang untuk klien,” katanya, suaranya terdengar sedikit ragu. “Barang apa? Kenapa tidak bilang?” desak Kalina, suaranya mulai bergetar. “Bukan urusan kamu,” jawab Dirga singkat, nadanya mulai meninggi. Kalina terkejut dengan respons suaminya. Ia tidak pernah melihat Dirga sekasar ini padanya. “Bukan urusan aku? Mas, kita ini suami istri. Aku berhak tahu!” ucap Kalina, suaranya kini penuh emosi. Dirga mendengus. “Kamu tidak akan mengerti.” Ia lalu teringat detail lain. “Dan tadi aku lihat di aplikasi pesan antar makanan, Mas pesan dua nasi goreng untuk Nadia. Siapa Nadia?” tanya Kalina, matanya menatap tajam ke arah Dirga.
Wajah Dirga pucat pasi. Ia jelas terkejut dengan pertanyaan itu. Ia menelan ludah, seolah kesulitan menemukan kata-kata. “Nadia? Siapa Nadia? Aku tidak kenal siapa-siapa namanya Nadia,” kilahnya. Namun, Kalina bisa melihat kebohongan di matanya. Ia sudah mengenal Dirga selama bertahun-tahun. Ia tahu kapan suaminya berbohong. “Mas, jangan bohongi aku lagi. Aku tahu semuanya,” kata Kalina, suaranya parau. Ia kemudian mengambil ponselnya, membuka aplikasi pesan antar makanan dan menunjukkan pesanan nasi goreng itu pada Dirga. Wajah Dirga semakin memucat. Ia tak bisa berkata-kata. Ia hanya berdiri mematung, menundukkan kepala. Keheningan yang tercipta terasa lebih memekakkan telinga daripada teriakan apapun. Tepat di saat itu, ponsel Dirga berdering. Sebuah pesan masuk. Kalina melirik sekilas. Nama pengirimnya: ‘Nadia’. Pesan itu berbunyi: ‘Sayang, aku sudah di apartemen. Kamu di mana?’ Kalina terdiam. Air mata mulai mengalir deras di pipinya.
Babak 5 — Pintu Apartemen yang Terbuka
Dirga mematung. Matanya terpaku pada layar ponselnya yang menyala, menampilkan pesan dari Nadia. Ia kemudian mengangkat wajahnya, menatap Kalina dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah yang mendalam di sana, namun juga semacam keputusasaan. Kalina masih berdiri di tempatnya, air mata membasahi pipinya. Ia tidak menangis histeris, hanya berlinang air mata tanpa suara, memandang suaminya dengan tatapan kosong. Keheningan kembali menyelimuti ruangan, kali ini terasa lebih berat dan mencekam.
“Jadi… ini yang terjadi?” suara Kalina serak, nyaris tak terdengar. Dirga membuka mulutnya, namun tak ada kata yang keluar. Ia hanya menggelengkan kepala pelan, seolah tak tahu harus berkata apa lagi. Kalina memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. “Siapa dia, Mas?” tanyanya lagi, kali ini suaranya terdengar lebih tegas, meski masih bergetar. Dirga akhirnya menatap matanya. “Dia… dia adalah rekan kerja Mas. Kami terlibat masalah bersama di kantor,” jawab Dirga, mencoba mencari alasan yang masuk akal. Namun, Kalina tahu itu bohong. Pesan dari Nadia, ‘Sayang, aku sudah di apartemen,’ jelas bukan ungkapan seorang rekan kerja.
Kalina menggelengkan kepala perlahan. “Aku tidak percaya lagi, Mas.” Kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirnya. Ia merasa dunianya runtuh. Pernikahan yang ia bangun dengan penuh cinta dan kepercayaan, kini hancur berkeping-keping karena sebuah struk parkir dan sebuah nama. Ia berbalik, berjalan keluar dari kamar tidur. Dirga memanggil namanya, “Kalina! Tunggu!” Tapi Kalina terus berjalan. Ia tidak tahu harus ke mana, tapi ia tidak bisa berada di ruangan yang sama dengan Dirga lagi. Ia membuka pintu utama, melangkah keluar menuju kegelapan malam. Di luar, udara dingin menyergap kulitnya, namun ia tak merasakan apapun.
Ia berjalan tanpa tujuan. Matanya melihat ke sekeliling, ke arah lampu-lampu kota yang berkelip di kejauhan. Tiba-tiba, sebuah mobil hitam melaju pelan dan berhenti di depannya. Kaca jendela mobil itu diturunkan. Di dalamnya, duduk seorang wanita dengan rambut panjang tergerai dan riasan wajah yang cukup tebal. Kalina mengenali wajah itu dari foto profil di akun pesan antar makanan. Nadia. “Mau ke mana, Mbak?” tanya Nadia dengan suara yang terdengar sedikit cemas, namun juga penuh kewaspadaan. Kalina menatapnya lekat. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Apakah ia harus bilang bahwa ia adalah istri sah dari pria yang baru saja ia kirimi pesan mesra? Atau haruskah ia berpura-pura tidak tahu apa-apa? Pertanyaan itu menggantung di udara, begitu pula nasib pernikahan Kalina.
