Kisah Nindya: Struk Parkir Misterius di Laci Suami Buka Luka Lama yang Menyakitkan
Babak 1 — Kehidupan yang Terasa Sempurna
Nindya menghela napas lega seraya mengusap lembut puncak kepala Pradipta, putranya yang kini terlelap di pangkuannya. Sore itu, aroma seblak pedas yang baru saja ia pesan via GoFood masih tercium samar di udara ruang tamu mereka. Sesekali, matanya melirik ke arah jam dinding, menunggu kepulangan Satriyo, suaminya. Pukul empat sore. Selalu tepat waktu, seperti jam. Kebiasaan yang sudah berlangsung selama tujuh tahun pernikahan ini, membuat Nindya merasa aman, betah dalam kenyamanan yang ia bangun sendiri. Ia memejamkan mata sejenak, meresapi kedamaian yang terasa begitu kokoh. Seolah tak ada retakan sedikitpun dalam fondasi rumah tangganya.
Ponselnya bergetar di meja kopi. Sebuah notifikasi dari aplikasi bank. Nindya membukanya, melihat mutasi transaksi hari itu. Semua ter Ecco, pembayaran listrik via PLN Mobile, tagihan internet, dan transfer rutin untuk kebutuhan rumah tangga. Semua beres. Ia tersenyum tipis. Hidupnya teratur, seperti daftar belanjaannya yang selalu tertata rapi dalam Google Keep. Ia bukan tipe orang yang suka drama atau kejutan besar. Cukup ketenangan yang berkelanjutan, itu sudah lebih dari cukup baginya. Ia bahkan kadang merasa sedikit cemas jika ada sesuatu yang keluar dari rutinitasnya. Kebiasaan perfeksionis yang sulit ia hilangkan sejak dulu.
Suara pintu terbuka mengagetkannya. Satriyo pulang. Ia tersenyum, lalu bangkit untuk menyambut suaminya. Satriyo terlihat sedikit lelah, dasi yang sedikit longgar dan kerutan tipis di dahinya menandakan hari yang panjang di kantor. “Capek, Mas?” tanya Nindya lembut, meraih tas kerja suaminya. Satriyo hanya mengangguk, lalu mencium kening Nindya sekilas. “Ada oleh-oleh nih,” katanya sambil menyodorkan sekotak martabak manis kesukaan mereka dari toko langganan di pinggir jalan. Nindya tersenyum lebar. “Wah, pas banget. Aku baru aja bikin seblak, Mas. Kita makan bareng ya?” Satriyo mengangguk lagi, lalu berjalan menuju kamar untuk berganti pakaian. Nindya memperhatikan punggung suaminya menjauh, perasaan hangat menjalar di dadanya. Sungguh, kehidupan yang nyaris sempurna.
Malam itu, setelah Pradipta tertidur pulas dan Satriyo tenggelam dalam pertandingan bola di televisi, Nindya memutuskan untuk membereskan meja kerja Satriyo yang sedikit berantakan. Satriyo memang tidak terlalu rapi, tapi ia punya kebiasaan menyimpan barang-barang penting di laci tengah. Nindya membuka laci itu dengan hati-hati, berniat merapikan tumpukan kertas dan dokumen. Tangannya meraih sebuah tumpukan struk kasir, kebanyakan dari minimarket dan beberapa dari toko buku. Nindya ingin menyimpannya agar tidak berserakan, tapi matanya tertuju pada satu struk yang berbeda. Warnanya pudar, kertasnya sedikit menguning, dan tulisan tangan di atasnya jelas bukan tulisan mesin kasir. Ia mengambil struk itu, rasa penasaran mulai menggelitik.
Babak 2 — Struk Misterius yang Menggugah
Nindya mengerutkan kening. Struk itu bukan struk parkir biasa. Tertulis di sana, sebuah tanggal beberapa bulan lalu, pukul 23.47. Jam yang sangat larut. Di bawahnya tertera detail barang yang dibeli: “1x Pospay – Rp 75.000”, “1x Air Mineral – Rp 5.000”, dan “1x Choco Pie – Rp 12.000”. Totalnya sekitar Rp 92.000. Ia mencoba mengingat, apakah Satriyo pernah pergi keluar selarut itu dan membeli barang-barang seperti ini? Sepengetahuannya, Satriyo akan selalu pulang sebelum jam sepuluh malam, apalagi jika ia tidak ada acara mendadak di kantor. Seringkali, jika lembur, ia akan mengabari Nindya terlebih dahulu.
Ia membolak-balik struk itu. Ada coretan tambahan di bagian bawah, menggunakan pulpen biru tua: “Jam 11.00, bioskop A, tiket XX1”. Tanggalnya sama. Nindya semakin bingung. Bioskop? Satriyo tidak pernah mengajak Nindya nonton selarut itu. Lagipula, jika memang ada urusan mendadak, kenapa harus beli ‘Pospay’? Apa itu semacam voucher atau kartu prabayar? Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi Tokopedia, dan mencari ‘Pospay’. Hasilnya nihil. Ia coba lagi di Google. Tetap tidak ada jawaban yang relevan.
Tangannya mulai terasa dingin. Sesuatu yang janggal mulai merayap di pikirannya. Ia merasa tidak nyaman, tapi ia mencoba menepisnya. Mungkin saja Satriyo hanya pergi untuk membeli obat atau kebutuhan mendesak lainnya. Tapi, jam larut malam itu, bioskop, dan pembelian yang aneh, semuanya terasa sangat… mencurigakan. Ia kembali memeriksa struk itu, meneliti setiap detail. Tulisan tangan itu. Kelihatannya familiar, tapi ia tidak bisa menempatkannya. Jantungnya mulai berdegup lebih kencang. Ia meletakkan struk itu kembali ke tumpukan, tapi pikirannya tidak bisa lepas dari sana. Ia mencoba melanjutkan merapikan meja kerja, namun jemarinya terasa kaku, dan fokusnya buyar. Ia mendadak teringat sebuah kenangan samar, saat Satriyo pernah berkata ia akan menghadiri pertemuan kantor yang penting di sebuah hotel di bilangan Senayan, beberapa bulan lalu. Namun, ia sama sekali tidak yakin apakah struk ini ada kaitannya dengan itu.
Babak 3 — Jejak Digital yang Terlupakan
Keesokan paginya, Nindya bangun lebih pagi dari biasanya. Ia membuatkan kopi untuk Satriyo seperti biasa, namun pikirannya terus berputar pada struk misterius itu. Ia memutuskan untuk menyelidiki sendiri. “Mas, tadi malam aku merapikan meja kerja, ada struk parkir yang agak aneh di laci. Ada tulisan tangan segala. Kamu tahu ini dari mana?” tanyanya dengan nada sehalus mungkin, berusaha terdengar santai. Satriyo yang sedang menyeduh tehnya hanya melirik sekilas. “Oh, itu… paling dari kemarin aku habis bayar sesuatu di dekat sana,” jawabnya singkat, tanpa menghentikan aktivitasnya. Jawaban yang terkesan mengelak itu justru semakin menguatkan kecurigaan Nindya.
Sepulang dari mengantar Pradipta ke sekolah, Nindya langsung membuka laptopnya. Ia membuka kembali galeri foto di ponselnya, mencari foto-foto yang diambil sekitar bulan lalu, saat tanggal yang tertera di struk itu. Ia menggeser foto demi foto, berharap menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan. Tidak ada foto yang relevan. Ia lalu teringat detail “XX1” di struk itu. XX1 adalah jaringan bioskop yang cukup populer di Jakarta. Ia membuka aplikasi pemesanan tiket bioskop di ponselnya, lalu memasukkan tanggal dan jam yang tertera di struk. Ia mencari film yang tayang pada jam tersebut. Ada beberapa pilihan, tapi ia tidak yakin film mana yang Satriyo tonton, jika memang benar ia menonton.
Ia kemudian mencoba mencari tahu arti “Pospay” melalui Google lagi, kali ini dengan kata kunci yang lebih spesifik. Akhirnya ia menemukan bahwa Pospay adalah layanan pembayaran digital dari Pos Indonesia. Kenapa Satriyo harus membayar sesuatu via Pospay selarut itu, dan di bioskop? Ia mencoba mengecek riwayat transaksi Satriyo di beberapa aplikasi pembayaran digital yang mereka gunakan bersama, seperti DANA dan GoPay. Semuanya tampak normal. Tidak ada transaksi mencurigakan yang bisa mengaitkan Satriyo dengan pembelian Pospay di jam tersebut. Ia merasa frustrasi. Rasanya seperti sedang mencari jarum dalam tumpukan jerami. Ia bahkan mencoba mengingat kembali apakah Satriyo pernah mengambil uang tunai dalam jumlah besar di ATM pada tanggal tersebut, namun ia tidak menemukan catatan apapun di buku kasnya.
Babak 4 — Pengakuan yang Terkuak
Malam itu, Nindya merasa gelisah. Ia tidak bisa tidur. Ia memandang Satriyo yang tertidur pulas di sampingnya. Perasaan tidak enak semakin menusuk hatinya. Ia bangkit perlahan, takut membangunkan suaminya. Ia mengambil struk itu lagi, kali ini ia memperhatikan detail tulisan tangan itu lebih saksama. Ia mencoba meniru gaya menulisnya di selembar kertas. Semakin ia perhatikan, semakin ia merasa familiar. Tiba-tiba, sebuah nama muncul di benaknya. Nama seorang teman lama Satriyo, yang pernah bekerja di bagian marketing sebuah perusahaan event organizer. Namanya adalah Laksmi.
Nindya teringat, beberapa bulan lalu, Laksmi sempat menghubungi Satriyo untuk meminta bantuan terkait sebuah acara. Satriyo memang suka membantu teman-temannya. Mungkin saja ia pergi untuk mengurus sesuatu terkait acara itu. Namun, membeli ‘Pospay’ dan pergi ke bioskop jam sebelas malam? Itu masih belum masuk akal. Ia memutuskan untuk mencari akun media sosial Laksmi. Dengan sedikit usaha, ia menemukan akun Instagramnya. Ia menggeser layar, melihat unggahan-unggahan Laksmi. Kebanyakan tentang pekerjaan, beberapa foto liburan. Sampai ia melihat sebuah foto beberapa bulan lalu. Foto Laksmi bersama beberapa orang lain di sebuah acara. Di tangannya, Laksmi memegang sebuah struk. Jantung Nindya berdegup kencang. Ia memperbesar foto itu. Struk yang dipegang Laksmi terlihat identik dengan struk yang ia temukan di laci Satriyo. Tulisan tangan di struk itu, ternyata adalah tulisan tangan Laksmi.
Dengan tangan gemetar, Nindya mengirim pesan singkat ke nomor yang ia temukan di profil Laksmi. “Permisi, apakah Anda Laksmi? Saya Nindya, istri Satriyo. Bisakah kita bicara sebentar mengenai struk yang Anda berikan pada Mas Satriyo beberapa bulan lalu?” Tak lama kemudian, balasan muncul. “Nindya? Tentu, saya akan jelaskan.” Pesan selanjutnya datang dari Laksmi, menjelaskan bahwa struk itu adalah bukti pembayaran untuk tiket acara yang ia selenggarakan, dan Satriyo membantunya memesan beberapa hal secara online menggunakan akun Pospay yang ia pinjam. Bioskop itu? Ternyata Satriyo memang menjemput Laksmi di sana, bukan untuk menonton, tapi karena lokasi bioskop itu dekat dengan tempat Laksmi tinggal dan ia kesulitan mencari transportasi selarut itu. Nindya merasa sedikit lega, namun ada sesuatu yang masih mengganjal. Mengapa Satriyo tidak pernah menceritakannya?
Babak 5 — Luka yang Terus Menganga
Nindya menunggu Satriyo bangun. Ia harus menanyakan ini langsung padanya. Ketika Satriyo akhirnya terbangun, Nindya langsung menunjukkan struk itu. “Mas, aku sudah tahu semuanya. Ini tulisan tangan Laksmi, kan? Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu membantunya seperti ini?” Satriyo terdiam. Ia menatap Nindya, lalu menatap struk itu. Wajahnya pucat pasi. Ia menarik napas panjang. “Nindya… ada sesuatu yang harus aku akui.” Suara Satriyo bergetar. Nindya merasakan firasat buruk kembali menghampirinya. “Waktu itu, aku memang membantu Laksmi. Tapi bukan hanya soal pembayaran. Aku… aku dan Laksmi… kami…” Satriyo tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia menunduk, bahunya terkulai lemas. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Nindya.
“Kalian kenapa, Mas?” desak Nindya, suaranya mulai serak. Satriyo akhirnya mengangkat wajahnya, matanya merah dan basah. “Kami… kami sempat dekat waktu itu. Sangat dekat. Sampai aku sadar, aku sudah melewati batas. Aku sangat menyesal, Nindya. Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu.” Pengakuan itu menghantam Nindya seperti palu godam. Dunia yang ia bangun selama tujuh tahun ini seolah runtuh dalam sekejap. Ia memandang suaminya, sosok yang ia cintai dan percayai sepenuh hati, kini berdiri di hadapannya sebagai seorang pendusta. Rasa sakit yang ia rasakan bukan hanya karena perselingkuhan itu sendiri, tetapi juga karena kebohongan yang telah ditutupi selama berbulan-bulan.
Ia tidak bisa berkata apa-apa. Lidahnya kelu. Ia hanya bisa menatap suaminya dengan pandangan kosong. Satriyo mencoba meraih tangannya, namun Nindya menariknya menjauh. “Jangan sentuh aku,” bisiknya lirih. Ia bangkit, berjalan terhuyung menuju kamar Pradipta. Ia duduk di pinggir ranjang putranya, memeluknya erat, seolah ingin menyembunyikan dirinya dari kenyataan pahit ini. Ia tahu, perdebatan sengit akan terjadi. Air mata akan tumpah. Tapi yang terpenting saat ini, ia harus memastikan putranya tetap aman, terhindar dari badai yang baru saja menerpa rumah tangga mereka. Ia memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir tanpa suara. Rumah tangga yang ia kira sempurna, kini retak tak terperikan. Dan ia tidak tahu, apakah retakan itu bisa diperbaiki, atau justru akan terus menganga, memisahkan mereka selamanya.
