Kisah Perselingkuhan yang Terungkap Lewat Nota Pembelian Cireng Krispi di Tengah Malam

Kisah Perselingkuhan yang Terungkap Lewat Nota Pembelian Cireng Krispi di Tengah Malam

CERITA PENDEK

Kisah Perselingkuhan yang Terungkap Lewat Nota Pembelian Cireng Krispi di Tengah Malam

Babak 1 — Keheningan Malam yang Mulai Retak

Bunyi tikus berkelebat di plafon kamar kos yang sempit. Gendis menghela napas panjang, menyenderkan kepala pada tembok yang dingin. Lampu belajar tua di meja kecilnya memancarkan cahaya kuning redup, cukup untuk menerangi tumpukan skripsi yang belum tersentuh. Jam digital di HP-nya menunjukkan pukul 01:47 dini hari. Suaminya, Jatmiko, belum pulang.

Ini bukan pertama kalinya Jatmiko pulang larut. Sejak beberapa bulan terakhir, jam pulang suaminya semakin tak menentu. Kadang hanya mengabari lewat pesan singkat, ‘Macet, Mas pulang telat,’ atau ‘Ada meeting mendadak.’ Gendis tak pernah benar-benar bertanya lebih jauh. Ia terlalu malas berdebat, terlalu lelah jika harus menghadapi jawaban berbelit yang ujungnya tetap sama: ia yang harus mengalah dan menunggu.

Ia bangkit, berjalan ke dapur mungil yang berdempetan dengan kamar. Secangkir kopi instan yang sudah dingin ia tuang ke wastafel. Aroma pekatnya masih tercium, bercampur dengan bau bawang putih sisa semalam. Suaminya itu, tak pernah mau mencuci piring bekasnya makan, selalu saja ia yang akan membersihkannya esok pagi.

Gendis menyalakan kompor gas kecil, berharap membuat secangkir teh hangat bisa sedikit menenangkan debaran di dadanya. Jantungnya terasa berdebar tak keruan setiap kali ia mendengar deru motor di kejauhan. Apakah itu dia? Tapi kemudian deru itu berlalu, meninggalkannya dalam kesendirian yang makin pekat.

Ia memejamkan mata, mencoba mengingat kapan terakhir kali mereka benar-benar tertawa bersama. Bukan tawa sopan untuk menutupi canggung, tapi tawa lepas yang membuat perut sakit. Rasanya sudah lama sekali. Dulu, Jatmiko adalah tipe pria yang selalu bercerita soal harinya, tentang proyek-proyeknya, tentang betapa menyebalkannya Pak Wibisono di kantor. Sekarang, obrolan mereka hanya sebatas ‘sudah makan?’ atau ‘laundry jangan lupa.’ Peninggalan dari sebuah hubungan yang perlahan terkikis oleh rutinitas dan hal-hal tak terucap.

Ia membuka lemari es, hanya ada sedikit sisa sayur dan sebotol kecap. Ya Tuhan, besok harus belanja lagi. Ia menutup pintu lemari es, kemudian matanya menangkap sesuatu yang janggal di atas meja dapur. Sebuah struk kecil, berwarna putih dengan tulisan hitam.

Babak 2 — Struk Misterius di Antara Sisa Kenangan

Benda itu tergeletak begitu saja, seolah tak berarti. Tapi entah mengapa, bagi Gendis, struk itu seperti sebuah duri kecil yang menusuk keheningan malam. Ia meraihnya perlahan, jemarinya sedikit gemetar. Matanya memindai setiap baris tulisan.

“Cireng Krispi Jumbo – 2 pcs. Saus Keju.”

Jantung Gendis berdegup lebih kencang. Ia mengerutkan dahi. Jatmiko tak pernah suka cireng. Jangankan suka, ia bahkan tak pernah mau mencicipinya. Dulu, saat Gendis pertama kali mengajaknya makan jajanan pinggir jalan itu, ia dengan tegas menolak. ‘Jajanan gitu, Mas nggak suka. Nanti sakit perut.’ Kalimat itu terngiang jelas di kepala Gendis.

Pukul 01:55. Seharusnya Jatmiko sudah ada di rumah. Struk ini tertulis jam 00:37. Berarti, ia baru saja pulang? Tapi kenapa tidak ada suara motor masuk ke halaman kos? Kenapa tidak ada suara kunci pintu berputar?

Ia melihat ke arah pintu. Masih tertutup rapat. Jatmiko bahkan belum menyalakan lampu teras. Gendis memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Mungkin saja ia salah. Mungkin saja Jatmiko beli itu untuk temannya? Tapi untuk siapa? Siapa teman Jatmiko yang mau diajak makan cireng tengah malam buta di pinggir jalan?

Tangannya kembali gemetar. Ia membolak-balik struk itu. Tanggal tertera jelas: 18 Oktober 2023. Hari ini. Gendis membandingkan tulisan di struk itu dengan tulisan Jatmiko di catatan belanja yang sering ia tinggalkan di kulkas. Benar. Tulisannya identik. Tapi rasa bingung itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih dingin.

Ia berjalan perlahan ke arah kamar. Jatmiko belum pulang. Koper kecil yang selalu ia bawa jika ada tugas luar kota juga masih tergeletak rapi di sudut ruangan, belum tersentuh.

Kemana ia sebenarnya? Dan cireng itu… untuk siapa?

Pandangannya tertuju pada ponsel Jatmiko yang tergeletak di nakas. Layar gelap, tak ada notifikasi. Gendis tak pernah memeriksa ponsel suaminya. Ia percaya. Setidaknya, ia berusaha percaya. Tapi malam ini, bayangan sebuah pengkhianatan mulai merayap masuk, merusak benteng kepercayaan yang ia bangun.

Babak 3 — Jejak Digital yang Tak Bisa Berbohong

Gendis duduk di tepi kasur, menatap layar ponsel suaminya yang kini menyala. Ia tidak sengaja melihatnya tadi. Saat ia menyalakan lampu belajar, pantulan cahaya menyentuh layar ponsel Jatmiko yang menyala samar. Sebuah notifikasi dari aplikasi pesan singkat.

Dan kini, jemarinya menari di atas layar, membuka aplikasi itu. Jantungnya berdegup kencang, seiring dengan setiap pesan yang ia baca. Bukan pesan dari teman kantor, bukan pesan dari keluarga. Pesan dari seorang wanita dengan foto profil bunga edelweis.

“Makasih ya, Mas. Cirengnya enak banget. Nggak nyangka kamu mau repot-repot beliin jam segini.”

Gendis terdiam. Ed-el-weis. Bunga itu….

Ia ingat. Beberapa bulan lalu, saat mereka sedang liburan ke Malang, Jatmiko pernah membelikannya buket kecil bunga edelweis sebagai hadiah. ‘Ini bunga abadi, Mbak. Seperti cinta kita,’ katanya waktu itu, sambil tersenyum manis.

Sekarang, foto profil itu terasa seperti sebuah pukulan telak. Janda muda dari Kalimantan yang sering ia ceritakan pada Gendis. “Klien baru, Mbak. Orangnya baik, tapi sedikit manja. Suka minta ditemani kerja sampai larut.” Dulu, Gendis hanya mengangguk saja. Ia tak pernah curiga.

Ia terus menggulir ke atas. Percakapan mereka dipenuhi candaan yang terlalu intim untuk ukuran rekan kerja. Ada tawa emoji bertebaran, ada panggilan sayang yang diselipkan di antara urusan pekerjaan.

“Besok aku jemput ya. Kita makan malam di tempat biasa?” tulis wanita itu.

Tempat biasa? Dimana?

Gendis membuka aplikasi peta di HP Jatmiko. Ia mencari riwayat lokasi terakhir suaminya. Ada sebuah titik yang menandakan lokasi restoran cepat saji di daerah Senayan, pukul 00:15. Jaraknya cukup jauh dari kantor Jatmiko. Dan sangat dekat dengan sebuah minimarket yang ia tahu menjual cireng frozen.

Semua kepingan puzzle mulai terbentuk. Struk pembelian cireng itu bukan dari suaminya untuknya. Tapi dari suaminya untuk wanita lain. Pembelian yang dilakukan setelah ‘meeting mendadak’ atau ‘lembur tak terduga’. Rasa mual naik ke tenggorokannya.

Babak 4 — Wajah yang Tak Dikenal, Hati yang Hancur

Pagi datang seperti biasa. Matahari bersinar terik menembus tirai kamar kos yang lusuh. Gendis sudah duduk di meja makan, membuat mie instan dengan taburan telur ceplok. Jatmiko akhirnya pulang, sekitar pukul setengah tujuh pagi. Wajahnya tampak lelah, sedikit berantakan. Ia masih mengenakan kemeja yang sama seperti kemarin.

“Pagi, Mbak,” sapanya dengan suara serak, mencoba tersenyum.

Gendis hanya mengangguk. Ia tak bisa menemukan suara untuk membalas sapaan itu. Piring mie instan tersaji di depannya, namun ia tak punya selera makan. Matanya tak berani menatap suaminya.

Jatmiko duduk di depannya. Ia meraih sendok, tapi kemudian meletakkannya kembali. Ia menatap Gendis, merasakan ada sesuatu yang berbeda. Keheningan di antara mereka kali ini terasa jauh lebih berat dari biasanya.

“Mbak kenapa?” tanyanya pelan, nadanya terdengar khawatir. Atau pura-pura khawatir?

Gendis menarik napas panjang. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu memutar layar ke arah Jatmiko. Tangkapan layar percakapan dengan wanita berinisial E itu terpampang jelas. Lalu, ia meletakkan struk pembelian cireng di samping ponsel.

Wajah Jatmiko pucat pasi. Matanya melirik ke sana kemari, seolah mencari jalan keluar yang tak pernah ada. Ia membuka mulut, hendak bicara, tapi tak ada kata yang keluar.

“Siapa dia, Mas?” Suara Gendis bergetar, bukan karena tangis, tapi karena amarah yang tertahan.

Jatmiko menunduk. Bahunya merosot. Ia tak bisa menatap mata Gendis. Keheningan kembali menyelimuti mereka, kali ini penuh dengan ketegangan yang mencekam.

“Aku… aku bisa jelaskan,” bisiknya akhirnya, suara itu begitu pelan, nyaris tak terdengar.

“Jelaskan apa? Soal cireng yang kamu beli jam satu pagi? Jelaskan soal ‘tempat biasa’ yang kalian datangi setelah itu? Atau jelaskan soal bunga edelweis yang kamu kasih ke dia?” Gendis tertawa getir. Tawanya kering, tanpa nada bahagia.

Jatmiko masih tertunduk. Ia terlihat seperti anak kecil yang ketahuan mencuri kue. Bukan penyesalan yang mendalam, lebih seperti ketidaknyamanan karena tertangkap basah.

Tiba-tiba, terdengar suara ketukan di pintu kos. Pelan, namun jelas. Gendis dan Jatmiko sama-sama menoleh ke arah pintu. Jatmiko tampak semakin panik. Wajahnya semakin pucat.

Babak 5 — Ketukan di Pintu yang Mengubah Segalanya

Ketukan di pintu itu terdengar lagi, lebih jelas kali ini. Jatmiko menoleh ke arah Gendis, matanya memohon. “Mbak, tolong…”

Gendis mengabaikan permohonan suaminya. Ia berdiri, lalu berjalan perlahan menuju pintu kos. Setiap langkah terasa berat, seolah ia sedang berjalan menuju jurang yang tak berdasar. Ia mengintip dari lubang intip.

Seorang wanita muda berdiri di sana. Cantik, dengan rambut panjang tergerai dan mata yang terlihat sedikit sembab. Ia memegang sebuah tas jinjing kecil berwarna coklat. Wanita itu tampak ragu, jemarinya mengetuk pintu sekali lagi, lebih pelan.

Gendis membuka pintu perlahan, hanya selebar celah.

Wanita itu terkejut melihat Gendis. Matanya membesar, lalu ia terdiam. Wajahnya memucat. Ia terlihat seperti orang yang tersesat, mencari sesuatu yang tak kunjung ia temukan.

“Permisi…” suara wanita itu bergetar. “Saya… saya sedang mencari Jatmiko.”

Di belakangnya, Gendis bisa melihat Jatmiko berdiri terpaku. Wajahnya seperti patung, pucat pasi, matanya menatap kosong ke depan.

“Jatmiko?” Gendis mengulangi pertanyaan wanita itu, nadanya datar. Ia melirik ke arah suaminya, lalu kembali menatap wanita di depannya. “Memang ada perlu apa dengan Jatmiko?”

Wanita itu menunduk, tidak berani menatap mata Gendis. Ia menggigit bibir bawahnya. “Saya… saya E… pacarnya.”

Kata ‘pacarnya’ menggantung di udara, begitu dingin, begitu tajam. Gendis tak bereaksi. Ia hanya menatap wanita itu lekat-lekat. Ada campuran rasa kasihan dan rasa jijik yang bercampur aduk di dadanya. Wanita ini, yang ia lihat di foto profil HP suaminya, kini berdiri di depan matanya.

Jatmiko terbatuk kecil di belakang Gendis, mencoba menarik perhatian, mencoba menghentikan Gendis. Namun Gendis tak menggubrisnya. Ia membiarkan keheningan menguasai suasana.

“Oh,” Gendis akhirnya bersuara, nada suaranya begitu tenang, seolah ia sedang membicarakan cuaca. “Jadi kamu pacarnya Jatmiko? Yang sering dibeliin cireng jam satu pagi itu?” Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya sama sekali.

Wanita itu terkesiap, matanya berkaca-kaca. Ia melirik Jatmiko di belakang Gendis, seolah mencari perlindungan. Tapi Jatmiko hanya berdiri diam, bagai orang bisu yang tak punya daya.

Gendis mengambil langkah maju, menutup pintu kos sedikit lebih lebar, tapi tidak membuka sepenuhnya. Ia hanya berdiri di celah pintu, menatap wanita di depannya. “Mau masuk? Atau mau saya panggilkan polisi? Soalnya, status saya di sini, kan, masih istri sahnya.” Kalimat terakhir itu diucapkan dengan penekanan yang jelas, membuat wanita di depannya semakin terintimidasi.

Wanita itu menggeleng cepat, air mata kini mulai mengalir di pipinya. Ia mundur selangkah, lalu berbalik dan berlari entah kemana, meninggalkan Jatmiko dan Gendis dalam keheningan yang baru. Gendis memandang punggung wanita itu menghilang di ujung lorong, lalu kembali menatap suaminya yang masih membeku di belakangnya. Rahangnya mengeras, matanya menatap kosong ke depan.