Suaminya Bilang Lembur, Tapi Kertas Ini Bikin Hati Sekarwangi Hancur Berkeping-keping

Suaminya Bilang Lembur, Tapi Kertas Ini Bikin Hati Sekarwangi Hancur Berkeping-keping

CERITA PENDEK

Suaminya Bilang Lembur, Tapi Kertas Ini Bikin Hati Sekarwangi Hancur Berkeping-keping

Babak 1 — Senyap yang Memekakkan

Napas Sekarwangi tercekat. Udara di dapur apartemen minimalis mereka terasa kental, seolah enggan bergerak. Pukul sepuluh malam. Biasanya, di jam segini, ia sudah terlelap ditemani dengkuran halus Pradipta di sampingnya. Namun malam ini, hanya keheningan yang membingkai aktivitasnya yang tak lazim: membongkar tas kerja Pradipta yang tertinggal di kursi ruang makan.

Bukan niat buruk, murni kelalaian suaminya. Pradipta tipe perfeksionis, jarang sekali ada barangnya yang tertinggal. Kecuali jika… pikirannya sedang terbagi. Sekarwangi menghela napas. Ia hanya ingin memastikan tidak ada dokumen penting yang terlewat. Tangan mungilnya merogoh kompartemen laptop, lalu beralih ke saku samping. Jemarinya menyentuh sesuatu yang terasa asing. Bukan dompet, bukan kunci. Lebih tipis, seperti kartu.

Kertas. Kertas foto. Warnanya sedikit pudar, seolah sudah lama dicetak. Jantung Sekarwangi berdetak lebih cepat. Ia menariknya perlahan. Di sana, terbentang pemandangan yang membuat dunianya seketika berputar. Foto. Pradipta, suaminya, tersenyum lebar. Tapi bukan senyum itu yang membuat pandangannya nanar. Di sebelahnya, berdiri seorang wanita asing, tangannya menggandeng mesra lengan Pradipta. Wanita itu tertawa, matanya menatap lembut ke arah Pradipta.

Ini pasti hanya teman kerja, batinnya mencoba menepis. Tapi cara menggandeng itu… terlalu akrab. Terlalu intim. Senyum Pradipta di foto itu… adalah senyum yang hanya pernah ia lihat saat mereka pertama kali jatuh cinta. Senyum penuh kebahagiaan yang tulus. Senyum yang kini, terarah pada wanita lain.

Ia merogoh saku lain di tas itu. Kali ini, jemarinya menemukan sebuah struk parkir digital dari aplikasi pembayaran parkir di pusat perbelanjaan mewah di Jakarta Selatan. Tercetak tanggal dan jam yang sama dengan tanggal pengambilan foto ini, diperkirakan dari pantulan cahaya. Yang lebih mencengangkan, waktu di struk itu menunjukkan Pradipta berada di sana hingga pukul delapan malam. Padahal, Pradipta berpamitan padanya pagi tadi dengan alasan ‘proyek mendadak yang harus diselesaikan di kantor sampai larut, Sayang. Kamu tidur saja duluan’.

Sekarwangi membeku. Perutnya terasa mual. Ia menyandarkan punggung ke dinding dapur, memejamkan mata. Lampu neon di atasnya terasa menyilaukan. Seluruh tubuhnya gemetar. Ini bukan Pradipta yang ia kenal. Ini bukan rumah tangga yang ia bangun selama lima tahun terakhir. Perasaan sakit yang menusuk, bukan berasal dari kepedihan semata, tapi lebih pada kebingungan yang mendalam. Mengapa Pradipta harus berbohong? Siapa wanita itu? Dan mengapa foto itu tersimpan di tas kerjanya?

Pikirannya berpacu, mencoba menyusun kepingan puzzle yang hancur. Ingatannya melayang pada beberapa bulan terakhir. Pradipta yang semakin sering pulang larut, alasan lembur yang semakin tak masuk akal, ponselnya yang selalu dijaga ketat, bahkan tatapannya yang terkadang terasa jauh saat mereka bersama. Dulu ia menepis semua kecurigaan itu. Ia percaya pada Pradipta. Tapi kini, bukti itu ada di tangannya. Kertas foto yang berdebu dan struk digital yang dingin.

Babak 2 — Tangan yang Bergetar

Sekarwangi tidak ingat kapan terakhir kali ia merasakan ketakutan seperti ini. Kertas foto itu masih tergenggam erat di tangannya, hingga buku jarinya memutih. Ia melirik kembali ke arah tas Pradipta, seolah masih berharap semua ini hanyalah mimpi buruk. Tapi dinginnya lantai keramik di bawah kakinya, dan sengatan lampu neon yang menusuk mata, semua terasa begitu nyata.

Ia berjalan perlahan menuju meja makan. Duduk di kursi Pradipta, tempat terakhir kali ia melihat senyum suaminya yang hangat. Tangannya yang memegang foto itu kini diletakkan di atas meja, bergetar hebat. Ia mencoba untuk tenang, menarik napas dalam-dalam. Tapi setiap kali ia mencoba, dadanya terasa sesak. Rasanya seperti ada beban berat yang menindih paru-parunya.

Mata Sekarwangi tertuju pada ponsel Pradipta yang tergeletak di atas meja. Layarnya masih menyala, menampilkan notifikasi dari aplikasi pesan singkat. Sebuah nama terpampang di sana, nama wanita di foto itu. ‘Rani’. Di bawahnya, ada beberapa pesan yang belum dibaca. Jantung Sekarwangi kembali berdebar kencang. Ia tahu ia seharusnya tidak melakukan ini. Ini adalah pelanggaran privasi. Tapi rasa penasaran dan sakit hati yang mendera membuatnya kehilangan kendali.

Dengan jari yang masih gemetar, ia membuka aplikasi pesan itu. Deretan percakapan mereka terpampang jelas. Pesan-pesan itu… semuanya ditulis dengan bahasa yang sangat mesra. ‘Kangen banget, Sayang.’ ‘Kapan kita bisa ketemu lagi?’ ‘Aku nggak sabar peluk kamu.’ Ada pula foto-foto lain, foto Pradipta yang sedang memeluk Rani dari belakang, foto mereka saat makan malam romantis di sebuah restoran. Semakin banyak ia membaca, semakin dalam luka itu menganga di hatinya.

Sekarwangi merasa seperti tertelan dalam pusaran kegelapan. Ia memejamkan mata lagi, mencoba mengusir gambaran-gambaran buruk yang muncul di benaknya. Tapi itu sia-sia. Foto itu, pesan-pesan itu, semua bercampur aduk menjadi satu mimpi buruk yang mengerikan. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan isakan yang ingin keluar. Ia tidak ingin menangis di sini, sendirian, di dapur yang seharusnya menjadi saksi kehangatan rumah tangga mereka.

Ia mengusap layar ponsel Pradipta, membuka galeri. Di sana, lebih banyak lagi foto mereka berdua. Tertawa bersama, berlibur, bahkan foto-foto intim yang membuat Sekarwangi merasa mual melihatnya. Ternyata, ‘lembur’ Pradipta selama ini bukanlah di kantor. Dan wanita yang tersenyum di sebelahnya di foto yang ia temukan di tas, adalah Rani. Seseorang yang Pradipta ternyata menyimpan sebagian besar hidupnya.

Air mata Sekarwangi akhirnya tumpah. Ia tidak bisa menahannya lagi. Tangisannya pecah, tanpa suara, hanya isakan kecil yang keluar dari tenggorokannya. Ia merasa kosong, hancur. Kebohongan Pradipta bagaikan pisau yang mengiris hatinya berkeping-keping. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Menghadapi Pradipta? Apa yang akan ia katakan? Dan bagaimana ia bisa melanjutkan hidup setelah mengetahui semua ini?

Babak 3 — Jejak Digital dan Ingatan Pahit

Paginya, matahari terbit dengan sinarnya yang biasanya cerah, namun bagi Sekarwangi, dunia terasa abu-abu. Ia masih duduk di kursi yang sama, dikelilingi sisa-sisa bukti pengkhianatan Pradipta. Kertas foto itu kini tergeletak di samping mangkuk bubur ayam yang bahkan belum tersentuh. Ponsel Pradipta masih di tangannya, layarnya redup setelah terkunci sendiri.

Ingatannya berputar. Ia mencoba mengingat setiap detail kecil dari hari-hari sebelumnya. Pradipta pernah mengeluh tentang rekan kerja baru yang terlalu banyak menuntut. Apakah Rani rekan kerja baru itu? Sekarwangi membuka aplikasi pesan itu lagi. Ia membaca percakapan mereka dari awal, mencari petunjuk. Di sana, Rani pernah menyebutkan nama sebuah kafe di daerah Kemang, tempat mereka pertama kali bertemu. ‘Ingat, Sayang? Kafe ‘Senja Senopati’ itu, tempat kita pertama kali ngopi bareng. Aku kangen suasana di sana.’

Sekarwangi teringat, beberapa minggu lalu Pradipta pernah meminta izin untuk makan malam bersama klien di Kemang. Ia tidak pernah mencurigai apa pun saat itu. Ia hanya membalas pesan Pradipta dengan senyum virtual di layar ponselnya, ‘Hati-hati ya, Mas. Kabari kalau sudah sampai rumah.’ Kini, kalimat itu terasa seperti cambukan di wajahnya sendiri.

Ia mengambil ponselnya sendiri, membuka aplikasi peta. Mencari ‘Senja Senopati’ di Kemang. Sebuah kafe dengan interior hangat dan taman kecil yang cantik muncul di layar. Sekarwangi membandingkan foto di galeri Pradipta dengan foto kafe itu di internet. Sama persis. Jantungnya berdegup lebih kencang. Bukti demi bukti terus terkumpul, menguatkan kecurigaannya.

Ia juga teringat, saat Pradipta pulang terlambat minggu lalu, ia pernah mencium aroma parfum yang asing. Bukan parfumnya, bukan pula parfum Sekarwangi. Saat itu ia pikir mungkin karena Pradipta bertemu banyak orang. Tapi sekarang, ia yakin itu adalah aroma parfum Rani. Dunia seperti berputar di sekelilingnya. Setiap kebohongan Pradipta yang ia abaikan, kini kembali menghantuinya.

Sekarwangi lalu teringat sebuah percakapan tak sengaja yang ia dengar seminggu lalu. Pradipta sedang menelepon di balkon, suaranya terdengar tergesa-gesa. ‘Pokoknya kamu harus mengerti situasiku, Ran. Aku tidak bisa bertemu hari ini. Sekarwangi curiga.’ Sekarwangi yang saat itu sedang menyiram tanaman di dekatnya, hanya menganggap Pradipta sedang membicarakan urusan kantor yang rumit. Ternyata, ‘kecurigaan’ yang dimaksud adalah ia sendiri.

Ia mencoba mengingat lagi. Hari itu, saat Pradipta menelepon, ia juga sempat melihat notifikasi di layar ponsel Pradipta yang menampilkan nama ‘Rani – My Love’. Seketika ia merasa dadanya sesak. Ia tidak pernah mengkonfrontasi Pradipta. Ia memilih untuk diam, membiarkan prasangka buruknya mengendap begitu saja. Ia selalu berharap dirinya salah. Tapi hari ini, kenyataan itu menghantamnya dengan brutal.

Ia membuka aplikasi Gojek di ponselnya, lalu membuka aplikasi e-commerce favoritnya, Tokopedia. Ia mencoba mencari barang yang relevan, sekadar mengalihkan perhatian. Tapi pikirannya terus kembali pada foto itu, pada pesan-pesan itu. Ia merasa seperti hidup dalam drama Korea yang penuh kebohongan. Tapi ini bukan fiksi, ini adalah kehidupannya.

Babak 4 — Keterkejutan di Ambang Pintu

Pukul delapan pagi. Pintu apartemen mereka berderit terbuka. Pradipta pulang. Wajahnya terlihat lelah, namun terselip senyum kecil saat melihat Sekarwangi duduk di ruang makan, ditemani kopi paginya. Ia berjalan mendekat, berniat mencium pipi istrinya, namun Sekarwangi menahan tangannya.

“Mas… kita perlu bicara,” ucap Sekarwangi, suaranya datar, tanpa emosi. Kata ‘Mas’ terasa asing di lidahnya sendiri. Biasanya ia akan memanggil dengan panggilan sayang, ‘Sayang’ atau ‘Mas Adi’. Tapi kali ini, ia merasa jarak antara mereka begitu jauh.

Pradipta mengerutkan kening. Ia belum sempat berganti pakaian kerja. “Ada apa, Sayang? Kamu kelihatan pucat.”

Sekarwangi tidak menjawab. Ia hanya bangkit berdiri, lalu berjalan menuju tas kerja Pradipta yang masih tergeletak di meja. Ia mengambil kertas foto itu dan struk parkir digital, lalu meletakkannya tepat di depan wajah Pradipta. Pradipta terdiam. Matanya membelalak, senyum di bibirnya menghilang seketika.

“Ini… ini apa, Mas?” tanya Sekarwangi, suaranya bergetar. Ia berusaha menahan air mata agar tidak kembali jatuh.

Pradipta menatap foto itu, lalu menatap Sekarwangi. Wajahnya pucat pasi. Ia mencoba mengambil foto itu, namun Sekarwangi menariknya menjauh.

“Aku menemukan ini di tas Mas semalam. Dan aku… aku juga melihat pesan-pesan di ponsel Mas. Siapa Rani, Mas?” Suaranya mulai pecah.

Pradipta terdiam. Ia menunduk, tidak berani menatap mata istrinya. Bahunya merosot. Kebohongan yang ia bangun dengan susah payah kini runtuh dalam sekejap.

“Sekar… aku bisa jelaskan…” ucap Pradipta lirih. Suaranya serak.

“Jelaskan apa, Mas? Jelaskan kenapa Mas berbohong? Jelaskan kenapa Mas tega menyakiti aku seperti ini?” Air mata Sekarwangi akhirnya mengalir deras. Ia merasa dunianya benar-benar hancur.

Tiba-tiba, ponsel Pradipta berdering. Tertera nama ‘Rani – My Love’ di layar. Sekarwangi terkejut. Ia melihat Pradipta terperanjat, lalu meraih ponselnya dengan cepat. Namun Sekarwangi lebih cepat. Ia merebut ponsel itu dari tangan Pradipta.

“Siapa dia, Mas? Kenapa dia menelepon sekarang?” tanya Sekarwangi, matanya merah karena menangis.

Pradipta terdiam membisu. Ia tidak bisa menjawab. Ia terlihat sangat cemas.

“Mas… aku hanya ingin tahu kebenarannya. Apa hubungan Mas dengan Rani?” desak Sekarwangi.

Sebelum Pradipta sempat menjawab, pintu apartemen kembali terbuka. Sesosok wanita berdiri di ambang pintu. Wajahnya cantik, namun terlihat cemas dan gelisah. Ia memegang ponsel yang sama dengan yang ada di tangan Sekarwangi. Wanita itu adalah Rani.

Rani menatap Sekarwangi, lalu menatap Pradipta. Ia terlihat tidak nyaman, matanya berkedip-kedip. “Adi? Kamu di sini? Aku sudah mencarimu… Ada masalah?” tanyanya, suaranya terdengar ragu.

Sekarwangi menatap Rani, lalu beralih menatap Pradipta. Mata mereka bertemu. Kebingungan, rasa bersalah, dan ketakutan terpancar dari wajah Pradipta. Rani, di sisi lain, terlihat seperti orang yang baru saja terlempar ke dalam situasi yang tidak ia duga.

Babak 5 — Di Ujung Tanduk Kebenaran

Keheningan yang menyelimuti ruang makan terasa begitu menyesakkan. Rani berdiri di ambang pintu, matanya bergantian menatap Sekarwangi dan Pradipta. Wajahnya berubah dari kebingungan menjadi rasa bersalah yang kentara. Ia pasti menyadari bahwa ia telah salah masuk ke dalam drama rumah tangga orang lain. Sekarwangi dapat melihatnya dari cara Rani menunduk, menghindari tatapan mata mereka.

“Siapa kamu?” tanya Sekarwangi pada Rani, suaranya lebih tenang sekarang, namun penuh kekuatan yang dingin. Ia tidak lagi menangis. Air matanya telah mengering, digantikan oleh kekosongan yang aneh.

Rani tersentak. Ia menatap Sekarwangi dengan mata berkaca-kaca. “Aku… aku Rani. Teman… teman Adi.” Jawabannya terdengar ragu dan tidak meyakinkan. Jelas bahwa ia tahu posisinya saat ini sangatlah canggung.

Pradipta akhirnya menemukan suaranya. “Sekar, dia bukan siapa-siapa. Kita bisa bicara nanti,” katanya, mencoba menarik Sekarwangi menjauh dari Rani. Namun Sekarwangi tidak bergeming.

“Teman? Teman yang difoto mesra seperti ini? Teman yang dipanggil ‘My Love’ di ponsel?” Sekarwangi menatap tajam ke arah Pradipta. Ekspresinya kini datar, nyaris tanpa emosi, namun tatapannya setajam silet. Ia merasa seperti sedang berada di persimpangan jalan, di mana setiap pilihan akan menentukan nasibnya di masa depan.

Rani terlihat semakin tidak nyaman. Ia menggigit bibirnya, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun tertahan. “Maaf… aku tidak tahu… aku pikir…” Ia terdiam, lalu melirik Pradipta dengan ekspresi meminta maaf yang jelas.

Pradipta mendesah panjang. Ia tahu ini adalah akhir dari segalanya. “Sekar… maafkan aku,” ucapnya, akhirnya mengakui kesalahannya. Suaranya penuh penyesalan.

Namun Sekarwangi tidak merespons. Ia hanya menatap kosong ke depan, memproses semua yang baru saja terjadi. Ia menatap Rani, wanita yang telah merusak rumah tangganya. Lalu ia menatap Pradipta, pria yang telah ia cintai dan percayai seutuhnya. Ia tidak tahu apakah ia bisa memaafkan. Ia tidak tahu apakah ia bisa melanjutkan. Dunia yang ia kenal telah berubah total dalam semalam.

Ia mengambil kertas foto itu dari tangan Pradipta, lalu berjalan ke tempat sampah dapur. Dengan gerakan pelan namun pasti, ia merobek foto itu menjadi beberapa bagian kecil. Lalu ia melemparkannya ke dalam tempat sampah. Rani menatapnya, matanya masih berkaca-kaca. Pradipta hanya berdiri mematung, nasib rumah tangganya kini bergantung pada keputusan Sekarwangi.

Sekarwangi berbalik. Menatap Rani, lalu Pradipta. Sebuah senyum tipis yang sulit diartikan terukir di bibirnya. Senyum yang tidak menunjukkan kebahagiaan, melainkan keteguhan hati yang baru. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi satu hal yang pasti, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia melangkah keluar dari dapur, meninggalkan Pradipta dan Rani dalam keheningan yang menggantung.