Kisah Pengkhianatan: Suaminya Bilang Lembur, Tapi Barang Ini Bikin Pradipta Gak Percaya Lagi

Kisah Pengkhianatan: Suaminya Bilang Lembur, Tapi Barang Ini Bikin Pradipta Gak Percaya Lagi

CERITA PENDEK

Kisah Pengkhianatan: Suaminya Bilang Lembur, Tapi Barang Ini Bikin Pradipta Gak Percaya Lagi

Babak 1 — Rutinitas Pagi yang Tak Pernah Berubah

Pradipta merapikan kerah kemeja batik lengan panjangnya yang terasa sedikit terlalu ketat di leher. Aroma kopi tubruk yang baru diseduhnya menguar samar, bercampur dengan wangi melati dari pengharum ruangan yang selalu ia semprotkan di ruang tengah setiap pagi. Kebiasaan. Sama seperti ia akan memeriksa saldo DANA di ponselnya sebelum berangkat kerja, atau seperti suaminya, Wira, yang selalu mengecup keningnya sebelum menyambar tas kerja dan berpamitan dengan senyum khasnya. ‘Aku berangkat dulu ya, Mbak. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan WA aku.’ Kalimat itu, yang dulu terasa begitu menenangkan, kini terasa seperti jerat yang perlahan mengencang.

Pagi ini terasa sedikit berbeda. Udara yang biasanya sejuk karena AC unit masih terdiam membeku, kini terasa hangat menggigit kulit. Pradipta merasa gelisah, sesuatu yang jarang ia rasakan di luar jadwal padat saat mengurus toko online-nya. Ia menoleh ke arah jam dinding di atas kulkas, menunjukkan pukul 07.15. Wira seharusnya sudah berangkat setengah jam lalu. Biasa, kalau ada rapat mendadak atau ia harus pergi lebih pagi ke proyek luar kota, Wira akan selalu mengirim kabar. Tapi hari ini, keheningan menyelimuti apartemen studio mereka di bilangan Kalibata.

Ia berjalan ke kamar tidur, masih mengenakan daster rumah berwarna biru muda yang agak lusuh. Kasur Wira masih sedikit berantakan, bantalnya sedikit miring seolah baru saja ditinggalkan. Tidak ada tanda-tanda ia belum bangun. Pradipta menyibakkan selimut, mencari sarung yang mungkin terjatuh. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar meja nakas. Ada dompet kulit hitam Wira tergeletak begitu saja, biasanya Wira akan membawanya. Ponselnya juga tergeletak di sana, layar mati.

Keanehan ini mulai merayap menjadi kekhawatiran. Pradipta meraih ponsel Wira, pikirnya mungkin ada pesan atau panggilan tak terjawab. Ia menekan tombol power, layar menyala dengan wallpaper pemandangan gunung yang selalu dipilih Wira. Ia mencoba membuka kunci, tapi tentu saja tidak bisa. Pradipta mendesah. Mungkin Wira hanya lupa membawa ponselnya dan keluar sebentar untuk membeli sarapan. Tapi apartemen mereka berada di lantai 15, dan toko roti terdekat cukup jauh.

Ia memutuskan untuk membersihkan diri sambil berharap Wira segera kembali atau menghubunginya. Saat ia kembali ke kamar tidur, ia melihat sesuatu yang tergeletak di bawah ranjang, dekat kaki meja nakas. Sebuah kartu akses apartemen. Kening Pradipta berkerut. Wira selalu menyimpan kartu akses itu di dompetnya. Mengapa bisa ada di sana? Ia meraihnya, kartu itu terasa dingin di tangannya. Ada sedikit goresan di sudutnya, seperti sering tergesek benda lain.

Pradipta lalu teringat, semalam Wira sempat keluar sebentar. Katanya untuk membeli pulsa di minimarket dekat lobi. Ia ingat Wira pulang dengan kantong belanjaan kecil dari Indomaret. Mungkin kartu akses itu terjatuh saat Wira buru-buru memasukkan barang belanjaannya ke saku celana.

Ia meletakkan kartu akses itu kembali di nakas, lalu mulai membereskan meja kerja Wira. Tumpukan dokumen proyek, beberapa pena, dan sebuah gelas kopi yang sudah kosong. Di antara tumpukan kertas itu, terselip sesuatu yang membuat gerakan Pradipta berhenti seketika. Sebuah struk parkir.

Babak 2 — Struk Parkir yang Membekukan Segala

Jantung Pradipta berdetak lebih cepat. Struk parkir? Wira tidak pernah menyimpan struk parkir. Apalagi di meja kerjanya, di antara dokumen-dokumen penting. Biasanya, kalaupun ada, struk itu akan langsung ia buang ke tempat sampah. Pradipta menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa tidak enak yang mulai merayapi perutnya. Tangannya sedikit gemetar saat ia mengambil struk itu. Kertasnya sudah sedikit lecek, dengan tinta yang mulai pudar di beberapa bagian.

Tertera di bagian atas struk: ‘PARKING LOT APARTEMEN SERPONG RESIDENCE’. Pradipta mengerutkan kening. Serpong Residence? Itu adalah apartemen mewah di Tangerang Selatan, tempat sahabat lamanya, Rania, tinggal. Wira tidak pernah punya urusan di sana. Setahunya, Wira hanya pernah sekali datang ke sana, bertahun-tahun lalu, saat ia dan Rania masih menjadi teman kos.

Tanggal pada struk itu adalah kemarin malam. Jam keluarnya adalah pukul 23.47. Pradipta menelan ludah. Wira bilang ia akan tidur lebih awal karena merasa lelah setelah seharian bekerja. Ia bahkan sempat mengirim pesan padanya sebelum pukul sembilan malam, ‘Aku sudah mau tidur ya, Mbak. Mimpi indah.’ Ia ingat saat itu ia sedang asyik scrolling media sosial di kamarnya, membalas beberapa chat dari reseller tokonya.

Pradipta membandingkan waktu di struk dengan pesan terakhir yang ia terima. Ada jeda sekitar tiga jam. Tiga jam di mana Wira seharusnya sudah terlelap. Tiga jam di mana Wira justru berada di apartemen Serpong Residence. Ada sesuatu yang sangat tidak beres. Jemarinya yang memegang struk mulai terasa dingin.

Ia kembali melihat ke arah dompet dan ponsel Wira yang tergeletak di nakas. Semalam, saat Wira pulang dari minimarket, ia sempat melihat Wira memasukkan sesuatu ke saku celananya. Ia pikir itu uang kembalian atau struk belanjaan. Tapi sekarang ia sadar, Wira tidak pernah menunjukkan struk belanjaan minimarket padanya, apalagi menyimpannya.

Pradipta mencoba menenangkan diri. Mungkin ada penjelasan logis. Mungkin Wira hanya iseng pergi ke sana, atau ada teman yang ia temui. Tapi pikirannya terus berputar, mencari-cari celah dalam logika itu. Wira bukan tipe orang yang suka keluyuran malam tanpa alasan. Apalagi sampai larut malam.

Ia berjalan ke lemari pakaian Wira, mencari celana jeans yang dipakai suaminya semalam. Ia memeriksanya dengan hati-hati. Tidak ada struk parkir di saku celana itu. Hanya ada selembar uang seratus ribu rupiah yang terlipat rapi, dan kunci cadangan apartemen. Pradipta menghela napas lega sesaat, sebelum kembali dilanda kecemasan yang lebih dalam. Jika struk itu bukan di celana yang dipakai semalam, lalu dari mana asalnya? Dan kenapa Wira menyimpannya di meja kerjanya?

Ia kembali memegang struk itu. Di bagian bawah, ada sebuah nomor identifikasi kendaraan. Ia mencoba mengingat-ingat plat nomor mobil Wira. ‘B 1234 XYZ’. Ia membandingkannya dengan nomor di struk. B 1234 XYZ. Persis sama. Tidak mungkin ini kebetulan. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Ia menjatuhkan diri ke kursi kerja Wira, struk itu masih tergenggam erat di tangannya. Dunia terasa berputar, dan semua kebiasaan pagi yang tenang itu kini terasa seperti ilusi.

Babak 3 — Kilas Balik dan Jejak Digital

Pradipta menarik napas panjang, berusaha mengendalikan gejolak di dadanya. Ia tahu ia harus tetap tenang. Kalau ia panik sekarang, ia tidak akan bisa berpikir jernih. Ia bangkit dari kursi dan berjalan ke arah dapur. Ia perlu secangkir teh hangat. Ia menyalakan kompor, menunggu air mendidih. Pikirannya melayang ke beberapa minggu terakhir. Wira memang sering sekali mengatakan ia harus lembur. ‘Ada deadline ketat nih, Mbak. Maaf ya, nggak bisa pulang cepat.’ Atau ‘Proyek ini butuh perhatian ekstra, aku harus di kantor sampai malam.’ Dulu, Pradipta selalu memercayainya tanpa curiga. Ia bahkan sering membawakan makan malam untuk Wira ke kantornya di kawasan Sudirman.

Namun, belakangan ini, ada sesuatu yang terasa berbeda. Wira menjadi lebih sering melamun. Ia sering kali menatap ponselnya dengan ekspresi yang sulit diartikan, antara senang dan cemas. Terkadang, saat Pradipta mengajaknya bicara, Wira hanya menjawab sekenanya, seolah pikirannya berada di tempat lain. Ia ingat beberapa kali ponsel Wira berdering di jam-jam yang aneh, dan Wira selalu segera mengangkatnya, lalu berbisik-bisik dengan suara pelan, terkadang sampai harus keluar ruangan.

Pradipta membuka aplikasi Tokopedia di ponselnya, tempat ia biasa mengelola toko online-nya. Ia melihat pesanan-pesanan yang masuk semalam. Beberapa pesanan baru masuk dini hari tadi. Ia membukanya satu per satu, memeriksa alamat pengiriman. Ada satu pesanan yang menarik perhatiannya. Alamat pengirimannya adalah apartemen Serpong Residence. Nama penerimanya adalah ‘Ms. Rania S.’.

Degupan jantung Pradipta semakin kencang. Rania. Nama sahabatnya itu muncul lagi. Ini bukan kebetulan. Ia teringat saat Wira pernah menyebut nama Rania beberapa bulan lalu, saat mereka menonton sebuah film bersama. ‘Rania ya? Dulu dia satu kos sama aku di Bandung,’ kata Wira waktu itu dengan nada datar.

Ia membuka aplikasi Gojek di ponselnya, lalu membuka riwayat perjalanan Wira. Ia tahu ini agak lancar, tapi rasa penasarannya sudah mengalahkan rasa bersalahnya. Ia harus tahu kebenarannya. Ia mencari tanggal dan jam yang sesuai dengan struk parkir. Ada satu catatan perjalanan yang tertera: ‘Perjalanan ke Serpong Residence. Waktu tempuh: 45 menit.’ Tarifnya tidak tercatat, mungkin karena Wira menggunakan promo atau akun lain. Tapi lokasi dan waktunya sangat cocok.

Pradipta merasa seperti sedang berada dalam adegan film. Semua potongan teka-teki mulai menyatu, membentuk gambaran yang mengerikan. Mengapa Wira pergi ke apartemen Rania malam-malam? Kenapa ia harus menyimpannya sebagai rahasia? Bukankah mereka bersahabat? Pikirannya mulai liar. Apakah ada sesuatu yang tidak ia ketahui tentang persahabatan Wira dan Rania? Atau lebih buruk lagi, apakah ada sesuatu yang terjadi di antara mereka?

Ia memutuskan untuk menelepon Rania. Jantungnya berdebar kencang saat nomor Rania muncul di layar. Setelah dua kali dering, panggilannya diangkat. ‘Halo?’ suara Rania terdengar sedikit serak, seperti baru bangun tidur.

‘Rania? Ini aku, Pradipta.’ Suaranya sendiri terdengar bergetar.

‘Dipta? Ada apa pagi-pagi begini?’

‘Aku… aku menemukan sesuatu. Semalam, Wira ke apartemenmu, ya?’ Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tanpa ia sadari.

Hening sejenak di ujung telepon. Pradipta bisa mendengar suara napas Rania yang tertahan.

‘A-apa maksudmu?’ Rania tergagap.

‘Aku menemukan struk parkir apartemenmu di meja kerja Wira. Dan ada riwayat perjalanan Gojek-nya juga. Dia keluar jam sebelas malam, Rania. Katanya dia mau tidur.’ Pradipta mencoba menjaga suaranya agar tetap tenang, tapi kegelisahan itu jelas terdengar.

Rania terdiam lagi. Kali ini keheningannya terasa lebih panjang, lebih mencekam. Pradipta bisa membayangkan wajah Rania yang pucat di sana. Ia menunggu, napasnya tertahan.

Babak 4 — Pengakuan di Balik Tirai Dapur

‘Di… Dipta…’ suara Rania akhirnya terdengar lagi, kali ini lebih pelan, seperti bisikan. ‘Aku… aku nggak tahu harus bilang apa.’

Pradipta menutup matanya rapat-rapat. Ia merasakan beban berat yang menekan dadanya. ‘Jadi memang benar? Wira ke apartemenmu semalam?’

Lagi-lagi keheningan. Kali ini, Pradipta bisa mendengar suara tangis tertahan dari Rania. ‘Dia… dia datang, Dipta. Tapi dia nggak nginep. Dia cuma sebentar.’ Suara Rania semakin tercekat.

‘Sebentar? Selama tiga jam, Rania?’ tanya Pradipta tajam, nada suaranya mulai meninggi. ‘Apa yang dia lakukan di sana selama itu?’

‘Dia… dia ada masalah. Masalah besar di kantornya. Dia mau cerita sama seseorang. Dan aku… aku satu-satunya orang yang dia percaya untuk diajak bicara saat itu.’ Rania terisak.

‘Masalah di kantor? Masalah apa? Kenapa dia nggak cerita sama aku? Kenapa harus ke apartemenmu?’ Pradipta melontarkan pertanyaan demi pertanyaan, seperti rentetan peluru yang tak terkendali. Ia berjalan mondar-mandir di dapur, menatap kosong ke arah jendela yang masih gelap.

‘Dia bilang dia nggak mau bikin kamu khawatir. Dia bilang dia butuh teman bicara yang bisa diajak diskusi tanpa emosi. Dia… dia sedang diambang kehancuran, Dipta. Proyeknya gagal total, dia terancam dipecat, dan ada tuduhan korupsi yang ditimpakan padanya.’ Air mata Rania kini mengalir deras.

Pradipta terdiam. Tuduhan korupsi? Gagal dipecat? Ini semua terlalu tiba-tiba. Ini bukan skandal perselingkuhan yang ia bayangkan, tapi sesuatu yang mungkin jauh lebih menghancurkan karier Wira. Tapi kenapa Wira harus berbohong padanya? Kenapa tidak ada sedikit pun kepercayaan yang ia berikan pada istrinya sendiri?

‘Kenapa dia nggak bilang aku?’ bisik Pradipta, suaranya hampir tak terdengar.

‘Dia takut. Dia takut kamu akan panik, akan memarahinya. Dia bilang dia nggak mau menambah beban pikiranmu. Dia pikir dengan membiarkanmu tetap tenang, itu yang terbaik. Tapi aku tahu, dia sendiri hancur.’ Rania terdengar sangat menyesal.

‘Jadi… dia nggak selingkuh?’ Pradipta memberanikan diri bertanya, meskipun hatinya masih bergemuruh.

‘Selingkuh? Nggak, Dipta. Demi Tuhan, nggak. Dia datang ke aku cuma untuk minta saran. Dia bingung harus bagaimana menghadapi masalahnya. Dia cuma butuh bahu untuk bersandar sesaat. Aku nggak melakukan apa-apa selain mendengarkan.’ Suara Rania terdengar sungguh-sungguh.

Pradipta merasa lega, sekaligus marah. Lega karena dugaannya yang terburuk tidak terbukti. Tapi marah karena Wira telah memilih untuk membohonginya, membangun dinding ketidakpercayaan di antara mereka, hanya karena ketakutan semata.

Tiba-tiba, pintu depan apartemen mereka terbuka. Pradipta terkesiap. Ia masih memegang ponsel Wira. Ia buru-buru mematikan panggilan dan meletakkan ponsel itu kembali di nakas, tepat saat ia mendengar suara langkah kaki Wira memasuki ruangan.

Babak 5 — Pertanyaan yang Menggantung

Wira masuk ke ruang tengah dengan wajah pucat dan mata sembap. Ia mengenakan pakaian yang sama seperti kemarin malam, kemeja batik lengan panjang yang sedikit kusut. Di tangannya tergenggam kantong kresek minimarket.

‘Mbak…’ suara Wira serak. ‘Maaf, aku… aku ketiduran di mobil. Ada masalah sedikit semalam, jadi nggak bisa langsung pulang.’

Pradipta hanya berdiri mematung di dekat jendela, menatap Wira tanpa ekspresi. Ia memegang struk parkir yang terlipat di tangannya, merasakan teksturnya yang kasar di ujung jarinya.

‘Mobil? Kamu ketiduran di mobil?’ Pradipta bertanya, suaranya datar dan dingin. Tidak ada kemarahan yang meluap-luap, hanya kekecewaan yang begitu pekat hingga terasa membekukan.

Wira mengangguk perlahan, menghindari tatapan Pradipta. ‘Iya. Ada… ada sedikit masalah di parkiran apartemen. Terus aku capek banget, jadi langsung istirahat di mobil aja sampai pagi.’

‘Masalah di parkiran apartemen?’ Pradipta melangkah mendekat, tatapannya kini tertuju pada wajah Wira. ‘Apartemen mana, Mas?’

Wira tersentak. Ia mengangkat wajahnya, matanya bertemu dengan mata Pradipta. Ada kebingungan, tapi juga ketakutan yang tersirat di sana. Ia melihat kantong kresek di tangannya, lalu melirik ke arah meja kerja yang sedikit berantakan.

‘Eh… apartemenku, Mbak. Yang di Kalibata. Ada… ada sedikit masalah di area parkir kemarin malam.’

Pradipta tertawa kecil, tawa yang terdengar getir dan tanpa kebahagiaan. ‘Oh, begitu. Jadi kamu ketiduran di mobilmu di parkiran apartemen kita sendiri? Sampai pagi?’ Ia membuka genggamannya, memperlihatkan struk parkir yang terlipat.

Wajah Wira berubah pucat pasi. Matanya terpaku pada struk di tangan Pradipta. Ia tampak seperti orang yang tertangkap basah, bingung harus berkata apa. Kantong kresek di tangannya terjatuh begitu saja ke lantai, isinya berhamburan. Sebuah bungkus biskuit dan sebotol air mineral.

‘Ini… ini dari mana?’ tanya Wira, suaranya tercekat.

‘Dari meja kerjamu,’ jawab Pradipta tenang. ‘Kamu bilang kamu ketiduran di mobilmu sendiri di parkiran apartemen kita, Mas. Tapi struk ini bilang lain.’ Ia membalikkan struk itu, menunjukkan bagian depannya dengan jelas. ‘Serpong Residence, semalam jam sebelas malam.’

Wira terdiam membeku. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Rahangnya mengeras, matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak mengucapkan sepatah kata pun pengakuan atau pembelaan. Ia hanya berdiri di sana, seperti patung yang terperangkap dalam kesalahannya sendiri.

Pradipta menatap suaminya lekat-lekat. Pertanyaan itu masih menggantung di udara, pertanyaan yang tak terucap namun sangat jelas di benaknya. Jika bukan Rania, lalu siapa? Dan apa yang sebenarnya terjadi di apartemen Serpong Residence semalam?