Cerpen: Struk Minuman Boba Ini Mengungkap Pengkhianatan yang Lebih Pedih dari Apapun
Babak 1 — Racun Manis di Ujung Lidah
“Mas, ini kamu pesen lagi? Katanya mau diet?” Suara Reswari sedikit tercekat saat menyerahkan tas belanjaan pada suaminya, Jatmiko. Aroma segar campuran kopi dan roti panggang dari toko roti dekat rumah samar-samar tercium, tapi fokus Reswari tertuju pada bungkusan transparan berisi dua gelas minuman boba yang dipegang Jatmiko. Satu gelas terlampir struk pembelian, seperti kebiasaan Jatmiko jika membeli sesuatu di luar rutinitas. Biasanya Jatmiko akan langsung meletakkannya di meja dapur atau di saku celana yang kemudian akan dibuang ke tempat sampah. Tapi kali ini, struk itu masih terselip di bibir gelas, menggantung tak beraturan.
Jatmiko tertawa, sedikit kaku. “Oh, ini? Buat kamu, Mbak. Tadi lewat depan, inget kamu suka yang brown sugar.
Jatmiko menggeser gelas itu sedikit ke arah Reswari, seolah ingin memastikan benda itu sampai ke tangan istrinya. Tapi Reswari tidak menyentuhnya. Matanya menatap lekat pada struk kecil yang mencuat itu. Jari telunjuknya perlahan terangkat, mendekat ke kertas tipis berisi deretan angka dan nama pesanan itu. Ia tidak sedang ingin membaca detail harganya, bukan. Ada sesuatu yang membuatnya berhenti. Sesuatu yang terasa janggal.
“Kok di sini ada nama… ‘Kirana’?” Suara Reswari mengecil, nada suara yang biasanya ceria kini bergetar aneh. Ia mengerutkan kening, berusaha mengingat apakah ada teman atau keluarga bernama Kirana yang mungkin Jatmiko temui hari ini. Tidak ada. Jatmiko tidak punya teman dekat bernama Kirana. Ia bahkan tidak punya kenalan kerja dengan nama itu. Pikiran tentang hal-hal buruk, hal-hal yang selama ini ia coba tepis, mulai berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Jatmiko terdiam sejenak, mencoba mencerna pertanyaan istrinya. Wajahnya sedikit memucat, namun ia buru-buru memasang senyum. “Oh, itu… teman lama, Mbak. Tadi kebetulan ketemu di jalan. Dia yang nawarin, katanya lagi ada promo. Jadi aku beliin sekalian buat kamu.” Kalimatnya terasa mengalir, terlalu lancar, terlalu dibuat-buat. Senyum Jatmiko terpaku, senyum yang sama saat ia mencoba meyakinkan Reswari bahwa ia tidak lupa membayar tagihan listrik, padahal kartu debitnya sudah terlampir notifikasi penolakan.
Reswari tidak langsung merespon. Ia hanya memandangi suaminya, mencoba membaca ekspresi yang tertutup topeng kepura-puraan itu. Detak jantungnya berpacu lebih kencang, bukan karena curiga, tapi karena rasa sakit yang perlahan menusuk. Rasanya seperti ada sesuatu yang dingin merayap di perutnya, membuat napasnya sesak. Ia tahu, Jatmiko sedang berbohong. Kebohongan itu terasa begitu nyata, menusuk telinganya seperti teriakan yang teredam. Ia hanya diam, jari-jarinya masih memegang erat gelas boba yang terasa dingin di tangannya, menanti sebuah pengakuan, atau mungkin, sebuah konfirmasi atas ketakutan terburuknya.
Babak 2 — Retakan di Dinding Kepercayaan
Reswari mengambil struk itu dengan hati-hati. Jari-jarinya yang biasanya lentik menari di atas keyboard laptop saat ia bekerja sebagai editor, kini terasa kaku dan bergetar. Ia menarik struk itu keluar dari bibir gelas, seolah takut merobeknya, takut menghancurkan jejak terakhir dari kebohongan yang baru saja terungkap. Ia mencoba terlihat tenang, meniru ketenangan yang Jatmiko tunjukkan beberapa detik lalu. Tapi di dalam, badai mulai mengamuk.
Ia membolak-balik struk itu. Nama Jatmiko tertera jelas di sana, dipadukan dengan nama ‘Kirana’. Dan di bawahnya, ada beberapa pesanan tambahan. Bukan hanya dua gelas boba cokelat yang ia terima. Ada dua gelas lain, salah satunya rasa taro, dan satu lagi rasa matcha. Dan yang paling mengganggu adalah waktu pembelian: pukul 15.47 sore. Padahal Jatmiko bilang ia baru saja pulang dari kantor, yang mana jam kerjanya biasanya berakhir pukul 17.00. “Kebetulan ketemu di jalan,” katanya. Jalan yang mana? Jalan menuju rumah? Atau jalan dari kantornya yang berjarak hampir satu jam perjalanan?
Dia membuka aplikasi GoFood di ponselnya. Jemarinya menari di layar, mencari nama ‘Kokumi’ – merek minuman boba yang tertera di struk. Ia mencari menu yang sama persis: Brown Sugar Boba Milk, Taro Boba Milk, Matcha Boba Milk. Dan juga, sepertinya ada varian lain yang tidak ia kenal. Ia mencoba menenangkan diri, menyalahkan imajinasinya yang terlalu liar. Mungkin saja Kirana ini adalah rekan kerja Jatmiko. Mungkin saja mereka memang sedang merayakan sesuatu. Tapi, kenapa Jatmiko harus berbohong tentang promo dan teman lama? Kebohongan kecil itu terasa lebih mengkhawatirkan daripada isi pesanan itu sendiri.
Reswari duduk di kursi ruang makan, menghadap jendela yang menampilkan pemandangan sore hari di kompleks perumahan mereka yang tenang. Lampu jalan mulai menyala satu per satu. Ia mengambil gelas boba yang dipegang Jatmiko tadi, yang kini tergeletak begitu saja di meja. Ia mengaduknya pelan, tanpa niat untuk meminumnya. Ia hanya ingin merasakan sedikit kehangatan dari cairan manis itu, berharap kehangatan itu bisa meredakan dingin yang menjalar di hatinya. Ia memikirkan Jatmiko, suaminya selama tujuh tahun. Pria yang selalu ia percayai, pria yang ia banggakan di depan keluarga dan teman-temannya. Pria yang kini membuat lidahnya terasa pahit meskipun mulutnya penuh dengan rasa manis.
Ia membuka ponselnya lagi, kali ini bukan untuk membuka aplikasi pesan antar makanan, melainkan membuka galeri foto. Ia melihat deretan foto pernikahannya, foto liburan mereka ke Bali tahun lalu, foto-foto Jatmiko saat tersenyum lebar di depan kamera. Foto-foto itu terasa menyakitkan sekarang. Setiap senyuman Jatmiko di foto itu terasa seperti tusukan. Ia ingin menangis, tapi air matanya seolah tertahan di tenggorokan. Ia hanya bisa terdiam, memegang struk kecil yang kini terasa seperti bom waktu di tangannya. Ia tahu, ada sesuatu yang sangat salah.
Babak 3 — Jejak Digital yang Tak Bisa Dihapus
Malam itu, Reswari tidak bisa tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan struk dan nama ‘Kirana’ muncul di benaknya. Jatmiko tertidur pulas di sebelahnya, dengkurnya yang biasanya menenangkan kini terdengar asing dan mengganggu. Reswari beranjak dari tempat tidur, melangkah hati-hati agar tidak membangunkan suaminya. Ia menuju ruang kerja kecil yang dulu menjadi surga kecilnya, tempat ia tenggelam dalam dunia buku dan cerita. Kini, ruangan itu terasa dingin dan mencekam.
Ia menyalakan laptopnya. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard, membuka kembali aplikasi GoFood. Ia teringat kata Jatmiko, ‘kebetulan ketemu di jalan’. Jalan mana yang ia maksud? Ia mencoba membuka riwayat pesanannya, berharap menemukan petunjuk. Ada banyak pesanan dari ‘Kokumi’ yang tersimpan di sana, beberapa di antaranya adalah pesanan favorit Jatmiko. Tapi tidak ada nama ‘Kirana’. Tentunya saja, itu bukan akun Jatmiko yang ia buka.
Kemudian, ia teringat percakapan Jatmiko dengan temannya beberapa hari lalu. Jatmiko sedang panik karena lupa password salah satu akunnya. Ia ingat Jatmiko sempat menunjukkan layar ponselnya, sekilas ia melihat beberapa nama yang tidak asing, tapi juga ada satu nama yang membuatnya sedikit curiga, tapi ia abaikan saat itu karena Jatmiko buru-buru menutup layarnya. Nama itu… mirip dengan nama di struk. ‘Kirana’?
Reswari mencoba beberapa kombinasi password yang paling mungkin digunakan Jatmiko, berdasarkan kebiasaan Jatmiko dan beberapa detail yang ia ingat. Tgl lahir neneknya, nama hewan peliharaan pertama, nama almarhum ayah Jatmiko. Gagal. Gagal. Gagal. Perasaan cemas mulai menggigitnya. Ia sudah merasa seperti detektif yang sedang mengintai suaminya sendiri, sebuah peran yang tidak pernah ia bayangkan akan ia jalani.
Tiba-tiba, sebuah ide muncul. Jatmiko pernah bercerita bahwa ia punya akun cadangan di beberapa aplikasi, untuk berjaga-jaga. Reswari mencoba mengingat nama akun yang pernah disebut Jatmiko, sebuah nama unik yang ia gunakan di masa kuliah dulu. Dan akhirnya… berhasil! Akun GoFood yang lain terbuka. Riwayat pesanannya terlihat. Dan di sana, tepat di daftar pesanan teratas, ada pesanan dari ‘Kokumi’ pada pukul 15.47. Bukan hanya itu. Ada nama ‘Kirana’ di sana, tertera jelas sebagai penerima. Bukan hanya sekali. Ada beberapa pesanan lain yang ditujukan untuk alamat yang berbeda, dengan nama ‘Kirana’ sebagai penerima, dan beberapa pesanan dengan nama Jatmiko sebagai pengirim.
Reswari menutup laptopnya perlahan, seolah takut suara klik itu akan membangunkan Jatmiko dari tidurnya, atau lebih buruk lagi, membangunkan kebenaran yang selama ini Jatmiko sembunyikan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, memejamkan mata. Ia merasa seperti dihantam gelombang pasang. Kebohongan Jatmiko bukan sekadar ketidakjujuran kecil. Ini adalah pola. Ini adalah sistem. Dan nama ‘Kirana’ bukan hanya sekadar teman lama. Ini adalah pengkhianatan yang terencana, yang terbungkus manis dalam rasa boba.
Babak 4 — Wajah yang Tak Dikenal
Besoknya, Jatmiko berangkat kerja seperti biasa. Reswari tidak menahannya, tidak bertanya, tidak menuduh. Ia hanya menatap punggung suaminya yang menjauh, lalu berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah. Rumah yang tadinya terasa hangat dan penuh cinta, kini terasa dingin dan asing. Ia masih memegang struk boba itu. Ia tidak membuangnya. Ia melipatnya rapi, memasukkannya ke dalam dompetnya, di antara kartu-kartu identitas dan kartu ATM-nya. Rasanya seperti membawa beban berat yang tak terlihat.
Selama hari itu, Reswari hanya duduk di ruang tamu, memandangi ponselnya. Ia tidak membuka aplikasi kencan, bukan. Ia membuka aplikasi pesan di ponsel Jatmiko yang ia buka semalam. Ia mencari nama ‘Kirana’. Tidak ada. Tapi ia ingat, Jatmiko punya akun LINE yang ia gunakan untuk berkomunikasi dengan teman-teman kampusnya dulu. Dengan sedikit perjuangan, ia berhasil masuk ke akun itu. Dan di sana, terpampang jelas nama ‘Kirana’. Dan di bawahnya, ada percakapan yang membuat darah Reswari serasa membeku.
“Besok ketemu di tempat biasa ya, Miko. Jangan lupa bawain yang rasa taro.”
“Pasti, Ran. Kamu udah siapin semuanya?”
“Siap dong. Kapan sih aku nggak siap?”
Reswari membaca pesan-pesan itu, satu per satu. ‘Tempat biasa’. ‘Siapin semuanya’. ‘Kapan sih aku nggak siap’. Bukan hanya sekadar pesan antar minuman. Ini lebih dari itu. Ini adalah sebuah rencana. Sebuah pertemuan. Reswari merasa seperti menonton film, film yang ceritanya begitu mengerikan hingga ia ingin segera menghentikannya, tapi ia tidak bisa.
Tiba-tiba, ada notifikasi masuk. Sebuah foto baru terunggah di akun LINE Jatmiko, di percakapan dengan Kirana. Foto itu menampilkan Jatmiko dan seorang wanita. Jatmiko tersenyum lebar, merangkul wanita itu dari samping. Wanita itu berambut sebahu, wajahnya tidak asing. Sangat tidak asing. Reswari pernah melihatnya di media sosial. Dia adalah barista di kafe dekat kantor Jatmiko. Kafe yang sering Jatmiko kunjungi saat makan siang.
Reswari merasa pusing. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan detak jantungnya. Ia ingat Jatmiko pernah menyebut nama barista itu, tapi hanya sekilas, sebagai ‘teman kerja’. ‘Teman kerja’. Sungguh ironis.
Tiba-tiba, ponsel Jatmiko berdering. Nama ‘Kirana’ tertera di layar. Jatmiko sedang tidak di rumah. Reswari melihat ponsel itu tergeletak di meja kopi. Tangannya gemetar saat meraih ponsel itu. Ia ragu. Ia tahu ini salah. Tapi ia harus tahu.
Ia menjawab panggilan itu.
“Halo? Miko? Kok lama banget sih jawabnya? Kamu di mana?” Suara Kirana terdengar riang, tanpa beban.
Reswari terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. “Miko… sedang tidak bisa bicara.” Suaranya serak dan bergetar.
Di ujung telepon, Kirana terdiam. Keheningan itu terasa lebih mencekam daripada kalimat yang ia baca di percakapan LINE. “Siapa ini?” Suara Kirana terdengar sedikit waspada.
Reswari menarik napas panjang. “Saya… istrinya.”
Babak 5 — Garis Finis yang Tak Terduga
Keheningan menyelimuti saluran telepon. Di sisi lain, Kirana tidak menjawab. Reswari bisa mendengar suara napasnya yang tertahan, diselingi dengan suara samar yang terdengar seperti gemerisik pakaian, seolah ia sedang bergerak, atau mungkin, panik. Suara tawa riang tadi kini lenyap, digantikan oleh ketegangan yang nyaris tak tertahankan.
“I… istrinya?” Suara Kirana akhirnya terdengar lagi, kali ini lebih pelan, nyaris seperti bisikan. Ada nada kebingungan yang kentara, tapi juga sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak bisa Reswari identifikasi. Bukan rasa bersalah, bukan pula penyesalan. Lebih seperti… kejutan yang tidak menyenangkan.
“Iya,” jawab Reswari, suaranya kini lebih mantap, meski masih terdengar getir. “Saya Reswari.” Ia sengaja menyebutkan namanya, seolah ingin menancapkan kukunya di momen yang mengerikan ini. Ia tidak ingin menjadi wanita bayangan lagi.
Kirana tertawa kecil, tawa yang terdengar hampa dan tidak tulus. “Oh… Reswari. Yang sering Miko ceritain itu ya?” Kalimat itu terdengar seperti tusukan. ‘Sering diceritain’. Apakah Jatmiko sering membicarakan dirinya kepada wanita ini? Dengan nada seperti apa? Apakah sebagai istri yang dicintai, atau sebagai beban yang harus ditanggung?
Reswari tidak menjawab. Ia hanya menunggu. Ia ingin mendengar Kirana mengatakan sesuatu yang lebih. Sesuatu yang akan mengkonfirmasi semua ketakutan dan kecurigaannya. Sesuatu yang akan membebaskannya dari keraguan, sekaligus menjebaknya dalam kepastian yang menyakitkan.
“Hmm, aku kira… aku kira Miko udah cerita semuanya ke kamu,” ujar Kirana, suaranya kini terdengar sedikit lebih tenang, tapi nadanya tetap dingin. “Aku pikir… kita sama-sama tahu ini bukan apa-apa. Cuma… kayak angin lalu aja.”
‘Angin lalu’. Kata itu menghantam Reswari seperti pukulan telak. Ia tidak tahu apakah Kirana benar-benar percaya bahwa hubungan mereka hanya sebatas angin lalu, atau ia hanya mencoba menyelamatkan dirinya sendiri. Tapi bagi Reswari, ini bukanlah angin lalu. Ini adalah badai yang menghancurkan seluruh rumah tangga yang ia bangun dengan susah payah.
Tiba-tiba, Kirana terbatuk ringan. “Maaf ya, Mbak Reswari. Aku… aku nggak nyangka kamu yang angkat teleponnya. Miko pasti lagi sibuk banget hari ini. Nggak bisa diganggu.” Suara Kirana berubah lagi, kali ini terdengar sedikit tergesa-gesa, seolah ingin segera mengakhiri percakapan ini. “Aku harus pergi sekarang. Ada… urusan lain.”
Sebelum Reswari sempat berkata apa pun, Kirana memutuskan sambungan telepon. Layar ponsel Jatmiko kembali gelap, memantulkan bayangan wajah Reswari yang pucat dan bingung. Ia memegang ponsel itu erat-erat, merasakan getaran samar dari sisa panggilan yang baru saja berakhir. ‘Angin lalu’. Kata itu terus berputar di kepalanya. Apakah itu berarti ia harus menerima kenyataan pahit ini? Apakah itu berarti seluruh hidupnya selama ini hanyalah sebuah ilusi yang diciptakan oleh seorang pria yang ia cintai?
Reswari menatap keluar jendela. Langit senja mulai memerah, tapi tidak ada keindahan yang bisa ia rasakan. Yang ada hanyalah kekosongan. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ia tidak tahu bagaimana ia akan menghadapi Jatmiko. Ia hanya tahu satu hal: struk minuman boba itu telah membuka pintu ke sebuah dunia yang tidak pernah ia bayangkan, sebuah dunia yang penuh dengan kebohongan, pengkhianatan, dan pertanyaan yang tidak akan pernah ia dapatkan jawabannya sepenuhnya.
