Cerita Rumah Tangga: Laci Meja Belajar Suami Terkunci, Ternyata Isinya Bukan Cuma Kertas Tagihan
Babak 1 — Aroma Kopi dan Kesetiaan yang Dipertanyakan
Gendis mengaduk kopinya perlahan, uap panas naik membelai wajahnya yang masih sedikit bengkak karena kurang tidur. Jam di dinding dapur sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, tapi suaminya, Jatmiko, belum juga terlihat. Biasanya, bahkan sebelum alarm berbunyi, Jatmiko sudah siap dengan seragam kerjanya, menebar aroma khas parfum kantornya yang bercampur sedikit bau rokok kretek—kebiasaan buruk yang tak pernah bisa ia hilangkan.
“Masih aja ya, ngopi sambil lihatin pintu,” gumamnya sendiri, senyum tipis terukir di bibirnya. Tiga tahun menikah, dan kebiasaan menunggunya sebelum berangkat kerja ini masih bertahan. Mungkin itu salah satu dari sedikit hal yang membuat Gendis merasa pernikahan mereka masih punya fondasi yang kokoh, di tengah kesibukan Jatmiko yang kadang membuatnya merasa seperti seorang janda di siang hari.
Ia melirik ponselnya. Pesan terakhir dari Jatmiko tadi malam pukul sebelas, singkat saja: ‘Lembur lagi, Sayang. Jangan ditunggu.’ Gendis hanya membalas dengan emoticon hati. Mau bagaimana lagi? Pekerjaan Jatmiko di sebuah perusahaan konsultan keuangan memang menuntutnya bekerja di luar jam kantor. Audit tahunan, katanya. Gendis berusaha percaya, meskipun jauh di lubuk hatinya, rasa cemas mulai merayap perlahan, seperti lumut yang tumbuh di tembok lembab.
Suara pintu depan yang terbuka mengagetkannya. Jatmiko masuk, tanpa salam, tanpa tatapan khasnya yang biasanya menyapa. Ia langsung menuju kamar mandi, meninggalkan Gendis terpaku di meja dapur. Gerak-geriknya aneh. Terburu-buru, seperti ada yang dikejar. Ia melepas jaketnya dan melemparkannya begitu saja ke kursi makan, bukan ke gantungan seperti biasanya. Aroma parfum yang biasanya samar, kini terasa pekat, bercampur sesuatu yang asing. Bukan parfum kantor, bukan pula bau rokoknya. Sesuatu yang manis, tapi murahan. Parfum wanita?
Jantung Gendis mulai berdegup lebih kencang. Ia mencoba menepis pikiran buruk itu. Mungkin hanya teman kantornya. Mungkin saja mereka makan siang bersama di luar. Tapi kenapa Jatmiko terlihat begitu… gelisah? Ia bahkan tidak menyadari Gendis yang sedang memperhatikannya dari ambang pintu dapur.
“Mas, udah pulang?” Gendis mencoba bertanya dengan suara setenang mungkin, menahan getaran yang mulai merambati tangannya. Jatmiko terlonjak kaget, berbalik menatapnya dengan mata membesar. Ada sesuatu di matanya yang tidak bisa Gendis artikan. Penyesalan? Ketakutan? Atau hanya kelelahan?
“Eh, Gendis. Iya, udah pulang. Kenapa? Belum tidur?” Jatmiko mencoba tersenyum, tapi senyum itu terasa kaku, dipaksakan. Ia berjalan melewati Gendis, menuju kamar tidur, tanpa menawarkan bantuan untuk menyiapkan sarapannya atau sekadar berbasa-basi.
Gendis hanya berdiri di sana, membiarkan kopi di tangannya mendingin. Pagi ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang bergeser di udara, sesuatu yang tidak ia mengerti, tapi ia tahu, sesuatu yang penting telah berubah. Ia melirik ke arah jaket Jatmiko yang tergeletak di kursi. Sesuatu di sakunya tampak menonjol. Bukan dompet, bukan kunci. Terlalu kecil untuk itu.
Babak 2 — Laci Meja Belajar yang Terkunci
Sepanjang hari itu, pikiran Gendis terus berputar pada kejadian pagi tadi. Parfum asing itu, gelisah Jatmiko, dan tonjolan aneh di saku jaket suaminya. Ia mencoba fokus pada pekerjaannya sebagai desainer grafis freelance, tapi setiap kali layar laptopnya menampilkan garis-garis desain yang monoton, bayangan Jatmiko yang terburu-buru dan beraroma tak dikenal itu muncul kembali.
Malam harinya, Jatmiko pulang lebih awal. Ia terlihat lelah, tapi kali ini, senyumnya lebih tulus. Ia memeluk Gendis erat, meminta maaf karena semalam tak sempat memberi kabar lebih banyak. Gendis membalas pelukannya, berusaha menenangkan debaran jantungnya yang masih tak karuan. Ia membiarkan dirinya percaya lagi. Mungkin ia terlalu berlebihan.
Namun, malam itu, saat Jatmiko tertidur lelap di sampingnya, Gendis tidak bisa memejamkan mata. Ia bangkit perlahan, takut membangunkan suaminya. Langkahnya membawanya ke ruang kerja Jatmiko. Ruangan itu selalu terkunci. Jatmiko beralasan butuh privasi untuk bekerja, dan Gendis selalu menghargai itu. Tapi malam ini, rasa ingin tahunya mengalahkan rasa hormatnya.
Ia meraih gantungan kunci di kamar mereka. Jatmiko punya satu set kunci khusus untuk ruang kerjanya. Dengan tangan gemetar, Gendis mencoba satu per satu kunci itu. Kunci pertama, tidak masuk. Kunci kedua, terasa longgar. Dan kunci ketiga… klik. Pintu terbuka tanpa suara.
Ruangan itu beraroma buku tua dan sedikit lembab. Meja kerja Jatmiko berantakan, tumpukan kertas berserakan. Gendis mengamati sekelilingnya, mencari sesuatu yang bisa menjelaskan kegelisahannya. Matanya tertuju pada laci paling atas di meja itu. Laci itu terkunci, sama seperti pintu ruangannya. Jatmiko tidak pernah mengizinkan Gendis menyentuh barang-barang di sana.
“Apa sih yang Mas Jatmiko simpan di sini sampai harus dikunci begini?” bisiknya. Ia teringat sesuatu. Jatmiko selalu membawa satu set kunci kecil di dompetnya, selain kunci rumah dan mobil. Gendis pernah melihatnya sekilas saat Jatmiko membayar parkir di sebuah kafe tempo hari. Ia bergegas kembali ke kamar, mencari dompet Jatmiko yang tergeletak di nakas. Ia membukanya perlahan, takut ketahuan.
Di antara kartu-kartu identitas dan kartu ATM, tersembul sebuah kunci kecil berwarna perak. Gendis meraihnya, jantungnya berdebar kencang seperti genderang perang. Ia kembali ke ruang kerja, memasukkan kunci itu ke dalam lubang laci. Klik. Laci itu terbuka.
Babak 3 — Isi Laci yang Menghancurkan
Gendis menarik napas dalam-dalam, bersiap menghadapi apa pun yang ada di dalam laci itu. Mungkin hanya dokumen-dokumen kantor yang penting, atau barang-barang pribadi yang memang tidak ingin ia lihat. Tapi apa yang ia temukan jauh lebih mengerikan dari sekadar dokumen biasa.
Di lapisan paling atas, tergeletak beberapa struk pembayaran dari toko kosmetik mewah. Bukan struk belanja bulanan seperti yang biasa ia lihat. Struk-struk itu berisi pembelian parfum mahal, beberapa set perhiasan imitasi berkualitas tinggi, dan… alat kontrasepsi. Gendis merasa mual. Ia memejamkan mata, mencoba mencerna informasi yang baru saja ia terima. Jatmiko, suaminya yang ia kira setia, ternyata membeli barang-barang ini.
Tangannya kemudian meraih tumpukan foto yang diselipkan di bawah struk. Foto-foto itu menampilkan Jatmiko, tapi bukan Jatmiko yang ia kenal. Di sana, ia tertawa lepas bersama seorang wanita muda. Wanita itu… cantik. Dan mereka berpose sangat mesra. Berpelukan di kafe, bergandengan tangan di taman kota, bahkan berciuman di depan Monas. Gendis merasa dunianya runtuh. Ia merasakan panas menjalar di matanya, tapi ia menahan air mata itu agar tidak tumpah.
Ia terus menggali. Di dasar laci, ia menemukan sebuah buku catatan kecil berwarna biru muda. Gendis mengenalinya. Itu adalah buku catatan yang pernah ia berikan pada Jatmiko saat ulang tahun mereka yang pertama, sebagai tempat untuk menuliskan kenangan. Tapi tulisan di dalamnya bukan tulisan tangan Jatmiko. Ini tulisan tangan wanita di foto-foto itu.
Halaman-halaman itu berisi curahan hati seorang wanita. Curahan hati tentang bagaimana ia mencintai Jatmiko, bagaimana mereka bertemu diam-diam, dan bagaimana ia berharap Jatmiko akan meninggalkannya. Ada tanggal-tanggal yang tercatat di sana, tanggal-tanggal yang bertepatan dengan hari-hari ketika Jatmiko bilang ia lembur atau harus melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Termasuk tanggal semalam.
“Sayang, aku kangen banget sama kamu. Malam ini aku nggak bisa tidur mikirin kamu. Bos kamu kan tahu kita pacaran, jadi setiap kali kamu izin lembur, dia selalu curiga. Tapi kamu kan bilang, demi masa depan kita, demi aku. Aku percaya kamu, Mas.” Kalimat itu membekukan darah Gendis.
“Demi masa depan kita, demi aku.” Kata-kata itu menusuknya lebih dalam dari apa pun. Ia teringat Jatmiko yang selalu mengeluh soal pekerjaan, soal tekanan dari bosnya. Apakah semua itu hanya alasan? Alasan untuk menghabiskan waktu dengan wanita lain?
Gendis menutup laci itu perlahan. Suara kliknya terdengar begitu keras di keheningan ruangan. Ia keluar dari ruang kerja, mengunci pintunya kembali, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi di dalam dirinya, sesuatu telah hancur berkeping-keping. Ia kembali ke kamar tidur, memandang wajah Jatmiko yang terlelap damai. Pria yang ia cintai, pria yang ia percayai sepenuh hati, ternyata menyimpan rahasia yang begitu kelam.
Babak 4 — Pertemuan di Kafe Senja
Keesokan harinya, Gendis tidak berbicara sepatah kata pun pada Jatmiko. Ia hanya menyiapkan sarapan, menyiapkannya dengan gerakan mekanis tanpa perasaan. Jatmiko tampak bingung dengan sikap dingin istrinya, tapi ia memilih untuk diam. Mungkin ia merasa bersalah, atau mungkin ia masih belum menyadari bahwa rahasianya telah terbongkar.
Saat Jatmiko berangkat kerja, Gendis langsung meraih ponselnya. Ia membuka aplikasi Gojek, lalu memesan GoCar. Tujuannya? Kafe yang sering disebut dalam buku catatan itu. Kafe “Senja Bersama”. Gendis harus melihatnya sendiri. Ia harus melihat wanita yang telah merebut suaminya.
Sampai di kafe, Gendis memesan secangkir teh hangat dan duduk di sudut ruangan, memandang ke arah pintu. Ia merasa seperti detektif dalam sebuah film thriller, tapi ini adalah hidupnya. Nyata. Menyakitkan.
Setengah jam kemudian, pintu kafe terbuka. Seorang wanita muda masuk. Rambutnya panjang tergerai, gaun selutut berwarna pastel membalut tubuhnya. Gendis mengenalinya dari foto-foto itu. Ia adalah wanita itu. Jantung Gendis berdebar lebih kencang. Ia memperhatikan wanita itu mencari tempat duduk. Ternyata, wanita itu tidak sendirian. Dari arah pintu lain, Jatmiko masuk, tersenyum pada wanita itu, dan merangkul pinggangnya.
Gendis merasa pandangannya kabur. Ia ingin berteriak, ingin menghampiri mereka, ingin menarik rambut wanita itu. Tapi ia menahan diri. Ia ingin mendengar. Ia ingin tahu seberapa dalam kebohongan ini.
“Kamu telat, Sayang,” kata wanita itu, suaranya lembut. “Aku sudah pesankan es kopi susu kesukaanmu.”
“Maaf, Gendis curiga terus belakangan ini. Aku harus pura-pura sibuk di rumah dulu sebelum ke sini,” jawab Jatmiko, tawanya terdengar enteng. “Tapi nanti malam aku akan bilang ke dia kalau aku harus dinas ke luar kota. Jadi kita punya waktu seharian besok.”
Ternyata, Jatmiko tidak hanya selingkuh. Ia bahkan merencanakan kebohongan yang lebih besar. Gendis merasa dunia berputar. Ia bangkit dari kursinya, kakinya terasa lemas. Ia berjalan keluar dari kafe itu, tanpa berkata apa pun. Ia meninggalkan Jatmiko dan wanita itu, menikmati “senja bersama” mereka. Di luar, langit sore berwarna jingga kemerahan, tapi Gendis hanya merasakan kegelapan.
Babak 5 — Pilihan Gendis
Gendis pulang ke rumah dengan pikiran kosong. Ia duduk di ruang tamu, memandang keluar jendela tanpa melihat. Suara Jatmiko yang masuk ke rumah beberapa jam kemudian tidak lagi mengganggunya. Ia hanya mendengar suara langkah kaki yang dulu begitu ia rindukan, kini terdengar asing dan menusuk.
“Sayang, aku pulang,” Jatmiko masuk ke ruang tamu, melihat Gendis duduk terpaku. Ia segera menyadari ada yang tidak beres. Ekspresi wajah Gendis terlalu dingin. “Kamu kenapa? Kok nggak ngomong sama aku?”
Gendis berbalik menatapnya. Di matanya tidak ada lagi kemarahan yang membara, hanya kehampaan yang mengerikan. “Kamu bilang harus dinas ke luar kota kan, Mas?” tanyanya lirih, suaranya serak. “Baguslah. Berarti aku punya banyak waktu untuk beres-beres rumah ini.”
Jatmiko terkejut. Ia tidak mengerti arah pembicaraan Gendis. “Maksudmu?”
Gendis berdiri. Ia berjalan mendekat ke arah Jatmiko, tapi tidak menyentuhnya. Jarak mereka terasa seperti jurang yang takkan pernah bisa diseberangi lagi. “Laci meja belajarmu itu, Mas. Aku sudah lihat isinya. Foto-foto itu, struk-struk itu, dan buku catatan biru itu. Semuanya.” Ia berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa pahit. “Kamu mau tahu ke mana aku akan pergi? Aku mau ke tempat ibuku. Mungkin aku akan tinggal di sana untuk sementara waktu. Aku butuh waktu untuk berpikir.”
Jatmiko terdiam, wajahnya pucat pasi. Ia mencoba membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia tahu, ia telah tertangkap basah. Semua kebohongannya terbongkar dalam sekejap.
“Oh ya, Mas,” Gendis menambahkan, senyum tipis terulas di bibirnya, senyum yang tidak mencapai matanya. “Kunci cadangan ruangan kerjamu itu ternyata ada di kotak P3K di kamar mandi. Kamu lupa, ya?” Ia kemudian berbalik, menuju kamar tidur mereka, mulai memasukkan pakaian ke dalam koper. Jatmiko hanya bisa berdiri terpaku, menyaksikan kehancuran rumah tangganya sendiri di depan matanya. Ia tahu, ini bukan akhir. Tapi ia juga tahu, ini adalah awal dari sesuatu yang tak terbayangkan. Entah ia akan memohon ampun, atau berjuang mempertahankan apa yang tersisa, Gendis tidak tahu. Yang ia tahu pasti, ia tidak bisa lagi melihat pria di depannya ini sebagai suami yang ia cintai.
