Kisah Rumah Tangga: Bukan Soal Selingkuh — Ini Jauh Lebih Menyakitkan dari yang Ia Duga
Babak 1 — Senyap di Antara Dering Telepon
Nindya menggigit bibir bawahnya, gerakan yang sama persis seperti saat ia harus mengambil keputusan penting di meja rapat. Kali ini, keputusannya jauh lebih pribadi, lebih genting. Tangan kirinya meremas ujung daster batik motif parang yang terasa dingin di kulit. Ia berdiri di ambang pintu kamar mereka, mendengarkan suara napas teratur dari dalam. Suaminya, Pradipta, sedang tertidur lelap. Baguslah. Setidaknya ia punya waktu sejenak untuk memproses apa yang baru saja ia temukan.
Di meja nakas kamar mereka, terselip sesuatu yang seharusnya tidak berada di sana. Benda itu kecil, pipih, dan berwarna biru muda. Sebuah kartu ucapan terima kasih dari sebuah kafe kopi di daerah Senopati, kafe yang sama sekali tidak pernah ia kunjungi bersama Pradipta. Di belakangnya, tertulis beberapa baris tulisan tangan yang terasa janggal. Tidak seperti tulisan Pradipta yang rapi dan cenderung agak miring ke kanan. Ini lebih tegas, sedikit berantakan, namun… elegan.
Napasnya tertahan. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa ini adalah hal sepele. Mungkin Pradipta hanya menerima dari seseorang. Mungkin itu hanya kartu yang jatuh ke dalam tasnya tanpa sengaja. Tapi jauh di lubuk hatinya, suara itu berbisik keras. Suara yang sama yang muncul ketika ia melihat tagihan aplikasi *ride-sharing* yang melonjak tanpa alasan di akhir bulan, atau ketika ia menemukan sisa resep mie instan di bak cuci piring padahal Pradipta bersumpah sudah makan di luar.
Ia melangkah masuk, bergerak sehati-hati mungkin agar tidak menimbulkan suara. Cahaya remang dari lampu tidur Pradipta menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding. Jantungnya berdebar kencang, iramanya terasa tidak sinkron dengan detak jam dinding yang berdetik pelan. Ia membungkuk sedikit, tatapannya terpaku pada kartu ucapan itu. Mengapa terasa begitu berat untuk mengambilnya? Seolah benda itu adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja, menghancurkan segalanya.
Ia bukan tipe wanita yang suka menguntit atau mencari-cari kesalahan pasangannya. Sejak awal hubungan mereka, Nindya selalu berusaha membangun kepercayaan yang kokoh. Ia membenci drama, benci konfrontasi. Jika ada masalah, ia lebih suka menyelesaikannya dengan kepala dingin, mengedepankan dialog. Tapi benda kecil ini, kartu ucapanDanke yang diselipkan di antara buku-buku koleksi Pradipta, terasa seperti peringatan. Sebuah retakan halus di fondasi yang ia kira tak tergoyahkan.
Nindya menarik diri, mundur beberapa langkah. Ia tidak mengambil kartu itu. Ia akan membiarkannya di sana untuk saat ini. Mungkin ia hanya terlalu lelah. Mungkin imajinasinya yang bermain. Ia harus tidur. Pagi akan datang membawa kejernihan, atau setidaknya, harapan akan kejernihan. Tapi begitu ia merebahkan diri di sisi lain tempat tidur, matanya tetap terbuka lebar, menatap langit-langit gelap. Kartu ucapan itu terus muncul di benaknya, membisikkan keraguan yang tak terucap.
Babak 2 — Suara di Ujung Kartu
Pagi itu, mentari terlihat enggan menembus tirai tebal apartemen mereka. Nindya bangun lebih dulu, seperti biasa. Gerakannya masih dipenuhi kehati-hatian, seolah masih berada di dalam mimpi semalam. Pradipta masih terlelap. Tanpa membuang waktu, setelah membuat secangkir kopi hitam pekat di dapur mungil mereka, ia kembali ke kamar. Tujuannya jelas: meja nakas.
Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh tepi kartu ucapan itu. Ia menggesernya sedikit, lalu membaliknya. Tulisan tangan itu masih sama, terasa asing di antara barang-barang Pradipta yang familiar. Ia membaca setiap huruf dengan saksama, mencoba mencari celah, celah yang bisa membenarkan praduganya bahwa ini hanyalah kesalahpahaman. “Terima kasih, Dito, atas malam yang indah. Sampai jumpa lagi.” Dito? Siapa Dito? Dan malam yang indah di kafe Senopati itu… dengan siapa?
Tiba-tiba, sebuah nama terlintas di benaknya. Dito. Nama itu terdengar familiar, tapi entah dari mana. Apakah itu nama rekan kerja Pradipta yang pernah disebutkannya sekilas? Atau teman lamanya? Ia mencoba mengingat, namun otaknya terasa kosong, seperti layar HP yang baru saja di-*reset*. Ia membuka aplikasi perpesanan di ponselnya, tangannya bergulir tanpa tujuan di daftar kontak. Nama-nama lama, nama-nama baru, semua terasa kabur.
Ia mendesah pelan, lalu meletakkan kartu itu kembali. Tidak, ia tidak akan melakukan apa pun sekarang. Ini belum cukup. Ini hanya secarik kertas. Ia harus mencari bukti yang lebih kuat. Ia berjalan ke arah lemari pakaian Pradipta, membuka laci paling atas yang biasanya berisi kemeja-kemeja rapi. Ia menggeser tumpukan pakaian itu, berharap menemukan sesuatu yang aneh. Dompet, kunci, syal, namun tidak ada apa pun yang mencurigakan.
Kemudian, ia melihatnya. Sebuah tiket bioskop yang sudah terlipat rapi di pojok laci. Tiket untuk film yang tayang dua minggu lalu. Film yang ia tanyakan kepada Pradipta apakah dia mau menonton bersamanya, namun dijawab ‘tidak sempat, banyak kerjaan’. Tanggal dan jam tayangnya sama persis dengan jadwal konser band indie yang sering ia dengarkan, konser yang Pradipta katakan ‘terlalu ramai dan berisik’ baginya.
Sebuah rasa dingin menjalar di tulang punggungnya. Ini bukan hanya tentang kartu ucapan. Ini tentang kebohongan-kebohongan kecil yang mulai menumpuk, membentuk pola yang mengkhawatirkan. Ia menutup laci itu perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara sama sekali. Suara napas Pradipta dari dalam kamar terdengar semakin menusuk. Keheningan di apartemen mereka kini terasa lebih mencekam daripada kebisingan pasar malam di malam tahun baru.
Nindya beranjak ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Mata yang biasanya penuh binar kini terlihat redup, ada lingkaran hitam samar di bawahnya. Siapa wanita di depannya ini? Ia tidak mengenali ekspresi yang terpantul. Ada keraguan, kebingungan, dan sedikit ketakutan yang ia coba sembunyikan.
Babak 3 — Jejak Digital yang Membingungkan
Sepanjang hari di kantor, Nindya sulit berkonsentrasi. Ia terus-menerus membuka aplikasi *notes* di laptopnya, mengetikkan kata kunci yang muncul di benaknya: ‘Dito’, ‘kafe Senopati’, ‘kartu ucapan’, ‘bioskop’. Semua pencarian di Google tidak membuahkan hasil yang berarti. Nama Dito tidak muncul dalam daftar rekan kerja Pradipta, setidaknya tidak yang pernah disebut secara resmi. Kafe itu memang ada, sering dikunjungi para eksekutif muda di kawasan itu, namun tidak ada informasi mengenai pelanggan setianya.
Saat jam makan siang, ia mencoba metode yang berbeda. Ia membuka *browser* di ponselnya, lalu masuk ke akun media sosial Pradipta yang jarang sekali ia periksa. Ia tidak berniat menguntit, hanya… mencari gambaran. Ia melihat unggahan-unggahan rutin Pradipta tentang pekerjaan, foto-foto bersama timnya, sesekali foto *selfie* dengan latar belakang pemandangan kota Jakarta. Semuanya terlihat normal, teratur, dan tanpa cela.
Kemudian, ia membuka daftar pertemanan Pradipta, menggulir nama-nama yang muncul. Ada beberapa nama yang tidak ia kenal. Salah satunya adalah akun dengan foto profil abstrak dan nama ‘Dito_SG’. ‘SG’ mungkin singkatan dari Senopati? Ini semakin membuatnya penasaran. Ia mengklik akun itu. Akunnya bersifat privat, hanya menampilkan foto profil dan bio singkat: ‘Penggemar kopi dan diskusi malam.’ Tidak ada unggahan yang bisa dilihat.
Nindya mencoba berpikir logis. Mungkin Dito adalah teman Pradipta dari komunitas kopi yang tidak pernah ia ketahui. Mungkin mereka hanya bertemu sesekali untuk minum kopi dan mengobrol. Namun, kartu ucapan itu… tulisan tangan itu… dan tiket bioskop itu… semuanya terasa seperti potongan puzzle yang tidak cocok.
Ia teringat percakapannya dengan Pradipta beberapa minggu lalu. Pradipta pernah mengeluh tentang beban kerja yang menumpuk. Ia bahkan sempat membatalkan janji makan malam dengan Nindya karena harus menyelesaikan sebuah proyek mendesak. Proyek itu berkaitan dengan presentasi besar di depan klien dari luar kota. Nindya ingat betul bagaimana Pradipta menghabiskan malam-malam terakhirnya di depan laptop hingga larut.
Sebuah kilasan memori muncul. Ia ingat pernah melihat Pradipta menerima sebuah bingkisan kecil di lobi apartemen mereka. Pradipta mengatakan itu adalah hadiah dari klien atas proyek yang berhasil diselesaikannya. Ia ingat bingkisan itu berwarna cokelat dengan pita biru muda yang senada dengan warna kartu ucapan yang ia temukan. Mungkinkah… mungkinkah hadiah itu bukan dari klien?
Jantungnya kembali berdebar kencang. Ia buru-buru membuka aplikasi *e-commerce* langganan mereka. Ia mencari riwayat pembelian Pradipta, berharap menemukan sesuatu yang bisa mengklarifikasi. Ia menemukan beberapa pesanan perlengkapan kantor, buku-buku teknik, dan… sebuah voucher hadiah untuk kafe di Senopati. Tanggal pembeliannya adalah beberapa hari sebelum ia menemukan kartu ucapan itu. Jantungnya terasa mencelos.
Mengapa Pradipta membeli voucher itu jika ia tidak berencana menggunakannya? Dan mengapa ia tidak memberitahu Nindya? Atau… voucher itu bukan untuk Pradipta? Ia kembali membuka akun Dito_SG. Ia mencoba mencari nama ‘Pradipta’ di daftar pertemanan Dito, namun tidak ada. Seolah akun mereka tidak saling terhubung secara publik. Ini membuat semuanya semakin buram dan penuh tanda tanya.
Babak 4 — Kenyataan di Balik Pintu
Malam itu, Nindya memutuskan untuk tidak menunggu lebih lama. Ia tidak bisa lagi menahan rasa penasaran yang menggerogotinya. Ia tahu Pradipta akan pulang terlambat karena ada rapat mendadak. Kesempatan emas. Ia berganti pakaian menjadi celana panjang dan kaus polos, lalu mengambil kunci mobilnya. Ia menyetir sendiri menuju kawasan Senopati, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia tidak tahu apa yang akan ia temukan, tapi ia harus tahu.
Ia menemukan kafe itu dengan mudah. Suasananya ramai, dipenuhi alunan musik jazz lembut dan aroma kopi yang pekat. Lampu-lampu temaram menciptakan atmosfer yang intim. Nindya merasa sedikit canggung berdiri di dekat pintu masuk, mengamati sekeliling. Ia mencari meja yang kosong, berharap tidak ada yang mengenalinya.
Ia memesan segelas es teh jumbo, duduk di sudut terjauh, dan mulai mengamati setiap pasangan atau kelompok yang duduk di sana. Matanya mencari-cari siluet Pradipta, atau mungkin… Dito. Sebagian besar pengunjung tampak seperti profesional muda yang sedang melepas penat setelah bekerja. Nindya merasa seperti mata-mata, memindai setiap wajah dengan intensitas yang tidak biasa.
Sekitar lima belas menit kemudian, pintu kafe kembali terbuka. Sesosok pria masuk, disambut hangat oleh salah seorang pelayan. Pria itu… Pradipta. Jantung Nindya serasa berhenti berdetak. Ia melihat Pradipta tidak sendirian. Bersamanya, seorang wanita muda yang tidak ia kenal, dengan rambut sebahu dan senyum ramah, sedang berbincang ringan dengannya. Mereka tertawa bersama.
Nindya merasa lututnya lemas. Ia tidak menyangka akan melihatnya sejelas ini. Ia ingin lari, tapi kakinya seolah terpaku di lantai. Ia mengamati interaksi mereka. Pradipta terlihat begitu nyaman, begitu… lepas. Ada keintiman di antara mereka yang tidak pernah Nindya lihat dalam percakapan Pradipta dengannya akhir-akhir ini. Wanita itu kemudian memberikan sesuatu kepada Pradipta. Sebuah kartu. Kartu yang sama seperti yang Nindya temukan.
Tiba-tiba, wanita itu menoleh ke arah Nindya. Mata mereka bertemu. Seketika, senyum di wajah wanita itu memudar, digantikan ekspresi kaget yang jelas. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menatap Nindya dengan pandangan… memohon? Atau mungkin rasa bersalah? Ia lalu menunduk, menarik lengan Pradipta, dan membisikkan sesuatu.
Pradipta menoleh, mengikuti arah pandang wanita itu. Matanya terbelalak saat melihat Nindya. Ekspresinya berubah drastis. Kaget, cemas, dan sedikit… ketakutan. Ia tampak seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri kue. Ia berdiri kaku, tidak tahu harus berkata apa.
Nindya bangkit perlahan dari kursinya. Ia tidak bisa lagi menahan diri. Ia berjalan menghampiri meja mereka, setiap langkah terasa seperti keputusan berat. Wanita di sebelah Pradipta kini menunduk dalam, wajahnya memerah karena malu atau takut. Nindya berdiri tepat di depan Pradipta, menatap matanya yang mulai berkaca-kaca.
“Pradipta,” suaranya bergetar, lebih lirih dari yang ia duga. “Ini… ini siapa?” Ia tidak menunjuk wanita itu, tapi tatapannya tertuju pada Pradipta, menunggu jawaban.
Babak 5 — Pertanyaan yang Tergantung
Pradipta menelan ludah, matanya bergerak gelisah. Ia mencoba mengumpulkan keberanian, tapi kata-kata terasa tersangkut di tenggorokannya. Wanita di sebelahnya, yang kini ia tahu namanya Dito dari percakapan singkat yang sempat ia dengar sebelumnya, menatap Nindya dengan pandangan penuh penyesalan. Ia tidak berani bersuara, seolah takut akan menambah keruh suasana.
“Nindya…” Pradipta memulai, suaranya serak. “Aku… aku bisa jelaskan.” Ia meraih tangan Nindya, tapi Nindya menariknya mundur. Sentuhan itu terasa dingin, asing.
Nindya menatap mata suaminya. Ia melihat kebohongan, ia melihat keputusasaan, tapi ia juga melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tidak ia mengerti. Bukan hanya rasa bersalah karena perselingkuhan, tapi semacam beban eksistensial yang terpancar dari sorot matanya.
“Jelaskan apa, Pradipta?” tanya Nindya, nadanya datar, dingin. “Jelaskan tentang kartu ucapan terima kasih dari kafe Senopati? Atau tentang tiket bioskop film yang tidak bisa kamu tonton karena ‘sibuk’? Atau tentang voucher kafe yang tiba-tiba muncul di riwayat pembelianmu?” Ia terdiam sejenak, mengumpulkan sisa tenaganya. “Atau jelaskan siapa dia, dan kenapa dia terlihat seperti baru saja dihukum mati karena melihatku di sini?”
Wanita bernama Dito itu tersentak mendengar ucapannya, matanya kembali menatap Nindya, lalu ia menunduk lagi, tak sanggup menahan tatapan Nindya. Ia terlihat seperti orang yang juga terjebak dalam situasi yang sangat tidak nyaman.
Pradipta menarik napas dalam-dalam. Ia menatap Nindya, lalu menatap Dito, lalu kembali menatap Nindya. Pandangannya tertuju pada Nindya, namun seolah ia sedang berbicara kepada dirinya sendiri. “Ini… ini bukan seperti yang kamu pikirkan, Nindya. Sama sekali bukan.” Ia berhenti, mencari kata-kata yang tepat, namun yang keluar hanyalah gumaman yang tak jelas.
Nindya merasakan matanya mulai panas. Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini berputar di kepalanya kini terasa begitu nyata, begitu menusuk. Ia ingin jawaban yang jujur, jawaban yang bisa membuat segalanya menjadi jelas, betapapun menyakitkannya. Tapi dari ekspresi Pradipta, dari gestur Dito yang canggung, ia merasakan ada lapisan lain dari masalah ini yang belum terungkap. Sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar sebuah perselingkuhan.
“Bukan seperti apa, Pradipta?” desak Nindya. Ia menunggu. Suara musik jazz di kafe kini terdengar memekakkan telinga. Aroma kopi yang tadinya terasa hangat kini menusuk hidungnya. Di sekeliling mereka, pengunjung lain mulai memperhatikan. Suasana intim kafe itu telah berubah menjadi panggung yang canggung bagi mereka bertiga.
Pradipta menatap Nindya lurus-lurus. Matanya terlihat lelah, sangat lelah. “Nindya, aku… aku tidak akan meninggalkanmu. Aku bersumpah. Tapi… ada sesuatu yang harus kamu tahu. Sesuatu yang… mendasar.” Ia memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali. “Dia bukan… Dia bukan seperti yang kamu bayangkan.”
Nindya hanya bisa berdiri diam, menatap suaminya, menatap wanita asing di sampingnya. Perasaan hancur itu mulai merayap, perlahan tapi pasti. Tapi di balik kehancuran itu, ada rasa penasaran yang aneh. Apa sebenarnya yang tidak seperti yang ia bayangkan? Dan apa yang akan Pradipta katakan selanjutnya, yang begitu mendasar hingga ia harus mengatakannya di tengah kafe yang ramai, di depan wanita yang jelas-jelas memiliki hubungan dengannya?
