Cerita Rumah Tangga: Suaminya Berjanji Pulang Cepat, Tapi Ini yang Ditemukan Buat Jiwanya Retak
Babak 1 â Janji Kopi Pagi yang Tak Terpenuhi
Nindya menyeduh kopi tubruk kesukaan Pradipta dengan gerakan yang lebih hati-hati dari biasanya. Aroma robusta yang pekat itu seharusnya terasa menenangkan, pengantar ritual pagi mereka sebelum kesibukan merenggut masing-masing. Tapi pagi ini, aroma itu justru terasa sedikit mengganjal, seperti ada sesuatu yang tak terucap di antara senyum tipis yang dipaksakan Pradipta. Ia menatap jam dinding di atas kulkas, jarum panjangnya berdetak pelan, menghitung mundur menuju pukul tujuh. ‘Aku usahakan pulang cepat, Sayang. Ada rapat penting jam lima sore, tapi semoga nggak sampai larut,’ kata Pradipta sambil meraih tas kerjanya yang tergeletak di sofa ruang tamu. Ia mengecup kening Nindya sekilas, sebuah kebiasaan yang tak pernah pudar meski usia pernikahan mereka sudah menginjak tahun kelima.
Nindya membalas kecupannya, merasakan getaran janggal yang menjalar di dadanya. ‘Hati-hati ya, Mas,’ jawabnya serak. Ia melihat punggung suaminya menghilang di balik pintu, lalu ia kembali ke dapur. Cangkir kopi Pradipta masih mengepul di atas meja. Ia mengambilnya, berniat membawanya ke kamar tidur agar suaminya bisa meminumnya sebelum berangkat. Namun, saat ia berbalik, pandangannya tertumbuk pada tas kerja Pradipta yang tergeletak sedikit terbuka di sofa. Ada sesuatu yang mengintip dari saku sampingnya. Bentuknya kecil, seperti dompet kartu, tapi warnanya tidak senada dengan dompet Pradipta yang biasanya ia lihat.
Rasa penasaran bercampur firasat buruk menggerogoti Nindya. Ia bukan tipe istri yang gemar menggeledah barang pribadi suaminya. Sejak awal pernikahan, mereka sepakat untuk saling memberi ruang dan kepercayaan. Namun, dorongan tak terjelaskan ini terasa begitu kuat. Dengan tangan sedikit gemetar, Nindya mendekati tas itu. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mendadak berpacu. Ia meraih benda kecil itu, menariknya perlahan keluar dari saku. Benda itu ternyata sebuah *card holder* kulit berwarna merah muda pucat, sangat berbeda dengan selera Pradipta yang selalu memilih warna gelap atau netral.
Di dalamnya, tersemat dua kartu. Satu kartu nama dengan tulisan ‘Klinik Bunga Melati â Dr. Arini Paramita, Sp.OG’. Satu lagi adalah kartu nama lain yang lebih asing, dengan logo sebuah kafe di daerah Senopati yang terkenal dengan konsep *instagrammable*-nya, ‘Kopi Senja’. Nama di kartu kafe itu tertulis: âReswari â Account Managerâ. Jari Nindya menelusuri nama itu berulang kali. Arini Paramita, Sp.OG. Dokter spesialis kebidanan dan kandungan. Jantung Nindya seperti berhenti berdetak. Ia mencoba mengingat, apakah Pradipta pernah menyebut nama Arini atau Reswari? Tidak pernah. Sama sekali tidak pernah. Kosong. Sepi. Ingatannya hanya dipenuhi janji pulang cepat dan aroma kopi pagi yang kini terasa pahit.
Ia meletakkan *card holder* itu kembali ke dalam tas Pradipta dengan hati-hati, seolah tak ingin meninggalkan jejak. Ia lalu duduk di sofa, tatapannya kosong menembus dinding. Kopi di tangannya sudah mendingin. Ia teringat percakapan ringan semalam, saat Pradipta membahas rencananya untuk liburan akhir tahun, apakah mereka akan ke Bali lagi atau mencoba ke Labuan Bajo. Nindya hanya menjawab sekenanya, pikirannya sudah mulai berputar liar. Suaminya bilang ada rapat penting. Rapat apa? Kenapa ada kartu nama dokter kandungan di tasnya? Dan nama âReswariâ ini⌠siapa dia? Pertanyaan-pertanyaan itu saling bertabrakan di benaknya, menciptakan badai kecemasan yang mencekam. Ia mengepalkan tangannya, kuku jemarinya menekan telapak tangan. Ia mencoba meyakinkan diri, ini pasti kesalahpahaman. Pasti ada penjelasan logis yang bisa ia terima. Tapi keraguan itu, seperti benang kusut, semakin ia tarik, semakin ia tak bisa menguraikannya.
Babak 2 â Jejak Digital yang Mengkhianati
Sepanjang hari, Nindya berusaha keras untuk bersikap normal. Ia menyelesaikan pekerjaannya sebagai desainer grafis lepas dari rumah, menerima beberapa *brief* baru dari klien di Tokopedia dan melayani permintaan revisi dari klien lama melalui email. Namun, setiap kali notifikasi dari aplikasi pesan muncul di layar laptopnya, jantungnya berdebar lebih kencang. Ia takut itu pesan dari Pradipta, yang mungkin ingin menanyakan sesuatu. Lebih buruk lagi, ia takut pesan itu bukan dari Pradipta. Ia membuka galeri foto di ponselnya, mencari kenangan manis bersama Pradipta, mencoba menepis bayangan *card holder* merah muda itu. Ada foto mereka saat liburan ke Yogya tahun lalu, tertawa di depan tumpukan batu candi Prambanan. Ada foto saat mereka merayakan ulang tahun pernikahan ketiga di sebuah restoran di Kemang, Pradipta tersenyum menatapnya penuh cinta. Foto-foto itu seharusnya menjadi jangkar keyakinannya, tapi kini terasa seperti pisau yang mengiris perlahan.
Siang itu, saat makan siang seadanyaânasi uduk dari warung depan komplek yang dibeli lewat GoFoodâNindya memutuskan untuk melakukan sesuatu. Ia membuka laptopnya lagi, kali ini bukan untuk bekerja. Ia membuka peramban, dan mulai mengetikkan nama ‘Klinik Bunga Melati’. Situs webnya muncul, menampilkan foto-foto dokter yang ramah dan fasilitas yang terkesan modern. Ia melihat profil Dr. Arini Paramita. Tertera gelarnya, spesialisasi, dan jadwal praktek. Tapi tidak ada foto atau informasi tambahan mengenai pasien-pasiennya. Wajar, tentu saja. Privasi pasien.
Kemudian, ia mengetikkan ‘Kopi Senja Senopati’. Kafe itu ternyata cukup populer. Ada banyak ulasan di Google Maps, foto-foto interiornya yang *cozy*, dan menu-menunya yang menggiurkan. Ia mencari informasi tentang karyawan atau staf di sana. Ada beberapa foto dari acara *gathering* kafe, tapi tidak ada nama âReswariâ yang jelas terlihat. Ia bahkan mencoba mencari nama ‘Reswari’ di media sosial, menggunakan LinkedIn, Instagram, bahkan Twitter. Hasilnya nihil. Seolah nama itu tidak pernah eksis di dunia maya, atau ia hanya terlalu umum. Atau mungkin, Reswari adalah nama samaran? Pikiran itu membuat Nindya merinding.
Tangannya kembali meraih ponselnya. Ia membuka aplikasi perbankan dan menelusuri riwayat transaksi kartu kredit mereka yang terhubung dengan rekening tabungan bersama. Bukan untuk mencari bukti perselingkuhan yang eksplisit, tapi lebih kepada mencari pola yang janggal. Tanggal, waktu, lokasi transaksi. Semuanya terlihat normal. Pembelian bahan makanan di supermarket, pembayaran tagihan listrik via PLN Mobile, langganan layanan *streaming*. Hingga matanya tertuju pada satu transaksi beberapa minggu lalu. Tanggal merah, hari Minggu. Tertulis ‘Kopi Senja – Rp 350.000’. Nindya mengerutkan kening. Pradipta tidak pernah pergi ke kafe sendirian, apalagi di hari libur. Ia selalu mengajak Nindya jika ingin mencoba tempat baru. Dan Rp 350.000? Itu bukan sekadar kopi, itu jumlah yang cukup besar untuk beberapa kali kunjungan, atau mungkin… untuk dua orang? Jantungnya kembali berdebar tak karuan. Ia ingat, hari itu Pradipta bilang ia ada acara reuni dengan teman-teman lamanya di luar kota.
Sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya. Pesan dari Pradipta. ‘Sayang, aku masih di kantor. Kayaknya nggak jadi pulang cepat. Maaf ya. Besok pagi aku ganti sarapan enak buat kamu. Love you.’ Nindya menatap pesan itu tanpa berkedip. ‘Love you’. Kata-kata yang biasanya menyejukkan, kini terasa dingin menusuk. Ia tidak membalas pesan itu. Tangannya terulur, meraih gelas berisi air putih di meja samping sofa. Ia meneguknya perlahan, tapi air itu seakan tertahan di tenggorokannya. Rasanya pahit, sama pahitnya dengan kenyataan yang mulai menguak perlahan di depan matanya.
Babak 3 â Kenangan yang Terpaksa Dibongkar
Malam itu, Pradipta pulang lebih larut dari biasanya. Nindya sudah menyiapkan makan malam sederhana: tumis kangkung dan ikan goreng. Pradipta masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara Nindya membereskan meja makan. Suasana makan malam terasa canggung. Pradipta banyak diam, sesekali menjawab pertanyaan Nindya dengan singkat. Nindya mencoba mengabaikan firasat buruknya, fokus pada suara Pradipta yang sesekali batuk kecil. ‘Mas, ini minum obat,’ kata Nindya sambil menyodorkan segelas air dan sebutir pil yang ia ambil dari kotak P3K. Pradipta menerimanya tanpa banyak bicara.
‘Tadi rapatnya sampai jam berapa?’ tanya Nindya, suaranya berusaha dibuat ringan. Ia menata piring kotor ke wastafel, membelakangi Pradipta. ‘Lumayan, sampai setengah tujuh. Lalu setelah itu… ada diskusi kecil sama beberapa kolega,’ jawab Pradipta. Ia meletakkan cangkir kopinya yang sudah kosong di meja. ‘Kamu kok tumben batuk terus? Masuk angin ya?’ Nindya berbalik, menatap suaminya yang kini duduk di kursi makan, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja. Wajah Pradipta terlihat lelah, ada lingkaran hitam samar di bawah matanya yang biasanya cerah.
Nindya mendekat. ‘Mungkin kecapekan aja. Tapi aku curiga jangan-jangan… ada yang nggak beres.’ Ia sengaja menggantung kalimatnya. Ia ingin melihat reaksi Pradipta. Pradipta hanya mengangkat alisnya. ‘Maksud kamu?’ Nindya menarik napas. Ia membuka laci meja makan, mengeluarkan *card holder* merah muda itu. Ia meletakkannya perlahan di atas meja, tepat di depan Pradipta. ‘Aku nemu ini di tas kerja Mas tadi pagi,’ katanya pelan, nadanya datar tapi penuh ketegangan.
Pradipta terdiam. Matanya tertuju pada *card holder* itu. Ekspresinya sulit dibaca. Tidak ada rasa terkejut yang meledak-ledak, tidak ada kemarahan. Hanya keheningan yang pekat, seolah ia sedang berusaha menahan sesuatu. Ia meraih *card holder* itu, membukanya, dan membolak-balik kartunya dengan jari yang sedikit bergetar. ‘Ini… ini aku nggak sengaja kebawa,’ ucapnya lirih, suaranya serak. ‘Kemarin aku antar teman ke klinik, dia lagi nggak enak badan. Terus… pas ngambil sesuatu di tas, ini nyelip.’ Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, ‘Yang kartu kafe itu, aku kemarin ada meeting di daerah sana. Sama klien baru. Jadi aku mampir sebentar buat presentasi.’
Nindya menatap mata suaminya. Ia melihat kilasan keraguan di sana, seperti ada sesuatu yang disembunyikan. ‘Klien baru? Siapa namanya? Aku nggak pernah dengar nama Reswari dari bagian marketing atau dari siapa pun.’ Kata-kata itu keluar begitu saja dari bibir Nindya, lebih cepat dari yang ia rencanakan. Pradipta tampak gelagapan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghela napas panjang. Ia tidak bisa menatap mata Nindya. ‘Nindya… aku… aku harus jujur.’ Tangannya terkepal erat di atas meja. Nindya merasakan lututnya lemas. Ia meraih kursi di dekatnya dan duduk. ‘Jujur soal apa, Mas?’ suaranya berbisik.
Babak 4 â Pengakuan di Bawah Cahaya Lampu Dapur
Pradipta menatap Nindya. Matanya berkaca-kaca, pandangannya kosong seperti menatap menembus dinding. Ia tak lagi berusaha mencari alasan. Beban yang ia pikul selama ini, kini terasa seperti batu besar yang siap runtuh. ‘Reswari… dia bukan klien, Nindya. Dia… dia pacarku.’ Pengakuan itu menggantung di udara, lebih dingin dari angin malam yang menyelinap masuk lewat celah jendela. Nindya terdiam membeku. Dunia di sekelilingnya seolah berhenti berputar. Suara detak jam dinding di dapur terdengar begitu keras, seperti palu yang menghantam gendang telinganya.
‘Pacar?’ bisik Nindya, suaranya nyaris tak terdengar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tapi ia berusaha keras untuk tidak menangis. Ia ingin tetap terlihat kuat. ‘Sudah berapa lama?’ Pradipta menggeleng. ‘Sejak enam bulan lalu.’ Enam bulan. Waktu yang cukup lama untuk membangun sebuah hubungan gelap di belakang punggungnya. Tiga bulan terakhir mereka mulai sering bertemu di luar jam kerja, seringkali dengan alasan rapat atau lembur yang tidak jelas. Nindya teringat setiap kali ia menelepon Pradipta di jam-jam tersebut, suaminya selalu mengangkat dengan suara yang sedikit berbeda, seolah sedang menyembunyikan sesuatu.
‘Dan klinik itu?’ Nindya bertanya lagi, suaranya kini sedikit bergetar. Pradipta menelan ludah. ‘Reswari… dia hamil, Nindya. Usia kandungannya sudah masuk tiga bulan. Itu sebabnya aku harus ke dokter kandungan. Dr. Arini itu… dia sahabat Reswari.’ Kalimat itu terasa seperti tusukan terakhir. Hamil. Ia, Nindya, yang sudah bertahun-tahun mencoba memiliki anak, selalu dihadapkan pada hasil tes yang nihil, kini mendengar kabar ini dari wanita lain yang berstatus ‘pacar’ suaminya. Ia teringat janji-janji Pradipta tentang program kehamilan yang akan mereka mulai lagi tahun depan, setelah keuangan mereka lebih stabil. Janji-ji janji kosong.
Nindya berdiri. Kakinya terasa sangat berat, seolah tertanam di lantai. Ia berjalan perlahan ke arah jendela dapur, menatap gelapnya malam di luar. Ia melihat pantulan wajahnya di kaca jendela. Wajah yang pucat pasi, mata yang merah dan bengkak. Ini bukan dirinya. Ini bukan kehidupan yang ia bayangkan saat menikah dengan Pradipta. Ia teringat semua pengorbanannya, setiap kali ia merelakan mimpi-mimpinya demi menopang karir suaminya. Ia menunduk, air mata yang ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipinya. Pradipta bangkit dari kursinya, melangkah ragu mendekati Nindya. ‘Nindya… aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Aku… aku nggak tahu harus bagaimana lagi.’
Nindya tidak berbalik. Ia hanya menggeleng pelan. ‘Jangan sentuh aku,’ katanya tegas, suaranya pecah. ‘Aku butuh waktu. Aku… aku butuh sendiri.’ Pradipta terhenti, tangannya menggantung di udara. Ia melihat kehancuran di mata Nindya, dan ia tahu, ia telah menghancurkan segalanya. Ia mundur perlahan, lalu berbalik dan berjalan keluar dari dapur, meninggalkan Nindya sendirian dalam keheningan malam, ditemani suara tangisnya yang pilu dan aroma tumis kangkung yang kini terasa hambar.
Babak 5 â Pilihan yang Terlalu Berat
Keesokan paginya, Nindya bangun dengan mata bengkak dan kepala pening. Rumah terasa sunyi senyap. Pradipta sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali, bahkan sebelum Nindya bangun. Di meja makan, hanya ada secangkir teh hangat dan sepucuk surat. Nindya membuka surat itu dengan tangan yang masih gemetar. Tulisan Pradipta terlihat rapi, kontras dengan kekacauan emosinya. Ia membaca setiap kata dengan seksama. Pradipta menuliskan penyesalannya yang mendalam, mengakui kesalahannya yang tak termaafkan. Ia memohon agar Nindya mau memberinya kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Ia juga menuliskan bahwa ia siap melakukan apa pun, bahkan meninggalkan Reswari dan bayinya, jika itu yang Nindya inginkan.
Namun, ia juga menuliskan dilema yang dihadapi. Ia tidak bisa sepenuhnya melepaskan tanggung jawabnya pada Reswari dan calon bayinya. Ia merasa terjebak dalam situasi yang rumit, buah dari keputusannya sendiri. Pradipta meminta Nindya untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan. Ia ingin berbicara lebih lanjut setelah Nindya merasa lebih tenang. Surat itu berakhir dengan permintaan maaf yang berulang-ulang dan ungkapan cintanya yang tulus, meski kini terasa hampa di telinga Nindya.
Nindya melipat surat itu, lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop. Ia menatap ke luar jendela. Langit pagi masih diselimuti mendung. Ia merasa seperti ada di persimpangan jalan yang kelam. Di satu sisi, ada Pradipta, suaminya, pria yang ia cintai selama bertahun-tahun, yang kini berjuang untuk memperbaiki kesalahannya. Di sisi lain, ada sebuah kehidupan baru yang tak terduga, sebuah janin yang tidak berdosa, yang kini bergantung pada keputusan Pradiptaâdan mungkin juga padanya. Ia membayangkan dirinya menjadi seorang ibu, lalu ia membayangkan dirinya harus berbagi suami, atau bahkan melepaskannya demi anak yang bukan darah dagingnya.
Ponselnya berdering. Nama ‘Reswari’ tertera di layar. Jantung Nindya berdebar kencang. Ia belum pernah berbicara langsung dengan wanita itu. Ia ragu untuk mengangkatnya. Ia membiarkan dering itu berhenti, lalu tak lama kemudian, muncul notifikasi pesan dari nomor yang sama. ‘Maaf mengganggu Mbak Nindya. Saya ingin bicara sebentar, kapanpun Mbak Nindya siap. Ini tentang Pradipta dan… bayi kami. Saya tidak punya niat buruk, hanya ingin menyelesaikan ini baik-baik.’ Nindya menatap layar ponselnya. Di tangannya tergenggam surat dari Pradipta. Ia menghela napas panjang. Keputusan apa yang harus ia ambil? Apakah ia bisa memaafkan? Apakah ia bisa menerima kehadiran anak dari wanita lain dalam kehidupan rumah tangganya? Atau apakah ia harus melepaskan Pradipta, demi kedamaiannya sendiri, dan demi masa depan anak itu?
Ia melihat jam di sudut layar ponselnya. Pukul delapan pagi. Pradipta bilang ia akan pulang cepat hari ini. Tapi Nindya tidak yakin. Ia mengambil kunci mobilnya, lalu melangkah keluar dari rumah, tanpa memberitahu Pradipta ke mana ia akan pergi. Ia merasa perlu mencari jawaban, atau setidaknya, mencari sedikit ketenangan, di suatu tempat yang jauh dari segala kerumitan ini. Mungkin di tepi pantai, di mana deburan ombak bisa menenggelamkan suara hati yang berteriak pilu. Atau mungkin ia akan menerima panggilan dari Reswari itu, dan memulai percakapan yang akan mengubah hidupnya selamanya. Pilihan itu terasa begitu berat, menggantung di udara seperti kabut pagi yang belum terurai.
